26 June 2011

BOOK REVIEW : The Alchemist

Judul             : The Alchemist
                        (sang Alkemis)
Pengarang     : Paulo Coelho
Tebal             : 213 halaman
Tahun terbit  : 2005 (sekarang cetakan ke-9)
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama

The Alchemist (atau Sang Alkemis dalam bahasa Indonesia) menceritakan tentang perjalanan seorang anak, yang awalnya menemukan takdirnya yang ditentukan oleh kedua orang tuanya, untuk menjadi pendeta di sebuah gereja. Namun karena hal itu bukan keinginannya sendiri, si anak tersebut akhirnya menolak dan memilih untuk menjadi penggembala. Dengan sedikit bekal yang diberikan Ayahnya, si anak tersebut membeli beberapa domba dan memulai perjalanannya menjadi penggembala.

Kehidupannya mulai berubah, saat ia bermimpi sebanyak dua kali tentang harta karun, dan memutuskan untuk mencari tahu tentang arti dari mimpi tersebut. Dari seorang peramal berbangsa Gypsy, anak tersebut akhirnya mengetahui tentang arti dari mimpinya. Dan perjalanannya pun dimulai, perjalanan  yang sebenarnya, perjalanan untuk mencari harta karun, yang ada di mimpinya.

Raja Salem, perampok, penjual Kristal, orang Inggris, kepala karavan, Fatima, silih berganti menemani perjalanannya dari Andalusia, Spanyol, hingga padang pasir gurun Sahara untuk mencari harta karun, yang konon berdasarkan mimpinya terletak di dekat piramida-piramida Mesir. Sempat beberapa kali si anak ingin menyerah dan pulang ke kampung halaman untuk kembali menjadi seorang penggembala, namun pembicaraan singkatnya dengan sang Raja Salem selalu menghalanginya untuk kembali.

“Jangan lupa, segala sesuatu yang kau hadapi pusatnya hanya satu. Jangan lupakan juga bahasa pertanda-pertanda. Namun yang paling utama, jangan lupa mengikuti takdirmu sampai pada akhirnya…”


Buku yang cantik. Komentar seperti itu yang pertama kali ada dibenakku sesaat setelah selesai membaca buku ini, dan memang inilah kali pertama aku membaca karya Paulo Coelho. Beberapa penulis yang bukunya pernah kubaca sebelumnya, sebut saja Dan Brown, JK Rowling, Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, atau  bahkan Budi Dharma, seorang sastrawan Indonesia sekaligus guru besar di salah satu Universitas Negeri di Surabaya, rasanya tidak mampu mengalahkan gaya menulis Coelho.

Bukan termasuk salah satu buku yang aku harus membacanya bersama kamus bahasa Indonesia, karena memang kata-kata yang digunakan sangat sederhana, namun perangkaian kata yang luar biasa indah membuat buku ini benar-benar, ‘cantik’.

Aku serasa bisa merasakan bagaimana hembusan Levanter, lelahnya mendaki bukit di Afrika, panasnya gurun Sahara, serta indahnya oasis yang berdasarkan buku ini bukan hanya sekadar sumur dengan beberapa batang pohon kurma di sekitarnya, melainkan jauh lebih besar daripada kota-kota di Spanyol.

Secara umum alurnya lambat, dan ini yang membuatku merasa sedikit heran, karena biasanya aku sangat tidak betah dengan buku-buku beralur lambat. Tapi lagi-lagi, cara penulisan, perangkaian kata yang indah, diselingi dengan percakapan-percakapan penuh makna, membuat buku ini sama sekali tidak membosankan.

Banyak quotes bertebaran sepanjang perjalanan buku ini. Yang pastinya sangat erat kaitannya dengan alur cerita. Buku yang menurutku sangat cocok untuk semua kalangan, terutama untuk generasi muda, yang masih sedang dalam proses pencarian jati diri *berasa aneh di kalimat terakhir, karena sedari dulu aku sering sekali berucap, “pencarian jati diri gak akan berhenti sampai kita mati…”

Last, penilaian subyektif…
Skor    : 91
Status  : recommended
Best quotes (best conference) :
“mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?”
“sebab, dimana hatimu berada, di situlah hartamu berada…"

*ingin tau apa maksudnya Sang Alkemis??? baca saja bukunya ^^

7 comments:

  1. kalo buku ini, saya juga punya. buku paling ringan bahasanya dari rangkaian buku coelho..

    dan quotes terakhir itu ada di sampul buku,

    mengisahkan seorang anak gembala yang melakukan perjalanan, menjadi alchemist.. mengubah logam menjadi emas..

    ReplyDelete
  2. sebenernya pengen beli semua bukunya Coelho, tapi kok gak ada yang nawarin buat ngebayarin yakk?? hahaha..

    aku lebih suka alchemist dalam makna yang lain, makna dari seorang 'santiago',. bukan dari 'orang inggris' :)

    ReplyDelete
  3. saya sudah lama baca e-book nya, tapi gak selesai... karena itu tadi, alurnya sangat lambat (ditunjang playlist di Itunes saat bacanya) bikin saya ngantuk :D

    tapi rasanya setelah baca review ini saya mau baca ulang deh

    ReplyDelete
  4. ahaha,. aku gak pernah bisa konsen kalo baca buku sambil denger lagu *lagi-lagi masalah multitasking >,<

    baca lagi aja bang,. keren kok. gak bakal nyesel kalo sudah selesai baca. aku brani jamin. :)

    ReplyDelete
  5. Saya, juga seorang fans BERAT dari seorang Paulo, BERAAATTT!!! *iya,iya

    Memang buku-buku Paulo Coelho itu semuanya menginspirasi, membimbing kita dalam pencarian jati diri. Bahasanya biasanya kompleks dan bikin kita baca berulang-ulang (!) tapi selalu memiliki sesuatu yang berarti.. :)

    ReplyDelete
  6. berapa kilo nih beratnya? hehe..

    setuju banget sama kamu. walopun aku baru punya bukunya yang satu ini. tapi sudah terlihat kok Coelho itu penulis yang seperti apa. dan aku berniat untuk mengoleksi semua bukunya. tapi masih besok2. hehe :)

    ReplyDelete
  7. salam.
    Buku yang sangat menarik, berkali-kali saya membaca reviewnya di berbagai blog, termasuk di blog ini, tapi g pernah kesampaian membelinya, terakhir ke Gramedia untuk belanja buku ini, ehh malah keduluan liat buku baru biografinya Einstein (Walter Isacson), dan Buku lawasnya Stepen Hawking ( The Brief History Of Time), Pas ketemu bukunya Paulo Coelho (the Chemist) di rak sebelah, persediaan sudah g kesampaian, Moga saja ada waktu dan persedian untuk menikmati buku bagus tersebut, Kok malah curhat ya, tapi g apa kan ? sesama penikmat buku, g ada salahnya curhat tentang buku kesukaan, hitung2 saling rekomendasi buku2 keren, Hehehe :)
    Salam.

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D