18 July 2011

Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 1)

selamat hari senin semuanyaaaa^^

akhir minggu kemarin kemana aja? ahh,. aku hanya pulang ke Gresik saja. ada acara soalnya. kakak, saudara jauh mengadakan prosesi lamaran. hmmm,. semakin kesepian saja diriku. kakak kakak yang biasanya menemaniku bermain, mengobrol, sekedar jalan-jalan di alun-alun atau membuat sate bersama pada saat hari raya Idul Adha, sekarang mulai sibuk sendiri-sendiri. sibuk mengurus suami baru, rumah baru, keluarga baru, dan sebagainya. jadi ingin cepat punya suami jugak.. *lhoh??? oke, lupakan!!!

oia,. sekedar memberitahukan saja. pendakian ke Gunung Agung ini merupakan cerita lama, lamaaaaa sekali, jauh sebelum aku punya si PopCorn ini. jadinya kenangan tentang kegiatan tersebut *juga kegiatan-kegiatan yang lain* hanya terekam di otakku. namun setelah punya PopCorn, serta mencatat semua perjalanan-perjalanan yang kulakukan selama ini, jadi pengen juga mencatat perjalanan-perjalanan sebelumnya disini. minimal, untuk membantu mengingat-ingat, kalau memang tiba-tiba aku terserang demensia dini *na'udzubillah...*. hmmm,. sebenarnya tujuan utamanya bukan itu sih, tapi ya memang ingin berbagi saja, berbagi pengalaman, berbagi cerita, syukur-syukur kalau postingan ini bisa memberikan manfaat untuk pembaca. ya kan??? amiiiiiin,. insyaAllah...

sebelumnya aku mau minta maaf juga, mungkin catatan perjalanan kali ini tidak selengkap dan sedetail catatan perjalanan sebelumnya. maklum, kejadiannya sudah hampir tiga tahun yang lalu, dan aku sama sekali tidak punya catatan tentang itu. hanya dibantu oleh foto-foto yang ada di Leptong, sambil mengingat-ingat momennya dan tanggalnya,. dan, ini dia....

perjalanan waktu itu, dimulai pada hari Sabtu, 27 Desember 2008
perjalanan dimulai dari Malang, dan merupakan perjalanan pertamaku menjadi 'Ranger Pink' sendiri *Pink disini melambangkan cewek, jadi maksudnya cewek sendiri gitu*. sekitar jam tiga sore, kami ber enam (aku, Mas Tob, Koko, Pandu, Mas Abib, dan Gusti) berangkat dari kosnya Pandu, menuju ke stasiun kota baru Malang. dari stasiun tersebut, kami naik kereta Ekonomi jurusan Banyuwangi. tau kan kereta Ekonominya Indonesia seperti apa,.. tidak ada pembagian tempat duduk yang jelas. siapa cepat dia dapat. yang kuat berkuasa, yang lemah terlupa. tapi alhamdulillah, saat itu kami dapat tempat yang sangat nyaman. duduk dikursi yang sederet isi tiga orang, jadi tepatlah kita berhadap-hadapan sejumlah enam orang. aku masih ingat bagaimana pandangan orang-orang saat melihatku 'berbeda' sendiri dengan yang lain. mau dibilang cewek nakal, tapi berjilbab. dibilang cewek bener-bener, tapi temennya cowok semua. mana tampangnya kayak preman pasar pula. ahh,. sebodo amaaat,.. nikmati saja perjalanan yang masih berjam-jam itu.
sebelah kiri Gusti, tengah Pandu, kanan mas Abib

sebelah kiri aku, tengah Mas Tob, kanan Koko
oia,. kalian pernah baca buku 5 cm karya Donny Dhirgantoro? sebuah buku yang mengisahkan perjalanan 5 orang sahabat ditambah satu personil baru, jadi total 6 orang (Genta, Arial, Zafran, Ian, Riani, dan Dinda) menuju ke Mahameru, tanah tertinggi pulau jawa. disalah satu bagian buku itu, dikisahkan 6 orang anggota rombongan tersebut naik kereta ekonomi Matarmaja dengan tujuan Jakarta-Malang. nahh,. kami berenam, entah kenapa pada saat itu mengait-ngaitkan perjalanan kami dengan perjalanan mereka. perjalanan yang hampir sama, dengan misi yang sama yaitu mendaki gunung. bedanya, mereka ada dua orang cewek, sedangkan saat itu pada rombongan kami, hanya aku seorang yang cewek. tujuannya berbeda pula, mereka ingin menaklukkan tanah tertinggi pulau Jawa, sedangkan kami bermaksud untuk menapakkan kaki di tanah tertinggi pulau Bali. tapi sama-sama naik kereta, sama-sama berenam, sama-sama mau naik gunung, dan sama sama yang lainnya. ahh,. ada-ada saja memang. sampai-sampai, aku bermaksud mentransformasikan salah satu teman laki-lakiku untuk jadi cewek, biar lebih sama lagi dengan rombongan Genta dan kawan-kawan. sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang mirip cewek. hahahaha..

sampai di Banyuwangi, sekitar jam 9 malam. kami turun di stasiun trakhir. aku lupa nama stasiunnya. tapi yang pasti, stasiun tersebut langsung berhadapan dengan pelabuhan Ketapang. ada yang tau nama stasiun tersebut tidak??? apa ya,. stasiun Ketapang rasanya. semoga benar *mulai sesat*.

sampai di Banyuwangi, sudah malam, gelap, dan sepi. jalanan cukup lengang untuk ukuran malam minggu. dan kami memutuskan untuk singgah di warung makan terlebih dahulu. setelah itu, kami mulai berjalan ke arah pelabuhan Ketapang. tapi tidak langsung masuk, karena sebelum sampai di lokasi, kami menemukan warung kopi. sudah tau kan kalo aku dan teman-teman sukak nongrong diwarung kopi? kalo belum tau, berkunjung disini dulu yahhh *promosi gak pernah lupa :p*. setelah itu, ya kami minum kopi dulu, maen-maen dulu, bahkan aku ingat diantara teman-temanku ada yang main pijit-pijitan *dipinggir jalan*. ngobrol-ngobrol, dan lain sebagainya.

aku lupa tepatnya jam berapa, tapi seingatku sudah lewat jam dua belas malam, kami memutuskan untuk naik kapal feri. pertama kali naik feri tanpa memakai kendaraan, membuat kami bingung harus berjalan kearah mana, karena jalur untuk kendaraan dan pejalan kaki berbeda jauh. sempat salah masuk feri jugak, karena kami kepedean dan mengira kapal feri yang paling dekatlah yang akan mengantarkan kami menyebrang. setelah diteriaki petugas dari jauh, kami baru sadar kalau kami salah jalan. jadinya harus berjalan memutar lagi. tau kan seberapa jauh jembatan di dermaga Ketapang? lumayan lelah juga kaki ini, ditambah dengan beban di punggung yang tidak bisa dikatakan 'lumayan ringan'.

setelah menghabiskan waktu selama dua jam di kapal, akhirnya sampai juga kami di Bali. setelah keluar dari kapal dengan selamat, kami langsung menuju ke terminal kecil dekat pelabuhan tersebut, kemudian naik bis mini yang akan mengantarkan kami hingga ke *?????* suatu terminal kecil yang berada di ketinggian tertentu pulau Bali. aku benar-benar lupa nama terminalnya. pastinya bukan terminal Ubung. disana sepi, tidak banyak angkot yang melewati terminal tersebut. setelah bertanya tentang penduduk sekitar, kami akhirnya memutuskan untuk menyewa angkot dan melakukan perjalanan dari terminal tersebut menuju pura Besakih, salah satu 'gerbang masuk' menuju puncak gunung Agung.
pura Besakih, tampak depan
pura Besakih merupakan pura terbesar di pulau Bali. katanya, hanya orang-orang dengan keluarga 'ternama' yang boleh mendirikan pura di kompleks pura tersebut. untuk pendakian ke gunung Agung sendiri, selain melalui jalur ini, ada juga dua jalur yang lain. kami memutuskan untuk melalui jalur Pura Besakih juga bukan tanpa alasan. setelah mencari informasi di interenet (jauh-jauh hari saat kami merencanakan perjalanan tersebut), jalur ini merupakan jalur yang paling mudah, walaupun memakan waktu cukup banyak dibandingkan dengan jalur yang lain. selain itu, apabila melalui jalur ini, pendaki akan bisa melalui ketiga puncak di gunung Agung, tidak seperti jalur yang lain yang akan langsung menuju ke puncak ketiga, puncak tertinggi gunung ini (3.142 mdpl). oia, sedikit informasi lagi. pendakian ke gunung Agung akan ditutup apabila pada pura Besakih ada upacara keagamaan atau sejenisnya. jadi, untuk kalian yang ingin merencanakan kesana, sebelumnya perlu memastikan dulu apakah pada saat kalian disana tidak ada upacara keagamaan. sangat disayangkan apabila sudah sampai di kaki gunung namun tidak jadi naik karena ada kendala tersebut. sedangkan untuk petugas perijinannya pun juga sangat disiplin. masalahnya, ini berkaitan dengan adat istiadat daerah setempat. tau sendiri kan kalau di Bali, unsur keagamaannya sangat kuat, jadi jangan sekali-sekali melanggar.

setelah sampai di pura Besakih, rombongan kami bertemu dengan satu orang pendaki, yang juga berencana untuk mendaki gunung Agung. satu orang??? iya, satu orang saja. namanya Bang Ogep *setidaknya aku memanggilnya begitu, tapi kalo yang lain gak pake 'Bang'*, asalnya dari Bekasi. setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, akhirnya kami memutuskan untuk bergabung menjadi satu rombongan.

proses perijinan bukan merupakan perkara yang rumit. kita hanya perlu membayar, menunjukkan KTP serta mencatat identitas pribadi seperti nama, alamat, umur, dan lain lain di buku besar, lalu meninggalkan semua barang-barang yang berharga *seperti cincin, kalung, dll* yang dikhawatirkan akan hilang di perjalanan. beruntungnya lagi, pada saat itu ada juga seorang yang lain yang akan naik ke gunung Agung, tapi bukan untuk mendaki dan tujuannya bukan untuk ke puncak, melainkan ke tempat lain. seperti mencari pesugihan atau semacamnya, aku tidak tahu pasti. dan orang tersebut juga berangkat bersamaan dengan rombongan kami, serta ditemani salah satu tour Guide disana, yakni Beli Putu.

sekitar jam satu siang, kami memutuskan untuk memulai pendakian. awalnya, kami menyusuri sisi sebelah kanan pura Besakih berupa undak-undakan tangga yang lumayan tinggi. setelah itu berbelok kekanan, dan mulai meninggalkan bagian belakang pura. jalanan masih berupa paving. dan sesekali, kami melihat tempat peristirahatan dan beberapa ekor anjing. setelah setengah jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Pura Batas. pura ini merupakan pura terakhir yang akan kami jumpai. disini pula, merupakan tempat untuk 'meminta ijin' kepada 'pemilik rumah' yang akan kami datangi. oia, ada yang terlupa. sebelum meninggalkan pura Besakih tadi, Beli Putu menyarankan kepada kami untuk membeli bunga untuk sesembahan. belakangan, kami baru tau kalau bunga tersebut digunakan untuk prosesi 'perijinan' di pura Batas itu.
pura Batas

jalur pendakian *awalnya*
yang memimpin prosesi tersebut adalah orang yang sebelumnya sudah ada di pura itu. aku, Pandu, mas Tob, mas Abib, Gusti, dan bang Ogep duduk berlutut sejajar dihalaman pura tersebut, serta mengikuti instruksi dari pemimpin prosesi. Koko tidak ikut meminta ijin, karena dia bertugas menjaga carrier kami di luar. aku masih ingat beberapa prosesi yang dilakukan, mereka menyipratkan air ke masing-masing kepala kami, lalu menempelkan beras ke kening, dan lain sebagainya. kami juga disuruh mengambil bunga dengan tiga warna, kemudian dilanjutkan dengan lima warna, dan sebagainya. lalu kami juga disuruh meminta ijin secara langsung kepada 'pemilik rumah' *ijinnya dalam hati, dan beberapa kali kuikuti dengan kalimat syahadat*. dosa kah aku??? entahlah, pastinya tidak bermaksud untuk syirik. aku dan teman-teman hanya berusaha untuk menghormati tuan rumah dan adat istiadat yang sudah ada.

selesai prosesi, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu di halaman depan pura tersebut. nasi bungkus dengan menu ayam betutu yang sudah kami beli dibawah sebelumnya. selamat makaaaaaaaaannn...

kami dapat kabar yang kurang menyenangkan. ternyata Beli Putu hanya bisa mengantarkan kami hingga pura Batas. dan selanjutnya, kami harus melakukan perjalanan sendiri. perjalanan yang tak satupun dari kami pernah melakukannya. hanya berdasarkan informasi yang kami baca melalui media internet. aku ingat saat itu, beli Putu menunjuk tiga pohon besar yang terlihat dari kejauahan. kami harus menuju pohon tersebut. jika sudah sampai kesana, maka tidak akan jauh dari pos Batu Tulis, yang merupakan satu-satunya pos peristirahatan yang ada di sepanjang jalur pendakian tersebut. Beli Putu menyemangati kami, dan mengatakan kalau kami pasti bisa sampai di puncak. dan beliau juga memperkirakan, kami akan sampai di pos Batu Tulis setelah menghabiskan waktu lima hingga enam jam. mendengar itu semua, kami mulai bersemangat. setelah Beli Putu menutup wejangannya, kami segera berangkat. perjalanan dimulai. perjalanan yang bahkan kami tidak tau kapan akhirnya. satu yang aku ingat, kata Beli Putu, jalur untuk menuju ke puncak hanya ada satu. jadi kemungkinan kami untuk tersesat tidak terlalu besar. ikuti saja jalannya, dan jangan lupa untuk menjaga kesopanan, tingkah laku, serta ucapan disepanjang perjalanan.

hujan, lintah. tanah basah, menemani sepanjang perjalanan kami. saat itu sekitar sore hari, mungkin jam 4, kami bertemu dengan seorang guide yang berpakaian seperti beli Putu, juga seorang turis luar. dalam pertemuan yang singkat itu, kami saling menyapa, dan bertanya tentang keberadaan pos Batu Tulis. kata guidenya, sudah dekat. mungkin perjalanan sekitar tiga jam lagi. mendengar hal tersebut, semangat kami kembali mencuat.




Hari sudah mulai gelap. Tapi samar-samar kami masih bisa melihat pohon yang ditunjuk oleh beli Putu sebagai patokan kami. Saat kami merasa *hanya mengira-ngira* sudah datang waktu maghrib, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Biasanya sih kalo di gunung, suara apapun termasuk adzan bisa terdengar dengan jelas. Tapi berhubung saat itu kami sedang berada di Bali, jadi kamipun tidak berharap akan mendengar suara adzan sebagai tanda sudah masuk waktu maghrib. Aku sempat beristirahat dan merebahkan diri. Yang lain, sibuk mengeluarkan kompor dan nesting untuk sekedar membuat minuman hangat. Suhu mulai turun, ditambah dengan sisa-sisa hujan tadi sore, kami akhirnya memutuskan untuk memakai jaket.


Setelah melanjutkan perjalanan, kami bertemu dengan persimpangan. Satu-satunya persimpangan besar yang kami temui sepanjang perjalanan tadi. Namun persimpangan tersebut tidak berhasil membuat kami bingung, karena jelas sekali terpampang disana penunjuk jalan yang sangat membantu. ‘Pura Giri Kusuma’ yang dituliskan dengan aksara jawa serta tanda panah kekanan mengisi papan kecil tepat di persimpangan tersebut. Untungnya aku dan beberapa teman yang lain bisa membaca sedikit-demi sedikit aksara jawa tersebut. Oia, berdasarkan informasi, di pura Giri Kusuma inilah satu-satunya sumber air yang dapat ditemui sepanjang perjalanan ke puncak gunung Agung jika melalui jalur Pura Besakih. Namun untuk mencapai Pura Giri Kusuma tersebut, kita harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Aku dan teman-teman tidak tertarik dengan adanya sumber air disana. Selain karena kami tidak tau jalannya, kami juga sejak awal tidak berencana untuk kesana dan kami sudah mempersiapkan air untuk bekal perjalanan kami pulang-pergi.

Waktu menunjukkan jam sembilan, dan belum ada tanda-tanda pos Batu Tulis yang disebut-sebut guide yang kami temui dijalan tadi. Permasalahannya adalah, kami bertujuh pun tidak ada yang tau bagaimana bentuk dari pos tersebut. Kami hanya mengira-ngira, bahwa pos Batu Tulis dicirikan dengan adanya sebuah (atau beberapa) batu yang ada tulisannya. Tidak tau juga bentuk tulisannya seperti apa. Pandu dan Bang Ogep, bertugas untuk mencari jalan dan berjalan agak jauh didepan rombongan kedua, yakni aku, Gusti, mas Abib, Koko, dan mas Tob. Pandu dan bang Ogep pula yang selalu menyemangati kami untuk terus berjalan. Memang, diantara kami berenam (tanpa bang Ogep), Pandu yang sering menjadi leader, walaupun usianya setara denganku dan lebih muda daripada mas Tob, Gusti, dan mas Abib. Aku sendiri juga tidak tau kenapa, tapi menurutku, dia memang layak dijadikan pemimpin, dan dia juga pernah menjabat sebagai ketua umum Majapala (organisasi pecinta alam SMA Negeri 1 Gresik, wadah yang mempertemukan aku dengan dunai ke-pecinta alam-an).
nih gayanya si Pandu pas jadi leader. keren gak??? :p
Saat itu, seingatku jam 11 malam, jadi total sudah hampir 10 jam kami berjalan, namun deretan pohon disekeliling kami tak juga merenggang. aku sudah tidak mampu juga untuk menentukan dimana ketiga pohon tinggi yang ditunjuk beli Putu pada saat dibawah tadi. Semuanya sekarang sama. Gelap, tinggi, basah, dan dingin. Keterbatasan senter yang kami bawa membuat kami harus berjalan bergantian. Saat itu, aku berpasangan dengan Gusti. Dia berada didepanku, dan aku mengikuti setiap langkah yang dia ambil. Apabila ada trek yang agak sulit untuk dilalui, dia akan melaluinya lebih dulu dan menyuruhku untuk berhenti. Jika dia sudah sampai didepan, maka dia akan berhenti dan menerangi jalur yang sulit tadi. Begitu seterusnya berulang-ulang. Dia juga tidak pernah lupa mengingatkanku untuk berhati-hati, jika kita akan melalui jalan sempit dengan jurang disebelah kanan atau kiri. “Awas Tal,..”, aku ingat itu kalimat yang paling sering dia ucapkan sepanjang perjalanan itu. ‘Tal’ disini maksudnya ‘Bantal’. Dan itu memang namaku, nama panggilan dari teman-teman anggota Majapala. Istilahnya adalah nama lapangan. Hampir semua anggota memiliki nama lapangan, tapi tidak semuanya sering digunakan. Kalau untukku, teman-teman di Majapala lebih mengenalku dengan nama ‘Bantal’ daripada ‘Arma’. Lalu kenapa aku dipanggil Bantal? Kapan-kapan saja aku ceritakan yah… 

Jalan didepanku saat itu sangat sulit. Ada batu berukuran besar dan lebar dengan kemiringan lebih dari 45 derajat yang harus kulalui. Tidak ada pijakan disekitarnya, yang akhirnya berhasil memaksaku untuk menggunakan tanganku untuk meraih pegangan dibagian atas. Beberapa kali kupaksakan kakiku untuk memijak, namun gagal. Sampai pada akhirnya aku berhasil bertumpu pada kaki kananku, dan mengangkat tubuhku keatas. Tapi tiba-tiba kakiku terpeleset. Pegangan tanganku yang tidak terlalu kuat terlepas juga. Dan akhirnya aku terjatuh dengan tubuh menghadap ke tanah. Aku rasakan tanganku perih, dan aku sedikit mengeluh atas kejadian itu. Sambil menghela napas, aku mencoba bangkit. Tapi kakiku gemetar, dan rasanya sudah tidak sanggup untuk menopang tubuhku. Mas Tob yang ada dibelakangku langsung membantuku untuk berdiri. Dan Gusti, yang sebelumnya sudah berada diatas dan mulai berjalan segera kembali dan membantuku naik. Saat itu juga, aku dengar mas Tob berbicara, aku lupa bagaimana detail yang diucapkannya. Tapi seingatku, dia bilang kalau kita tidak boleh melanjutkan perjalanan ini. Kita harus istirahat. Fisik kita sudah terlalu lelah untuk terus berjalan. Tidak perlu mencari tempat yang datar, yang penting bisa digunakan untuk tidur. Dan setelah semua bisa melewati batu besar tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk berhenti. Pandu dan bang Ogep sudah berada jauh didepan. Sayang jika mereka harus kembali, tapi kamipun tidak sanggup untuk mengejar mereka. Akhirnya, dengan sedikit berteriak-teriak kami menyuruh Pandu dan bang Ogep untuk berhenti dan beristirahat, juga memberitahukan kalau kami akan menginap disitu. Ditempat itu. Saat itu juga.

Tidak ada masak-memasak. Tidak ada tenda. Hanya beberapa sleeping bag dan ponco yang digelar seadanya, di jalan setapak yang sempit yang kanan-kirinya adalah jurang. Malam itu kami hanya minum minuman hangat dan makan beberapa kue kecil yang kami bawa. Setelah itu, kami memutuskan untuk tidur. Aku tidak tau bagaiman rupa teman-temanku yang lain. aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikan mereka. Yang aku tau, aku tidur disebelah Gusti, hanya dipisahkan oleh sleeping bag dan ponco. Tidur malam itu, aku tidak berani terlalu banyak bergerak, takut akan membuat tubuhku tergelincir kedalam jurang, atau justru melakukan hal tersebut pada Gusti. Sangat bersyukur malam itu, aku bisa tidur dan merebahkan diri. Aku sempat berpikir, seandainya aku tidak jatuh tadi, mungkin saat ini aku dan teman-teman masih saja berjalan, hingga tak tau kapan akan berakhir. Belakangan, aku baru tau. Sebenarnya Pandu dan bang Ogep juga sangat lelah. Tapi mereka diam, mereka tidak berani menyampaikan hal tersebut. Tapi wajarlah menurutku. Akupun jika menjadi mereka akan berbuat yang sama. Karena pada saat itu mereka adalah leadernya. Jika seorang leader mengatakan kalau dia sudah lelah, lantas bagaimana dengan anggota yang lain? bukannya memberi semangat, malah menjatuhkan mental. Dan ya, memang mental itu jauh lebih penting, untuk saat itu.

Senin, 29 Desember 2008
Sudah mulai cerah, dan sudah berganti hari. Tidurku? Aku lupa, nyenyak tidak ya? Yang pasti, saat itu rasanya aku menemukan semangat baru. Koko sudah bangun lebih dulu, dan dia juga sepertinya sudah bugar. Dia mulai membangunkan kami dan menyuruh kami berjalan ke tempat dimana Pandu dan bang Ogep semalam tidur. Katanya disana tempatnya lebih luas dan lapang daripada tempat kita beristirahat saat ini.
pemandangan pagi ituuuuu ^^
Setelah semuanya berpindah tempat, termasuk tas-tas kami yang masih berserakan, kami akhirnya mulai memasak. Menu sarapan kami saat itu adalah nasi soto ayam. Ayamnya sudah beli kemarin waktu dibawah, sedangkan nasi dan kuah sotonya kami masak sendiri. Eh,... kenapa? Heran dengan menu makan pagi kami? Kalau kami sih sudah biasa. Bahkan pernah makan yang lebih kompleks lagi daripada soto. Kami, terutama mas Tob, rada’ anti dengan makanan yang instan (baca: mie instan). Yah, walaupun setiap kali naik gunung, menu itu tidak akan terlupa, tapi pasti tidak hanya sekedar mie instan saja. Entah ditambah telur, nasi, sayur, atau dibuat martabak mie. Kami punya prinsip, kalau naik gunung itu gak enak, jadi jangan sampai makannya gak enak jugak. Oia, ada info lagi nih teman-teman. Di gunung Agung, ada peraturan juga tentang makanan. Para pendaki dilarang keras untuk membawa makanan berbahan dasar Sapi. Entah daging sapi utuh, atau masakan dari daging sapi, juga termasuk olahannya (misalnya bakso atau sosis). GAK BOLEH!!!. Karena sapi termasuk salah satu hewan yang dimulyakan di Bali. Yah,. Menurut kami gak masalah juga sih, gak ada sapi, ayam pun jadi. Gak ada sapi, telurpun juga bisa J.

Bang Ogep sempat bingung juga melihat kami memasak soto. Dia bilang dengan polosnya, “baru ini gua makan soto di gunung…” hehe… tapi kalo menurutku, hal itu masih biasa loh teman-teman. Pendakian yang lain pernah lebih heboh daripada yang ini. Temanku sampai membawa cobek dan ulek-ulek, khusus untuk menu ‘tempe penyet’ yang sudah disiapkan. Tidak cukup dengan nesting yang ada, salah seorang teman juga membawa panci Teflon kecil, khusus untu nyeplok telor, biar jadinya bagus katanya. Hahaha.. luar biasa.

Pagi itu, sewaktu kami makan, tiba-tiba ada monyet muncul. Monyetnya warna abu-abu. Gak tau dari mana datangnya. Tiba-tiba uda ada aja. Sebenernya aku takut sama monyet ini, tapi berhubung gak berani macem-macem juga, akhirnya kami juga gak ngusir tuh monyet. Toh sebenernya monyetnya juga gak ganggu. Tapi ya emang sesekali ngambilin makanan kami sih, terutama yang instan-instan kayak makanan ringan sama indomie. Hehe..


Hmmm,. Gak nyangka nulis separuh perjalanan aja udah segini panjang. Dengan terpaksa aku buat kepingan perjalanan pendakian Gunung Agung ini menjadi dua part (atau lebih, aku tidak tau, lihat saja nanti…). Ingin tau apakah ketujuh kurcaci ini bisa menapakkan kaki di tanah tertinggi pulau Bali? Ingin tau bagaimana eksotisme pulau Dewata dari ketinggian sekian ribu meter? Ingin tau rupa Batu Tulis yang sebenarnya? Nantikan part selanjutnya…

*bermimpilah, karena hanya dengan bermimpi, segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. tapi hidup tanpa mimpi, bukan hidup namanya. so,.. gunakan sisa hidupmu, untuk wujudkan mimpimu...* 

Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 2)
Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 3)

23 comments:

  1. lengkap amat ya perjalanannya.. hehe
    nice posting!

    ReplyDelete
  2. terpesona dengan semangat 2008-nya,..dapet ilmu juga nih,..makan enak itu kudu di tempat yg ga enak,...ide yg baguus,..
    ditunggu kelanjutannya,..:)

    ReplyDelete
  3. Mengenang perjalanan itu bagusnya emang ditulis yaaa... suatu saat kita butuh mengingat detailnya, kita tinggal membacanya... Tapi, catatan perjalanan ini mendetail banget sampai ada part-2 segala macam..:D Ditunggu part-2 nya yaa..:)

    Diriku masih buta tentang gunung agung, karena belum ke sana, jadi g bisa berceloteh banyak. Yang saya tahu, gunung agung itu sarat akan mistisnya, sama halnya dengan gunung lawu...Banyak ketemu hal-hal aneh ga di sana, selain monyet maling makanan itu...:D

    ReplyDelete
  4. chilfia: lengkap?? aku malah merasa banyak yang terlupa. soalnya sudah lumayan lama sih kejadiannya.hehe

    kenia: he'em. itu ilmu dari kakak kakak senior di Majapala. oia, seniorku yang cowok2 banyak yg jago masak lohh,. salah satunya ya Mas Tob ituu :)

    sam: maunya gak terlalu detail, jadi lebih fokus ke alur perjalanannya aja. tapi gak tau kenapa waktu ngetik gak bisa berhenti rasanya. hal mistis?? hmmm,.. tunggu part selanjutnya aja yah??? :D

    ReplyDelete
  5. keren banget :O #sampe terharu
    mupeng juga pengen naek gunung :O tapi kebayang di gunung pasti banyak lintah, cacing, kaki seribu dan hewan melata lainnya wah berabe kan kalau pingsan :D
    nice post, ditunggu lanjutannya ^^

    ReplyDelete
  6. saya juga termasuk yg suka backpacker.. dan saya juga berjilbab.. silahkan saja jika orang mengatakan saya nakal atau bagaimana.. tokh yg tau kita sama Alloh kan?! :p semangat!!!

    ReplyDelete
  7. fiction world: gak semua gunung kayak gitu kok. yang ke gunung agung ini mungkin pas musim hujan, jadinya banyak lintah. tapi seingatku, pendakian yang lain alhamdulillah gak pernah ketemu dengan ular, atau hewan berbahaya lainnya. paling ya ulat bulu :)

    merliza: ahh,. stuju banget sama kamu. smangat jugaaakk :)

    ReplyDelete
  8. Walaupun kisah lama namun sangat menarik karena ditulis secara runtut,apik dengan dukungan gambar yang apik.

    Tahun 1960an, saya masih SD, kampung saya di Jombang tiba-tib gelap. Baru jam 10 tetapi keadaannya seperti sudah mau Isya. Mbah bilang " Ini mau kiamat ". Ternyata itu adalah akibat G.Agung meletus nduk.

    Bpak saya sempat mengambil abu yang ada di halaman rumah dan disimpannya untuk kenang-kenangan. maklum itulah poertama kali kampung saya kebagian abu dari gunung yang meletus, padahal Bali-Jombang cukup jauh ya.

    Apik blogmu.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  9. jadi pengen naik gunung juga nih... soalnya belum pernah :D

    ReplyDelete
  10. hwaaaa.. pak dhe Cholik main kesiniii,. terharu aku >,<
    makasih atas pujiannya pak dhe,. tapi postingan ini masih kurang detail menurutku, masih jauh dari bagus. kalo gunung meletus memang gak bisa diprediksi bakal sejauh apa dampaknya. mungkin memang waktu itu letusannya sangat besar..

    salam hangat dari Gresik jugaaak :)

    bang Adhi: sayang banget kalo belum pernah. dicoba donkkk.. di sumatra bukannya banyak gunung yah bang???

    ReplyDelete
  11. wow, detail bgt perjalanannya!
    aq biasa kalo ga ke gunung agung jalan ke kintamani

    Nice posting btw, salam knal, saya org bali lho!
    coba dah kenalan lbih dlu, mungkin bsa disewa jdi tour guide, hahaha

    ReplyDelete
  12. buku 5 senti? sudah pernah baca. bagus banget tuh...btw, asik juga ya mendaki gunung

    ReplyDelete
  13. buku 5 senti? sudah pernah baca. bagus banget tuh...btw, asik juga ya mendaki gunung

    ReplyDelete
  14. waw mantep yah berkerudung sendiri, naek gunung bareng cowo2...

    salam kenal..
    gua tau blog ini dari Kenni >:)

    ReplyDelete
  15. Belum pernah euy naik gunung kaya gitu. jadi mupeng liatnya. :))

    ReplyDelete
  16. hai devlin,.kenalan deee kalo gituu *jabat tangan*. sipp,. bisa deeeh kapan2 jadi tour guide :)

    sang cerpenis: iya tuh. beneran deh asiiikk banget bacanya. sampe gak pernah bosen :)

    lain: iyaaa.. trimakasih yaa sudah main2 kesini :)

    shudai ajlani: kalo pengen ya naik juga dooonk... :P

    akmal: hehe.. gak maksud bikin mupenk,. cuma menghasut *lhoh* :D

    ReplyDelete
  17. kayaknya menyenangkan yaah perjalanannyan. hehehhehe


    btw salam kenal yah .. kunjungan pertama nih... :)

    ReplyDelete
  18. bukan kayaknya. tapi saaaaaangatt menyenangkan. ahhh,. ini nuel bukan? aku sering lihat kamu komen di blognya keven,. akhirnya main kesini jugak. salam kenal kembali.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. walah bingung nyari tempat ngetik komen..hahahahaasemm.....lha di artikel2 mana 2 dah full......kesini akhirnya..ke Agung...sek asekk..ilang deh planning nulis apa

      Delete
    2. Hahaha.. mo komen dimana saja boleh kok Mas Adit :D
      Selamat menikmatii jalan-jalan di gunung agungnya yahhhh :D

      Delete
  19. Haahaha.... ini Monyetnya ya?? Eh itu, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,. itu... *sambil nunjuk kamu* Ehh =))

      Delete

Speak Up...!!! :D