sebelum membaca bagian yang ini, ada baiknya teman-teman membaca part 1-nya dulu yahh.. silahkan klik DISINI
Senin, 29 Desember 2008
Setelah selesai sarapan, kami segera berkemas. Agar bisa segera sampai di pos batu tulis, dan juga puncak pastinya. Walaupun saat itu kami tetap tidak tau, masih seberapa jauh lagi kami harus berjalan.
Perjalanan kala itu, formasinya tidak terlalu banyak berubah, Pandu dan Bang Ogep didepan, disusul Gusti, aku, Mas Abib, Mas Tob, dan yang terakhir Koko. Perjalanan pagi itu, pastinya jauh lebih mudah dan cepat, karena kami tidak perlu bergantian untuk menggunakan senter. Ditambah sebelumnya sudah mengisi ‘bahan bakar’, jadilah kami semakin bersemangat.
Jalurnya masih tetap sama, batu-batu kecil, tanah, lereng-lereng mulai yang agak landai hingga terjal dan curam. Oia, aku jadi ingat, penduduk sekitar gunung Agung ini, sangat membanggakan keberadaan gunung yang satu ini lohh *ya iyalaahh, masak gunung sendiri dijelek-jelekin???*. katanya, gunung agung ini jalurnya menyerupai beberapa gunung yang ada di Pulau Jawa. Dan ternyata memang benar, setauku, sepanjang perjalanan hari sebelumnya hingga pagi itu, kami sudah melalui berbagai macam medan, yang mirip dengan beberapa gunung di Jawa. Sebut saja bukit berpasir Mahameru, tebing terjal gunung Penanggungan, serta sederet tanah basah super licin seperti di perjalanan menuju ke pos lembah kidang di gunung Arjuno. Kata bang Ogep juga, trek di gunung Agung tersebut mirip dengan gunung Ciremai yang ada di Jawa Barat. Aku sih gak ngerti gunung Ciremai itu seperti apa, belum pernah kesana soalnya. Tapi katanya kurang lebih sama, dengan hutan yang masih sangat alami, serta jalur yang selalu menanjak. Yapp,. Sepanjang perjalanan aku gak menemukan adanya jalur yang landai, apalagi menurun. Sama sekali gak ada.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya kami sampai di suatu tempat yang cukup luas, dengan pohon-pohon yang sudah sedikit. Diujung jalur tersebut, ada tebing yang sangat tinggi dan besar. Kalau dari tempat kami berdiri saat itu (yang tadi aku bilang cukup luas) sepertinya jalur selanjutnya harus memutari tebing, karena memang dari jauh tidak terlihat jalur yang harus kami lalui.
Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat, dan entah kenapa, dengan berbagai alasan dan argument, akhirnya kami menyepakati bahwa tempat itulah yang disebut dengan pos Batu Tulis. Tau alasannya?






