17 September 2012

Menyapa Puncak Rinjani

24 Agustus 2012,

Pesawat yang saya tumpangi mendarat juga dengan mulus di Bandar Udara Internasional Lombok. Jadwal masuk kerja masih tiga hari lagi (27 Agustus 2012), namun saya sudah meninggalkan rumah pada jumat pagi itu—bukan tanpa alasan pastinya. Begitu keluar dari bandara, sempat agak bingung juga mengingat tak ada kabar berita dari yang akan menjemput saya. Namun pada akhirnya kabar tersebut tidak saya perlukan lagi, karena sesosok laki-laki yang sudah dua minggu tidak saya jumpai muncul dihadapan saya. Om Joe. Yeah, lumayan kangen juga sama tuh orang. Hehe… Sempat ngemper sebentar di bandara, kami akhirnya memacu motor ke sekretariat Grahapala Rinjani, Universitas Mataram (UNRAM).
tradisi bagibung, makan bareng-bareng :D
Satu rombongan terdiri dari kakak dan adik saya, beserta dua orang temannya dari MAPALA UNISKA Banjarmasin sudah sampai di Mataram sejak hari sebelumnya, sedang satu rombongan lagi, dari Jakarta, sedang dalam perjalanan. Sempat ber-bagibung ria di siang itu, di sekretarian MAPALA FKIP UNRAM, akhirnya semua rombongan berkumpul di sekretarian Grahapala Rinjani. Total tiga mobil, empat belas orang, belasan carrier, sudah siap untuk diberangkatkan. Sekitar ba’da ashar, iring-iringan mobil tersebut berangkat.

Tujuannya? Sembalun Lawang, pos pemberangkatan menuju puncak gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Rinjani. :D

miniatur Tanam Nasional Gunung Rinjani

Ternyata perjalanannya tidak sesingkat yang saya kira. Dari Mataram, kami mengarahkan mobil ke timur, menuju kabupaten Lombok Barat, lalu berlanjut ke Lombok Tengah, kemudian masuk ke kabupaten Lombok Timur. Setelah itu, mobil mulai mengarah ke utara dan keluar dari jalan raya lintas propinsi. Jalan mulai berliku, naik-turun, rumah-rumah mulai renggang, sesekali kami melewati hutan hijau yang sangat asri, saya memutuskan untuk membuka jendela mobil lebar-lebar. Udara makin sejuk di menjelang maghrib yang cukup lengang itu.

Malam pun tiba. Suara adzan mulai terdengar di surau-surau kecil yang kami lewati. Di ketinggian sekian ratus (atau mungkin ribu) meter diatas permukaan laut itu, saya melihat bapak-bapak berjalan kaki dari dan menuju surau. Mereka mengenakan sarung dibagian bawah, namun untuk pakaian, saya hampir tidak menemukan seorangpun yang mengenakan pakaian takwa. Semua mengenakan jaket, dan memang suhu di luar sudah cukup dingin.

kebakaran di bukit

Pusuk Sembalun, suatu daerah di tepian lembah yang biasanya dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat, juga menjadi tempat peristirahatan kami malam itu. Disana terdapat dua buah berugaq (bahasa sasak, artinya sama dengan salaja), selain juga pemandangan malam TNGR yang cukup mempesona. Dari sana pula terlihat bukit yang mengalami kebakaran, entah terbakar sendiri karena cuaca yang cukup panas di siang hari, atau karena ulah tangan-tangan manusia. Miris.

Tak lebih dari dua puluh menit, mobil yang mengantarkan saya beserta rombongan sampai juga di Sembalun Lawang, pos perijinan sekaligus pemberangkatan menuju Puncak Rinjani. Dalam pekatnya malam, samar puncak Rinjani terlihat, dibantu oleh temaram cahaya bulan. Subhanallah…



Kembali koordinasi dilakukan, karena rencananya rombongan akan menyewa porter, dan masalah porter ini ternyata tidak sesederhana yang saya kira. Daftar belanja pun dibuat, dan nantinya para porter itu yang akan berbelanja. Oia, sedikit informasi saja, satu porter biasanya menangani dua hingga tiga orang pendaki. Mereka akan bertugas membawa logistik, memasak, menyiapkan tenda, mencari air, juga membawa barang-barang lain yang sekiranya perlu dibantu untuk dibawa, dengan catatan beban yang mereka bawa tidak lebih dari dua puluh kilogram. Tarif? Oke, saya informasikan saja, standarnya 125ribu rupiah/porter/hari. Harga pendaki domestik ya, kalau untuk pendaki asing akan lebih mahal, namun saya kurang tau berapa pastinya.

Sudah jam sembilan malam dan udara semakin dingin. Jaket-jaket tebal mulai dikeluarkan, namun kami berenam tidak lantas tidur melainkan hunting warung makan terdekat. Akhirnya ketemu juga, dengan menu nasi campur yang cukup enak menurut saya. Slamat makan :)

Begitu selesai, kami langsung menuju ke pos perijinan TNGR, dan menginap disana. Makin malam makin dingin saja. Sempat bersentuhan dengan air saat wudhu, dan dinginnya sungguh luar biasa. Lebih dingin daripada air dari lemari es, namun tidak sampai membeku. Untunglah.

Matraspun digelar. Satu kesalahan kecil yang cukup fatal saya lakukan adalah saya tidak mempersiapkan diri sama sekali untuk cuaca yang dingin ini. Kaos kaki yang saya pakai juga hanya kaos kaki biasa, jaket yang saya kenakan juga jaket main, bukan jaket gunung yang biasanya bisa menahan angin dan dingin. Untungnya si kakak bersedia berbagi sleeping bag ke saya. Namun bukan sleeping bag yang diisi orang dua seperti ceritanya Yura, melainkan sleeping bag tersebut dilebarkan, dan kami jadikan selimut. Cukup melindungi, namun tidak cukup hangat. Semalaman saya tidak bisa tidur karena dingin. Seluruh persendian rasanya sangat kaku. Akhirnya saya bongkar daypack saya, lalu saya masukkan kaki saya kedalamnya. Yeah, ini biasanya juga dilakukan oleh teman-teman jika kedinginan. Cukup membantu.

25 Agustus 2012,


 

Pagi pun tiba, setelah subuh di surau terdekat, rombongan mulai bersiap. Tak hanya rombongan kami, karena pada hari itu banyak juga pendaki-pendaki lain dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk juga dari luar. Packing telah dilakukan, begitu juga dengan perijinan, kami pun menuju ke rumah porter yang sudah kami datangi malam sebelumnya. Rombongan lain yang menginap disana ternyata sudah siap untuk berangkat. Akhirnya semua rombongan di angkut dengan mobil untuk menuju pos pemberangkatan yang jaraknya sekitar dua ratus meter.

Puncak Rinjani kembali menyapa pagi itu, dengan begitu gagahnya. Saatnya melepas kepergian kakak, adik, serta kawan-kawan saya. Selamat jalan, semoga bisa sampai di puncak Rinjani dengan selamat, serta kembali ke rumah dengan selamat pula. Saya tunggu ceritanya ya, kawan…  



Sesaat setelah melepas kepergian mereka,
“Om,... Kita kapan…?”,
kataku, sambil memasang wajah paling melas,
dan om Joe hanya menjawabnya dengan senyum serta mengusap kepala saya.
“Yok balik ke Mataram, kalau mereka naik ke puncak Rinjani, kita mengelilinginya saja untuk kali ini…”


…dan perjalanan kembali di mulai. Kali ini hanya tersisa saya dan om Joe. Kami berdua melalui sebelah utara gunung Rinjani. Menyapa kabupaten Lombok Utara, serta sesekali lautan biru sebelah utara pulau Lombok. Hingga kami tiba di desa Senaru, pos terakhir turunnya para pendaki dari puncak Rinjani, kami istirahat sejenak. Ada apa di sana? Hmmmm,. Tunggu postingan selanjutnya saja. Pastinya perjalanan kembali ke Mataram masih panjang, kawan… ;)

 ***

Mungkin memang belum saatnya, saya menyapa dewi Anjani dari dekat kala itu
Beberapa bulan yang lalu, ia menyapa saya dari ketinggian sekian ribu meter,
Lewat perjalanan Denpasar-Dompu yang begitu luar biasa
Beberapa saat yang lalu juga, ia kembali menyapa saya, di tengah ramai kota Mataram
Saat berkesempatan menghabiskan beberapa malam di Lombok Garden Hotel
Kali ini, saya diberi kesempatan untuk menikmatinya dari dekat, sangat dekat
Memandanginya, dari sisi selatan, timur, utara, hingga barat
Adakah yang patut untuk tidak saya syukuri?

Sedang tanggal dua puluh tujuh agustus, event besar menanti di kantor
Itulah mengapa saya dan om Joe tak ikut rombongan kali ini

Saya jadi ingat, sekitar satu bulan sebelumnya
Saat akhirnya dengan berat hati saya putuskan untuk tidak mengikuti pendakian ke Rinjani
Berkali-kali saya memastikan ke om Joe tentang keputusan yang diambil
Dan ternyata memang itulah akhirnya
Sempat ada rasa, apa ya? Saya sedikit kesulitan untuk mendeskripsikannya
Tapi pastinya ada sedikit ketidak percayaan pada diri sendiri
Bahwa saya telah melepas begitu saja kesempatan untuk mewujudkan salah satu mimpi saya selama ini

Ditengah perjalanan menuju ke Senaru, sambil sesekali mengambil gambar puncak Rinjani yang begitu megah,
Pada akhirnya saya menyadari bahwa,
Saat itu, memang bukan saat yang terbaik untuk saya menyapa langsung dewi Anjani
Saya tidak tau kapan, tapi yang pasti, bukan saat itu
Itu saja

Atau,
Mungkin, memang saya harus menunggu kehadiran Sam dan Yuni,
Untuk bersama-sama menggapai puncak impian kami, Rinjani…
Who knows…?

;)

57 comments:

  1. Wuihh udah keliling tapi belum bercumbu sama rinjani yaa mbak mae, gag aph besok ke rinjani sama yang di bali yee :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jyahaha.. kalo nunggu yang di Bali mah lamaaa... :p

      Delete
  2. -___- ini keren banget... tapi karena kerjaan yang numpuk jadi ribet sendiri .. T_T

    ReplyDelete
  3. Semoga monyet-monyet gak ada yang jadi korban kebakaran itu, Aamiin... #PrayForMonyet, :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebakaranya gede juga ya, apa ulah manusia kah...

      Delete
    2. Gandi: Aaaamiiiin... :)

      Gusti ajo Ramli: Entah. Tapi kalaupun bukan karena manusia, biasanya manusia juga ikut terlibat, sekalipun tidak secara langsung. Contohnya, buang puntung rokok sembarangan, tanpa mematikan terlebih dahulu. Ini biasanya yang paling sering jadi penyebab kebakaran di hutan.

      Delete
  4. mudah2an lain kali bisa lebih dekat lagi ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa memijakkan kaki di tanah tertingginya, aamiin :)

      Delete
  5. coba deh gabung komunitas myqpala, mereka sering mengadakan acara naik gunung

    anggotanya banyak yg mimpi ke rinjani, soalnya bosan naik gunung di jawa terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah tidak tertarik untuk bergabung dengan komunitas manapun mas. Komunitas yang dulu aja sekarang agak sulit mau aktif disana. :)

      Karakteristik gunung di Jawa dengan di Luar jawa memang beda..

      Delete
  6. Perjalanan yang mantap.
    Saya sendiri asli lombok, tepatnya Lombok Timur Kecamatan Terara.
    Sayangnya saya juga belum sempat sampai puncak T_T



    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sekarang domisili di Dompu, tapi belum kesana juga. Hehe.. *tosss

      Delete
  7. tidak memuncaki, tapi mengitari.... Whaow!!!

    ReplyDelete
  8. aaaa.. saya pikir mbak arie ikut naik juga...
    sangat si sayangkan ya.. :)
    sayapun punya mimpi yang sama, semoga bisa terealisasikan. aamiin~

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak sayang, karena tanggungjawab menanti di kantor :D

      aaamiiin,.. siapa tau kita bisa bareng ;)

      Delete
  9. kamuh, sellu sukses dah bikin ngiri.

    #sambil mikir, ane terakhir nae gunung dari taon kapan yah? ckckkck

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah kan, saya juga jadi mikir nih, terakhir naik gunung kapan yaa...??? :-/

      Delete
  10. Ok, cerita-cerita tentang gunung selalu membuat saya kagum dan sekaligus iri. Kapan bisa muncak? Kapan bisa liat negeri di atas awan? Kapaaaaaaaaaan?
    Ajak-ajak dong kalo muncak *ngenes* hehehe..
    Suatu saat pasti akan ada waktu dimana Mbak Rie dapat menginjakkan kaki di pelataran demi Anjani ;)
    (Sumpah ini masih iri plus-plus, kapan bisa ke Indonesia Bagian Timur) Hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suatu saat mbak, insyaAllah. Saya tunggu di Nusa Tenggara yaaa :D
      Aamiinn... :)

      Delete
  11. membayangkan berada di sana dgn suamiku ditemani cahaya bintang dan rembulan :)

    foto fotonya keren !

    ReplyDelete
  12. Saya tetap dan lebih fokus di foto-foto nya . xixii
    apalagi ada foto yang pake tekhnik light painting photograph ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang warna merah itu kah??? Bener bener gak sengajaaa :D

      Delete
  13. ya ampun, berasa ikut kedinginan baca postingannya... Untuk lumayan bisa menghangatkan pas pake backpack ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah,. Backpack semacam dewa penolong. Hihihi

      Delete
  14. Postinganmu bikin galau beneran mae..
    padahal udah deket banget yaaa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anggap ini one step closer,.
      Dengan begitu nanti kalau sudah waktunya, bakal lebih berasa 'wah'nya. Kayak cerita Arjuno dulu, setelah planning tiga tahun baru bisa terlaksana :D

      Delete
  15. waw ada kebakaran. apa dibawah sana ada yang mencoba untuk memadamkannya dhek? hmm. eh tapi pas sampean foto dengan background kebakaran itu mau bikin kayak lighting slow motion? *apasih*. pokokya bikin bentuk dari cahaya. apa sih tu namanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya gak ada mas. dan kebakaran macam itu sudah sering terjadi, hampir di setiap musim kemarau.

      Itu namanya long exposure, atau 'slow shutter speed'... ehh,. gak tau ya bener ato gak. Hahaha

      Delete
  16. yaaa mimpi apa saya kesini pas bahas Rinjani? Gunung ini nih sebenarnya dah masuk schedule pendakian saya mbak, cuma sekarang kayaknya gak bisa lagi gara-gara waktu yang gak ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... Selamat nyasarrr kesinii dan menikmati pemandangan Rinjani dari jauhhh :D

      Delete
  17. bused foto kebakarannya menyeramkan sekali yah apalagi kayak begituan apakah nggak takut dengan yang begituan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya yang terbakar agak jauh dari jalur pendakian :)

      Delete
  18. ngeri juga liat foto kbkarannya y Mae...ckckck

    ReplyDelete
  19. hueee mendaki gunung yaa :o ? ke-ke-keren loh!

    ReplyDelete
  20. sy liat foto yg kebakaran di bukit kok kayaknya rada ngeri ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena belum pernah lihat sebelumya mbak :)

      Delete
  21. Wow sudah sedekat itu tapi belum bisa mendaki, semoga besok2 bisa terlaksana ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi saya cukup menikmati perjalanannya :)

      Delete
  22. Assalamualikum.
    salam kenal..

    Permisi menyimak blognya Mbak,menarik dan bermanfaat.
    secara saya jadi mau juga tuh ke Rinjani--kapan ya..?

    wsslm-
    Teman di Riyadh-KSA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam.
      Salam kenal juga yaaa...

      Mari dijadwalkan kalau memang ingin :)

      Delete
  23. speechless mae..

    sepertinya kita memang belum berjodoh dengannya tahun ini T^T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lohhh lohh.. Yuni juga gak jadi pergi??? :-o
      *Pukpukpuk... Nah kan, mungkin memang kita harus berangkat bersama nihhh ;)

      Delete
  24. Mungkin kesempatan berikutnya bisa kepuncak lagi ^._.^
    Ternyata ramai juga yah mereka yang ingin mencapai puncaknya... Jadi teringat tentang kisah perjalanan ke Mahameru di Novel 5CM :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      Iya, ramai. Pas ada event-nya consina juga soalnya. Entah berapa ratus atau ribu yang naik hari itu :)

      Delete
  25. hahahahahaha...kirain ikut, ternyata cuma nganter. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Fadhli puas banget ketawanyaaa :|

      Delete
  26. cantiknyaaaaa...

    belom pernah ke rinjani.
    abisnya jauuuuh banget dari Sumbar.
    xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. :o Siapa yang cantik?? Saya?? *plakkk

      Jauh dekat bukan masalah, buktinya saya yang sekarang sudah sangat dekat juga belum bisa :|

      Delete
  27. cuma 1 kata yg ingin kuucpkn, kereeennnn.. kapan yah bisa keliling2 juga? :)..

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D