16 September 2011

First Love ~ Just Enjoy this 'Moment Shit Waiting'

Entah karena bawaan panik waktu Cia nyatain perasaannya ke aku atau kesambet setan yang hobi curhat, akhirnya aku putuskan untuk menceritakan semua ke mama. Biasalaahh,. Sudah jadi hukum alam rasanya kalo seorang anak cowok lebih dekat dengan mamanya dan anak cewek lebih dekat dengan papanya. Dan gak tau juga dapet kekuatan dari mana, aku menceritakan hal tersebut dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya.

“Mam,. Ada yang pengen aku ceritain…”
“ada apa? Cerita aja…”
“tentang pacaran…”

Dan hening

“well,. Ada yang datang…”
“lalu??? Ada masalah?”
“ada. Masalahnya adalah aku juga sukak…”, dengan suara yang semakin pelan dan redup.
“hmmmm,… coba kasih tau mama apa yang kamu suka dari dia?”

Untuk sejenak aku diam dan berpikir

“nggak tau. Nggak ada mungkin…”
“nahh,. Disuruh menyebutkan apa yang disukai saja masih bingung… jadi?”
“jadi???”
“mama gak pernah ngelarang kamu pacaran, Keven,.. Sama sekali gak pernah. Tapi yang mama tau, pacaran adalah salah satu usaha kita untuk bisa mengenal orang lain, orang yang nantinya akan bersama kita, dan menjalani hidup dengan kita. Inget pesan mama yah Kev, jangan sampai kamu menikah dengan orang yang tidak kamu kenal. Tapi, untuk saat ini, mama tanya, apakah kamu sudah siap untuk menikah?”

Buseett,. Baru SMP dan bau kencur uda ditanyain macem begituan. Jadi mikir lagi kenapa tadi curhatnya ke mama >,<

“belum lah mam,. Masih sekolah ini…”
“yasudah,. Kalau memang kamu mau pacaran sekarang, ya gak papa. Tapi sekarang coba di pikir dulu, kamu masih SMP, belum SMA, trus kuliah, habis gitu kerja,. Lama sekali ya pacarannya???”

Dan diskusi malam itu berakhir. Dan beruntungnya aku jadi tidak menyesali apapun keputusanku untuk cerita ke mama. Sedikit banyak hal tersebut bisa membantu.

17 November 2001

hari yang sudah kunantikan sejak hampir setahun lamanya akhirnya datang juga. Cia udah di Jakarta sejak seminggu yang lalu. Dan hari ini, dia berencana untuk ke Bandung, dan aku sudah bikin janji dengannya untuk ketemuan disuatu tempat. Dengan berbekal foto yang sudah aku cetak, plus info umum layaknya orang mau ber-kopi darat, setelan baju warna ini dengan bawahan gini dan aksesoris seperti ini aku menyambut datangnya sore itu.

Yang aku rasakan??? Panik, bingung, seneng, gak sabar, takut, semua campur aduk jadi satu. Dari kemarin-kemarin udah senewen ajah. Makan gak enak, tidurpun tak nyenyak. Mama yang merhatiin aku malah lebih bingung lagi. Tapi beliau tau, aku bingung karena terlalu senang, bukan bingung seperti kejadian beberapa tahun yang lalu. Jadi yaa,. Dibiarin aja aku bingung sendirian. Huhhh… !!!

Oia,. Aku mau sedikit cerita. Sebelum Cia datang ke Indonesia, aku sudah sampaikan ke dia, bahwa aku gak akan jawab pertanyaannya di telpon tempo hari sebelum aku bisa ketemu langsung dengan dia. Dan mungkin hal itu pula yang membuat aku sangat panik. Bahkan sampai saat ini, hingga waktu pertemuanku dengannya tinggal menghitung jam, aku belum bisa memutuskan apa-apa. Hanya bisa berharap supaya dikasih petunjuk sama yang diatas tentang apa yang akan terjadi nanti. Berasa mimpi buruk??? Iya. Sangat. Berasa dream come true??? Lebih iya lagi kalo yang ini.hehe..


Tepat jam setengah tiga sore aku ninggalin rumah, buat ketempat yang sudah kami tentukan untuk ketemuan yang jaraknya hanya sekitar beberapa kilometer dari rumahku. Tempat itu sebuah taman, yang sangat asri, terletek ditengah perumahan milik salah satu perusahaan swasta terbesar di Bandung. Dibagian tengahnya ada semacam bundaran yang ada air mancurnya, yang entah kenapa jugak gak pernah berhenti buat muncratin air dengan ketinggian sekitar tiga meter. Disekeliling air mancur tersebut terdapat jalan melingkar berpaving yang bagian tepinya dikelilingi bunga berwarna warni. Taman itu berbentuk persegi. Ada beberpa patung hewan besar di beberapa sudutnya, sebut saja gajah, dan jerapah. Ada juga beberapa ayunan, baik yang berhadapan maupun yang hanya untuk satu orang namun berjajar tiga buah. Tepat disebelah timur air mancur, terdapat satu set permainan untuk anak anak, berupa jembatan gantung, permainan naik-turun tangga yang aku gak tau namanya, perjalanan ke lorong-lorong berpagar yang nantinya berujung pada beberapa perosotan dengan ketinggian yang bervariasi, serta bak pasir yang merupakan lokasi pendaratan yang sangat sempurna. Dan dibagian paling barat, ada dua lapangan kecil, yang satu lengkap dengan ring basket yang berukuran lebih kecil dan lebih rendah daripada ring basket pada umumnya. Disebelahnya lagi, dengan arah yang saling silang, ada sebuah lapangan yang multifungsi, terbukti dengan beberapa garis berbeda warna yang terdapat dilapangan tersebut. Terkadang aku melihat ibu-ibu yang tinggal di kompleks perumahan tersebut bermain bola voli, namun ada kalanya juga anak-anak muda dengan riuhnya bermain sepak bola, dengan batasan gawang sekenanya pastinya, misalnya dengan menumpuk beberapa alas kaki atau batu yang didapat di sekitar taman.

Kalau menjelang sore, taman tersebut biasanya akan ramai dikunjungi orang, baik yang hanya berjalan-jalan saja, atau mengantarkan adik kecil mereka untuk bermain perosotan dan ayunan. Ada pula beberapa penjual makanan kecil, misalnya es krim dan bakso. Tapi sore itu, setibanya aku di taman, Nampak tidak terlalu banyak orang yang kutemui. Hanya ada beberapa beberapa orang mbak-mbak yang duduk di gazebo sebelah selatan, serta seorang lagi sedang menjaga adik perempuannya yang ingin mecoba perosotan tertinggi. Juga seorang penjual es krim walls keliling.

Aku memilih duduk di ayunan sebelah utara, tepat dibawah pohon beringin yang akarnya sudah menggantung cukup panjang, menunjukkan bahwa pohon itu sudah berdiri sejak lama. Sepertinya aku datang terlalu cepat. Karena begitu tiba di lokasi, waktu masih menunjukkan jam tiga kurang tujuh menit, sedangkan aku dan Cia berjanji untuk bertemu di taman itu jam setengah empat. Hmmm,.. tak apalah. Aku sudah menunggu momen ini sejak lama. tak akan ada bedanya jika aku harus menunggu beberapa menit lagi.

Tepat jam setengah empat sore itu, tiba-tiba ada seorang gadis menaiki ayunan di sebelahku, dengan arah yang berlawanan. Dengan kaos lengan pendek berwarna abu-abu tua, serta celana jeans hitam selutut yang bagian ujungnya ada tali menjuntai membentuk pita yang cantik, dia mulai menggerakkan ayunan yang dinaikinya. Mulanya aku bingung harus bersikap seperti apa, karena aku tau, orang yang ada disampingku inilah yang sedang aku tunggu sedari tadi, ohh,. Bukan. Sedari beberapa bulan dan beberapa tahun yang lalu.

“Apa kabar Kev…?”, suaranya timbul tenggelam mengikuti gerakannya menggerakkan kaki agar ayunan tersebut tetap bergerak kedepan dan kebelakang.
“ha???”, ughh,. Gak di telpon gak ketemu, sama aja responnya!!!
Gadis disebelahku lantas tersenyum. Mungkin karena melihat wajahku yang terlampau begok atau kupingku yang rada’ gak beres karena responku yang seperti itu.

Mendadak hening. Dia tidak lagi mengulang pertanyaannya, tapi terlihat olehku bahwa dia berusaha untuk menghentikan laju ayunannya. Aku lantas berdiri, menuju si penjual es krim yang sedari tadi duduk manis sambil membunyikan lagu-lagu khas produknya yang sudah ku hafal sejak lama. tidak lama kemudian, dua buah conello classic sudah berada di tanganku.

Sambil berjalan menuju tempatku semula, mataku hanya tertuju pada kedua buah es krim yang baru saja kubeli. Sejujurnya aku katakan, aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa setelah ini. Karena yang sedari tadi kupikirkan hanya, pada saat dia datang, aku akan membelikannya es krim. Sudah itu saja. Tanpa tau dari mana harus memulai obrolan, karena memang rasanya sangat berbeda. Sekalipun kami sudah pernah beberapa kali berkomunikasi langsung lewat telepon, tapi yang ini benar-benar berbeda. Dan lagi-lagi aku merasa panik.

“tadi naik apa kesini?”, ahh,. Akhirnya dia berbicara juga setelah ayunannya benar-benar berhenti.
“naik sepeda. Tuh….”, sambil menunjuk tempat parkir khusus yang sudah disiapkan untuk pengunjung di taman tersebut. “kamu???”
“oh,. Aku tadi diantar. Tapi sekarang ditinggal pulang. Katanya nanti kalau sudah selesai mereka akan menjemputku…”
“Oooo…”, dan hening lagi. Ughhhhh….

“so…? Ada yang mau kau sampaikan?”, entah karena pengaruh usia atau yang lain, sepertinya Cia lebih bisa menguasai situasi, dan emosi pastinya.

“bagaimana kabarmu?”, haduuuhh,. Gak ada yang lebih keren apa Kev tanya’nya???
Sambil tersenyum dan membuka bungkusan es krim ditangannya, Cia mulai membuka suara,
“aku baik,... heyy… ini tamannya asri sekali, sepertinya sepanjang aku di Jakarta kemarin gak pernah ketemu tempat seteduh ini….”
Yaaa iyalaaahh teduh,. Pohon beringinnya aja segitu gede!!! *ups*
“iya,.. aku sukak banget sama tempat ini. Dulu pertama kali kesini sama papa, pas aku masih kecil dan mau belajar naik sepeda…”

Dan akhirnya keakraban itupun kembali. Keakraban yang awalnya kubayangkan hanya akan ada di chat atau di telepon, akhirnya bisa muncul juga di dunia nyata. Kami saling mengobrol satu sama lain, apa saja kami ceritakan, bahkan seingatku, ada beberapa hal yang kami bahas yang sebelumnya sudah pernah kami obrolkan lewat chat, tapi mengulang semua itu menurutku bukan suatu hal yang merugikan. Karena pastinya berbeda sekali saat mengobrol lewat tulisan, telepon, ataupun bertemu langsung. Mata seseorang itu bisa berbicara. Senyum yang tersungging dengan tulusnya itupun bisa berbicara. Bahkan mungkin bisa jauh lebih jujur dari kata yang terucap oleh sebuah lidah manusia. Itulah pentingnya bertemu, itulah pentingnya berbicara langsung (dan berbicara lewat telepon tidak termasuk dalam hal ini lo yaa…), karena aku merasa akan mendapatkan banyak hal lebih, disamping apapun yang kami bicarakan sore itu.

Suara Cia renyah sekali (sejujurnya aku agak bingung mendeskripsikan renyah ini seperti apa), jauh lebih renyah dan menyenangkan daripada di telpon. Dia tak henti-hentinya tertawa saat mendengarkanku bercerita, tentang belajar naik sepeda, tentang nyasar waktu pulang ke rumah naik angkot, dan lain sebagainya. Aku juga bingung sebenarnya, bagaimana bisa aku bicara sebanyak itu didepannya??? O.o

“aku punya banyak mimpi…”, mendengar hal itu tiba-tiba tawa Cia terhenti. Hening.
“dan aku ingin mengejarnya…”, hanya bisa tertunduk saat mengatakan ini. Aku tau persis kalau Cia sedang memperhatikanku, sekalipun aku tidak memandangnya. Tapi jujur, aku mengatakan yang sebenarnya aku rasakan. Memalingkan muka dari wajahnya bukan berarti aku bohong, aku hanya takut aku tidak mampu menyampaikan apa yang seharusnya akan aku sampaikan.
“aku punya mimpi, dan terimakasih banyak kamu sudah mengembalikan ingatanku atas mimpi-mimpiku itu…”
Cia hanya diam, mungkin dia memberi kesempatan padaku untuk berbicara.
“aku ingin jadi orang,... aku gak mau jadi sandal, walaupun saat ini aku bukan sandal. Tapi yang aku tau, sekarang aku masih bukan siapa-siapa…”, yang terpikir hanya itu, karena saat itu mataku tajam tertuju pada sandal yang ada dibawahku.
“aku pengen kamu percaya, kalo suatu saat aku bakal jadi orang. Dengan begitu aku juga akan lebih mudah untuk mempercayai mimpiku yang satu itu. Dan kalau saat itu tiba, aku ingin bisa datang lagi ke kamu,… dengan segala kelebihan dan kekurangan yang aku punya. Aku akan jadi orang,.. dan aku yakin aku bisa…”

Selang beberapa detik, aku baru berani untuk mengangkat kepalaku. Dan saat itu juga, aku melihat senyumnya, sangat manis. Senyum paling manis yang pernah kulihat sepanjang aku bisa melihat. Cia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tapi aku tau, aku tau arti senyuman yang ia berikan itu. Dan semua itu sudah cukup…

‘terimakasih telah memberikanku tidur yang sangat nyenyak dan mimpi yang sangat indah untuk malam ini, sesuatu yang beberapa hari ini hilang, hanya untuk menanti kedatanganmu’

***

Perjuangan belum berakhir. Aku masih meraih mimpi-mimpiku. Satu demi satu, perlahan tapi pasti, wishlist yang kubuat ku coret dengan spidol merah, pertanda aku sudah menggapainya. Tapi semakin banyak ku coret, semakin banyak pula yang ku tulis. Hanya bisa berharap, cepat atau lambat saat-saat menjadi ‘ORANG’ itu akan datang, pasti. Dan aku masih menyimpannya, dan mengingatnya disudut memori di otakku, serangkaian angka belasan digit yang akan mengantarkanku padanya. Aku akan selalu ingat, dan mungkin yang pertama kali akan kuingat saat pertama kali aku jadi orang. NANTI. SUATU SAAT. Dan PASTI!!!.


tulisan ini diikutsertakan dalam lomba "First Love ~ Create Your Own Ending" yang diadakan oleh Emotional Flutter dan Sequin Sakura 

26 comments:

  1. Jadi intinya si Cia ditolak ya?

    Nice story, settingnya detail banget
    Thanks ya udah ikutan ;p

    ReplyDelete
  2. intinya,.. silahkan perkirakan sendiri. pastinya seperti katamu juga Kev, aku gak terlalu sukak cerita yang 'terlalu' happy ending. hehe..

    tengkyuuuu *ngarep onigiriiiiii* :D

    ReplyDelete
  3. wah iyah bener...
    setting tempatnya detail banget,sampai2 gw kira udah gw udah ada disana..

    nice story :)
    good luck for u :)

    ReplyDelete
  4. teteh ikutan, juga bukan. dikira pas baca awalnya kisahnya teteh,
    tahunya nerusin sambungan,tapi keren>.<mau belajar kya teteh ah.

    ReplyDelete
  5. arma arma arma arma.....

    1 kata ma... SSssUgooiii....!!!!

    ga nyangka sahabat yg satu ni bisa nyerpen juga....

    tak support ma!! *gaya siap bwa spanduk poster kampanye

    nb: eh bikinin cerpen tntg kisah awak dong..wkwkwkwk

    ReplyDelete
  6. wkwkwkwk.. lagi musim nih, demam curhat :D

    ReplyDelete
  7. semoga menang ya mbak,..kalo aku jurinya, bakal bingung deh :)

    oia, maaf lahir batin dulu ya..maaf baru berkunjung :)

    ReplyDelete
  8. semoga menang ya mbak,..kalo aku jurinya, bakal bingung deh :)

    oia, maaf lahir batin dulu ya..maaf baru berkunjung :)

    ReplyDelete
  9. setuju dengan teman di atas, detail sangat! serasa aku ada di sana (serasa jd tukang eskrim yg melihat mreka) :)

    ReplyDelete
  10. Mantapz ceritanya.......
    Terhibur...terhibur....hehehehehe

    ReplyDelete
  11. coba settingannya digunung Ma, kan kamu suka tuh berkelana ke gunung.. hehe :D

    ReplyDelete
  12. hwaaaa... banyak banget yang kasi dukungan. trimakasih atas doa dan dukungannya yhaaaaa... *beneran deh ngarep banget tuh sama si onigiri.hehehe...

    edja: cerpen tentangmu?? hmmm.. perlu wawancara eksklusif dulu rasanya. oia,. makasih buat inspirasi judulnyaaaa...hehe

    mas Andy: kayak sampean gak lagi demam curhat aja. hohoho...

    mbak kenia: sama2. minal aidin wal faidzin jugakkk *kangen sudah lama gak muncul*

    dhenok: mmmmhh,. gak ada modal kalo ke gunung. kan settingnya masi SMP.hehe,.. enwy, kita pernah kenal kah sebelumnya?? kok kamu tau? -_-"

    ReplyDelete
  13. wah berbakat jadi penulis nih kamu :D wkwkkwkwkwk terimalah komen spam dari saya ini

    ReplyDelete
  14. ihiyyyy si keven jual mahal buakakakakaka

    ReplyDelete
  15. andanda: trimakasiii,. dan aku terima dengan lapang dada spam-mu.hehehe

    inggit: hahaha.. iya tuh. *sambil ngebayangin si keven sok jaim :p

    ReplyDelete
  16. Senang berada disini, cerita2nya bisa membawa ku seakan berada di antara tokoh2nya... inilah khasanah blogger nusantara yang unik punya ciri khas masing..

    ReplyDelete
  17. alpha: trimakasih banyaak :)

    mjumani: aku juga sangat senang kalau pembaca bisa merasa ikut ambil bagian dalam tokoh yang ku tulis. trimakasih banyak yaaa :)

    ReplyDelete
  18. ceritanya bagus. semoga bisa dikembangkan lebih jauh lagi, syukur bisa diterbitkan...

    salam kenal...

    ReplyDelete
  19. amiiiiiiiiinnnn... trimakasih farel,.. salam kenal jugak :)

    ReplyDelete
  20. keren ceritanya...

    senang bisa baca-baca di sini.. hehee

    ReplyDelete
  21. trimakasih ikbal,.. salam kenal :)

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D