11 September 2012

Book Review: Sepatu Dahlan

Judul: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Tebal: 369 halaman
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Noura Books


…mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging. Siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku. Sungguh, aku butuh tidur. Sejenak pun bolehlah. Supaya lapar ini terlupa…

Novel ‘Sepatu Dahlan’ bercerita tentang perjalanan alam bawah sadar seorang Dahlan Iskan selama delapan belas jam saat menjalani proses operasi transplantasi hati. Perjalanan tersebut membawa Dahlan Iskan kembali ke kehidupan masa kecilnya beberapa tahun silam. Berlatar kehidupan sederhana masyarakat Kebon Dalem di tahun 1960-an, salah satu kampung di kabupaten Magetan, Jawa Timur, kisah Dahlan pada masa kecil itu dimulai. Dahlan yang kala itu baru saja menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), harus menghadapi kenyataan pahit yakni tidak bisa melanjutkan ke sekolah yang diinginkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.


Masalah ekonomi bukan menjadi hal baru bagi Dahlan sekeluarga. Semenjak kecil, Dahlan sudah terbiasa hidup sulit, mengerjakan segala hal yang bisa dikerjakan demi mendapatkan sesuap nasi, mulai dari nguli nyeset, nguli nandur, menggembalakan domba, hingga melatih tim voli anak-anak juragan tebu. Didikan yang tegas dan disiplin dari Ayahnya, Iskan, membuat Dahlan beserta adiknya, Zain, tumbuh menjadi remaja yang jauh lebih dewasa dari anak seusianya. Kesulitan hidup yang melilitnya sejak kecil membuat Dahlan tidak berani bermimpi terlalu banyak. Hanya dua mimpi yang dianggapnya cukup besar, yang hingga duduk di bangku Madrasah Aliyah masih belum bisa terwujud: memiliki sepatu dan sepeda.

Kehidupan Dahlan yang sulit tidak lantas merenggut kebahagiaannya sebagai seorang anak remaja yang juga gemar bermain. Bersama Zain, Arif, Imran, Maryati, Kadir, serta teman-temannya yang lain, Dahlan juga menikmati masa kecilnya dengan suka cita, terlepas dari lilitan rasa lapar yang menderanya hampir setiap saat. Tak ketinggalan juga, kisah Dahlan kecil yang tertarik dengan seorang gadis bernama Aisha, anak bang Malik, salah seorang mandor perkebunan tebu berkumis tebal yang terkenal cukup garang. Aisha, yang belakangan diketahui juga menaruh hati pada Dahlan, cukup menyita pikiran Dahlan semenjak ia mengenalnya. Hingga pada akhirnya Aisha ‘menantang’ Dahlan untuk bertemu lagi dengannya tiga tahun lagi, setelah memperoleh gelar sarjana muda.

Pengambilan sudut pandang orang pertama pada novel ini berhasil membuat saya mendapat gambaran jelas tentang sosok Dahlan kecil, lengkap dengan pemikiran-pemikiran serta konflik batin yang sering dialaminya. Pemilihan kata yang sederhana serta alur yang jelas juga cukup memudahkan saya untuk memahami maksud dari cerita, disamping juga mempengaruhi kecepatan saya membaca. Tiga ratus enam puluh sembilan halaman boleh dibilang cukup tebal untuk sebuah novel. Namun ternyata saya hanya membutuhkan waktu tak lebih dari dua hari untuk menyelesaikannya—tentunya dengan aktifitas normal. Walaupun begitu, tetap terselip beberapa kalimat-kalimat cantik yang sedikit banyak menunjukkan karakter penulis sebagai penggemar prosa dan sastra.

Satu hal yang menarik dari novel ini, adalah diselipkannya beberapa catatan dalam buku harian Dahlan kecil. Terlepas dari catatan itu memang benar ada atau tidak, disitu sangat terlihat bahwa Dahlan merupakan sosok yang mahir menulis sejak duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah. Ada satu catatan yang sangat saya suka, catatan ini ditulis saat Dahlan ingin membalas surat dari Aisha, namun karena dipikirnya surat ini terlalu berkelok dan berbunga-bunga, maka dibatalkannya untuk mengirimkan surat tersebut,

Barangkali harapan ini hanya semacam doa yang memeluk kehampaan sebagai kamu. Tapi, biarlah. Sesekali perlu mengajariku cara tercepat meninggalkan masa silam meski aku tak yakin kamu akan “hilang” begitu saja di masa depanku. Kadang, setiap merindumu aku menegarkan hati dengan merapal mantera “semoga”, dan berharap mantera itu mustajab untuk mengembalikan “yang pergi” dan memulangkan “yang lupa”. Walaupun setiap mataku membuka kamu tetap pergi dan tetap lupa kembali.

Pada saat membaca novel ini, saya sedikit terganggu dengan deskripsi tentang suatu hal yang dituliskan berulang-ulang. Misalnya saja, penjelasan tentang sosok Kadir yang merupakan teman Dahlan yang sudah dikenal sejak duduk dibangku Sekolah Rakyat, maupun penjelasan tentang peristiwa sumur-sumur tua di Soco, Cigrok, dan lainnya. Mungkin disatu sisi memang penulis sengaja melakukan itu, untuk membantu pembaca mengingat latar kehidupan sosial pada saat itu. Namun sedikit banyak hal tersebut membuat saya merasa terganggu. Saya kira sudah merupakan tugas dari pembaca untuk memperhatikan detail dari setiap kalimat—bahkan kata—yang dituliskan dalam sebuah novel, hingga penulis tak perlu menyampaikan suatu hal berulang kali.

Terlepas dari semua itu, novel ‘Sepatu Dahlan’ merupakan novel yang cukup menginspirasi, walaupun kalau boleh jujur, novel ini bukan merupakan genre favorit saya. Novel ini mengingatkan saya pada novel Laskar Pelangi yang lebih banyak menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari seorang anak desa, dimana konfliknya tetap ada, namun entah mengapa di bagian akhir saya justru kehilangan klimaksnya.

Beberapa penilaian khusus yang saya buat sendiri:
Score : 84
Status : Sebuah media yang cukup baik untuk mengenal karakter Dahlan semasa kecil
Best quote :
“Kadang, hidup begitu tegas tak menawarkan kesempatan lebih dari sekali, dan sebaiknya aku terima peluang yang ditawarkan oleh kehidupan itu”

*Anyway, terimakasih untuk kamu yang sudah bersedia meminjamkan (meminjamkan, bukan?) buku ini pada saya... :">

74 comments:

  1. Waaaahh.. kisah nya itu membuat saya merinding, apalagi kalo baca semua bukunya :3

    hmm.. pernah juga tante ku bilang, "Ari, kamu itu ternyata lebih dewasa di banding kakak mu yang itu, mungkin karena setelah kamu lahir sampai sekarang, masalah selalu datang pada orang tua mu dan mau tidak mau, kamu harus ikut merasakannya"

    Oke kita nggk usah ngebahas masalah apa itu ^^ Tapi, kenyataannya, setiap masalah yang datang, maka akan menambah tingkat kedewasaan seseorang . I think so :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah, masalah membuat kita menjadi lebih dewasa, serta keinginan-keinginan besar membuat kita menjadi hebat.

      Heiyy,. kau pertamax. Selamaaaaaaaatt,. ngebales nih yeee.. :P

      Delete
    2. iyap !! bener banget :D

      wkwkwk... bukan nge bales sih, kebetulan aja lagi iseng" refresh si popcorn, ehh ada postingan baru .haha

      Delete
    3. Ihh whaoww.. Kalau begitu terimakasih atas keisengannya :D

      Delete
  2. Saya malah paling suka petuah yang ditulis di papan nama pesantren, yang pake huruf Arab Jawa. Maknanya dalem.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahh ya,. itu juga bagus. Tapi saya lebih suka mengambil quotes dari percakapan-percakapan sederhana antar tokoh yang ada dalam sebuah novel.
      Keistimewaan, yang disampaikan dengan cara yang sederhana, bahkan melalui celetukan-celetukan yang tak sepenuhnya disadari :)

      Delete
  3. Bentar, Sepatu Dahlan dan Laskar Pelangi kan Trilogi?? Wajar kalau klimaks di ending hilang! *Koyak pernah baca ae le << Ngomong sama diri sendiri :))

    Bagus yang, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi hal itu gak terjadi di Negeri 5 Menara, yang juga merupakan trilogi.
      Oia, sedikit koreksi. Laskar Pelangi itu TETRALOGI yaa, ada empat episode, dan saya menyukai dua diantara keempatnya. :D

      Delete
    2. Iya iya Bu Guru, makasih koreksinya, :)

      Emang lanjutan 5 Menara apa ya??

      Kesimpulannya, SAKAREPE sing NULIS yang, ya kan? =))

      Delete
    3. Ranah 3 Warna, sudah baca jugak :D

      Hahhaa.. betul betul betul. Review buku memang tidak jauh dari penilaian subjektif pembaca :)

      Delete
  4. Gak mau baca review diatas... soalnya udah teken kontrak buat baca buku nya secara keseluruhan weekend ini.. insya Allah, 2 hari khatam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Okelahhh... Minta ke mas Oji yaa. Katanya dua hari juga sudah kelar tuhh

      Delete
    2. Whakakakakak,,, kasian amat si Ulli?? Pinjam juga donk? :))

      Delete
  5. wah seruu sepertinya.. banyak banget yang bisa diambil.. apalagi best quote nyaa.. sayang gia belum punya nih.. jadi kurang ngerti banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga gak punya. Itu buku dipinjami teman.. Hehe :D

      Delete
  6. kalau sepatu Rie mana? :D

    apakah aisha yang kelak menjadi istri dahlan iskan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepatu saya ada di kos mas. Hehe..

      Hmmm.. Kurang tau kalau itu mas. Tunggu buku kedua dan ketiganya saja, seharusnya ada kisanya ;)

      Delete
  7. ternyata masa kecil Dahlan iskan tertekan oleh masalah ekonomi ya,
    gak heran dia sekarang cukup prihatin dengan kelakuan koruptor yang mencekik orang miskin..

    ReplyDelete
  8. Thanks sudah direview ya , aku belum baca soalnya :)

    ReplyDelete
  9. haloooo maeee.... maaf yaaa... awardnya ditunda dulu... lagi pengen posting yg lain... XD
    btw, coba deh baca berita detik yg ada dahlan iskannya, trus baca komentarnya..
    yg arif simpulkan... kalau mau di suudzonin terus, jadilah pejabat pemerintah. :D

    berlaku jahat di hujat. berlaku baik dibilang pencitraan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo jugaa Arif..
      Iyaa, gak papa. :D

      Ahh ya, saya juga pernah baca. Betul banget yang disampaikan oleh beliau itu :)

      Delete
    2. saya suka penutup komentarnya "berlaku jahat di hujat. berlaku baik dibilang pencitraan"

      memang susah kalau sudah berurusan dengan masyarakat yang mengalami krisis kepercayaan..

      salam kenal :)

      Delete
    3. Berarti harus bisa mengembalikan kepercayaan dulu yaa.. :)

      Delete
  10. waktu ke gramed sempet baca-baca dikit buku ini. memang memotivasi ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah gak baca sama sekali, sudah lama gak ke Gramed :((

      Delete
  11. Saya malah belum baca mbak he he. Kalau melihat dari penjelasan mbak Mae di atas, seperti mandor tebu dan sumur soco, aku sangat familiar dengan itu. Jelas karena asalku kan magetan mbak. Bahkan aku lahir di kecamatan yang sama dengan pak dahlan iskan. Bedanya aku mengenal beliau, beliau tidak mengenalku.

    Tapi sedikit banyak aku harus belajar dari mbak mae. Penulisan resensinya cukup lengkap dengan segala apresiasi dan kritik. Selama ini aku kalau membuat resensi selalu menonjolkan sisi-sisi positifnya saja. Kalau buku yang kubaca tidak menarik, maka aku tidak akan membuat resensisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whaowww.. Berarti mas Fifin kudu baca. Pasti bakal terkenang masa-masa kecil dulu. Hihi...

      Saya cuma ingat satu pesan guru saya sewaktu SMA, "Resensi itu Bukan Promosi Buku", jadi yaa seperti itulah saya berusaha membuatnya :)

      Delete
  12. Dahlan Iskan itu salah satu tokoh yg sy kagumi, tp sy blm baca bukunya yg ini.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti harus baca donk mbak.. Hehe

      Delete
  13. Salam.
    Sepertinya buku yang menarik dan inspiratif, Novel yang diangkat dari kisah nyata dari seorang Dahlan Iskan, setelah membaca sinosis diatas saya penasaran juga, apalagi sosok Dahlan Iskan merupakan fenomena tersendiri, ia melabrak sebagian aturan kaku di birakrasi, baik pada saat jadi pimpinan PLN atau sekarang jadi Menteri BUMN. Cek di toko buku deh...sebelum rame di bicarakan...
    Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp,. Buku ini menampilkan sosok Dahlan Iskan semasa kecil, yang akhirnya bisa membentuk kepribadian yang seperti sekarang ini.

      Selamat mencari, semoga dapat. Dan menurut saya buku ini sudah cukup ramai dibicarakan kok :D

      Delete
  14. salam kenal yah. saya pernah baca resensi sdikit sekali ttg ahmad Dahlan hehe.
    di blog tetangga cuma belum kesampean sih beli bukunya.
    cuma ya seru aja yg udah baca slalu berkomntar positif ttg bukunya sptinay memng menginspirasi byak orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal jugaa :D

      Ehm, sedikit mengoreksi mbak, Ahmad Dahlan dengan Dahlan Iskan itu beda lo, dua tokoh yang berbeda.

      Semoga cepat kesampaian yah cari bukunya :D

      Delete
  15. ini mah lancar2 ajah bikin reviewnya, mae.
    mantab malah. beda ma saya yg lupa jalan pulang. hahhah..

    em.., klo diliat2 kans dahlan iskan buat jdi org no 1 di indo ada tuh.
    pencitraannya sejauh ini sepertinya masih di track positif.

    #malah ngomongin politik. ckkckckkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas bikinnya gak bisa dibilang lancar mbak. Butuh waktu sehariaaaan.. Hehe..

      Dengar kata 'pencitraan' agak gimana gitu saya, kesannya apa yang sudah beliau perbuat, tidak ikhlas, semacam ada maksud tersendiri gitu.

      Hahaha, oke, sekian saja ngomongin politiknya :D

      Delete
  16. Alhamdulillah baru saja saya dapat novel ini dari Pakde, tapi masih dibajak ibu saya hehe.

    Saya juga beruntung deh dulu sempat bertemu Pak Dahlan, meski saat itu beliau masih bukan seorang menteri.. Hmmm. jadi pingin nyuri buku itu dari kamar ibu nih biar cepet baca hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Sabarrr Uncle Lozz. Baca buku ini gak butuh waktu banyak kok. Tunggu sajaa.. ;)

      Delete
  17. baca reviewnya jadi pengen baca bukunya juga.. adakah yang bersedia memberi saya buku ini? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga di kasih. Minta gih ke orangnya langsung. Kali aja di kasih juga ;)

      Delete
  18. Apik!
    Review yang apik :)
    Dari review yang diberikan Mbak Rie saya jadi terbayang-bayang Laskar Pelangi, padahal sebelum baca akhir tulisan yg menjelaskan bahwa novel ini genre-nya seperti Laskar Pelangi. Saya salut sama sosok Pak Dahlan Iskan, terlepas dari gembar gembor bahwa beliau gencar melakukan pencitraan untuk 2014. Toh, memang harus dikenal dulu gaya memimpinnya bagaimana jika mau jadi pemimpin. Sosok yang humble (meski belum pernah ketemu lsg, krn wkt itu telat ikut seminar beliau, hehe.. *curhat*).
    Great review, jadi pengen baca novelnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whoah.. Saya kira tulisan saya di akhir malah membuat yang belum membaca gak pengen baca, ternyata justru sebaliknya.
      Mbak Irma sepertinya penggemar novel Laskar Pelangi ya? Beda selera berarti kita mbak. Hehe...

      Semoga bisa segera membaca buku ini :)

      Delete
    2. Iya mbak Rie, saya suka Tetralogi Laskar Pelangi. Seperti membuat saya kembali mengenang masa-masa kecil dulu dan perjuangannya sebagai "pemimpi". Tapi agak kurang sreg sama Maryamah Karpov, entah kenapa feelnya beda sama ketiga seri awalnya. Sssttt jgn bilang2 yak :D
      Yup, semoga ada rezekinya bisa baca buku ini, entah ada yang mau meminjamkan atau bahkan membelikan *ngarep* :))

      Delete
    3. Ahaha.. Kalau aku kurang suka dengan Laskar Pelangi. Tapi sukak banget sama Sang Pemimpi dan Edensor. Terutama Sang Pemimpi sii.. :D

      Saya doakan semoga ada yg mau ngasih buku ini mbak.. Aamiin :D

      Delete
  19. Walaupun belum pernah membaca novel ini, lewat penjelasan kamu membuat aku tertarik untuk membaca kisahnya. Mirip-mirip kayak laskar pelangi ya?

    Oh ya kak, sejak kapan berganti domain [dot]com? Wah syukuran nih he...he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa,. kurang lebih mirip lah dengan Laskar Pelangi. Hehe..

      Hweeee.. mas Yitno baru nyadar yaa? Sudah agak lama gantinya, tapi emang gak rame-rame sii.. :D

      Delete
    2. Iya baru nyadar kak. Soalnya link yang ane pasang di blog ane kan yang masih bawaan blogspot.
      Terus biasanya blogger yang baru ganti nama domain ada pengumuman atau semacam giveaway gitu :-)

      Sekarang domainnya sudah [dot]com. Harus rajin-rajin share sesuatu yang bisa diambil hikmahnya atau inspirasi.

      Delete
    3. Hyyaaaa.. Jadi harus bikin giveaway gitu?? Hihi.. Nanti deh mas, tunggu ulang tahun Popcorn yg ke dua. Bentar lagi kok. InsyaAllah :D

      Nah nah,. yang bawah ini yg susah. Karena konsep awal saya bikin blog ini memang untuk bercerita tentang catatan perjalanan, walaupun kesininya malah campur aduk. Hehe...
      Pastinya untuk postingan galau sudah jarang ditulis disini, dan saya kira, yang bisa saya lakukan sampai saat ini baru itu. Kalau toh ada tulisan yg menginspirasi, menyenangkan sekali pastinya. :)

      Delete
  20. “Kadang, hidup begitu tegas tak menawarkan kesempatan lebih dari sekali, dan sebaiknya aku terima peluang yang ditawarkan oleh kehidupan itu”

    Ok! I got this message ^^b

    ReplyDelete
  21. aku pengen bgt baca bukunya..tp disini msh susah dapetnya di toko buku.. mgkn krn aku tinggal di kota kecil ya jd koleksi buku gk begitu lengkap ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga gak dapat buku itu di toko buku, tapi dikasih (dipinjami) teman. Hehe

      Delete
  22. Semua penulis berbeda-beda dalam mengatur ending, ada yang full klimaks terus ending, tapi ada juga ending yang penasaran dan penuh tanya, jadi semua kembali lagi pada penulisnya, gimana cara ia mencoba menggambarkan ending tersebut ^._.^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp,. tanpa mengurangi sedikitpun kesempurnaan dari buku itu. Saya menilai begitu, bukan berarti lantas hal itu salah kan? Hanya tidak sesuai dengan prediksi dan juga selera saya saja :)

      Delete
  23. beliau sosok idola ane gan...... bangsa ini butuh lebih byk orang kayak beliau,.....


    Salam persahabatan selalu dr MENONE

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam persahabatan jugaa.. :)

      Saya belum tau banyak tentang sosok Dahlan Iskan. Tapi yang saya tau, banyak orang yang mengatakan bahwa beliau orang yang baik :)

      Delete
  24. "novel ini bukan merupakan genre favorit saya" , terus genre novel favoritnya yang seperti apa dong kak? hehe

    ReplyDelete
  25. Haiiiiiiiiiiiiii, Mbaaaaaa. .
    Saya belum pernah baca sepatu dahlan. :D
    Saya datang membawa PE-ER, jika tidak merepotkan, dikerjakan ya? :D

    http://idah-ceris.blogspot.com/2012/09/mengerjakan-peer-dapat-award.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sudah bacaaa.. Hihihi..

      WHoww,. dapat PR dan award. Okeoke, segera meluncurrr. Makasi yaaaaa :D

      Delete
  26. emang banyak sekali yang ngebahas buku ini, emang nggak salah deh... kisah hidup Pak Dahlan memang menarik

    ReplyDelete
  27. Wah, ini review-nya bagus banget. Jadi tambah penasaran dengan novel Sepatu Dahlan. :)

    Walaupun kayaknya juga bukan genre saya. Tapi, ah, kalau ada yang punya, boleh lah saya pinjam nanti :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasihhh..

      Hehe.. Saya juga sama nih, dipinjami. Kalo enggak, mungkin sampai sekarang pun belum baca. :D

      Delete
  28. terima kasih udah berbagi review ya :)

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D