21 July 2012

Menjadi Fasilitator Itu...

Pertama kali mendengar kata ‘fasilitator’, saat masih duduk dibangku kuliah, semester 5 tepatnya. Pada saat itu, sistem perkuliahan berubah jika dibandingkan 4 semester pertama yang sudah saya jalani sebelumnya. Pada semester 5 (yang juga berlanjut ke semester 6), saya dan teman-teman satu angkatan diperkenalkan pada metode baru, yakni PBL (Problem Based Learning). Kami, satu kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10-12 orang, kemudian diberi satu permasalahan (gizi) untuk kemudian diberi kesempatan beberapa hari mencari solusi dari permasalahan tersebut. Masing-masing kelompok didampingi oleh seorang fasilitator, namun tugas fasilitator ini sangat berbeda dengan para bapak-ibu dosen yang hobinya tugasnya adalah mengajar, memberi kuliah, berceramah, dan semacamnya.

Lantas dimana letak perbedaan antara ‘fasilitator’ dengan ‘guru/pengajar’?
Kalau berdasarkan yang saya rasakan pada saat kuliah dulu, pertama, terasanya fasilitator itu sederajat dengan mahasiswa. Tidak ada satu pihak yang merasa lebih tahu daripada yang lain. Tidak semudah membujuk seorang dosen/guru untuk menjawab pertanyaan dari kami saat ada yang tidak kami pahami, karena mereka (fasilitator.red) memang lebih cenderung untuk menuntun kita berpikir kritis, berargumen, ber-mungkin-mungkin ria dengan menggunakan logika serta ilmu pengetahuan yang dimiliki. Fasilitator juga, pelit bocoran ilmu, dan lebih suka memberikan petunjuk-petunjuk yang terkadang terasa sangat jelas, atau justru sebaliknya: makin menyesatkan. Tapi yang saya ingat, dalam proses diskusi itu, tidak ada jawaban yang salah. Semua benar, semua senang, semua menang. Tinggal pandai-pandainya seorang fasilitator untuk menuntun kami, satu kelompok kecil itu untuk menemukan ‘jalan yang semestinya’.

Sangat berbeda dengan guru/dosen yang lebih sering mentransfer ilmu melalui ceramah, praktek, dan semacamnya. Lebih sering terjadi komunikasi satu arah (walaupun dalam prosesnya, tetap ada diskusi dan tanya jawab). Selain itu, seorang guru atau dosen pasti sangat senang jika ada murid atau mahasiswanya yang bertanya, dan tidak akan segan-segan untuk membagi ilmunya, serta meluruskan kebingungan para muridnya.

Namun ternyata, menjadi fasilitator itu tidak semudah yang terilihat, kawan…

Bagaimana saya bisa tahu? Karena pada kenyataannya, saya sekarang adalah seorang fasilitator. Nutrition Project Facilitator, lebih tepatnya.

Yak,. Sampai juga saat dimana saya akan bercerita tentang pekerjaan. Ini sengaja saya tulis agar bisa meluruskan persepsi teman-teman terkait dengan apa yang saya lakukan di Dompu. Apakah disini memang benar bekerja atau jalan-jalan? Apakah disini memang tujuannya untuk mencari sesuap nasi atau menjelajah keindahan negeri? Apakah disini akan menetap untuk jangka waktu tertentu atau hanya sesaat? Karena pada kenyataannya, semenjak saya menjejakkan kaki di tanah Sumbawa, rasanya yang lebih sering terlihat adalah acara jalan-jalan, makan-makan, dan semacamnya. Beberapa waktu yang lalu juga salah seorang teman kuliah menyampaikan kalau si popcorn isinya jalan-jalan melulu, padahal ia ingin tau bagaimana pekerjaanku, bagaimana instansi tempatku bernaung, sistem kerjanya, dan semacamnya, karena temanku ini juga sebenarnya punya minat yang sama denganku, berkarir di NGO. Disamping itu, beberapa hari yang lalu juga si Gandi menanyakan tentang ‘fasilitator’ itu seperti apa. Katanya, “Keren aja gitu kayaknya, fasilitator…”, walaupun saya paham dengan sangat kalau kata ‘keren’ disitu merupakan kesimpulan singkat yang didapat hanya dari sebuah nama. Hehehe…

Kalau begitu untuk kali ini, ijinkan saya bercerita tentang fasilitator ya, kawan. Selamat menyimak… *Dipersilakan dengan hormat jika tidak tertarik dengan bahasan, untuk segera meng-klik ‘close tab’*
B-)

Terhitung selama dua minggu pertama setelah saya sampai di Dompu, NTB, masih di Indonesia, saya bersama beberapa kawan yang lain yang tergabung dalam tim proyek ini menjalani orientasi. Dalam proses orientasi tersebut, selain kami diberikan banyak informasi terkait sistem kerja juga peraturan lembaga, kami juga dibekali dengan “Teknik Memfasilitasi”. Kegiatan fasilitasi memang sudah bukan hal baru di dunia NGO, siapapun dia, apapun posisinya, harus bisa menjadi seorang fasilitator. Karena setiap ada semacam event atau kegiatan atau pelatihan atau semacamnya—terutama yang sifatnya partisipatif, kami harus bisa menempatkan diri sebagai seorang fasilitator, bukan orang yang serba tahu.

Saya sedikit kesulitan untuk mendefinisikan ‘fasilitator’ dalam bentuk satu kalimat utuh. Namun menurut saya, satu hal penting yang perlu dipahami untuk menjadi seorang fasilitator yang baik adalah kita tidak boleh menempatkan diri dan berperan sebagai guru, melainkan lebih ke arah mendorong untuk terjadinya proses berpikir. Mungkin kurang lebih sama dengan yang saya sampaikan di awal tadi, fasilitator dalam proses PBL. Agak pelit untuk berbagi ilmu (karena saya yakin bahwa sebenarnya mereka sudah tahu tentang jawaban-jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan sendiri), namun selalu membantu dalam mengarahkan ke proses berpikir yang kritis, yang ternyata bukan perkara yang mudah.

Keberhasilan dalam memfasilitasi sangat ditentukan oleh ketrampilan seorang fasilitator. Penggunaan bahasa yang bisa dimengerti oleh audience, kemampuan berbicara dengan keras dan jelas, serta ketrampilan menyederhanakan satu konsep yang sulit, menjadi tiga hal penting yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator. Disamping ketrampilan-ketrampilan lainnya yang lebih bersifat umum, seperti bersikap terbuka dan rendah hati, menempatkan diri sejajar dengan audience, mampu menghargai orang lain, dan sebagainya.

Apakah saya sudah memenuhi kriteria-kriteria tersebut? Dengan jelas dan yakin saya katakan: BELUM…!!!

Menjadi fasilitator, yang saya rasakan adalah susah-susah gampang. Sejauh ini, saya bersama tim proyek sudah memfasilitasi kurang lebih empat kegiatan, dengan latar belakang audience yang beranekaragam baik dari suku, ras, status sosial dan ekonomi, pekerjaan, dan lain sebagainya. Hal ini pastinya akan berpengaruh pada teknik memfasilitasi yang digunakan, disamping juga dipengaruhi oleh sumber daya yang dimiliki serta memfasilitasi dalam hal apa.

Beberapa kali menjadi fasilitator, juga beberapa kali difasilitasi, semakin memperkaya pengetahuan tentang kegiatan memfasilitasi. Tiap fasilitator selalu berbeda-beda, dan kesemuanya memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang agak lamban namun pasti, ada yang mengandalkan kecepatan berpikir, ada yang sangat mahir dalam mendengarkan, memiliki kemampuan kontak mata yang luar biasa sehingga bisa mengajak audience untuk terfokus padanya, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan saya? Hmmmm.. empat kali memfasilitasi masih belum cukup rasanya untuk bisa menyimpulkan ‘style memfasilitasi’ dari seorang Armae. Masih banyak yang harus saya pelajari. Saya, terkadang masih sering bersembunyi dibalik tameng ‘saya bukan orang Dompu’ hingga berharap bahwa orang-orang atau kelompok yang sedang saya fasilitasi memaklumi bahasa yang saya gunakan.  Beberapa kali juga saya merasa kalau saya berbicara terlalu keras—baik dari segi intonasi maupun suara. Tapi itu hanya terjadi sesekali, saat suasana diskusi mulai agak ricuh dan terjadi perdebatan yang sengit.

Ya, saya pernah mengalami hal itu. Saat memfasilitasi suatu kegiatan dan ada bahasan yang mungkin agak sensitif bagi beberapa pihak, akhirnya mereka berdebat dengan sangat sengit. Apa ya istilahnya? Sampai urat-urat lehernya terlihat, mungkin—walaupun yang berdebat itu kebanyakan adalah ibu-ibu yang memakai jilbab, jadi sebenarnya urat lehernya juga tidak kelihatan. Sempat muncul kekhawatiran bahwa setelah kegiatan itu berakhir, akan ada perang antar warga sebagai kelanjutan dari perdebatan dalam forum, namun untungnya sampai saat ini hal itu tidak pernah terjadi. Semoga tidak akan terjadi sampai seterusnya.
:">
Saya, dalam suatu kesempatan memfasilitasi kegiatan di desa
Materi yang menjadi bahasan dalam proses memfasilitasi juga menjadi satu kendala tersendiri untuk saya. Terkait dengan proyek yang berkaitan dengan masalah gizi dan kesehatan ibu dan anak, pastinya mau tidak mau juga akan membahas tentang gizi. Namun kalau boleh saya simpulkan, background pendidikan gizi yang saya miliki ini, selain ada sisi positifnya, juga ada beberapa hal yang berdampak negatif—walaupun sebenarnya bukan hal negatif yang membuatnya seperti itu. Bingung? Oke, akan saya jelaskan sedikit.

Kalau sisi positifnya, pastinya ilmu yang saya miliki baik yang berkaitan dengan gizi klinik maupun komunitas, sangat membantu dalam menggali informasi dan merumuskan permasalahan gizi yang ada di masyarakat, juga mencari solusi dari permasalahan itu. Namun, lagi-lagi penggunaan bahasa yang menjadi permasalahannya. Bahasa perkuliahan dan bahasa sehari-hari sangat berbeda. Seringkali saya merasa kesulitan untuk mencari padanan kata dari bahasa-bahasa medis maupun bahasa asing, yang kemudian harus diterjemahkan kedalam bahasa sehari-hari. Jika sudah membahas masalah gizi dan pesertanya hanya diam saja tanpa berkomentar apapun, bisa jadi itu suatu pertanda kalau saya harus mengulang apa yang saya sampaikan, dengan tempo yang sedikit pelan, serta pemilihan kata yang lebih baik. Terkadang berhasil, terkadang tidak. Tapi saya harus tetap berusaha untuk itu.
Pak Amin, Fasilitator dari Dinas Kesehatan Dompu
Hingga pada akhirnya, saya mendapat kesempatan untuk menyimak penuturan seorang ahli gizi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu dalam suatu kesempatan memfasilitasi. Beliau, pak Amin, yang juga merupakan mitra tim proyek kami, bisa menjelaskan tentang ‘gizi’ dengan sangat santai, sederhana, cepat, namun mengena di masyarakat. Pada saat itu saya hanya bisa melongo, terpukau, dan kagum. Whaoww saja rasanya, materi yang pada sesi kegiatan sebelumnya saya membutuhkan waktu seharian penuh untuk menjelaskan, dengan difasilitasi oleh pak Amin hanya membutuhakn waktu tidak lebih dari dua jam, dengan pencapaian dan tingkat pemahaman audience yang hampir sama. Angkat topi untuk ketrampilan pak Amin dalam memfasilitasi. Ini salah satu contoh nyata, bahwa ketrampilan seorang fasilitator akan sangat mempengaruhi proses memfasilitasi itu sendiri.

Selain kesulitan-kesulitan yang saya hadapi, pastinya juga ada kesenangan-kesenangan tersendiri dalam kegiatan memfasilitasi. Tidak jarang bersama para peserta, kami tertawa bersama saat mengerjakan suatu hal, atau kadang juga saya menertawai diri saya sendiri karena memperhatikan mereka berdebat dalam bahasa Dompu yang saya baru tahu beberapa kata saja. Saya belajar banyak dari masyarakat Dompu, tentang masalah gizi, kesehatan, juga kenyataan yang ada di masyarakat, yang kadang sangat terasa timpang jika dibandingkan dengan kehidupan saya di Jawa. Mitos-mitos yang berkembang di masyarakat juga menjadi satu hal menarik, yang entah mengapa saya selalu senang menyimaknya.
Ilmu yang paling berharga adalah pengalaman. Saya memang belum memiliki banyak pengalaman, namun bukan berarti saya tidak bisa belajar dari pengalaman-pengalaman mereka.
si Ulil, Memfasilitasi Workshop BIAAG Campaign
Beberapa hari yang lalu, saya dan teman satu tim juga mengadakan kegiatan yang cukup besar, paling tidak lebih besar dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya yang hanya dihadiri oleh beberapa belas orang. Acaranya memang hanya dua hari, namun full time dari pagi hingga sore. Ditambah lagi, kami berdua (saya dan Ulil) memutuskan untuk menerima tantangan dari ibu Officer, untuk memfasilitasi penuh kegiatan tersebut. Ibu Officer yang sangat baik hati itu hanya duduk manis didepan laptop, mengamati proses sambil menuliskan notulensi, sedang saya dan si Ulil bergantian menjadi fasilitator. Dua hari yang sangat menyenangkan, sekaligus melelahkan. Namun entah kenapa rasa lelah itu tidak saya rasakan saat menjalani proses memfasilitasi. Hanya pada saat kegiatan sudah berakhir, saya merasa berada dalam kondisi yang sangat lelah. Sempat bercerita pada seorang teman, kalau saya ingin mengeluh lelah. Namun keluhan tersebut saya sampaikan dengan cara yang menyenangkan.

Aneh, tapi begitulah yang saya rasakan. Saya ingin mengeluh lelah, tapi saya menyukai prosesnya, bahagia menjalani semua tugas-tugas yang harus saya selesaikan, namun tetap saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya sangat lelah. Hmmm… Apakah ini yang disebut dengan, “Bekerja dengan hati…?”, saat melakukan suatu hal yang sangat kita sukai dan tidak merasakan lelahnya, hingga akhirnya hal itu selesai kita kerjakan, dan hanya kebahagiaan yang tersisa, selain lelah yang masih meraja lela.

Kurang lebih sama rasanya
Seperti saat diri ini sudah berdiri di tanah tertinggi
Bongkahan batu besar dan pasir tak lagi membatasi jarak pandang dan langkah kaki
Lelah yang teramat sangat menjadi tak berarti
Saat kesempatan untuk menikmati samudera langit kembali mendatangi

Kalau saya ditanya, Kamu, sudah sampai mana …? Mungkin saat ini baru berani saya sampaikan, saya sedang meyakinkan diri untuk masuk ke dalam taraf hidup berbahagia. Semoga suatu saat bisa mencapai ke taraf hidup bermakna, saat bukan lagi hal-hal yang bersifat duniawi yang menjadi orientasi. Sulit, namun bukan berarti tidak mungkin..

;)

Anyway,. Selamat datang Ramadhan. Selamat melaksanakan puasa dan ibadah lainnya untuk saya dan kamu-kamu yang menjalankannya. Semoga Ramadhan tahun ini bisa lebih baik dari yang telah lalu, dan malam kesebelas nanti tidak akan berlalu begitu saja. Aamiin.. 

Pertanyaan iseng:
Lalu, apa beda fasilitator, moderator, dan presentator...? Ada yang bersedia menjawab..? Hihi :p

42 comments:

  1. Bermanfaat nih ilmu tentang fasilitatornya. Paling gak kalau gabung di NGO2 gitu, udah ngerti kira2 gambaran kerjaan di bag.fasilitatornya seperti apa.hehe :D

    Anyway, bisa jalan2 ke beberapa daerah di Indonesia menjadi bonus tersendiri disamping tanggung jawab pekerjaan. Pengen juga deh kayak gitu ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau memang bisa bermanfaat. Senang dengarnya nih sist :)

      Hahaha.. Yaa yaa.. Itu salah satu bonus yang amat sangat saya syukuri hingga saat ini :D

      Delete
  2. Zupper menjadi seorang fasil di NGO.,
    Mbk kalo blh tahu mslh gizi di daerah dompu apa y mbk??:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi.. Mario Teguh mode: on :D

      Masalah gizi di Dompu masih banyakk, terutama berkaitan dengan gizi kurang dan buruk. Perilaku masyarakatnya juga masih banyak yg belum PHBS.. Daan lain sebagainya. :)

      Delete
  3. Hmmm kalau di tempatku kayaknya sekarang sudah 'menggalakkan' istilah dosen gak lagi menjadi 'pengajar' saja tapi lebih ke fasilitator... aku yo ra mudeng deng...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh wahh,. terobosan baru tuh Una. Coba diperhatiin deh. Pasti beda. Dan lebih enak kalau 'fasilitator',. :D

      Delete
  4. mohon maaf lahirbatin ya kak :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-samaa,. mohon maaf lahir batin jugaa :D

      Delete
  5. fasilitator itu yang bisa getar-getar
    *ituvibrator

    hwehehehe (^_^)v

    ReplyDelete
  6. Hahhaa,,, makasih kakak, :-D

    Tetap keren ah *dibangding nganggur *plaaak

    Dicerna pelan2 deh, :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeeee.. Ga rela saya dibandingin ama nganggurr :( *jitakkk*

      Sip. Cernanya pelan2 aja. Kunyah 32 kali yaa.. ;)

      Delete
  7. saya bangga sekali melihat photo itu..

    ReplyDelete
  8. jadi fasilitator itu seperti mc dan pembawa acara, iya kan :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggaaaaakk.. Beda bangett mas Arioo.. *harus diluruskan nih kayaknya. Hmm

      Delete
  9. jadi jangan terlalumenggurui ya kalau menjaidseorang fasilitator

    ReplyDelete
    Replies
    1. :-bd betul banget mbak Lid,.
      Karena fasilitator bukan guru

      Delete
  10. numpang nyimak dlu mbak,,,
    agak suli dicerna... hehehe

    ReplyDelete
  11. wuiiih hebat kak (y) jadi pengen. kapan ya saya bisa bermanfaat buat orang lain? hhehe

    "Saya ingin mengeluh lelah, tapi saya menyukai prosesnya, bahagia menjalani semua tugas-tugas yang harus saya selesaikan, namun tetap saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya sangat lelah. Hmmm… Apakah ini yang disebut dengan, “Bekerja dengan hati…?”, saat melakukan suatu hal yang sangat kita sukai dan tidak merasakan lelahnya, hingga akhirnya hal itu selesai kita kerjakan, dan hanya kebahagiaan yang tersisa, selain lelah yang masih meraja lela." << mungkin bisa dikatakan seperti itu kak. hmm tulisannya inspiratif sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mulai dari sekarang mbak,. mulai dari hal2 sederhana saja. Pasti bisa ;)
      Terimakasiiihh :">

      Delete
  12. fasilitator.. agak kurang paham juga saya dengan istilah ini. Cuma yang sering agak familiar dengan telinga saya adalah 'pendamping'. Entahlah, mungkin berarti sama atau berbeda. Tapi melihat contoh pak amin yang sangat pandai sebagai fasilitator, memang disini terlihat bagaimana pengalaman yang berbicara. Yah.. dengan pengalaman nanti mbak Mae akan lebih terbiasa lagi dengan penggunaan kata-kata yang lebih membumi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pendamping ya? Kalo menurut pemahamanku pribadi, fasilitator tidak sama dengan pendamping mas. Cuma bingun juga penjelasannya seperti apa :D

      Aaamiiinn.. Makasii doanyaa :D

      Delete
  13. jawaban iseng
    fasilitator, : penyedia fasilitas
    moderator, : pengawas
    presentator, : penyampai dalam presentasi
    follback : mampir balik ,follow balik, hehe ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha.. Mantabb jawabannya.. makasiii :-bd

      Delete
  14. semoga kelak bisa menjadi fasilitator unggulan yang selalu bekerja dengan hati...semoga d bulan suci Ramadhan ini kita semua memperoleh ampunan-NYA..selamat berpuasa..mohon maaf lahir batin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin,. terimakasih doanyaa :D
      Mohon maaf lahir batin juga dans elamat berpuasaa :D

      Delete
  15. 1 jam terpaku didepan leptop memperhatikan dan membaca dengan seksama postingan ini, hahhhahaha #lebay. tapi bener, khusyu' banget dhe bacanya mae, padahal biasanya kalo udah sepanjang ini dhe langsung klik close.. wakakakakkkakka

    alhamdulillah, postingan panjangmu gk sia-sia.. dhe ngerti maksud fasilitator tapi kalo disuruh menjelaskan ulang dhe bakal langsung kibarin bendera putih.. *LOL!

    marhaban ya ramadhan mae.. maaf lahir batin yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. :o Satu jam??? Ga sampe kelupaan puasanya kan Dhe?? Hahaha...
      Alhamdulillah, kalau memang bisa dimengerti. Senang dengarnya :">

      Sipp. Sama sama Dhe. Selamat berpuasa yaaa :D

      Delete
  16. salut dg sampean dhek. Salut pada pengabdiane sampean. *applause*.
    .
    Waw! Jd smpean uda ngerasain kerjaan yg sesuai dg passion. Itu bagian yg aku suka. Saat rasa suka mengalahkan lelah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh aduh,. berasa apa aja nih pake di tepokin segala. Hihi.. Makasiii mas Ronceeee :">

      Yap,. Alhamdulillah. Semoga bisa tetap istiqomah seperti ini. Walaupun kadang terasa capek banget, tapi semoga hal itu ga akan sampe bikin saya nyera. :)

      Delete
  17. kenapa gak sekalian di ikutkan kedalam kontes mengajar sampoerna.. ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. :o Kontes mengajar sampoerna?? Ga pernah dengar

      Delete
  18. Di Komunitas Lubang Jarum juga ada fasilitator :)
    fasilitator kaleng :D

    ReplyDelete
  19. Seneng ya bisa bersama masyarakat memajukan bangsa melalui gizi.
    Aku masih rada bingung yang jadi audience itu siapa yaaa?
    Pak lurah, pak RT, atau pegawai puskesmas atau orang tau (Warga)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Audience nya, bergantung evennya kak. Bisa internal tim sendiri, sesama staf, masyarakat terdiri dari perangkat desa, kader posyandu, anggota karang taruna, remaja putri,. siapa aja. Disesuaikan dengan tujuan dan sasaran dari kegiatan masing masing :)

      Delete
  20. Salam kenal,, hmmm,, senang nya bisa mampir di blog seorang fasilitator,,, tetap semangaat ya di lapang!! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siappp.. salam kenal juga mbak :)

      Delete

Speak Up...!!! :D