30 July 2012

11 Ramadhan 1433 H

No body gets too much heaven no more
Its much harder to come by
Im waiting in line....

Random playlis mulai bekerja, dan lagu pertama jatuh pada Beegees - Too Much Heaven. Tua banget selera saya...

24 July 2012

I'm Crazy About Milky Way

Ternyata nama kerennya adalah 'Milky Way'. Dulu, saya menyebutnya dengan nama 'Sungai Bintang'. Mengapa sungai bintang? Karena bintang yang begitu banyaknya membentuk barisan indah seperti sungai di langit gelap. Istilah sungai bintang ini juga pernah saya dengar waktu menonton film Ultraman dulu. Saya ingat, dalam suatu episode, ada seorang anak perempuan yang ingin melihat sungai bintang di langit Jepang. Ia memohon kepada Ultraman yang baik hati dan super duper ganteng itu untuk bisa diperlihatkan sungai bintang. Akhirnya, Ultraman memadamkan seluruh lampu kota Tokyo selama beberapa saat, dan seketika nampak sungai bintang terhampar disepanjang lagit kota.

Mengapa harus memadamkan lampu kota?

21 July 2012

Menjadi Fasilitator Itu...

Pertama kali mendengar kata ‘fasilitator’, saat masih duduk dibangku kuliah, semester 5 tepatnya. Pada saat itu, sistem perkuliahan berubah jika dibandingkan 4 semester pertama yang sudah saya jalani sebelumnya. Pada semester 5 (yang juga berlanjut ke semester 6), saya dan teman-teman satu angkatan diperkenalkan pada metode baru, yakni PBL (Problem Based Learning). Kami, satu kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10-12 orang, kemudian diberi satu permasalahan (gizi) untuk kemudian diberi kesempatan beberapa hari mencari solusi dari permasalahan tersebut. Masing-masing kelompok didampingi oleh seorang fasilitator, namun tugas fasilitator ini sangat berbeda dengan para bapak-ibu dosen yang hobinya tugasnya adalah mengajar, memberi kuliah, berceramah, dan semacamnya.

Lantas dimana letak perbedaan antara ‘fasilitator’ dengan ‘guru/pengajar’?
Kalau berdasarkan yang saya rasakan pada saat kuliah dulu, pertama, terasanya fasilitator itu sederajat dengan mahasiswa. Tidak ada satu pihak yang merasa lebih tahu daripada yang lain. Tidak semudah membujuk seorang dosen/guru untuk menjawab pertanyaan dari kami saat ada yang tidak kami pahami, karena mereka (fasilitator.red) memang lebih cenderung untuk menuntun kita berpikir kritis, berargumen, ber-mungkin-mungkin ria dengan menggunakan logika serta ilmu pengetahuan yang dimiliki. Fasilitator juga, pelit bocoran ilmu, dan lebih suka memberikan petunjuk-petunjuk yang terkadang terasa sangat jelas, atau justru sebaliknya: makin menyesatkan. Tapi yang saya ingat, dalam proses diskusi itu, tidak ada jawaban yang salah. Semua benar, semua senang, semua menang. Tinggal pandai-pandainya seorang fasilitator untuk menuntun kami, satu kelompok kecil itu untuk menemukan ‘jalan yang semestinya’.

Sangat berbeda dengan guru/dosen yang lebih sering mentransfer ilmu melalui ceramah, praktek, dan semacamnya. Lebih sering terjadi komunikasi satu arah (walaupun dalam prosesnya, tetap ada diskusi dan tanya jawab). Selain itu, seorang guru atau dosen pasti sangat senang jika ada murid atau mahasiswanya yang bertanya, dan tidak akan segan-segan untuk membagi ilmunya, serta meluruskan kebingungan para muridnya.

Namun ternyata, menjadi fasilitator itu tidak semudah yang terilihat, kawan…

Bagaimana saya bisa tahu? Karena pada kenyataannya, saya sekarang adalah seorang fasilitator. Nutrition Project Facilitator, lebih tepatnya.

Yak,. Sampai juga saat dimana saya akan bercerita tentang pekerjaan. Ini sengaja saya tulis agar bisa meluruskan persepsi teman-teman terkait dengan apa yang saya lakukan di Dompu. Apakah disini memang benar bekerja atau jalan-jalan? Apakah disini memang tujuannya untuk mencari sesuap nasi atau menjelajah keindahan negeri? Apakah disini akan menetap untuk jangka waktu tertentu atau hanya sesaat? Karena pada kenyataannya, semenjak saya menjejakkan kaki di tanah Sumbawa, rasanya yang lebih sering terlihat adalah acara jalan-jalan, makan-makan, dan semacamnya. Beberapa waktu yang lalu juga salah seorang teman kuliah menyampaikan kalau si popcorn isinya jalan-jalan melulu, padahal ia ingin tau bagaimana pekerjaanku, bagaimana instansi tempatku bernaung, sistem kerjanya, dan semacamnya, karena temanku ini juga sebenarnya punya minat yang sama denganku, berkarir di NGO. Disamping itu, beberapa hari yang lalu juga si Gandi menanyakan tentang ‘fasilitator’ itu seperti apa. Katanya, “Keren aja gitu kayaknya, fasilitator…”, walaupun saya paham dengan sangat kalau kata ‘keren’ disitu merupakan kesimpulan singkat yang didapat hanya dari sebuah nama. Hehehe…

Kalau begitu untuk kali ini, ijinkan saya bercerita tentang fasilitator ya, kawan. Selamat menyimak… *Dipersilakan dengan hormat jika tidak tertarik dengan bahasan, untuk segera meng-klik ‘close tab’*
B-)

Terhitung selama dua minggu pertama setelah saya sampai di Dompu, NTB, masih di Indonesia, saya bersama beberapa kawan yang lain yang tergabung dalam tim proyek ini menjalani orientasi. Dalam proses orientasi tersebut, selain kami diberikan banyak informasi terkait sistem kerja juga peraturan lembaga, kami juga dibekali dengan “Teknik Memfasilitasi”. Kegiatan fasilitasi memang sudah bukan hal baru di dunia NGO, siapapun dia, apapun posisinya, harus bisa menjadi seorang fasilitator. Karena setiap ada semacam event atau kegiatan atau pelatihan atau semacamnya—terutama yang sifatnya partisipatif, kami harus bisa menempatkan diri sebagai seorang fasilitator, bukan orang yang serba tahu.

Saya sedikit kesulitan untuk mendefinisikan ‘fasilitator’ dalam bentuk satu kalimat utuh. Namun menurut saya, satu hal penting yang perlu dipahami untuk menjadi seorang fasilitator yang baik adalah kita tidak boleh menempatkan diri dan berperan sebagai guru, melainkan lebih ke arah mendorong untuk terjadinya proses berpikir. Mungkin kurang lebih sama dengan yang saya sampaikan di awal tadi, fasilitator dalam proses PBL. Agak pelit untuk berbagi ilmu (karena saya yakin bahwa sebenarnya mereka sudah tahu tentang jawaban-jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan sendiri), namun selalu membantu dalam mengarahkan ke proses berpikir yang kritis, yang ternyata bukan perkara yang mudah.

Keberhasilan dalam memfasilitasi sangat ditentukan oleh ketrampilan seorang fasilitator. Penggunaan bahasa yang bisa dimengerti oleh audience, kemampuan berbicara dengan keras dan jelas, serta ketrampilan menyederhanakan satu konsep yang sulit, menjadi tiga hal penting yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator. Disamping ketrampilan-ketrampilan lainnya yang lebih bersifat umum, seperti bersikap terbuka dan rendah hati, menempatkan diri sejajar dengan audience, mampu menghargai orang lain, dan sebagainya.

Apakah saya sudah memenuhi kriteria-kriteria tersebut? Dengan jelas dan yakin saya katakan: BELUM…!!!

Menjadi fasilitator, yang saya rasakan adalah susah-susah gampang. Sejauh ini, saya bersama tim proyek sudah memfasilitasi kurang lebih empat kegiatan, dengan latar belakang audience yang beranekaragam baik dari suku, ras, status sosial dan ekonomi, pekerjaan, dan lain sebagainya. Hal ini pastinya akan berpengaruh pada teknik memfasilitasi yang digunakan, disamping juga dipengaruhi oleh sumber daya yang dimiliki serta memfasilitasi dalam hal apa.

Beberapa kali menjadi fasilitator, juga beberapa kali difasilitasi, semakin memperkaya pengetahuan tentang kegiatan memfasilitasi. Tiap fasilitator selalu berbeda-beda, dan kesemuanya memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang agak lamban namun pasti, ada yang mengandalkan kecepatan berpikir, ada yang sangat mahir dalam mendengarkan, memiliki kemampuan kontak mata yang luar biasa sehingga bisa mengajak audience untuk terfokus padanya, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan saya? Hmmmm.. empat kali memfasilitasi masih belum cukup rasanya untuk bisa menyimpulkan ‘style memfasilitasi’ dari seorang Armae. Masih banyak yang harus saya pelajari. Saya, terkadang masih sering bersembunyi dibalik tameng ‘saya bukan orang Dompu’ hingga berharap bahwa orang-orang atau kelompok yang sedang saya fasilitasi memaklumi bahasa yang saya gunakan.  Beberapa kali juga saya merasa kalau saya berbicara terlalu keras—baik dari segi intonasi maupun suara. Tapi itu hanya terjadi sesekali, saat suasana diskusi mulai agak ricuh dan terjadi perdebatan yang sengit.

Ya, saya pernah mengalami hal itu. Saat memfasilitasi suatu kegiatan dan ada bahasan yang mungkin agak sensitif bagi beberapa pihak, akhirnya mereka berdebat dengan sangat sengit. Apa ya istilahnya? Sampai urat-urat lehernya terlihat, mungkin—walaupun yang berdebat itu kebanyakan adalah ibu-ibu yang memakai jilbab, jadi sebenarnya urat lehernya juga tidak kelihatan. Sempat muncul kekhawatiran bahwa setelah kegiatan itu berakhir, akan ada perang antar warga sebagai kelanjutan dari perdebatan dalam forum, namun untungnya sampai saat ini hal itu tidak pernah terjadi. Semoga tidak akan terjadi sampai seterusnya.
:">
Saya, dalam suatu kesempatan memfasilitasi kegiatan di desa
Materi yang menjadi bahasan dalam proses memfasilitasi juga menjadi satu kendala tersendiri untuk saya. Terkait dengan proyek yang berkaitan dengan masalah gizi dan kesehatan ibu dan anak, pastinya mau tidak mau juga akan membahas tentang gizi. Namun kalau boleh saya simpulkan, background pendidikan gizi yang saya miliki ini, selain ada sisi positifnya, juga ada beberapa hal yang berdampak negatif—walaupun sebenarnya bukan hal negatif yang membuatnya seperti itu. Bingung? Oke, akan saya jelaskan sedikit.

Kalau sisi positifnya, pastinya ilmu yang saya miliki baik yang berkaitan dengan gizi klinik maupun komunitas, sangat membantu dalam menggali informasi dan merumuskan permasalahan gizi yang ada di masyarakat, juga mencari solusi dari permasalahan itu. Namun, lagi-lagi penggunaan bahasa yang menjadi permasalahannya. Bahasa perkuliahan dan bahasa sehari-hari sangat berbeda. Seringkali saya merasa kesulitan untuk mencari padanan kata dari bahasa-bahasa medis maupun bahasa asing, yang kemudian harus diterjemahkan kedalam bahasa sehari-hari. Jika sudah membahas masalah gizi dan pesertanya hanya diam saja tanpa berkomentar apapun, bisa jadi itu suatu pertanda kalau saya harus mengulang apa yang saya sampaikan, dengan tempo yang sedikit pelan, serta pemilihan kata yang lebih baik. Terkadang berhasil, terkadang tidak. Tapi saya harus tetap berusaha untuk itu.
Pak Amin, Fasilitator dari Dinas Kesehatan Dompu
Hingga pada akhirnya, saya mendapat kesempatan untuk menyimak penuturan seorang ahli gizi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu dalam suatu kesempatan memfasilitasi. Beliau, pak Amin, yang juga merupakan mitra tim proyek kami, bisa menjelaskan tentang ‘gizi’ dengan sangat santai, sederhana, cepat, namun mengena di masyarakat. Pada saat itu saya hanya bisa melongo, terpukau, dan kagum. Whaoww saja rasanya, materi yang pada sesi kegiatan sebelumnya saya membutuhkan waktu seharian penuh untuk menjelaskan, dengan difasilitasi oleh pak Amin hanya membutuhakn waktu tidak lebih dari dua jam, dengan pencapaian dan tingkat pemahaman audience yang hampir sama. Angkat topi untuk ketrampilan pak Amin dalam memfasilitasi. Ini salah satu contoh nyata, bahwa ketrampilan seorang fasilitator akan sangat mempengaruhi proses memfasilitasi itu sendiri.

Selain kesulitan-kesulitan yang saya hadapi, pastinya juga ada kesenangan-kesenangan tersendiri dalam kegiatan memfasilitasi. Tidak jarang bersama para peserta, kami tertawa bersama saat mengerjakan suatu hal, atau kadang juga saya menertawai diri saya sendiri karena memperhatikan mereka berdebat dalam bahasa Dompu yang saya baru tahu beberapa kata saja. Saya belajar banyak dari masyarakat Dompu, tentang masalah gizi, kesehatan, juga kenyataan yang ada di masyarakat, yang kadang sangat terasa timpang jika dibandingkan dengan kehidupan saya di Jawa. Mitos-mitos yang berkembang di masyarakat juga menjadi satu hal menarik, yang entah mengapa saya selalu senang menyimaknya.
Ilmu yang paling berharga adalah pengalaman. Saya memang belum memiliki banyak pengalaman, namun bukan berarti saya tidak bisa belajar dari pengalaman-pengalaman mereka.
si Ulil, Memfasilitasi Workshop BIAAG Campaign
Beberapa hari yang lalu, saya dan teman satu tim juga mengadakan kegiatan yang cukup besar, paling tidak lebih besar dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya yang hanya dihadiri oleh beberapa belas orang. Acaranya memang hanya dua hari, namun full time dari pagi hingga sore. Ditambah lagi, kami berdua (saya dan Ulil) memutuskan untuk menerima tantangan dari ibu Officer, untuk memfasilitasi penuh kegiatan tersebut. Ibu Officer yang sangat baik hati itu hanya duduk manis didepan laptop, mengamati proses sambil menuliskan notulensi, sedang saya dan si Ulil bergantian menjadi fasilitator. Dua hari yang sangat menyenangkan, sekaligus melelahkan. Namun entah kenapa rasa lelah itu tidak saya rasakan saat menjalani proses memfasilitasi. Hanya pada saat kegiatan sudah berakhir, saya merasa berada dalam kondisi yang sangat lelah. Sempat bercerita pada seorang teman, kalau saya ingin mengeluh lelah. Namun keluhan tersebut saya sampaikan dengan cara yang menyenangkan.

Aneh, tapi begitulah yang saya rasakan. Saya ingin mengeluh lelah, tapi saya menyukai prosesnya, bahagia menjalani semua tugas-tugas yang harus saya selesaikan, namun tetap saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya sangat lelah. Hmmm… Apakah ini yang disebut dengan, “Bekerja dengan hati…?”, saat melakukan suatu hal yang sangat kita sukai dan tidak merasakan lelahnya, hingga akhirnya hal itu selesai kita kerjakan, dan hanya kebahagiaan yang tersisa, selain lelah yang masih meraja lela.

Kurang lebih sama rasanya
Seperti saat diri ini sudah berdiri di tanah tertinggi
Bongkahan batu besar dan pasir tak lagi membatasi jarak pandang dan langkah kaki
Lelah yang teramat sangat menjadi tak berarti
Saat kesempatan untuk menikmati samudera langit kembali mendatangi

Kalau saya ditanya, Kamu, sudah sampai mana …? Mungkin saat ini baru berani saya sampaikan, saya sedang meyakinkan diri untuk masuk ke dalam taraf hidup berbahagia. Semoga suatu saat bisa mencapai ke taraf hidup bermakna, saat bukan lagi hal-hal yang bersifat duniawi yang menjadi orientasi. Sulit, namun bukan berarti tidak mungkin..

;)

Anyway,. Selamat datang Ramadhan. Selamat melaksanakan puasa dan ibadah lainnya untuk saya dan kamu-kamu yang menjalankannya. Semoga Ramadhan tahun ini bisa lebih baik dari yang telah lalu, dan malam kesebelas nanti tidak akan berlalu begitu saja. Aamiin.. 

Pertanyaan iseng:
Lalu, apa beda fasilitator, moderator, dan presentator...? Ada yang bersedia menjawab..? Hihi :p

16 July 2012

Filosofi Kopi

picture source
Kopi, minuman hangat berwarna hitam pekat yang sudah sejak kecil saya kenal (dan saya sukai) ini, belakangan jadi sering saya bicarakan, entah bersama teman di kantor, atau teman-teman di dunia maya. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kegemaran saya mengkonsumsi kopi pada saat jam kerja. Apalagi yang saya minum adalah kopi hitam, kopi yang lazimnya di konsumsi oleh bapak-bapak.

Dulu, saat masih kuliah di Malang, intensitas nongkrong di warung kopi atau café memang cukup tinggi. Pada kesempatan itu, saya sering memperhatikan teman-teman saya yang lain, yang juga mengkonsumsi kopi. Kesimpulan yang bisa saya tarik, sebagian besar dari mereka bisa mempertahankan satu cangkir kecil kopi dalam waktu berjam-jam. Hal yang hingga saat ini tidak bisa saya lakukan, kecuali saya lupa kalau di cangkir kopi saya masih ada isinya, atau sedang (sok) sibuk mengerjakan hal lainnya. Ya, saya bisa meneguk habis secangkir kopi hitam hanya dalam hitungan menit, bahkan sebelum cangkir kopi tersebut mendingin. Dan kebiasaan itu, dianggap 'aneh' oleh beberapa orang.
Hingga teman saya ada yang mengatakan,

"Minum kopi itu dinikmati, sedikit-sedikit, dirasakan aromanya, dihayati tiap teguknya..."

Haadeuhh,. keburu kehausan saya. Lagipula, dengan meminum kopi tersebut selagi hangat, juga merupakan salah satu cara untuk menikmati kopi. Menikmati kopi ala 'Armae'
B-)

"Minum kopi itu ada filosofinya lho...."

Ini celetukan dari mas Abib, salah seorang teman (saya lebih suka menganggapnya sebagai kakak laki-laki) yang saya kenal saat masih kuliah di Malang. Saya penasaran dengan filosofi kopi yang ia sampaikan itu, karena memang sebelumnya tidak pernah saya dengar sama sekali. Hingga pada suatu kesempatan, ia menjelaskan pada saya tentang filosofi kopi, lewat message di facebook. Begini ceritanya...

Cerita filosofi kopi diawali dari Ben (sebagai tokoh utama). Sebagai seorang peramu kopi yang handal, Ben selalu berusaha mencari cita rasa kopi yang sempurna. Bersama Jody, temannya, ia berusaha meramu kopi yang mana kopi tidak hanya merupakan minuman namun juga memiliki arti yang mendalam. Dia berkeliling dunia demi mendapatkan kopi-kopi terbaik dari seluruh negeri serta berkonsultasi dengan para ahli peracik kopi. Hingga akhirnya, dia membuka kedai kopi yang diberi nama Kedai Koffie. Tidak sampai disini keinginan Ben, dia terus menciptakan menu-menu kopi yang menarik dengan merenungkan setiap makna dari kopi itu sendiri. Ben menarik arti, membuat analogi, hingga memberikan deskripsi singkat mengenai filosofi kopi dari setiap ramuan kopi yang disuguhkannya di kedai tersebut. Baginya, setiap kopi punya karakter masing-masing. Mulai dari café latte, cappucino, hingga kopi tubruk. Hingga dalam perkembangannya, dia mengganti nama kedainya menjadi Kedai Filosofi Kopi yang memiliki slogan "Temukan Diri Anda Disini".
Suatu hari ada seorang pengusaha kaya mencari kopi yang mempunyai arti kesuksesan. Pengusaha tersebut menginginkan sebuah ramuan kopi yang apabila diminum akan membuat kita menahan napas saking takjubnya, dan cuma bisa berkata: "Hidup Ini Sempurna". Berhubung kopi tersebut tidak ada, maka lelaki itu menantang Ben untuk membuatnya. Pengusaha tersebut menawarkan bayaran senilai 50 juta apabila Ben berhasil menemukan racikan sesuai dengan arti tersebut. Berminggu-minggu Ben habiskan waktu untuk melakukan uji coba. Kedainya berubah menjadi laboratorium seketika, hingga akhirnya Ben berhasil menemukan racikannya. Kopi tersebut berhasil memenangkan taruhannya. Sang pengusaha terkagum-kagum sembari memberikan cek senilai 50 juta. Kopi tersebut dinamakan Ben's Perfecto: Sukses adalah Wujud Kesempurnaan Hidup. Sejak Ben's Perfecto hadir, kedai kopi milik Ben menjadi sangat ramai dan keuntungan berlipat ganda.
Hingga suatu saat datanglah seseorang yang mencicipi Ben's Perfecto dan mengatakan bahwa rasa kopi tersebut hanya 'lumayan enak' jika dibandingkan kopi yang pernah ia cicipi di suatu lokasi di Jawa Timur. Ben dan Jody yang penasaran langsung menuju lokasi yang dimaksud. Di sana mereka menemukan sebuah warung kopi sederhana dengan nama 'Kopi Tiwus'. Ben dan Jody meminum kopi buatan pemilik warung reot tersebut tanpa berbicara sedikitpun, dan hanya meneguk serta menerima tuangan kopi yang disuguhkan. Ketika Ben menikmati kopi tersebut, Ben menyadari bahwa memang kopi Tiwus memiliki cita rasa yang lebih nikmat dari kopi buatanya selama ini. Akhirnya, Ben menyerahkan cek 50 juta yang dia dapat kepada penjual kopi di warung itu. Berhubung penjual kopi tiwus itu hanya orang desa, ketika diberi cek ia hanya menyimpanya di bawah bantal saja karena diangapnya bukan uang melainkan hanya sebuah kertas.
Ben yang merasa gagal kembali ke Jakarta dan putus asa. Untuk mencari tahu cara menghibur temannya, Jody kembali menemui pemilik warung di Jawa Timur tersebut dan sepulangnya dari sana, dia menghidangkan Ben segelas kopi Tiwus. Bersamaan dengan kopi tersebut, dia mnmberikan sebuah kartu bertuliskan "Kopi yang anda minum hari ini adalah kopi Tiwus. Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya".
Pada akhirnya Ben sadar bahwa selama ini ia mengambil jalan hidup yang salah. Apa yang selama ini ia lakukan ternyata bukanlah hal yang membanggakan, dimana semakin ia mengejar kesempurnaan justru ketidaksempurnaanlah yang akhirnya ia dapatkan. Pada akhirnya, Ben menyadari kesalahannya, namun ia terus melanjutkan perjuangan serta hobinya mengembangkan "Kedai Filosofi Kopi".


Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya...*)

*) Mas Abib tidak menyebutkan sumber dari tulisan ini,
dan saya hanya menulis ulang
apa yang ia sampaikan
lewat message facebook tersebut.
:)

12 July 2012

08 July 2012

What If,... Papua?

Tanah Papua. Apa yang ada dipikiran sohiblogger saat mendengar nama itu? :-/

Kalau saya, jelas, Puncak Cartenz!!! Setelah pernah merasakan menjejakkan kaki di tanah tertinggi pulau Jawa, juga pulau Bali, boleh doonk pengen nyicip tanah tertinggi Indonesia. Dan memang itu yang menjadi alasan utama mengapa saya tertarik dengan Papua.
B-)

Namun ternyata, memang tidak semudah berangkat ke Mahameru, atau gunung Agung, atau Arjuno, apalagi Penanggungan. Untuk mencapai ke tanah Papua saja sudah membutuhkan modal yang tidak sedikit. Belum lagi perijinan untuk mendaki Cartenz Pyramid berlapis-lapis, mulai dari ijin resmi ke Jakarta, ijin ke kepala suku disana, juga tambahan lainnya yakni freeport. Ehhmm,... Krikk kriikk.. Bingung dah.
#:-S

05 July 2012

Viva Espanyola

"Viva Espanyolaaaaaaaaa...." :D :D :D :D :D :D :D

Banyak banget yang menulis semacam itu sesaat setelah peluit berbunyi, dipertandingan 90 menit lebih sedikit antara Italia kontra Spanyol tanggal 2 Juli 2012 dini hari yang lalu. Tidak di facebook, tidak di twitter, semua sama. Kalau di blog kurang tau, yah harap maklum, predikat 'blogger egois' rasanya masih patut untuk disandingkan pada saya hingga saat ini. B-)

Postingan ini spesial, untuk kak Baha yang mengadakan acara taruhan berkaitan Euro 2012. Tenaang tenaaang, ini taruhan para blogger, jadi mainnya pun tidak menggunakan uang melainkan menggunakan postingan. Dan postingan kali ini, merupakan satu bentuk 'kekalahan'ku dalam taruhan tersebut. Bingung? Berarti belum baca postingannya kak Baha di blognya. Boleh klik disini.;) Masih bingung juga??? Hemmm,.. Silakan cari tiang listrik untuk pegangan. Jangan lupa pake sendal skyweyy biar gak kesetrum :)) #OkeSkippp

03 July 2012

Mencoba Bersahabat dengan 'X-Rav'

Masihh teringat jelas, tepat tujuh belas hari setelah kepindahanku ke Dompu, pagi-pagi, di Kalaki Beach Hotel, si Tante telpon dan ngasih tau kalau si item sudah di jual. Terjual dengan terpaksa lebih tepatnya. Yang maksa mo beli yaa pembelinya. Ga perlu aku ceritakan bagaimana detailnya, yang pasti, kejadian itu juga sebenarnya sangat mendadak dan tidak direncanakan oleh si Tante. Tapi akhirnya terjadi juga, si hitam yang sudah tujuh belas hari di rumah, nganggur, tak tersentuh, akhirnya berpindah tangan. Lengkap dengan stiker liverpool di bagian kiri bawah serta belakang, juga gantungan carabinair snap mini berwarna biru sebagai aksesoris kuncinya. Yang aku ingat, sempat terdiam sejenak sesaat setelah mendengar kabar itu.

Si item (cerita lengkapnya bisa diklik disini), yang sudah menemaniku selama enam tahun lebih tiga bulan, ku kira akan tetap bersamaku, seenggaknya sampai beberapa tahun kedepan. Tapi ternyata aku salah. Tiga bulan yang lalu mau ga mau aku akhirnya harus berpisah dengannya. Motor pertama yang aku miliki, yang sudah nemenin kemana aja. Perjalanan Gresik-Malang yang uda ga keitung berapa kali. Mulai diajak kebut-kebutan sampai di kendarai dengan penuh kasih sayang. Pernah dalam satu waktu melakukan perjalanan dari ujung selatan pulau Jawa sampe ujung utara. Dari di dataran rendah sampe ketinggian sekian ribu meter. Mantab dah. Sudah ngerti banget jelek-jeleknya tuh motor, semua kelebihannya juga. Saking sayangnya, dulu pernah ditawarin ama tante untuk beli mobil, tapi dengan syarat jual motor. Dan tanpa pikir panjang, langsung kujawab: Ogahhhh!!! :))

Ku kira tak akan tergantikan sosoknya, hingga akhirnya saat ini muncul sosok si 'X-Rav' <<< Namanya baru nemuuu beberapa saat sebelum bikin postingan ini. Hasil diskusi bareng si Lintank. Hahaha... :D. Siapakah 'X-Rav'??? Well, di postingan ini akan kuperkenalkan tentang sosoknya.

X-rav, Supra X 125 TC double cakram berwarna merah-hitam-silver jadi tungganganku saat ini. Menemani hari-hariku di Dompu, menjelajah perbukitan hingga pantai, jalan halus mulus hingga kacau balau, dan sebagainya. Sebenarnya, kenalannya juga belum lama, baru hari sabtu yang lalu (30 Juni 2012) pertama kali aku 'bercengkrama' dengannya. Langsung kubawa ke luar kota, ngebut sengebut-ngebutnya, trus ke puncak, dan makan jagung rebus disana. :D

Kalo mo dibandingkan dengan si item, pastinya beda banget yaa. Tipenya beda, cc nya beda, beratnya juga beda, dan yang paling utama adalah suaranya yang beda. Entah kenapa aku sukak banget dengan suara knalpotnya si item. Berat, gede, khas, mirip sama suaranya motor gede. Jadi enak kalo mainin perseneling dan gasnya secara bersamaan (ga ngerti istilahnya, tapi kalo bahasa nggersik-annya adalah 'mbleyer-mbleyer'). :)) Dan keasikan itu ga ku dapat saat aku mengendarai supra-x ato motor lain, entah saat pinjam punya teman atau bagaimana. Terutama supra-x sih, karena menurutku suara mesinnya ringan banget, terlalu ringan untuk performa motor yang lumayan.

Tapi ga lantas jadinya ga suka dengan si x-rav yaa. Karena pagi ini tadi, aku habis ber-quality time bareng dia. Berdua doank. Jadi rider lagi. Uda lama ga ngerasain bawa motor sendirian untuk perjalanan yang cukup jauh. Dan ya, ternyata masih semenyenangkan dulu. :">

Secara umum, bisa kusimpulkan kalo performa si x-rav lumayan. Kecepatan dan persenelingnya pas, seenggaknya sudah mendekati apa yang ada di speedometer lah. Rem tangan dan kaki-nya juga pas banget dengan settingan favoritku. Jokenya juga empuk. Shockbreakernya mantab, ga kalah kalo dibandingin Honda Tigernya om Joe. Teruus, emmhh, entah kenapa aku merasa si x-rav ini amat sangat terkendali. Ya, pergerakannya bener-bener dibawah kendaliku. Heran juga kenapa bisa seenak itu  pas nungganginya. Bahkan pada saat belok mo parkirpun, pergerakannya sangat halus. Bingung mendeskripsikannya. Enak aja dah pokoknya. Tapi disamping itu, suara klaksonnya aneh. Yakin dah, masih lebih enak klaksonnya si item yang umurnya sudah enam tahun lebih. :)) Tapi untungnya klakson bukan hal utama dalam sepeda motor, menurutku. B-)

Masih 106.9 km
Tenaang, jangan berpikir macam-macam dulu tentang kepemilikan motor ini. Ini motor punya kantor, fasilitas kantor, yang juga digunakan hanya untuk keperluan kantor (kalo ga ketahuan, boleh aja siii dipakek jalan-jalan :p). Tapi otoritas sepenuhnya ada ditanganku, seenggaknya sampai dua tahun kedepan. Yahh,. semoga bisa lebih cepat mengakrabkan diri dengan x-rav. Karena dia yang akan menemaniku hari-hariku selama aku berada di Dompu, plus carabinair screw silver, sebagai pelengkpnya. :)

Well,. goodbye item, and welcome x-rav...

"Kalo sesuatu pergi dari kamu, maka yakinlah, akan ada hal lain yang menggantikannya.
Hal lain yang entah kamu sadari atau tidak, jauh lebih baik dari yang sebelumnya"
:)