05 September 2011

Booking Tanah Berukuran Satu Kali Dua Meter

sykur alhamdulillah,. setelah kurang lebih satu setengah tahun berlalu, akhirnya punya kesempatan lagi untuk menginjakkan kaki di tanah Borneo, tepatnya di Kabupaten Tanah Bumbu, propinsi Kalimantan Selatan. tentang kalimantan ini, sebenarnya pernah aku bahas di postingan yang ini. dan yappp,. aku memang gak pernah tinggal disini. namun mama dan papa, serta kakak tinggal disini. kalau di Malang itu tempat kuliah, sedangkan kalau di Gresik itu tempat tinggalku yang sebenarnya. dan disana, aku tinggal bersama dua orang tanteku. gituuuu cerita singkatnyaa..

H+1 lebaran, aku bersama mama, papa, kakak, dan dua orang adikku ziarah ke makan nenek dan kakek dari papa. ini bukan yang pertama aku melakukan ziarah bersama keluarga. dan setiap ada kesempatan untuk kesini (kalimantan), papa selalu menyempatkan mengajakku untuk berziarah ke makam beliau berdua.

nenek dan kakek dimakamkan di tempat yang berbeda. kakek dimakamkan di desa Betung, kabupaten Tanah Bumbu, sedangkan nenekku dimakamkan di desa Wirittasi', Pagatan, kabupaten yang sama. keduanya memiliki karakteristik daerah yang berbeda. Betung, merupakan daerah yang agak tinggi, dan jauh dari pantai. orang-orang disini, sering menyebut 'ke atas' jika ingin ke daerah Betung dan sekitarnya. yaa,. mungkin itu tadi, karena daerah tersebut memang agak tinggi dibandingkan dengan yang lain. sedangkan desa Wirittasi' sendiri, sebenarnya adalah bahasa bugis (aku keturunan bugis, dan sebagian besar orang-orang di Pagatan, termasuk rumahku, juga sebenarnya berdarah bugis namun sudah bertransmigrasi ke kalimantan sejak lama). berdasarkan katanya, 'Wiring' (bahasa bugis Pagatan) atau 'Hiring' dalam bahasa bugis asli (bukan bugis Pagatan) artinya adalah tepi, dan 'Tasi' artinya adalah laut. ini memang bahasa bugis kawan, tapi sedikit berbeda dengan bahasa bugis makassar, walaupun ada beberapa persamaan juga. nanti lah aku bahas di postingan yang lain tentang perbedaan ini. okee?? nah,. sekarang kembali ke kata Wirittasi' itu sendiri, yang jika di gabung, maka artinya adalah 'Tepi Laut', atau kita sering menyebutnya dengan pantai.

pemberian nama ini pastinya disesuaikan dengan daerahnya. dan benar saja. desa Wirittasi' ini, letaknya memang tepat di tepi laut. bahkan dari pemakaman nenek yang letaknya di desa tersebut, aku bisa dengan jelas melihat laut, merasakan hembusan anginnya, serta mendengar suara debur ombak.
gerbang masuk ke desa Wirittasi'


aku tidak tau sejak kapan aku memiliki keinginan seperti ini. yang pasti, ini keinginan sudah aku tanam sejak lama. dan sempat terlupa, namun teringat kembali saat beberapa hari yang lalu berziarah ke makam nenek. aku punya keinginan, jika aku meninggal nanti, aku dimakamkan di pemakaman desa Wirittasi' ini. kalau bisa sih berdampingan dengan nenek. tapi sepertinya tidak mungkin, karena di sebelah kanan kiri, dan sekitar makam nenek sudah penuh oleh makam keluarga yang lain.

oia,. kau tau kenapa aku punya keinginan seperti ini???
yahh,. menurutku tidak jauh dari karakteristik desa Wirittasi' sendiri. dari pemakaman itu, aku bisa langsung melihat laut. dari pemakaman itu, aku bisa merasakan hembusan angin laut. dari pemakaman itu pula, aku bisa mendengar deburan ombak, yang, jika malam tiba benar-benar bisa menguasai ruang dengarku sepenuhnya. sebegitu gila nya kahh aku dengan laut??? mungkin saja. pastinya aku tetap menyukai laut--dan pantai--dari jauh. dari jauh saja, karena aku memang tidak suka terlalu dekat. dan sepertinya, pemakaman itu merupakan tempat yang paling cocok untukku, untuk rumah masa depanku. oia,. ada satu lagi alasan mengapa aku ingin membangun rumah masa depanku disana, karena di pemakaman itu, tanah yang digunakan serupa dengan pasir pantai. sangat halus, butir-butirannya jelas, namun agak sedikit lembab dan gelap. dan aku sangat suka itu.

terakhir ke pemakaman itu beberapa waktu yang lalu, aku lihat pemakamannya sudah penuh. bahkan kata salah satu orang yang kutemui di pemakaman itu (belakangan baru aku tau kalau ternyata beliau masih ada hubungan keluarga denganku), ada beberapa jenazah yang dimakamkan di bekas makam orang lain. aku lupa istilahnya, jadi semacam di tumpuk begitu. hmmm.. sepertinya aku harus berjuang keras untuk mendapatkan tanah sekira berukuran satu kali dua meter di pemakaman itu. haruskan aku booking dulu dari sekarang ya??? O.o

4 comments:

  1. wwkkwkwkw.. dikira apa ya...
    ternyata rumah masa depan..
    jdudlnya menggemaskan ya..
    hahah

    ReplyDelete
  2. biar tambah adem, ntar di dalam (tanah bookingan-nya) dipasang AC sekalian... hehe :p

    ReplyDelete
  3. Wah, bagi saya sih, ntar dimakamkan di manapun sama aja. :)
    Toh nanti saya kalo udah meninggal gak akan bisa menikmati pemandangan luar lagi.

    Tapi sebenarnya ada juga keuntungan dari makam satu keluarga yang satu kompleks pemakaman. Kalo mau ziarah gak usah ke lebih dari satu pemakanan, jadi gak perlu repot perjalanan. :)

    ReplyDelete
  4. aab elkarimi: hehehe.. maaf kalo judulnya menipu :D

    bang Adhi: mmmhh,. global warming bang, pake kipas tangan aja dee.hehe :P

    Asop: sempat terpikir seperti itu juga siii.. tapi bener juga katamu. enak kalo sekeluarga deketan. kali aja ntar di dalem bisa silaturrahmi jugak. nenek meninggal sebelum aku lahir, jadinya gak sempet ketemu.. lhoh?!?! hehe :P

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D