04 August 2012

Memiliki Kehilangan

Perpisahan. Salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang cukup menyebalkan bukan?

Yeah, setidaknya ini yang ada di kepala saya, beberapa waktu yang lalu. Dulu tepatnya, saat diri ini merasa belum terbiasa dengan perpisahan, hingga menganggap hal tersebut termasuk salah satu yang paling menyebalkan di dunia. Padahal  kalau diingat-ingat lagi, seharusnya saya sudah terbiasa dengan perpisahan semenjak kecil, namun entah kenapa sepertinya diri ini baru bisa bersahabat dengan kata itu semenjak terlepas dari bangku putih-abu-abu.

Dulu, setiap kali akan ‘ditinggalkan’ oleh seseorang—entah siapapun itu, pasti diri ini secara refleks akan menghindar. Saya yakin bahwa tidak hanya saya yang memiliki pemikiran ‘lebih baik saya yang meninggalkan orang lain, daripada saya harus ditinggalkan oleh orang lain’, karena memang pada kenyataannya lebih menyebalkan berada pada posisi ‘ditinggalkan’ daripada ‘meninggalkan’. Jika perpisahan itu hanya terjadi sekali dua kali, mungkin masih bisa ditoleransi. Namun jika perpisahan itu harus dilakukan berkali-kali, berpuluh-puluh kali, bahkan beratus-ratus kali, bukankah akan sangat melelahkan untuk menghindarinya terus-menerus? Apalagi jika pada kenyataannya, usaha untuk menghindar itu hanya sebuah kamuflase, yang pada akhirnya tetap berujung pada, saya yang ditinggalkan oleh mereka.

Hingga pada akhirnya diri ini mulai belajar untuk bersahabat dengan perpisahan. Terlalu bersahabat, kalau boleh saya bilang, hingga yang tampak dari luar adalah suatu bentuk ‘mati rasa’ saat menghadapi perpisahan itu. Tapi jangan khawatir kawan, itu hanya yang nampak pada luarnya saja. Ya, saya lebih suka menikmati bagaimana menyebalkannya perpisahan dalam diam, dalam kesendirian, seperti pagi ini.

…karena lagi-lagi perspisahan menunjukkan keakrabannya pada saya. Hingga akhirnya ia bersedia nampak, beberapa kali dalam kehidupan yang belum genap lima bulan di Dompu, bersama keluarga baru saya disini.

Selama hampir lima bulan ini, sudah ada lima orang ‘anggota keluarga’ saya yang pergi meninggalkan saya. Pertama, pak Nasrul, Program Unit Administration Coordinator (PUAC). Beliau pindah ke Plan Country Office Jakarta, untuk kemudian menjadi staff finance disana. Kedua, pak Yamin, salah satu bapak security, yang kalau saya tidak salah dengar, pindah ke Papua. Selanjutnya ada pak Eka, Program Unit Manager (PUM), yang tahun ini sudah waktunya rolling PUM dan berpindah ke kantor Plan di Sikka, NTT. Juga ada mas Roni, Water and Sanitation Hygiene (WASH) Facilitator, yang pindah ke kantor Plan di Nagekeo, NTT, dan yang terakhir adalah om Zen, Building Relationship Coordinator (BRC), yang pindah ke perusahaan lain di luar pulau.

Ijinkan saya bercerita sedikit tentang mereka ya, kawan. Tapi saya tidak akan menceritakan dua yang pertama, karena kepergian mereka terlampau cepat, hingga belum banyak kisah yang patut untuk diceritakan, serta hati yang masih belum terlalu mengenal satu dengan yang lainnya.


Saya dan Ulil sering menyebut beliau sebagai ‘Dompu 1’, karena beliau ini merupakan orang nomor satu di Plan PU Dompu. Sosok yang sangat, apa ya? Keren kalau boleh saya bilang. Dengan penampilan yang selalu stylish dan ‘anak muda banget’, namun sama sekali tidak mengurangi kewibawaannya sebagai seorang manajer. Bapak dengan tiga orang anak yang sangat luar biasa ini, dimata saya merupakan sosok yang sangat sederhana, berkarisma, ramah, bijaksana, ambisius, juga tegas.

Pak Eka, begitu saya memanggilnya, terhitung pernah dua kali mengajak saya dan Ulil untuk makan di luar. Ya, kami sama-sama perantauan, keluarga beliau tinggal di Bima, dan di Dompu ini statusnya tidak jauh beda dengan saya: anak kos. Momen makan bersama beliau menjadi satu hal yang cukup berharga untuk saya, karena pada saat itu banyak sekali hal-hal berharga yang beliau sampaikan pada saya. Selain itu, saya kira ini merupakan momen yang cukup langka. Seorang manajer, mengajak kami makan, meminta kami untuk memilih menu makanan, menjadi supir untuk kami, serta membayari kami makan pula, hmmm… saya tidak yakin bisa menemukan manajer macam beliau di tempat kerja yang lain. Luar biasa. Hehehe… B-)

Ada satu hal, juga tentang perpisahan, yang pernah beliau sampaikan saat kesempatan pertama mengajak saya beserta beberapa orang staf untuk makan bersama diluar. Hal itu terjadi tidak lama setelah pak Nasrul meninggalkan Dompu. Kurang lebih seperti ini yang beliau sampaikan,
“Kalau itu baik untuk karir mereka kedepannya, mengapa harus ditahan? Saya pincang tanpanya (pak Nasrul—PUAC.red), tapi jika dia pergi, dia akan jauh lebih berkembang..."
…karena pada kenyataannya, seorang PUM memiliki hak penuh untuk memberikan ijin atau tidak kepada staffnya untuk pindah. Namun itulah yang menjadi pilihan beliau.

Alhamdulillah, sekalipun saat ini sudah terpisah tiga kali perjalanan transportasi udara, namun sosok beliau serasa masih tetap hadir ditengah-tengah kami. Lewat sapaan via skype yang hampir setiap hari—yang belakangan sering membicarakan tentang pengalaman beliau berpuasa di daerah berpenduduk mayoritas non muslim, hingga sapaan lewat obrolan di FB saat tengah malam dilihatnya saya masih online, sekedar mengingatkan untuk sahur—walau seringkali mengingatkannya terlalu cepat, juga saling lempar komentar atau sapaan di FB maupun twitter. Hingga beberapa hari yang lalu, obrolan singkat via FB itu kembali terjadi, dan salah satu mimpi, harapan, serta doa kembali terucap.

Semoga suatu saat saya memiliki kesempatan untuk kembali bertemu juga bekerja sama dengan Bapak. Entah di Sikka, di Ende, di Maluku, di Papua, atau ditempat lainnya yang hingga saat ini belum pernah terbayang sedikitpun di benak saya.
Ngemper bareng pak Eka, foto punya om Joe
Belakangan baru saya mengetahui, bahwa ternyata beliau adalah salah satu orang yang menginterview saya dalam proses seleksi saya masuk di Plan. Satu pertanyaan terakhir yang masih saya ingat hingga saat ini, “Dari angka 1-10, seberapa besar keinginan anda untuk bisa mencapai target yang sudah ditentukan…?”, dan saya membutuhkan beberapa detik untuk menjawabnya, masih dalam keragu-raguan.

Mas Roni, foto punya om Joe,
Sewaktu acara Update Renkon 2012
Bapak-bapak gaul, kalau boleh saya bilang. Seorang ayah dari dua orang anak, yang pada awalnya sama sekali tidak terlihat seperti sudah berkeluarga. Yeah, seandainya saya tidak menyambangi blognya, Catatan Roni Untuk Dunia (silakan klik disini) mungkin saya tidak akan mengetahui tentang hal itu. Karena sungguh, penampilannya sangat ‘anak muda’, dengan sosok yang tinggi besar, berkostum kaos lengan pendek berwarna cerah, celana jeans, serta sepatu kets dengan warna yang senada, yang menjadi stylenya sehari-hari.

Bersama mas Roni, berapa banyakpun waktu yang ada tidak akan habis candaan ia munculkan. Segala apa yang terlihat bisa jadi satu hal yang konyol, lucu, dan menyenangkan. Seringkali kami satu kantor dibuat heboh olehnya, dengan aksi-aksi gilanya, termasuk salah satunya dengan membuat video gaje (gak jelas) kemudian diunggah di youtube serta menshare linknya ke seluruh staff di kantor. Hingga dari tempat yang berbeda di masing-masing meja kerja kami, terdengar suara tawa yang tiba-tiba mengudara.

Satu hal yang membuat saya agak kaget, terlepas dari hal ini nyata atau hanya joke belaka, beberapa hari yang lalu mas Roni menyapa saya lewat obrolan di whatsapp. Sederhana saja yang ia sampaikan, tapi hal itu berhasil membuat diri ini sedikit berpikir, dan terdiam.

“Miss you all,.
Gila Rie, homesick saya…”

Hmmm… Saya selalu kesulitan bereaksi jika mengahadapi hal yang seperti ini. Karena saya sendiri yakin bahwa sebenarnya mas Roni lebih tau apa yang harus ia lakukan untuk mengatasinya. Tapi dengan ia bercerita, secara tidak langsung saya merasa bahwa, saya harus melakukan sesuatu. Apapun itu. Hingga pada akhirnya, saya memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

Actually, we miss you too mas Ron… :-*


Belum genap dua puluh empat jam om Zen meninggalkan kami. Kemarin sore (3.8.2012), saat sedang meeting rutin di kantor, beliau berpamitan. Satu persatu dari kami bersalaman dengan beliau, hingga pada akhirnya rapat terhenti sejenak untuk menyaksikan kepergiannya. Semua staff mengantar hingga didepan kantor, kecuali saya yang masih tetap berada dibalik meja, mencoba meyibukkan diri dengan bercengkrama dengan si greyss. Bukan tanpa alasan saya melakukan hal itu.

Om Zen, sosok yang hampir selalu ada setiap malam saat saya dan Ulil singgah di kantor selepas makan malam. Ingat om Zen, pasti ingatnya film, karena salah satu kegemaran beliau adalah berdiam diri di kantor hingga tengah malam hanya untuk mendownload film-film, mulai dari yang paling lama hingga yang paling baru. Mungkin, jika dibandingkan dengan rental VCD dan DVD, koleksi film om Zen di harddisknya yang berkapasitas sekian ratus giga itu lebih lengkap. Saking banyaknya koleksi filmnya. Ahh,.. Saya jadi ingat kalau sudah mengcopy beberapa film dari beliau, tapi ada beberapa yang belum saya tonton.

Hemmmm… Saya kehilangan partner untuk belajar bahasa inggris sekarang, biasanya kalo bingung dengan bahasa yang satu itu, tanyanya ke om Zen. Kalau setelah ini, kalau bingung-bingung lagi tanyanya kemana ya…? Hihi… :D

Ulil dan om Zen, foto koleksi pribadi om Joe

*
Salam perpisahan, perlukah itu? Saya rasa tidak, karena dengan begitu, setidaknya saya jadi bisa berharap bahwa suatu saat kita bisa bertemu lagi, dilain kesempatan yang tentunya lebih baik dari beberapa bulan yang sudah kita lalui bersama. Biarlah salam perpisahan itu berubah menjadi doa dan harapan, yang mengiringi perjalanan kawan-kawan semua ditempat yang baru.

Mataram, 14 Juni 2012, captured and edited by om Joe

Belum terlalu lama waktu yang saya habiskan bersama dengan mereka, namun sayangnya, suatu keakraban tidak bisa dinilai dari seberapa lama kamu mengenal seseorang.
It is not about quantity, it is about quality
-mae-

*Judul postingan ini saya sadur dari salah satu judul lagu band Letto (salah satu band Indonesia favorit saya) dalam album “Truth, Cry, and Lie”. Memiliki kehilangan,.. Semacam, mengingatkan saya bahwa tidak ada satu halpun di dunia ini yang bisa dimiliki manusia, selain rasa kehilangan itu sendiri, karena pada kenyataannya, segala kerumitan hidup hanya berakhir pada satu kata sederhana: perpisahan*

78 comments:

  1. adan pertemuan ada juga perpisahan ya biasaya perpisahan itu terasa berat dibanding pertemuan. maaf ya aku baru bisa berkunjung lagi keisni

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi.. Dimaafkan mbak Lid. Saya juga belakangan agak jarang BW :D

      Delete
  2. Bener kata, Mbak. Berpisah dengan siapapun memang selalu menyedihkan diawalnya, tapi kalo sering mengalami, kita malah jadi terbiasa. :D Tapi walaupun berpisah, yang penitng komunikasi masih bisa tetap terjaga. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harus dibiasakan, karena siapapun dari kita pasti pernah merasakan perpisahan itu.
      InsyaAllah komunikasi selalu terjaga. Makasiii Akmal :)

      Delete
  3. Semoga suatu saat bertemu lagi yaa mbak =)
    *keep smile

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin... Kalau smile selalu doonkk.. Makasii Giaa.. :D

      Delete
  4. tidak hilang, hanya terpisah ruang dan waktu... :)

    ReplyDelete
  5. dan selanjutnya rie dipindah ke jakarta kan :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiiiyyy.. Mas Ario ini kenapa siii kok pengen banget saya ke Jakartaaa... :-/

      Delete
    2. yah soalnya blogger lain kalau dipindah ke jakarta senang gitu :D

      Delete
    3. Tapi tidak dengan saya mas Ario.. B-)

      Delete
  6. Ya, saya izinkan ... (menjawab pertanyaan di paragraf 7)
    Sesungguhnya perpisahan di zaman sekarang tidak sebegitu pedih dibanding zaman 90-an, berkat Twitter, Skype, dan Whatsap! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan saya tidak akan tanya anda siapa B-)
      Yappp,.. Tapi terkadang bukan cuma komunikasi yang kita perlukan, kehadirannya, tanpa sepatah katapun terucap juga penting.. :D

      Delete
    2. Itu kata-katanya WOW, Mae ... :D

      Delete
    3. Trus saya harus bilang 'whaow' juga, begitu??? :))

      Delete
  7. Perpisahan saat ini sebanding dengan berkembangnya teknologi,,, Mario Koplak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dasar koplak.. :))
      Ngomongin perbandingan.. Pasti sambil belajar math nih.. :p

      Delete
  8. ngomong - ngomong soal perpisahan, saya jadi ingat teman2 waktu masih sekolah apalagi temen2 SD yang sudah puluhan tahun berpisah, tau kan... jaman dulu belum ada yg namanya FB, twitter, apalagi skype... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa mas Zan,. Tapi sudah ada yg beberapa bisa ketemu berkat FB, twitter, dan kawan-kawan. Coba dicari juga, siapa tau ada ;)

      Delete
  9. kalo jodoh pasti akan ketemu lagi dengan mereka mbak..

    ReplyDelete
  10. Perpisahan memang selalu menyedihkan, terutama dengan yang sudah kita kenal baik, baik sekali, sampai ada rasa separuh jiwa ini ada yang hilang, biasanya aku berdoa "mudah2an beliau selamat dimanapun beliau berada dan sukses selalu".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin....
      Ga sampe separuh jiwa hilang sii,. karena masih banyak hal yang harus diselesaikan, dan ga boleh terpaku hanya sampai disini saja :D

      Delete
  11. Pertemuan dan perpisahan, selalu datang dan bergantian, bahkan perpisahan tak akan terjadi tanpa diawali pertemuan. Karenanya, bagaimanapun pedih rasa di jiwa, janganlah tertetes air mata. Walupun dalamnya luka dan duka, upayakan selalu riang dan gembira.

    ReplyDelete
  12. Aiss, pasti gak enak banget ya mbak, berpisah ama temen yang udah deket dan nyaman banget di hati ..
    semoga waktu mempersatukan kalian semua lagi .. amin :D

    btw, salam kenal mbak .. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berusaha untuk di enak-enakin mbak. Hehe..
      Salam kenal jugaaa :D

      Delete
  13. mengingatkan saya waktu teman kantor dulu yang sudah akrab perlahan-lahan harus berpisah karena diluar kantor sana ada yang lebih baik untuk mereka :D...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp,.. Semoga memang begitu, dengan mereka pergi, itu merupakan satu hal yang baik untuk mereka :)

      Delete
  14. he he berbicara mengenai rekan yang pindah meninggalkan kita, juga sering saya alami. Udah tidak terhitung lagi berapa teman yang sudah meninggalkan kantor saya sekarang. Kebanyakan mereka melanjutkan sekolah ke luar negeri. Tapi tetap saja rasanya berat juga. Tapi semua akan menjadi normal kembali karena akan ada orang yang baru yang akan mengisi kebersamaan-kebarsamaan selanjutnya.

    Note penting : Mbak Mae tolong link saya diganti yang ini yah. Soalnya sekarang saya dah beli domain sendiri he he.

    -fifin coffee break-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa.. Cuma bisa berdoa supaya pengganti-pengganti mereka tidak kalah menyenangkan. Hihi..
      Ku kira cuma di tempatku bekerja saja yang dinamikanya cukup tinggi, ternyata di tempat lain juga yaaa. Baru tau. :D

      Selamaaaatt untuk domain barunyaaa mas Fin :D

      Delete
  15. Perpisahan memang menyakitkan :'(

    ReplyDelete
  16. hampir saya berkaca2 mae... hehehe..
    pake acara tangis2an ga tuh ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak pakeeeeeeek.. Ga boleh mas. Harus pake senyumm :)

      Delete
  17. ada pertemuan berarti siap ketika waktu berpisah itu tiba..
    namun ketika perpisahan harus bertandang, maka persiapkanlah rindu yang dalam ketika hendak berjumpa nanti.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi,. Iya, itu salah satu hal yang patut untuk dinikmati dan disyukuri. Rasa rindu,.. Kalo ga pas berpisah lama, trus kapan lagi?? :D

      Delete
  18. pun ketika pada akhirnya kau dan aku harus berpisah,hal itu sudah bisa diramalkan sejak kali pertama mata kita bertemu dan tangan kita berjabat.maka anggap saja pertemuan kita ibarat irisan antara himpunan hidupku dan hidupmu. yang berarti kau dan aku akan memiliki sebagian kenangan yang sama dalam hidup kita. menarik bukan?
    [http://cahyasidratulmuntaha.blogspot.com/2011/12/bertemu-perpisahan.html]

    ReplyDelete
  19. rasa kehilangan akan sangat menyakitkan jika kita pernah merasa memiliki.
    ntah benda atau orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sedang menikmati rasa kehilangan itu, semoga tidak menyakitkan :)

      Delete
    2. jejejeje.

      iya, dinikmatin aja.

      :D

      Delete
  20. kata Bandung Mawardi, esais dari Solo itu "sesuatu yang pernah kita miliki dan hilang tak boleh disesali larut2, tapi justru harus berpikir bahwa begitu berharganya karena kita pernah memiliki mereka dan mereka itu adalah anugerah"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whaowww.. Mantab. Ijin catat yaaaa.. ?@_@?

      Delete
  21. Wah sepertinya Arie sudah menyatu dengan keluarga baru...
    seneng baca ceritanya..., pertemuan dan perpisahan hal yang wajar.. enjoy aja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp.. Sudah sewajarnya. Siap ketemu juga musti siap pisah :D

      Delete
  22. terkadang perpisahan adalah suatu cara untuk kita, agar bisa menjadi sosok yang lebih dewasa :D #MySelfExp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh juga nih... Thanks sharenya mas ;)

      Delete
    2. Trus apa donk? Om??? :))

      Delete
  23. Lama-lama mendengar kata Dompu membuat telinga saya semakin familiar, ya? Walau kunjungannya menyusul ke situ :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. Semoga dengan begitu, semakin membukakan jalan untuk main ke Dompu mbak. Ditunggu kunjungannyaaaa :D

      Delete
  24. menghadap perpisahan emang suka gak enak awalnya, tap semoga ada jodoh utk bisa ketemu lagi ya :)

    ReplyDelete
  25. Semoga suatu saat nanti bisa bertemu mereka kembali. Momen-momen kebersamaan yang pernah ada pasti akan selalu teringat. Itulah indahnya persahabatan.

    ReplyDelete
  26. satu saat pasti bisa jumpa lagi dengan mereka yang karena kerja harus berpisah dengan kita ya Mae :)

    ReplyDelete
  27. kata yg paling berat memang "perpisahan". seolah setiap orang memang tidak siap dengan kata itu termasuk saya. tapi, perpisahan itu membuat kita belajar dr masa lalu agar kebaikannya terus ada sampai nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mbak. Berat, tapi mau tidak mau harus di biasakan :D

      Delete
  28. pertemuan dan perpisahan, dua pasangan yang mewarnai pelangi kehidupan manusia

    ReplyDelete
  29. Mbak mae, ini bisa lho blog nya, gag masalah kan :D

    Perpisahan aah sebel kaalu denger kata itu tapi yaa mau gimana pasti akan ada perpisaahaan di ujung dari pertemuan yang penting itu pertemuan yang berkualitas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. :o Emangnya saya pernah bilang ga bisa ya?? Kapan yaa..? Lupa. :D

      Yapp,. kualitas pertemuan. Itu yang penting :-bd

      Delete
  30. selalu ada yang datang dan pergi .. :D semoga nanti bertemu lagii :D :D

    ReplyDelete
  31. Waktu itu aku pernah diskus di twitter tentang kehilangan dengan mu yaa chi masih ingatkah kamu?

    hihihi kaya judul lagunya lett* Memiliki Kehilangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa kakaaak.. :D
      Laahh,. emang judul lagunya Letto. Itu kan aku tulis di bagian bawah. Isshh.. Ketahuan ga baca sampai selesai nihh :P

      Delete
  32. aku suka bagian terakhirnya..
    "kerumitan hidup hanya berakhir pada satu kata sederhana: perpisahan"

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D