03 August 2011

Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 3)

*ingin tahu cerita sebelumnya??? klik PART 1-nya DISINI, dan PART 2-nya DISINI*

*******
Di bujuk sedemikian rupa pun aku tetap tak mau beranjak dari tempatku duduk.

Saat itu hanya tinggal berempat, aku, mas Abib, mas Tob, dan bang Ogep. Pandu, Gusti, dan Koko sudah jauh didepan, tak tau pula bagimana nasib mereka. Melihat aku tidak mau melanjutkan perjalanan, mereka berempat lantas ikut berhenti. Angin menderu semakin kencang. Hujan pun rasanya tak mau kalah adu besar, kencang dan cepat. Angin dan air serasa menampar pipiku keras-keras. Seandainya aku tidak duduk, mungkin saat itu aku sudah diterbangkan oleh badai.

Tidak lama berselang, mas Tob menyuruhku untuk pindah tempat duduk. Tidak jauh dari tempat kami berhenti, ada selokan besar alami yang terbentuk dengan sendirinya untuk aliran air dari puncak. Selokan itu tidak mengalirkan air cukup banyak, namun jika kami duduk didalamnya, minimal tubuh kami tidak perlu menahan hempasan angin yang kian kencang.

Susah payah aku berdiri, dan berusaha secepat mungkin sampai di selokan tersebut. Setelah itu, kami berjongkok berurutan, didepanku Mas Abib, lalu dibelakangku Mas Tob, disusul Bang Ogep *kalau tidak salah ingat*. Sekalipun kami berlindung di selokan tersebut, tubuh kami tetap menggigil, karena terguyur hujan yang sangat lebat. Tidak lama kemudian, aku mendengar mas Tob bertanya tentang ponco, atau sejenisnya. Aku mendadak ingat dengan ponco yang kubawa, yang sebelumnya sudah kutitipkan didalam tas yang dibawa mas Tob.

“ada ponco di tas…”

“apa…????”

“ada ponco di tas…”

“gak dengar.. apa…???”

Suara angin dan hujan saat itu benar-benar menguasai ruang pendengaran kami berempat.

“ada ponco di tas…. Ponco!!!! Di tas…!!!”

Sungguh, kalau kondisinya sedang tidak badai, mungkin yang lain merasa aku sedang marah-marah dengan nada bicaraku yang seperti itu. Untungnya saat itu sedang badai *sudah badai masih bisa bilang untung????*. Tidak lama kemudian, ponco sudah tergelar diatas kepala kami, hingga kami sedikit terlindungi dari guyuran air hujan kala itu.

Aku benar-benar panik. Jujur itu pertama kalinya aku terkena badai, di gunung, saat dipuncak pula. Aku sama sekali tidak pernah berpikir hal ini bisa terjadi. Satu yang aku ingat, saat itu aku benar-benar takut, dan mau tidak mau aku memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa aku alami: MATI!!!. Mati di tengah gunung, dalam perjalanan pendakian, perjalanan yang bahkan orang rumah tidak mengetahui, karena waktu itu tanteku sedang pergi naik haji. Papa dan Mama? Aku tidak memberi tahu mereka tentang kepergianku ke Bali, apalagi untuk naik gunung. Aku cuma bisa beristighfar sebanyak-banyaknya. Air mataku pun tak bisa berhenti mengalir, membayangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kasihan teman-temanku, seandainya aku mati disitu, mereka pasti akan sangat kesulitan untuk membawa jenazahku kebawah. Kasihan teman-teman di Majapala, mungkin jika aku mati disitu, mereka semua, terutama adik-adikku yang masih junior, gak akan punya kesempatan untuk naik gunung lagi karena tidak mendapat ijin dari sekolah maupun orang tua setelah kejadian ini. Kasihan semua,.. Mama, Papa, Tante,.. jadi ingat mereka semua. Aku tidak bisa berhenti beristighfar, hanya itu yang bisa kulakukan saat itu.


“Nduk,. Gak usah nangis ndukk…”, ini kata mas Abib, saat menghiburku. Tapi perkataannya sama sekali tidak berpengaruh untukku.

“tenang,.. tenang,.. Gak usah panik.”, giliran bang Ogep yang angkat suara.

Selain suara angin yang menderu, serta guyuran hujan yang kian kencang karena bertabarakan dengan permukaan ponco, hanya suara tangisku yang terdengar. Selebihnya sepi….

Aku lupa berapa lama kami berlindung di selokan itu, perkiraanku sekitar setengah sampai satu jam. Setelah kami pastikan hembusan angin tidak lagi kencang, dan hujan sudah mulai reda, kami mulai bangkit. Perlahan, semua jadi hening. Jauh lebih senyap dari sebelumnya. Aroma tanah basah merekah, dan aku sangat menyukainya.

Perlahan, kami mulai berjalan. Sangat pelan. Mengikuti aliran air, yang akhirnya mengantarkan kami ke tebing. Sempat sedikit kesulitan untuk menentukan arah, namun akhirnya kami bisa mulai menemukan jalur yang tepat.

Dalam perjalanan tersebut, aku dengar mas Tob dan mas Abib berdiskusi, tentang apa yang harus kami lakukan setibanya di pos Batu Tulis. Belakangan, baru aku dengar, kalau akhirnya mereka memutuskan untuk menginap lagi semalam, karena jika dipaksa turun, kondisi fisik kami tidak memungkinkan. Ditambah saat itu sudah sekitar jam tiga sore. Jika harus memutuskan untuk turun, pasti saat petang kami belum sampai di bawah. Sebagai informasi saja, lebih sulit menuruni gunung, dari pada menaikinya, pada saat malam hari.

Setelah memutari tebing, dari jauh sudah terlihat dua buah tenda, satu berwarna abu-abu dan satu berwarna kuning, berdiri dengan gagahnya di tanah lapang, tak jauh dari tempat kami berdiri saat itu. Ternyata Pandu, Gusti, dan Koko sudah mengambil keputusan yang sama dengan kami.
Saat itu, aku hanya bisa bersyukur dan tersenyum, sambil membersihkan wajahku dari sisa-sisa tangis. Dua jam yang lalu, aku tidak tau apa yang akan terjadi, tapi setelah melihat tenda-tenda itu, aku tau, pendakian ini akan menjadi salah satu pendakian terbaikku bersama teman-teman.

Sesampainya di bawah, aku langsung mengambil pakaian ganti, dan pergi ke semak-semak yang sedikit terlindung. Setelah mengganti semua pakaianku, aku langsung masuk tenda abu-abu, yang didalamnya sudah ada Gusti dan Pandu. Aku langsung menghempaskan tubuh ditumpukan sleeping bag yang sudah tergelar disudut tenda itu. Aku menggigil

“Ndu,.. dingin banget Nduu…”

Pandu dengan sigap langsung membungkus tubuhku dengan sleeping bag, tiga susun sekaligus!!! Setelah itu, dia langsung menduduki kakiku. Gusti juga langsung membantu membetulkan posisi sleeping bag tersebut. Aku benar-benar kedinginan, karena memang aku agak sensitif dengan air, bila sedang digunung. Sebenarnya aku termasuk salah orang yang cukup tahan dengan dingin. Aku jarang memakai baju bertumpuk-tumpuk di gunung, cukup satu helai kaus lengan panjang dan jaket seadanya, sudah bisa membuatku hangat. Aku juga jarang mengenakan kaus tangan. Namun apabila berurusan dengan air, *ini hanya berlaku di gunung ya…* aku langsung mati kutu. Maka dari itu, setiap kali naik gunung, aku tidak pernah lupa membawa ponco atau jas hujan. Karena sekali tubuhku terkena air, langsung kedinginan dan lemas. Pernah suatu hari, digunung, saat sedang akan sholat, sebenarnya air melimpah, tapi karena kelemahanku yang satu itu, aku lebih memilih untuk bertayamum. Gak sanggup rasanya kalau haru menyentuh air. Dinginnya sangat menusuk.

Setelah merasa cukup hangat, akhirnya aku keluar dari ‘tempat persembunyian’ku. Kondisiku sudah cukup baik saat itu.

Hemmm,.. ternyata cuacanya cerah. Sangaaaatttt cerah. Memang beginilah biasanya kondisi setelah hujan. Awan di langit habis. Begitu juga dengan kabut. Aku jadi bisa melihat langit yang biru, dan detail pulau dewata yang sangat indah.




Oia, sore itu juga, aku langsung mengganti perban di jari telunjuk koko. Beberapa darah kembali menetes. Namun karena sebelumnya aku sudah mengikat pergelangan tangannya sekencang mungkin, darah tersebut tidak mengucur terlalu deras. Setelah menggunakan ranting sebagai penyanggah *aku mengibaratkan ranting itu sebagai papan bidai, Memang bukan fraktur, namun luka irisnya dijarinya membuat telunjuknya Koko harus diposisikan selurus mungkin*, aku kembali membungkus luka di jari telunjuk Koko, dengan lebih rapi dan berseni pastinya.hehe…
akhirnya terwujud untuk lihat sunset dari gunung!!! ^^
Menjelang malam, mas Tob menyuruh kami tidur. Kami harus tidur cepat, karena malam itu, tidak ada acara makan malam. Logistik kami terbatas, karena sebenarnya hanya disiapkan untuk dua hari perjalanan. Namun karena badai tadi siang, akhirnya kami harus menambah satu hari lagi di gunung, yang mengakibatkan pengiritan pula pada logistik.

Sayang kalau malam itu dilewatkan begitu saja. Akhirnya aku, Koko, dan mas Abib menggelar matras didepan tenda, serta menikmati pemadangana malam itu. Bintangnya banyak. Saaaaaaaaaaaaaaaaaaangatt banyak. Baik bintang yang ada diatas, maupun bintang yang ada dibawah. Lampu-lampu kota maksud kami. Malam itu, garis pantaipun terlihat sangat jelas. Luar biasa indah pokoknya. Tapi aku tidak ada gambarnya. Sengaja. Kalau ingin menikmati keindahan malam itu, pergilah ke gunung Agung sendiri. Hehe…

Malam itu, Aku, mas Tob, Koko, dan mas Abib tidur disatu tenda, yang warnanya kuning. Aku tidur dipinggir, disebelah kanan sendiri, dan disebelahku mas Tob.

Lama berselang, mata ini tak kunjung terpejam. Aku lapar, dan haus. Akhirnya, aku putuskan untuk meminum beberapa teguk air, yang diletakkan tepat disampingku. Setelah itu, aku kembali mencoba untuk tidur.

“kresek…kresek…kresekk…”

Begitulah suara yang kudengar, seperti langkah kaki seseorang, yang berjalan mendekati tendaku, dari arah puncak.

“kresek…kresek…kresekk…”

Aku ingat kalau medan disekitar tenda saat itu, berupa batu-batu kerikil. Jadi sangat masuk akal jika suara yang kudengar, adalah suara langkah kaki.

“mas, denger ada suara orang jalan gak???”, tanyaku ke mas Tob, yang tepat berada di sebelahku.

“wess,. Tidur aja Tal, udah malem ini…”

“kresekk…kresekk..kresekkk…”, aku membayangkan orang tersebut berjalan semakin dekat ke tendaku. Aku merinding *saat menuliskan bagian ini aku kembali merinding, teringat saat itu…*

“mas,.. suaranya tambah deket lo….”, aku mulai merengek, takut.

“kresek…kresek…kresekkk…..”, takut kalau orang—atau siapapun itu tiba-tiba muncul, dan aku berada tepat di tepi tenda.

“maaasssss…..”, tapi mas Tob tak menghiraukanku.

Aku berusaha tenang, dan memejamkan mata. Hanya bisa berdoa dan berdoa, agar tidak terjadi apa-apa. Tapi suara tersebut sangat nyata, dan sangat dekat. Kalau kuingat-ingat, sepanjang siang dan sore tadi, kami tidak bertemu dengan rombongan lain yang juga mendaki gunung Agung. Jadi tidak mungkin kalau itu pendaku. Laahhhh.. kalo bukan pendaki terus siapa donk?????? Suaranya mirip bangeeetttt sama suara langkah kakii. Aaaaaaarghhhhhh… *panik lagi, dan lemas*.

Setelah cukup lama menenangkan diri, perlahan kuperhatikan, suara tersebut menghilang. Sudah tidak ada. Benar-benar tidak ada. Dan tidak lama kemudian, aku terlelap.

Selasa, 30 Desember 2008

Slamat pagi semuaaaaaaaaaaaa…..^^



Hemm,. Pagi yang cerah. Akhirnya aku bisa melewati malam kemarin dengan perut kosong dan kehausan. Setelah semua bangun, kami mulai memasak. Menu pagi itu, mie goreng, kentang goreng, telur rebus, serta telur ceplok *menunya gak jelas. Intinya seperti itulah…*. Kami makan dengan sangat lahap. Setelah itu, mulai berkemas dan bersiap untuk turun.

Sekitar jam 9 pagi, kami memutuskan untuk turun. Oia, pagi itu, kami bertemu dengan pendaki yang juga akan naik ke puncak, aku lupa berapa orang, tapi tidak terlalu banyak. Dan semuanya laki-laki. Yeyyyy.. akhirnya bertemu dengan sesama spesies!!! Sekilas aku jadi teringat kejadian semalam, tapi aku tidak mau membahasnya.

Dalam perjalanan tersebut, jujur aku katakan kalau logistik kami sudah hampir habis. Air hanya tinggal beberapa botol kecil, dan makananpun hanya tersisa beberapa makanan kecil, yang jumlahnya juga tidak seberapa. Dalam perjalanan turun, saat didalam hutan, kami lagi-lagi bertemu dengan rombongan pendaki lain. kali ini, salah satu anggota rombongan tersebut berjenis kelamin perempuan lohh. Hmmm,. Akhirnya bertemu juga dengan sesama jenis. Bosan dari beberapa hari yang lalu ketemu sama cowok terus *lhoh???*. kami sempat berfoto bersama *seingatku*, namun entah kenapa, di file dokumentasi yang aku punya tidak ada fotonya. Jangan jangaaaaaaannn…. *rrrrrrrr.. gak mau mikir macem-macem lagi. Capek ahh…*

Hari sudah menjelang sore, dan hujan lagi-lagi tak kunjung berhenti. Dan jari kakiku, sudah penuh dengan lintah. Awalnya ngeri, tapi lama-kelamaan biasa saja. Kalau ada lintah, ya tinggal berhenti dan menghilangkannya, entah secara kasar atau dengan penuh kelembutan.

Kami kehausan, air minum sudah habis. Dan posisi hujan saat itu, membuat kami tidak mampu berpikir rumit tentang kondisi kesehatan dan kemungkinan terkena racun dan lain sebagainya yang akan membahayakan tubuh. Yang aku tau, aku haus. Dan yang lain juga. Akhirnya, mas Abib menggunakan botol bekas yang ada, untuk menadahi air yang menetes dari ujung tanaman. Kau tau warna airnya apa??? Abu-abu kecoklatan!!! Setelah menadahi air tersebut, kami tidak lantas meminumnya, melainkan membiarkannya terlebih dahulu, agar tanah, pasir, dan kotoran lainnya mengendap. Setelah air berwarna abu-abu muda *abu-abunya gak bisa hilang*, aku meminum air tersebut, begitu juga dengan yang lain. mau tau rasanya??? Rasa air, campur tanah. Ada pasir-pasirnya gitu di lidah. Hahahahaha…tapi keren. Itu pertama kalinya aku minum air hujan campur pasir. Dan Alhamdulillah, dahagaku sedikit terobati.

Sepertinya aku dan teman-teman mulai kecanduan minum air hujan. Sepanjang sisa perjalanan tersebut, jika kami haus, atau kami menemukan air yang mengalir cukup deras, kami akan berhenti dan menadahinya. Benar-benar sudah tidak ada bedanya pancuran air hujan tersebut dengan kran air pam. Syukurnya, setelah kejadian tersebut tidak ada satu orang pun yang mengeluh sakit perut dan lain sebagainya. Jadi mikir sendiri, besok-besok lagi kalau naik gunung pas musim hujan gak perlu bawa air banyak-banyak rasanya, cukup menadahi dari hujan saja. Hehehe…

Saat perjalanan tersebut, rombongan kami lagi-lagi terpisah *entah menjadi dua atau tiga, aku lupa*. Pastinya aku, mas Abib, dan mas Tob berada paling belakang. Kami bertiga memang bukan sprinter, jadi santai saja… *slow… kayak di pulow*. Bahkan saat sampai di pura Batas, kami sempat berhenti sejenak. Dan kau tau??? Ternyata mas Tob masih menyimpan sebotol fanta merah yang masih ada isinya separuh!!! Sial!!! Akhirnya karena muntab, aku habiskan minuman itu di sana, saat itu juga.

Sampai dibawah, sudah sekitar jam empat sore. Setibanya di pos perijinan, kami langsung melapor tentang anggota kelompok kami, yang kesemuanya sudah kembali dengan selamat. Setelah itu, masing-masing dari kami, bergantian langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, langsung capcus ke rumah beli Putu *ingat beli Putu tidak? Kalau tidak ingat balik lagi ke PART 1 yahhh*. Di rumahnya, beli Putu langsung memberikan selamat kepada kami bertujuh, yang telah berhasil menapakkan kaki di puncak!!! Kami lantas bercerita tentang beberapa kejadian yang kami alami. Belakangan, kami baru tau, kalau yang dimaksud dengan batu tulis adalah tebing besar yang kami temui sebelum mencapai puncak. Dan memang sih, di tebing itu banyak sekali tulisan-tulisan, dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Semacam vandalism begitu, menuliskan nama-nama mereka di batu yang seharusnya indah tanpa cecoretan. Aku juga sempat sedih sebenarnya, begitu juga dengan teman-teman yang lian, saat melalui tebing itu dan melihat berbagai macam coretan. Banyak sekali. Gunung Agung yang awalnya aku nilai masih sangat alami, jadi rusak karena adanya tulisan-tulsan tersebut. Aku yakin, orang yang mencoret-coret tebing itu, tidak layak disebut pecinta alam. Karena mereka merusak. Oia, satu lagi. Kenangan itu lebih indah jika disimpan dalam ingatan, karena menurutku bisa tampak lebih nyata, jauh lebih nyata, dibandingkan dengan menuliskan nama atau apapun ditempat yang pernah kita datangi.
tebing, batu-batu besar yang penuh dengan coretan-coretan putihh :(

Beli Putu membantu kami untuk mencarikan kendaraan yang akan mengantarkan kami ke Denpasar. Ya,. Kami berencana untuk melewatkan tahun baru 2009 di Bali. Hmmm.. ini juga lagi-lagi yang pertama buatku. Biasanya, tahun baru hanya kuhabiskan di kamar dengan tidur. Karena jalanan macet, ramai, kacau, dan aku pusing jika melihat keramaian yang tak beraturan.
nampang di depan rumah beli Putu ^^
Mobil yang mengantarkan kami sudah tiba di depan rumah Beli Putu. Kami segera bergegas untuk naik dan segera bergegas ke Denpasar. Yang menyupir kendaraan tersebut, namanya Beli Bobo. Orangnya baik, ramah pula. Sepanjang perjalanan kami juga banyak bercerita tentang kejadian-kejadian di gunung, termasuk suara-suara langkah kaki yang aku dengar malam itu. Beli Bobo dengan polosnya bertanya,

“terus, kamu gak keluar dari tenda buat neglihat suara itu asalnya dari mana???”,

jiyahhh… boro-boro keluar tenda. Denger suaranya ada udah merinding. Iya kalo yang aku lihat beneran orang, utuh, normal, kalo ada aneh-anehnya??? Ogah deehhh… dan saat itu juga, mas Tob angkat bicara. Ternyata eh ternyata, malam itu mas Tob jug mendengar suara tersebut, namun dia lebih memilih untuk diam saja dan tidak membahas. Beli Bobo mengangguk setuju atas apa yang diperbuat mas Tob. Karena belakangan, aku baru tau, kalau menemukan kejadian-kejadian aneh, melihat, atau mendengar apapun yang sifatnya tidak rasional, kita tidak boleh membicarakannya saat itu juga. Tunggu sampai dibawah (jika kejadiannya memang digunung), atau tunggu jika sudah tidak ditempat tersebut. Intinya, tunggu sampai teman-teman sudah meninggalkan tempat itu, baru boleh membicarakannya.

Sebenarnya tidak bermaksud apa-apa sih, hanya saja, kalau kita membicarakan hal tersebut di gunung *aku kasih contoh di gunung aja yahh*, dikhawatirkan akan mempengaruhi mental yang lain, dan katanya sih gak sopan juga, gak sopan sama yang lagi diomongin :D

Jujur, setelah pendakian ini, aku jadi jatuh cinta pada Bali. Ternyata orangnya baik-baik, ramah-ramah, dan saling menghormati satu sama lain. penilaianku tentang Bali berubah drastis, setelah beberapa tahun sebelumnya ada pengalaman yang tidak menyenangkan disana.

Aku mau ke Bali lagi, tapi tidak untuk naik gunung Agung, cukup sekali saja. Ehh,. Gak tau lagi yahh.. sekarang masih kebayang capeknya soalnya. Entah besok-besok kalau sudah lupa, mungkin aku akan kesana lagi. Ditambah, setelah kejadian itu, aku jadi rada’ parno sama hujan deras yang disertai angin. Jadi tunggu traumanya hilang dulu. Hwehehehe.. *bakalan lama kayaknyaaa..*

Jadi kangen beli Putu dan beli Bobo, apa kabar mereka yahh??? O.o

-the end-

*belakangan jarang blogwalking, pinklink pulsanya abis, dan aku sering pulang ke Gresik. sedangkan sinyal flash di rumah kembang kempis. maaf yah teman-temannnnn T.T.. kangen kalian semuaaaaa..*
http://www.emoticonizer.com

Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 1)
Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 2)





31 comments:

  1. kesimpulannya: Berbuahayaaa..... tante takutttt

    ReplyDelete
  2. engggaaaaaaaaaaakkkk... lebih setuju kalo disebut menantang!! hehee

    ReplyDelete
  3. cerita perjalanannya komplit... Jadi ingat komentarmu dulu di postinganku tentang "Ketakutan yang benar-benar buat kita merasa berani"... Saya kira ini mungkin salah satunya, karena tak semua orang bisa merasakannya. Saya nge-bayanginnya hujan-hujanan di areal puncaknya dan di tempat terbuka. justru berhenti di daerah seperti ini ketika hujan menurutku sangat berisiko sekali, untung aja ga ada petir dan alhamdulillah selamat...

    Tentang pesona mistisnya, jika memang kita merasakan sesuatu ada baiknya kita bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa, demi keselamatan kita sendiri...

    Kebayang aja kalo kesurupan di atas gunung, terus dibacain doa buka puasa... mana nyambunggg... bisa-bisa jin-nya ngakak ngeloyor pergi hahhahaha....

    ReplyDelete
  4. Seruuuu, keren banget sunsetnya!!!!

    Kalo lagi naek gunung memang mulut ga boleh "sompral" (lancang)...

    ReplyDelete
  5. satu hal yang ingin kuancungi jempol buat semua cerita mbak armae..teman2 yg super setia dan tangguh..kalo berkawan dengan para cowok emang cenderung lebih tenang diri ya mbak,...hhehehehe ga gampang panik hanya karena denger suara "kresek5x" hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiy...ada hewan numpang lewat kali tu mbak hihiiihii

    ReplyDelete
  6. kereeeenn... cerita perjalanannya seru banget!
    apalagi ditambah foto-foto panorama yang aduhai itu :)

    ReplyDelete
  7. seruuu banget :D kalau aku denger suara kresek2 begitu bisa tidur gg ya :O

    ReplyDelete
  8. wuaaah.. gila, kamu cewek sendirian?.. *standing applause deh.
    berani ngedaki gunung agung sama temen-temen. saya sih blom pernah kesono, nggak berani juga kalo sendirian. hahaha. dan kebayang juga gimana dinginnya kalo malem, pas musim-musim kemarau gini kan duingiiin pol!.

    hemm.. quotes paling bawah kirain kangen beli putu tuh maksudnya beli kue putu, ternyata "mas" Putu too

    ReplyDelete
  9. sunset diatas gunung WOW sekali ya D:

    ReplyDelete
  10. Keren nih.., suka yg seperti ini.

    Salam kenal.., follw balik ya.!!
    :)

    ReplyDelete
  11. Saya paling suka mendaki Gunung Rinjani the best mountain in indonesia + alam lombok yang nan indah :)
    dah saya follow blog'a mba,gantian follow back blog saya ya

    ReplyDelete
  12. Mantapzzzz.....
    fotonya dibanyakin donk....

    ReplyDelete
  13. begh, edaaaann.. saya aja sampe sekarang belum kesampaian mo naik gunung, kapan2 ajak dong Mae.. :D

    ReplyDelete
  14. sam: untungnya saat itu *seingatku* tidak ada petir. kalo masalah mistis, aku baru tau ya sewaktu diberi tahu pas perjalanan ke denpasar itu..

    keven: bangettt.jarang-jarang kan liat sunset dari gunung..hehe

    mbak kenia: he'em.stuju banget.aku juga sangat bersyukur punya teman-teman seperti mereka. kalo bukan sama mereka, mungkin aku gak mau juga diajakin naik gunung, cewek sendiri pula.
    kalo masalah suara, aku tetep beranggapan kalo itu suara orang yang lagi jalan. tapi tak taulahh.. hehe

    bang adhi: lebih keren lagi kalo liat langsung bang. hehehe

    ReplyDelete
  15. fiction: aku bisa!!!tapi setelah sekian lama.hehe

    mas Gaphe: habisnya yang lain kalo gak salah lagi ujian. daripada nungu yang lain dan aku gak berangkat, mending berangkat dee.hehe
    quotesnya menyesatkan ya?? maap.maap...hehe :P

    lain: sangatttt!!! dan dari dulu emang aku pengen banget liat sunset diatas gunung. ^^

    wawank: halo wawank.. trimakasih. salam kenal jugaa :)

    ReplyDelete
  16. andy: belum pernah ke rinjanii. paling jauh ya ke bali inii, sisanya di jawa ajah. pengeeeennn sangaatttttt :D

    Tuyi: foto yang lain gak terlalu bagus nih, makanya aku cuma tunjukin beberapa. maaaf yaaaa :)

    Dhenok: hemmmm.. setelah kejadian dipuncak dkk, masih mikir2 lagi kalo pengen balik ke Agung.hehe

    ReplyDelete
  17. salah satu artikel yg ku ikuti adalah ini, dan pesan moralnya, pendakian gunung bisa merubah moral atau juga dipaksa berubah moralnya, dari pasif menjadi aktif dan bhs kami menjadi pendaki syariah..heee....Gunung Agunung salah satu dari gunung heroik ku masa itu...dan sulit di lupakan alamnya dan kearifan lokalnya... Besakih dan Agung bagai mata uang ada di dua sisi. Intinya...hebatnya milik Sang Maha Punya Mayapada..Allah Swt...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wussss... pendaki syari'ah. Keren juga itu bahasanya mas Adit ;)
      Sama deh ya. Pendakian gunung Agung ini jadi salah satu perjalanan yang paling berkesan.
      Dan dari pendakian ini, aku jadi sukak banget sama Bali. Ahh,. I love Bali, another side of Bali actually ;)

      Delete
  18. baru baca ceritanya, part 1 - 3,, seru banget,, saya hampir setahun belum pernah muncak ke gunung agung,, jadi pengen :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih yaaaaa ;)
      Buruan berangkat kalo gitu. Keburu kepengennya lumutan. :))

      Delete
  19. aanndutz superiorsMay 08, 2012 11:55 PM

    ....mbak arma. . sampeyan gen berapa . . ? besok sabtu 12 mei 2012 dikjut gen 25. .bisa ikut gag?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya generasi 19 Adek,. ini siapa ya??
      pengeeen ikuuut, tapi situasi dan kondisi sedang tidak memungkinkan. Lagi di luar Jawa nih.
      Titip salam buat yang lain aja yaaa, moga sukses acaranya ;)

      Delete
  20. aanndutz superiorsMay 09, 2012 3:37 PM

    saya aan (ateng) generasi 23. .
    wah , ,mbak kuliah di mana emange koq di luar jawa?
    ya. . kalau dikjut gini biasae mas salim in action. .hihi
    insya allah tak sampe.in ke alumni alumni mbak . . :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoo.. salam kenal Aan..
      Saya sudah selesai kuliah, sekarang lagi kerja di NTB :D
      :-bd
      Salam buat Salim dan yg lain yaaaa. Saya dengar dikjut diadakan di Sekapuk (lagi) ya? Alumni yg lain sudah berapa orang yg confirm datang?

      Delete
    2. aanndutz superiorsMay 10, 2012 10:08 AM

      wah keren. . emang kerja apa di NTB nya?
      wah kayake ndek lamongan mbak tpi gatau juga kalau di pindah ke sekapuk. . hihi :D
      wah kayake se dikit mbak soale uts. . tpi ya berharap alumni yang datang bnyak mbak. . hihihi. .
      kalau mbak pulang ke gresik maen ya ke majapala yang ''angker''. . . .hihihi

      Delete
    3. Kerja di NGO dek.. *Saya harap kamu gak tanya NGO itu apa. Sudah capek saya jelaskan. :))*

      Lohh lohh.. waktunya sudah dekat kok tempatnya masih belum jelas tho?? :-?

      Yaaaa, semoga banyak yang datang. Di smsin aja satu-satu. Kalo toh memang gak bisa, pasti karena ada acara lain yg gak bisa ditinggalkan.

      :o
      Angker??? Whaowww... kenapa bisa begitu? Apakah karena gak ada lagi yg sering menyambangi??

      Delete
    4. aanndutz superiorsMay 11, 2012 12:29 AM

      hehe udah ketahuan . . NGO itu apa mbak? singkatan n prospek kerjanya aja deh. . hihi

      soalnya aq bingung kata panitia ndek lamongan tapi katae mbak ndek sekapuk. . :)

      amin. . tpi pesertae dikjut cuma 11 anak mbak. . :D

      angker karena penghuninya saat ini (gen 24 n 25) penguasa sekolah rata rata

      Delete
    5. Monggoo, dibaca sajaaa di http://aarmaee.blogspot.com/2012/01/ingin-bisa-join-di-ngo.html yaaaa ;)

      Aku juga dengarnya dari salah satu alumni generasiku yang ada di Surabaya. Gak tau deh mana yang bener. Hehe... Sudah sudah, jangan ikuti saya. Ini sesat :p

      Lohh lohh.. peserta dikjut itu gak masalah. 11 tapi berkualitas lebih baik daripada 50 orang. Yang penting gimana caranya bikin mereka bisa terus komit sama organisasi. Eniwey, dari 11 orang itu, yang cowok berapa???

      Hooo... penguasa sekolah. Emang lagi musim yaa penguasa2 gitu?? Hihihi...

      Delete
  21. aanndutz superiorsMay 12, 2012 8:17 AM

    jadinya ndek lamongan mbak. . hihihi

    dari 11 anak. . lakinya 7 n ceweknya 4

    iya ketua osis .. ketua pk. . ketua 1 osis . .ketua robotika semuanua anak majapala. . . :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuihh.. mantaaabb. Akhirnya banyak cowoknya dari pada ceweknya. :-bd

      Whaaaaaaaaaaowwww... kereeeeennn. Jadi mendominasi donk yaaa. Tapi gak dianak tirikan kan Majapalanyaaa?
      Yah, semoga bisa mencetak generasi2 baru yg lebih lebih lebih dan lebih baik lagi ;)

      Delete

Speak Up...!!! :D