April 17, 2012

Pesta Rajungan di Pematang Sawah

Happy tuesday all... :D

Setelah dua hari dua malam menghabiskan waktu di Kabupaten Bima, NTB, untuk menjalani Workshop Update Rencana Kontijensi (detail ceritanya di postingan yang berbeda aja deh), akhirnya hari jumat sore kemarin (13.04.11) aku kembali ke 'peradaban'. Eh, bukan, kehidupan biasanya maksudnya. Di kosan, barengan sama si Ulil.

Weekend ini tak akan berlalu begitu saja. Karena aku, Ulil, dan mbak Nur --salah satu rekan kerja juga, berencana untuk mengunjungi salah satu desa yang akan jadi desa dampingan dalam project nutrisi yang sedang aku lakukan ini, untuk memberikan surat ijin pengambilan data dalam baseline survey, yang rencananya akan dilaksanakan minggu depan.

*

Sabtu pagi yang harusnya hari libur, tidak jadi libur. Tepat jam 8 pagi, aku dan Ulil langsung bergerak ke kantor yang jaraknya tak lebih dari 100 meter dari kosan. Sepii, cuma ada pak security (damn!!! aku lupa nama beliau siapa :() dan dua orang teman kantor yang sepertinya sedang lembur untuk menyelesaikan urusan administrasi.

Gak butuh waktu lama untuk menunggu, mbak Nur dan mbak Nanung akhirnya datang membawa sepeda motor masing-masing. Begitu semuanya siap, meluncurlah kami ke desa Mbawi, kecamatan Dompu, kabupaten Dompu, NTB. Sebenarnyaa masih satu kecamatan dengan kosanku ini, namun yaah, namanya juga di desa. Jadii jarak antara satu desa dengan yang lain lumayan jauh juga.

Setelah meninggalkan kota, lalu mulai masuk ke jalanan yang sepi, pemandangan hijau mulai terlihat. Baguuuuus banget. Bukit-bukit terlihat berlapis, mulai yang terdepan hingga yang terjauh. Berpetak-petak sawah terhampar sejauh luas pandang. Ternak dilepas sekenanya, hanya diberi beberapa gantungan di leher sebagai penanda. Sesekali aku melewati beberapa mesin traktor yang berjalan pelan di tepi jalan. Aissshh.. bener-bener deh, Indonesia. :)

Sekira 30 menit, akhirnya sampai juga kami di kantor desa Mbawi. Begitu bertemu dengan Bapak Kepala Desanya dan ngobrol-ngobrol sebentar sambil menyerahkan surat permohonan ijin pengambilan data, kami akhirnya pamit. Tapi gak langsung pulang, karena kami diajak untuk singgah di rumah salah satu pengumpul rajungan yang ada di desa tersebut. UD Mbawi Indah, itulah nama pengumpul rajungan yang kami datangi pagi menjelang siang itu.

Ini merupakan satu dari beberapa tempat pengumpul rajungan dari para nelayan yang memang merupakan salah satu mata pencaharian terbanyak didesa ini, disamping sebagai petani. Di UD ini, mereka, pengumpul rajungan tersebut menerima hasil tangkapan rajungan dari nelayan, untuk kemudian di kukus, dan dipisahkan antara kulit/cangkang dengan dagingnya. Daging tersebut kemudian diolah, aku tidak tau pasti diolah seperti apa, namun sepertinya akan ada proses pengawetan didalamnya karena untuk selanjutnya daging rajungan tersebut akan dikirim ke Jawa. Yapp,. Jawa!!! Jauh banget orang Jawa beli rajungan di NTB. :p


Awalnya, ada sedikit rasa khawatir tidak diperbolehkan membeli rajungan di pengumpul tersebut. Alasannya, mereka akan mengirim daging rajungan tersebut ke Jawa, dan mereka sebenarnya merasa rugi jika ada yang membeli rajungan dari mereka. Karena pastinya, harga jual di Jawa bisa jauh lebih tinggi daripada harga jual di daerah setempat. Namun, setelah bernegosiasi dengan anak dari pemilik UD ini, akhirnya mbak Nur diperbolehkan untuk membeli 2 kg rajungan saja (awalnya berniat beli 5 kg, tapi gak dibolehin :))) dengan harga 18ribu rupiah per kilonya. Dapat bonus kukus pula. Sipp deh. Jadi, nanti tinggal dimakan saja gak perlu repot masak-masak lagi. :D

Setelah menunggu sekira 30 menit, rajungan kami sudah matang dan kami segera bergegas untuk mencari lokasi tempat kami makan. Sawahhh!!! :))

Lokasinya masih terletak di desa Mbawi. Setelah menjauh dari pemukiman penduduk, akhirnya kami masuk ke area persawahan yang saaaaaangat luas. Sesekali terdapat pondok-pondok kecil tempat para petani beristirahat. Setelah memilih dan memilah, akhirnya kami memutuskan untuk menempati salah satu pondok yang paling dekat dengan jalan raya, yang terletak di sebelah kiri jalan. Begitu memarkir motor di tepi jalan, kami berempat langsung menuju pondok yang kami maksud.

Ada sensasi yang luar biasa saat melewati persawahan dikiri-kanan jalan. Jalan setapak yang sangat sempit dan kadang tak terlihat itu membuat kami ekstra hati-hati untuk bisa menuju ke pondok kecil yang kami maksud. Walopun sebenarnya jaraknya juga gak jauh-jauh amat dari jalan raya, mungkin hanya beberapa puluh meter.

Begitu sampai di pondok, mbak Nur dan mbak Nanung langsung mengeluarkan segala perlatan bertempur mereka, untuk menghabiskan dua kilogram rajungan itu. Ternyata mereka berdua memang sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Terbukti, dari dalam tas mbak Nur keluarlah dua bungkus nasi, satu botol saus, dua buah mangkuk plastik, beberapa gelas air mineral, cabe, garam, asam, irisan bawang merah, untuk pembuatan sambal, serta tissue basah untuk membersihkan tangan. Mantaaaaabbbb :-bd

Mbak Nanung segera meracik sambal asam khas Dompu, yang aku belum pernah tau sebelumnya. Jadi, dalam hal ini, aku dan Yulia hanya bertugas untuk memperhatikan dengan seksama, sambil jepret sana jepret sini untuk dokumentasi. Hahahaha.. Gak guna banget deh yakk. :D

Begitu sambal telah siap, bungkusan nasi dibuka, akhirnya kami memulai pesta rajungan ditengah pematang sawah ini, ditemani semilir angin yang sungguh menenangkan. Dua bungkus nasi, dua kilogram rajungan, satu mangkuk kecil sambal asam, siap untuk disantap. Selamat makaaaaaaaaaaaaaaaaaaannn. Bismillahhh :D




Iniii, berasanya adalah makan rajungan dengan lauk nasi. Bayangkan saja, nasinya hanya dua bungkus, yang mungkin total hanya 400 gram saja. Sedangkan rajungannya, satu kresek merah besar yang beratnya mencapai dua kilogram. Hahaha.. Jarang-jarang nih makan kayak gini. Mana sambal buatan mbak Nanung juga manteb banget rasanya. Walopun beda dengan sambal asam yang biasanya aku makan, yang khas nya orang Bugis, tapi ini juga sama enaknya. Dan perpaduan asam, asin, dan agak pedasnya itu pas banget sama rasa daging rajungan yang hanya dikukus saja tanpa penambahan bumbu apapun. :-bd

Begitu selesai makan, kami tak langsung pulang. Sempat duduk-duduk sebentar sambil bercerita tentang kenangan-kenangan indah mbak Nanung dan mbak Nur saat dipertemukan di Plan. Yapp, mbak Nanung juga dulunya bekerja di Plan PU Dompu, tapi entah karena sebab apa, beliau saat ini tidak bekerja lagi di Plan. Tapi tetap saja, persaudaraan yang terjalin antara mbak Nanung dengan staff Plan yang sekarang masih aktif, rasanya tidak berubah sama sekali. Terbukti, beberapa kali mbak Nanung sempat main ke Plan, dan pada satu kesempatan, ramai-ramai bersama aku, Yulia, serta staff Plan yang lain pesta rujak buah. Kok jadinya kayak aku kerja tuh acaranya makan-makan aja yaaa??? :))

Jam dua belas lebih sekian menit, kami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pondok kecil di tengah berhektar-hektar sawah yang hijau itu, untuk kembali ke 'peradaban'.

Sedikit tips yang aku dapat dari mbak Nur dan mbak Nanung setelah wisata kuliner kemarin,

Cara bikin sambal:
Bikinnya simpel aja. Cuma asam satu sendok makan, dicampur beberapa siung bawang merah yang sudah diiris tipis-tipis, lalu diberi potongan cabe dan sedikit garam. Sudaahh, jadiii. :D
*Kalo teman-teman merasa sambalnya terlalu kental, bisa kok dikasih air sedikit. Tapi dikiiit aja. Kalo terlalu encer jadinya aneh soalnya. Hehe...

Hoia, satu lagi. Kalo ingin mencoba makan dengan sambal asam, baiknya memang dengan daging rajungan, jangan kepiting. Tau bedanya kan? Kalo gak tau, yawes aku kasih tau. Kalo rajungan itu, warnanya biru (kalau belum matang), dan biasanya ukurannya lebih kecil. Kalo kepiting, warnanya merah, baik sebelum matang maupun sesudah matang. Katanya mbak Nanung sii, daging rajungan jauh lebih enak daripada kepiting. Itulah mengapa, cara memasak rajungan kadang di kukus doank sudah enak. Kalo kepiting, lebih sering dimasak yang berkuah, ada campuran santan juga rasanya.

Satu lagi deh yaa,. hihi :p
Teman-teman pernah tidak, makan kepiting besaaaar, tapi ternyata dagingnya kecil ato nyusut gitu? Nah nah, ternyata nih ya, hal itu ada hubungannya juga dengan cara pengolahan kepiting ato rajungan. Kalo biasanya kepiting ato rajungan itu dimasaknya dengan cara direbus, kemungkinan besar dagingnya akan menyusut banyak, karena banyak yang larut di air rebusan. Beda hal nya, kalo misanya kita mengolahnya dengan cara dikukus. Jadinya dagingnya padat bangett. Seperti yang aku makan kemarin itu. Walopun rajungannya kecil-kecil (sepertinya rajungannya masih remaja :))) tapi dagingnya banyaaaak, dan sukses bikin kekenyangan. Hihihi..

Selamat mencobaaa :D


Wisata kuliner pertama di Dompu sangat menyenangkan, kira-kira selanjutnya apa yaa??? :-?

39 comments:

  1. Aku sukses ngiler baca postingan ini
    pasti enak banget...:)

    Salam kenal ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. :))
      Risiko ditanggung pembaca yaaaa :p

      Delete
  2. aduhhh... salah mampir kesini pagi-pagi.. langsung laparrr... kayanya enak banget tuh ranjungan... 2 kilo pula... cuman 36 ribu.. murah yah!!!

    tapi TK gak tau deh bisa makan ranjungan apa engga... lum pernah coba.. soalnya kalau makan sepupupnya si kepiting sih udah positif ga bisa... alergi..

    nice post...

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D Selamaaaaaattt!!!

      Hoo,. sayang sekali yaaa, padahal daging kepiting itu enak bangeeett *malah makin ngiming2i :))

      Delete
  3. aku kagak suka makanan seafood kaya begitu soalnya rada alergi gtu deh kalau dimakan trus pasti timbul genjala dikulit :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ups... So sorry to hear that ja...

      Delete
  4. wah rajungan... pernah makan ndak yah saya.. hemm mungkin pernah. Btw asih yah di dompu mbak, sekalian kerja juga sekaligus bisa berwisata gitu. Ndak sia-sia mbak mae lama pilih2 pekerjaan yang sesuai. Dan sekarang sudah menemukan yang pas.

    menikmati kuliner di tengah2 sawah sepertinya menggiurkan mbak? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiiikk bangeeet mas Fifiin. Yuklaah main main kesinii. Hihihi..

      Bangeet. ini juga pertama kalinya buatkuu, makan rajungan dipematang sawah. Kereeen bangeett :-bd

      Delete
  5. wah postingan si rei bikin ngiler ah....hehe kalau kerja nya makan2 bisa tambah berat badan tuh rie :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. :))
      Iya nih kak Tia, moga gak keterusan aja. Hihihi

      Delete
  6. hah makanan seperti apaan itu?
    kepiting aja lupa lupa ingat pernah makan apa enggak
    ane ngilernya sama keadaan sekitar sana. masih seger yah. sawahhhnyaa huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. :o tak pernah makan kepiting??? Kemana saja kau nak??

      Delete
  7. cuma mau OOT, walo telat, selamat HUT ya Mbak cantik....sukses, pinter,makin maju...dan tetap yakin dgn Hasbunallah Wa Nikmal Wakil....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wohoooo,,, makasii banyaaak mas Adit :">
      Aamiin.. aamiin.. aamiin...

      Delete
  8. hoohh... itu namanya rajungan tohhh.. kirain itu kepiting juga namanya, walaupun masih sebangsa kepiting juga....

    harganya murah banget yaa... 18rb sekilo, ato apa mungkin karena langsung dari distributornya langsung?? :D Di sini aja (di kampung saya), emak saya beli kepiting gede (ga terlalu gede juga sih) dapatnya 20rb 3 ekor, kalo rajungan mungkin... ga tahu juga yaaa bisa dapat berapa 20rb :))

    Rajunganna maddamah mooh?? biasana ko mallisse rajunganna metebbe' tuh damanah... :D

    Pematang sawahnya bagussssssssssssss....... hijauuuuuuu dan hijau di sekelilingnya, walaupun masih ada kuning-kuningnya nongoll, dan juga walaupun panasss tapi yang pasti bikin tenangggg...iyaaa kannn???? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda warna doaank ama kepiting. Kata orang sini emang lebih enak rajungan. Tapi menurutku sama aja. Sama enaknyaa =))

      Hmmm.. gak tau juga yaaa itu murahnya kenapa. Tapi bisa jadi emang karena dari distributornyaa, belum sampai pasar. :D

      Maddama' muu, pace pace mu di anre.. :D

      pastinyaaa. Silahkan bayangkan sendiri laah situasi dan kondisinya seperti apa ;)

      Delete
  9. mantebb, eh sambel dompunya kok sederhana banget ya Mbak, sayapun pasti bisa bikinnya. Sayangnya saya sudah mulai menghindari makanan ini, soalnya kolesterol saya sudah mulai naik. Dan sekarang sudah membiasakan diri makanan yang lebih bersahabat ke tubuh, khususnya 'ramban' ijo royo-royo

    ReplyDelete
    Replies
    1. :-?
      Sambalnya emang simpel bikinnya pak Ies. Dan di Dompu ini, memang ciri khasnya kalo bikin sambal tu, bawangnya diiris tipis tipis gituu.
      Rasanya sambal gitu dicocol sama ikan juga enak kok. Hihihi

      Delete
  10. rajungannya enak tuh...
    apalagi makannya rame2...
    :)

    ReplyDelete
  11. asyiiik banget kayaknya bisa ditengah-tengah sawah kayak gitu...

    kepitingnyaaaaaaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kepitingnyaaaaaa bikin ngiler yaaaaa.. :))

      Delete
  12. hmm... singgah dsni perutku lgsg keroncongan mba' #:-S
    klo ada wktu,please,singgah jg di gubug sya ya mba':7.. (ngarep.net)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohoho.. anda sedang beruntung kalo gitu bisa menikmati postingan ini dengan gratis :))
      Makasi yaa atas kunjungannyaaa ;)

      Delete
  13. Wah mantep banget tuh mae..makan rajungan rame-rame di tengah sawah..inget berat badan mae, jangan makan mulu disana wakaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. :))
      Saya akan selalu mengingat pesan mas Sigit. Berat badan berat badan berat badan. Catet!!! ?@_@?

      Delete
  14. 'Rajungangnya msih remaja' berarti rajungan ababil(abg labil) tu, pntesan ketangkep sma nelayan soalnya rajungannya sering galau mondar-mandir g jelas.......wkwkwkwk #sengkomenrajelaspisan

    ReplyDelete
    Replies
    1. :)) Rajungan ababil. Alayers juga gak yaaa...

      Delete
  15. kesebut nama ulil jadi keinget sama dedengkot jil :D
    kirain lagi ngebahas soal yg itu eh nggak taunya bukan hehe
    Oia sukses terus yaa :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak tau menau soal Jil mas Hery :D

      Delete
  16. rajungan itu kepiting yah?

    ReplyDelete
  17. rajungan itu kepiting? baru tau.

    salam kenal. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bedaaa.. beda warna beda rasa beda nama :D
      Salam kenal jugaa Audrey ;)

      Delete
  18. makan kepiting..aku jarang...malah seingatku aku blm pernah makan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo.. berarti musti nyobak nihhh :D

      Delete

Speak Up...!!! :D