21 September 2012

Menengok Keindahan Desa Senaru

Desa Senaru, merupakan desa terakhir sebelum masuk ke jalur pendakian dari dan menuju puncak Rinjani. Jalur pendakian menuju puncak Rinjani sebenarnya ada banyak, namun yang paling umum digunakan adalah jalur Sembalun-Senaru atau sebaliknya, Senaru-Sembalun. Berhubung kemarin rombongan kawan-kawan saya sudah naik melalui jalur Sembalun, maka mereka akan turun gunung melalui jalur Senaru. Kalau mereka membutuhkan waktu empat hingga lima hari dari Sembalun—Puncak Rinjani—Senaru, saya hanya butuh waktu tak lebih dari satu jam dari Sembalun—Lihat puncak Rinjani dari Jauh—Senaru. Hehehe… :">

Desa Senaru, jauh lebih ramai dari desa Sembalun Lawang. Disepanjang jalan raya di desa yang lebarnya kurang lebih hanya muat untuk satu mobil ukuran sedang ini, banyak terdapat penginapan, toko-toko, serta jasa porter dan travel (trekking). Selain itu, karena disini terdapat air terjun yang cukup bagus dan terkenal, makanya desa Senaru ini bisa lebih ramai dibandingkan desa Sembalun. Nah, yang membuat saya dan om Joe memutuskan untuk singgah di desa Senaru, tak lain dan tak bukan adalah air terjun ini.


Di Senaru, jika kawan-kawan mengunjungi desa ini (atau turun dari Rinjani), kita akan bisa menemukan tempat wisata ‘Air Terjun Sindang Gila’. Ya, saya sudah memastikan ke om Joe beberapa kali kalau namanya adalah ‘Sindang Gila’, bukan ‘Singang Gila’ Seperti yang ada di karcis yang saya beli di loket. Hargan masuknya? Cukup murah, hanya duabelasribu rupiah saja untuk dua orang. Tak perlu menunda terlalu lama, saatnya trekking. 
 :)

jalan paving :|
Jarak dari loket menuju ke Sindang Gila tidak terlalu jauh, hanya sekitar limabelas hingga duapuluh menit perjalanan. Jalannya pun sudah sangat bagus, yakni berupa undak-undakan tangga yang menurun. Hutan hijau disamping kanan-kiri jalur trekking tersebut semakin menambah hawa sejuk pagi itu. Sekalipun tampang saya dan Om Joe masih kucel karena belum mandi, kami cuek saja, tidak ada yang kenal ini. Padahal pagi itu boleh dibilang air terjun tersebut cukup ramai pengunjung, maklum, weekend. :D

Akhirnya suara gemuruh air sebagai pertanda adanya sungai dan air terjun tertangkap juga di ruang dengar saya. Dari jauh, saya bisa melihat air terjun dua susun yang cukup indah. Namun belum sampai di bawah, om Joe menawari saya untuk mengunjungi air terjun satunya. Ha? Satunya? Saya hanya memastikan pada awalnya. Tapi ternyata saya tidak salah dengar, kalau ternyata di kawasan itu ada dua buah air terjun, satu air terjun Sindang Gila yang sudak cukup terkenal, dan satu lagi adalah air terjun Tiu Kelep yang boleh dibilang masih minim pengunjung. Berhubung jalur dari loket menuju ke Sindang Gila sudah terlalu bagus dan seperti jalan-jalan biasa, maka saya memutuskan untuk mengunjungi air terjun Tiu Kelep. Tidak bisa saya pungkiri kalau saya sangat merindukan hijau, berjalan di jalan setapak ditengah hutan dengan pohon-pohon tinggi yang melindungi diri saya dari sengatan matahari, serta hawa sejuk yang tidak bisa saya dapatkan di sekitar Sindang Gila—karena terlalu banyak pengunjung pastinya. Yakk, akhirnya trekking pun dimulai (lagi).


Dari jalur utama, saya berbelok ke arah kanan (agak bingung menentukan arahnya, tapi menurut feeling saya, sepertinya itu mengarah ke selatan), dan mulai memasuki jalan setapak dan hutan lebat, sangat teduh dan sejuk pastinya. Sedikit-demi sedikit jalan agak menurun, hingga jalur yang saya lalui beriringan dengan aliran air sungai buatan—yang pastinya airnya sangat jernih. Tidak berselang lama, kami harus menaiki tangga yang cukup tinggi, dan jembatan yang aneh. Mengapa saya bilang aneh? Karena jembatan itu berlubang-lubang, bukan karena rusak melainkan karena memang sengaja dibuat seperti itu. Saya iseng menanyakan pada om Joe mengapa jembatannya dibuat sedemikian rupa, tapi om Joe pun tidak tau. Namun setelah dipikir-pikir, mungkin untuk menghindari penggunaan kendaraan bermotor (sepeda motor.red) makanya jembatan tersebut dibuat seperti itu. Tapi setelah itu, mikir lagi. Gak mungkin juga sepeda motor bisa lewat sana, kan tangganya lumayan tinggi…? Ahh, yasudahlah, lupakan tentang jembatan itu. Pastinya melaluinya sedikit membuat saya pusing. Karena lubang-lubangnya itu, otomatis saya harus lebih hati-hati dalam melangkah jika tak ingin terperosok, dan pastinya mengarahkan pandangan ke jembatan yang saya pijak, yang juga berarus deras. Bisa kawan-kawan bayangkan? Oke, kalau tidak bisa, mari lupakan (lagi) bagian ini.

jembatan berlubang-lubang
Awalnya tak berniat untuk berbasah-basah ria, karena waktu itu saya dan om Joe menggunakan sepatu trekking, bukan sandal gunung seperti biasanya. Tapi sayangnya, mau tidak mau kami harus menyeberang sungai karena memang jalurnya sudah seperti itu. Jadilah, copot sepatu, kemudian om Joe menyimpan sepatu kami di semak-semak, maksudnya supaya tidak ribet saat berjalan, dan dilanjutkan dengan nyeker!!!

Saya kira akan berada di aliran sungai terus menerus, ternyata saya salah. Kami saat itu hanya menyeberang sungai dua kali, setelah itu kembali melalui jalur setapak dengan batu-batuan kecil serta tanah basah. O’oww, terasanya seperti sedang di terapi kawan-kawan, karena itu pertama kalinya saya berada di alam bebas dan tidak mengenakan alas kaki. Biasanya, sekacau dan selicin apapun medannya, saya akan tetap mengenakan alas kaki. Namun karena saat itu kami tidak membawa alas kaki cadangan—dan bisa dipastikan kalau sepatu akan lama keringnya, maka nyeker sepertinya adalah keputusan yang paling bijak.


Setelah melalui perjalanan kurang lebih tigapuluh menit, akhirnya sampai juga kami di air terjun Tiu Kelep. Alhamdulillah… :)


Air terjun Tiu Kelep, sepertinya merupakan air terjun paling tinggi yang pernah saya lihat. Arusnya yang kencang, serta hempasan airnya yang menjangkau cukup jauh akhirnya berhasil memaksa saya untuk menyembunyikan si walky dan E63. Si G12pun tak berani saya dekatkan. Jangankan mereka, tubuh saya saja sudah basah kuyup, padahal saya masih cukup jauh dari air terjun tersebut. Gambar yang kami ambil hanya beberapa, dan selebihnya saya hanya berdiam diri, duduk diatas batu sambil menikmati hempasan air terjun yang mebuat kacamata saya berembun. Subhanallah… :)

air terjun Tiu Kelep
Dalam hati saya berdoa, suatu saat ingin mengunjungi air terjun ini lagi dengan persiapan yang lebih matang dan juga baju ganti!!! Karena jujur saya hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak mandi. Airnya sejuuukkkk dan dingiin. Sempat mencicipi beberapa teguk airnya, dan cukup memulihkan dahaga setelah berjalan cukup jauh. Ditambah lagi, saat itu belum ada pengunjung lain yang datang. Haihhh,. Berasa air terjun pribadi deh. Hehehe… :D

Setelah rasa lelah sirna, akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Selain karena harus secepatnya mencapai Mataram, saat itu sudah mulai banyak pengunjung, yang ternyata tidak hanya pengunjung dari negeri sendiri, melainkan juga ada beberapa yang merupakan turis asing. Sebagian besar dari mereka membawa tour guide, karena memang keberadaan air terjun Tiu Kelep ini agak tersembunyi, jika belum pernah kesana, sepertinya orang tidak akan tau mengenai keberadaan air terjun tersebut.

tetap saja ada sampah di bendungan yang kami lewati :(
Sempat mencoba mengambil beberapa gambar saat ngemper di tepi sungai, duduk diatas batu besar, sambil pakai sepatu lagi… :D



Begitu sampai di jalur utama, kami sempatkan sejenak untuk menengok air terjun Sindang Gila. Air terjun ini memiliki keunikan tersendiri juga, yakni air terjunnya terdiri dari dua susun, yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Namun karena di sekitar air terjun ini sudah ramai pengunjung dan penjual makanan-makanan, keasriannya jadi tidak terasa sama sekali. Disamping itu, dengar-dengar kata om Joe, air terjun Sindang Gila ini sudah tidak alami lagi. Batu-batu yang membentuk air terjun tersebut sudah melalui proses penataan sebelumnya, hingga menjadi air terjun seperti yang sekarang ini. Tapi terlepas dari itu, air terjun Sindang Gila juga cukup cantik. Ahh,. Apa sih yang tidak cantik di Indonesia ini…? Hihi… :D


air terjun Sindang Gila

air terjun Sindang Gila (bawah)
Saatnya kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke Mataram. Jalan plester berundak yang tadinya turun, sekarang harus kami daki, dan ternyata cukup melelahkan kawan. Namun untungnya jalurnya tak terlalu panjang, hingga sampailah kami di pelataran parkiran. Sebenarnya masih banyak keindahan di desa Senaru yang belum saya datangi. Tapi sepertinya situasi tidak mendukung, karena satu dan lain hal, saya dan om Joe harus kembali secepatnya ke Mataram. Yeah, Mataram, saya datang lagi… :D

Sempat melewati hutan lindung yang banyak monyet-ekor-panjang-nya. Namun entah kenapa sangat kesulitan untuk mendapatkan gambarnya dari dalam mobil. Ini yang terbaik, yang terbaik diantara yang tak baik.
monyet ekor panjang :D
Well,.. Sampai jumpa Tiu Kelep, Sindang Gila, Taman Nasional Gunung Rinjani, Senaru, Sembalun,.. Semoga bisa menyapa kalian lagi dilain kesempatan. Menyapa dari dekat, sangat dekat, bahkan mungkin terlalu dekat. InsyaAllah… :)

66 comments:

  1. Sembalun—Lihat puncak Rinjani dari Jauh—Senaru mu bikin ngakak Wkwkwk
    Kamu selalu sukses bikin envy dg petualanganmu itu

    anw, Nice pict mae ^^b

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jlebbb... Hahahha..

      Makasiii,. Ayooo kesini. Biar bisa lihat langsung keindahan Nusa Tenggara :D

      Delete
  2. Replies
    1. Kalo menurut saya siii gak serem sama sekaliiiii :D

      Delete
  3. yaaaa tentang suasana Rinjani lagi :(

    Sindang Gila? kalau gak salah tempat ini yang jadi shooting video klip Indah Dewi Pertiwi ya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Vidoe klip?? Hwaduh,. gak ngerti saya Uncle,.. jarang nonton inpotaintment :D

      Delete
  4. wow .. foto fotomu selalu bikin mupeng Mae :)
    air terjunnya itu wuii ... jadi pengen langsung berdiri di bawahnya, dingin ngak ya ?

    tapi pemandangan di bawah air terjun hampir sama dgn di kampungku sana, banyak penjualnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dingiin mbak,. tapi enak bangettt. Hehehe...
      Pengen nyeburr sebenernya, cuma sayang ga bawa baju ganti :|

      Delete
  5. lokasi syuting air terjun pengantin yah :kidding:

    ngiri lihat Rie jalan2 ke tempat eksotik melulu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. :o Air terjun pengantin??? Pasti film horor :(
      Ayoo main kesiniiii :D

      Delete
  6. ternyata ngga2 semua daerah sana identik dengan kekeringan ya Mbak, soale belum pernah ke sana. Wah air jernihnya, seburan air terjunnya sungguh membuat saya piiinngggiinn mandi dan berendam berlama-lama di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lohh lohh.. yang bilang daerah sini kekeringan siapa pak Ies??
      Justru air disini berlimpah, karena keberadaan dua gunung api yang sedang aktif, Rinjani di Lombok, dan Tambora di Sumbawa. Air bawah tanahnya banyaaaaaaakkkk :)

      Delete
  7. Aih aih aih.. Sekali lagi, postingan ini bikin saya mupeng :p~
    Saya pikir, jembatan yg dibuat berlubang itu untuk jaga-jaga biar luapan arus air dibawahnya ketika besar dan membludak tidak menghancurkan pondasi jembatannya. Karena dibuat berongga maka arus air yg membludak dpt dg mudah keluar. Ah bener ga ya? (so' tau) hahaha..
    Air terjun Tiu Kelepnya indaaaaaah, cantik-cantik-cantiiiik. Jadi kangen maen-maen ke air terjun lagi kayak dulu awal kuliah, huhuhuhu.. Menurut saya bagian yang paling juara dari petualangan kayak gini a/ setelah jalan beberapa kilometer di antara hutan terus ketemu air terjun :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo... Teori tentang jembatan itu masuk akal mbak Irma. Mantabb.. :-bd

      Hihi,. betul bangeeett. Setelah tersiksa karena jalan di hutan gak pake alas kaki, trus begitu berhasil ngelihat air terjun tuh rasanya whaowwww bangetttt :D

      Delete
  8. Indonesia benar-benar memiliki keindahan yang tidak ternilai. Kapan yah aku juga bisa berkelana dan menikmati negeri tercinta?

    Itu gambar monyet rupanya, tadi kirain tikus loh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segera,. secepatnya. Mari di jadwalkan ;)
      Tikus??? Jauh bangettt. Hehehe

      Delete
  9. itu ngambil gambar aliran airnya jadi seolah lebih cepet gitu gmn ya..?!!?
    sayang ya.. sampahnya.. :( padahal udah keren banget daerahnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu shutter speed di kameranya di buat slow, jadi gerakan airnya terlihat lebih halus dan cepat dan derass :)

      Iyaa,. miris lhat sampahnya :(

      Delete
  10. setelah pindah kerja.. jarang banget jalan-jalan dan nggk pernah megang digital :3
    catatan perjalanan hanya di rekam oleh si kaleng :3
    haduuh~ ngilerr deh jadinya ahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pukpuk si kaleng, pasti dia harus bekerja ekstra keras belakangan ini... Sabar ya leng.. :D

      Delete
    2. ini mksdnya ke kaleng atau ke arii yaa ~,~

      Delete
    3. Si kaleng dooonk... Kan dia harus menggantikan tugasnya si digital. Jadi pasti capek gituuu :))

      Delete
    4. weeeeew ! nggk gitu juga sih :|

      Delete
    5. Hahaha.... *pukpuk si adek :D

      Delete
  11. wah sejuk banget pastinya :)
    kalau saya pengen naik rinjani :')
    salam kenal mbak :)

    ReplyDelete
  12. tuh kan, tuh kan >,<

    walau gak muncak, kamu tetap bisa menikmati perjalanan mae. kayaknya om Joe emang temen jalan yang asyik ya *salamku buat beliau ;)

    oneday, i'll be there. huahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salamnya sudah disampaikan. Jawabnya: Salam balik, waalaikumsalam :)

      Ditungguuuuuu... :D

      Delete
  13. wah? keren banget yaa kerjaanmu maee... jalan-jalan terus.. bikin ngiri.. :D
    btw, itu air terjunnya, keadaannya, mirip sama air terjun yg ada di subang loh... :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeeehhh... Ini bukan kerjaann... I-)
      Hoia??? Hmmm,. Sepertinya memang air terjun itu banyak miripnya. Tapi baru mirip kan? Bukan sama persis kan? :D

      Delete
  14. air terjunnya,keren bgtzz mae...sayang modelnya,....#eeh??

    sprtinya,sampah mnjdi kendala disbgian bsar objek wisata..jdi mrusak gtu..kpn2 ajakin ksana,ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Modelnya lebih keren yaaaaaaaa..?? :))
      InsyaAllah. Yang penting Yura nyampek di NTB dulu yaaaa :D

      Delete
  15. masih ada aja orang yang doyan nyampah ya :( Padahal tempatnya bagus banget dan mestinya ikut menjaga keasriannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp.. Masalah kesadaran, masalah kebiasaan, masalah 'tradisi'... :(

      Delete
  16. asik banget jadi pengen kesana non !!!!

    ReplyDelete
  17. mau dong mbak mae ajakin ke bawah air terjun itu biar plong :D

    ReplyDelete
  18. keren petualanganx. salam sama om joe :D

    ReplyDelete
  19. klo bw anak2 harus hati2 juga ya lwt jembatan yg berlubang2 itu.. takut ke jeblos..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mbak. Amannya di gendong aja :D

      Delete
  20. wow...so excotic...
    nusa tenggara memang surga lain Indonesia, kemarin sy smpat ke gili mbak, smoga next bs ke rinjani...

    what a beautiful..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak cuma Nusa Tenggara menurutku, karena Indonesia ini surganya dunia :)

      Delete
  21. Replies
    1. Masih doonk,. kan emang kerja disinii...

      Delete
  22. Keren-keren fotonya qaqaaaa.... :D
    apalagi yg di batu-batuan itu,, Shutter speed nya WOW banget ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciee cieee.. yang lagi sukak sama slow shutter speed... :p

      Delete
  23. Wahh, Rinjani memang indah, semoga kapan kapan saya memiliki kesempatan untuk kesana berlibur bersama keluarga ataupun kawan

    salam kenal untuk mbak Mae ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin...
      Salam kenal jugaaaa.. mas Boll :D

      Delete
  24. wahh....jadi kangen lombok T_T
    sy ke sindang gila (kami org sasak biasa nyebut 'sendang gile') terakhir waktu masih kecil banget, pengen ke sana lagi huhu anyway walaupun sy org lombok sy belum pernah ke air terjun tiu kelep >.<
    selamat bersenang2 di lombok kak, di sana banyak banget tempat wisata khususnya wisata bahari hehe #promosi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehhe.. Berarti harus ke Lombok lagi nih.
      Iyaaaa... sudah beberapa kali kesana tapi belum abis-abis juga tempat wisata yang bisa dikunjungi. Hehehe.. :D

      Delete
  25. Wow indahnya.
    Yang paling menakjubkan, itu tangganya unik banget berada diatas parit. Tahun kapan ya itu di bangunnnya.

    Oh ya kak, blog kamu bisa diakses lewat ini juga lho.
    http://aarmaee.blogspot.mx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak tauu,. pastinya sepertinya udah lama banget yaa. Hehe.

      Iya, memang bisa, tapi akan langsung ke direct ke blog ini, ke alamat yang sudah dot com :)

      Delete
  26. cantiiiiiiiikkk....

    Air terjunnya apalagi!
    waaah jadi pengen main ke situu (u,u)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiiihhh.. *eh,. bukan saya ya?? :))

      Delete
  27. Sepertinya paling asik air terjun Tiu Kelep. Air terjunnya tinggi banget. Mengingatkanku beberapa tahun yang lalu saat masih SMU, suka banget berpetualang bersama teman-teman pramuka.

    Merindukan kembali saat-saat berada di alam bebas. Bermain dengan gemercik air terjun dan merasai dinginnya. Hemm kapan yah bisa begitu lagi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan kapan mas Fin, pasti bisa. Kalo si adek sudah agak gede dan sudah bisa diajak main airrr... Hehehehe :D

      Delete
  28. Mbak, ajarin moto biar airnya bisa gitu dong...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak susah kok Una,. tinggal setting pake slow speed,. shutter speednya di buat lambat, bukaannya di buat kecil aja, ISOnya juga minim. Kurang lebih begitu siihh.. :)

      Delete
  29. Replies
    1. Terimakasih juga sudah berkunjung :)

      Delete
  30. serem jembatan bolong2nya kalo lewatnya malem2 bisa kecmplung. :P

    ReplyDelete
  31. Waaa, jadi pengin ke Air Terjun....
    Susah payah perjalanan dibayar dengan keindahan air terjun, tapi jadi males baliknya lagi, capek :D

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D