31 January 2011

Wisata Religi Arjuno (part 3)

malam yang kami lewati cukup panjang. bagaimana tidak, jam 9 malam kami putuskan untuk tidur dengan alasan, esok pagi-pagi buta harus sudah memulai perjalanan ke puncak. anginnya cukup kencang malam itu, hanya bisa berdoa yang terbaik, walaupun logikaku terus bekerja, dan saat itu aku benar-benar berani bertaruh kalau cuaca sedang amat sangat tidak bersahabat. semoga esoknya membaiklah..

jam 3, alarm berbunyi. karena tidak ada respon dari yang lain, aku kembali memejamkan mata saja.
setengah 4, jam 4, sampai jam setengah 5, akhirnya aku dan Ngikngok memutuskan untuk bangun dan membuat sarapan. menu pagi itu, sebenarnya tidak jauh dengan menu hari sebelumnya, tidak akan jauh dari komposisi nasi, mie, dan telur--karena memang hanya bahan makanan itu yang kami bawa.

setelah sarapan, kami mulai mempersiapkan diri. senter, head lamp (walaupun kondisi sudah cukup terang, sekitar jam 5), rain coat, P3K, kamera, trangia, dua buah ransel berisi logistik secukupnya, dan jaket. that's all. dan, saatnya berangkat, tapi sebelumnya, berdoa dulu yahhh...

tenda yang kami tinggal masih terlihat (ya iyalaahh,. warnanya kuning ngejrenk gitu!!!), tapi jalan yang kami lalui benar-benar menanjak, dan aku merasa benar-benar kedinginan, padahal sudah memakai kaos lengan panjang, dan jaket yang lumayan tebal juga. entah aku yang bermasalah atau cuaca saat itu benar-benar tidak baik. tapi yang aku tau, langit sedikit mendung, karena harusnya jam segitu, sudah jauh lebih terang daripada yang terjadi saat itu.

awalnya masih bisa kuhiraukan. tapi lama-kelamaan tidak tahan juga. dadaku sakit, sangat sakit, nafasku juga tinggal setengah. dan yang aku tau saat itu benar-benar dingin. aku putuskan untuk berhenti. membuka kotak P3K, dan mengoleskan balsem. sedikit baikan, namun setelah itu perjalanan kami sering terhenti, dan aku tidak sanggup untuk berjalan terlalu cepat. sampai akhirnya, pada suatu tikungan, ada tempat cukup nyaman untuk beristirahat. bahkan yang lain sempat foto-foto juga.


entah pikiran dari mana, aku tiba-tiba menyampaikan pada yang lain kalau aku tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. kalau toh aku tetap ikut, maka akan sangat memperlambat laju rombongan. walaupun disisi lain aku juga masih teringat omongan Bapak Dosen di pos 2 (baca wisata religi arjuno part 1), yang menyampaikan kepada kami, bahwa jangan sampai meninggalkan salah satu anggota. jika pergi, pergi bersama. jika memang harus kembali, maka kembalilah bersama. jangan sampai ada yang terpisah satu sama lain. Ngikngok juga sempat mengingatkan hal itu sesaat setelah aku menyampaikan maksudku.

setelah dibujuk oleh yang lain, dan dengan berbagai macam syarat diantaranya tidak boleh berjalan teralalu cepat, kalau ada tempat istirahat ya istirahat, tidak ada target waktu, yang berjalan dibelakangku tidak boleh membuatku tergesa-gesa, dan lain sebagainya, aku bersedia melanjutkan perjalanan (benar-benar berasa menjadi RI 1. hahahah). satu hal yang cukup menjadi motivasiku, aku ingin tau, dari jalur purwosari ini, akan samapi ke puncak dari sisi yang sebelah mana???karena sampai saat itu aku sama sekali tidak bisa membayangkannya.

tidak lama setelah diskusi panjang itu, sampailah kami di pos Jawa Dipa. pos ini terletak di tengah hutan (alas lali jiwo sepertinya--hutan yang mengelilingi puncak arjuno). tempatnya cukup luas dan teduh, dan ada bekas api unggunnya. sepertinya kalau mendirikan tenda disitu akan cukup nyaman, karena angin yang berhembus terhalang pepohonan, sehingga tidak akan terlalu terasa.

setelah nafas kami kembali stabil, kami melanjutkan perjalanan. setelah itu pemandangan yang kamu lalui tidak jauh berbeda. hanya pohon pohon dan pohon. pohon pinus sepertinya. tapi juga ada pohon-pohon yang lain, yang aku tidak tau jenisnya. selain itu, terlihat beberapa bukit dan lembah, dan sepanjang perjalanan itu, kami menyusuri jalan setapak yang disebelah kirinya adalah jurang. dalam jarak sekian ratus meter, kami menemukan semacam petunjuk, yang pertuliskan "PUNCAK", serta tali rafia hijau yang sepertinya juga digunakan sebagai petunjuk jalan.

satu bukit, dua bukit, tiga bukit, sampai total kalau tidak salah ada tujuh bukit, namun tidak ada tanda-tanda ujung dari hutan itu. kaki kami sudah mulai berat. nafas kami tinggal setengah-setengah. kaos dan jaket sudah basah oleh peluh. dan yang paling mengganggu adalah semangatku yang sudah amat sangat tipis. entah yang lain. sampai tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

tanaman itu, walaupun tanpa bunga karena belum waktunya bersemi, tapi aku sangat mengenalinya. tanaman yang hanya bisa kulihat saat aku berada diketinggian sekian ribu mdpl, tanaman yang tidak akan bosan aku melihatnya, tanaman yang apabila musim semi tiba bunganya akan memberikan warna yang berbeda dari sekedar coklat dan hijau. yeah,.. edelweis. menurutku itu adalah salah satu keindahan dunia, tapi amat sangat menjadi tidak indah saat aku melihatnya di kosku, di meja tv, saat salah seorang temanku membelinya sewaktu di Bromo, walaupun aku juga tau kalau itu bukan edelweis yang sesungguhnya, yang lebih sering aku dan teman-teman sesama pendaki menyebutnya edelweis palsu (bunganya mirip, tapi sama sekali tidak indah, dan daunnya jauh berbeda, biasanya bisa ditemukan di tempat-tempat yang tidak terlalu tinggi). 

setelah aku mencoba memperhatikan sekitar, setelah sebelumnya mataku hanya terpaku pada jalan setapak yang kulewati, ternyata sangat banyak edelweis terhampar disana. dikiri kanan jalan, bayangkan. dia ada disekelilingku. padahal biasanya, tanaman ini tumbuh di jurang, di lembah, jauh dari jalan yang dilewati manusia, tapi tidak untuk saat itu. aku ingat, mataku sempat sedikit basah. bersyukur telah diberi kenikmatan sebesar itu. dan edelweis benar-benar berhasil menyihirku. hingga semua lelah ini hilang. hilang seketika. sampai edelweis itu habis, dan yang tersisa masih pepohonan pinus dan kawan-kawan seperti biasanya.

dan rasa lelah dan putus asa kembali datang.

mungkin sudah sekitar 5 jam kami berjalan, tanpa ada tanda-tanda kalau perjalanan akan segera berakhir. sampai sayup sayup, kami mendengar ada suara orang sedang mengobrol. wewww,.. bertemu manusia juga akhirnya. dan kami memutuskan untuk beristirahat, sampai si empunya suara yang kami dengan itu muncul dari sisi lain jalan setapak tempat kami datang tadi.

"dari puncak ya mas?"
"iya, tapi gak samapi puncak mas, badai..."
"badai???"
"iya, tadi sudah dalam perjalanan ke puncak, sudah dekat pula. tapi cuacanya gak bagus mas, akhirnya balik deh. tadi juga banyak yang balik kok, gak jadi muncak"
"hemm.. turun dari puncak jam berapa tadi mas?"
"mungkin sekitar dua jam yang lalu..."
DUA JAM????mbatin doank, gak sampe diomongin. itu orang turun aja dua jam, gimana kalau naik???
gak cuman aku. mungkin itu kompakan suara hati kami ber-empat.
setelah mempersilahkan mas-mas dan bapak-bapak (total ber-3) dengan masing-masing carrier sebesar kulkas satu pintu itu lewat,..kami bertiga tersenyum lemah.

sangat terlihat kami ber-4 kebingungan saat itu. antara melanjutkan perjalanan, dan kembali. tapi yang aku tau, kabut semakin tebal, angin kencang semakin sering berhembus, beberapa kali aku rasakan air menetes, entah kabut entah hujan, dan semakin dingin rasanya saat kami berhenti. harus segera mengambil keputusan. tidak bisa tidak, apapun keputusannya, yang pasti bukan dengan berdiam diri saja.

setelah melakukan pertimbangan yang cukup matang, masing-masing dari kami menyampaikan pendapat, maka didapatlah suatu kesimpulan, kalau kami tidak akan melanjutkan perjalanan.
namun sebelum turun, kami sempatkan untuk mengambil gambar, dilokasi tertinggi yang bisa kami capai untuk saat itu. kemudian, kami mencari tempat yang cukup lapang untuk menghabiskan logistik yang kami bawa. sebotol besar soft drink, sepanci kecil jelly, segelas kopi susu dan sereal, serta beberapa snack kami habiskan saat itu juga. bukan main laparnya.



dan setelah selesai, kami langsung melanjutkan perjalanan, bukan untuk tetap naik, melainkan turun, melewati jalan yang sama yang kami lalui sewaktu berangkat tadi. saat itu aku sangat bersyukur tentang keputusan kami yang lebih memilih untuk kembali, karena sepanjang perjalanan pulang, hujan turun cukup deras, dan bisa kalian bayangkan bagaimana licinnya jalan yang kami lalui, sampai beberapa kali jackpot pun tidak terhindarkan.
(sesaat setelah jackpot paling luar biasa yang penah kurasakan sepanjang hidupku)

sesampainya di Sepilar, waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. setelah packing dan makan, kami langsung memulai perjalanan turun. saat itu kami sedikit mengejar waktu, sebisa mungkin sampai di bawah sebelum gelap, ditambah lagi dengan malamnya, sekitar jam 7 ada pertandingan final piala AFF antara Indonesia dengan Malaysia, semakin ingin cepat pulang saja.

masing-masing pos yang kami lalui, kami sempatkan untuk beristirahat sejenak sambil 'laporan' pada juru kuncinya. tapi sempat ada kejadian aneh pada perjalanan pulang tersebut. di jalan, di tengah hutan, antara pos Eyang Semar (pos 4) dengan pos Eyang Sakri (pos 3), kami bertemu dengan seorang laki-laki. orang tersebut sedang jongkok tepat di pertigaan jalan, dengan pakaian berupa sarung dan atasan yang telah lusuh. laki-laki tersebut lantas meminta makanan kepada kami, kepada mas Abib lebih tepatnya, karena dia yang berada di barisan paling depan. karena saat itu logistik yang bisa langsung dimakan sudah habis, maka kami memberikan dua buah mie instan yang tersisa, ditambah dengan sebotol kecil air mineral yang isinya tidak sampai setengah penuh. aku, jelas pada saat itu benar-benar berpikir yang macam-macam, dan ternyata tidak cuma aku, mungkin semuanya. tau lah yang aku maksud apa... hanya saja kami tidak punya cukup keberanian untuk membahasnya. jadi kami diam saja, sambil terus melanjutkan perjalanan.

perjalanan yang penuh perjuangan, walaupun hanya tinggal sedikit saja. namun sudah keburu gelap dan maghrib, sedangkan senetr yang kami bawa pun sangat terbatas. dengan sisa-sisa tenaga yang ada, akhirnya kami dapat samapi di desa terakhir sebelum jalur pendakian, desa Tambakwatu, dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. hanya rasa lelah dan syukur yang masih kami ingat saat itu, bahkan pertandingan final piala AFF pun tak lagi kami hiraukan.

tapi perjalanan tidak berhenti sampai disitu. aku, merasa bahwa perjalanan ini masih belum selesai. karena aku bertekad, suatu saat nanti aku akan kembali lagi, kembali mengulang perjalanan ini, dengan persiapan yang jauh lebih matang dan waktu yang lebih tepat, untuk bisa kembali menginjakkan kaki di ketinggian 3339 mdpl itu.

Wisata Religi Arjuno (part 1)
Wisata Religi Arjuno (part 2)

7 comments:

  1. dan dengan temanku yang lain..

    akuuu..:D
    ikuuut

    -kuning-

    ReplyDelete
  2. nanyaaak!!!!
    *sambiil ngacuung*

    pertama,aku selalu penasaran kalo buang hajat itu gimana di atas gunung.walopun aku ta, tp aku mau denger sendiri dari para pendaki..
    soale wetengku kan gg kompromi.kadang horor..huegeggee

    ReplyDelete
  3. hemm. catatanny nayamul...
    seng pnting dlm catatan tu gkda kjadian jatuh pd malam hari+dpanggil "pak",hahahahaha...

    ..tapi perjalanan tidak berhenti sampai disitu. aku, merasa bahwa perjalanan ini masih belum selesai. karena aku bertekad, suatu saat nanti aku akan kembali lagi, kembali mengulang perjalanan ini, dengan persiapan yang jauh lebih matang dan waktu yang lebih tepat, untuk bisa kembali menginjakkan kaki di ketinggian 3339 mdpl itu...

    kyoe asik yo nek direvans,
    seng pst dlm wkt dekat iki ladub maneh,
    tp RAUNG sek.. :D...

    ReplyDelete
  4. nink: melu aee.. :P

    bumz: hwahahaha..jujur kukatakan, samapai saat ini belum pernah sekalipun aku buang hajat di gunung. harusnya yang bisa jawab pertanyaanmu si Ngok, soalnya itu jadi 'ritual wajib' buat dia kalo ngalas. ntar deh,..aku cariin dulu anaknya. hwehehehe

    mas abib: iya donkk..demi memuaskan rasa penasaran. hehe
    hwiiiikkk,.. raung. kapann???gak ajak-ajak yoo... :(

    ReplyDelete
  5. RAUNG, kpan2 wes... pling lmbat maret...

    sengojo gk woro2, seng pgen melu y monggo...

    ReplyDelete
  6. ngok itu kingkong kn yaa??

    ketakno nek ketemu..haha

    ReplyDelete
  7. he'em. okehhh okehhh.

    eh,. eh,. berhubung si narasumber gak datank2,aku yg jawab pertanyaanmu ae wes. tapi ni sepengetahuanku aja lhoh, soalnya aku sndiri gak--belum--pernah mempraktekkannya.hehe

    biasanya tmn2 tu cari t4 yg agak jauh dari jalur (gawat donk kalo keinjek), trus ngeruk tanah gt. disitulah lokasinya. kalo udah,ntar ditimbun sama tanah lagiii. trus kita bersiinnya pake tisu basah. kalo airnya lebih2, ya emang lbh baik pake air jg. gituuuuu

    tapi kalo gunungnya uda 'terjamah manusia' kyk jalur religi arjuno ini, tiap pos juga ada km+wcnya kok. jadi gak masalah.. :D

    sudah jelas sdra bombom??

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D