29 April 2012

UlliyOgraphy

BiOgraphy >>> Kategori baru di Popcorn. Iseng aja sih bikinnya, dan gak ada maksud khusus. Mungkin di kategori ini, aku cuma ingin bercerita tentang seseorang --yang pastinya bukan diriku sendiri. Bukan semua orang juga, namun hanya beberapa orang yang menurutku menarik untuk di ulas. Untuk catatan saja, pastinya 'pembahasannya' disini tak akan jauh-jauh dari penilaian subyektif seorang Armae. Jadi intinya,.. nikmati sajalahh..;)

***

Ulliy, Ullil, Yuli, atau lengkapnya Yulia Ratnasari. Seorang gadis berusia kurang lebih 22 tahun, yang aku kenal sekitar tiga puluh hari yang lalu. Pernah beberapa kali kusebut di postingan yang ini, ini, ini, dan ini. Hahaha.. banyak banget yahh. Tapi intinya memang itu. Dia, bisa dibilang jadi salah satu bagian dari kehidupanku yang baru di Dompu. Semoga akan begitu,. seterusnya. :D

24 April 2012

Ada Cinta di Kalaki Beach Hotel, Bima

Belum genap satu bulan tinggal di Dompu, rasanya sudah banyak cerita yaaa. Entah jalan-jalan, wisata kuliner, juga pengalaman-pengalaman yang sangat luar biasa. Dan kali ini, aku mau cerita lagiiii tentang jalan-jalan yang sudah aku lakukan.

Ehmm.. tolong teman-teman tidak berpikir macam-macam dulu yaa, kesannya kok aku kerja ini banyak jalan-jalannya. Padahal sebenernya gak salah juga sii. :)) Bagaimana tidak, belum genap 30 hari disini, aku sudah mengunjungi pantai terbaik di Dompu, yakni Lakey Beach, yang bahkan sudah terkenal di mancanegara. Selain itu, aku sudah cukup hafal juga dengan jalan-jalan di kota Dompu—akibat sudah beberapa kali nyasar, :)) kuliner-kulinernya, termasuk makan rajungan di pematang sawah. Sabtu-minggu kemarin, juga aku habiskan untuk keliling 10 desa di Kabupaten Dompu, kenalan dengan perangkat desa nya, serta melihat laut yang saaangat cantik, walopun hanya lewat doank. Hihi.. :D
Pantai Felojangga, desa Jambu, Dompu, NTB
Cantik tak...??? :D
Disamping itu, pada tanggal 11-13 Maret 2012 lalu, aku bersama seluruh staf Plan Indonesia PU (Program Unit) Dompu mengadakan workshop Update Rencana Kontijensi, di Bima. Dan iniii yang ingin aku ceritakan sekarang. ;)

Aaada yang tau Bima??? Salah satu kabupaten yang terdapat di pulau Sumbawa, yang termasuk salah satu Kabupaten di Nusa Tenggara Barat? Harusnya tau donk, karena Bima ini merupakan kabupaten yang cukup besar di NTB, setelah Mataram pastinya. Kabupaten Bima ini, berbatasan langsung dengan kabupaten Dompu disebelah barat, dan memiliki beberapa bagian daerah yang berbatasan langsung dengan laut.

Lokasi kabupaten Bima, dari google map :D

Yeah,.. di NTB ini, rasanya mataku benar-benar di manjakan dengan laut. Hihihi… :D

Berangkat dari Dompu hari rabu sore, kumpul di kantor, rombongan berangkat menggunakan mobil, namun ada juga beberapa orang teman yang naik sepeda motor. Jadi semacam touring gitu, dengan motor kembar berwarna biru tua dengan logo Plan. Seru kayaknya, Hihihi…

Meninggalkan kantor tepat jam tiga sore, kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai di Kalaki Beach Hotel. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan bukit hijau nan eksotik serta hamparan sawah dan kumpulan tambak yang saling mengisi satu sama lain. Ada satu hal yang menarik , sepanjang perjalanan menuju Bima kami bertemu dengan sekumpulan monyet yang sedang mencari makan, juga anak-anak kecil yang menjajakan jambu biji di tepi jalan. Limaribu rupiah saja untuk satu keranjang berukuran sedang, kami akhirnya memutuskan untuk membeli sebanyak dua buah keranjang. Sebagian kami makan, dan sebagian terutama yang keras-keras dan masih agak mentah kami lemparkan ke monyet-monyet yang ada di tepi jalan. Mereka berlariaaan mengejar buah jambu yang kami lemparkan. Berasa di taman safari aja dehh kalo gitu. Hihihi…  Dan begitu tiba dihotel, aku kembali tercengang, Kalaki Beach hotel ini tepat berhadapan langsung dengan laut. Aiihh,. Cantiikk kaliii.:-bd

Gambar punya mas Roni
Hotel ini terletak di Jl. Lintas Sumbawa, Belo, Palibelo, Bima, NTB. Hotel yang tepat berada di tepi jalan raya ini tidak terlalu besar, dengan jumlah kamar yang hanya ada sekitar 10 buah. Hotel yang 'menjual' pemandangan laut Bima ini, selain menyediakan tempat untuk menginap, juga terdapat fasilitas tempat karaoke dan kolam renang. Pada saat kami menginap disana, hotel tersebut sedang dalam perbaikan, penambahan jumlah kamar rasanya. Dan ini berakibat pada, ada beberapa staf yang harus menginap di hotel terpisah, yang pastinya bukan beach hotel lagi. Hmmm.. so sorry to hear that ja…

Awalnya, aku mendapatkan kamar di bawah, tepat berhadapan dengan laut. Namun karena ada beberapa pengaturan yang berubah, akhirnya aku dan Ulil ditempatkan di kamar atas, nomor 205. Kamar paling pojok, dengan jendela menghadap ke arah laut. Sippp… :D

Kamar di Kalaki Beach Hotel ini bisa kubilang cukup besar, bahkan ukurannya lebih besar jika dibandingakn dengan Aman Gati hotel, Lakey Beach. Tempat tidurnya juga berukuran besar, serta perabotan didalamnya juga cukup lengkap, mulai dari ac, tv, sofa, lampu tidur, meja rias, serta meja yang, aku gak ngerti jugak fungsinya apa. Hahaha… :D

Kamar mandinya pun cukup luas, dengan shower lengkap dengan air panas, closet duduk, wastafel, plus handuk yang diganti setiap hari. Cuma, dikamar mandi ini aku menemukan beberapa perabotan yang karatan. Awalnya aku hanya mengira saja, mungkin karena dekat laut, jadi airnya agak asin. Dan ternyata benarrr, sewaktu ambil wudhu untuk sholat ashar, airnya terasa agak asiin..=))

Gambar pinjam dari kalakibeachotel.blogspot.com
Begitu menjelang senja, aku dan beberapa staff yang lain main di depan hotel. Dengan pemandangan laut sekaligus perbukitan, plus beberapa nelayan yang sedang mencari ikan, mata kami benar-benar serasa dimanjakan. Makin soree, makin cantik pemandangannya, karena hotel ini juga tepat menghadap kearah barat. Yahh,. Silahkan tebak sendiri saja pemandangan yang disuguhkan sore itu… Pastinya, cantik!!!

Jingga sore itu, cantiiiiikk bangeeeetttt :D
Malam harinya, aku dan beberapa rombongan yang lain  pergi ke kota Bima. FYI, Kalaki Beach Hotel ini tidak terletak di dalam kota Bima. Lokasinya agak di pinggir, namun jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan mobil. Begitu memasuki kota Bima, aku kembali tercengang. Ini kota cantiiiik banget. Ada beberapa bagian dari kota Bima ini yang berbatasan langsung dengan laut. Tapi tak ada sedikitpun kesan kotor, atau aroma laut yang terkadang agak amis. Yang ada itu lampu-lampu cantik bernuansa biru dan putih yang berjejer di sepanjang tepi laut (perpaduan warna yang indah banget), juga sesekali terlihat kapal-kapal berukuran sedang dengan lampu kerlap-kerlip yang makin menambah keindahan malam kota Bima. Pantai Mahami namanya. Namun sayang, malam itu tak sempat mengambil gambarnya, hanya ini yang kutemukan dari google. :(

Pantai Mahami, gambar dari sarangge.wordpress.com
Bima, apa ya… Aku agak bingung mendeskripsikannya seperti apa. Tapi pastinya, kota ini mengingatkanku dengan Kota Baru, salah satu kota di pulau laut, kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Kota yang tidak terlalu besar namun tertata dengan cukup rapih, dengan beberapa toko-toko dan fasilitas-fasilitas lainnya. Ada juga beberapa masjid besar, penginapan/hotel, tempat makan, dan beberapa lokasi yang berada tepat di tepi laut yang jika malam minggu katanya ramai oleh pedagang kaki lima penjual salome (bakso kecil-kecil/pentol sunduk) serta pengunjung. Di Bima ini, tidak ada mall besar, tapi kita bisa menemukan salah satu restoran fastfood ternama, tempat karaoke, daaan lain sebagainya. Pastinya lebih ramai daripada Dompu lahh. :D

*

Workshop update Rencana Kontijensi ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan di setiap program unit. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate perencanaan hal-hal yang akan dilakukan jika dalam wilayah program unit terjadi bencana. Entah bencana alam, konflik antar suku, maupun bencana-bencana lainnya yang akan mempengaruhi kinerja kantor.

Ini merupakan momen pertama aku berkumpul dan berkenalan langsung dengan seluruh staff yang ada di PU Dompu, temaan-teman satu project yang dari Sikka, plus mbak Fitri, orang luar Plan yang ditunjuk sebagai notulen untuk workshop ini, juga mas Wahyu, salah seorang staff Disaster Risk Management (DRM) department, Plan Country Office (CO) Jakarta yang bertugas menjadi fasilitator.

Kegiatannya emang gak genap dua hari, namun dari kegiatan itu, aku mendapatkan banyak hal. Aku bisa mengetahui sedikit tentang karakter masing-masing orang, sifat-sifatnya, gokil-gokilnya, daaaan lain sebagainya. Dan sebagian besar dari mereka  ternyata agak gila. Ehh, bukan gila dalam makna sebenarnya ya, tapi maksudnya disini, hampir semua orang sukak becanda, sampai-sampai kami semua gak berhenti-berhenti tertawa. Dan yang lebih luar biasa lagi, setelah kegiatan itu, aku jadi lebih mudah untuk mengingat nama-nama dari seluruh staff yang ada. Whaoww.. prestasi yang sangat luar biasa menurutku, karena dari dulu aku merasa kalau aku selalu agak kesulitan untuk mengingat nama. Namun sepertinya beda cerita yaa kali ini.

Seluruh staff di PU Dompu ini tidak banyak, dan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. Ada pak Eka, pak Mus, pak Haris, mas Nasrul (yang begitu cepatnya meninggalkan kami untuk pindah ke CO, we will miss you mas.. tanpa mu si Ulil galaauuu setiap malam <<< iklan banget sih :))), pak Zen, Om Joe, mas Roni, mas Oji, pak Hasan, pak Akbar, pak Rudi, pak Didit, pak Yamin, pak Karsa, pak Ajib, pak Bonk, pak Erwin, mbak Yani, dan si Ulil. Yayyy,. Berhasil menyebutkan semuanyaaa. :D Tapi sayangnya untuk kegiatan kali ini mbak Nur dan mbak Murni gak bisa ikut dikarenakan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan (wuuiihh.. benar2 pekerja sosial sejati!!! :D).

*

Jumat sore, 13 Maret 2012, sekitar pukul 16.00 WITA, kami semua bersiap untuk kembali menuju Dompu, ke tempat peristirahatan kami masing-masing.  Namun ternyata, kegiatan workshop ini memberikan kesan yang cukup dalam, tak hanya padaku, namun juga pada semua peserta workshop.

Malam harinya, saat aku sudah dikost bersama si Ulil, kehebohan mulai terjadi di facebook. Om Joe, mengupload salah satu foto yang diambil sesaat sebelum kami bertolak dari Kalaki Beach Hotel menuju ke Dompu. Foto yang semua peserta workshop ada –kecuali bapak fasilitator. Dan dimulailah itu becandaan gokil via facebook.

Peserta 'Kalaki Idol', gambar koleksi pribadi om Joe :)
Gambar koleksi pribadi om Joe , bersama bapak Fasilitator yang terhormat. Coba tebak, fasilitatornya yang manaaa...??? Hihi :p
Pada saat yang sama, pak Didit, salah satu staff Plan PU Dompu yang juga merangkap sebagai penyiar radio sedang siaran. Sambil maen facebook, sambil balas-balasan komen di foto, sambil request lagu, sambil dengerin pak Didit siaran jugak. Yang makin menambah spesial malam itu, berasanya KanVas FM 94,5 MHz tu jadi radio khusus Plan. Bagaimana tidak, pak Didit tak henti-hentinya bercerita tentang kegiatan workshop yang kami adakan, juga menyampaikan salam-salam yang kami titipkan via komen foto di facebook, plus memutarkan lagu yang kami request. Malam itu tak ada request dari orang lain, tak ada terima telpon dari pendengar, tak ada bacakan sms dari pendengar. Yang ada tuh, salam buat Arie dan Yuli yang lagi dengerin radio dari kosan, temen-temen Plan yang lagi heboh di facebook, plus buat mas Wahyu dan pak Bonk yang sedang melakukan perjalanan ke Mataram untuk kembali ke CO. Brasa artis aja deh yaaaa ni namaku ama  si Ulil disebut berkali-kali. Hahaha… :">

 
 
 
 
 
 
 
 
*

Hoiaa, beberapa waktu yang lalu, aku pernah membuat postingan yang berjudul Plan Indonesia, My New Family. Dalam postingan tersebut, aku juga menceritakan tentang beberapa rekan kerja di Plan. Namun bedanya, postingan tersebut lebih kepada rekan kerja satu project, sedangkan yang aku ceritakan kali ini adalah rekan-rekan kerja yang ada di PU Dompu, yang sebenarnya memang merupakan dua tim yang berbeda. Ahh,. Gak penting lah bedanya apa. Yang penting, keduanya sama-sama luar biasa, sama-sama bersahabat, sama-sama membuatku merasa seperti di rumah, disekeliling keluarga sendiri. Serta sama-sama menebar cinta dan kasih sayang pastinya. Semoga... :)

Last,.. Thankyou Allah… :D

*

Tambahan dari si Ulil:


Belakangan jadi sering banget muter lagu ini gara-gara ada sesuatu, kalau bahasa Indianya “Kuch kuch hota hai” gitu.. Semua berawal dari momen ini… Ihhikkk :p

*Belakangan juga aku jadi sering menyebut-nyebut nama ‘Ulil’ yaaa dalam postinganku, jadi pengen cerita juga tentang dia. Nantilah, semoga bisa. Hihihi :D

17 April 2012

Pesta Rajungan di Pematang Sawah

Happy tuesday all... :D

Setelah dua hari dua malam menghabiskan waktu di Kabupaten Bima, NTB, untuk menjalani Workshop Update Rencana Kontijensi (detail ceritanya di postingan yang berbeda aja deh), akhirnya hari jumat sore kemarin (13.04.11) aku kembali ke 'peradaban'. Eh, bukan, kehidupan biasanya maksudnya. Di kosan, barengan sama si Ulil.

Weekend ini tak akan berlalu begitu saja. Karena aku, Ulil, dan mbak Nur --salah satu rekan kerja juga, berencana untuk mengunjungi salah satu desa yang akan jadi desa dampingan dalam project nutrisi yang sedang aku lakukan ini, untuk memberikan surat ijin pengambilan data dalam baseline survey, yang rencananya akan dilaksanakan minggu depan.

13 April 2012

Tahukah Kau Aku Merasa Spesial?

Tahukah kau aku merasa spesial,
tiap kali kau sempatkan luangmu untuk sekedar menghampiriku, menyapaku...?

Tahukah kau aku merasa spesial,
saat ucapan selamat pagimu seolah jadi 'sarapan' khusus yang tak kan kulewatkan setiap harinya...?

Tahukah kau aku merasa spesial,
saat dengan sengaja kau menawarkanku untuk mengantar pulang...?

10 April 2012

Aku, Bertanya Kepadaku, Tentangku

picture source
Hello world,..

Ehem,.. Sejak si popcorn ini lahir, rasanya belum pernah deh yaa aku menyebut diriku sendiri dengan sebutan 'Saya'. Aneh rasanya. Alasan utama sih pastinya karena gak terbiasa, karena sehari-hari lebih sering menyebut diri sendiri dengan kata 'aku'. Disamping itu, rasanya penggunaan kata 'Saya' itu terlalu resmi untuk sebuah blog pribadi yang isinya gak pernah jauh-jauh dari cerita kehidupan sehari-hari macam popcorn ini.

Tapi kali ini, ijinkan aku untuk menyebut diriku sendiri dengan kata 'Saya'. :">

Saya Arie Ramadhaani, biasa dipanggil Armae, seorang fresh graduate dari Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Saya merupakan anak kedua dari empat bersaudara, yang semenjak kecil hingga SMA tinggal di Gresik. Saya gemar membaca, baik novel, biografi, maupun surat kabar, dan selama kurang lebih satu tahun terakhir mulai merambah ke dunia tulis-menulis yang saya realisasikan dalam bentuk blog pribadi. Pada saat SMA, saya bergabung dengan Organisasi Pecinta Alam. Dari organisasi tersebut, saya banyak belajar tentang kehidupan di alam bebas, hingga pada akhirnya kegiatan jalan-jalan (termasuk hiking dan camping) menjadi salah satu kegemaran saya. Saya juga gemar berolahraga, diantaranya bermain voli, berenang, juga bersepeda. Saya adalah seseorang yang berwatak keras. Seseorang tidak akan dengan mudah merubah pendirian saya terutama jika saya merasa bahwa diri saya benar. Aktif berorganisasi semenjak di bangku SMP tidak membuat saya mudah akrab dengan orang lain. Tapi dari sebagian kecil orang yang mengenal saya, biasanya mereka  mengenal saya cukup dekat. Saya seorang yang perfeksionis, detail, dan menyukai keteraturan. Tidak terlalu bermasalah dengan sesuatu yang bersifat mendadak namun lebih menghargai persiapan yang matang, disiplin, namun lebih menyukai sedikit keterlambatan dengan hasil yang sempurna daripada tepat waktu namun kurang sempurna pada akhirnya.

Kenyamanan menjadi hal terpenting dalam hidup saya. Patokan untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu, lebih sering saya nilai dari kenyamanan diri saya sendiri terhadap hal tersebut. Saya bukan tipe orang yang suka melakukan hal yang tidak membuat saya nyaman dan tidak saya nikmati. Hal ini, juga berkaitan dengan minat dan kemampuan saya dalam suatu bidang tertentu. Jika saya tidak berminat pada suatu hal, maka biasanya saya tidak akan nyaman berada di lingkungan hal tersebut. Sebagai seorang wanita, pastinya keterlibatan perasaan dalam menentukan minat atau tidak, nyaman atau tidak, menjadi satu hal yang biasa. Namun, sebisa mungkin perasaan tersebut tidak mendominasi, karena disamping hal tersebut, masih ada pertimbangan-pertimbangan lain yang tetap harus diperhatikan.
picture source
Sukses, menurut saya tidak hanya bisa dinilai dari hasil apa yang sudah kita dapatkan setelah suatu proses yang kita lakukan. Sukses itu bermakna luas, termasuk jika kita memulai suatu hal yang positif, itu juga merupakan suatu kesuksesan. Saya orangnya perfeksionis, sangat memperhatikan hasil, tapi bukan berarti proses menjadi tidak penting di mata saya. Karena hasil tanpa proses, tidak jauh berbeda dengan seseorang yang menjiplak karya orang lain. Sungguh sesuatu yang tidak bisa saya toleransi.

Entah sejak kapan saya menyadari hal ini, tapi sejauh saya ketahui tentang diri saya, saya tidak terlalu berambisi dengan materi. Bukan berarti saya tidak butuh, karena mustahil pula menjalani hidup tanpa materi sedikitpun. Ketertarikan terhadap materi, lebih sering dikarenakan tuntutan kebutuhan. Saya ingin bekerja, tapi bukan untuk mencari dan mengumpulkan materi. Saya lebih ingin bekerja untuk aktualisasi diri, karena beberapa bulan belakangan tanpa ada hal khusus yang harus dikerjakan membuat saya merasa bahwa diri saya tidak ada, diri saya tidak berguna, dan semacamnya. Itulah alasan utama mengapa saya mencari pekerjaan. Sedangkan materi, mungkin lebih tepat diletakkan dalam posisi sebagai ‘timbal balik’ atau bahkan ‘bonus’ dari apa yang sudah saya kerjakan.
picture source
Menghargai dan dihargai orang lain, merupakan satu hal yang penting menurut saya, terutama berkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial. Aturannya mudah saja, siapa yang ingin dihargai orang lain, maka dia harus menghargai orang lain terlebih dahulu. Hal ini sedikit banyak saya pelajari dari aktifitas blogging yang saya lakukan selama satu tahun terakhir. Dalam aktifitas tersebut, saya banyak belajar tentang bagaimana cara menghargai karya orang lain—hingga pada akhirnya karya kita juga di hargai oleh orang lain, memberikan komentar yang beretika—karena dalam dunia perblogan apa yang kamu tulis menjadi bagian dari siapa kamu. Didalam dunia perblogan—juga dunia yang sebenarnya, setiap ketentuan dari baik atau buruknya suatu hal, sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya sekitar, cara berpikir, bahan bacaan, lingkungan, dan lain sebagainya. Mengingat keberagaman yang ada di Indonesia, sepertinya sangat mungkin bahwa penilaian ‘baik’ menurut satu daerah berbeda dengan daerah yang lain. Lantas, apakah ini menjadi kendala seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain yang berbeda budaya, suku, ras, agama, dan sebagainya? Saya rasa tidak. Jikalau terjadi perbedaan, tidak akan sampai pada taraf makna kebaikan yang sebenarnya. Karena menurut saya, kebaikan itu berasal dari hati nurani setiap manusia. Tanpa membaca buku beratus-ratus lembar halamanpun, saya yakin seseorang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Bukan berarti saya menganggap bahwa pelajaran tentang moral dan etika tidak perlu, hanya saja, jika sudah terjun kedalam masyarakat, moral dan etika menjadi satu hal yang pasti, berbaur dengan budaya masyarakat. Berbeda dengan moral dan etika saat masih berada dalam diri masing-masing manusia, yang sifatnya abstrak, namun bisa digambarkan dalam bentuk perbuatan.

Orang-orang disekitar saya, paling sering menilai saya sebagai orang yang keras kepala, teguh pendirian, dan sangat cuek. Keras kepala disini mungkin bisa diartikan seperti ini, ‘jika saya belum merasakan sendiri kerugian dari suatu hal, sebesar apapun peringatan yang diberikan orang tidak akan saya indahkan’. Sepertinya perumpamaan ini cukup menyeramkan ya,. tapi tidak seburuk itu lah, karena terkadang seseorang harus jatuh dulu baru bisa mengetahui bagaimana caranya bangkit. Sedangkan untuk cuek disini bukan berarti saya acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar, tidak, tapi saya kurang berminat dengan hal-hal yang berhubungan dengan urusan orang lain, juga dengan penilaian orang lain (yang terakhir terutama dalam hal penampilan). Dan untuk sifat yang teguh pendirian, saya rasa semua orang juga memiliki sifat yang sama, jika dia dalam posisi yang benar, ditunjang dengan referensi yang akurat, dan dukungan beberapa pihak. Ada juga beberapa yang mengatakan bahwa saya memiliki pandangan yang luas. Ehm.. Saya tidak tau ini maksudnya apa. Tapi seingat saya, saya lebih suka menilai sesuatu secara objektif, melihat satu hal dari berbagai sisi, dan mencoba menyebutkan beberapa kemungkinan mengenai penyebab terjadinya hal tersebut. Satu yang selalu saya pegang, bahwa pasti, selalu ada penjelasan yang masuk akal untuk semua hal yang terjadi. Cara berpikir seperti itu menurut saya patut untuk saya pertahankan, karena dengan demikian, saya lebih bisa berhati-hati dan mempertimbangkan segala hal sebelum memutuskan sesuatu.

picture source
Itulah sekilas tentangku. Bukan tanpa tujuan aku membuat tulisan ini, karena ini semacam aplikasi yang aku ajukan dalam salah satu proses untuk bergabung dengan NGO. Proses kedua rasanya, yang akhirnya mengantarkanku menuju proses selanjutnya yakni interview. Namun sepertinya, Bapk-bapak dan mas-mas yang menginterview diriku lupa, atau mungkin tidak terlalu memperhatikan kalau aku menyukai kegiatan blogging. Bukan masalah yang terlalu besar sih, hanya saja, sebagai seorang blogger aku merasa bahwa aku lebih cakap untuk menulis dibandingkan dengan berbicara. Aku bisa punya ruang untuk menata apa yang ingin aku tuangkan, menjadi serangkaian kalimat yang, minimal tidak membingungkan pembaca.

Yahh,. Sepertinya mereka agak sedikit kecewa. Terasa sekali sih. Ditambah pada saat interview itu, kalau boleh aku membela diri, aku sedang tidak dalam kondisi terbaik. Jadi yaaaa, gitu deh hasilnya, tidak bisa diharapkan. Tapi gak masalah juga, karena toh akhirnya saat ini aku juga sudah bergabung dengan NGO, walaupun bukan NGO yang aplikasinya sedang aku pajang ini.

Ternyata, merupakan satu hal yang sangat sulit saat kita harus menuliskan tentang diri kita, dengan bahasa kita sendiri, tanpa ada maksud sedikitpun untuk merendahkan diri. Pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang arti hidup, ambisi, arti kesuksesan, serta moral dan etika, juga pendapat orang lain tentang diri kita sendiri. Yahh.. sangat sulit. Walaupun bukan berarti tidak mungkin. Tapi tetap saja diriku, pada pendirianku, bahwa "orang yang paling sok tau di dunia ini adalah orang yang merasa sudah mengenal dirinya sendiri sepenuhnya" :D

Menuliskan ini, serasa memberi ruang pada diri sendiri untuk berkomunikasi.. :">

Ada yang bersedia menuliskan hal serupa? Jika ada yang bersedia, silahkan tuliskan di kotak komentar yaa link nya. InsyaAllah akan aku baca tulisan para sohiblogger. Tak ada hadiah, tak ada bingkisan, tak ada souvenir. Aku hanya ingin mengajak sohiblogger semua untuk selangkah lebih dekat, menuju pencarian jati diri, yang sejatinya tak akan berhenti sampai kita mati. :)

Happy blogging all ;)

07 April 2012

Plan Indonesia, My New Family

Normally, pastinya ada rasa takut atau khawatir diri kita tidak diterima dikomunitas baru dimana kita baru saja bergabung. Aku rasa itu merupakan satu hal yang manusiawi, yang menunjukkan kalau manusia adalah makhluk sosial. Begitu juga yang aku rasakan, yang berkecamuk dalam hati dan pikiranku, saat dalam perjalanan dari Bandar Udara Muhammad Salahuddin, Bima, NTB menuju Kabupaten Dompu, NTB. Suasana yang agak mendung namun juga cerah, pemandangan hijau perbukitan serta berpetak-petak persawahan sungguh menenangkan, namun kekhawatiran itu tak pernah sekalipun benar-benar sirna. :(

05 April 2012

Lakey Beach, Hu'u, Dompu, NTB

Begitu sampai di Dompu, aku tak langsung mulai aktif bekerja di kantor. Pada hari selasa (27 Maret 2012), aku, mbak Ira, serta pak Alex langsung digiring ke Aman Gati Hotel, salah satu hotel berbintang di bagian selatan kabupaten Dompu, tepatnya di desa Hu'u. Kami dibawa kesini bukan tanpa alasan. Karena sebenarnya, pada tanggal 19-30 Maret 2012, Plan Indonesia mengadakan workshop di Dompu, dalam rangka penyusunan design project Community Action to Improve Maternal and Child Nutrition (CAI-MCN) serta persiapan untuk baseline survey.

04 April 2012

#14 Dis-ass-ter and My First Blog Award on 2012

Si Urkhan, setelah menghilang dari peredaran dan menjadi blogger egois karena bikin postingan doank tanpa ngebolehin siapapun komen, ternyata balik-balik sambil membawa bencana. Yapp,. persis seperti judul postingan ini, #14 Dis-ass-ter. Rese' ni orang. Untungnya aku baik hati dan tidak sombong serta suka menabung dan berbakti kepada orang tua plus rajin ngerjakan PR, jadinya aku kerjain juga deh. Tapi tetep aja, ini benar-benar bencana!!! >:)

Iyaudah deh gak pakek lama, let's play...!!!

02 April 2012

Setengah Perjalanan Kedua

“Tempat kaos kaosnya mana?”

pict source
Itulah kalimat pertama yang ditanyakan oleh mbak Ira begitu tiba di Joger, tepat jam 4.30 WITA. Berhubung Joger ini hanya buka sampai jam 6 sore, jadi kami berdua tak membuang banyak waktu untuk melihat berbagai souvenir yang ada di bagian depan. Langsung menuju bagian belakang, akhirnya kami masuk ke ruangan khusus produk kaos khas Joger.

Awalnya aku tak berniat untuk membeli satu barangpun, namun saat melihat-lihat beberapa kaos lengan panjang dengan tulisan yang unik, kain kaos yang halus, serta warna yang menarik, akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah kaos lengan panjang warna coklat pastel. Tulisannya apa ya? Lupa dehh. Males ngelihat juga. Hihi :p
Begitu selesai, kami memutuskan untuk kembali ke hotel menggunakan taxi.

“Adhi Jaya hotel pak…”, begitu yang kami sampaikan ke bapak supirnya. Dan sepertinya tak butuh waktu lama untuk pak supirnya mengantarkan kami hingga tempat tujuan. Tapi sepertinya ada yang aneh…

“Pak, ini, hotelnya lewat pintu belakang ya?” tanya mbak Ira dengan tampang agak bingung. Aku juga sama bingungnya sii…
“Loh.. Ini depannya mbak. Adhi Jaya hotel kan mbak? Ya ini…”, si bapak supir gak kalah bingung juga sepertinya.
“Iya pak, bener kok Adhi Jaya hotel. Tapi hotelnya bukan kayak gini… Beda nih…”,

Nah lohh. Nyasar deh kita. Untungnya gak jauh dari tempat kita berhenti, ada security yang sepertinya menyadari kebingungan kami. Setelah bertanya pada beliau, ternyata memang benar kami salah hotel. Adhi Jaya Hotel di Bali ada dua, Adhi Jaya Kuta, yang kami kunjungi saat ini, serta Adhi Jaya Sunset Road yang berada di tempat lain, yang menjadi tempat kami menginap. Yaahh,.. aku sama mbak Ira juga gak tau kalo ternyata Adhi Jaya hotel itu ada dua. Akhirnya kami minta maaf ke bapak supirnya dan meminta beliau untuk mengantarkan kami ke hotel yang dimaksud.

Nyampek di hotel dengan selamat sii, tapi ongkos taxi nya jadi dua kali lipat dari ongkos waktu berangkat. Gak papa dehh, yang penting nyampekk. :p

Malamnya kami tidak pergi kemana-mana. Tapi aku menyempatkan diri untuk bertemu dengan Pandu, temen SMA yang sama-sama kuliah di Malang dan sama-sama sering naik gunung bareng juga. Dia sudah setahun lebih di Bali, kerja disana emang. Dan selama itu pula kami gak pernah ketemu secara langsung. Selama ini hanya kontak via sms atau telpon atau lewat jejaring sosial, namun malam itu akhirnya kami sempat bertemu. Gak lama juga sii, cuma makan bareng di dekat hotel, sambil ngobrol kesana kemari.

*

Sekitar jam 8 pagi kami meninggalkan Adhi Jaya Sunset Road hotel untuk menuju ke Ngurah Rai International Airport untuk melanjutkan perjalanan ke Dompu. Pesawat yang akan mengantarkan kami akan berangkat sekitar pukul 10 WITA. Karena menghindari macet serta kemungkinan adanya demonstrasi, kami memutuskan untuk berangkat lebih pagi daripada sebelumnya.

Namun ternyata keputusan kami untuk berangkat pagi salah besar. Pesawat yang kami naiki sempat delay satu jam lebih. Pak Alex udah mondar-mandir aja menanyakan ke petugas mengenai keberangkatan pesawat untuk ke Bima, Kabupaten terdekat dari Dompu yang memiliki bandar udara. Setelah melalui proses penantian yang cukup panjang, akhirnya kami dipersilahkan masuk ke pesawat.

Hal pertama yang aku rasakan saat mengetahui tentang pesawat yang akan mengantarkanku ke Dompu, pastinya shock. Pesawatnya kecil bangeeeeeeeeeeeeettt. Nomor kursinya hanya sampai dua puluh. Dan barisan untuk penumpangnya hanya empat baris, dua di sisi kanan dan dua di sisi kiri. Baling-balingnya juga keciiil. Saking kecilnya lagi nih ya, gak perlu pakek tangga tambahan untuk naik ke pesawat itu. Cukup dengan tangga asli dari pesawat yang menempel di pintu keluar-masuk yang digunakan.

Begitu mesin pesawat mulai meraung, ada ketakutan besar yang aku rasakan. Nyampek gak yaa…??? Nyampek gak ya…?? Goncangan yang aku rasakan juga amat sangat jauh lebih terasa dibandingkan dengan perjalanan menggunakan pesawat terbang sebelum-sebelumnya. Begitu pesawat tinggal landas, terasa betul maneuver yang dilakukan. Pesawat berbelok kekanan, lalu ke kiri, begitu terus berkali-kali. Sesekali aku menengok ke arah mbak Ira yang duduk di sampingku. Ternyata dia juga menunjukkan kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat. Yahh,.. akhirnya yang bisa aku lakukan hanya berdoa, sambil berusaha menikmati pemandangan Indonesia ari ketinggian sekian ribu meter.

Pemandangan siang itu sungguh menyita perhatianku. Tak lama setelah pesawat mencapai ketinggian yang ditentukan dan penumpang diperbolehkan melepas sabuk pengaman, kemegahan gung Agung menyapaku. Dengan puncaknya yang sebagian tertutup awan, seolah gunung tersebut menjadi atap dari pulau Bali yang juga nampak indah di tengah cuaca yang agak mendung. Seketika aku juga berpikir, jika aku beruntung, mungkin siang itu juga aku akan bisa melihat puncak Rinjani, salah satu gunung yang, bisa dibilang merupakan impian para pendaki di Indonesia.

Begitu melalui selat yang memisahkan pulau Bali dan pulau Lombok, aku langsung berusaha untuk mengedarkan pandangan sejauh mungkin. Namun yang terlihat saat itu hanya hijau, hijau, dan hijau. Semacam ada perbukitan, namun sepertinya tak ada puncak yang terlalu tinggi yang bisa disebut dengan gunung. Semakin lama, pesawat semakin mengarah pada bagian tengah pulau Lombok. Aku tak tau di bagian mana letak dari Taman Nasional Gunung Rinjani berada. Aku terus mengedarkan pandangan semampuku. Menurut perkiraanku, pesawat saat itu sedang mengarah ke timur, dan aku berada di sisi utara pesawat. Jadi, bisa dibilang, bagian dari pulau Lombok dari tengah hingga ke utara berada dalam batas pengamatanku. Yah, sambil mengamati apa yang ada dihadapanku, sambil berdoa juga, semoga pesawat ini melalui kawasan gunung Rinjani, hingga paling tidak aku bisa melihat segara anak dari atas, juga puncak tertinggi ketiga tanah Indonesia itu.

Tak butuh waktu lama untukku menyadari apa yang ada dihadapanku. Kontur-kontur perbukitan semakin jelas terlihat. Berbukit-bukit pegunungan membentuk suatu pemandangan yang sangat luar biasa, hingga kesemuanya mengarah pada satu titik tertinggi yang terjangkau oleh penglihatanku. Yah, menurut perkiraanku, tinggi dari puncak perbukitan itu sekiranya sama dengan tinggi gunung agung yang aku lihat sebelumnya. Seketika itu pula serasa ada yang membuncah di dalam hati. Entah keyakinan dari mana, tapi aku merasa kalau yang aku lihat itu adalah puncak Rinjani, puncak Dewi Anjani yang menjadi impian para pendaki Indonesia, surga para pendak. Tapi aku tak serta merta yakin, ada yang harus aku buktikan lagi.

Aku paksakan mata ini untuk menjelajah seluruh batas pandang yang hanya sepetak jendela pesawat itu. Di tengah samar kabut yang juga menghias siang itu, perlahan namun pasti, aku melihat sekilas permukaan berwarna hijau muda. Warna yang, mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun silam, saat seorang sahabat meyakinkanku kalau apa yang ada dihadapanku adalah Ranu Kumbolo, surganya Mahameru. Yah, begitu pula yang aku rasakan saat itu, kagum, takjub, tidak percaya, gembira, bercampur menjadi satu. Ditengah perasaan yang sangat luar biasa itu, aku tak berani melepaskan pandanganku barang sedetik dari permukaan berwarna hijau muda yang terlihat sangat tenang dan teduh itu, ditengan berbukit-bukit hijau tua yang mengelilinginya. Kabut yang samar-samar menutupi beberapa puncak tertingginya menjadi pelengkap untuk semua pemandangan siang itu. Seketika pusing yang aku rasakan saat pesawat mulai tinggal landas menjadi sirna, ketakutan yang sebelumnya menguasai pikiranku mendadak hilang, digantikan oleh rasa syukur yang teramat sangat karena telah melihat satu dari sekian banyak kekayaan dari negeri ini, lagi, satu dari sekian banyak kekuasaan yang ditunjukkan olehNya, Sang Penguasa Hidup. Subhanallah…

Perjalanan yang sangat luar biasa, dan aku hanya bisa berharap bahwa pembukaan yang sangat luar biasa ini, akan menjadi pintu gerbang untuk hal-hal yang jauh lebih luar biasa kedepannya. :D

Dengan mengucap ‘Assalamualaikum’ lalu kujawab sendiri dalam hati—seperti yang dipesankan oleh papa, aku pijakkan kakiku ditanah Sumbawa, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Tak lama begitu masuk kedalam Bandar Udara Muhammad Salahuddin, aku menangkap sesosok bapak-bapak berjaket kulit hitam dengan postur tak terlalu tinggi membentangkan selembar kertas HVS bertuliskan:
Plan Indonesia
Alex
Ira Reulita
Arie R

Setelah semua barang bawaan kami lengkap, kami langsung diantar ke mobil untuk selanjutnya melakukan perjalanan lewat darat menuju Kabupaten Dompu, yang berjarak kurang lebih satu jam perjalanan.

Welcome home, Mae…. *karena ini juga rumahku, ini juga tanahku, dan ini Indonesia* ;)