19 January 2011

...faith, honesty, rightness...

belief, faith, trust...
confidence, credence, reliance, trusty...

banyak sekali istilah bahasa inggris yang dapat dipakai untuk kata 'percaya' maupun 'kepercayaan'
tapi aku tidak akan membahas itu saat ini, besok, dan seterusnya. karena aku calon ahli gizi, bukan calon guru maupun sastrawan bahasa inggris.

percaya, dan kepercayaan
merupakan suatu hal yang sifatnya abstrak
tapi bukan berarti tidak bisa diterima oleh logika manusia
kepercayaan, erat kaitannya dengan kejujuran dan kebenaran
dan sebenarnya ketiga kata itupun saling terkait satu sama lain

seberapa penting sih kepercayaan itu dalam kehidupan?
saat ini lagi-lagi aku tetap berpandangan sebagai seorang calon ahli gizi, bukan filosofis, atau apapun itu


menurutku, tiap-tiap orang memiliki pendapat yang berbeda tentang penempatan kepercayaan, kejujuran, dan kebenaran, dalam konteks kehidupan sehari-hari. dan mungkin dapat digolongkan menjadi tiga.
golongan pertama, adalah yang mendewakannya (aku termasuk dalam golongan ini)
yang kedua, yang biasa saja, maksudnya tergantung situasi dan kondisi. saat ketiga hal itu penting, maka dipentingkan, namun jika tidak, mungkin akan diinjak-injak
dan yang terakhir, adalah mereka yang menganggap bahwa ketiga hal tersebut sama seperti penjual kacang di terminal bis (a.k.a gak direken blasss!!!), dan akau tidak mau masuk dalam golongan ini

bagaimana bisa beranekaragam seperti itu?
setelah aku amat-amati, tapi hanya mengamati saja--dan tetap dari kacamata seorang calon ahli gizi--amat banyak hal yang mempengaruhi pemikiran tersebut.
salah seorang teman pernah berkata, pola pikir seseorang, cara bicara seseorang, itu bergantung pada apa yang dia baca, apa yang dia lihat/tonton, dan apa yang dia dengar.
dan aku saat ini ingin menspesifikkan hal-hal tersebut kedalam suatu lingkup yang paling kecil dalam kehidupan sosial manusia, yaitu keluarga. Yep,.. faktor keluarga amat sangat berperan didalamnya.

mungkin tidak hanya dalam hal ini (kepercayaan, kejujuran ,kebenaran.red), tapi juga sebagian besar aspek kehidupan manusia termasuk didalamnya pembentukan kepribadian seseorang, amat sangat dipengaruhi oleh bagaimana suatu keluarga memandang dan menempatkan hal tersebut. jika seorang ayah keras pada anaknya, maka secara tidak langsung si anakpun akan menjadi pribadi yang seperti itu (jangan lupa menerapkan hukum mendel dan teori relativitas enstein disini yah, karena lagi-lagi, tidak ada satu hal pun yang pasti didunia ini kecuali ketidak pastian itu sendiri). jika dalam suatu keluarga terbiasa dididik untuk mengucapkan "maaf, tolong, dan terimakasih", maka tak akan jauh dari itulah cetakan-cetakannya. dan termasuk juga didalamnya masalah kepercayaan, kejujuran, dan kebenaran.

aku ingat sejarahnya mengapa aku, secara sangat sadar, memasukkan diriku kedalam golongan pertama. saat itu usiaku, entahlah, aku lupa. tapi sepertinya aku masih memakai seragam merah putih. aku juga lupa detail kejadiannya, tapi yang aku ingat, saat itu aku benar-benar berada dalam posisi yang terjepit. aku menjadi tersangka utama suatu kasus, yang akhirnya mengakibatkan tidak seorangpun dirumahku percaya padaku. benar-benar tidak ada. bayangkan saja, masih SD, masih imut-imutnya, tapi sudah ditempatkan pada posisi yang seperti itu. dan saat itu, aku menyadari sesuatu, bahwa ternyata berada dalam posisi dimana tidak seorangpun percaya padaku merupakan hal yang amat sangat menyiksa. aku sama sekali tidak menemukan kenyamanan didalamnya. saat itu pula aku menyimpulkan dan memutuskan bahwa kepercayaan itu penting. sangat penting. namun tidak hanya itu saja, aku juga berfikir, bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan mereka? agar aku tidak tersiksa terus-menerus seperti itu, agar aku bisa kembali merasakan kehangatan ditengah-tengah keluargaku,.. dan jawabannya adalah kejujuran. karena menurutku, kejujuran dariku akan menggiring orang lain untuk percaya padaku. sampaikan apa yang sebenarnya terjadi, walaupun menurutku jujur bukan berarti harus menyampaikan semuanya, melainkan semua yang aku sampaikan haruslah yang sebenarnya. tapi tidak hanya lantas seperti itu kan? bagaimana orang lain bisa tau apakah saat itu aku jujur atau tidak?
sebenarnya sempat kehabisan akal juga, lalu aku melihat sebuah Al-Qur'an yang sudah lusuh dan halamannya copot-copot (konon karena terlalu sering kubaca, konon). aku mengambilnya, aku letakkan diatas kepalaku, dan sambil meneteskan air mata aku sampaikan, kalau aku bersumpah, bahwa yang aku katakan itulah kebenarannya. sungguh amat sangat tidak mudah untuk melakukan itu. aku sendiri sempat merasa khawatir, khawatir kalau apa yang ku anggap jujur adalah bohong menurutNya, apa yang kuanggap yang sebenarnya terjadi justru tidak dihadapanNya. tapi aku tidak peduli, karena memang itu hanya ketakutanku saja. dan ternyata hal yang kulakukan membuahkan hasil. mereka percaya, keluargaku percaya, percaya pada yang aku sampaikan, dan setelahnya tidak pernah mengungkit hal itu lagi.

terkadang sempat terpikir juga, sampai segitunya ya kejujuran diagung-agungkan??? sama sekali tidak ada toleransi. dan apabila ada yang tidak beres, tidak cocok, maka bersumpah dibawah Al-Qur'an lah jalan keluarnya. tapi beruntungnya hingga saat ini aku tidak pernah lagi berada dalam posisi seperti itu. dimana dunia serasa berjalan sendiri-sendiri, sehingga tidak ada yang mendukungku, yang akhirnya menempatkanku pada posisi 'yang tidak dipercaya'. aku tidak mau berada dalam situasi yang seperti itu lagi. tidak didepan keluargaku, tidak didepan teman-temanku, atau siapapun juga.

mungkin ceritamu, ceritanya, berbeda lagi dengan yang sudah kusampaikan. karena memang itu tadi, keluarganya juga berbeda, lingkungannya berbeda, didikannya pun jelas berbeda.
akupun sebenarnya tidak bisa memaksa siapapun untuk menjadi golongan pertama, karena pribadi manusia itu berbeda-beda, dan otomatis berpengaruh pada pilihan-pilihan 'ingin jadi yang seperti apa'. tapi untuk aku, secara pribadi aku tegaskan, aku tidak akan bisa hidup jika tidak ada kepercayaan dari orang lain.

dipercaya dan mempercayai. sudah seharusnya berjalan beriringan dan seimbang. tidak mungkin aku ingin orang lain mempercayaiku tanpa aku harus memberikan kepercayaan pada mereka. egois betul...
dan seperti kepercayaan dari orang lain, rasa percayaku terhadap orang lain pun merupakan suatu hal yang krusial. sulit untukku percaya begitu saja kepada orang lain, dan begitu kepercayaan yang telah kuberi ternyata disia-siakan, sangat sulit pula untuk diperbaiki lagi. sangat sulit. bukan berarti aku yang membuatnya seperti itu, tapi memang begitulah konsekuensinya. jika kamu menganggap suatu hal itu penting, saat hal itu dirusak, bukankan kamu akan benar-benar marah? kurang lebih seperti itulah...

sekarang, aku sudah menentukan pilihan, lalu bagaimana dengan pilihanmu???

1 comment:

  1. Abdi baris usaha jujur sarta abdi baris ngomong kabéh anu geus lumangsung. abdi henteu hayang nyieun anjeun kuciwa

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D