04 September 2012

Untuk Bangunan yang Saya Sebut 'Rumah'

Saya tak yakin boleh menyebutnya sebagai ‘rumah saya’, karena pada kenyataannya tak pernah saya habiskan waktu terlalu lama berada disana. Hanya di beberapa akhir pekan saya beberapa tahun silam, hanya sebagian kecil dari waktu libur saya, saya menjadi bagian darinya. Mungkin jauh lebih tepat jika saya menyebutnya sebagai ‘Rumah Papa’. Ya, rumah Papa, karena saya ingat betul bagaimana perjuangan Papa dalam mendirikan rumah tersebut—didampingi oleh seluruh anggota keluarga lainnya pastinya.

Disalah satu sudut kota Gresik yang masih amat jarang penduduknya, disitulah bangunan tersebut berada. Kala itu saya masih berseragam putih-merah. Disana belum ada bangunan sama sekali, bahkan belum ada satu buah bata pun yang tersusun, hanya pondasi dari batu putih besar yang menjadi alasnya, sedang tanah-tanah liat masih menggunung, masih belum jelas bagaimana nasibnya. Saya dapat melihat langsung bagaimana waterpass bekerja, yang ternyata begitu sesederhana penggunaannya. Saya juga masih ingat saat saya menemani Papa yang mulai menyusun satu persatu batu bata merah yang ada, saya terkadang pergi menjauh dan masuk ke semak-semak atau padang ilalang yang ada di sekitar. Sering sekali Papa marah saat saya berbuat seperti itu. Beliau khawatir kalau saya atau adik saya terkena ular, atau binatang-binatang berbahaya lainnya. Maklum, pada saat itu, disekitar rumah yang sedang dibangun oleh Papa, merupakan tanah kosong yang penduduknya masih jarang. Sangat jarang. Cuma ada beberapa rumah disana, itupun jaraknya saling berjauhan.

Jauh sebelum itu, saat masih belum ada rumah itu, saat Papa sekeluarga masih tinggal di rumah nenek, saya ingat sekali bagaimana perdebatan mengenai denah rumah itu menjadi bagian dari agenda kami hampir setiap malam—tentunya saya hanya bisa menghadirinya saat weekend. Bagaimana ruangan yang satu diatur bersebelahan dengan yang lain, lalu digeser, posisi pintunya dirubah, dipindah lagi, diputar lagi menghadap kesana kemudian kemari. Begitu juga saat saya, kakak, serta adik saya berebut ingin dibuatkan kamar satu persatu, juga desain plafon yang berbeda (mohon dikoreksi jika tulisan saya salah). Ahh, manis sekali saat-saat itu. Hingga akhirnya desain itu jadi juga. Rumah dengan empat kamar, dua kamar berukuran sedang untuk saya dan kakak, satu kamar berukuran agak kecil untuk adik, satu kamar berukuran besar untuk Mama dan Papa serta adik saya yang paling kecil (pada saat itu adik saya yang paling kecil masih bayi) lengkap dengan kamar mandi dalam. Sebuah kamar mandi di luar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur beserta ruang makannya, garasi (yang pada saat itu masih belum yakin akan terisi oleh apa), serta teras samping yang rencananya akan dibuat rumah panggung. Ya, Papa tak ingin menghilangkan nuansa ‘rumah bugis’ disana. Untuk itulah disisakan sebagian kecil bagian dari rumah itu menjadi rumah panggung, lengkap dengan kolam ikan yang ada dibawahnya. Manis sekali kan…?

...hingga akhirnya rumah itu tegak berdiri, dengan tembok bercat putih bersih, pagar besi berwarna hijau, serta kusen dan pintu berwarna coklat khas kayu Ulin...

Di suatu pagi menjelang siang yang cerah, saat saya sedang bersekolah, Papa datang ke sekolah saya dan meminta ijin pada Kepala Sekolah untuk membawa saya pulang lebih cepat. Ya, saat itu adalah hari peresmian Papa sekeluarga pindah ke rumah baru. Rumah impian, kalau boleh dibilang. Karena sejak menikah dengan Mama, Papa baru bisa memiliki rumah sendiri saat itu, setelah sekian tahun pernikahan mereka. Bayangkan bagaimana bahagianya, akhirnya punya rumah sendiri yang dibangun dari nol, bahkan desainnya pun kami semua yang merancang. Bisa kalian bayangkan? Bahkan saat inipun saya tak bisa melukiskan kebahagiaan itu. Kebahagiaan Papa, Mama, Kakak, serta Adik-adik saya, juga saya pastinya.

Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk pembangunan suatu rumah. Namun begitulah Papa, dengan segala ke-perfeksionis-annya. Beliau lebih suka mengandalkan dirinya sendiri dan Om (adik Papa) untuk proses finishing rumah tersebut. Para tukang hanya membantu saat mendirikan tembok serta pemasangan atap rumah (kalau tidak salah ingat). Hingga hal itu berakibat pada penyelesaian rumah itu yang memakan waktu cukup lama. Namun semua itu jadi tak masalah, saat akhirnya kami semua bisa menikmati hasilnya. Rumah yang kokoh, sempurna di setiap detailnya, serta hidup. Hidup dalam arti yang sebenarnya. Karena rumah itu sudah ada didalam benak kami, masing-masing para penghuninya, bahkan jauh sebelum peletakan batu pertama. Alhamdulillah…

Namun ternyata rumah itu tak berumur lama ditinggali Papa sekeluarga, karena menginjak tahun kelima tinggal disana, Papa memutuskan untuk pindah ke Kalimantan. “Doing something crazy, something different”, kalau rumusnya Om Edy Mulyono, salah satu penulis favorit saya. Meninggalkan segala kenyamanan yang ada di Gresik, meninggalkan rumah impian yang sudah dibangun dengan susah payah, untuk memulai kehidupan yang baru di Kalimantan, di tanah kelahiran beliau, tepat saat saya masuk ke dunia putih abu-abu. Hingga akhirnya, bangunan yang saya sebut ‘Rumah’ itu berubah label, menjadi ‘rumah kontrakan’.

…dan delapan tahun itu berlalu. Hingga beberapa hari yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki disana. Dengan labelnya yang kembali seperti semula, ‘Rumah’…

Ada kesan asing saat menginjakkan kaki kembali disana. Tapi sungguh, tak bisa saya pungkiri bahwa masing-masing sudutnya menyimpan kenangan-kenangan masa kecil yang entah masih bisa saya jabarkan satu persatu atau tidak saat ini. Pastinya, ada rindu yang mendalam yang ingin segera tercurahkan saat itu juga, malam itu juga, ditengah wajah-wajah yang sudah sangat saya kenali, namun lama tak saya jumpai.

Ada seraut kebahagiaan terpendam saat melihat wajah Papa, kala beliau duduk di teras rumah itu, malam itu. Entah apakah Papa juga bisa melihatnya di wajah saya. Mungkin iya, karena Papa merupakan salah satu diantara sedikit manusia yang saya tak bisa menutupi suatu halpun didepannya. Sudah banyak sekali yang berubah jika dibandingkan delapan tahun silam, tapi nyawa dari rumah itu masih belum mati. Nyawa sebagai ‘Rumah Impian’ itu masih terasa, hingga malam itu saat saya berada disana.

22 Agustus 2012, 19.30pm
Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, tetaplah berdiri kokoh disana. Sekalipun di beberapa sudutmu telah mengalami pembaharuan, tapi saya berharap nyawamu tak akan mati. Hingga kelak generasi-generasi penerus Papa juga bisa menyaksikanmu, menikmati keteduhanmu, merasakan kehangatanmu, menghidupkan semangatmu, juga menjadikan kau sebagai saksi keberhasilan anak cucu Papa kelak.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, terimakasih telah menjadi ruang yang nyata bagi mimpi-mimpi kami, terutama menjadi salah satu mimpi terbesar Papa yang akhirnya menjadi kenyataan. Tetaplah menjadi ruang bagi kami, tempat bagi kami untuk ‘pulang’, karena tak ada satupun tempat yang layak bagi kami untuk pulang selain ‘rumah’ itu sendiri. Terimakasih pula telah menjadi ruang bagi kami semua untuk berkumpul, satu keluarga besar, keluarga dari Mama, tahun ini, Idul Fitri 1433 Hijriyah. Terimakasih banyak.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, mengutip salah satu quote di 5 cm-nya Donny Dhirgantoro,  
“Salah satu keindahan di dunia yang akan selalu dikenang adalah ketika kita bisa melihat atau merasakan sebuah impian menjadi kenyataan”,
dan melihatmu, menurut saya adalah salah satu dari keindahan itu.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, ahh, saya tak tau harus menuliskan apa lagi…

48 comments:

  1. kunjungan perdana...
    saya menyebutnya "Pondok MErtua Indah".. di Mojokerto ada rumah peninggalan alm.emak dan alm. bapak untuk saya.. tapi apa boleh buat, aktivitas yang menuntut saya terus di sidoarjo terpaksa mengosongkan rumah. hanya sesekali ketika pulang seminggu bahkan sebulan sekali :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat datang di popcorn :D

      Hooo.. Jadi dibuat tempat liburan saja yaa.? Asik juga kalau begitu :)

      Delete
  2. ah.. arif bisa merasakan 'nyawa' tulisanmu...
    penggambaran rumah yang bikin siapa aja bisa ngebayanginnya... :)
    btw, mbak maee kalo lagi SD jg nakal ya? :D
    oh iya, arif kagum sama papahnya maee.. titip salam buat beliau yaa.. :D

    kalau boleh cerita... dulu.. pas waktu arif masih SD. rumah kita sekeluarga masih numpang di sebuah SD. bapak arif seorang penjaga sekolah. selama itu, bapaknya bapak arif (kakek arif) sering banget berkunjung ke rumah butut itu. numpang tidur siang di sofa butut.. tapi kakek arif tetep seneng..

    sampe akhirnya, bapak arif berhasil ngumpulin uang buat bangun rumah.. lumayan lama pembangunannya.. nyicil.. dari beli tanahnya.. beli pasirnya.. sampai akhirnya bisa kebangun itu rumah..

    bapak arif sengaja beli kasur sama sofa yg lumayan mahal dan bagus.. sengaja.. biar kakek arif bisa nyaman numpang tidur siang dirumah..
    sayangnya, pas mau bapak arif ngasih kabar ke kakek. bapak arif dikasih kabar duluan sama paman kalo kakek arif meninggal...

    gak kebayang gimana perasaan bapak arif waktu itu..

    eh, kayaknya kepanjangan yaa.. maap yaa.. jadi numpang curhat.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih,. Ceritanya menyentuh banget. Yang penting Bapaknya Arif sudah meniatkan rumah itu untuk hal yang baik. Sekalipun kakek belum sempat menikmati jerih payahnya. :)

      Hahaha.. Saya dari SD sudah kelihatan bandelnya. Sampe sekarang masih kok *ehh

      Delete
  3. Sepertinya ada perasaan emosional ya saat berkunjung ke rumah yang menyimpan banyak kenangan buat mae, karena disanalah mae punya kenangan-kenangan indah saat menempatinya. Jadi sekarang yang menempati rumah itu sapa mae? kan keluarga dah pada pindah, kamu juga "berpetualang" ke Dompu. Dibiarin kosong? ato mungkin di kontrakin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin delapan tahun sudah di kontrakin. Sekarang tante yang nempatin mas. Jadi insyaAllah ndak kosong dan bakal bisa sering main kesana. Kalo pas di kontrakin kemarin kan gak bisa. :D

      Delete
  4. memang selalu ada hal yang berbeda ketika kita berada di rumah yang dibangun dari jerih payah sendiri. Seperti halnya rumah kedua orang tua saya. Sama persis seperti papa mbak mae, rumah tersebut dibangun dari nol. Dan sampai sekarangpun, setiap saya melihatnya juga terkenang bagaimana dulu bapak saya membangunnya dengan biaya sendiri.

    Tapi entah mengapa saya dan istri belum ada keinginan untuk bangun rumah. Selain dananya juga ndak ada (he he), juga karena rumah mertua saya gedhe banget. Jadi ngapain bangun rumah lagi, kalau rumah mertua sudah segedhe itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ternyata gak cuma papa saya yang mengalami hal serupa. Hihi..

      Ayooo mas Fifin kapan nyusul punya rumah sendiri? Saya doakan secepatnya mas. :D

      Delete
  5. rumah bagaimanapun bentuknya kalau dibangun sendiri memang punya arti yang kadang tak bisa diuraiakan begitu saja dengan kata kata ya, jadi inge trumahku dimpungku sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuu banget sama mbak Ely.
      Hihi,. Hayuukk pulang kampung :))

      Delete
  6. alhamdulillah rumahnya tetap ada yg memakmurkan kan, walau jadi kontrakan yg penting rumahnya ga kosong dan yg penting bisa menghasilkan duit (balik modal he he)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Kalo niat awal bukan itu balik modal sih mas, tapi lebih karena pengen biar rumah itu gak kosong dan tetap ada yang merawat. :D

      Delete
  7. Harusnya jadi pertamax disini, entah gak bisa berkata-kata. Harusnya tetap dihuni, jangan jatuh ke orang lain yg bukan saudara, saran aja, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang udah enggak kok, yang nempati sekarang tante. Makasiii sarannyaa :D

      Delete
  8. Replies
    1. Memang asli nyaman banget, gak cuma 'terlihat'nya :D

      Delete
  9. huaa baca postingannya jadi inget rumah...apalagi lihat foto rumahnya jd pgn pulang :(
    "And I’m surrounded by A million people I Still feel all alone
    Oh, let me go home"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaa.. Gak maksud mbak. Tapi kalo emang kangen rumah, yaaa pulang donk ;)

      Delete
  10. RUMAH.
    Bukan tentang tren style yang nge-trend saat ini.
    Bukan tentang prestisi yang hendak dipamerkan dari tatanan geometrinya.

    Lebih kepada memorinya saya kira.
    Memori, yang menghadirkan rasa nyaman.
    Memori, yang menjadi teman memaknai hidup..

    ReplyDelete
  11. bintang lima..!
    nyesek sampe dada nih tulisanya mbak ! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwaduh,. gak maksud bikin nyesek lho mas. Terimakasih untuk bintangnyaaaa :D

      Delete
  12. Sudah saya bilang kan, dalam kamus bahasa indonesia rumah itu adalah tempat tujuan.

    kemana pun kamu pergi kak rie, tidak ada yang senyaman rumah.

    Rumag bugis :))
    hhi, saya masih ada juga campuran orang bugis-makassar kak :D

    ( oh yah, Fyi sekarang sy panggil km kakak saja deh. soalnya ada ank unhas yang teknik itu panggil km juga"kak", dia senior saya padahal angkatan 2008, -___-" gak sopan yah saya kak rie :D)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bangettt.. Setuju deh sama kamus bahasa Indonesia :D
      Bugis atau Makassar?? Beda lohh, kalo saya bugis tulen Uchank, Hehe..

      Ahh kamu. Sebenarnya tak perlu pakai 'kak' pun tidak mengurangi kesopananmu terhadap saya. Santailah,.
      Tapi terserah kamu sajalah mau panggil saya apa. :D

      Delete
  13. kalau aku benar2 orang rumahan jd selalu kangen rumah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuihh.. Kalo saya jarang betah di rumah mbak. Seperti sekarang ini. Hehe

      Delete
  14. Apapun bentuknya, selama itu ada kenangan di dalamnya, bakal susah dilupain yah? :D

    ReplyDelete
  15. Fuuuh. Cuma bisa menghela nafas. . . Saya menghayati banget dhek tiap peluh perjuangan yg menetes saat bangun 'sesuatu yang entah apa namanya mari kita sebut saja rumah' tersebut. Hmmhhh. . . Habis baca kok saya jadi Feeling blues gini yak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Feeling blues...? Ihh whaoww.. Hehehe

      Delete
  16. Salam Takzim
    Hebat daya ingetnya kuat sekali dari berpakaian putih merah sampai sekarang ga kebayang lamunan rumahnya masih orisinal, saya belum pernah bisa seperti ini
    Salam Takzim Batavusqu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sesuatu itu amat sangat bermakna, pasti akan lebih mudah untuk mengingatnya. Coba deh pak sekali-sekali, menyenangkan loh.. :D

      Delete
  17. Saya lega akhirnya, ternyata bukan saya saja yang pernah merasa asing ketika menginjakkan kaki kembali di bangunan yang kita sebut "rumah" itu. :D

    Sampai saat ini juga, dari sejak lahir sampai sekarang, orang tua saya belum pernah pindah rumah, otomatis dari bayi sampai SMA saya tinggal di sana, banyak kenangan di setiap sudutnya, bahkan meja marmer yang tidak sengaja saya hancurkan sampai berkeping-berkeping waktu zaman SD dulu, masih bapak simpan dan bahkan dikasih tulisan tanggal kejadiannya. Kalau pulang dan melihatnya lagi, saya hanya bisa tersenyum-senyum. #curhat ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeahh.. *toss :D

      Wuih,. Meja marmer bersejarah sepertinya yaaa.. Hihi

      Delete
  18. ngga tau harus ngetik apa lagi, saya sendiri juga kangen sama rumah... lebaran kemaren belum bisa pulang... :( #kok malah saya yg curhat ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahh,. turut sedih. Sabar yaa.. Semoga bisa pulang ke rumah secepatnya. Ayooo senyumm ;)

      Delete
  19. Wah, tentang rumah tapi kok begitu menggugah emosi, mencabik-cabik jiwa, dan menggetarkan sukma ya *halaaaah* Di mana rumahku? Dimana? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jyahh.. kalo kamu tanya saya terus saya tanya siapa Nyu'?? :-/

      Delete
  20. hanya ada satu kalimat yang cocok untuk itu..."Home Sweet Home" :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahh,. awalanya saya mau membuat postingan ini dengan judul itu, tapi gak jadi. Lupa kenapanya. :D

      Delete
  21. Pengen lagi kumpul seperti dulu, semuanya dari kita ber-enam.... Kapan???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh,. kalo kumpul lagi dalam jangka waktu yg lama sepertinya agak sulit. Tapi kalo sesekali aja, masih bisa direncanakan ;)

      Delete
  22. lingkungannya kayaknya asik tuch sob.... ajak maen donk :)

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D