March 02, 2012

MOS Putih Abu-abu

Baru jam empat pagi, dan aku sudah berada didepan cermin besar di kamarku, lengkap dengan balutan handuk yang masih agak lembab. Kunyalakan kipas angin sekencangnya agar segera mengeringkan seluruh anggota tubuh, sembari menahan gigil karena dingin yang teramat sangat. Yapp,. ini hari pertama aku masuk dunia putih-abu abu. MOS (Masa Orientasi Siswa)!!! Dan harus berangkat pagi buta.

Baju olahraga bertuliskan 'SMANSAGRESS' dengan model tulisan latin agak miring berwarna merah memenuhi bagian dada. Ini seragam yang akan kupakai untuk satu tahun kedepan, dan ini juga 'kostum' yang harus kukenakan pagi -buta- ini. Rambut sudah kukuncir dua agak tinggi dengan pita merah disebelah kanan dan putih sebelah kiri. Dengan kaos putih dan celana training panjang berwarna merah pula, sepertinya aku siap dikerek di tiang bendera. Ughh... Tas karung, sepatu fantovel hitam, sebuah block note, tempat pensil, buku panduan MOS, serta perlengkapan lainnya sudah siap. Tinggal memasang sepatu kets warna biru putih kesayanganku, dan menunggu kedatangan Icha, sepupu sekaligus sesama murid baru di sekolah, aku siap berangkat. Deg deg serrr.. itu yang kurasakan.

Oke, belum apa-apa sudah melakukan kesalahan. Omku, yang bertugas mengantarkan aku dan Icha pagi buta itu, melewati batas 'pengantaran peserta MOS'. Jadilah, masih pagi sudah di omel-omelin, dan kami berdua harus berjalan kaki sekitar 300 meter untuk bisa mencapai pagar sekolah. Peraturan macam apa ini??? Entahlah,.. Mungkin untuk pemanasan karena suhu udara yang cukup dingin. Pagar sekolah, selain sebagai penanda bahwa kami berdua sudah sampai, juga sebagai alarm untuk mengingatkan bahwa aku dan Icha harus berpisah saat itu juga. Yapp, kami beda kelas. Aku di X-6, dan Icha di X-10. Dan tiap kelas punya jadwal masing-masing setiap harinya. Akan sulit rasanya bagi kami untuk berdiskusi. Berasa sendirian ditengah keramaian. Tak ada seorangpun yang ku kenal.

Kelasku terletak di paling pojok, dekat dengan tangga sebelah timur depan. Begitu sampai disana, ternyata suasana sudah sangat ramai. Ada yang sedang mengobrol, ada yang sedang membongkar-bongkar barang bawaannya, dan lain sebagainya. Aku bingung harus duduk dimana, namun untungnya, aku bertemu dengan seorang teman yang aku kenal di bangku SMP. Yah, walaupun tidak kenal betul, tapi tak apalah. Dan saat ia menawariku untuk duduk disampingnya, aku tidak punya alasan untuk menolak. Diah namanya. Meja paling pojok belakang sebelah kanan, itulah tempat dudukku sementara ini. Aku sempat mengobrol dengan Diah, sambil menata barang-barang bawaanku yang tak bisa dibilang sedikit. Dari Diah pun, aku jadi tau 'sebagian kecil' dari tugas-tugas yang dibebankan pada setiap peserta MOS.

Hari sudah beranjak siang. Namun tanda tangan yang harus ku kumpulkan hari ini masih sedikit: 7 buah tanda tangan kakak panitia, 19 buah tanda tangan teman satu kelas, dan 23 tanda tangan teman lain kelas. Masih banyak yang belum. Tapi aku sudah terlanjur lelah. Rentetan kegiatan dalam MOS benar-benar menyita seluruh tenagaku. Tak ada waktu istirahat. Jam makan singkat saja. Sedangkan jam istirahat lebih sering digunakan untuk berburu tanda tangan, entah pada siapa saja. Akhirnya, jam istirahat siang itu aku gunakan untuk duduk-duduk di kelas. Sendirian. Sepi.

Tempat duduk yang tepat bersebelahan dengan jendela ternyata cukup menghibur. Aku jadi bisa melihat beberapa murid baru di SMA itu, lengkap dengan atribut SMA berupa rok atau celana abu-abu yang masih terkesan baru, serta atasan kemeja putih yang kelihatan masih sangat cerah dan sedikit kedodoran. Yang wanita berkuncir dua --kecuali yang berjilbab, sedangkan yang laki-laki berpotongan cepak. kaos kaki tinggi, sekitar 10 cm dibawah lutut, serta sepatu fantovel hitam polos yang sangat mengkilap. Hmmm... Luar biasa sekali mereka-mereka ini mempersiapkan hari-harinya di sekolah baru. Beda denganku, yang hanya memakai sepatu bekas pada saat SMP, yang bahkan bagian karetnya aku beri spidol hitam karena warna awalnya yang putih. Yapp, tak ada toleransi untuk masalah sepatu ini. Semua harus hitam. Polosss.

***

Sudah hari ketiga, namun tanda tangan yang harus kukumpulkan masih belum penuh juga. Hingga sudah tiga  hari ini pada saat pemeriksaan terpaksa aku harus maju di depan kelas serta mempersiapkan telinga --juga rasa malu. Sie, apa ya namanya, mahkamah kalau tidak salah, semacam ketertiban begitu, yang bertugas untuk memeriksa semua bawaan peserta MOS. Adakah yang kurang, adakah yang tidak sesuai, adakah yang terlambat, adakah yang tanda tangannya kurang dari target sehari, adakah yang panjang kaos kakinya kurang satu sentimeter, adakah yang warnanya tidak sesuai, dan lain sebagainya. Hmmm.. kalau untuk tugas-tugas yang lain mungkin aku bisa mengerjakannya. Tapi untuk tanda tangan, enggan sekali rasanya diriku memenuhi tugas yang satu itu. Harus berlelah-lelah mengantri di kakak panitia yang 'most wanted', menghafal kata sandi, serta mempersiapkan warna spidol yang sesuai.

Dan hari ini lagi-lagi aku sempatkan untuk duduk-duduk di kursiku, masih ditempat yang sama, tepi jendela. Seorang murid laki-laki tinggi besar dengan rambut cepak ala tentara kemudian berjalan kearahku. Tak ada siapa-siapa disekitarku, dan tak mungkin juga rasanya anak laki-laki tersebut menuju ke tembok --mengobrol dengan tembok???. Oke, sedikit gede rasa. Tapi memang itulah kemungkinan terbaik, anak, atau orang ini memang sengaja menghampiriku.

"Heiy... Minta tanda tangannya boleh..."
Aku diam. Bingung. Mungkin dengan tampang yang super blo'on juga. Lalu aku memperhatikan buku panduan MOS yang disodorkannya kepadaku. Aneh. Karena yang ditunjukkan justru halaman untuk tanda tangan teman satu kelas.
"Loh... Emang kamu kelas X-6 ya?", tanyaku, dan lagi-lagi masih dengan tampang blo'on.
"Iya, aku X-6. Kenapa emang?"
"Masa' sih???"
"Yeee.. dibilangin kok gak percaya"
"Kok gak pernah lihat yaa...", ngomongnya sambil nyengir. Dan kejadian itu sukses membuatku malu. Akhirnya tanpa basa-basi lagi, aku tuliskan namaku, serta tanda tangan di halaman yang sudah sedari tadi dibukanya. Tepat pada saat itu, kami akhirnya berkenalan.
"Dondik....", katanya sambil menjulurkan tangan. Agak ragu, akhirnya aku menyambutnya sambil menyebutkan namaku. Tangannya besar, kasar, hingga berasa bahwa telapak tanganku yang kecil dengan jari-jari yang pendek ini tenggelam didalamnya. Memang bukan yang pertama, tapi bisa dibilang cukup jarang aku berjabat tangan langsung dengan laki-laki. Ada sesuatu yang aneh. Dan, oke, sepertinya cukup sampai disitu perkenalanku, dengan orang yang bahkan aku masih belum percaya kalau satu kelas denganku. Belakangan aku baru menyadari, ternyata ada tiga orang laki-laki dikelasku yang berpostur hampir sama, tinggi besar dengan potongan cepak. Dia itu salah satunya.

***

Setelah seharian berjuang untuk menjalani hari terakhir MOS, akhirnya acara penutupan datang juga. Setiap kelas diwajibkan untuk menyuguhkan pentas seni, entah berupa apa. Setelah melalui perundingan yang tak terlalu rumit, akhirnya teman-teman satu kelas memutuskan untuk menampilkan pentas seni seperti di video klip. Seorang teman laki-laki memainkan gitar akustik, dan seorang teman perempuan menyanyikan sebuah lagu. Tidak hanya itu, masih ada tiga orang lainnya yang berakting layaknya bintang ternama, melakoni adegan seperti yang ada di video klip: Serangkaian cerita yang sesuai dengan lagu yang sedang dinyanyikan. Sangat menghibur. Ditambah dengan pemilihan lagu yang pas dan sedang booming, akhirnya penampilan dari kelas kami jadi salah satu yang terbaik.


You know all the things i’ve said
You know all the things that we have done
And things i gave to you
There’s a chance for me to say
How precious you are in my life
And you know that it’s true

To be with you is all that i need

Cause with you, my life seems brighter and these are all the things
I wanna say...

I will fly into your arms

And be with you
Til the end of time
Why are you so far away
You know it’s very hard for me
To get myself close to you

You’re the reason why i stay

You’re the one who cannot believe
Our Love will never end
Is it only in my dream?
You’re the one who cannot see this
How can you be so blind?

I will fly into your arms

And be with you
Til the end of time
Why are you so far away
You know it’s very hard for me
To get myself close to you

I wanna get

I wanna get
I wanna get myself close to you 

(Ten to Five - I'll Will Fly)

66 comments:

  1. Ini nyata kah? atau cerbung? perbedaannya, pas MOS kaos kaki yg kami pake nggak sepanjang punya kalian yg 10 cm-nggak ada kekhususan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan terka sendiri ini fiksi atau bukan :D

      Delete
  2. Replies
    1. Senang yaa rasanya kalo bisa mengenang masa masa sekolah gituu. Hihihi :)

      Delete
  3. ini kisah mu ya mae????pasti masa-masa yg tak terlupakan yah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mmmmmhhh.. kisahku bukan yaaaa... kasih tau gak yaaaa... Hihihihi :p

      Delete
    2. ihhh kasih tau donk...ckkckckc

      Delete
  4. Kayaknya ini mos-mu beneran ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dunno,. pembaca punya pilihan untuk menganggap ini kisah nyata atau bukan ;)

      Delete
  5. MOS kebanyakan masih yang mankuti-nakuti begitu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya untuk saat ini sudah mulai berkurang nakut nakutinnya. Gimana kalo tanya yg anak SMA saja. Masa masa itu sudah berlalu sangat lamaaaa. Hihihi *brasa tua :D

      Delete
  6. waktu pentas seni, Ma'e jadi apanya? yang nyanyi, yang akting atau yang jadi gitarnya?:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. jawabannya C: belum ada informasi lebih lanjut mengenai hal itu :))

      Delete
  7. jadi ingat masa sekolah,mos nya seruh ampe nangis..

    salam:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh.. kalo aku untungnya gak pake nangis. Cuma capek bangettt, dan pastinya menyenangkan :D

      Delete
  8. jadi ingat jaman SMA dulu. maaf ya mbak baru bisa BW lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaaa... Aku malah gak pernah BW belakangan mbak Lid :D

      Delete
  9. MOS, masa paling nyebelin mbak
    tiap hari selalu ada tugas aneh dan peraturan aneeeehh..
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau benar benar dinikmati menurutku tidak semenyebalkan itu ;)

      Delete
  10. Aku nggak suka MOS, tapi aku kangen. :(

    Oya, ada postingan untuk bikin reply comment kayak gini nggak? Linknya dong. Dulu sempet tahu, tapi waktu itu nggak sempet baca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. membingungkan sekali kamu nii Alvi :D

      Oh, yang itu. Itu ada di 'popular post' di sidebar. Langsung klik aja ;)

      Delete
  11. jadi keinget masa2 mos dulu,waktu masih culun2nya sekarang juga masih polos wkawkwk XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. dulu culun sekarang polos. besok apa yaaa.. :D

      Delete
    2. besoqq?jangan aja belang2 hahaa

      Delete
    3. Wahh.. kalo belang belang nanti kucing rumah sebelah merasa tersaingi tuh. jangan deh yaaaa :))

      Delete
  12. MOS-ku dulu asik2 aja ar, seneng2 aja, nggak ada yang diomel2ini deh kayaknya.. cuma ya itu masuk jam 5 pagi pulang jam 5 sore.. :D


    terus gimana kelanjutannya sama dondik ar? #ihik #ngilang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh.. itu tuh yg pergi pagi pulang sore tuh juga sama. Hihihi..

      Dondik??? Mmmmmhh.. Kasih tau gak yaaaa... :))

      Delete
  13. Ini masa lagi culun-culunnya... atau dibuat seculun-culun mungkinn... tapi indah yaaa kalo dibayangin lagi, bayangin galaknya senior-senior yang galak, bayangin tugas-tugas yang kalo dipikir ada-ada aja tugasnyaa.. hahahah... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa.. Tugasnya aneehhh aneeehh. Hahahaha.. Bener bener kreatif deh tu si kakak kakak panitianya :-bd

      Delete
  14. wahaha, jadi inget waktu MOS dulu
    hihihi

    semangat sobat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang bisa mengenang masa masa yg indah dulu yaaa :D

      Delete
  15. enakan jaman saya dulu, nggak pake mos dengan aneka penugasan yang bikin pusing semua orang rumah. Dulu cuman penataran P4, dan kenalan biasa-biasa saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh... P4 apaan tuh pak Ies??? :D

      Delete
  16. Yang jelas aku kagak suka MOS apa lagi di bangku kuliah " I Hate "
    Untung aku dapat tempat kuliah yg kagak ada MOS,amien :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh... enak juga yaa. Walopun sebenernya MOS itu memberi kesan tersendiri looo :D

      Delete
  17. wah aku sih... mosnya enak banget... santai dsn tidak ada senior belagu... hehehe ^_^


    sukses ya buat mosnya...
    aku doain senior2 killer jauhin kamu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha... MOSku sudah lewaaaatt. Sudah bukan berpredikat jadi pelajar lagii iniii TT___TT

      Delete
  18. kayaknya ini kisah nyata yg sedikit di poles dengan kejadian2 menarik salah satunya di deketin sama cowok hehe... Boleh kan nebak2? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh, menarik sekalii penilaiannya... Boleh boleh bolehhh :D

      Delete
  19. he he mengingatkanku pada masa-masa MOS juga. Mencari tanda tangan senior. Eh tapi kok waktu aku dulu ndak ada pentas seni ya. Paling upacara doank. Pentas seninya sering tapi waktu saya ikut pramuka sih. MOS seringkali menjadi ajang senioritas anak-anak kelas 2, dan ajang cari perhatian anak-anak senior ke siswa baru he he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap sekolah mungkin memiliki standar yang beda beda yaaaa mas Fifin :D

      Delete
  20. hah.. masa baru SMA... ini fiksi yah hehehehe :P #soktau

    akhhhhh jd ingeeeeet jd kangen ama kakak mentooor yang ganteng2.. #eeeh :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahh.. Akhirnyaaa ada yg menilai kalau ini fiksi :">

      Delete
  21. wah
    selamat hari penyiksaan,hahaahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh.. untungnya hari hari itu untukku sudah berlalu. :D

      Delete
  22. MOS = Masa Ongol-ongol Siswa
    Ongol = bego ( bhsa mksr)
    hahaha

    kenangan selalu jadi hal menarik. :)
    apa kbarnya mbak ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ongol... walopun aku orang bugis rasanya belum pernah dengar istilah itu. Hehe.. :D

      Alhamdulillah, baik. Uchank sendiri gimana kabarnya? Long time no see ja.. :D

      Delete
  23. Hiks, aku nggak pernah merasakan MOS yang menyiksa. Harus bersyukur atau menyesal nih. MOS ku jaman dulu berisi pelajaran, jadinya nggak ada tas kantong, barang2 aneh, dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Antara menyesal dan bersyukur sepertinya, karena biar bagaimanapun, MOS jadi satu kenangan terindah masa putih abu-abu :D

      Delete
  24. waaaaah menarik nih. . .bisa jadi cerita masa depan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saat ini juga sudah menjadi cerita yang menarik deh rasanya :">

      Delete
  25. untung pas gue MOS, gue ga pake diminta tanda tangan sama mentor2nya. fiuuuh....

    hahhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh.. kau beruntug sekali Nuel. Apalagi itu tugas yang paling menyebalkan menurutku. hehe

      Delete
  26. Waaaaah, tulisan di baju olahraga saya SMALABAYA. :D

    ReplyDelete
  27. wahhh, aku dulu sekolah cuma cowok doank. ahhh, kurang seru ahk masa sma ku. hohohohoho :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whaaa.. entah kenapa aku dulu malah pengen sekolah khusus gitu, apalagi ada asramanya. Kayak di film film. Hihihi

      Delete
  28. kunjungan sob ..
    salam sukses selalu ..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah berkunjung :)

      Delete
  29. hahahahaha, mae mengenang masa muda :P

    lagunya bagus mae, itu salah satu lagu yang dhe suka.. jadi wajar kalo kelas kalian menang.. coba kalo dulu nyanyi lagu iwak peyek, pasti gk bakal menang.. wakakakakakaka.. belum tahu apa itu iwak peyek?? segera search di pakde gugel..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akuu juga sukaak banget sama lagu itu Dhe. Hihihi..

      Hemm.. Iwak peyek tu yang sering dinyanyikan Sule dan kawan kawan di OVJ yaaa??? :D

      Delete
  30. hai maeee...
    MOS udah gue rasakan terakhir almost 5 years ago wwkkwkwkwk.. berasa tua banget padahal baru 21.

    oiya mae, kamu dapat tag ya, cek di blog gue www.urkhanblog.com :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohhh.. tidaaak.. Aku malah lebih dari lima tahun yang lalu!!! :((

      Delete
  31. *ehem*
    ada dondik disini..
    huahahahhahahaha
    *sembunyi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk!!!! *gak nyangka kalo baca juga ternyata* =))

      Delete

Speak Up...!!! :D