06 December 2011

dua kesempatan (bukan emas) yang terlewat

Beberapa waktu lalu akhirnya memutuskan untuk mulai mencari kerja. Jabatan baru, seorang ‘job seeker’, begitulah istilah keren yang aku katakan ke seorang teman, saat dia tanya, “sedang sibuk apa???”, dan teman itu langsung tersenyum mendengar jawabanku. Entah maksudnya apa, gak berani menduga juga.

Dua buah email akhirnya aku kirimkan, melalui beberapa situs pencari kerja *beginikah istilahnya???* di internet. Kata teman yang lain, ini boleh diandalkan. Usaha minimal, dengan hasil yang gak jelas—sepertinya tidak cocok dengan kata-kata diandalkan ya. Hehe

Satu buah map coklat tanpa stempel pos juga sudah aku titipkan ke seorang teman, karena katanya ada lowongan kerja sebagai nutrisionis di salah satu rumah sakit di Surabaya. Dan yang terakhir, menyusul dua lagi, dengan amplop coklat berisi serupa. Kali ini PT Pos Indonesia yang ambil bagian. Satu ku tujukan untuk sebuah perusahaan distributor produk susu ternama di Surabaya, satu lagi untuk perusahaan produk susu dan makanan bayi-balita regional Jogja. Ya,. Jogja. Ada keinginan untuk menghabiskan beberapa waktu disana. Kota yang cantik.

Tak ada kabar dari media internet. Setiap hari mencoba mengecek e-mail, tetap saja tak ada pemberitahuan lain. yang ada hanya copy-an surat lamaran yang dikirim oleh situs pencari kerja—salah satu bukti otentik aku telah mengajukan lamaran. Selebihnya??? E-mail spam dari beberapa teman kuliah yang belakangan makin marak.

Siang itu, hari Jumat lalu. Ada telpon di rumah. Sengaja gak kuangkat karena tante biasanya yang angkat. Dan ternyata itu panggilan untuk wawancara, di perusahaan di Surabaya. Whaoww.. sepertinya PT Pos Indonesia yang akan berjaya dalam proses pencarian kerjaku.

Sempat kacau. Bingung harus seperti apa. Kurang dari duapuluhempat jam waktu yang kupunya, dan aku tak tau harus menyiapkan diri bagaimana. Tanya-tanya kanan kiri depan belakang, tentang harus berpakaian apa, menyiapkan apa, dan lain sebagainya. Sempat sedikit frustasi juga karena ternyata semua yang harus ku siapkan tak ada satupun yang kupunya—baju, celana kain, dan sepatu kerja. Ya, gak ada sepatu yang cocok buat kerja. Semua sepatuku yang bertema ‘cewek’ masih terlalu ‘cewek’, warna hijau tanpa hak, coklat-putih kotak-kotak dari kain, dan yang terbaru sebenarnya masih layak pakai, sayang pernah tertukar dengan milik orang lain di mushola kampus, hingga akhirnya aku memutuskan sepatu tesebut amat sangat tidak nyaman untuk digunakan.

Papa, Papa, sms Papa. Dan Alhamdulillah semua lancar, beberapa menit kemudian, beberapa lembar ratusan ribu sudah ditangan.

Ada yang berbeda saat aku memacu sepeda motor di perempatan jalan sore itu. Semacam, gairah yang sangat luar biasa. Passion, atau apalah itu istilahnya. Dan ya, tak ada yang bisa menghalangi imajinasiku, tentang apa yang akan terjadi besok. Karena jujur aku katakan, aku lebih tertarik dalam bidang industry daripada rumah sakit. Maka dari itu juga, surat lamaran yang aku ajukan, lebih banyak ‘bergenre’ industry. Dan panggilan pertama dari perusahaan. Yeah… I’m happy—for a while.

Berbekal google-map, dan sedikit ingatan tentang jalan kota menuju Bandara Juanda, aku memacu si hitam dengan kecepatan sedang. Sempat nyasar juga di daerah waru, karena seharusnya aku belok kiri ke arah timur, tapi sayangnya tidak aku lakukan. Jadilah, putar balik, lalu putar balik lagi, dan aku kembali ke jalur yang semestinya.

Begitu sampai di lokasi, sempat menunggu sebentar sebelum dilakukan tes psikologi dalam bentuk tulisan. Ngantuk. Semalaman tak bisa tidur nyenyak karena grogi. Ditambah soal tes yang sangat membosankan. Jadilah… dapat giliran kedua, dan saat-saat paling aku khawatirkan datang juga: wawancara.

Blank, mungkin itu yang terjadi. Bahkan saat disuruh presentasi tentang diri sendiri pun aku sangat gugup. Lupa semua. Lupa kalau aku anak kedua dari empat bersaudara. Lupa kalau aku sangat gemar membaca. Lupa kalau belakangan memiliki aktiftas lain—blogging. Lupa kalau pernah ikut pelatihan ini itu, seminar ini itu, organisasi ini itu, dan lain sebagainya. Bahkan lupa akan kepribadian diri sendiri. Hingga tak tau harus berucap apalagi.

Lebih parah saat ditanya tentang “mau gaji berapa???”, yang begitu semua usai dan aku diskusikan dengan Papa, jawabanku amat sangat tidak bijak ternyata *jangan tanya ya jawabanku seperti apa. Hahaha*. Sempat ditawari untuk posisi lain juga, tapi tidak sesuai dengan yang aku ajukan di lamaran. Dan sepertinya *ini feelingku aja*, seandainya aku mau menerima tawaran itu, mungkin saat ini aku sudah tidak berlaber ‘pengangguran’. Tapi yasudah, toh yang ditawarkan itu juga bukan bidang yang aku minati, sekalipun masih ada sedikit kaitan dengan bidang yang aku pelajar—hanya sedikit. Dan karena penolakan itu juga, akhirnya hingga saat ini aku tidak berharap banyak.

Yahh,. Minimal ada dua hal yang bisa aku ambil untuk pelajaran, (1) ternyata wawancara kerja itu sulit. Bahkan jauh lebih sulit dibandingkan berorasi didepan mahasiswa se-fakultas hanya untuk mencari dukungan suara dalam pemilihan dewan perwakilan mahasiswa. Atau lebih sulit daripada presentas tugas akhir didepan tiga orang penguji yang sudah sangat expert dibidannya. Sangat-jauh-berbeda!!! Dan yang ke (2) setidaknya jika ada panggilan untuk wawancara lagi, tak perlulah aku bingung menyiapkan celana, sepatu, dan baju. Semua sudah ada. Alhmadulillah…

Oke, satu kesempatan terlewat. Dan kemarin siang, lagi di rumah sakit, nungguin antrian temen yang mau berobat. Hp bunyi. Nomor yang gak dikenal. Ternyata dari perusahaan yang di Jogja. Panggilan. Ke Jogja. Untuk, saat itu juga!!!

Dan saat itu juga aku tau kalau ternyata itu hanya sebatas event, dua bulan, duabelas desember hingga duabelas februari. Dan aku tidak bisa melewatkan sepuluh januari jauh dari rumah. Gak bisa. Hanya itu yang terpikirkan sementara. Aku bingung. Sedangkan suara mbak Eki—di telepon, sudah menunggu. Maaf, aku gak bisa menerima ini…

Sepanjang perjalanan pulang, temenku nyindir sedikit-sedikit, “lihat deh, ni ada orang sedang melakukan usaha untuk mencari pembenaran atas keputusan diri sendiri.” Hahaha.. itu kata-katanya bikin tambah ngeness. Kepikiran Jogja, tapi kepikiran sepuluh januari. Dan kepikiran lamaran di tempat lain yang bukan sekedar event. Kepikiran semuanya.

“Dear calon Nutritionist Milna Integra, seleksi diundur jadi besok, 6 Desember 2011 jam 8.30 di Kalbe. Alamat gd. Enseval jl.ringroad barat Kaliabu, Banyuraden, Gamping, Sleman. Tlpn. 0274627xxx.Thx.Eq netmed”

Dan sms mujarab—penyebab galau ini mendarat dengan selamat di hp ku tepat pukul 4.34 pm. hassssss… mikir lagi deh jadinya.

Papa, Papa, Papa, telpon papa, secepatnya. Cerita, seperlunya. Dan pencerahanpun diberikanNya. Makasiih.. makasih juga buat papa. Semua sudah jelas. Dan sudah, tak ada lagi ragu. Bismillah…. *sms terabaikan*.

Jam tujuh malem kurang dikit, Mbak Eki ternyata telepon lagi. Dan menjelaskan kalau misalnya aku join, gak perlu lewat seleksi. Langsung training. Langsung di terima. Langsung kerja untuk dua bulan kedepan. Ya Allah.. cobaan lagi. Akhirnya aku minta waktu satu jam buat mikir. Papa sudah, sekarang, ganti, Ai…

Sambil agak nangis, karena bingung—salah satu kebiasaanku, kalo panik biasanya langsung nangis. Ini katanya S1???? Gak bangettt *emang hubungannya apa ya S1 sama nangis???*. obrolan lumayan panjang, pendapat-sanggahan-pendapat lagi-disanggah lagi, diskusi tak berujung, hingga akhirnya keputusan sudah bulat.

Sambil menunggu satu jam berlalu, mencoba mengalihkan perhatian ke yang lain. dan jam delapan lebih sedikit, aku menghubungi mbak Eki.

Cuma inget satu pesan Papa, jika menolak yang seperti itu, sampaikan sehalus mungkin. Jangan lupa minta maaf juga. Dan ya, hanya itu yang bisa aku sampaikan. Alhamdulillah mbak Eki-nya ngerti. Baik banget mbak itu, berasa sudah kenal lama. ahh…
gambarnya bikin sendiri. tapi tulisannya nyomot dari salah satu bukunya mas Edi Mulyono *one of my favorite author from Indonesia*. pengen tau blognya??? klik disini!!!

Dan malam ini masih terpikir.,, Ya Allah.. semoga keputusan yang kuambil, itulah yang terbaik untukku.

52 comments:

  1. Pokoknya kalo ada kesempatan ambil aja mbak, yg penting udah usaha. Kayaknya gue bakal mengalami hal yg sama bentar lagi, huaaaa..

    ReplyDelete
  2. Dua minggu yg lalu juga ikut wawancara nih.. jadi tau banget gimana rasanya pas diwawancarai. tapi sayangnya hasilnya masih blm tahu. kemaren baru dikasih lampu kuning. akan ada wawancara lagi sampe menjadi lampu ijo.
    tapi senenglah ya.... secara udah dapet lampu kuning, jadi tinggal mempersiapkan lagi wawancara selanjutnya.
    Btw, good luck ya.... semoga pilihan yg ini tepat. amin.

    ReplyDelete
  3. wah sy jadi ikut deg2an deh :D
    jadi pengen cepet2 lulus untuk merasakan passion itu :D

    ReplyDelete
  4. yang penting jangan menyerah aja... tetap berusaha dan berusaha.. kalo rejeki mah ga akan ke mana-mana... :)

    ReplyDelete
  5. alhamdulillah ya papanya ready 24 jam..(hehhehe) jadi banyak pengalaman nih mbak ar..sip deh, ini bisa jadi buat pegangan ke depan..:)

    ReplyDelete
  6. Perjuangan dengan sabar dan doa Insya Alloh akan kita temukan dimana kelak kita mendulabg rejeki. Semoga makin banyak kemudahan untuk itu

    ReplyDelete
  7. @Feby Oktarista Andriawan:kesempatan yang seperti apa dulu, kalau sesuai pasti diambil donk, insyaallah.
    smangat yaa buat kamu :)

    ReplyDelete
  8. @Arif Zunaidi Riu_aj:hwii.. kabar baik tuh. smangat yaaa... sukses juga buat kamu :)
    amiinnn

    ReplyDelete
  9. @Fiction's World:yeah.. susah ngejelasinnya mbak. pokoknya ada sesuatu yg berbeda, semacam semangat positif gitu. nantilah mbak Tiara bakal tau sendiri :)

    ReplyDelete
  10. @Sam:sipp... insyaallah.. malah sekarang semakin bersemangat rasanya :)

    ReplyDelete
  11. @ketty husnia:iya mbak, alhamdulillah banget punya Papa. :)
    insyaallah pengalaman ini bisa dijadikan sebagai pelajaran :)

    ReplyDelete
  12. @Djangan Pakies:amiin..amiin..amiin.. makasih Pak Ies :)

    ReplyDelete
  13. wah kalau aku paling gak bisa wawancara hehehe suka bingung :)

    ReplyDelete
  14. saran aja ya,liat dulu latar belakang tuh perusahaan jangan sampai nyesel kemudia hari,trus kira2 kamu bisa mandiri kagak kalau diterima kerja diluar kota & yang paling penting ikutin passion dalam hati kita kunci utamanya yang selalu saya pegang hingga saat ini & selamanya
    karena kerja tuh kagak mesti mikirin duit mulu,tapi kesenangan batin kita terhadap apa yang kita lakukan dengan hati bukan dengan duit
    pesan terakhir,kalau wawancara santai aja kagak usah gugup soalnya yang menentukan skill bukan pas di tes psikotes

    ReplyDelete
  15. 10 januari kenapa emangnya? padahal kalo alasannya gak terlalu penting, mestinya diambil aja lho. tapi ya kalo memang udah keputusanmu gak papa. mungkin memang belum berjodoh kerja di sana.

    ReplyDelete
  16. yang penting kan alhamdulillah Mae, sekarang udah punya pengalaman di wawancara.. semangaaatt terus!! insya Allah, nanti pasti akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan :)

    ReplyDelete
  17. semangat dear, ditunggu kabar selanjutnya :)

    ReplyDelete
  18. @Andy:iya mas, itu juga tawaran yg pertama kan aku tolak karena aku kurang ada minat. dan kirim lamaran kerjanya juga cuma beberapa, bener2 yg aku pengen yg aku masuki..
    kalo masalah grogi itu, sepertinya memang harus banyak belajar ya.. hehe
    makasih banyak yaa mas Andy atas sarannya :)

    ReplyDelete
  19. @Sang Cerpenis bercerita:sebenarnya alasan yg lebih memberatkan ya karena kerjanya cuma dua bulan itu mbak, sedangkan aku uda kirim lamaran ke tmpat lain jugak. nah, kalo pas kerja 2 bulan itu trus ada panggilan gimana? kan sayang, padahal panggilannya untuk pegawai tetap..walopun yg itu belum pasti jugak.
    maslaah sepuluh januari, nanti diceritain kok, insyaallah :)

    ReplyDelete
  20. @dhenok habibie:amiinn..amiinn.. iya Mbak Dhe. aku juga mikirnya gitu, kalo emang nanti ada dan sesuai, pasti waktu, bidang, tempat, dll nya sesuai juga. :)

    ReplyDelete
  21. @honeylizious:insyaallah makin semangat ntee.. makasi yaa :)

    ReplyDelete
  22. semoga waktu diterimanya nanti, gak absen ngeblog kayak si nova miladyarti itu... jadi kangen sama tulisannya dia. :(

    ReplyDelete
  23. @1mmanuel'Z-Note5:jyahaha.. om Nuel curhat.
    nanti dulu lah masalah itu, yg penting sekarang gimana caranya bisa dapet kerja dulu :D

    ReplyDelete
  24. semoga diterima ya mbak...
    jangan lupa makan-makan...
    dan kalo udah kerja jangan lupa ngeblog dan BW...
    :)

    ReplyDelete
  25. semoga sukses yah nyari kerjanya. :)

    ReplyDelete
  26. @zone:amiiiiiin.. makasi doanya.
    yah semoga aktifitas lain gak ngeganggu aktifitas blogging nantinya *juga sebaliknya* :)

    ReplyDelete
  27. asli.. membaca ini jadi ingat pengalamanku 3-4 tahun yang lalu. Mungkin akan lebih heroik dibanding pengalaman mbak mae ^_^.

    semangat ya mbak... insyaAllah perjuangan yang tak kenal lelah akan memberikan hasil yang membahagiakan. Trust me..

    ReplyDelete
  28. Sabar ya dhek. . . kata orang 1000 peperangan 1000 kemenangan. makin banyak pengalaman makin mudah sukses diraih dhek. semangat! :)

    ReplyDelete
  29. sulit sekali mencari kesempatan di kehidupan kita :) sayang sekali

    ReplyDelete
  30. oke... yang penting Semangkaa..

    ternyata sudah S1 ya.. ummm #barutahu

    ReplyDelete
  31. jadi kangen masa masa pusing tujuh keliling jadi asongan lamaran kerja...
    dulu kayaknya pengen banget kerja tuh gausah nyari
    tapi setelah itu tercapai, malah pengen balik lagi kayak dulu
    seolah ada sesuatu yang susah diungkap dengan kata kata tuh saat terima panggilan

    ReplyDelete
  32. @Fifin:seru tuh pengalamannya kalo di ceritain juga mas :)
    amiin.. sip sipp. insyaallah akan terus berjuang. :)

    ReplyDelete
  33. @Si Roni:iya mas. aku tetap semangat, bahkan makin semangattt. hehe..
    amiiinn.. makasi ya mas :)

    ReplyDelete
  34. @Farixsantips:memang tidak selamanya kesempatan akan datang dua kali. tapi kesempatan seperti apa dulu..
    yah, semoga kesempatan yg lebih baik, ato bahkan yg terbaik itu segera tiba :)

    ReplyDelete
  35. @Ikbal Rizki:siaaaappp!!! hheehhe..

    eh,. kenapa?? keliatannya masih SMP ya? aku emang awet muda kok. hahahaha.. :D

    ReplyDelete
  36. @Rawins:hihi.. iya nih mas. kemarin waktu dapat panggilan aja sudah senangnya minta ampun. gimana kalo udah keterima ya?? tapi bener deh ini semua merupakan salah satu pengalaman berharga. minimal bisa jadi cerita :)

    ReplyDelete
  37. Bagi orang yg sudah (kelamaan) kerja, rasanya kok enak masa-masa sekolahkuliah ya? Coba ada yg mau jd donatur kuliah sampe S3 gitu...langsung deh resign dr kerja dengan suka rela gak pake pikir2...Ups, just intermeso loh...

    ReplyDelete
  38. betul apa yang dibilang papa..krn baik tidaknya itu dari bahasa...
    semoga enjoy dng kerjaannya yaa..

    salam kenal..makasih udah mampir ke blogku... :)

    ReplyDelete
  39. haha baca-baca ada pos nya jadi semangat nulis, alhamdulillah sudah setahap lebih maju dirimu, tenang saja mbak orang pintar seperti dirimu pasti dicari oleh perusahaan manapun, sayah yakin itu :D

    ReplyDelete
  40. @Ririe Khayan:hihi.. temenku yg sudah kerja (walopun belum lama) juga bilang paling enak emang kuliah mbak.
    yahh.. kalo ada yg mau bayarin sih mau mau aja aku. sampe S sepuluh juga ayok.hahaha

    ReplyDelete
  41. @windflowers:iya,. dan sepertinya aku masih harus banyak belajar tentang bahasa mbak :)

    salam kenal juga.. trimakasih kembali sudah berkunjung :)

    ReplyDelete
  42. @auraman:ahahayy.. waktu nulis tentang PT Pos juga ingetnya sama mas Auraman. :D

    amiin.. amiin.. makasih atas doanya mas :)

    ReplyDelete
  43. Kenapa tidak berpikir untuk berwira usaha sendiri, kalau dari disiplin ilmunya sptnya gak susah2 amat utk diterima dimasyarakat...

    coba rubah mainside-nya jgn hanya puas digaji orang, tapi berusaha utk menggaji orang...
    coba dipikirkan juga saran sederhana ini..

    ReplyDelete
  44. jadi inget pas setelah selese kuliah, pas sebelum nikah, mati2an cari kerja. udah berlembar2 lamaran, wawancara udah sering, apalagi tes cpns tapi anehnya gagal semua. eh baru aja nikah lima bulan, tes cpns langsung lulus. sekarang udah jadi guru SD. semoga dapet kerja yang cocok

    ReplyDelete
  45. @Insan Robbani: keinginan itu sudah ada sejak lama mas Insan, apalagi di UB kan memang sudah diterapkan sistem agar mahasiswanya bisa berwirausaha. tapi dari diri sendiri rasanya masih belum berani memulainya..
    semoga suatu saat bisa. trimakasih sarannya :)

    ReplyDelete
  46. @rusydi hikmawan:subhanallah... ternyata jalannya menikah dulu ya pak guru..
    amiin.. makasih doanya :)

    ReplyDelete
  47. Replies
    1. Tisu di toko. Beli sendiri yaaaa.. :p

      Delete

Speak Up...!!! :D