31 December 2012

Seribu Lima

Disuatu malam, di tengah kota Dompu yang masih ramai para kendaraan berlalu lalang, di salah satu toko kecil yang menjual berbagai peralatan jahit menjahit...

"Ibu, ada benang kain?"
"Benang? Ada ni, di sebelah sana...", dengan logat khas Dompu yang sudah cukup akrab ditelinga saya, Ibu tersebut menunjuk sisi lain etalase toko itu. Saya menuju kearah yang ditunjuk, sedang seorang anak laki-laki kecil juga menuju ke arah yang sama --dari sisi dalam etalase.

"Benang warna apa?", tanya anak laki-laki itu datar.
"Warna krem, ada tidak?", tanya saya sambil mencoba mencari-cari warna apa yang sekiranya cocok. Karena sebenarnya saya sendiri agak bingung mendeskripsikan warna apa yang sedang saya cari.
"Nah,. Itu, itu. Yang itu...", kata saya dengan yakin sambil menunjuk ke sederetan benang kain yang berjajar rapi di belakang anak laki-laki itu berdiri. Ia mengambilnya, lalu menyerahkan pada saya. Saya mencoba mencocokkan warna benang tersebut dengan celana yang saya pakai, karena memang saya membeli benang untuk celana tersebut, yang menurut saya agak terlalu panjang dan perlu di lipat sedikit ujungnya. Ternyata warnanya kurang pas... :|

Saya kemudian mengembalikan benang tersebut ke anak laki-laki itu, kemudian mencoba mencari-cari warna lain yang lebih sesuai. Saya juga menunjukkan warna celana saya, dan menyampaikan pada anak laki-laki itu bahwa warna seperti celana ini lah yang saya cari. Sedang anak laki-laki itu hanya diam seribu bahasa, mungkin bingung dengan apa yang saya sampaikan.

Setelah beberapa saat mengamati, akhirnya saya menemukan sebuah benang dengan warna yang sepertinya sesuai, berada di barisan terbawah etalase kaca toko itu. Kemudian saya meminta anak laki-laki tersebut mengambilnya. Warnanya memang tidak sama persis, tapi cukup mendekati. Jadi saya memutuskan untuk membeli benang itu saja.

Begitu menerima benang itu, saya kembali angkat suara,
"Berapa harganya?"
"Seribu lima", kata anak itu dengan polosnya.
Dalam hati, 'ha??? Seribu lima? murah banget??? Tapi saya kan cuma mau beli satu, tidak harus beli lima kan??? Tapi masa' iya harganya dua ratus rupiah???'
Akhirnya untuk meyakinkan hati dan pendengaran, saya memutuskan untuk bertanya lagi.
"Berapa ini harga benangnya? Seribu lima?"
"Iya betul, seribu lima...", kata anak laki-laki itu meyakinkan.
Akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan satu lembar uang lima ribuan dari kantong saya dan menyerahkannya ke anak laki-laki itu, masih dalam kebingungan yang teramat sangat. Namun anak itu menolak, dan menyampaikan bahwa saya harus membayar pada Ibu-ibu yang saya temui tadi. Bergeraklah saya...

"Ibu, saya beli satu benang ini. Berapa harganya?"
"Seribu lima"
Addduhhh.. masih aja seribu lima. Bingung banget. Akhirnya tanpa pikir panjang saya serahkan selembar limaribuan yang sedari tadi sudah saya genggam. Tidak lama kemudian, saya melihat bahwa sepertinya Ibu tersebut mencari-cari uang kembali. Ohh, berarti ada kembaliannya. Tapi apa kembaliannya empat ribu delapan ratus? Karena harganya kan 'seribu lima'. Jadi untuk satu benang kan hanya dua ratus rupiah, pikir saya dalam hati.

Dan saya kembali tercengang campur pengen ketawa begitu tau bahwa Ibu tersebut memberikan kembalian sebanyak tiga ribu limaratus rupaih. Ya Allah... Ternyata arti dari 'seribu lima' itu tak lain dan tak bukan adalah 'seribu lima ratus'. Saya hanya membatin saja. Sambil tersenyum geli, saya meninggalkan toko tersebut dengan menggenggam segulung benang serta pengetahuan baru tentang 'seribu lima'.

Dompu, malam hari. Sederetan toko di kawasan pasar...
Sampai saat ini, kadang saya sering agak kaget, kalo orang di Dompu bilang 'seribu lima', atau 'duaribu lima'. Tapi tidak butuh waktu lama untuk saya kembali me-replay kejadian di toko benang itu. 'Seribu lima', maksudnya bukan 'sepuluh ribu dapat lima' melainkan 'seribu lima ratus'. Hahaha... :D

29 December 2012

Happy 2nd Anniversary,.. Popcorn!!!

Desember 2010, saya ingat betul saat itu bukan merupakan saat-saat yang menyenangkan. Suatu malam, saya bersama seorang teman kos, memutuskan untuk jalan-jalan ke salah satu toko buku diskon yang berada di jantung kota Malang. Bukan seperti sebelum-sebelumnya, saat bahkan sebelum beranjak dari kos, sudah ada satu judul buku di kepala yang saya incar. Malam itu tidak ada bayangan sekali. Hingga langkah kaki memasuki toko buku itupun tak sesemangat seperti biasanya.

Berputar kesana kemari, tak ada bayangan ingin membeli apa, hingga saya berlutut di salah satu rak berbentuk bulat ditengah ruangan dengan berjuta buku itu. Saya meraih satu buah buku, kecil, tipis, dengan sampul depan yang sangat sederhana. Ada gambar seorang laki-laki yang sedang berjalan memenuhi sebagian besar bidang di sampul buku itu, beserta dengan lembar-lembar koran yang berserakan. Serta warna, mirip warna pastel yang menjadi backgroundnya...

"...karena tiap-tiap nama punya tempatnya masing-masing di kedalaman hati setiap manusia",
salah satu kalimat paling keren diantara kalimat-kalimat keren yang ada di buku itu,...

*

Ada sebabnya, mengapa saya menamai blog ini dengan "Popcorn of My Life"
Ada sebabnya, mengapa kategori pertama di blog ini, dan yang dulunya paling sering saya buat postingannya, adalah "Tentang Aku, Kamu, Dia, Mereka..."
Ada sebabnya, mengapa saya sangat mengagumi seorang Edi Mulyono, hingga begitu bahagianya saat tweet saya di balas olehnya, bahkan akun saya di follow juga olehnya. Whaowwww sajalah...

picture source
Ahh,. Akhirnya bisa bercerita tentang ini. Setelah sekian lama menundanya. Sepertinya memang hari ini adalah waktu yang tepat. Hingga akhirnya kesempatan yang lalu-lalu saya lewatkan begitu saja, sampai tibalah saat ini. Malam ini, yang sudah menunjukkan pukul 10.27 WITA, namun saya masih duduk di meja meeting di kantor. Tenang, saya tidak melakukan apa-apa. Hanya membuat tulisan ini.

*

Oke, mungkin sekian ini saja postingan singkat saya. Sekali lagi, dan tak akan pernah bosan, saya ingin mengucapkan,
Selamat ulang tahun, Popcorn ku sayang...
Terima kasih telah menemani hari-hariku dengan sangat bijaksana
Sekalipun hanya dalam diam
Karena terkadang, manusia tak perlu dinasihati
Ia hanya ingin didengarkan,
Dan kau, adalah teman yang sempurna untuk itu...

Well, seiring dengan di publishnya postingan ini, maka berakhir juga event Giveaway Popcorn's 2nd Anniversary yang sudah saya adakan dan berlangsung selama kurang lebih satu bulan ini. Terimakasih untuk seluruh sohiblogger yang telah berpartisipasi, telah mengomentari postingannya, telah membantu mempromosikan, bersedia untuk menjadi juri, dan lain sebagainya. Saya belajar banyak selama mengadakan giveaway ini, dan ternyata memang tidak semudah yang terlihat yaa.. Salut untuk para sohiblogger yang sangat sering mengadakan giveaway, dan berbagi kebahagian dengan sesama blogger. Proud to be part of yours, kawans... :-*

InsyaAllah sesuai rencana, tanggal 2 Januari 2013, akan saya umumkan para pemenangnya. Siap-siap puyeng deh. Hehehe...

Oke, sekian itu saja, sekali lagi, terimakasih banyak ya,.. dan mohon maaf jika selama dua tahun perjalan Popcorn ini, ada tulisan, komentar, gambar, desain blog, atau sebagainya yang membuat hati, pikiran, telinga, serta mata para sohiblogger tidak nyaman.

*
"Cara terbaik untuk membuat suatu cerita, adalah dengan berkaca pada kisah nyata"  
[Mae, 2012]

Jika ada yang masih bertanya-tanya bagaimana saya bisa membuat suatu tulisan semacam ini atau semacam itu dan semacamnya, maka kalimat diatas itulah yang menjadi jawabannya. Sederhana, bukan?
;)

21 December 2012

Para "Sunset"

Tiba-tiba terlintas aja, pengen upload beberapa foto yang bertema sunset. Walaupun yakin deh, sepertinya sudah ada beberapa yang pernah saya upload di photoblog, instagram, maupun membuat postingannya di popcorn, serta mempublish di akun social media lainnya. Tapii, yah, ingin saja me re-post disini.  

So, here they are,.. Enjoy the orange, felas... ;)

[16 Juni 2012] Pertama kali punya kesempatan main ke Mataram, Lombok, dan kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Sempat mengunjungi beberapa lokasi wisata baik yang sudah tersohor maupun yang tidak, salah satunya adalah Kuta Lombok. Ingin tau selengkapnya? Ceritanya ada disini, klik!!!
:D

[7 Oktober 2012] Bali, Tanah Lot. Pantai yang cantik. Sunsetnya tak terlalu spesial, namun jingga tetaplah jingga. Mempesona. Cerita selengkapnya? Sila klik disini...
:D

[17 Nopember 2012] Ceritanya jalan-jalan ke Bima, ber-empat, sama rekan-rekan satu tim proyek. Tak ada cerita yang saya tulis, namun oleh-oleh sunset dengan perahu nelayan ini, rasanya sudah cukup kan? 
;)

[19 Oktober 2012] Yang ini cukup spesial. Dapatnya dimana? Depan kamar kos!!! Persis deh. Sampe kelihatan itu kabel listriknya. Walopun sudah berupaya dengan naik ke kursi, tapi tetap saja. Yaasudahlah, yang penting sang jingga sudah tersapa. Alhamdulillah...
:)

[12 Juni 2012] Jingga dari ketinggian sekian belas meter. Tak selamanya sunset harus diambil di pantai, kan? Hehe... Cerita selengkapnya tentang gambar ini, ada disini. Silakan di klik!
;)
[18 Juni 2012] Nangatumpu. Desa sebelah barat Kabupaten Dompu. Gambar ini saya ambil dari dalam bis, saat perjalanan dari Mataram menuju ke Dompu. Jingga sore itu berhasil membangunkan saya dari tidur lelap, hingga saya memutuskan untuk mengambil kamera dan mengabadikannya. Hmmm,..
:)

[9 September 2012] Lakey Beach, pantai selatan Kabupaten Dompu. Jingga yang berbeda...
:)

[9 September 2012] Mbolang berdua saja dengan Ulil, saking sudah kangennya dengan jingga. Begitu selesai kegiatan di desa, langsung cabut ke pantai Lakey. Tak peduli lagi dengan bagaimana nanti pulang kembali ke Dompu saat sudah gelap. Yang penting rindu akan jingga sedikit terobati. Alhamdulillah...
:)

[2 Juni 2012] Pulau Satonda, salah satu pulau eksotis yang pernah saya datangi. Terletak di sebelah utara pulau Sumbawa, dan masuk dalam teritori wilayah Kabupaten Dompu. Ingin cerita selengkapnya? klik disini yaa...
;)

[2 Juni 2012] Masih dari lokasi yang sama, tiga puluh menit setelahnya. Justru lebih terang ya? Hihihi.. 
:D

Saya jadi heran sendiri sekarang. Sepertinya, dulu saya tak se menggila ini dengan jingga. Tapi kenapa sekarang sampai seperti ini ya? Yahh,. entahlah. Mungkin sama juga jawabannya dengan yang dulunya saya suka laut, kemudian tidak, lalu sekarang kembali menyukainya. Mungkin sama juga alasannya dengan saya yang suka gunung, namun kadang membayangkannya pun enggan kembali lagi, tapi tetap saja menganggukkan kepala jika ada yang mengajak. Ahh.. manusia...

Jadi, mana jingga kesukaanmu, kawans? Speak up yahhh... ;)

*note: Kalau tidak salah semua gambar disini diambil dengan kamera Canon PowerShot G12, dengan pengaturan yang bervariasi. :D

17 December 2012

Mengapa Baru Sekarang...?

Sebulanan ini saya galau, galau karena tidak bisa menonton dua film yang sudah lama saya nantikan penayangannya di bioskop: The Twilight Saga: Breaking Dawn (Part 2) dan 5 cm. Sebenarnya, sebelumnya sudah ada rencana untuk menonton dua film tersebut bulan ini, namun karena ada perubahan jadwal kegiatan di project, akhirnya rencana tersebut batal terlaksana. Entah benar-benar batal atau saya masih boleh menggunakan kata 'tertunda'. Tentunya saya lebih mengharapkan pilihan kedua...
picture source: Breaking Dawn part 2 and 5 cm

Tapi belakangan saya mulai mencoba untuk menerima kegalauan itu, bukan nyembuhkan atau menghilangkan ya, melainkan saya biarkan saja. Saya mencoba menikmatinya, hingga pada akhirnya kegalauan itu berubah 'objek'. Ha? Maksudnya,..? Oke oke sebentar, saya akan mencoba menjelaskan.

Saat ini, bukan lagi galau karena tidak bisa menonton kedua film tersebut, melainkan karena begitu banyak yang membahas kedua film itu, entah di blog, facebook, twitter, serta media sosial lainnya, tak terkecuali televisi dan kawan-kawan, dan saya hanya bisa menghela nafas begitu saja. :|

Film Breaking Dawn katanya seru ya? Renesmee nya cantik ya? Bella nya juga cantik ya? Keren yaa..? si Om om ganteng Mr. Cullen juga makin cakep ya? Edward apalagi... Jacob??? Aaarrrrghh,. sudah sudah, tak perlu diteruskan. Kapan hari juga pernah membaca salah satu postingan seorang sohiblogger, saya lupa siapa, pastinya ia menyampaikan kalau film Breaking Dawn part 2 merupakan seri Twilight yang terbaik diantara yang lainnya. Begitukah??? Hmmmm... *pukpuk diri sendiri :(

Oke, belum sembuh kegalauan saya akibat komentar-komentar wah tentang Breaking Dawn, tidak genap satu bulan berikutnya disusul dengan kehebohan 5 cm....

Yang ini amat sangat jauh lebih menyebalkan, terutama saat saya tau bahwa salah seorang kawan di twitter dengan sengaja mention akun twitter saya dan bertanya, "Sudah nonton 5 cm?"... Oke, saya masih bisa sedikit mengabaikan. Ehh, gak taunya ada juga yang langsung menyampaikan via whatsapp, "Mae, film 5 cm keren looo" Errrrrrrrrrrrrrrr... Rasanya ingin mendadak tidur begitu saja I-)

Satu pertanyaan yang mendadak muncul di benak saya, ini orang-orang udah pada janjian semua apa yaa buat ngingetin saya??? X-(

Hingga akhirnya di sore yang agak mendung ini, saya membaca di blogroll popcorn, dan melihat bahwa beberapa postingan terbaru sohiblogger ada yang membahas tentang 5 cm. Bersamaan!!! Whaowwww sajalahhh...

Tapi tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan dibenak saya, "Mengapa baru sekarang hebohnya???"

Setau saya, buku "5 cm" sudah terbit sekitar tahun 2000an, saya lupa pastinya. Namun, pertama kali saya membaca buku itu, kalau tidak salah cetakan ke lima, dan itu pada saat saya masih duduk di bangku SMA, sekitar tahun 2006. Buku 5 cm pertama yang saya punya entah sudah berada dimana sekarang. Tapi bukan berarti saya tidak punya, karena begitu buku itu hilang entah kemana, saya memutuskan untuk membeli lagi, sekedar untuk menggenapi koleksi serta memuaskan hasrat saya jika ingin membaca buku tersebut :D

Sejauh ini, saya perhatikan juga bahwa buku tersebut selalu berada di deretan buku 'best seller' bila di toko buku. Jadi, seharusnya sedari dulu kehebohan tentang 5 cm ini menggaung. Tapi tapi, kenapa hebohnya baru sekarang ya? Apakah karena filmnya? Apakah karena Fedi Nuril-nya? Atau Pevita Pearce-nya? Atau Mahameru-nya? ...sedang Mahameru sudah terkenal dengan keeksotisannya sejak dulu.

Atau,... Salahkan saya jika menyimpulkan bahwa, "masyarakat kita masih lebih berminat untuk menonton daripada membaca"??? Begitukah??? Silakan berkomentar, bagi yang setuju maupun tidak ;)

Anyway, saya sudah pernah membahas tentang buku 5 cm. Dan bahasan itu merupakan postingan pertama di popcorn. Tepat 29 Desember 2010, hampir dua tahun yang lalu. Lumayan lama juga yahh... Ada yang ingin membaca? Oke oke, saya beri linknya. Nihhh >>> http://www.my-armae.com/2010/12/dont-stop-me-now.html #EdisiPromosiPostinganLawasTerselubung B-)

Oke, sekian itu saja. Sebagai penutup, saya ingin memperingatkan pada sobat semua, please, saya mohon dengan sangat, tidak usah bertanya lagi pada saya tentang film 5 cm yah, juga Breaking Dawn part 2, kecuali... kalau ada yang bersedia mengirimkan pada saya edisi bajakannya. Hwahahahah... #plakkkk :))

14 December 2012

Sekarang Saya Paham

Sepuluh hari sebelum keberangkatan saya ke Dompu,...

Saya memutuskan untuk kursus mengemudi mobil, satu dua tempat kursus saya datangi, untuk sekedar mencari tau mana yang paling baik, mana yang recommended. Dengan berbekal prasangka baik, saya memilih salah satu diantaranya. Selain motif 'mengisi waktu luang', saya juga ingin mewujudkan salah satu dari mimpi saya: bisa mengemudikan mobil
 
Lima hari sebelum keberangkatan saya ke Dompu,...

Hingga hari kelima kursus, semua berjalan lancar. Tinggal satu hari lagi, saya berkesempatan untuk belajar mengemudikan mobil saat tes praktek pembuatan SIM A. Dua jam pun berlalu, dan akhirnya saya berhasil melalui seluruh halang rintang yang harus saya lalui,.. --kurang lebih.

Tiga hari sebelum keberangkatan saya ke Dompu,...

Saya bersama tante terpaksa menuju ke Dinas Kependudukan, untuk selanjutnya 'meminta tolong' pada teman tante supaya saya bisa dibuatkan KTP baru, karena pada tahun yang sama, satu bulan setelahnya, KTP saya akan habis masa berlakunya. Karena saya tidak punya banyak waktu, terpaksa jalur tersebut saya tempuh. Tak ada pilihan. Dengan berbekal beberapa lembar puluhan ribu rupiah, dalam waktu tak kurang dari tiga jam, KTP baru saya jadi juga. Hmmm,.. Tetap harus mengucap 'Alhamdulillah' bukan?

Dua hari sebelum keberangkatan saya ke Dompu,...

Saya berangkat ke SATLANTAS Kabupaten Gresik. Sendirian. Bingung harus berbuat apa, namun ternyata hari itu saya sedang beruntung. Saya bertemu teman SMA saya, yang juga akan melakukan ujian tes SIM A. Saya ditemani olehnya, begitu juga sebaliknya. Tes kesehatan dan tes teori kami lalui bersama, hingga saat yang menegangkan di mulai: tes praktek. 

Singkatnya, saya gagal. Saya melakukan tiga kesalahan: menjatuhkan balok pembatas saat parkir, mesin mati satu kali, dan gagal di tanjakan --sedang toleransi kesalahan hanya dua kali. Polisi yang menguji saya memberi tahukan bahwa boleh kembali lagi minggu depan. O'oww, itu bukan solusi untuk saya. Setelah sedikit bernegosiasi, akhirnya polisi tersebut memperbolehkan saya ikut tes praktek selanjutnya, dua hari lagi, yang itu berarti merupakan hari keberangkatan saya.

Hari H, keberangkatan saya ke Dompu,...

Lima jam sebelum pesawat saya tinggal landas, saya sudah berada di SATLANTAS Gresik. Dagdigdug di jantung tak lagi mampu saya tahan. Saya hanya bisa berdoa supaya dimudahkan jalannya, dipercepat prosesnya, dan sebagainya. Hingga akhirnya doa itu terkabul, segala tes berjalan sesuai dengan rencana, dan SIM A melalui jalur resmi sudah saya genggam. 90 menit sebelum pesawat saya take off, saya sampai di rumah. Pamit dengan semua orang rumah, sambil memamerkan senyum yang sangat lebar dan menunjukkan SIM baru saya. SIM yang masih sangat hangat keluar dari mesin cetak. Lagi, Alhamdulillah...

Tiga bulan setelah saya di Dompu,...

Baru setelah tiga bulan, saya mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan SIM yang sudah saya miliki. Di jalan lengang kota Mataram jam 2 pagi, dari kota menuju ke pantai Senggigi. Singgah sejenak di deretan cafe di pantai tersebut, serta hunting milky way. Canggung. Rasanya sangat berbeda dibandingkan dulu, saat masih kursus. Walaupun dengan jenis mobil yang sama. Alhasil, rekan seperjalanan saya memilih untuk menggantikan saya saat pulang dari Senggigi. Mungkin tak berani mengambil risiko...

Lima bulan setelah saya tinggal di Dompu,...

Kembali ke tanah Jawa untuk sejenak, dan kesempatan menggunakan SIM A tersebut datang lagi. Kali ini jauh lebih terkendali, walaupun sempat sedikit ada insiden 'hampir nabrak tembok rumah orang'. Tenang kawan, masih ada kata 'hampir' disana. Jadi semua baik-baik saja, hingga saat ini...

Kurang lebih satu bulan belakangan ini,...

Kesempatan itu makin banyak, seiring dengan seorang kawan sesama tim project yang baru saja membeli mobil, sedang beliau sendiri masih dalam tahap belajar. Alhasil, saya lah yang diberi kepercayaan untuk berada dibalik kemudi, tiap kali kami, sekawanan tim project melancong ke suatu tempat --entah dalam rangka tugas maupun jalan-jalan biasa.

...dan seiring dengan peningkatan jam terbang itu, saya yang berada di balik kemudi sekarang jadi paham,

Mengapa seorang pengemudi mobil sering kali membunyikan klakson?
Mengapa seorang pengemudi mobil sering kali menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tertentu, yang tak jarang dinilai terlalu lambat maupun terlalu cepat?
Mengapa seorang pengemudi mobil sering kali bertindak berlebihan, terlalu ketepi, terlalu ketengah?
Mengapa seorang pengemudi mobil sering kali bertindak terlalu egois dan terlalu pengertian?
Serta berbagai mengapa lainnya...
Tentunya semua penilaian itu muncul saat saya menjadi pengguna jalan lain, entah saat berjalan kaki, bersepeda, atau menunggangi si x-rav. Dan akhirnya jawaban, atau boleh di bilang klarifikasi dari penilaian tersebut, baru saya dapat setelah saya berada di balik kemudi berbentuk bundar itu.

Oke sobat, mulai saat ini, mari sama-sama belajar untuk menjadi lebih bijak dalam berkendara, juga sebagai pejalan kaki.

"Pada akhirnya, semua pertanyaan bisa didapatkan jawabannya hanya melalui perubahan sudut pandang --Mae"

13 December 2012

Ini Hanya Tentang Selera...

Mungkin karena faktor kesibukan (baca: malas :D), belakangan frekuensi posting saya agak menurun. Atau perubahan lain yang saya rasakan adalah, sekarang saya agak menghindari menulis yang terlalu panjang. Sangat berbeda dengan dulu, saat pernah sekali seorang sohiblogger memberikan award untuk popcorn dengan alasan karena tulisannya yang panjang-panjang. Apalagi kalau sudah bercerita tentang catatan perjalanan. Bisa jadi perjalanan tiga hari menjadi suatu cerita sekuel dengan 5 episode, yang masing-masing episodenya juga berhasil membuat telunjuk capek mutar scroll mouse ke bawah. :))

Tapi sepertinya masa-masa itu telah berlalu, kawans...

Belakangan ini, kalau kawan-kawan perhatikan, tulisan saya kian lama kian pendek. Bahkan kapan itu pernah membuat postingan yang hanya berisi empat baris tulisan. Awalnya itu whaowwwww banget untuk saya, dan ternyata juga ada beberapa sohiblogger yang mungkin sudah mengenal popcorn cukup lama, yang menyampaikan di kotak komentar bahwa "Rasanya ini postingan terpendek yang ada di Popcorn" --walaupun redaksinya tidak tepat seperti itu, tapi kurang lebih begitu lah yaa isinyaa...

Namun ternyata kawans, tidak hanya perubahan dari kebiasaan membuat postingan di blog yang berubah. Saya juga kian menyadari, sayapun sekarang agak enggan membaca tulisan yang terlalu panjang. Entah kenapa, pastinya tidak saya sengaja. Awal masuk ke blog baru, yang biasanya merupakan kunjungan pertama, hingga saya belum tau benar style menulis dari blogger yang sedang saya kunjungi rumahnya itu, saya selalu menyempatkan untuk menarik scroll di halaman tersebut hingga kebawah. Jika ternyata tulisannya cukup pendek, maka saya akan kembali ke atas dan mulai membaca. Namun jika panjang, apalagi dengan font yang kecil dan spasi rapat, hmmm, rasanya tidak perlu berpikir dua kali untuk mengklik close tab sesegera mungkin.

Walaupun sebenarnya batasan panjang-pendeknya pun sangat subyektif, menurut pemikiran saya saja...

Tidak hanya tentang panjang pendeknya tulisan, namun juga isi. Hmmm,.. Sepertinya otak saya sekarang sedang dalam tahap 'perubahan selera ngeblog'. Ngeblog disini maksudnya keseluruhan kegiatan blogging ya, mulai dari membuat postingan, promo postingan, hingga blogwalking. 

Dulu juga, saya suka dengan tulisan-tulisan cantik dengan makna yang boleh dibilang multi tafsir, semacam puisi, atau syair-syair yang, saat membacanya bisa memberikan ketenangan tersendiri. Tapi lagi-lagi itu dulu kawans, sekarang tidak lagi. Saat ini, jujur saya katakan kalau saya lebih suka membaca tulisan-tulisan ringan, tentang cerita keseharian seseorang. Entah yang lucu, yang horor, yang aneh, absurd, dan sebagainya. Saat ini juga saya lebih menyukai tulisan yang sederhana, yang apa adanya, yang tidak bertele-tele, yang mengatakan A jika ingin menyampaikan A, tidak harus melalui B kemudian ke C singgah ke D lalu berpaling ke E hingga kembali ke A. Saya juga sangat menyukai tulisan yang berupa opini. Ahh ya, jadi ingat kalau kategori 'opini' di popcorn sudah lama tidak terisi. Jadi postingan ini saya masukkan ke kategori itu saja yaa... :D

...karena dibalik kesederhanaan sebenarnya terkandung makna yang luar baisa...

Anyway, barusan saya menjelajah ke blog-blog baru, maksudnya blog yang baru pertama kali saya kunjungi. Entah ada berapa blog tadi. Bahkan ada satu blog yang dua, bahkan tiga dari tulisannya yang singkat, ringan, menghibur, yang saya baca dan saya komentari. Sepertinya menyenangkan, berkenalan dengan blogger blogger baru, yang juga akhirnya memberi inspirasi saya untuk menulis postingan ini.

picture source

Yah, ini hanya tentang selera, kawans. Bagaimana dengan selera blogging milik kawans semua? Apapun itu, yang penting kita harus tetep ngeblog. Harus!!! Sampai internet hilang dari muka bumi *pinjam jargon blognya si Asop* :D





*

Temaaaaaaaaaaaaans, ikutan Giveaway: Popcorn's 2nd Anniversary yukk, ada hadiah menarik untuk 6 orang dengan tulisan terbaik. Deadlinenya masih lama kok, masih 16 hari lagi. Ayooo ayooo ayooo ramaikaann.. :D

11 December 2012

Bingung Sejenak

picture source
Seorang sahabat nun jauh disana akhirnya berhasil menemukan trik untuk membuat desain blog persis seperti yang saya inginkan. Seperti yang sudah saya bayangkan jauh sebelum saat ini, yakni saat pertama kali terpikir dalam kepala saya untuk merombak total desain popcorn, pastinya sebelum menjadi yang seperti sekarang ini ya.

Begitu tau sahabat tersebut sudah menemukan triknya, saya langsung mencoba menerapkannya di blog eksperimen saya. Awalnya kacau, bangettt, dan sempat bikin saya pusing dan ngantuk. Hahahha... Abaikan ini, tapi percaya atau tidak, terkadang saya menggunakan istilah 'ngantuk' untuk menyampaikan bahwa saya pusing dan ingin rehat sejenak. Hingga akhirnya sesi rehat itu telah selesai, dan saya berniat untuk mulai bereksperimen (lagi).

07 December 2012

Terimakasih Untuk Lautnya

Beruntungnya aku, tahun ini berhasil terpilih menjadi salah satu panitia untuk kegiatan Masa Orientasi Siswa, dan hari minggu ini merupakan persiapannya. Tidak banyak yang harus diselesaikan, aku beserta kawan-kawan yang lain hanya perlu menyiapkan tiga buah kelas untuk basecamp panitia serta beberapa kegiatan lainnya, berkoordinasi dengan bapak dan ibu guru untuk pembagian kelas murid-murid baru, menempelkan peraturan-peraturan tertulis untuk para siswa baru, dan sebagainya. Ku kira kegiatan ini akan berlangsung hingga petang, namun ternyata tidak. Saat jarum jam di tangan kananku masih menunjukkan angka 10, seluruh persiapan sudah selesai dilakukan.

04 December 2012

Paket Wisata Alam Bedugul

Satu cerita terakhir saat melancong singkat di Bali dua bulan yang lalu,…

Sebelumnya saya sudah pernah ke Danau Beratan, atau lebih dikenal dengan nama Bedugul, yakni dulu, pada saat rekreasi bersama kawan-kawan SMA rasanya. Walaupun ingatan itu sudah samar-samar di otak, tapi keindahan danau tersebut memang menjadi salah satu pemikat untuk saya memutuskan kembali berkunjung kesana pada kesempatan saya ke Bali dua bulan yang lalu. Yah, seperti yang sudah pernah saya sampaikan sebelumnya, tiap perjalanan pasti punya sisa cerita yang berbeda-beda, sekalipun lokasinya sama, orangnya sama, dan suasananya pun sama. Begitu juga dengan perjalanan ke Bedugul tempo hari itu…

30 November 2012

Belajar Dari Semut

Sore tadi, sepulang dari kantor, ceritanya saya langsung buru-buru masuk ke kamar mandi. Gak perlu di ceritain kali yaa ngapain saya disana, pastinya saya 'nongkrong' untuk beberapa waktu lamanya.

Nah, kebiasaan saya, sangat senang main air di dalam kamar mandi, entah nyiprat-nyipratin air ke tembok lah, sikat2 gayunglah, dan sebagainya.

Pas saya lagi iseng nyiprat-nyipratin air itu, saya perhatikan ternyata ada sekawanan semut hitam sedang membentuk barisan yang saaaaaangat rapi. Entah mereka sedang apa, antri sembako mungkin... *ehh

29 November 2012

Giveaway: Popcorn's 2nd Anniversary

29 Nopember 2012!!! Yeaah,. tepat satu bulan sebelum ulang tahun Popcorn yang ke dua. Alhamdulillah, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan juga waktu yang lama, dengan berbagai halang rintang yang juga menjadi penghias perjalanan ini, Popcorn akhirnya bisa mencapai usia yang boleh dikatakan masih sangat muda dan lagi unyu-unyunya :">

26 November 2012

Behind The Scene: Girls Profile Update for BIAAG Campaign (part 2)

Silakan baca part 1-nya disini... :)

Begitu selesai mengupdate profil Anisah, saya beserta rombongan langsung bertolak ke kecamatan Hu'u, tepatnya di desa Marada, yang jaraknya kurang lebih 30 kilometer dari desa Jambu. Jalanan siang itu agak lengang. Hingga pada pintu gerbang masuk ke Kecamatan Hu'u, sempat ada sedikit pengambilan gambar, serta om Bonk yang disuruh membawa mobil maju mundur berulang kali oleh bang Uchin, ceritanya lagi akting mobil Plan lewat. Hehehe... :D. Sempat singgah di salah satu desa juga untuk mengisi 'bahan bakar', akhirnya tidak lama kemudian, sampailah kami di desa Marada yang siang itu terasa agak sejuk.

Om Bonk beserta mobil kesayangan, yang selalu mengantarkan kami kemanapun kami pergi. :D

Begitu sampai di desa Marada, tepatnya di PAUD Raodah, ternyata kegiatan yang diadakan disana belum selesai. Kebetulan saat itu ada kegiatan yang bertema "Pembahasan tentang Dampak Negatif dari Pernikahan Anak". Pas sekali kegiatan ini, karena juga sesuai dengan tema yang diusung oleh Nurhasnah, remaja kedua yang di update profilnya hari itu, yakni berkaitan dengan sosialisasi pencegahan pernikahan anak.

Sempat main ayunan di PAUD. Moga aja gak rusak :|

Setelah berkoordinasi dengan om Rudi, si empunya acara, yang juga termasuk salah satu staff Plan, kami akhirnya 'meminjam' Nurhasnah untuk dilakukan proses pengambilan gambar terkait kegiatannya Nurhasnah sehari-hari. Setelah selesai, maka pengambilan gambar berpindah ke dusun sebelah. Kami serombongan menyambangi salah seorang anak yang telah menjalani pernikahan anak, kemudian Nurhasnah memberikan sedikit penyuluhan serta semangat supaya anak tersebut tetap mau menjalani hidup dan menghidupi anaknya yang masih sangat kecil.


Untuk informasi saja, yang dikatakan "Pernikahan Anak" atau "Child Marriage" ini merupakan pernikahan yang dilakukan oleh anak-anak, yakni pada usia kurang dari 18 tahun. Hal ini banyak terjadi di Kabupaten Dompu. Sedangkan untuk penyebabnya, sebenarnya ada banyak, namun dua penyebab utamanya adalah masalah ekonomi dan 'kecelakaan', atau istilah kerennya adalah "MBA = Marriage by accident". Untuk itulah, Nurhasnah memilih tema "Pernikahan Anak" ini sebagai konsentrasinya untuk membuat perubahan di Kabupaten Dompu, terutama di desa Marada, desa tempat tinggalnya.

Jalan kaki, kesana kemari... :|
Selanjutnya, adalah sesi wawancara. Kalau sebelumnya di pembuatan profil untuk Anisah, sesi ini merupakan sesi terseulit, ternyata tidak pada Nurhasnah. Walaupun sempat ada kendala pula, saat kami akan memulai wawancara yang berlokasi di persawahan dengan pemandangan bukit dan laut, tiba-tiba ada warga yang menyalakan musik dangdut dengan sangat keras. Pastinya mengganggu proses, hingga akhirnya salah satu dari kami memutuskan untuk datang ke rumah warga tersebut dan memohon pada mereka supaya sedikit mengecilkan volume musiknya.

Begitu selesai, kami serombongan akhirnya memutuskan untuk singgah di Pantai Lakey, sambil menikmati sunset di penghujung sore itu. Alhamdulillah...

Sunset yang berawan di Pantai Lakey

***

Nurhasnah merupakan anak bungsu dari 10 bersaudara, yang saat ini sedang duduk di bangku kelas 3 di SMK jurusan pariwisata. Gadis berjilbab yang manis ini memiliki cita-cita yakni ingin menjadi bidan, dan ingin menjadi tour guide. Ketertarikannya dalam membantu mencegah terjadinya pernikahan anak, bermula dari pengalaman orang tuanya yang mengalami hal serupa. Nurhasnah juga melihat di sekelilingnya, beberapa orang teman sekolahnya yang juga mengalami pernikahan anak, yang sebagian besar dari mereka berujung pada kehidupan yang tidak bahagia, putus sekolah, serta mengalami masalah ekonomi di keluarganya. Untuk itu, ia bertekad supaya bisa mensosialisasikan tentang dampak negatif pernikahan anak ini tidak hanya di masyarakat desa nya, melainkan juga di tingkat kecamatan, bahkan kabupaten Dompu. Dengan begitu, ia berharap tidak akan lagi ada yang mengalami pernikahan dibawah umur untuk kedepannya.

Yeah,. dua orang remaja putri yang sangat menginspirasi ini sudah selesai di update, tinggal satu remaja lagi, pastinya dengan kisah yang berbeda. Selamat menunggu.. Hehe.. :D

22 November 2012

Behind The Scene: Girl's Profile Update for BIAAG Campaign (part 1)

Alhamdulillah, dua hari (plus plus) yang sangat melelahkan akhirnya dapat terlalui juga. Salah satu target besar di bulan ini akhirnya dapat tercapai, dengan diselesaikannya kegiatan "Girl's Profile Update for BIAAG Campaign" ini. Banyak cerita yang menyenangkan, lucu, mengharukan, bahkan tidak terduga dari dua hari yang cukup panjang ini, bersama dengan Ulil, mas Roni (Dompu's Nutrition Project Team), om Irsyad (member of Comm's Dept of Plan Indonesia), dan Mas Mukhsin (atau lebih akrab disapa Mas Uchin), salah seorang kameramen ANTV yang di hire untuk misi ini, serta om Bonk, driver Plan Indonesia PU Dompu yang telah bersedia mengantarkan kami kemanapun kami pergi, dari pagi hingga petang, dari ujung desa yang satu ke desa yang lain, hingga ke ujung selatan Kabupaten Dompu, tepatnya di pantai Lakey.
Kegiatan bermula saat saya dan kawan-kawan lainnya menerima email dari ibu Manajer yang sebenarnya agak terlambat untuk menyampaikan tentang skenario pembuatan profil remaja putri. Kemudian dilanjutkan dengan om Irsyad dan mas Uchin yang (juga) terlambat datang karena pesawat yang di tumpangi dari Denpasar ke Bima sedikit mengalami delay, hingga akhirnya H-1 kegiatan tersebut, saya bersama dengan tiga orang tim proyek lainnya harus berangkat ke desa sore hari untuk menyiapkan semua hal, dan kembali ke Dompu dengan selamat tanpa kurang suatu apapun kecuali rasa lelah yang teramat sangat pada pukul 10 malam. Ini baru persiapan, sudah seperti ini jadinya. Yah, semoga besok berjalan lancar, itulah yang ada di benak saya.

Keesokan harinya, jam 9 pagi lewat sedikit, akhirnya kami berenam--yang sudah saya sebutkan di awal tadi, berangkat menuju desa. Desa pertama yang kami tuju adalah desa Jambu, yang berada di Kecamatan Pajo. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari kantor, dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit. Remaja Putri pertama yang akan di update profilnya kali ini adalah Anisah.

Begitu sampai di lokasi, ternyata di Poskesdes sudah ramai oleh warga yang sedang mengikuti kegiatan KB gratis yang diadakan oleh BKKBN. Hal ini sudah terduga, karena memang kami sudah mendapatkan informasi sebelumnya dari ibu Bidan Desa, mbak Ayu. Setelah sedikit berkoordinasi dengan Bidan Desa, serta mengambil sedikit gambar tentang kegiatan di Poskesdes Desa Jambu, akhirnya kami beranjak ke rumah Anisa. Nah, dari sini dimulailah kegiatan shooting ala sinetron itu.

Saya baru tau, kalau ternyata pembuatan video yang secara keseluruhan mungkin durasinya hanya 3-4 menit itu prosesnya cukup panjang. Mulai dari briefing, pengambilan scene 1, 2, 3, dan seterusnya, belum lagi pengulangan-pengulangan yang dilakukan, itu benar-benar menguras tenaga. Walaupun saya juga sebenarnya tidak terlalu sibuk, hanya sebagai pengamat dan pendamping, tapi tetap saja lelahnya sangat terasa. Fiuhhh... #:-S


Belum lagi skenario yang dibuat untuk Anisah memang cukup panjang. Mulai dari kegiatan Anisah sehari-hari di rumah (ada adegan Anisah sedang membersihkan rumah, menyapu, memasak, dan lain sebagainya), lalu kunjungan Anisah ke ibu-ibu hamil, memberikan penyuluhan tentang Tanda dan Bahaya Persalinan, serta mengajak ibu-ibu hamil tersebut untuk rutin memeriksakan kehamilan kepada Ibu Bidan di Poskesdes.


Selanjutnya pengambilan video bersetting di pematang sawah tadah hujan yang sedang tidak ditanami oleh apapun. Ini merupakan scene tersulit, karena ceritanya Anisah di wawancarai tentang kegiatan apa saja yang sudah dia lakukan dalam rangka mendukung kampanye Because I am A Girl (BIAAG Campaign), serta apa harapan Anisah untuk kedepannya.


Saking gugupnya, scene ini harus diambil berulang kali, mulai dari awal yang bingung harus menyampaikan apa, hingga apa yang disampaikan ngelantur kesana kemari, bahkan, ada satu bagian dimana kami semua terbahak-bahak saat Anisah menyampaikan hal ini,

"...harapan saya, dengan saya memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu hamil dan menganjurkan mereka untuk memeriksakan kehamilan secara rutin di Poskesdes, ibu-ibu tersebut dapat melahirkan dengan baik dan selamat, serta anak yang dilahirkan menjadi anak yang sakinah mawaddah wa rahmah..." :|

Begitu mendengar hal itu seketika om Irsyad dan mas Uchin tertawa terbahak-bahak. Segala konsentrasi hilang karena satu kalimat aneh yang tiba-tiba saja terlontar dari Anisah, yang bahkan pada scene-scene sebelumnya tak pernah terucap sama sekali. Ini lagi ngomongin ibu melahirkan apa ngomongin orang yang baru nikah ya??? Hahaha... =))


Akhirnya sampai juga kami di scene terakhir, yaitu adegan yang memperlihatkan Ibu Bidan sedang berbagi informasi kepada Anisah tentang pengetahuan-pengetahuan umum yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Beruntungnya adegan tersebut dilakukan di Poskesdes, hingga kami bisa duduk-duduk untuk beristirahat. Bukan main lelahnya, saat itu juga sepertinya tengah hari, matahari serasa berada di ubun-ubun. 

Setelah sekitar setengah jam berlalu, akhirnya seluruh adegan pada scene tersebut selesai juga. Mas Uchin menyatakan semua gambar yang dibutuhkan sudah cukup, dan kami memutuskan untuk berpindah ke desa selanjutnya, yakni desa Marada di kecamatan Hu'u, mengupdate profil remaja putri yang satunya, yakni Nurhasnah.

Nah, bagaimana cerita disana? Tunggu di postingan selanjutnya yah,.. Pastinya tidak akan kalah seru dibandingkan dengan cerita Anisah. ;)

***

Anisah adalah seorang remaja putri dari Kabupaten Dompu yang terpilih sebagai Duta Remaja Putri untuk kampanye Because I am A Girl. Karena minatnya dalam bidang kesehatan terutama yang berkaitan dengan kehamilan, ia bercita-cita menjadi seorang Bidan. Walaupun saat ini dia belum bisa meneruskan pendidikan ke sekolah kebidanan karena masalah biaya, ternyata dia tidak kehabisan akal untuk membantu masyarakat yang ada disekitar tempat tinggalnya, terutama ibu-ibu hamil. Berkat informasi yang dia dapat dari ibu Bidan Desa, ia akhirnya memberikan penyuluhan tentang kesehatan ibu hamil serta tanda dan bahaya kehamilan dan persalinan pada ibu-ibu hamil secara swadaya, dengan cara mendatangi rumah mereka satu persatu. Sungguh luar biasa, anak yang baru berusia 18 tahun sudah memiliki kepedulian yang teramat besar pada lingkungannya.

Ingin mengetahui lebih lengkap tentang sosok seorang Anisah? Silakan tunggu video profilnya yang sudah jadi, walaupun saya tidak tau kapan, pastinya setelah melalui proses yang panjang, video tersebut nantinya akan di upload di youtube. Tunggu saja yahh... ;)

16 November 2012

Curhatan Mas Oji

picture source
Sedari kemarin saya sebenarnya sudah ingin mengupdate si popcorn, tapi tulisan saya akhirnya hanya berujung pada dokumen yang tersimpan di harddisk greys, tanpa jadi saya publish. Pagi ini juga seperti begitu, hingga akhirnya saat ada mas Oji duduk di sebelah saya, saya menyuruhnya untuk menulis.

Si greys yang saat tadi sedang menampilkan halaman kosong "newpost" di blogspot ini saya serahkan begitu saja padanya. Saya cuma meminta dia untuk menulis, apa saja, tak perlu di pikirkan, yang penting tulis saja. Sambil saya tinggal membuat kopi hitam di dapur kantor, akhirnya jadi juga tulisan sepanjang dua paragraf ini. Tidak banyak yang saya rubah, kecuali pengaturan penulisannya, plus huruf-besar kecilnya. Selebihnya asli tulisan mas Oji.

Selamat membaca, kawans... ;)

13 November 2012

(Gagal) Hunting Sunset

Masih cerita dari pulau Dewata,

Saya baru tau, kalau ternyata selain pantai Kuta, ada Tanah Lot yang juga menyuguhkan pemandangan sunset di Bali. Tapi saya tidak bisa membandingkannya, karena ternyata kemarin, saat saya mencoba melewatkan pergantian siang ke malam disana, mataharinya terlalu cepat bersembunyi di balik awan. Amat sangat tidak dramatis. Jadi, satu jepretan saja sudah cukup rasanya. Selebihnya, mari menikmati keriuhan Tanah Lot di hari minggu sore yang agak berawan itu (7 Oktober 2012).

09 November 2012

Yang Pertama (Lagi dan Lagi)

Yang pertama, tapi bukan benar-benar pertama. Ahhh, saya bingung bagaimana menjelaskannya.

Pastinya selalu ada kekhawatiran tersendiri, tiap kali saya akan memulai sesuatu, yang bahkan sudah tidak layak lagi menyandang gelar 'baru'.

Masuk ke suatu desa, bertemu dengan orang-orang baru yang sangat asing, juga menjadi salah satu penyebab kekhawatiran itu. Belum ada kehangatan dari pandangan mata masing-masing mereka. Yang ada hanya rasa sangsi, penasaran, mungkin sedikit meremehkan juga, tapi entahlah, karena semua itu tak lebih dari dugaan saya saja.

Setiap kali satu sesi berlalu pada 'hari yang baru bersama orang-orang baru', hampir selalu ada kekecewaan. Yah, yang terjadi memang selalu seperti itu di awal. Ada ketakutan aneh bahwa proses selanjutnya tidak akan berjalan dengan lancar. Ada ketakutan bahwa forum tidak bersahabat, bahkan target tak akan tercapai. Menyeramkan sekali memang....

Tapi melihat yang telah lalu, juga beberapa kejadian kecil di hari ini, tetap ada kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang masih dapat saya rasakan, kala senyum lebar tertuang dengan tulus dari wajah-wajah mereka, sambil mengangguk-anggukkan kepala serta melafalkan beberapa patah kata, "Yaa.. Yaa.. Ya... Saya paham..."

Alhamdulillah... :)

Semoga, seperti yang lalu-lalu juga, bahwa kekhawatiran itu hanya berujung pada ruang hampa yang ternyata tak berarti apa-apa. Saya sangat menantikannya, walaupun ini baru pembukaan.

Saya sudah tidak sabar untuk merasakan kebahagiaan-kebahagiaan besar di akhir sesi ini. Saat semua telah selesai, dan ada seulas puas.Tak hanya di mata saya, namun juga di mata mereka.

-Desa Rasabou, Kecamatan Hu'u, hampir ke ujung selatan Kabupaten Dompu. Pengkajian Desa Secara Partisipatif, hari pertama, istirahat pertama-

posted from Bloggeroid

08 November 2012

Kopdar Kedua

Kopdar pertamanya gak usah di tulis yaaaa??? Terlalu privat soalnya. Ihhikk... Wkwkwkwk, oke lupakan!!!

Jadi, masih dalam serangkaian acara di Bali sebulan yang lalu, mumpung ada free time sekitar dua-setengah-hari-tiga-malam, saya memutuskan untuk menghubungi beberapa sohiblogger yang saya kenal, yang setau saya berdomisili di Bali. Sebenarnya ada beberapa, tapi pada saat itu yang bisa datang cuma dua orang. Satu yang undangan, satu lagi mau ikuuut aja padahal gak diajak #plaakkkkk. Oke, kidding. Hahha... Dan, kedua blogger ganteng yang beruntung dapat bertemu saya adalah, tadaaaaaaaaaa.... Mas Ari Tunsa dan Gandi. *saya nulis gini gak sambil di sogok kok. Beneran dehh... :">

07 November 2012

Semoga Ini Membantu

picture source
Belakangan hasrat saya untuk ngeblog serasa terjun bebas. Yapp, saya jenuh. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk meluncurkan template yang sudah saya rancang sejak lama. Sambil numpang wifi di kantor pastinya, karena sudah beberapa bulan terakhir juga saya tidak lagi rutin mengisi ulang pulsa modem, jadi ya bisa dipastikan masa aktif kartunya pun sudah lewat. Biar sajalah, rasanya memang saya tidak terlalu membutuhkannya saat ini. Sudah ada si walky, dan sejauh ini dia cukup membantu,.. :)

Semoga dengan template baru ini, juga bisa menyegarkan kembali hasrat ngeblog saya. Yah, semoga..

02 November 2012

Adhi Jaya Sunset Hotel

Hotel yang kali ini saya review adalah “Adhi Jaya Sunset Hotel”. Lokasi tepatnya terletak di Jalan Sunset Road, Kuta, Bali, (masih di) Indonesia. Saya menginap di Adhi Jaya Sunset bulan lalu selama 3 malam, bertepatan dengan workshop yang diadakan oleh project yang saya jalani sekarang. Jangan tanya tentang workshopnya. Pastinya tidak akan saya bahas lagi karena saya sudah pernah menceritakannya di postingan yang ini. Silakan di klik jika ingin membacanya yahh.. ;)

14 October 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Wacana tentang tawuran belakangan ini sudah menjadi ‘santapan sehari-hari’ media. Jika kawan-kawan perhatikan, semakin sering saja informasi tentang kejadian tawuran diberitakan, mulai dari tawuran antar pelajar, tawuran antar mahasiswa, hingga tawuran antar penduduk. Tak jarang juga dari kejadian-kejadian itu berhasil merenggut beberapa nyawa. Sedang kerugian materil sudah pasti tidak bisa dihindari.

12 October 2012

Naik Pesawat Baling-Baling (Lagi)

picture source
Kata ibu officer, “Saya belum bisa tenang kalau semua peserta belum naik ke pesawat”. Begitulah ‘rumus’nya, jika mengadakan travel dan mengajak beberapa mitra, serta kami sebagai staff bertugas sebagai pendamping. Ternyata ‘rumus’ itu memang benar adanya. Walaupun sudah direncanakan sedemikian rupa, tetap saja ada kejadian-kejadian tidak terduga yang kami alami pagi itu, Rabu, 3 Oktober 2012, hari keberangkatan ke Bali, yang pastinya membuat kami bertiga—saya, Ulil, dan ibu Officer tidak bisa duduk tenang.

09 October 2012

Tiga Hari Pertama di Bali

Haloo blogsphere,.. Apa kabar semua? Akhirnya saya kembali lagii, dengan sejuta cerita yang entah akan bisa saya tuangkan semua di popcorn atau tidak.

Enam hari yang sangat menyenangkan pastinya, sekaligus melelahkan. Workshopnya memang hanya dua hari, tapi entah kenapa rasa lelahnya masih terasa sampai sekarang. Bahkan seharian ini masuk kerja sudah seperti orang linglung. Tadi pagi butuh sekian menit untuk mencari email dari salah seorang rekan, terkait laporan yang harus segera saya selesaikan. Setelah itu, bingung lagi bongkar-bongkar harddisk si greys untuk mencari dokumentasi kegiatan. Padahal baru pergi enam hari, tidak menyapa si greys enam hari saja, tapi rasanya sudah pikun setengah mati. Ada yang tidak beres dengan saya sepertinya,.. #:-S

02 October 2012

Selamat Datang Oktober

Selamat datang Oktobeeeerrrrr.... :D

Walaupun terlambat sehari, tak apa lah yaa. Kemarin sebenarnya seharian di kantor saja--begitu juga dengan hari ini, namun seharian penuh ngadep laptop tanpa online sama sekali. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan saat itu juga kawan, ditambah memang laptop yang saya gunakan sedang mengalami masalah koneksi dengan internet. Yah, sedikit banyak harus bersyukur dengan hal itu. Akibatnya saya jadi bisa fokus menyelesaikan pekerjaan tanpa harus berganti-ganti membuka jendela yang satu dan yang lainnya. Sekalipun beranjak siang hingga sore, mata terasanya sedikit agak juling dan jempol serta jari-jari mendadak menebal karena seharian bersentuhan dengan keyboard dan mouse. Oke ini lebay. Sekian saja.

21 September 2012

Menengok Keindahan Desa Senaru

Desa Senaru, merupakan desa terakhir sebelum masuk ke jalur pendakian dari dan menuju puncak Rinjani. Jalur pendakian menuju puncak Rinjani sebenarnya ada banyak, namun yang paling umum digunakan adalah jalur Sembalun-Senaru atau sebaliknya, Senaru-Sembalun. Berhubung kemarin rombongan kawan-kawan saya sudah naik melalui jalur Sembalun, maka mereka akan turun gunung melalui jalur Senaru. Kalau mereka membutuhkan waktu empat hingga lima hari dari Sembalun—Puncak Rinjani—Senaru, saya hanya butuh waktu tak lebih dari satu jam dari Sembalun—Lihat puncak Rinjani dari Jauh—Senaru. Hehehe… :">

17 September 2012

Menyapa Puncak Rinjani

24 Agustus 2012,

Pesawat yang saya tumpangi mendarat juga dengan mulus di Bandar Udara Internasional Lombok. Jadwal masuk kerja masih tiga hari lagi (27 Agustus 2012), namun saya sudah meninggalkan rumah pada jumat pagi itu—bukan tanpa alasan pastinya. Begitu keluar dari bandara, sempat agak bingung juga mengingat tak ada kabar berita dari yang akan menjemput saya. Namun pada akhirnya kabar tersebut tidak saya perlukan lagi, karena sesosok laki-laki yang sudah dua minggu tidak saya jumpai muncul dihadapan saya. Om Joe. Yeah, lumayan kangen juga sama tuh orang. Hehe… Sempat ngemper sebentar di bandara, kami akhirnya memacu motor ke sekretariat Grahapala Rinjani, Universitas Mataram (UNRAM).

11 September 2012

Book Review: Sepatu Dahlan

Judul: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Tebal: 369 halaman
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Noura Books


…mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging. Siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku. Sungguh, aku butuh tidur. Sejenak pun bolehlah. Supaya lapar ini terlupa…

Novel ‘Sepatu Dahlan’ bercerita tentang perjalanan alam bawah sadar seorang Dahlan Iskan selama delapan belas jam saat menjalani proses operasi transplantasi hati. Perjalanan tersebut membawa Dahlan Iskan kembali ke kehidupan masa kecilnya beberapa tahun silam. Berlatar kehidupan sederhana masyarakat Kebon Dalem di tahun 1960-an, salah satu kampung di kabupaten Magetan, Jawa Timur, kisah Dahlan pada masa kecil itu dimulai. Dahlan yang kala itu baru saja menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), harus menghadapi kenyataan pahit yakni tidak bisa melanjutkan ke sekolah yang diinginkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.

07 September 2012

Oke, Award ke Duabelas,..

Sudah lama saya tidak bertemu award-award-an di blogsphere, hingga beberapa hari yang lalu salah seorang sohiblogger menyampaikan lewat kotak komentar di postingan yang lalu kalau saya mendapatkan award darinya. Yah, memang ini award ke duabelas yang diterima popcorn, namun sepertinya ini postingan pertama tentang award yang boleh dibilang tepat waktu, gak ngaret banget (jadi intinya masih tetap ngaret, kawan--walaupun tidak terlalu lama) untuk diteruskan. Oke, sekian pembukaan postingan kali ini, langsung saja ke topik utamanya.

04 September 2012

Untuk Bangunan yang Saya Sebut 'Rumah'

Saya tak yakin boleh menyebutnya sebagai ‘rumah saya’, karena pada kenyataannya tak pernah saya habiskan waktu terlalu lama berada disana. Hanya di beberapa akhir pekan saya beberapa tahun silam, hanya sebagian kecil dari waktu libur saya, saya menjadi bagian darinya. Mungkin jauh lebih tepat jika saya menyebutnya sebagai ‘Rumah Papa’. Ya, rumah Papa, karena saya ingat betul bagaimana perjuangan Papa dalam mendirikan rumah tersebut—didampingi oleh seluruh anggota keluarga lainnya pastinya.

Disalah satu sudut kota Gresik yang masih amat jarang penduduknya, disitulah bangunan tersebut berada. Kala itu saya masih berseragam putih-merah. Disana belum ada bangunan sama sekali, bahkan belum ada satu buah bata pun yang tersusun, hanya pondasi dari batu putih besar yang menjadi alasnya, sedang tanah-tanah liat masih menggunung, masih belum jelas bagaimana nasibnya. Saya dapat melihat langsung bagaimana waterpass bekerja, yang ternyata begitu sesederhana penggunaannya. Saya juga masih ingat saat saya menemani Papa yang mulai menyusun satu persatu batu bata merah yang ada, saya terkadang pergi menjauh dan masuk ke semak-semak atau padang ilalang yang ada di sekitar. Sering sekali Papa marah saat saya berbuat seperti itu. Beliau khawatir kalau saya atau adik saya terkena ular, atau binatang-binatang berbahaya lainnya. Maklum, pada saat itu, disekitar rumah yang sedang dibangun oleh Papa, merupakan tanah kosong yang penduduknya masih jarang. Sangat jarang. Cuma ada beberapa rumah disana, itupun jaraknya saling berjauhan.

Jauh sebelum itu, saat masih belum ada rumah itu, saat Papa sekeluarga masih tinggal di rumah nenek, saya ingat sekali bagaimana perdebatan mengenai denah rumah itu menjadi bagian dari agenda kami hampir setiap malam—tentunya saya hanya bisa menghadirinya saat weekend. Bagaimana ruangan yang satu diatur bersebelahan dengan yang lain, lalu digeser, posisi pintunya dirubah, dipindah lagi, diputar lagi menghadap kesana kemudian kemari. Begitu juga saat saya, kakak, serta adik saya berebut ingin dibuatkan kamar satu persatu, juga desain plafon yang berbeda (mohon dikoreksi jika tulisan saya salah). Ahh, manis sekali saat-saat itu. Hingga akhirnya desain itu jadi juga. Rumah dengan empat kamar, dua kamar berukuran sedang untuk saya dan kakak, satu kamar berukuran agak kecil untuk adik, satu kamar berukuran besar untuk Mama dan Papa serta adik saya yang paling kecil (pada saat itu adik saya yang paling kecil masih bayi) lengkap dengan kamar mandi dalam. Sebuah kamar mandi di luar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur beserta ruang makannya, garasi (yang pada saat itu masih belum yakin akan terisi oleh apa), serta teras samping yang rencananya akan dibuat rumah panggung. Ya, Papa tak ingin menghilangkan nuansa ‘rumah bugis’ disana. Untuk itulah disisakan sebagian kecil bagian dari rumah itu menjadi rumah panggung, lengkap dengan kolam ikan yang ada dibawahnya. Manis sekali kan…?

...hingga akhirnya rumah itu tegak berdiri, dengan tembok bercat putih bersih, pagar besi berwarna hijau, serta kusen dan pintu berwarna coklat khas kayu Ulin...

Di suatu pagi menjelang siang yang cerah, saat saya sedang bersekolah, Papa datang ke sekolah saya dan meminta ijin pada Kepala Sekolah untuk membawa saya pulang lebih cepat. Ya, saat itu adalah hari peresmian Papa sekeluarga pindah ke rumah baru. Rumah impian, kalau boleh dibilang. Karena sejak menikah dengan Mama, Papa baru bisa memiliki rumah sendiri saat itu, setelah sekian tahun pernikahan mereka. Bayangkan bagaimana bahagianya, akhirnya punya rumah sendiri yang dibangun dari nol, bahkan desainnya pun kami semua yang merancang. Bisa kalian bayangkan? Bahkan saat inipun saya tak bisa melukiskan kebahagiaan itu. Kebahagiaan Papa, Mama, Kakak, serta Adik-adik saya, juga saya pastinya.

Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk pembangunan suatu rumah. Namun begitulah Papa, dengan segala ke-perfeksionis-annya. Beliau lebih suka mengandalkan dirinya sendiri dan Om (adik Papa) untuk proses finishing rumah tersebut. Para tukang hanya membantu saat mendirikan tembok serta pemasangan atap rumah (kalau tidak salah ingat). Hingga hal itu berakibat pada penyelesaian rumah itu yang memakan waktu cukup lama. Namun semua itu jadi tak masalah, saat akhirnya kami semua bisa menikmati hasilnya. Rumah yang kokoh, sempurna di setiap detailnya, serta hidup. Hidup dalam arti yang sebenarnya. Karena rumah itu sudah ada didalam benak kami, masing-masing para penghuninya, bahkan jauh sebelum peletakan batu pertama. Alhamdulillah…

Namun ternyata rumah itu tak berumur lama ditinggali Papa sekeluarga, karena menginjak tahun kelima tinggal disana, Papa memutuskan untuk pindah ke Kalimantan. “Doing something crazy, something different”, kalau rumusnya Om Edy Mulyono, salah satu penulis favorit saya. Meninggalkan segala kenyamanan yang ada di Gresik, meninggalkan rumah impian yang sudah dibangun dengan susah payah, untuk memulai kehidupan yang baru di Kalimantan, di tanah kelahiran beliau, tepat saat saya masuk ke dunia putih abu-abu. Hingga akhirnya, bangunan yang saya sebut ‘Rumah’ itu berubah label, menjadi ‘rumah kontrakan’.

…dan delapan tahun itu berlalu. Hingga beberapa hari yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki disana. Dengan labelnya yang kembali seperti semula, ‘Rumah’…

Ada kesan asing saat menginjakkan kaki kembali disana. Tapi sungguh, tak bisa saya pungkiri bahwa masing-masing sudutnya menyimpan kenangan-kenangan masa kecil yang entah masih bisa saya jabarkan satu persatu atau tidak saat ini. Pastinya, ada rindu yang mendalam yang ingin segera tercurahkan saat itu juga, malam itu juga, ditengah wajah-wajah yang sudah sangat saya kenali, namun lama tak saya jumpai.

Ada seraut kebahagiaan terpendam saat melihat wajah Papa, kala beliau duduk di teras rumah itu, malam itu. Entah apakah Papa juga bisa melihatnya di wajah saya. Mungkin iya, karena Papa merupakan salah satu diantara sedikit manusia yang saya tak bisa menutupi suatu halpun didepannya. Sudah banyak sekali yang berubah jika dibandingkan delapan tahun silam, tapi nyawa dari rumah itu masih belum mati. Nyawa sebagai ‘Rumah Impian’ itu masih terasa, hingga malam itu saat saya berada disana.

22 Agustus 2012, 19.30pm
Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, tetaplah berdiri kokoh disana. Sekalipun di beberapa sudutmu telah mengalami pembaharuan, tapi saya berharap nyawamu tak akan mati. Hingga kelak generasi-generasi penerus Papa juga bisa menyaksikanmu, menikmati keteduhanmu, merasakan kehangatanmu, menghidupkan semangatmu, juga menjadikan kau sebagai saksi keberhasilan anak cucu Papa kelak.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, terimakasih telah menjadi ruang yang nyata bagi mimpi-mimpi kami, terutama menjadi salah satu mimpi terbesar Papa yang akhirnya menjadi kenyataan. Tetaplah menjadi ruang bagi kami, tempat bagi kami untuk ‘pulang’, karena tak ada satupun tempat yang layak bagi kami untuk pulang selain ‘rumah’ itu sendiri. Terimakasih pula telah menjadi ruang bagi kami semua untuk berkumpul, satu keluarga besar, keluarga dari Mama, tahun ini, Idul Fitri 1433 Hijriyah. Terimakasih banyak.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, mengutip salah satu quote di 5 cm-nya Donny Dhirgantoro,  
“Salah satu keindahan di dunia yang akan selalu dikenang adalah ketika kita bisa melihat atau merasakan sebuah impian menjadi kenyataan”,
dan melihatmu, menurut saya adalah salah satu dari keindahan itu.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, ahh, saya tak tau harus menuliskan apa lagi…

02 September 2012

Buka Bareng, Reunian, atau Sesi Foto...?

"Ma, aku kaya'e gak ikut. Masi di RS, ada pasien baru"
"Lhaaaaa... Trus gak jadi balik Gresik juga?"
"Aku kesana gak nututi, ini ada pasien. Jadi..."
"Jam berapa kira-kira...?"
"Jam lima lebih baru cabut dari RS, paling sampe Gresik jam 6-an... Gak nututi ndukk..."
"Yaaahh... Pengen ikut nih, tapi gak ada temen bareng. Gak ada yang kenal deket lagi.."
"Ini aku otw pulang. Gak jadi ngeliatin pasien. Kalo misalnya buka di rumah piye? Kesanae nyusul"
"Gak masalah"
"..."
Kurang lebih begitulah percakapan saya dengan Tya via whatsapp, beberapa jam sebelum kami menghadiri acara Buka Bersama dan Reuni Alumni SMP Negeri 2 Gresik angkatan tahun 2004. Ehh, betul gak sih 2004? Saya jadi bingung. Kalau di SMP atau SMA, tahun yang digunakan sebagai penentu angka 'angkatan' itu tahun lulus kan ya? Berbeda dengan di perkuliahan yang mengambil tahun masuk. Begitu? Yah, anggap saja begitu. Intinya, saya lulus dari bangku SMP tahun 2004.Sepertinya... #ehh

Kalau tidak salah ingat, ini merupakan acara kumpul-kumpul pertama yang saya ikuti semenjak saya lulus dari bangku SMP. Whaowww.. Berarti sudah cukup lama ya? Sekitar delapan tahun yang lalu. Walaupun ada beberapa dari teman SMP yang alhamdulillah sampai saat ini masih terus berhubungan baik, diantaranya teman-teman yang melanjutkan ke SMA yang sama--meskipun jumlahnya tak banyak. Dan karena hal itulah, saya sedikit memaksa Tya untuk tetap ikut, karena yang penting bukan acara buka puasanya, melainkan kumpul-kumpulnya, bertemu dengan kawan-kawan lama, momennya, yang entah kapan akan ada kesempatan lagi.

Akhirnya setelah berbuka puasa dan sholat, saya langsung memacu si honda-beat-putih-yang-imut-itu menuju rumah Tya. Begitu sampai, berbasa basi sedikit dengan si Tante dan Om--orang tuanya Tya. Lumayan kenal juga si, tapi sudah lama gak main kesana. Gimana gak kenal? Orang temenan ama Tya sejak SD, dan sejak dulu juga sudah sering main kesana. Ya, Tya ini merupakan salah seorang sahabat cewek terbaik, dan terlama yang pernah ku kenal. :D

Begitu sampai di lokasi yakni di RM Warung Apung Rahmawati, Gresik, kami berdua tidak langsung masuk, melainkan mengkonfirmasi terlebih dahulu pada seorang teman, karena ingin memastikan kalau acara belum berakhir. Gak lucu juga kalo saat kami datang terus teman-teman yang lain mendadak pulang. Ya tho? Akhirnya setelah chat konfirmasi diterima, masuklah kami ke rumah makan tersebut yang ternyata kondisinya sudah amat sangat jauh berbeda dibandingkan saat terakhir saya kesana. Maklum, orang dari desa. Sudah lima bulan lebih gak lihat tampang kota *dipersilakan dengan sangat kalau mau ngakak :))

Dari jauh, sudah nampak keriuhan teman-teman SMP yang, hmmmm.. bingung harus berkomentar seperti apa. Pastinya sebagian besar tidak saya kenal. Ada yang saya kenal pun juga sudah amat sangat jauh berubah, kecuali beberapa sosok yang memang masih sering hadir dalam hari-hari beberapa waktu lalu. Selebihnya? Errrrrr.. Cuma bisa pasang senyum paling manis sambil bersalaman satu persatu. Tak lama setelah itu, disodorilah es teh dalam cup berukuran cukup besar kepada saya dan Tya.

"Makan gak...?" tanya si Yossi, ibu ketua pelaksana event ini.
"Kalo makan, dipesanin, tapi bayar yaa.. Kalo gak, yaaa gak jadi pesan. Dapat minum doank, gimana?"

Nah lo, naluri anak kos mulai bekerja. Berhubung sebelumnya sudah berbuka puasa di rumah masing-masing, saya dan Tya memutuskan untuk tidak makan lagi--lebih tepatnya gak pengen bayar lagi. Lumayan meen, tigapuluhlimaribu. Hahaha... #skippp

Ternyata eh ternyata, acara reunian plus buka puasa bareng itu belum selesai, tapi SUDAH AKAN SELESAI. Namun untungnya sesi yang paling penting diantara yang penting tidak saya lewatkan. Apalagi kalau bukan sesi dokumentasi? Dan seperti biassa, saatnya si G12 beraksii. Asseeeekkk... :D




 


Tak cukup didalam rumah makan, para rombongan 'model dadakan' ini berpindah lokasi ke parkiran mobil. Sempat nego dengan bapak tukang parkir sejenak, karena kami ingin mengambil sedikit lahan parkir sebagai lokasi pengambilan gambar. Gambar yang diambil juga sebenarnya hanya satu-dua jepretan saja. Tapi berhubung modelnya tidak hanya satu dua orang, jadilah, bisa kawan-kawan perkirakan sendiri bagaimana akhirnya.




Namun ternyata itu saja belum cukup, kawan. Hingga akhirnya tercetuslah ide dari, mmmhhh,. siapa yaa? Ntah siapapun itu. Intinya, acara malam itu belum boleh berakhir begitu saja. Harus ada lanjutannya. Dan lokasi selanjutnya yang dipilih--ntah untuk sesi pengambilan gambar lagi atau ada plus plus nya--adalah Wisma Ahmad Yani, jalan veteran Gresik. Berangkatlah para rombongan bersepeda motor itu dari rumah makan menuju wisma. Jalanan Gresik malam itu cukup ramai. Ah ya,. saya melupakan sesuatu. Sejak dulu, jika saya perhatikan, jalanan di Gresik selalu ramai saat malam bulan puasa. Kenapa ya...?

Wisma Ahmad Yani, lagi-lagi membuat saya memutar memori di otak, tentang kejadian beberapa waktu silam. Terakhir saya kesana, saat melihat pertandingan basket antar SMP beberapa bulan yang lalu, sebelum keberangkatan saya ke Dompu. Berarti sudah berbulan-bulan yaa? Tak terlalu banyak yang berubah, walaupun tetap saja merasa asing dengan tempat itu. Lahh, kok jadi nostalgia sendiri begini? Ahh, skiplah. Balik ke acara rame-rame tadi. ;)

Ternyata apa yang saya perkirakan benar adanya. Sesi utama pastinya pengambilan gambar--lagi. Jeprat jepret sana sini, pake si G12 atau kamera gede punya teman--Niko!!! Niko namanya, yang bawa kamera gede itu. Sebelumnya saya tidak tau sama sekali. Saat ada kesempatan ngobrol baru saya tanyakan namanya. Oke, Niko. Catat!!! Semoga gak lupa. Yah, setidaknya saya bisa menghafal satu nama dari sekian banyak nama yang ada setelah acara itu. Harap maklum, dari dulu saya memang agak lemah dalam mengingat nama. Beda dengan angka. Seandainyaa nama manusia itu berupa angka... #plakkk

Di akhir acara, akhirnya kami semua punya kesempatan untuk duduk bareng, ngobrol bareng, dan berdiskusi untuk acara-acara kedepannya. Beberapa harapan akhirnya terlontar, beberapa keinginan akhirnya tersampaikan, beberapa keluh kesah pun tertuangkan. Semoga apa yang kita rencanakan untuk kedepannya bisa terlaksana yah, dan kita diberi kesempatan untuk bertemu lagi, di lain waktu yang pastinya amat sangat jauh lebih baik.
Ibu ketua pelaksana dan Ibu bendahara event ini ^^
tango... yeah.. hahha
Mohon maaf kawan, harus pamit terlebih dulu malam itu dan tidak bisa mengikuti acara hingga akhir, karena satu dan lain hal yang harus saya selesaikan. Ternyata memang bukan acara buka puasanya, bukan juga tentang foto-fotonya. Jadi terus apa? Ahh,.. Biar hanya hati saya saja yang tau. Pastinya saya sangat bahagia, punya kesempatan untuk bertemu dengan kalian semua, menjabat tangan kalian satu persatu, bercanda tawa, seperti saat kita masih SMP dulu. Walaupun masih ada beberapa dari mereka yang tak hadir yang sungguh ingin saya temui. Yahh, mungkin memang bukan malam itu, tapi suatu saat nanti. InsyaAllah...

*Pas momen ini saya belajar banyak tentang cara pake G12 dengan blitz, tapi tetap dengan mode manual. Mohon maaf kalo hasilnya kurang maksimal. Tapi dibalik itu, asik juga ternyata. Boleh deh kapan-kapan lagi, dan masih harus belajar banyak pastinya. Hihi...

***

Ternyata ada cerita unik dibalik acara malam itu...

Beberapa jam, atau hari, atau malam setelahnya, entah saya lupa pastinya, ada seorang blogger yang bertanya pada saya via twitter.

"Dhek, alumni SMP 2 Gresik ya...?"

FYI, yang bertanya itu adalah blogger Gresik, Mas Roni, pemilik 'Nukilan Kecil', yang sudah saya kenal beberapa waktu yang lalu di blogsphere. Saya memang belum pernah bertemu dengannya, tapi saya tau kalau beliau ini merupakan orang Gresik--lihat dari profil bloggernya.

Pada saat itu saya sedang hiatus dari dunia maya, jadi saya tidak bisa membalas mensyennya saat itu juga. Hingga akhirnya, datanglah sms dari seseorang tak dikenal, yang belakangan mengaku kalau dia adalah blogger Gresik yang saya ceritakan di atas.

Dalam obrolan singkat via sms itu, satu kekonyolan luar biasa akhirnya saya sadari. Bahwa ternyata, mas Roni yang sudah saya kenal berbulan-bulan yang lalu ini ternyata adalah teman seangkatan saya di SMP 2!!! Ohh meeenn,.. Its really whaowww. Bener-bener gak percaya waktu saya diberi tau tentang hal itu. Si Mas Roni nya juga awalnya gak yakin. Tapi begitu di akhir sesi ketemuan, saat semua teman diminta menuliskan biodata masing-masing termasuk beberapa akun jejaring sosial, barulah mas Roni yakin kalau cewek berbaju pink ini adalah saya. Hahaha... :">

Sebagai penutup, saya cuma menyampaikan satu permohonan padanya, masih lewat sms,

"Mas mas, boleh yaa tetep panggil 'mas Roni' aja. Sudah terlanjur terbiasa soalnya. Hehe..."
"Ok 'dhek'. Hahaha... Iyah, udah kebiasaan sih. Anggep ajalah itu yang bedain aku dengan teman-teman yang lain. Hehe..."

...anyway, inilah kopdar pertama saya dengan seorang blogger. 'kopdar tidak terduga', lebih tepatnya. :D

***


"Tak semua hal bisa terekam dengan jelas hanya dari sebuah gambar. 
Namun semoga gambar-gambar serta tulisan sederhana ini bisa membantu menerbitkan sedikit senyuman di wajah kawan-kawan semua,
kelak saat benda berukuran sekepalan tangan orang dewasa dalam tempurung kepala ini tak mampu lagi bekerja dengan maksimal"

Mmmh,. satu lagi,

"Kalau gak sekarang, kapan lagi...?"
-mungkin ini salah satu momen dimana label tersebut boleh saya sematkan-