28 August 2011

di salah satu sudut kota jogja

siang itu panas. banget. di salah satu sudut kota jogja, baru saja melintasi kompleks kampus Universitas Gajah Mada. untungnya bukan bulan puasa seperti sekarang. tapi tetep aja panassss...

berteman si kuda besi hitam merk thunder 125 keluaran tahun 2003 dengan plat nomor AB 5627 CG, dua orang pemuda itu berboncengan. entah mau kemana. pastinya melaju terus memacu si kuda besi menuju ke arah selatan.

satu pesimpangan terlampaui dengan sebegitu ramainya. begitu juga dengan dua, tiga, serta persimpangan-persimpangan selanjutnya. entah apa yang ada di kepala dua pemuda ini, hingga salah satunya mulai angkat bicara.

"kira-kira kapan ya,.. lampu merah di Indonesia ini benar-benar diperhatikan???", mungkin ada kaitannya dengan beberapa kali melewati persimpangan dengan traffic light, dan beberapa kali itu pula menyaksikan entah becak, sepeda gowes, sepeda motor (atau bahkan mobil???) nyelonong begitu saja tanpa memperhatikan si merah-kuning-hijau yang selalu setia bersinar maupun tidak tepat pada waktunya.

si pemegang kemudi lantas angkat bicara,.

"ahh,. aku ada ide...."

"oia???... apa idemu???"

"bagaimana kalau sistemnya di buat seperti palang pintu kereta api. jadi ada penutupnya. bukannya itu lebih baik??? minimal bisa mengurangi si penerobos lampu merah laaahhh..."

keduanya beberapa kali mengangguk-anggukkan kepala sambil tetap memperhatikan sekitar.

"ehhh,. yang lebih keren kenapa??? toh ternyata palang pintu kereta api tidak sedikit juga yang diterobos..."

eaaa.. lagi-lagi stuck. bukan pertama kalinya kedua pemuda ini berdebat untuk sesuatu yang tidak perlu *iyakahhh..??? sebegitu tidak perlunya kahhh???*

"ahhh,. aku ada ide yang lebih baik nihh.. dan lebih canggihh. hehe..."

"oke,. sebutkan idemu",.. kata si pemegang kemudi, tanpa melepas kemudinya pastinya.

"hmmmm,.. bagaimana jika di ujung jalan itu, tepat di garis putih itu, jika lampu merah menyala, maka akan ada besi-besi setinggi lutut orang dewasa yang mucul sejajar sepanjang garis putih itu, dengan perlahan, dan cantik, serta tanpa suara bising. coba bayangkan, canggih betul jika itu memang sebuah besi yang cukup besar, dengan diameter sekitar sepuluh hingga limabelas centimeter, serta muncul dengan sendirinya. asik bukan???"

"hahahaha... ide bagus. tapi tidak kah kau ingin dengar kelemahannya???"

"apa? tak terpikirkan olehku kelemahannya. toh itu kan besi, sejajar, dan pastinya lebih sempit daripada lebar motor disini. jadi tidak mungkin bisa terlewati. mobil juga tidak ada yang setinggi lutut orang dewasa..."

sepertinya obrolan mereka semakin seru.


"bagaimana jika ada ambulan??? bagaimana jika ada pemadam kebakaran??? bagaimana jika ada kendaraan yang memang diperbolehkan menerobos lampu merah karena satu dan lain hal,.. ehh???"

pemuda yang duduk dibelakang lemas seketika. tak disangka ide cemerlangnya bisa meleleh begitu saja, hanya karena pemikiran seseorang yang sangat sederhana.

"hmmmmmm... benar juga apa yang kau katakan..."

*******

jogja siang itu semakin panas saja. sempat terpikir untuk singgah membeli makan dan minum, namun daerah yang mereka lalui bukan merupakan daerah yang mereka kenal. lidah yang bukan asli jogja memang sedikit banyak memaksa mereka untuk berhati-hati dalam memilih makanan. kecuali jika ingin lagi merasakan soto manis dengan potongan wortel panjang-panjang yang aneh yang letaknya di ujung jalan dekat halte trans jogja malioboro. sudah sangat kapok rupanya mereka. hahaha...

"heii,. kenapa berhentinya jauh sekali??? di depan kan masih kosong, garis putihnya juga masih jauh.."

lagi-lagi pemuda dibelakang membuka obrolan, tepat disaat si pemegang kemudi menghentikan thundernya di tepi jalan, tepat dibawah rerimbunan pohon, berjarak sekitar sepuluh meter dari persimpangan (lagi-lagi) yang akan mereka lalui.

"panas sekali disana. tau kan kalo badanku bisa gatal-gatal bila terkena panas..."

"ahh,. manja sekali kamu..."

"terserah mau bilang apa. yang penting aku tidak mau maju. lagipula masih ratusan detik lagi baru lampu merah itu berubah jadi hijau..."

pemandangan sekitar persimpangan itu tidak ada yang menarik perhatian pemuda itu, namun berbeda dengan si pemegang kemudi.

"hmmm,.. aku ada ide bagus...", kata si pengemudi

"apa??? tentang lampu merah lagi???"

"iya donk,. tapi ini beda"

"apa idemu???"

"kenapa tidak dibangun saja tenda atau semacamnya tepat di belakang garis putih itu ya??? jadi kan para pengemudi terutama sepeda motor bisa berteduh dibawahnya. asik tuhh... lagi pula, coba lihat, ternyata tidak cuma aku yang berhenti agak jauh dari garis batas hanya untuk berteduh... dan di sini, lampu merahnya memang cenderung lama kan kalau dibandingkan dengan daerah lain???"

*pletakkkkkk...* pemuda di belakang dengan kencangnya memukul helm si pemegang kemudi.

"trus kalau ada tendanya, bakal mau berhenti terus di tiap lampu merah??? bisa-bisa bakal ada orang berjualan tepat di lampu merah itu dan tidak mau pindah, belum lagi peminta-minta, pengamen, dan lain sebagainya. ditambah pengemudi yang asik berteduh. bisa-bisa tiap lampu merah jadi pasar kaget nanti... dasar kau ini...!!!"

"hahahaha... okee. kali ini aku kalah."

yappp,.. dan skor siang itu jadi satu sama.
gambar pinjem dari sini
*di jogja, setauku, memang beberapa lampu merah memiliki penghitung waktu yang lumayan lama. bisa mencapai 120 detik tiap persimpangan. sedangkan untuk pelanggaran penerobosan lampu merah, aku kurang tau. pastinya pernah dengan ada kecelakaan karena seseorang menerobos lampu merah disana, padahal waktu setempat sudah menunjukkan dini hari. (mohon maaf kalau salah)
*plat nomornya fiktif. kalo motornya beneran ada di jogja. cari tau deh kalo mau.hehe :P

~~ smangat puasa hari terakhir yaaaaaaaaaa... ~~

8 comments:

  1. segitu lamakah lampu merah yang ada di jogja teh u.u?

    ReplyDelete
  2. Aku ada ide... gimana kalo lampu merahnya kita ganti polisi tidur aja... maksudnya ketika posisi sedang merah, polisi tidurnya langsung bergerigi, dan ketika hijau polisi tidurnya datar, dan ketika kuling bergelombang...wkwkwkkwkwk dijamin para pelanggar bakal kapok melanggar... apalagi kalo polisi tidurnya pake polisi beneran...hahahahah

    Btw, Aid Mubarak yaaa... Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir dan batin....

    ReplyDelete
  3. halo sam.. minal aidin walfaidzin jugaaa..

    idemu bagus. bisa dipertimbangkann.. hehe

    ReplyDelete
  4. gimana kalo pas lampu merah langsung timbul tembok setinggi tembok berlin *ngaco wkwk abaika :D

    ReplyDelete
  5. hahaha... *oke akan kuabaikan :P

    ReplyDelete
  6. paling cocok ya sistem cctv kayak diluar mae.. ada bukti kuat...langsung di usut.. kalo lagi urgen, tetp bisa lewat...

    ReplyDelete
  7. sayangnya dua pemuda itu gak pernah ke luar ken,. jadi enggak ngerti.
    n kalo menurutku, idemu bagus jugak. walopun sepertinya akan jadi pekerjaan yang sulit untuk menemukan petugas yang jaga cctv, yang juju dan tidak sombong pastinya.hahaha

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D