27 June 2011

BOOK REVIEW : Mr. Darcy, Vampyre

Judul : Mr. Darcy, Vampyre
Pengarang : Amanda Grange
Tebal : 386 halaman
Tahun Terbit : 2010
Penerbit : Gagas Media

Pernah menonton atau mendengar film Pride and Prejudice? film kolosal dengan latar Inggris pada tahun 1800an. Setahuku film tersebut sudah dibuat beberapa versi. Dan versi terakhir yakni tahun 2005 telah diperankan dengan sangat cantik oleh Keira Knightly sebagai Elizabeth Bennet serta Matthew Macfadyen sebagai Mr. Darcy. Saat ini aku tidak ingin membahas tentang film tersebut, melainkan tentang buku. Bukan berarti buku yang difilmkan atau sebaliknya, melainkan buku ini adalah sekuel dari kisah cinta romantis antara Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, yang pada akhir film tersebut dikisahkan menikah.

Pada bagian awal buku ini menceritakan bagaimana detail acara pernikahan Elizabeth dan Darcy, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan berbulan madu berkeliling Eropa. Awalnya, Elizabeth (atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Lizzy) merasa sangat bahagia atas pernikahan tersebut. Namun tepat saat mereka meninggalkan Hertfordshire, Inggris, dan mengubah rencana awal untuk berbulan madu di Distrik Lake lalu berbelok menuju ke Eropa, Lizzy mulai merasa ada hal yang aneh dalam diri suaminya, Darcy.

Keanehan-keanehan yang lain mulai muncul seiring dengan semakin banyaknya waktu yang mereka habiskan bersama. Darcy yang hingga berminggu-minggu usia pernikahannya tidak pernah datang ke kamar Lizzy pada malam hari, keputusan-keputusan mendadak diluar rencana, serangan di Istana, mimpi aneh, serta pembiacaraan-pembicaraan yang kental dengan unsur masa lalu semakin membuat Lizzy bertanya-tanya tentang sudah seberapa jauh dia mengenal suaminya. Sementara disisi lain, Darcy hanya mampu mengatakan bahwa semua baik-baik saja.

Semua hal tersebut mencapai klimaks saat Lizzy akhirnya berpikir bahwa kesabarannya sudah habis dan Darcy tidak mencintainya. Ditambah dengan seorang teman yang juga mendukung keputusannya untuk pulang ke Inggris sendiri, akhirnya Lizzy memutuskan untuk pergi meninggalkan Italia. Tepat setelah Lizzy meninggalkan vila, bencana dimulai. Ditengah perjalanan didalam kereta kuda, Lizzy mulai merasa aneh dengan ditemukannya semua surat-surat yang sudah dia tulis untuk kakaknya, Jane, sepanjang perjalanan bulan madunya. Belakangan, dan sudah sangat terlambat memang, surat-surat tersebut tidak dikirimkan oleh pengawal yang ia suruh. Lizzy mulai merasakan bahwa ada yang tidak beres. Beberapa kali ia meminta kusir untuk menghentikan kereta kuda, namun kuda-kuda tersebut tetap saja berlari kencang, hingga masuk kedalam hutan.

Lizzy tidak tahu apa yang akan dihadapinya sesaat setelah kereta kuda itu berhenti. Tapi yang ia tahu, sekarang dia dalam kondisi yang tidak bisa disebut baik-baik saja.


Membaca buku ini butuh kesabaran tingkat tinggi, kecuali kalau kau memang menyukai buku-buku beralur lambat. Didalam buku ini, kita akan serasa diajak berkeliling eropa, mulai dari Paris, pegunungan Alpen, Venesia, hingga Italia. Didalam buku ini digambarkan dengan jelas bagaimana keindahan pemandangan yang ada, detail bangunan, arsitektur, hamparan padang rumput dengan bunga berwarna warni, kanal kanal dan gondola yang sangat romantis, dan lain sebagainya.

Buku yang sangat sopan dan romantis. Dan memang seperti itu juga yang tertangkap apabila kita menonton film Pride and Prejudice. Menurutku hal ini juga dipengaruhi oleh setting bukunya yang mengisahkan kehidupan Inggris dan Eropa pada tahun 1800an. Percakapan-percakapan yang bermakna, candaan-candaan yang cerdas dan menghibur, namun bisa berarti nada sindiran untuk beberapa orang, menghiasi buku ini dari awal hingga akhir. Memang jauh dari kesan horror, dan tidak seperti buku-buku vampire pada umumnya. Bahkan, dari 17 bab yang ada dibuku ini, hanya lima bab terakhir yang membicarakan tentang vampire, dan hanya pada lima bab tersebutlah aku merasa bersemangat membaca buku ini. Selebihnya? Lebih karena ingin mengetahui ceritanya, serta menikmati Eropa jaman dulu hingga aku bisa bertahan membaca sampai akhir.

Satu hal yang sejak awal menjadi sorotanku, dalam buku ini banyak sekali kujumpai salah pengetikan. Entah huruf ‘m’ yang salah menjadi ‘n’, atau percakapan yang seharusnya ‘mu’ menjadi ‘ku’ sehingga sedikit banyak merubah makna dari suatu kalimat, dan lain sebagainya. Kurasa ini satu-satunya buku yang paling banyak mengalami kesalahan pengetikan. Bahkan buku-buku lokalpun menurutku tidak separah ini. Dan jujur aku katakan, hal ini sangat mengecewakan pembaca.

Untuk kalian penggemar Pride and Prejudice, bolehlah membaca buku ini. Walaupun aku sempat berpendapat diawal, sebaiknya tidak perlu membaca buku ini, karena aku merusak paham kita sebagai seorang penggemar Pride and Prejudice bahwa itu adalah film paling romantis yang pernah ada. Bagaimana tidak? Film yang benar-benar drama, pada akhirnya dibumbui oleh hal-hal berbau mistis dan tidak masuk akal. Tapi, kesemuanya itu kembali pada pembaca masing-masing.

Sempat mucul pertanyaan dibenakku, apakah dunia vampire memang ada di sana (Eropa/Amerika.red)? mengingat begitu banyak buku dan film yang menceritakan tentang mereka, sehingga hal tersebut terkesan sangat nyata. Entahlah,..

Penilaian Subyektif
Skor   : 74
Status : baca kalau tidak ada buku bacaan lainnya
Best quotes :
“kau tak akan pernah benar-benar mengenali pasanagnmu sampai kau menikahinya” (lagi-lagi diambil dari sampul buku)

*Pride and Prejudice sebelumnya sudah dinovelkan, dengan judul Mr. Darcy’s Diary

7 comments:

  1. wuih, gak nyangka ternyata armae bisa nulis review seindah ini :)

    ReplyDelete
  2. gede kepala aku jadinya dibilang bisa nulis review seindah ini oleh seorang penulis,. trimakasih banyak bang Adhi :)

    ReplyDelete
  3. tapi beneran lho, saya baca ulasannya gak kalah sama ulasan para book blogger atau reviewer di goodreads :)

    ReplyDelete
  4. formal ga nih? klo niatnye ormal hindari pake kata, menurutku...menurut saya... jadi kalo mae pingin ngasih pendapat mae ya tgl di sisipin aja di daam review tersebut... kan ada aturane daam bhs indo...

    oke ta? wes ya,, tugas komeng saya lunas

    ReplyDelete
  5. edja : maunya formal. hahaha..
    iya sih, tau jugak aturan kalo formal mustinya pake kalimat pasif daripada aktif. tapi susahnyeee... lama juga bo'.. tapi gak papa. namanya juga blajar. tengkyu edjaaa :)

    bang adhi : barusan buka goodreads, masi jauh bang,. bagus2 disitu resensinya. kritis pula. hehe

    ReplyDelete
  6. gak semua anak goodreads yg resensinya bagus kok, ada yg cuma hobi baca dan komentar

    saya juga beberapa kali bikin resensi di sana :)

    ReplyDelete
  7. jadi pengen ikutan bikin resensi disana. minimal kemungkinan orang baca resensiku kan lebih banyak. soalnya memang itu tempatnya resensi.

    hmm,. boleh deh kapan-kapan dicoba. :)

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D