30 July 2011

Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 2)

sebelum membaca bagian yang ini, ada baiknya teman-teman membaca part 1-nya dulu yahh.. silahkan klik DISINI

Senin, 29 Desember 2008
Setelah selesai sarapan, kami segera berkemas. Agar bisa segera sampai di pos batu tulis, dan juga puncak pastinya. Walaupun saat itu kami tetap tidak tau, masih seberapa jauh lagi kami harus berjalan.
Perjalanan kala itu, formasinya tidak terlalu banyak berubah, Pandu dan Bang Ogep didepan, disusul Gusti, aku, Mas Abib, Mas Tob, dan yang terakhir Koko. Perjalanan pagi itu, pastinya jauh lebih mudah dan cepat, karena kami tidak perlu bergantian untuk menggunakan senter. Ditambah sebelumnya sudah mengisi ‘bahan bakar’, jadilah kami semakin bersemangat.

Jalurnya masih tetap sama, batu-batu kecil, tanah, lereng-lereng mulai yang agak landai hingga terjal dan curam. Oia, aku jadi ingat, penduduk sekitar gunung Agung ini, sangat membanggakan keberadaan gunung yang satu ini lohh *ya iyalaahh, masak gunung sendiri dijelek-jelekin???*. katanya, gunung agung ini jalurnya menyerupai beberapa gunung yang ada di Pulau Jawa. Dan ternyata memang benar, setauku, sepanjang perjalanan hari sebelumnya hingga pagi itu, kami sudah melalui berbagai macam medan, yang mirip dengan beberapa gunung di Jawa. Sebut saja bukit berpasir Mahameru, tebing terjal gunung Penanggungan, serta sederet tanah basah super licin seperti di perjalanan menuju ke pos lembah kidang di gunung Arjuno. Kata bang Ogep juga, trek di gunung Agung tersebut mirip dengan gunung Ciremai yang ada di Jawa Barat. Aku sih gak ngerti gunung Ciremai itu seperti apa, belum pernah kesana soalnya. Tapi katanya kurang lebih sama, dengan hutan yang masih sangat alami, serta jalur yang selalu menanjak. Yapp,. Sepanjang perjalanan aku gak menemukan adanya jalur yang landai, apalagi menurun. Sama sekali gak ada.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya kami sampai di suatu tempat yang cukup luas, dengan pohon-pohon yang sudah sedikit. Diujung jalur tersebut, ada tebing yang sangat tinggi dan besar. Kalau dari tempat kami berdiri saat itu (yang tadi aku bilang cukup luas) sepertinya jalur selanjutnya harus memutari tebing, karena memang dari jauh tidak terlihat jalur yang harus kami lalui.

Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat, dan entah kenapa, dengan berbagai alasan dan argument, akhirnya kami menyepakati bahwa tempat itulah yang disebut dengan pos Batu Tulis. Tau alasannya?

Satu. Karena kata orang, pos Batu Tulis merupakan satu-satunya tempat yang memungkinkan kami mendirikan tenda, dan setau kami, memang sepanjang perjalanan tadi hanya tempat itulah yang cukup luas dan bisa untuk mendirikan tenda. Kami tidak tau apakah setelah tempat itu, akan ada lokasi lain yang serupa atau jauh lebih luas, tapi kami tidak peduli. Keputusan sudah diambil.

Dua. Ada sebuah batu, berukuran sedang, yang ada ditengah lokasi tersebut. Dan batu itu ada semacam coretan atau tulisannya. Aku lupa tulisannya apa. Tapi pastinya ada. Dan kami sepakat kalau batu itu lah yang dinamakan batu tulis. Beginilah enaknya kalau mendaki gunung atau pergi ke suatu tempat yang kami semua belum pernah kesana, tidak ada yang terlalu sok tau, dan semua keputusan diambil dengan cara mufakat. *mufakat tak berdasar* :P
batu yang dibawah gusti (jaket biru) dan koko (bandana merah) itu yang kami sebut batu tulis :D
Di pos batu tulis tersebut, *aku harap temanteman sepakat juga kalau lokasi itu adalah pos Batu Tulis YANG SEBENARNYA*, kami sempat foto-foto dan membereskan barang-barang kami serta menata tas menjadi satu dan menutupnya dengan ponco. Karena setelah itu, kami langsung melanjutkan perjalanan ke puncak. Untuk mencapai puncak, kami tidak membawa semua tas atau carier kami, melainkan hanya membawa barang-barang yang kami perlukan. Seperti minuman, beberapa buah coklat batang dan makanan ringan, ponco/jas hujan, kamera, dan lain sebagainya.

Sekitar jam sepuluh pagi, kami memulai perjalanan ke puncak.
Hal pertama yang kami lakukan, pastinya berjalan menuju ke tebing yang sudah terlihat dari pos Batu Tulis. Begitu sampai disana, jalan berbelok kekiri, lalu memutar kekanan. Benar perkiraan kami, bahwa kami harus memutari tebing tersebut. Tapi tidak hanya memutar kawan, kami juga harus melakukan RC. Kau tau apa itu RC? RC merupakan kepanjangan dari Rock Climbing. Biasanya, yang lebih populer adalah istilah WC *bukan tempat pipis yaaa…* yang merupakan singkatan dari Wall Climbing. Tapi bedanya, kalau Wall Climbing dilakukan di papan atau dinding buatan yang di beri poin-poin kecil (batu-batu yang disusun sedemikian rupa sebagai pijakan hingga membentuk satu atau beberapa jalur), kalau Rock Climbing, kami melakukannya di alam bebas, di tebing alami, dan lebih sering dilakukan tanpa alat pengaman *ngebayangin tiap naik gunung harus bawa peralatan panjat yang lengkap. Udah bisa dipastikan ribetnyaaaa.. *.

Tebing yang kami lalui cukup sulit. Disamping karena cukup terjal, tebing tersebut juga cukup luas dan melebar, sehingga kami kesulitan untuk memilih harus melalui jalur yang mana dan finish dimana. Mulanya, Pandu, Koko, dan Bang Ogep menyebar, untuk mencari jalur yang paling mudah dilalui. Belakangan aku baru ingat sesuatu *tiba-tiba dapet wangsit entah dari mana*, aku langsung berucap,.

“cari yang batunya gak berlumut…”

dan seketika, mereka bertiga juga langsung paham dengan apa yang kumaksud. Perlahan, kamu mulai mengamati dengan lebih teliti. Dan ternyata memang sedikit-demi sedikit, jalur yang harus dilalui mulai terlihat, jalur yang sama sekali tidak berlumut *dan pastinya tidak licin, yang artinya juga sudah sering dilewati*, yakni jalur yang dilalui oleh Bang Ogep. Kami yang dibelakang, mudah saja langsung mengikuti Bang Ogep. Tapi Koko dan Pandu yang sudah terlanjur jauh dengan jalur yang menyimpang, terpaksa harus kembali dengan susah payah, kemudian melalui jalur yang benar.
jalur  yang dilalui bang Ogep
Perjalanan menuju ke puncak tersebut, kami tidak lagi berjalan berkelompok. Kami berjalan sendiri-sendiri. Selain percaya bahwa jalurnya hanya ada satu, kondisi vegetasi yang sudah sama sekali tidak ada membuat kami bisa saling melihat anggota satu dengan yang lain dengan mudah. Seingatku, saat itu yang berada paling belakang adalah Mas Tob dan Mas Abib. Entah apa yang terjadi dengan kedua senior tersebut, jam terbang yang sudah sangat tinggi memang tidak ada hubungannya dengan speed seorang pendaki. Tapi belakangan aku tau, mereka berjalan sangat pelan karena ngedrop. Tapi biasalah, senior jaim. Jadinya gak ngasih tau kita, dan mengambil ‘jarak’ sedikit agar tidak ketahuan.hehe

Aku gak bisa bercerita banyak tentang perjalanan ke puncak saat itu. Sangat sulit mendeskripsikannya. Jalurnya, luar biasa indah. Mmmmhh,. Enggak ngertilah. Pokoknya seperti itu. Ini aku tunjukkan beberapa gambarnya saja yahh, dan nikmatilah sendiri.


Setelah perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya kami tiba di puncaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk !!!! :D

Yang sampai di puncak terlebih dahulu Pandu dan Bang Ogep, disusul Gusti, Koko, dan aku. Sedangkan mas Abib dan mas Tob masih belum kelihatan batang hidungnya. Cuaca siang itu berkabut, tebal sekali. Jarak pandang hanya sedikit, namun kami masih sempat menikmati kepulan asap dari kawah gunung Agung *sepertinya, jika tidak tersamarkan oleh kabut*. Pada saat itu, kami hanya menyelesaikan perjalanan hingga puncak kedua. ingin rasanya sampai puncak ketiga, namun jalur yang rawan longsor, membuat kami berhenti, dan cukup puas sampai disitu saja. Sebenarnya Gusti sempat mencoba untuk melalui jalur tersebut, tapi karena jalurnya sangat sempit dengan kiri-kanan adalah jurang, serta medan yang berpasir yang bisa dipastikan licin, akhirnya belum ada separuh perjalanan dia memutuskan untuk kembali. Kami juga tidak ingin mengambil risiko yang terlalu besar. Dan kami sepakat *lagi-lagi mufakat tak berdasar* kalau kami sudah sampai di Puncak Gunung Agung. Yeyyyyyy!!!! :D
Sampai di puncak, apa yang kami lakukan?

Satu. Sujud syukur, seperti biasa *dengan mengira-ngira dimana arah barat*. Tapi pada saat itu, kami menambahkan satu ritual lain, yakni ucapan terimakasih pada ‘pemilik rumah’, yang prosesnya kurang lebih sama dengan yang kami lakukan di Pura Batas.

Dua. Makan-makaaan, minum-minum jugaaakk, plus foto-foto.

Waktu itu, yang sudah sampai puncak aku, Koko, Gusti, Pandu, dan Bang Ogep. Setelah menyamankan posisi duduk, aku memutuskan untuk memakan coklat batang yang sudah kami bawa sebagai bekal. Kemudian Koko, dengan sigap mengeluarkan pisau lipat dan membantuku untuk memotong coklat tersebut. Aku tidak tau kenapa dan  bagaimana ceritanya, karena kejadian itu terjadi begitu saja. Koko salah memposisikan jari telunjuknya, hingga pada saat memotong coklat, jari telunjuknya juga teriris. Ssssss…. Tiba-tiba darah segar mengalir deras dari telunjuk koko.

Aku panik.

Saat itu juga langsung aku panggil Pandu. Aku lupa detailnya seperti apa. Intinya, Pandu langsung mengeluarkan tas P3K yang memang selalu kami siapkan dan kami bawa kemanapun. Aku meminta Pandu untuk menangani luka Koko, sementara aku mencoba untuk menekan pergelangan tangannya, berharap agar aliran darah bisa sedikit pelan atau bahkan berhenti. Tapi aku tidak terlalu kuat, dan mungkin sudah agak lemas juga karena melihat darah, ditambah Pandu yang bingung bagaimana cara membersihkan luka tersebut sedangkan darah yang keluar semaik banyak.

Aku ingat, darah tersebut menetes dengan derasnya di tanah tertinggi itu. Dan akhirnya aku putuskan untuk bertukar tempat dengan Pandu.

Aku tau sedikit tentang dasar-dasar pertolongan pertama. Di Majapala pun, aku lebih konsern di bidang PPGD (pertolongan pertama gawat darurat) ketimbang hal-hal lain, ditambah dengan basic kuliah di bidang kesehatan, harusnya membuatku bisa menangani hal semacam itu. Tapi jujur saja, aku sebenarnya agak ngeri kalau harus melihat luka. Ngeri aja deh pokoknya. Tapi sepertinya saat itu bukan waktu yang tepat untuk menghiraukan rasa ngeriku.

Akhirnya, aku meminta Pandu untuk memegangi pergelangan tangan Koko. Kalau perlu diikat sekencang mungkin. Kemudian, aku mulai membersihkan darah di jari telunjuk Koko. Saat itu tidak ada alcohol. Jadi aku hanya menyiramnya dengan air. Ikatan bandana di pergelangan Koko cukup membantu sehingga darah tidak mengucur sederas sebelumnya. Kassa, plester, dan kapas membentuk balutan seadanya di jari telunjuk Koko. Dan ternyata tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan hal tersebut. Hahhhh.. lega rasanya. Walaupun aku melihat setelah kejadian itu, Koko jadi agak lemas. Dan semenjak saat itu, Koko tidak mau berurusan lagi dengan coklat batang. Agak aneh memang, sampai-sampai  ada seorang teman yang bilang,.
“kamu itu aneh Ko,. harusnya trauma itu sama pisau lipatnya, bukan sama coklatnya…”, tapi Koko tidak peduli. Pokoknya gak mau lagi deh berurusan dengan coklat batang, atau coklat-coklat yang lain.

Oia, ada satu hal yang aku ingat saat kami mengobrol di puncak. Beberapa teman, ada yang berpendapat, kalau jari Koko yang terpotong itu, merupakan salah satu prosesi perijinan yang harus dia lakukan. Teman-teman ingat tidak pada perjalanan hari sebelumnya, di Pura Batas, di part 1, disitu aku menulis, pada saat kami melakukan prosesi perijinan, hanya Koko saja yang tidak ikut pada kegiatan tersebut, karena bertugas menjaga barang bawaan kami. Entah benar atau tidak, kami tidak tau. Tapi kalau dikait-kaitkan, boleh tidak ya??? O.o
mas Tob

aku

bang Ogep

Gusti

Pandu

mas Abib

Koko

Setelah berfoto-foto ria, dan menghabiskan sebagian bekal yang kami bawa, kami memutuskan untuk turun. Sejenak, kami merasakan ada tetes-tetes air dari langit.

“hujan kah ini…?”

“bukan, ini Cuma kabut kok. Ayo turun…”

Akhirnya kami memutuskan untuk turun. Pandu, Koko, dan Gusti berada didepan, kemudian disusul aku, Mas Abib, Mas Tob, dan Bang Ogep.

Setelah melalui puncak pertama, air yang turun dari atas semakin deras. Akhirnya kami sepakat, kalau yang sejak tadi menetes itu bukan kabut, melainkan hujan. Kami segera mempercepat langkah. Angin yang berhembus semakin kencang, membuat pandanganku kian gelap. Akhirnya aku meminta mas Abib untuk menggandengku. Disamping kondisi yang seperti itu, aku memang agak takut melalui jalan yang menurun. Aku sendiri tidak tau mengapa aku gampang sekali terpeleset jika melalui jalan yang menurun. Ada masalah dengan keseimbangan tubuh rasanya. Tapi entahlah…

Sampai pada saat dimana kami sudah ditebing, dan angin serta hujan semakin deras. Pandanganku sangat-sangat terbatas. bahkan saat itu, aku hanya bisa melihat tangan mas Abib yang masih erat menggenggamku. Kacamataku sudah tidak berbentuk. Berkabut, berair, dan lain sebagainya. Semua gelap. Semua abu-abu. Aku bahkan tidak bisa melihat kakiku, apalagi tempat dimana aku harus memijakkan kaki. Dan pada saat itu, aku putuskan untuk melepas tangan mas Abib dan berhenti. Duduk. Saat itu juga.

“Aku gak mau jalan…” aku berbicara seperti itu sekeras mungkin, takut tak bisa menyaingi suara air dan angin yang menderu seperti air bah.

“lohh,. Ayo Tal, dikit lagi. Nanti tambah deres lho hujannya…”

“enggak. Aku gak mau jalan. Aku gak bisa jalan. Gak keliatan apa-apa iniiii…”

Perlahan terdengar isak tangis, dan ya,.. aku duduk, tertunduk, dan menangis. Aku takut.

*gak pengen terlalu panjang bikin catatan perjalanannya, kuatir temanteman yang baca ketiduran sebelum baris terakhir selesai. terpaksa aku potong lagi ceritanya sampai disini. maaf yahhh...*

16 comments:

  1. Agung, hmm..jadi ingat Ekspedisi Semeru agung Rinjani tempo doeloe..heheheh...yg aku suka adalah suasana di Besakih dan sekitarnya...mirip..(mirip lho..) suasana di Jogja kala itu. Agung juga walau mesti melalui anak tangga, tetapi tetap alami....rindu agung...

    ReplyDelete
  2. Seru banget, dan juga ada kejadian mistisnya ya...

    ReplyDelete
  3. seru seru :D jadi pengen naik gunung deh :) ditunggu lanjutannya :)

    ReplyDelete
  4. Saya datang lagi sobat, seraya memohon maaf lahir batin atas setiap kesalahan kecil maupun besar, baik dari setiap komentar ataupun postingan yang kurang enak dibaca.
    Semoga puasa kita di bulan ramadhan diberi kesehatan .

    salam persohiblogan ^_^

    ReplyDelete
  5. Wah, mendaki gunung, tubuh harus bugar, stamina harus dipersiapkan. :)

    ReplyDelete
  6. assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..

    buat semua teman-teman bloofers, saya mohon maaf lahir dan batin atas setiap kesalahan kecil maupun besar yang pernah saya lakukan, baik yang saya sadari atau yang tidak saya sadari sama sekali, dan dari sikap, komentar, maupun postingan yang bikin gak enak hati teman-teman.. :) sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya, semoga puasa kita di Ramadhan kali ini benar-benar lulus dari segala ujian dan diberi kekuatan juga kesehatan, amiiiin...
    www.andyonline.net

    ReplyDelete
  7. saya ngeliatin fotonya yang keren-keren... :D

    ReplyDelete
  8. akhirnya sampai juga di tempat...kayaknya kalo aku yg di bagian terhujani di puncak pun akan melakukan hal sama. terduduk diam dan menunggu hujan :)

    ReplyDelete
  9. Gak jarang sih klo naik k gunung agung pasti ada aja masalah2, tp pas nyampe puncak rasanya gimanaa gitu~

    ayo cepet! lanjutin! pnasaran XD

    ReplyDelete
  10. Selamat pagi sahabat
    Saya datang lagi untuk meningkatkan silaturahmi sambil menyerap ilmu.
    Selain itu ada kabar gembira bahwa anda mendapatkan tali asih sebuah buku karena artikel anda termasuk sebagai Artikel Terpilih dalam ADUK dengan keyword Hidangan Pembuka.
    Silahkan cek di BlogCamp.
    Selamat dan terima kasih.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  11. Selamat pagi sahabat
    Saya datang lagi untuk meningkatkan silaturahmi sambil menyerap ilmu.
    Selain itu ada kabar gembira bahwa anda mendapatkan tali asih sebuah buku karena artikel anda termasuk sebagai Artikel Terpilih dalam ADUK dengan keyword Hidangan Pembuka.
    Silahkan cek di BlogCamp.
    Selamat dan terima kasih.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  12. adit: aku juga rindu agung :(

    keven: pengen kejadian mistis yang lebih seru? baca part 3 nya :)

    fiction: hehe.. maaf kalo membuatmu juga pengen. tapi emang seru bangeeettt

    mas Auraman&mas Andy: iyah.. sama-sama. mae juga minta maaf kalo ada salah. selamat berpuasaa :D

    ReplyDelete
  13. bang Adhi: fotonya biasa aja bang, belum kenal namanya seni fotografi waktu itu.. hehe

    mbak kenia: tepat skaliii :)

    brainless: stuju banget sama kamuuu :)

    pak Dhe Cholik: hwaaaa.. akhirnya menang. trimakasih pak Dheee :)

    Zee: tengkyuuuu ^^

    ReplyDelete
  14. Seneng ngeliat jalan menuju puncaknyaa... tenangggg banget rasanyaaa walaupun cuma membayangkannya sajaa.... :D

    tapi ending ceritanya itu yaanggg dramatis bangettt sampai2 to be continued-nya bikin penasarannn...

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D