11 June 2011

jalan memutar

Tinggi besar, kutaksir hingga mencapai sembilan kali tinggi tubuhku. Berlumut, keropos, berdebu, bercak hitam, coklat, dan hijau dimana-mana. Lalu adakah tempat yang layak untuk cakar mungilku berpijak? Ah,. Lagi, lagi, dan lagi, aku harus melaluinya.

Tembok itu tak juga rapuh, atau tiba-tiba terguling tak berdaya. Masih tetap kukuh berdiri disana, memisahkan aku dengan dunia dibaliknya. Sebenarnya ada sesuatu yang lain yang menempel disana. Berbahan jauh lebih lemah, namun lagi-lagi tak ada celah untukku. Ini semua gara-gara benda yang tak jauh lebih lebar dari daun telingaku itu, yang menjadi pengait antara yang satu dengan yang lainnya. Aku tak tau apa sebutan untuk itu. Begitupun sudah cukup bagiku untuk mendeskripsikannya. Lalu bagaimana selanjutnya?

Aku benci menunggu. Menunggu keajaiban datang. Menunggu ada sesosok raksasa muncul dari balik kotak persegi panjang berwarna hitam legam  disamping tembok berlumut ini. Namun selain menunggu, aku tidak bisa berbuat yang lain. Hanya berteman bulu-bulu halus sebagai alas tidurku, sambil bergelung kemalasan.

Masih tetap saja dingin, walau aku berusaha melindungi seluruh bagian tubuhku. Sang jingga kian meninggi, tapi tak juga hangat disini. Tuhan, tolonglah, ijinkan keajaiban itu terjadi, sekali lagi—tak pernah bosan dan malu aku berucap tentang itu. Sekalipun tak layak pula dianggap keajaiban, karena hal itu sudah tergolong biasa, sangat biasa.

“GUBRAK!!! Krieeeeeeeeeeeeeeeeeetttt…”

Ahaa,.. akhirnya doaku terdengar.


“hai mata coklat,..” gumamku dalam hati, sambil menyunggingkan senyum semanis mungkin. Ah,. Tak yakin diriku kalau kau mampu melihat senyumku. Tapi tak apalah, kau sudah membantu. Sangat membantu.

“*&@du#$%^yinyngtu^^%&(&%&^Yguyb7542678vi8o98yN&*&V%^%*^@T...”

“hei mata coklat, aku tak mengerti apa yang kau katakan Sayang,..”

“heiii,…”

“heeeeeeeeeeeeeeeeeeeiiiiiiiiii…. “

Sepertinya sekencang apapun aku berteriak, kau tak akan menghiraukanku. Baiklah, yang penting—sekali lagi—keajaiban itu datang. Lalu aku mengikuti langkahnya. Masuk. Ke dalam gua—kurang lebih itulah sebutan yang paling tepat menurutku. Gua yang indah. Ya, sangat indah. Terimakasih Tuhan.

Dan kembali perjalananku dimulai. Walaupun sudah untuk sekian kalinya, tapi aku tak pernah bosan dengan apa yang terjangkau oleh penglihatanku.

Licin, harum, dan dingin. Bisa kupastikan yang bergerak-gerak dibawahku ini adalah bayanganku sendiri. Uhh,. Merusak pemandangan saja. Sudah kusam, kotor, bau lagi. Cukup. Kualihkan pandanganku ke sekeliling. Bulu dan bulu, baik yang terhempas bebas di ruang yang sangat luas ini, maupun yang memiliki penyangga, seperti yang ada dibalik persegi panjang berwarna hitam legam tadi.  Kotak-kotak tak kukenal yang tersusun rapi di sudut ruangan, beberapa  benda cukup tinggi—lagi-lagi beralaskan bulu—yang tertata rapi mengitari benda besar beralaskan kaca dan ada semcam kain pembungkus yang menjuntai dibawahnya.

Satu undakan terbuat dari kayu harus kulalui.. Hap..!!!

Satu lagi undakan cukup tinggi harus kulompati. Kali ini kembali licin, seperti yang sebelumnya, namun tak terlalu harum, tapi cukup membuatku nyaman menapakkan kaki disana. Setelah sedikit memutar kekiri, akhirnya aku melihatnya. Benda berbentuk persegi panjang berwarna coklat muda, sedikit lebih kecil daripada apa yang kulihat sebelumnya. Dengan tangannya yang halus dan putih, si mata coklat mendorong benda itu sedikit, hingga ada ruang agar aku bisa melaluinya.

Ahhh,..  bahagia sekali rasanya. Akhirnya aku melaluinya. Melalui penghalang itu. Melalui semuanya. Tapi tak bisa kunikmati kebahagiaan ini berlama-lama. aku harus bergegas.

Sambil berlari, aku coba menoleh kebelakang sedikit. Tembok tinggi besar berlumut keropos berdebu itu masih teronggok dengan kaku disana. Tak ada kesejukan sama sekali. Namun kali ini aku tak lagi memandangnya dengan lesu. Karena aku, sudah berada pada sisi yang lainnya.
tembok sebelah rumah
-dari mata seekor kucing-

*kamar depan, grissee, setelah membiarkan si Meong 'numpang lewat'

8 comments:

  1. pas baca awalnya gak ngerti... setelah lihat catatan kecil di akhirnya baru tahu deh, ternyata kamu bisa berubah menjadi kucing :D

    ah, saya teringat Prof. McGonagal di fiksi Harry Potter

    ReplyDelete
  2. finally, tau juga akhirnya ternyata si kucing yang bercerita.. hmm. menarik juga nih, melihat kehidupan dari mata seekor kucing.

    cool!
    #tepoktangan

    ReplyDelete
  3. bang adhi & mas gaphe : sebenernya di postingan ini aku merasa sudah menjelma jadi makhluk paling sok tau di dunia. hahaha,..
    tapi semoga hanya saat menulis ini saja.

    trimakasih buat apresiasinyaa,. sangat, apa ya?? aku bingung mencari kata yang tepat. menyenangkan??? lebih dari itu. apa aja boleh deh,. pokoknya yang baik2.. :)

    ReplyDelete
  4. Kagum saya bisa ngeliat dari sudut mata kucing,..
    Kalo dari sudut pandang temboknya gimana ya???
    #PenasaranTingkatDewa

    ReplyDelete
  5. nanda: trimakasiiih,. trimakasiiih,..
    waduh,. nanti deh kutanyain temboknya dulu yahh. hehe

    ReplyDelete
  6. Wah, bisa bicara ama tembok juga,,,, tambah salut deh...

    ReplyDelete
  7. eaa.. dianggep srius malah. hadewwwwhhh,..
    mmmmhh,. sebenernya bisa siiih, tapi hanya sebatas imajinasi. hwahahahaha :D

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D