02 September 2011

Menyambung Silaturrahmi yang Hampir--atau Bahkan Sudah Putus itu Sulit...!!!

aku ingin bercerita...
*akhirnya mulai dengan satu cerita ini, dan semoga bisa menyambung ke cerita-cerita selanjutnya dan gak hanya bercokol disini!!!*

ada satu hal, yang sungguh sampai sekarang aku sedikit banyak masih belum terlalu percaya kalau aku sudah melakukannya. entah apakah ini termasuk salah satu bentuk kebanggan terhadap diri sendiri (baca: sombong), atau bentuk lain yang lebih menyebalkan berupa usaha untuk merendahkan diri sendiri (gak yakin kalo bisa, dan ikhlas!!!). tak tau lah,. terserah mau menilai seperti apa. aku hanya ingin bercerita.

beberapa waktu yang lalu, masih di bulan yang suci, terdorong oleh situasi dan kondisi yang akan sesegera mungkin (harapanku) meninggalkan Malang karena entah kenapa sudah mulai muak dengan kota itu, terutama di bagian akhir, yang, tetap tidak akan menghapus secuilpun keindahan yang kudapatkan disana, aku memutuskan untuk mengunjungi seseorang--dan beberapa--teman yang sudah lama tak ku sua--serta berharap dapat menyelesaikan entah apa yang tertunda.

yang aku rasakan: SANGAT SANGAT SANGAAAAAAAAAATTT BERAT.

well,. jujur aku katakan, aku bukan tipe orang yang suka memulai pembicaraan *pernah aku singgung di postingan yang ini*, pun begitu juga dengan memulai mengirim pesan singkat lewat Hp, telpon, atau main ke rumah teman, tanpa maksud dan tujuan yang jelas. bahasa singkatnya adalah aku bukan tipe orang yang bisa basa-basi. dan jujur aku katakan aku benci basa-basi. dan menurutku, untuk memulai kunjungan ini, aku memang harus belajar--setidaknya saat ini--untuk memulai basa-basi. yahhh,. memang tidak tertulis di undang-undang dasar 1945 tentang peraturan basa-basi, namun entah kenapa nuraniku sebagai manusia memaksaku untuk melakukan itu. konyol rasanya jika aku yang memulai kunjungan, sendirian, tanpat tau harus berbuat apa, namun aku hanya duduk terdiam sambil menikmati permainan tetris di Hpku.

semenjak kupacu si hitam di jalanan kota Malang yang cukup lengang karena waktu sudah menunjukkan jam delapan malam lebih, perasaan tidak tenang sudah melingkupi hati dan pikiranku.

"apa yang harus aku katakan nanti???"

"bagaimana caraku memulai pembicaraan???"

"akankah dia dan dia dan mereka menghiraukanku???"

pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban sebenarnya. karena secara tidak langsung semua itu akan terjawab jika aku sudah bertemu dengan mereka *well,. kuputuskan menyebut mereka, karena sepertinya memang tidak hanya berurusan dengan satu orang saja*. sepanjang jalan itu pula tak berhenti kuedarkan pandangan ke tepi jalan, sambil mencari-cari jikalau ada penjual singkong keju yang pernah aku beli *setauku mereka menyukai singkong keju, kepalaku mengatakan mungkin ini akan sedikit membantu mencairkan suasana*. namun, hingga aku sampai ditempat tujuan, tak juga kutemukan singkong keju tersebut. awalnya aku ingin membelikan martabak telor saja, yang sedari tadi penjualnya berderet di sepanjang jalan. namun sialnya uang di dompetku hanya tersisa selembar sepuluh ribu. cukup untuk membeli sebuah martabak berukuran mini, yang pastinya tidak akan cukup untuk mereka semua. akhirnya aku lewati tempat tujuanku, dan sekira tiga ratus meter kedepan aku melihat penjual roti bakar. aku berhenti. melihat daftar harga, dan ternyata pilihan yang sesuai dengan kantongku hanya roti bakar coklat strawberry. aku pesan satu.

"mas,. aku di depan..."

kurang lebih seperti itu pesan singkat yang kusampaikan setiba aku didepan rumah berpagar tinggi itu. tidak banyak perubahan yang terjadi, walaupun sudah sekitar enam bulan aku tidak bertandang kesana. lama tak mendapat jawaban, aku beranikan diri untuk turun dan menuju pintu depan--sambil membawa sebungkus roti bakar.

'tok..tok..tokk..'

terlihat dari luar ada seseorang yang menuju pintu, dan benar saja, sesosok yang ku kenal namun lama tak ku jumpa berdiri tepat di baliknya.

"Assalamualaikum..." ucapku sambil mencoba merilekskan diri, tapi sungguh, benar-benar kaku rasanya seluruh otot tubuh ini.

"ehh,.. ada ******,. dari mana ini,. tumbenn..."
basa basi ala Indonesia, dan akupun menjawab dengan basa basi yang amat sangat gak banget jugak menurutku.

tanya apa kabar, lagi sibuk apa, n bla bla bla mengawali obrolan kami, tak perlu kuceritakan disini apa yang kami obrolkan, karena khusus konsumsi pribadi. tapi sungguh benar, itu pertama kalinya aku merasa tidak nyaman di tempat yang dulunya membuat aku serasa di kosan kedua *setelah kosanku sendiri pastinya*. sampai pada masanya dimana jam ditanganku menunjukkan angka 8.57am. aku pamit pulang, sekalian pamit bahwa setelah itu tidak tinggal di Malang lagi karena kuliah sudah berakhir, dan tinggal menunggu wisuda saja. dan bagian terberat pastinya: berucap terimakasih serta minta maaf atas segala salah dan khilaf.

iseng, sambil bernada guyon aku tanyakan, "dimaafin gak???"

dan jawabannya benar-benar menusuk. deg!!! langsung diam seketika. kecuali air mata yang mulai merangsek keluar dari peraduannya.

aku lupa redaksinya seperti apa. tapi dari jawabannya, satu hal yang aku tangkap : gak semudah itu orang minta maaf lalu langsung dimaafkan!!!
  
jujur ku katakan *silahkan menilai aku tidak tau diri atau seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa atau orang idiot yang tidak menyadari kesalahannya*, tapi saat itu, aku meminta maaf memang benar-benar untuk sesuatu yang aku tidak tau apa. aku hanya tau, ada yang salah. ada yang gak beres. ada yang musti diselesaikan, namun aku tidak tau apa. aku benar-benar tidak tau apa-apa. dan ternyata perkiraanku benar, ada apa-apa. yang belum terselesaikan.

yaa,. permintaan maafku tidak diterima mungkin juga karena aku tidak tau sebenarnya aku minta maaf untuk apa *terlepas dari kesalahan-kesalahan yang lazim di lakukan dalam jalinan pertemanan (baca: guyonan yang terkadang agak berlebihan, dkk)*. dan yang aku rasakan saat itu, aku benar-benar bingung. jika aku menuruti egoku, mungkin aku bisa hanya diam saja, tidak berucap apapun. aku akan betah semalaman melakukan itu. tapi entah perintah dari mana, aku akhirnya berbicara. walaupun jarak antara temanku berbicara lalu menunggu jawaban dariku cukup lama. karena aku memang benar-benar berpikir tentang apa yang harus aku lakukan. apa yang harus aku katakan. bagaimana harus bersikap. ahhh,. semakin jelas saja kalau kemampuan bersosialisasiku sangat rendah.

akhirnya dengan kekuatan dan keberanian yang dibesar-besarkan *enggak tau dapetnya darimana*, aku mulai angkat bicara. aku sampaikan semua ke mereka, tentang apa yang aku rasa, ketidak tahuanku dan lain sebagainya, dan tanpa bisa ditahan, senjata pamungkas seorang wanita akhirnya keluar: AIR MATA. sambil terisak aku sampaikan apa yang ingin ku ketahui, apa yang kurasakan, hingga selesai, dan semua hening. aku hanya bisa diam--lagi. sambil beberapa kali mengusap mata dengan tisu yang sudah tidak berbentuk karena basah dan kuremas-remas sejak lama.

dan akhirnya merekapun berbicara. 

sesekali, jiwa berontakku muncul. ingin rasanya aku debat segala apa yang terucap dari mulut mereka. tapi alhamdulillah sisi lain dari diriku *yang benar-benar tidak aku sadari sebelumnya kalau ternyata kumiliki* menuntut untuk bersikap sebaliknya. entah mendapat ilmu dari mana, tapi seingatku pernah ada yang menyampaikan seperti ini,

"diamkan saja, iyakan apapun yang mereka katakan. merendahlah,. maka itu akan baik untuk semua"

disatu sisi aku bersyukur, aku bisa bersikap seperti malam itu. tapi disisi lain, aku ingin berontak. sungguh amat sangat tidak menyenangkan. dan akhirnya, yang aku lakukan hanya bersembunyi dibalik air mata yang tak kunjung reda. aku diam, terpekur, sambil tetap menyimak apapun yang ku dengar. berusaha memutar mesin waktu yang ada dikepalaku, sambil mencari-cari kebenaran dari apa yang mereka katakan. satu yang aku ingat, sungguh sangat sulit untuk menguasai diri dalam kondisi yang seperti itu. tapi aku tau, cepat atau lambat aku harus menghadapi hal yang seperti itu. dan sepertinya memang malam itulah waktu yang paling tepat.

butuh sekian menit untuk berpikir tentang apa yang harus kuucapkan. hati dan pikiranku sibuk menguasai diri, kuatir lava panas meletus begitu saja di tempat dan situasi yang tidak tepat. dan pada akhirnya aku hanya bisa berucap,. "maaf,..."

masih banyak yang aku pendam. masih banyak yang ingin kusampaikan. masih banyak yang ingin ku sanggah dan ku debat. tapi hati kecilku mengatakan tak perlulah aku melakukannya. satu hal yang aku lakukan malam itu sungguh sangat berat. dan jujur, aku sangat mengapresiasi diriku sendiri karena telah dengan berani melakukannya. aku, sungguh benar-benar tidak bisa percaya akan semua kejadian malam itu.

jam sebelas lebih, aku tinggalkan tempat itu. dengan penuh kebingungan karena tak tau harus kemana. malam sudah sangat larut. kosanku sudah dikunci. dan aku enggan kembali ke kosan dengan mata sembab seperti itu.

mereka mengantarku hingga depan, menjawab salam dariku, dan membiarkan aku pergi. yang aku rasakan, perlakuan itu jauh lebih hangat dibandingkan saat aku datang, walaupun tidak sehangat dulu,. beberapa bulan yang lalu.

belum sampai satu kilometer aku meninggalkan tempat itu, aku memilih untuk menepikan si hitam. aku diam, tersungkur, di stang motor. aku bingung. air mata semakin deras mengucur, tanpa mampu kubendung lagi. saat itu juga, aku telpon Mpus. Mpus panik, tau suaraku tidak senormal biasanya. dan saat itu juga dia langsung memutuskan untuk menemuiku di suatu tempat, tak jauh dari tempatku berhenti saat itu.

"kamu kenapa..??? ceritao..."

tapi bibirku kelu. aku hanya bilang kalau aku butuh tumpangan untuk tidur malam ini. dan aku akan menceritakan semua nanti.

Mpus mengajakku ke kosnya. lalu aku langsung masuk ke kamarnya, dan merebahkan diri di kasur. aku hanya diam, berusaha menenangkan diri, sambil memejamkan mata. Mpus harus pergi, dia kerja shift malam saat itu.

entah saat itu jam berapa, tapi bisa kupastikan aku belum tidur. sangat tidak nyaman untuk tidur dalam kondisi seperti itu. walaupun aku ingat, semasa kecil, aku sering sekali tidur dengan kondisi menangis, sekedar ngambek karena tidak diperbolehkan main di luar karena sudah malam. Mpus datang,. tau aku belum tidur, dia langsung membangunkanku dan menyuruhku duduk. dia memaksaku bercerita.

"akrab banget ya kamu sama temen-temenmu itu,. sampe jadinya kayak gini.."
dan menurutku mungkin itulah salah satu kesalahannya. aku ingat, dulu sekali, mama pernah berpesan padaku,

"jika berteman dengan orang lain, jangan sampai terlalu akrab. karena jika terlalu akrab, jika suatu saat ada masalah, maka akan sulit menyelesaikannya..."

dan sepertinya itulah yang sedang aku alami.

well,.. aku cuma bisa berucap maaf, dan aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. seorang teman lagi yang aku ceritakan tentang hal ini, namun reaksinya berbeda. sungguh jauh berbeda. namun apapun itu, aku tetap menghargainya.

satu yang aku tau, ternyata aku bisa melakukannya. sesuatu yang membayangkannya saja awalnya aku tidak sanggup. tapi alhamdulillah dapat terlaksana juga. sekalipun, sampai saat ini aku tidak tau bagaimana kelanjutannya. jika memang silaturrahmi itu tetap terjalin karena pertemua malam itu, semoga akan lebih baik daripada sebelumnya. namun jika tidak, semoga akhir dari semua ini (yakni pertemuan malam itu) minimal bisa menyelesaikan semuanya. dan sekali lagi, aku sampaikan, aku tidak bisa berjanji apa-apa.

pict captured from here


hhhmmm,. jadi ingat perkataan seorang teman,

"jangan pernah lupakan seorangpun yang pernah mengisi hidupmu. sekalipun mereka berperan sebagai musuhmu..."

15 comments:

  1. wuiih...sedih banget mae T.T
    emg susah harus menanggalkan harga diri utk minta maaf atas kesalahan yg entah apa #pengalaman haha :D

    tp salut sm kamu yg udah berani datengin tmn2 kamu utk minta maaf. seenggaknya km ud berusaha utk mpbaiki keadaan, ketimbang membuatnya tambah rusak. apalagi km ud mw pindah kota.

    ReplyDelete
  2. aku juga gak kalah sedih. apalagi mikirin setelah ini akan seperti apa.. :(

    tapi setiap dari kita pasti akan ada masanya seperti itu. makasih yaaa :)

    ReplyDelete
  3. weh si teteh ceritana meni begitu sedih.

    ReplyDelete
  4. meminta maaf hal yang cukup susah, maka begitu juga untuk memberi maaf, tapi... semoga semua akan kembali normal.

    `Ied Mubarok, maaf atas salah2 kata...

    ReplyDelete
  5. Wah, makasih Rie udah memberi pelajaran ke saya... Ini saya jadikan pelajaran... :|

    ReplyDelete
  6. Terkadang kita harus memaafkan, bukan karena kita lemah.. but because we realize everyone makes mistakes.
    Hearts will find peace when we are able to forgive.. jadilah pribadi yang anggun diatas ketulusan.

    mbak Armae sudah melakukan hal yang tepat :)

    ReplyDelete
  7. hai..hai... numpang...numpang...
    happy ied mubarak...
    mohon maaf lahir bathin.. :D

    ReplyDelete
  8. kaz: berbagi kesedihan itu perlu.hehehe

    Dimas Ady: amiin,. semoga lebih baik semuanya. minal aidin wal faidzin jugak yahh :)

    Febri: ini juga jadi salah satu pelajaran terpenting buatku.. :)

    Chilfia: amiin,. semoga memang ini yang terbaik yahh. makasi banyak atas dukungannyaa :D

    haloo Accilong,. minal aidin wal faidzin jugaaak :D

    ReplyDelete
  9. "jangan pernah lupakan seorangpun yang pernah mengisi hidupmu. sekalipun mereka berperan sebagai musuhmu..."

    Setuju sma kalimat ini, Mb :)

    ReplyDelete
  10. hmmm...cengeng...
    hmmm...pendiam...
    hmmm...pemalu...
    ngomong dong...ngomong...NGOMONG...
    ngomong dong apa yang kamu kehendaki,apa yang kamu mau,apa yang kamu inginkan...apa harapanmu...
    "kadang egois itu perlu"

    someone told me
    "pertemanan adalah segalanya...tapi bukan berarti seluruhnya...Seluruhnya itu ada batasan...batasan untuk diri sendiri dan batasan untuk dibagikan"

    ^friash

    ReplyDelete
  11. fanny: setuju bangett... -_-

    happy: aku juga setuju. hehehe.. dan semoga kita tidak akan melupakan seorangpun yang pernah mengisi hidup kita :)

    friash: iya aku diam, ia aku pemalu, ia aku cengeng. emang gitu kan?? tapi kan aku uda ngomong semua thoo.. :D

    ReplyDelete
  12. Gua masih berusaha menebak2 sepanjang membaca...ini tuh cerita soal teman atau mantan ya?

    Anyway, yg penting lu udah berusaha melakukan yg terbaik...jangan disesalin ya

    ReplyDelete
  13. Speechless sih, cuma daritadi ngebayangin kejadian kalo terjadi sama gue. Sedih ya, yg penting kamu udah berani minta maaf, itu udah keren :))

    ReplyDelete
  14. keven: iyaudah biar gak bingung ku kasih tau. ini tentang teman, bukan, sahabat. makanya aku bilangnya 'mereka',. karena memang tentang beberapa orang terdekat saat di malang :)

    aliv: makasih banyak yaaa atas dukungannyaa :)

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D