30 August 2011

Aku Ingin Bercerita

terlalu banyak tanya dalam diri
terlalu banyak harap yang tak mampu diaktualisasi
terlalu ingin begitu dan begini
sampai pada akhirnya, dimana tak ada satupun yang mampu dijalani

selalu seperti ini
saat apa yang dirasa, tak mampu di ungkap saat itu juga
bukan maksud menyalahi kondisi, maupun keinginan hati yang tak terlalu tinggi
hanya saja, perlahan semakin kutemukan
bahwa memang yang terbaik hanya jika iya dan saat itu juga, atau tidak sama sekali

ahh,. tak ingin terlalu menghakimi rasanya
tapi tak mampu juga berdusta jika memang begitulah adanya
terkait dengan laku dan hasrat yang terkadang membuncah
terkadang sedatar jalanan aspal
atau bahkan lebih curam daripada tebing terjal

tak tau apa yang hendak di ucap
semua hanya berhenti disini saja, disini!!!
kataku sambil menunjuk bagian diatas alis
mau ku salahkan dia??? karena hanya sebatas jengkal tangan luasnya???
sayangnya tidak sesederhana itu
namun justru karena hal itulah, semua semakin membingungkan

aku mau bercerita
aku mau menyampaikan semua
tapi aku tak tau bagaimana harus bertutur sapa
karena kemampuan bahasa perlahan hanyut tanpa tersisa

sudahlah,..
aku tak akan peduli lagi apa ingin mereka
hanya mau mengikuti apa yang dikeluarkan oleh isi kepala
serta kembali bermesra dengan tuts berwarna hitam ini yang sudah sekian lama tak ku sua

aku ingin bercerita,
dan lagi-lagi kusampaikan,..
maaf, jika keegoisanku kali ini amat sangat kunikmati

pict capture from here

*Happy Ied Mubarok,.. Minal Aidin wal Faidzin*

28 August 2011

di salah satu sudut kota jogja

siang itu panas. banget. di salah satu sudut kota jogja, baru saja melintasi kompleks kampus Universitas Gajah Mada. untungnya bukan bulan puasa seperti sekarang. tapi tetep aja panassss...

berteman si kuda besi hitam merk thunder 125 keluaran tahun 2003 dengan plat nomor AB 5627 CG, dua orang pemuda itu berboncengan. entah mau kemana. pastinya melaju terus memacu si kuda besi menuju ke arah selatan.

satu pesimpangan terlampaui dengan sebegitu ramainya. begitu juga dengan dua, tiga, serta persimpangan-persimpangan selanjutnya. entah apa yang ada di kepala dua pemuda ini, hingga salah satunya mulai angkat bicara.

"kira-kira kapan ya,.. lampu merah di Indonesia ini benar-benar diperhatikan???", mungkin ada kaitannya dengan beberapa kali melewati persimpangan dengan traffic light, dan beberapa kali itu pula menyaksikan entah becak, sepeda gowes, sepeda motor (atau bahkan mobil???) nyelonong begitu saja tanpa memperhatikan si merah-kuning-hijau yang selalu setia bersinar maupun tidak tepat pada waktunya.

si pemegang kemudi lantas angkat bicara,.

"ahh,. aku ada ide...."

"oia???... apa idemu???"

"bagaimana kalau sistemnya di buat seperti palang pintu kereta api. jadi ada penutupnya. bukannya itu lebih baik??? minimal bisa mengurangi si penerobos lampu merah laaahhh..."

keduanya beberapa kali mengangguk-anggukkan kepala sambil tetap memperhatikan sekitar.

"ehhh,. yang lebih keren kenapa??? toh ternyata palang pintu kereta api tidak sedikit juga yang diterobos..."

eaaa.. lagi-lagi stuck. bukan pertama kalinya kedua pemuda ini berdebat untuk sesuatu yang tidak perlu *iyakahhh..??? sebegitu tidak perlunya kahhh???*

"ahhh,. aku ada ide yang lebih baik nihh.. dan lebih canggihh. hehe..."

"oke,. sebutkan idemu",.. kata si pemegang kemudi, tanpa melepas kemudinya pastinya.

"hmmmm,.. bagaimana jika di ujung jalan itu, tepat di garis putih itu, jika lampu merah menyala, maka akan ada besi-besi setinggi lutut orang dewasa yang mucul sejajar sepanjang garis putih itu, dengan perlahan, dan cantik, serta tanpa suara bising. coba bayangkan, canggih betul jika itu memang sebuah besi yang cukup besar, dengan diameter sekitar sepuluh hingga limabelas centimeter, serta muncul dengan sendirinya. asik bukan???"

"hahahaha... ide bagus. tapi tidak kah kau ingin dengar kelemahannya???"

"apa? tak terpikirkan olehku kelemahannya. toh itu kan besi, sejajar, dan pastinya lebih sempit daripada lebar motor disini. jadi tidak mungkin bisa terlewati. mobil juga tidak ada yang setinggi lutut orang dewasa..."

sepertinya obrolan mereka semakin seru.

20 August 2011

Award dan PR dari Tante Honeylizious

http://www.emoticonizer.com
sebelumnya, aku mau minta maaf yang seeeeeeeeeebesar-besarnya buat tante Hani,. nih sebenarnya awardnya sudah lama bangeeeeeett,. tapi baru bisa di serah-terimakan sekarang. award ini sangat spesial menurutku, karena dibuat oleh tante Hani sendiri, bukan hasil dari meneruskan award dari orang lain. nahh,. karena awardnya yang seperti ini, jadi untuk kali ini aku gak akan meneruskan ke temen-temen yang lain. ingin dapat award juga??? temenan dooonk sama tante Haniii,. enggak tau orangnya yang mana?? oke dehh,. ku kasih tau. silahkan klik disini untuk langsung sowan ke rumahnya yang unyuuuu bangett. hehe...

dan ini awardnyaa...
gambar ngambil dari postingannya tante Hani disini


kata tante Hani, ini award khusus diberikan kepada blog yang mirip dengan punya si Tantee. pake side bar kiri. emang sih, si PopCorn gak pakek side bar kiri, tapi kan buat komen gak pake moderasi ataupun verifikasi kata, makanya masuklah si PopCorn dalam kategori ini. makasih banyak yah tante... awardnya lucu bangeeettt.. hehe...

satu lagi pe'er dari Tante Hani jugak yang belum terlaksana. ingat jaman-jaman disaat  temen-temen blogger banyak yang menuliskan sepuluh hal tentang mereka, atau tujuh, atau tiga, atau berapapun saja, intinya menuliskan hal tentang diri mereka masing-masing??? sebenernya aku dapat tag dari tante Hani jugak, untuk menuliskan yang sama '10 hal tentangku...'. dan gak tau kenapa sampe sekarang *sebelum bikin postingan ini pastinya* susaaaaaah banget bikinnya. dan akhirnya, aku dapat inspirasiii *lagi-lagi dari blognya tante Hani*. terutama tentang apa saja sepuluh hal itu.

olraittt,. langsung saja ke pe'ernya yahh,. ini diaaa... *moga dapet nila A+* http://www.emoticonizer.com

19 August 2011

I am a Dietitian, already...

Akhirnya hari ini datang juga: 16 Agustus 2011. Tepat satu hari sebelum perayaan Indonesia Merdeka yang ke 66. Sepertinya sudah cukup tua usia negaraku,. Tapi tidak dengan masa depanku yang sepertinya baru saja akan di mulai.

Yappp,.. hari ini tepat jam 10.00 WIB, aku, beserta 62 orang temanku yang lain, menjalani Yudisium Sarjana Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan Jurusan Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, di ruang Auditorium, lantai 6 Gedung Pusat Pendidikan FKUB.
 

Ada haru, ada bahagia, ada kelegaan *sekaligus kekhawatiran*, tapi pastinya satu hal yang aku tau: KAMI SEMUA SENANG DAN LEGA!!! Dan hal ini sepertinya juga dirasakan oleh para dosen di jurusanku yang sebagian menganggap bahwa angkatan kami merupakan angkatan yang LUAR BIASA *silahkan terjemahkan sendiri luar biasa yang seperti apa*.

Gak bisa ngomong banyak. Pastinya seneeeeeng banget,. Akhirnya satu dari sekian langkah yang harus kuambil sebagai sesosok manusia bisa aku selesaikan dengan baik. Sekalipun selangkah tersebut membutuhkan waktu empat tahun lamanya, sekalipun selangkah itu menghabiskan materi sekian banyak jumlahnya, sekalipun selangkah itu cukup menguras tenaga hingga titik darah penghabisan. Tapi ini langkahku, dan aku sudah menyelesaikan. Tinggal *TINGGAL????????* melanjutkan dengan langkah-langkah yang lain, yang pastinya penuh dengan tanya dan ketidak jelasan mengenai berapa langkah lagi yang akan kuambil, berapa hati lagi yang akan kutemui, berapa pikiran-pikiran lagi yang akan kujelajahi, serta seberapa kuatkah lagi tulang punggung ini untuk menopang kakiku agar terus bisa melangkah, sekalipun hanya selangkah demi selangkah, tapi aku tau, aku sudah maju selangkah!!!

Bukan bermaksud untuk meletakkan diri pada suatu posisi yang sangat melenakan, ataupun sekedar menyombongkan diri atas apa yang sudah diraih. Ayolahhh,. Lihat ini lebih mendalam lagi. Tidak kau hargai sedikit jerih payahku hingga bisa mencapai titik ini??? Memang tidak terlalu hebat menurutmu, begitu juga mereka. Bahkan mungkin baginya, ini bukanlah apa-apa. Dibandingkan dengan ini, dibandingkan dengan itu, dan lain sebagainya.

Ughhhhhhhh… menyebalkan sekali saat orang-orang disekitar mulai membahas tentang si ini yang sudah begini dengan gaji segini serta hidup seperti ini, si itu yang tak lagi tinggal disitu melainkan melaju dengan kecepatan jitu dan sudah bisa membeli ini itu. Aihhhhh… aku punya pilihan sendiri. Tidak mau menjadi seperti dia dan dia. Aku mau jadi aku. Aku yang seperti apa?????? Entahlah,.. mari kita lihat tujuh tahun mendatang *aku suka angka tujuh*. Dan semoga saat itu si PopCorn masih sehat sejahtera sentosa hingga kamu, kamu, dan kamu, bisa jadi saksi dari semuanya. *balada seorang fresh graduate*

Ollraittt,. Tak perlu membahas tentang mimpi lebih jauh. Cukup sampai disini. Saat ini, aku hanya ingin memperlihatkan, wajah mereka, senyum mereka, senyum dengan sejuta optimistis untuk menerjang masa depan dengan tangan terbuka. Bukannya tertunduk lesu menyadari bahwa perpisahan akan segera dimulai.

10 August 2011

Safari Masjid di Bulan Ramadhan

Pernah dengar tentang “Safari Masjid”??? aku yakin sebagian dari teman-teman sudah tidak asing dengan kata ini. Walaupun aku juga yakin jika yang lebih sering terdengar adalah “Safari Idul Fitri”.

Aku mengenal kata-kata Safari Masjid sekitar dua tau tiga tahun yang lalu. Saat aku melewatkan awal bulan Ramadhan di Kalimantan, dan Papa, masih bekerja di kantor Kecamatan. Waktu itu, tiap malam kami sekeluarga selalu berkeliling desa untuk melakukan sholat Tarawih. Dari desa A ke desa B, selanjutnya ke desa C, lalu kembali ke desa A namun di masjid atau musholla yang berbeda. Itu salah satu pengalaman yang menyenangkan buatku. Selain bisa berkeliling ke tempat-tempat yang aku suka, ada semacam rasa penasaran saat akan memulai sholat berjamaah.

‘disini sholatnya berapa rakaat ya…???’

‘imamnya ngajinya gimana ya? Enak gak ya???’

‘sholat witirnya sekali atau dua kali salam ya???’

‘pake ceramah gak yaa…???’

Dan lain sebagainya. Dan itu menyenangkan. Apalagi jika bertemu dengan masjid atau musholla dengan suasana yang tenang, imam yang mengaji dengan lantang disertai irama yang sangat indah, ditambah kondisi tempat sholat yang bersih dan sejuk. Hmmm.. kalau sudah seperti itu rasanya mau sholat tarawih berapa rakaat pun akan kulakukan.

Ehh.. sampai seperti itu kah Maee???
He’emmm… *sambil ngangguk-ngangguk*

Salah satu hal yang paling aku nantikan dibulan ramadhan adalah sholat tarawihnya. Bahkan mungkin kalau boleh jujur, aku lebih excited dengan sholat tarawih ketimbang puasa. Tapi puasa tetep jalan kok teman-teman. Tenaaangg.. tenaaangg… ^^
Keinginan untuk ber-Safari Masjid mulai muncul, saat aku sedang ada di Jawa, pada bulan ramadhan selanjutnya (bulan Ramadhan tahun lalu). Namun entah kenapa, tahun lalu aku belum bisa merealisasikannya. Selain tidak ada teman *nggak mau jadi anak ilang di masjid sendirian*, sepertinya tahun lalu adaa saja halangan untuk pergi. Ya yang malas lah habis buka puasa trus kenyang, ada acara buka puasa bersama lah, dan lain sebagainya. Ohh,. Selain itu, tahun lalu aku lebih sering sholat tarawih di kos, bareng sama teman-teman satu kos yang lain, dan bergantian menjadi imam. Namun bulan ramadhan tahun ini, Alhamdulillah, akhirnya aku bisa merealisasikannya, barengan sama Mpus pastinyaa. Dan Alhamdulillah juga, si Mpus gak pernah nolak kalo aku ajak sholat tarawih disini, disitu, disono, dan dimana-mana.

Well,. Bulan puasa sudah berjalan kurang lebih sepuluh hari. Dan aku sudah menjelajah di lima masjid. Empat masjid besar dan satu masjid kecil dekat kosan. Lainnya??? Enggak sempat tarawih. Beberapa hari dalam kondisi diperjalanan dari Malang ke Gresik atau sebaliknya. Karena bulan puasa, jadi aku lebih memilih perjalanan sore hingga malam hari, biar puasanya gak batal maksudnya. Tapi ujung-ujungnya tarawihnya terlewat. Beberapa juga karena saat itu aku sibuk mondar mandir beli ini beli itu jilid ini jilid itu fotokopi ini itu untuk perlengkapan mendaftar yudisium *sudah mau yudisium. Yessss…!!!*

Udah deh, panjang banget pembukaannya, dan ini dia cerita di masing-masing masjid tersebut. Dan sampai saat ini, pengalaman yang aku dapat dimasing-masing masjid berbeda-beda. Dan pastinya sangat luar biasa.

03 August 2011

Kepingan Perjalanan: Pendakian Gunung Agung (part 3)

*ingin tahu cerita sebelumnya??? klik PART 1-nya DISINI, dan PART 2-nya DISINI*

*******
Di bujuk sedemikian rupa pun aku tetap tak mau beranjak dari tempatku duduk.

Saat itu hanya tinggal berempat, aku, mas Abib, mas Tob, dan bang Ogep. Pandu, Gusti, dan Koko sudah jauh didepan, tak tau pula bagimana nasib mereka. Melihat aku tidak mau melanjutkan perjalanan, mereka berempat lantas ikut berhenti. Angin menderu semakin kencang. Hujan pun rasanya tak mau kalah adu besar, kencang dan cepat. Angin dan air serasa menampar pipiku keras-keras. Seandainya aku tidak duduk, mungkin saat itu aku sudah diterbangkan oleh badai.

Tidak lama berselang, mas Tob menyuruhku untuk pindah tempat duduk. Tidak jauh dari tempat kami berhenti, ada selokan besar alami yang terbentuk dengan sendirinya untuk aliran air dari puncak. Selokan itu tidak mengalirkan air cukup banyak, namun jika kami duduk didalamnya, minimal tubuh kami tidak perlu menahan hempasan angin yang kian kencang.

Susah payah aku berdiri, dan berusaha secepat mungkin sampai di selokan tersebut. Setelah itu, kami berjongkok berurutan, didepanku Mas Abib, lalu dibelakangku Mas Tob, disusul Bang Ogep *kalau tidak salah ingat*. Sekalipun kami berlindung di selokan tersebut, tubuh kami tetap menggigil, karena terguyur hujan yang sangat lebat. Tidak lama kemudian, aku mendengar mas Tob bertanya tentang ponco, atau sejenisnya. Aku mendadak ingat dengan ponco yang kubawa, yang sebelumnya sudah kutitipkan didalam tas yang dibawa mas Tob.

“ada ponco di tas…”

“apa…????”

“ada ponco di tas…”

“gak dengar.. apa…???”

Suara angin dan hujan saat itu benar-benar menguasai ruang pendengaran kami berempat.

“ada ponco di tas…. Ponco!!!! Di tas…!!!”

Sungguh, kalau kondisinya sedang tidak badai, mungkin yang lain merasa aku sedang marah-marah dengan nada bicaraku yang seperti itu. Untungnya saat itu sedang badai *sudah badai masih bisa bilang untung????*. Tidak lama kemudian, ponco sudah tergelar diatas kepala kami, hingga kami sedikit terlindungi dari guyuran air hujan kala itu.

Aku benar-benar panik. Jujur itu pertama kalinya aku terkena badai, di gunung, saat dipuncak pula. Aku sama sekali tidak pernah berpikir hal ini bisa terjadi. Satu yang aku ingat, saat itu aku benar-benar takut, dan mau tidak mau aku memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa aku alami: MATI!!!. Mati di tengah gunung, dalam perjalanan pendakian, perjalanan yang bahkan orang rumah tidak mengetahui, karena waktu itu tanteku sedang pergi naik haji. Papa dan Mama? Aku tidak memberi tahu mereka tentang kepergianku ke Bali, apalagi untuk naik gunung. Aku cuma bisa beristighfar sebanyak-banyaknya. Air mataku pun tak bisa berhenti mengalir, membayangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kasihan teman-temanku, seandainya aku mati disitu, mereka pasti akan sangat kesulitan untuk membawa jenazahku kebawah. Kasihan teman-teman di Majapala, mungkin jika aku mati disitu, mereka semua, terutama adik-adikku yang masih junior, gak akan punya kesempatan untuk naik gunung lagi karena tidak mendapat ijin dari sekolah maupun orang tua setelah kejadian ini. Kasihan semua,.. Mama, Papa, Tante,.. jadi ingat mereka semua. Aku tidak bisa berhenti beristighfar, hanya itu yang bisa kulakukan saat itu.