29 May 2011

Milik Ayah

Dia sudah ada di sana. Teronggok kaku tanpa setitikpun kelembutan, bahkan sejak saat aku belum tau apa tugasnya. Hanya Ibu yang selalu mewanti-wanti, “jangan dekat-dekat, nanti panas…”

Selain setelan biru tua dan muda milikku, serta pembungkus-pembungkus tubuh lainnya yang beraneka warna, tidak pernah terlupa atau tertinggal, milik Ayah, yang saat itu masih bermacam dua, coklat, dan hijau. Setiap akhir minggu mereka selalu bertemu, setelah sebelumnya dimandikan, juga bersama-sama. Ah,.. akrabnya,.. sampai iri aku melihatnya.

Si biru telah pergi, sekarang sudah terganti dengan si merah dan putih, serta beberapa helai pengikat leher. Dan ternyata milik Ayah yang memang terkesan ramah itu, lagi-lagi dengan mudah bisa mengakrabkan diri. Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, merekapun tak pernah lupa untuk saling bertemu di akhir minggu.

Enam tahun sudah keakraban itu terjalin. Sempat muncul setitik raut kesedihan di wajah si coklat dan hijau, mereka harus berpisah dengan si merah-putih, walaupun ada kesenangan juga, karena Ibu tak perlu lagi memikirkan bagaimana cara menghaluskan si merah yang berlipit-lipit itu. Sebenarnya ingin aku membantu, namun ibu masih saja mewanti-wanti, “jangan dekat-dekat, nanti panas…”


Milikku berganti lagi, kali ini biru tua dan putih, tanpa pengikat leher, tanpa lipit, sangat sederhana. Coklat, biru tua, hijau, dan putih. Itulah yang selalu ada bertumpuk-tumpuk disana. Menunggu Ibu untuk menyentuhnya dengan tangannya yang lembut. Aku juga ingin bisa, aku juga ingin menyentuhnya. Dan dengan berbagai rengekan, Ibu akhirnya mengijinkanku, walaupun hanya untuk si biru tua dan putih. Aku senang.

Hari-hari terus berjalan. Tak pernah tertinggal setiap minggu aku menyentuhnya. Sebenarnya ingin juga aku menyentuh milik ayah, tapi aku khawatir, sentuhanku tak seindah sentuhan Ibu. Tak usah lah kalau begitu. Nanti Ayah marah. Aku takut.

Si biru tua telah usang. Si hijaupun sudah saatnya dimuseumkan. Karena Ayah, tak akan lagi memakainya. Sekarang tinggallah si coklat dengan teman barunya, putih abu-abu.

Aku kembali merepotkan ibu. Si abu-abu berbeda dengan biru tua. Kembali berlipit-lipit dan panjangnya yang melebihi papan seterikaan di rumah, membuatku kewalahan. Tak mungkin juga aku meminta Ibu untuk menyentuh milikku lagi. Aku sudah besar. Aku harus bisa.

Terkadang mulai bosan setiap akhir minggu harus seperti itu. Jika mulai nakal, aku tak akan melakukannya. Hingga awal minggu, aku sengaja terbangun pagi-pagi buta untuk menyentuh si putih abu-abuku. Hasilnya pun sama saja, tak tampak ketergesa-gesaannya, kemalasannya, hanya ada sedikit bumbu di pagi hari yang kacau itu: omelan Ibu.

Kini, aku tak lagi memakai satu warna. Kini, aku bebas memilih yang apa. Bahkan setiap hari berbeda pun tak masalah. Saat akhir minggu ini aku pulang ke rumah, ternyata aku masih melihatnya. Milik Ayah, si coklat, yang sudah sangan lusuh, namun masih setia menemani Ibu di tiap akhir pekannya. Tak seperti milikku yang silih berganti, hingga saat ini tak ada sama sekali.

gambar dari hard disk leptong, gak tau sumbernya dari mana -_-"
*grissee,. setelah melihatnya bermain-main dengan seterika

6 comments:

  1. beraneka warna... apakah itu seragam?

    ReplyDelete
  2. nice post...imaginasi yg indah...meliuk..berarak..dan menggoda utk kubaca hingga akhir..^^
    keep writing..saya tunggu jejaknya di blog saya ya...^^

    ReplyDelete
  3. Oke juga...:)
    lanjutkan berkarya..
    BTW. kt saling follow yuk. aq dah follow km..follow back ya.."D

    ReplyDelete
  4. bang adhi : sipppp,.. :)

    salsabila : wuihhh.. komennya bikin aku terbang melayang2. hehe.. trimakasiiihh, trimakasiihh,.. :)

    sandy : siap laksanakan. oke. langsung meluncur ke tekape :)

    ReplyDelete
  5. bagus banget armaeeeee tulisannya

    ReplyDelete
  6. trimakasih tanteeee.. terharu aku dapet pujian dari orang yang jago nulis, bahkan udah punya buku.
    *hikzz hikzz :D

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D