29 December 2010

Don't Stop Me Now!!!


Mas don,..makasih buat bukunya. Keren banget..

5 cm, salah satu dari sekian banyak buku yang sangat berpengaruh dalam hidupku,  semoga bisa aku pegang sampai kapanpun, selama aku masih punya mimpi, selama aku masih ingin disebut sebagai manusia, selama aku gak cuma jadi seonggok daging yang bisa berjalan dan punya nama,..

Dan ternyata itu memang sudah terbukti,.. bahwa gak ada yang bisa ngalahin kekuatan mimpi. Yang lebih keren lagi, hal itu terjadi di salah satu situs eksotis di dunia : MAHAMERU…(aku ngomong gini soalnya emang belum pernah ke luar negeri, jadi gak tau deh gimana situs-situs keren di sono, hehe…)

Sudah tertanam sejak dulu, sejak aku berkecimpung di dunia hiking, wall and rock climbing, caving, dkk.. AKU PENGEN KE SEMERU. Ditambah lagi dengan abis dipinjemin temen sesama anggota PA skul, 5 cm. wuihh,… tambah pengen deh.
Mungkin itu juga yang memotivasiku untuk ngelanjutin kuliah di malang. Biar bisa ngeliat Mahameru setiap hari.. hehe..

Oiyah, aku juga pengen cerita, gimana rasanya pertama kali ngeliat Mahameru,. Seingatku, waktu itu kedua kalinya aku naik gunung, kira-kira kelas dua SMA. Pas dipuncak gunung penanggungan, di pandaan, arah tenggara, samar-samar kelihatan gunung semeru,.. keren banget, syukurnya waktu itu cuaca lagi bagus, jadi bisa ngeliat semburannya… seketika aku cuma berucap, Subhanallah, dan sejak saat itu aku bilang sama diriku sendiri,..

“suatu saat aku pengen, bukan aku yang menatap kesana, tapi aku yang disana dan menatap kesini…”

Masa-masa kuliahpun dimulai,.
Gedung baru, teman baru, suasana baru, mimpi baru,..
Tapi tetap saja keinginanku untuk ke semeru masih belum hilang, malah mungkin tambah menggebu-gebu. Apalagi kelasku berada di lantai 4 dan jendelanya menghadap ke timur. Jadilah, gak jarang aku gak memperhatikan dosen lantaran mataku sedang tertuju ke arahnya. Ya,.. angelnya pas banget buat ngeliatin Mahameru lagi ngebul. Keren…

Liburan semester satu, aku kembali ke penanggungan. Sekedar melepas rindu pada tanah basah yang aromanya khas bertaut dengan dinginnya malam. Tapi sayang, pendakian itu gagal sampai puncak, kita terkena badai, dan kondisi fisikku tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami berlima memutuskan untuk mendirikan tenda di pelataran, satu tempat yang cukup lapang yang memang biasa digunakan pendaki untuk beristirahat. Esok paginya, kembali diriku dibuat berdecak kagum atas apa yang ada dihadapanku. Mahameru kembali menyapaku,badai semalam membuat pagi itu begitu cerah dan istimewa, Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk menikmati indahnya pagi, dan kembali melihat Mahameru. Walaupun hampir tiap hari aku melihatnya, entah kenapa, gak ada rasa bosan sama sekali. Semakin dillihat, semakin aku ingin kesana. Kalimat itupun terucap lagi,

“suatu saat aku pengen, bukan aku yang menatap kesana, tapi aku yang disana dan menatap kesini…”

Dua minggu setelah kepulanganku dari penanggungan, aku masuk rumah sakit. Aku didiagnosa oleh dokter menderita flek paru dan penyempitan saluran pernapasan, pantas saja setiap naik gunung aku mudah sekali lelah, berbeda dengan teman-temanku yang lain. Sempat pupus harapanku untuk tetap bermimpi, berada ditanah tertinggi pulau ini. Apalagi dokter masih melarangku untuk beraktifitas berat, terutama hiking. Tapi memang dasar manusia gak bisa hidup tanpa mimpi, walaupun gak dibolehin hiking, tapi mereka gak bisa ngelarangku untuk terus bermimpi,..

8 agustus 2008, aku masih ingat pasti tanggalnya.
Pandu dan Koko, kedua temanku di SMA, sesama anggota PA, dan sekarang juga sama-sama kuliah di malang, datang ke rumahku. Mereka bilang, “Mas Tob ngajak ke ranu kumbolo tanggal 14, ikut gak?”
Beberapa menit berlalu, aku cuma diam.
Pertimbanganku, bukan apakah fisikku mampu untuk kesana, apakah aku punya uang untuk biaya kesana serta persiapan yang dibutuhkan,atau apakah aku punya waktu untuk itu. Satu yang aku pikirkan, ini kesempatanku untuk mewuujudkan mimpiku selama ini, belum tentu akan ada kesempatan kedua untukku, dan belum tentu aku punya waktu untuk itu, karena sakitku. Walaupun hanya ke ranu kumbolo, tidak apa-apa. “oke, aku ikut..”

14 agustus pagi, Mas Tob dapat kabar dari temannya, Mahameru dibuka untuk tanggal 15-17 agustus, upacara dipindah di puncak. Sungguh, aku benar-benar bingung, apakah ini kabar baik ataukah buruk. Walaupun ini mimpiku, tetap saja masih ada ketakutan dalam diriku, aku masih belum dinyatakan sembuh oleh dokter. Gak jarang, untuk naik tangga satu lantai saja napasku sudah terengah-engah. Apakah aku mampu? Yah, semua akhirnya kuserahkan pada-Nya, yang Maha Tahu atas segalanya, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dengan bekal kekuatan mimpi dan keyakinan bahwa Allaha Maha Kuasa atas segala sesuatu, aku memulai perjalananku. Bismillah,..
persiapan sebelum berangkat, ranu pane
Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan ke Mas Donny,..

Perasaan merinding pas ngeliat gunung bromo disebelah kiri dan Mahameru disebelah kanan, aku sudah merasakannya..

Ranu pane, aku kira suatu tempat sepi, yang jarang penduduknya, ternyata masih ada pemukiman disana, dan cukup ramai untuk disebut sebuah desa… atau mungkin ramainya karena banyak pendaki yang datang??

Tanah merahnya,..aku bisa mencium baunya..

Mungkin karena udah biasa naik gunung, jadi aku merasa diriku tidak se’kedinginan’ ian dkk, atau mungkin, global warming sudah merubah segalanya???

Ranu kumbolo,..khayalan itu memang indah, bahkan kita bisa membuat keindahan itu semau kita, tapi biar bagaimanapun, kenyataan yang kulihat disana amat sangat jauh lebih indah dibandingkan keindahan yang diciptakan imajinasiku saat membaca 5cm..
ranu kumbolo, dari sebelah utara
ranu kumbolo pagi hari, dilihat dari barat
 Tanjakan cinta benar-benar nanjak! Sekarang aku tahu, kenapa kita nggak dibolehin nengok ke belakang, karena kalo kita nengok ke belakang, kita bisa ngeliat ranu kumbolo dari sisi yang berbeda, keren bgt…. Apalagi kalo pagi. Dan itu jadi godaanya,.. dijamin kalo nengok pasti males banget naik ke atas lagi… hehe..

Oro-oro ombo,.. jujur aku agak sedih pas ngelewatin tempat ini,.. aku sebenarnya berharap bisa ngerasain apa yang dirasain ian dkk, bahkan lebih,.. tapi sayang, padang ilalang yang ada di 5cm udah abis, cuman tersisa sedikit pas udah mau sampai ke hutan. Sekarang yang ada disana tinggal padang gersang dengan tanahnya yang retak-retak..tapi tetep, keren…karena tempat itu dikelilingi bukit-bukit yang hijau, rasanya seperti berada di dasar mangkok raksasa..

Hutan dengan berbagi jenis dan ukuran tanaman didalamnya… sempet ngeri juga, mengingat Genta pernah ngabisin semaleman disana…lebat, teduh, tapi menenangkan,.. banyak tempat yang nyaman untuk beristirahat, bersandar dibalik batang pohon yang besar sambil menyapa pendaki lain yang lewat,.. berbagi cerita bersama teman,.. planning untuk membuat jembatan gantung langsung dari bukit cinta (bukit setelah kita melewati tanjakan cinta,… mendadak namanya jadi cinta semua, ranu kumbolo juga jadinya danau cinta,.. hahaha… maksa banget!!)sampe puncak bukit yang bakal kita temuin setelah ngelewatin hutan. Macem-macem deh yang diobrolin, sampe-sampe kita kesorean sampe kalimati.
edelweiss,. gak seberapa jelas gambarnya, nagmbilnya pake kamera hape yg cuma 1,3MP
Kirain bakalan sama persis dengan yang dilakuin Ian dkk, ternyata dari awal emang beda,. Mulai dari gak pake acara ngecamp di ranu pane, nginap semalam di ranu kumbolo, sampai ngecamp hari ketiga di kalimati. Menurut Mas Tob, (salah satu rombongan yang dituakan dan dihormati, masalahnya cuman dia sendiri yang udah pernah ke Mahameru, muncak dua kali pula..!!) kalo ngecamp di arcopodo kasian kita-kita, bawaan kita banyak, ini baru kali pertama kita ke Mahameru, trek yang agak sulit dan beda dari sebelumnya, Serta ramainya pendaki yang dikhawatirkan kita gak bakal dapat tempat di arcopodo. Jadilah,.. kalimati pilihan yang paling tepat.

Arcopodo, emang terlihat seperti salah satu pemukiman kecil yang berada sekian ribu meter di atas permukaan laut. Keren banget, segala usaha untuk menghangatkan diri dan menerangi sekitarpun dilakukan,..membuat api unggun, membuat minuman, memasak,.. semuanya saling sapa jika melintas,..disana benar-benar kutemukan keluargaku yang telah lama hilang, keluarga yang sama-sama mencintai tanah ini.

Mahameru,…
mahameru terlihat dari jembangan
aku cuma bisa bilang, Allah Maha Besar atas segala sesuatu.

Sampai sekarang, belum pernah aku merasakan perasaaan yang sama seperti saat aku memijakkan kaki, mulai melangkah, meraih apapun yang bisa dijangkau oleh tanganku, jatuh, kemudian bangkit lagi, keputusasaan yang selalu berusaha untuk menguasai pikiranku, segala caci maki yang keluar dari diriku sendiri, seolah menyalahkanku, mengapa aku mau melakukan semua ini,….

Sampai sekarang, aku belum tau apa yang bisa aku dapat dari semua itu. Hanya saja, masih ada hal lain yang bisa kudapat selain dengan menyesali pilihanku, karena semua keluh kesah itu, semua caci maki itu, segala penyesalan yang terucap, terbang bersama dengan hembusan angin keras yang menampar wajahku di tanah tertinggi itu…

Sembah sujud dan rasa syukur tak henti kupanjatkan pada-Nya,

Dia yang Maha Kuasa atas segala sesuatu…

Dia yang Maha Mendengar atas apa yang dipanjatkan oleh hamba-NYa,..

Dia yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk setiap pengorbanan dan jerih payah yang dilakukan makhluk-Nya,..

Dia yang membekali kita semua dengan pikiran, sehingga kita bisa bebas berpikir, berimajinasi, bermimpi, yang hanya dengan ijin-Nya mimpi itu dapat terwujud, tertunda untuk sekian waktu lamanya, atau untuk ditangguhkan serta ditukar dengan sesuatu yang lebih berharga…

Dan tak lupa, saudara seperjuangan, yang telah bersama-sama menggapai tanah tertinggi itu, mencium pasirnya, menghirup anginnya, memijakkan kaki di tanahnya, merasakan pahit pasirnya, dingin anginnya, meminum airnya…

Mimpi itu, kali ini tak hanya sekedar mimpi… di arah barat laut, gunung penanggungan berdiri dengan manisnya, diantara hamparan samudra langit..

“Sekarang, aku yang berada disini, dan menatap kesana..”
samudra langit, satu hal yang paling kurindukan tiap kali hiking

Sungguh suatu kehormatan bagiku dapat berdiri di tanah itu,karena tak semua orang dapat merasakannya, dan tak semua orang ingin dan mau melakukannya…
pas di puncak,. aku yang pake jaket biru muda
 Hal ini terjadi, tak lain tak bukan karena kita dilahirkan di tanah ini,.. tanah yang memberikan airnya untuk kita minum setiap hari, tanah yang mengijinkan kita untuk menghirup udaranya, tanah yang memberi kesempatan kita untuk hidup dengan membiarkan segala jenis tanaman bergantung padanya, serta memberi penghidupan pada manusia,…

Untuk tanah airku,..
17 Agustus 2008

10 comments:

  1. waah, mantep banget nih!
    pengen juga ke Mahameru, ntar ajakin y armae ^^

    ReplyDelete
  2. insyaAllah yahh.. belakangan sudah pengen kesana lagi. tapi beberapa kali ada temen yang ngajak, rasanya masih belum siap. beban mental soalnya.

    tapi secepatnya lah,.. sudah terlalu rindu rasanya lidah ini untuk mencicipi pasir mahameru. hehe ^^

    ReplyDelete
  3. haha.. saya nggak nyampe puncaak.. udah gempor soalnya. cuman sampe ranu kumbolo aja sih

    ReplyDelete
  4. yang penting perjalanannya,. puncak mah bonus. besok2 juga bisa diulangi :)

    ReplyDelete
  5. first postnya langsung nendang... kukira isi first postnya itu semacam perkenalan gitu. ternyata beda.... hehehhe..

    untung yah fisikmu baik2 aja... fiuuuh

    ReplyDelete
  6. Nuel: hwehehe.. baru tau kalo ada komen ini >,<
    aku sebelum punya blog sudah sukak nulis di leptop Nuel, tapi aku tulis di word aja, trus disimpan. begitu punya si popcorn, langsung deh di copas. hehe :)

    ReplyDelete
  7. kok kayaknya naik puncak mahameru gampang yah, tinggal mendaki ga perlu pakai peralatan tali, kayak di film2 holywood :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaah, kontur gunungnya kan beda mas. Kemiringannya juga masih tergolong tidak terlalu curam. Biasanya yg butuh pake tali itu yang gunungnya bersalju, jadi rawan longsor :)

      Delete
  8. memang suatu kenikmatan tersendiri bisa kesana, meski kmarin kami cuma sampe ranu kumbolo..
    tapi moga nanti bisa sampe puncak :)

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D