06 September 2016

Blognya Pindah ke Instagram (?)

Awal bulan Agustus 2016 kemarin sempat ada email masuk yang berisi tagihan untuk memperpanjang domain blog Popcorn. Sempat galau apa masih mau diperpanjang atau tidak. Mengingat frekuensi ngeblog belakangan ini makin terjun bebas. Sudah tidak terikat kerja dengan siapapun malah membuat diri ini makin semena-mena memanfaatkan waktu. Alhamdulillah, edisi malas-malasannya juga ditemenin sama si Mas, jadilah, saya tidak terlalu merasa berdosa sebagai istri. Huahhaha.. 

Hingga pada detik-detik terakhir, bahkan sampai lewat sehari dari deadline yang seharusnya, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan saja sewa domain blog ini. Untuk sementara cukup 1 tahun dulu. Sambil melihat perkembangannya. Beruntung, operator tempat saya menyewa domain ini cukup baik, dan masih memberikan 'masa tenggang' bagi domain yang belum diperpanjang, sampai waktu tertentu. Syukurlah. 

Dan sekarang saya ingin cerita, kalau belakangan jadi lebih asik main instagram. Posting foto-foto disana. Apalagi captionnya boleh cukup banyak. 

Kapan hari saya post satu foto dan nulis caption yang tidak sebanyak biasanya. Seketika saya teringat popcorn. Ah, kenapa tidak saya publish saja di blog ya?
Kemudian berpikir lagi. Sebenarnya, teman-teman di blog dan di Instagram juga tak jauh beda. Apakah mereka nantinya keberatan ya kalau saya menuliskan hal yang sama di dua platform yang berbeda itu? 

...*mikir aja terus sampai tahun depan sewa domainnya habis lagi. Huhuu

Hoia, sebenarnya hal yang yang juga menjadi penyebab sekarang lebih sering main instagram adalah karena bulan lalu saya akhirnya mau untuk mengelola instagram punya si Mas, mmmmhh, lebih tepatnya akun instagram untuk jualan kerjaannya Mas, bikin-bikin digital printing material. Boleh loh kalo mau follow skalian order produk-produknya. Akunnya @paperief yah :D

akun dagangan suami. Yuk di follow @paperief :)
Jadi gimana nih? Pilih instagram atau blog?

20 May 2016

Kisah Tanggal Tua ala Ibu Rumah Tangga

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.
mataharimall-kompetisi

Saya sering tak habis pikir dengan tingkah Kakak perempuan saya, yang sudah lebih dulu menjadi seorang Ibu (dan juga seorang istri, tentunya), saat melihat reaksinya begitu tau ada banyak diskonan—atau semacam ‘beli 2 gratis 1’ di salah satu supermarket terbesar di Banjarmasin. Begitu pula dengan perilaku Tante, yang juga sudah menikah dan punya anak 3, sangat rela berkeliling diantara melimpahnya minimarket di Gresik, hanya supaya mendapatkan harga termurah  untuk setiap barang yang dibelinya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sampai sebegitukah efek samping menikah dan punya anak? *ups.

Satu tahun menikah tak lantas membuat saya mengerti tentang perilaku kedua orang keluarga saya tersebut. Bisa jadi karena saya dan suami sebelumnya masih menjalani kehidupan sendiri, jarak jauh, hanya bertemu sesekali. Saya masih belum rela melepaskan jabatan sebagai anak kos.

Tapi itu kemarin, dulu, enam bulan yang lalu.

Kini ceritanya sudah berbeda. Saya dan suami sudah tinggal satu atap. Jabatan sebagai anak kos sudah saya lepas, begitu juga dengan status kepegawaian di salah satu I-NGO di kota Malang, mungkin sedikit ceritanya pernah saya tuliskan waktu itu.

Saya ingat, beberapa waktu yang lalu pernah menanyakan langsung ke Papa, mengenai pendapatnya tentang keputusan saya untuk berhenti bekerja. Mengenai kekhawatiran saya tentang, apa-apa yang sudah ‘diinvestasikan’ pada saya dari Papa. Saya sangat bersyukur saat itu punya keberanian lebih untuk menanyakannya.
“Yaa, sekolah tinggi kan tidak selalu tujuannya untuk bekerja…”
Hmmm,...
Dan, agak canggung rasanya saat beberapa waktu yang lalu telponan dengan Papa, dan Papa menanyakan apa aktivitas saya saat ini.
Saya bilang, “Pergi ke pasar, belanja, masak-masak, beres-beres rumah, daaan lain-lain.”
“Alhamdulillah…” balasnya.
Entah apa yang ada di pikirannya.

Kemudian saya dibuat terheran-heran, pada diri sendiri, suatu pagi, begitu pulang dari pasar dan saya mengeluh pada suami,
“Mas, tahu yang kemarin adek beli harganya sekarang sudah naik, kemarin Rp 3.000, sekarang sudah jadi Rp 4.000,..”
“Telur juga gitu, kapan hari beli setengah kilo Rp 9.500, sekarang jadi Rp 10.000”
Saat parkir di depan salah satu minimarket,..
“Waah, murah banget minyak goreng 2 liter Rp 19.900”
“Emang biasanya berapa?”, suami saya menimpali
“Kalo gak salah satu literan ada yang Rp 13.000, ada yang sampai Rp 15.000 juga,..”
Lalu terdengar ledekan dari jauh,
“Ciyee, adek ya, sudah mulai banding-bandingin harga sembako sekarang,”
Sindrom ibu rumah tangga sepertinya telah melanda saya. Huhuuuu…

Terjadi perubahan besar yang saya rasakan, saat ternyata kini memang tak ada lagi penghasilan tiap bulan yang bisa saya dapatkan sendiri, atur sendiri, nikmati sendiri. Memutuskan untuk jadi freelance-independent-consultant ditengah jenjang karir yang sebenarnya belum terlalu mumpuni dan belum punya banyak koneksi, sepertinya bukan pilihan yang cukup menjanjikan. Yah, walaupun sudah pernah ada juga instansi yang percaya dan menggunakan jasa saya. Tapi lagi-lagi hal tersebut tidak bisa dijadikan pegangan, tidak bisa diandalkan, dan ‘menghasilkan’ di tiap bulannya.

Tantangan lainnya adalah saat suami saya juga memang bekerja sendiri, berwirausaha, hingga tentunya pengaturan keuangannya tidak bisa sesederhana penghasilan per bulan. Saya jadi kebingungan sendiri setelah menawarkan diri untuk mengatur keuangannya. Ternyata sangat berbeda polanya, saudara!
picture source
Seringkali saya menyerah saja. Mengembalikan lagi ke suami tentang pengaturan keuangan ini itu. Nyatanya, dan bersyukurnya, walaupun tanpa catatan yang terlalu rinci, suami saya sudah cukup berpengalaman dibidangnya. Jika sudah datang rasa malas melakukan pencatatan yang rapi, saya tinggal menunggu saja ‘jatah’ yang diberikan, yang menjadi tanggung jawab saya untuk dibelanjakan.

Jika saat itu datang, sindrom ibu rumah tangga yang dulunya sempat menghantui kali ini benar-benar muncul didepan mata. Hahaha… semacam mimpi masa lalu yang saat ini menjadi nyata.

Kalau di pasar tradisional mungkin tidak akan sefrontal itu menyebutkan ‘diskon’. Tapi ketrampilan untuk menawar, memilih barang dengan kualitas yang bagus dengan harga tetap bersaing, sangat dibutuhkan. Sampai saat ini saya masih belum terlalu terampil sih untuk menawar, apalagi pasar-pasar tradisional di Jogja sepertinya memang tidak terlalu senang memasang harga tinggi supaya nantinya bisa ditawar. Yang bisa kita lakukan biasanya cukup dengan survey harga. Barang yang sama, kualitas sama, bisa jadi di warung yang satu dengan yang lain harganya berbeda. Yah selisih Rp 500 sampai Rp 1.000 kan lumayan yaa, buat bayar parkir atau tambahan beli krupuk. 

Nah, beda lagi dengan diskonan yang biasanya ada di minimarket, supermarket, atau department store macam Matahari Mall yang sangat terkenal dengan ‘beli dua gratis satu, boleh barang yang berbeda’ itu. Huaaa,.. bahagia sekali rasanya kalau sudah menemukan tulisan itu terpampang di keranjang—rak—lemari gantung yang ada disana, apalagi dengan menggunakan Matahari Club Card yang doyan banget ngasih kupon belanja atau diskon produk. Dan itulah yang saya incar saat ini. :D


Menjadi ibu rumah tangga baru sepertinya berhasil memaksa saya untuk mengasah skill berhemat. Selain harus pintar memilih dan memiliah barang yang diprioritaskan untuk dibeli, memilih tempat berbelanja juga merupakan suatu hal yang cukup urgent untuk saat ini. Toko-toko semacam minimarket dan lain sebagainya saat ini tak lagi segan untuk mempromosikan produk dengan harga miring, dan kita, sebagai manajer rumah tangga, harus sangat jeli melihat peluang tersebut.

Kalau bicara tentang mengatur keuangan satu bulan, hmmmm,.. mungkin tidak bisa se saklek itu ya, karena kembali lagi, penghasilan suami saya bukan bulanan, melainkan sesuai pesanan. Tapi bukan berarti lantas tak ada strategi apapun yang saya terapkan, karena justru setiap saya mendapatkan jatah belanja, disitulah saat dimana saya harus putar otak, memanfaatkan jatah tersebut sebaik-baiknya. Ini sangatlah penting saudara, terutama jika memang persediaan atau jatah belanja sudah mulai menipis. Bedanya, kalau mereka para penerima gaji bulanan, merasakan hal tersebut hampir di tanggal-tanggal yang sama di tiap bulannya, kalau saya, sindroma tanggal tua itu bisa datang kapan saja, yakinlah!
Yah, apapun itu, tetap harus disyukuri. Mari kita berdoa bersama, semoga tidak hanya penghasilan saja yang sesuai pesanan, tapi barang belanjaan juga bisa memenuhi pesanan, pesanan diri sendiri maksudnya. 

Tetap belanja dan tetap bahagia yah, kawan. Tak perlu terlalu khawatir, karena masih banyak jalan menuju diskonan, apalagi gratisan. Hehe... :D

#JadilahSepertiBudi



28 April 2016

Cagar Budaya di Kota Pekanbaru


Pekanbaru. Kota yang satu ini merupakan kota yang terbesar di Provinsi Riau. Selain itu, kota ini merupakan sebuah kota dagang yang sedang berkembang pesat. Di sana terdapat beberapa spot transportasi seperti Bandara Sultan Syarif Kasim II, terminal bus antar kota juga antar provinsi yaitu Bandar Raya Payung Sekaki dan terdapat dua pelabuhan yang berada di sungai Siak yang bernama Sungai Duku dan Pelita Pantai. 

Ada banyak objek wisata yang berada di Kota Pekanbaru, mulai dari wisata alamnya seperti pantai, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata belanja sampai wisata kuliner dengan menyajikan makanan-makanan khas Kota Pekanbaru. Jika Anda ingin berlibur lama di Kota Pekanbaru, di sana disediakan banyak tempat penginapan atau hotel-hotel dengan harga yang terjangkau juga fasilitas yang membuat Anda nyaman. Anda tinggal memilih dan memesannya sesuai keinginan Anda. Untuk daftar lengkapnya, Anda bisa lihat di situs Traveloka.

Kali ini, saya akan menampilkan beberapa Cagar Budaya diKota Pekanbaru. Update pengetahuan tentang sejarah dan juga budaya yang ada di Kota Pekanbaru, Indonesia. 

Balai Adat Melayu Riau
Di Kota Pekanbaru, bangunan ini difungsikan sebagai tempat pelaksanaannya kegiatan-kegiatan adat dengan budaya Melayu Riau yang masih kental juga sebagai tempat diadakannya pertemuan penting seperti acara penganugerahan gelar adat melayu kepada para pejabat tinggi negara. Masyarakat setempat sering menggunakan balai ini untuk keperluan bermusyawarah untuk menentukan kesimpulan atau bisa dibilang para tokoh-tokoh adat yang ada di kota ini akan berkumpul di balai membicarakan suatu perihal sampai bertemu titik terangnya. Bangunan bersejarah ini yang dijadikan sebagai wisata budaya memiliki 2 lantai. Masing-masing lantai memiliki fungsi dan keunikan masing-masing. Seperti di lantai atas, terpajang ungkapan adat dan pasal-pasal Gurindam Dua Belas yang merupakan sebuah karya dari Raja Ali Haji – Sastrawan Keturunan Bugis.

Di lantai bawah, terdapat pasal-pasal yang terpajang pada dindingnya. Di kanan dan kiri ruang pintu masuk utama terpajang pasal dari 1 – 4 pasal Gurindam Dua Belas, sedangkan pasal dari 5 – 12 tedapat di dinding bagian dalam ruang utama Balai Adat Melayu Riau. Balai ini terletak di Jalan Diponegoro, Pekanbaru – Riau. Anda akan mendapati betapa besarnya budaya Melayu yang ada di Kota Pekanbaru ini. Jangan lupa untuk mengabadikan momen kedatangan Anda di Balai Adat Melayu Riau. Keadaan di sini lumayan sejuk dan masih asri bertolak belakang dengan kondisi umum Kota Pekanbaru yang terkenal dengan panasnya.

 
Balai Adat Melayu Riau - http://www.utusanriau.co

Taman Budaya Riau 
Di Taman Budaya Riau ini, Anda akan mendapati banyak bangunan budaya yang sangat melekat di Kota Pekanbaru. Di sini, merupakan pusat kelestarian dan pengembangan budaya-budaya yang ada di Provinsi Riau. Banyak kegiatan yang telah diadakan di Taman Budaya Riau ini seperti Festival atau Pameran Kesenian Tradisional juga menampilkan kesenian modern seperti konser musik. Selain itu, beberapa sangar-sanggar besar dan ternama yang ada di Kota Pekanbaru ini menggunakan Taman Budaya Riau sebagai tempat latihan, salah satunya adalah Sanggar Tameng Sari Dance Company (TSDC). 

Taman Budaya Riau - http://www.riauberbagi.blogspot.co.id
Ada banyak gedung yang ada di Taman Budaya Riau sebagai bentuk fasilitas yang disediakan, seperti Gedung Olah Seni yang merupakan gedung diselenggarakannya pameran karya seni antara lain musik, teater, tari dan juga pameran seni rupa. Yang kedua, ada Rumah Tari Umar Umayyah. Nah, di tempat ini beberapa sanggar menggunakan fasilitas untuk latihan menari. Beberapa sanggar diantaranya adalah Sanggar Tameng Sari dan Sanggar Tari Malay. Ketiga adalah Rumah Rupa. Di sini para seniman rupa mengekspresikan karya-karyanya dengan menggunakan fasilitas yang terdapat di dalam Rumah Rupa. Keempat, terdapat Rumah Teater dengan fasilitas panggung kecil nan terbuka terpampang ke arah luar yang sering dipakai untuk latihan atau penampilan bermain peran atau drama. Kelima adalah Teater terbuka seperti Teater Terbuka Bustaman Halimi dan Teater Terbuka Sulaiman Syafií yang ukurannya lebih kecil dari Teater Terbuka Bustaman Halimi. Sama dengan Rumah Teater terdapat panggung untuk mementasan karya seni yaitu drama yang telah dibuat baik yang berbau adat maupun yang modern.

Jika Anda ingin memakai ruangan yang ada di Taman Budaya Riau, Anda hanya perlu meminta ijin ke petugas. Pemakaian ruangan yang ada di salah satu gedung ini, tidak dikenakan biaya sama sekali. Pemerintah memang sengaja buatkan untuk keperluan masyarakat setempat untuk mengembangkan dan melestarikan budaya dengan berlatih di tempat ini. Namun, untuk menjaga kebersihan gedung-gedung yang ada di Taman Budaya Riau ini, Anda bisa memberikan sejumlah uang untuk orang yang menjadi petugas kebersihan di Taman Budaya Riau.

Taman Budaya Riau ini masih berada di kawasan Jalan Diponegoro, Pekanbaru – Riau. Itulah beberapa spot yang menampilkan wisata budayanya yang masih kental di Kota Pekanbaru.

01 March 2016

Mae, Hari Ini

Sudah 2016.
Dan ini tulisan pertama saya di popcorn untuk tahun ini.
Alhamdulillah...

Sudah banyak yang berubah ya. Saya sudah melepaskan gelar sebagai 'staff' di salah satu I-NGO di Malang. Niat awal memang mau mengembangkan karir di dunia kemanusiaan, tapi ada hal lain yang kemudian menggelitik saya, hingga akhirnya membuat saya mengambil keputusan untuk keluar, hengkang.

9 bulan bukan waktu yang lama, tapi tak juga sebentar. Cukup untuk bisa belajar hal baru, cukup untuk mengenal orang-orang baru, cukup untuk mengaplikasikan sistem baru, dan juga sangat cukup untuk menilai, menimbang, apakah akan tetap bertahan atau tidak. Nyatanya, di suatu pagi yang entah seperti apa karena saya terkungkung didalam gedung persegi, pada akhirnya saya memutuskan. Sudah cukup semuanya.

Berselang tiga bulan penuh kekhawatiran, ditengah pondasi kemandirian yang mungkin hampir ambruk, kesempatan itu akhirnya datang juga.
"Mereka butuh orang cerdas, bukan hanya sekadar yang punya ribuan jam terbang untuk menduduki posisi tertentu...," --ceramahnya si mbak bawel via skype

#Sumba #Island #Indonesia #EastNusaTenggara #airport #Tambolaka #SouthWestSumba #jobvacation #welcome #greetings

Dan disinilah saya, saat ini, sambil menikmati derasnya hujan, menanti dua orang kawan lama yang juga akan bergabung beberapa jam lagi, semoga penerbangan mereka lancar.

Semoga juga tanggal 6 segera datang, karena (sepertinya) ada yang sudah sangat merindukan saya untuk segera pulang. :)

04 August 2015

Vosco!

Akhirnya hiburan itu datang juga, saat ada teman kantor yang ngajakin "refreshing berkualitas", walaupun awalnya sempat hopeless karena yang ngajakin teman kantor dan judulnya tetap 'kerja'. Hoaaaaaaaa.... :((

Tapi syukurlah, yang diobrolin emang gak akan jauh-jauh dari urusan kerjaan di kantor, lha wong orang-orangnya juga teman satu kantor. Bukankah topik yang menarik memang muncul dari kesamaan yang dimiliki masing-masing individu?

Dalam tujuh hari terakhir ini total sudah dua tempat nongkrong yang saya dan teman-teman sambangi. Selain topik khusus tiap pertemuannya yang dibahas, tentunya nyobain berbagai macam cafe yang ada di Malang juga jadi satu tujuan sampingan yang tetap penting untuk dinomorsatukan. Dan, orientasi utama saya sedikit berubah, no more hot chocolate. Fruit salad and ice cream first. Ini akibat di Malang susah banget nyari fruit salad, dan di Gresik outletnya lebih sering tutup daripada buka. *hiks


Do you love me? :D ~tonights quality refreshment w/friends #straw #vosco #quote

Sukak sama sedotannya yang warnanya item, dengan tulisan simpel yang cukup menarik perhatian. Sempat saya posting juga di akun instagram, dan lumayan, dapat beberapa lope lope. Hehe...

Dan malam itu pesannya dua scoop ice cream chocolate strawberry plus cheesy french fries yang disajikan dengan cara anomali. Tapi gak kefoto yes, karena keburu langsung dimakan :p

Terimakasih karena sudah mengingatkan saya untuk foto ini barang dulu sebelum disantap :D
Enak? Jawabku enaaaaaaaaaaaaak. Disamping itu suasananya juga cukup nyaman. Sofanya empuk, enak untuk duduk-duduk santai sambil ngobrol yang serius. Pencahayaannya gak terlalu terang, cocok untuk sekadar ngobrol aja tanpa aktifitas baca-tulis. Musiknya, gak terlalu merhatiin, tapi gak terganggu juga, mungkin karena lagi-lagi sibuk ngobrol.

picture source: tongsisnya mas Luke :D

"Anyway, I love the way you eat those food, guys..." <<< komentar salah seorang teman pas ngeliat saya dan seorang lainnya sibuk makanin french fries bertabur keju serut, :))

Yeah, saya ngafe lagi!

___________________________________
Vosco Coffee
Jl. Borobudur No. 27A Kota Malang
Jawa Timur 65142
(0341) 7467888