11 July 2011

bukan saatnya berjiwa sosial

Jumat 8 juli 2011, jam setengah empat sore,..

Di terminal Arjosari, sedang memilih-milih bis untuk kunaiki. Pilihannya ada tiga, bis jurusan Osowilangun, yang sangat memudahkan perjalananku karena berhenti di terminal yang sudah cukup dekat dengan Gresik dan ongkosnya tidak terlalu mahal—tapi sayangnya pada saat itu tidak ada; bis jurusan terminal Purabaya kelas ekonomi; serta bis jurusan yang sama dengan kelas bisnis. Ongkosnya? Selisih dua kali lipat!!! Setelah berpikir sesaat, akhirnya aku memilih untuk menaiki bis kelas ekonomi. Selain karena uangku yang sangat terbatas, aku melihat bis ekonomi yang sedang menunggu penumpang saat itu ada ACnya. Ya sudah, naik sajalah.

Memilih duduk dibangku deretan belakang, bersama seorang ibu yang sedang memangku anak laki-lakinya. Hmm,. Bayanganku tentang menikmati perjalanan sambil mendengarkan greyss bernyanyi serta menikmati kue terangbulan yang sudah kubeli dijalan tadi, terasa menyenangkan. Tapi sesaat sebelum bis berangkat, banyak penumpang yang masuk dan berdesak-desakan didekat pintu. Ada beberapa penumpang yang memilih untuk turun dari bis setelah tau tidak ada kursi yang kosong, tapi tidak sedikit juga yang tetap bertahan didalam bis dan memilih untuk berdiri. Dan bis pun mulai melaju. Pelan.

Ternyata tidak berhenti sampai disitu. Di pintu keluar terminal, masih banyak penumpang yang dipersilahkan masuk oleh bapak kondektur, sekalipun situasi didalam sudah sangat penuh sesak. Begitu pula dipertigaan, di depan pasar Singosari, hingga di depan pasar Lawang. Barulah setelah keluar dari Kabupaten Malang, bapak kondektur tersebut menutup pintu dan mulai meminta ongkos dan memberikan karcis pada penumpang.

Sempat terpikir untuk berdiri dan memberikan kursiku pada seorang ibu yang berdiri disebelahku. Kuperhatikan, beberapa kali ibu itu memandangiku, mungkin berharap aku akan memberikan kursiku padanya. Kemudian aku perhatikan disekitarku, dikursi depanku, ada juga laki-laki yang kurang lebih sebaya atau sedikit lebih tua dariku bersama seorang wanita, mungkin kekasihnya, yang sedang asik mendengarkan lagu dari hp. Yah,. Jiwa egoisku pun muncul, kenapa aku harus memberikan kursiku? Sedang mereka tidak. Salahkah aku berpikir seperti itu? Aku jadi ingat beberapa waktu lalu, berkali-kali malah. Saat perjalanan dari Gresik ke Malang di awal minggu, pasti bis juga penuh sesak. Aku sudah lupa berapa kali aku harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, sambil membawa tas ransel yang lumayan berat dan besar. Dan saat itupun tidak ada seorangpun yang menawariku tempat duduk. Lalu kenapa saat ini aku harus memberikan kursiku pada orang lain?


Lagipula, aku juga sedikit merasa kesal dengan orang-orang itu. Mereka semua, yang tidak kebagian tempat duduk, adalah penumpang yang tidak naik dari terminal. Melainkan menunggu dipintu keluar. Salah? Sebenarnya tidak juga. Tapi daripada menunggu di depan pintu keluar bis hingga berdesak-desakan dan berdiri, mengapa tidak menunggu diterminal yang sudah disediakan tempat duduk serta lokasi yang teduh? Minimal jika bis yang ingin dinaiki penuh, kan bisa menunggu bis selanjutnya. Tidak memaksakan seperti itu hingga harus berdiri sepanjang perjalanan.

Selain hal itu, sepanjang jalan aku juga berpikir, kapan aku akan memakan kue terang bulan ini? Perutku sudah lapar. Terakhir aku makan, pagi tadi sekitar jam 9. Sedangkan adik kecil bersama ibunya yang duduk disebelahku, yang awalnya aku berencana untuk membagikan sedikit kueku kepadanya, belakangan aku tau akan turun di Purwosari, suatu daerah yang tidak jauh dari batas Kabupaten Malang. Akhirnya aku putuskan, untuk memakan kueku nanti, setelah adik itu turun. Jadi aku akan duduk ditepi jendela. Mungkin akan jauh lebih nyaman daripada saat ini, saat kepalaku pun serasa didorong-dorong oleh penumpang lain yang berdiri, yang semakin berdusel-dusel saja.
Tak lama setelah itu, ibu disebelahku beserta anaknya mulai berdiri dan bersiap untuk turun. Otomatis aku juga berdiri untuk meberi mereka jalan. Dan saat itu juga, penumpang lain yang berdiri semakin berdesak-desakan mulai mendorong-dorong tubuhku, dan berebut kursi yang kosong. Kakiku sempat terjepit, tapi untung saja aku bisa menyelamatkannya, dan dengan susah payah kembali duduk dikursiku, namun saat ini, aku duduk disebelah jendela. Oia,. Ingin tau pemenang dari pertarungan sengit perebutan kursi tadi? Seorang ibu-ibu tua yang membawa barang sekardus ukuran sedang. Hebat ya,. Tapi wajar saja menurutku, karena ibu-ibu tadi memang sudah berdiri disampingku sejak lama, dan Ia juga mengetahui kalau ibu dan anak disebelahku akan turun di Purwosari.

Bungkusan terang bulan masih erat kugenggam. Ingin rasanya aku makan saat itu juga, tapi kuurungkan. Aku melihat disekitarku, banyak sekali orang yang berdiri. Kalau aku makan sendiri, tidak baik juga. Tapi kalau aku bagi-bagikan, terangbulang ini hanya beberapa potong, tidak akan cukup untuk mereka semua. Akhirnya dengan berat hati, aku buka tasku dan aku letakkan bungkusan kue terang bulan itu didalamnya. Aku mencoba melupakannya.

Jalanan benar-benar macet, entah dari mana semua kendaraan ini berasal. Rasanya seperti kemacetan ini tak akan berujung. Dan lagi-lagi perutku terasa lapar. Oia,. Bagaimana kabar ibu-ibu yang disebelahku? Dia sudah tertidur pulas, dengan menyandarkan kepala di bahuku. Ahh,. Nyamannya. Sayangnya dari dulu aku selalu tidak bisa tidur didalam kendaraan, kecuali jika aku memang sudah sangat lelah dan mengantuk.

“sudah sampai mana?” kurang lebih begitu smsnya Mpus

“masih di porong, macet banget disini…”

“ yaudah kalo gitu…”

“Mpus,. Aku lapar…”

“yaudah, nanti kalau sudah sampai langsung beli makan. Mau makan apa kamu?”

“sebenernya aku tadi beli terangbulan, tapi gak kumakan. Gak tega…”

“gak tega kenapa?”

“disini banyak banget penumpang yang berdiri, kalo aku makan sendiri, gak enak juga. Tapi kalo dibagiin, gak cukup…”

“haduuuuhhh.. bukan saatnya berjiwa sosial untuk saat ini. Udah, makan aja. Dari pada kamu kelaparan…”

“nggak deh, gak papa. Nanti aja yah…”

“lha kamu sampe kelaparan gituu… tapi yaudah wes, terserah kamu aja.”

dan obrolan lewat pesan singkat itu berakhir.

Sepanjang sisa perjalanan itu, aku terus berpikir. Memang ada ya masanya kita harus berjiwa sosial atau tidak? Aku sendiri tidak tau. Dan aku ingin mengakui satu hal, bahwa jiwa sosialku memang tidak terlalu tinggi (atau besar, atau baik, atau apalah istilah yang tepat). Menolong orang boleh, selama kita mampu dan tidak memberatkan. Membatu orang juga boleh, asal memang saat itu kita sedang berlebih. Aku tidak mau menjadi lilin, yang menerangi sekitar, tapi diriku sendiri habis. Tapi disisi lain, aku toh juga membiarkan diriku berlapar-lapar ria pada saat itu. Ahh,. Bingung kan… ujung-ujungnya relatif lagi, tergantung kondisinya, tergantung dalam hal apa, tergantung orangnya siapa, dan tergantung-tergantung yang lainnya.
sekilas 'penampakan didalam bis. maaf kalo rada' burem, ngambilnya pake greyss, sebenarnya bawa sonycam, tapi gak enak juga kalo make itu. takut ketahuan.. hehe..


So, bagaimana dengan kamu???

*terangbulan yang kubeli, akhirnya aku makan di terminal Osowilangun. Sembari menunggu Mpus datang. Sudah dingin dan agak keras, tapi lumayan, cukup bisa mengganjal perut yang sudah lapar sangat.

19 comments:

  1. hmm..dilema ya mbak...kondisinya serba salah...tapi mudah2an ga seterusnya bikin hati kita tergerus egoisme...sekecil apapun :)

    ReplyDelete
  2. *terangbulan yang kubeli, akhirnya aku makan di terminal Osowilangun. Sembari menunggu Mpus datang. Sudah dingin dan agak keras, tapi lumayan, cukup bisa mengganjal perut yang sudah lapar sangat.

    kacian.. -_-"

    ReplyDelete
  3. Om Todi : iyah,. semoga. masih butuh bimbingan banyak ini.. :)

    mas Andy : ku trima dengan senang hati rasa kasiannyaa T.T

    ReplyDelete
  4. lain negara beda budaya, kalau di indo mngkn seorg perempuan berdesakan di bus jg pmndnan umum, namun disudan ktk seorang wanita naik bus dan tdk mendapatkan tmpat duduk, maka para pria kan lngsng brdiri memberi tempat ddk, jd tdk ada want yg berdir didlm bus ..

    ReplyDelete
  5. situasi yang sangat sulit sekali tapi keputusan yang sampean ambil sudah tepat Mbak,,kan tadi sudah memakan sebagian terang bulannya,,memang agak gak enak sih makan didalam angkot yang rame dengan penumpang kelihatannya risih,,,,

    ReplyDelete
  6. setuju banget sama komentarnya om todi, semoga sekecil apapun itu, bisa bikin hati kita lebih baik :)

    ReplyDelete
  7. bakal lebih parah lagi kalo kamu coba naik kereta ekonomi saat musim liburan.. banyak penumpang yang serakah dan tidak peduli dengan penumpang lain yang berdiri.. misal ada bangku yang kosong, saat ditanya: "kosong pak/bu/mas?".. kebanyakan jawabnya, "ada orangnya". padahal cuma buat selonjoran.. ya mungkin memang capek untuk tidak egois.. saya pernah memberikan kursi saya di kereta ekonomi kepada ibu dan anaknya yang akan ke bandung. saat itu saya akan ke jogja.. karena kereta memang benar2 penuh sesak, otomatis saya harus berdiri dari surabaya sampai jogja selama 7 jam.. capek memang, tapi bukan masalah karena saya merasa lebih kuat untuk berdiri daripada ibu dan anaknya tadi..

    ReplyDelete
  8. hihi... bermain dengan perasaan jadi serba salah ya?

    btw, berdesakan tapi masih sempat ambil foto tuh :D

    ReplyDelete
  9. Jadi ingat pengalaman dulu, naik bis ama teman-teman, tapi yang dapat bangku cuma 2 orang termasuk diriku.. tiba-tiba salah satu temanku yang berdiri menyentil telingaku dan berkata, "mana praktek pelajaran PPKN kamu".. wkwkwkwkw... bukannya saya marah malah langsung ketawa ngakak ama penumpang2 lainnya... dan akhirnya aku pun berdiri dan memberikan tempat duduk itu pada penumpang lain yang lebih tua dariku sambil ngakak ke arah teman-teman lainnya yang berdiri...

    kembali ke postingannya, kalo nunggu orang lain mau berjiwa sosial terus kita baru mau berjiwa sosial juga, maka kapan kita mau memulainya??... Btw, terang bulannya kelihatannya enak... :D

    ReplyDelete
  10. daku juga pernah ngalami kayak gini,jadi gimana gitu,mau makan salah gak makan salah,hadohh,salam love,peace and gaul,

    ReplyDelete
  11. "kadang egois itu perlu"
    someone told me like that...
    dont be always look around you before you had a great place...
    firstly look into yours....

    ReplyDelete
  12. memang repot naik kendaraan umum apalagi kelas ekonomi..tenggang rasanya harus besar...:)
    yah begitulah kehidupan, bukankah kita memang harus selalu berbagi tempat dengan mereka yg lebih sigap,..:)
    salam kenal mbak,..

    ReplyDelete
  13. adittya: segitunya apanya ya??? *bingung

    kak tya: iya, mungkin memang disini terlalu 'emansipasi wanita' kali ya,. hehe :)

    sofyan: tapi tetap saja masih tidak berhenti sampai disitu berpilkirnya kang Sofyan,. karena rasanya masih ada yg kurang

    pungky: amiiinnn,.. semoga bisa lebih baik lagi kedepannya :)

    tri setyo: pernah kok mas, dan pernah juga gak dapet kursi sama sekali, pas perjalanan dari surabaya ke banyuwangi. benar2 luar biasa :)

    ReplyDelete
  14. bang Adhi: serba salah banget emang. dan gak enaaakkk... hehe *jiwa fotografi gak pernah ilang walopun keadaan kepepet :p

    sam: iya,. emang apa yang aku lakukan diatas menurutku bukanlah yang terbaik yang bisa kulakukan. trimakaisih sudah mengingatkan Sam, semoga aku bisa memperbaikinya :)

    saryadinilah: hehehe.. kita samaan kalo gitu yahh,. salam jugaaa :D

    friash: ahh,. friash, kangen kamu *lhoh?? ya,. ya,. ya,. i'll remember that :)

    kenia: belakangan aku jadi memutuskan, mending naik patas deh daripada kayak gitu jadinya. salam kenal juga, trimakasih atas komennya :)

    ReplyDelete
  15. Wew, masa Preman Terminal ga berani jepret pake sonyCam?? *Kabuuurr, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sikonnya tidak memungkinkan kakaaaakkk.. :(
      Preman terminal??? Hmmmmm... X-(

      Delete

Speak Up...!!! :D