21 September 2012

Menengok Keindahan Desa Senaru

Desa Senaru, merupakan desa terakhir sebelum masuk ke jalur pendakian dari dan menuju puncak Rinjani. Jalur pendakian menuju puncak Rinjani sebenarnya ada banyak, namun yang paling umum digunakan adalah jalur Sembalun-Senaru atau sebaliknya, Senaru-Sembalun. Berhubung kemarin rombongan kawan-kawan saya sudah naik melalui jalur Sembalun, maka mereka akan turun gunung melalui jalur Senaru. Kalau mereka membutuhkan waktu empat hingga lima hari dari Sembalun—Puncak Rinjani—Senaru, saya hanya butuh waktu tak lebih dari satu jam dari Sembalun—Lihat puncak Rinjani dari Jauh—Senaru. Hehehe… :">

17 September 2012

Menyapa Puncak Rinjani

24 Agustus 2012,

Pesawat yang saya tumpangi mendarat juga dengan mulus di Bandar Udara Internasional Lombok. Jadwal masuk kerja masih tiga hari lagi (27 Agustus 2012), namun saya sudah meninggalkan rumah pada jumat pagi itu—bukan tanpa alasan pastinya. Begitu keluar dari bandara, sempat agak bingung juga mengingat tak ada kabar berita dari yang akan menjemput saya. Namun pada akhirnya kabar tersebut tidak saya perlukan lagi, karena sesosok laki-laki yang sudah dua minggu tidak saya jumpai muncul dihadapan saya. Om Joe. Yeah, lumayan kangen juga sama tuh orang. Hehe… Sempat ngemper sebentar di bandara, kami akhirnya memacu motor ke sekretariat Grahapala Rinjani, Universitas Mataram (UNRAM).

11 September 2012

Book Review: Sepatu Dahlan

Judul: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Tebal: 369 halaman
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Noura Books


…mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging. Siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku. Sungguh, aku butuh tidur. Sejenak pun bolehlah. Supaya lapar ini terlupa…

Novel ‘Sepatu Dahlan’ bercerita tentang perjalanan alam bawah sadar seorang Dahlan Iskan selama delapan belas jam saat menjalani proses operasi transplantasi hati. Perjalanan tersebut membawa Dahlan Iskan kembali ke kehidupan masa kecilnya beberapa tahun silam. Berlatar kehidupan sederhana masyarakat Kebon Dalem di tahun 1960-an, salah satu kampung di kabupaten Magetan, Jawa Timur, kisah Dahlan pada masa kecil itu dimulai. Dahlan yang kala itu baru saja menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), harus menghadapi kenyataan pahit yakni tidak bisa melanjutkan ke sekolah yang diinginkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.

07 September 2012

Oke, Award ke Duabelas,..

Sudah lama saya tidak bertemu award-award-an di blogsphere, hingga beberapa hari yang lalu salah seorang sohiblogger menyampaikan lewat kotak komentar di postingan yang lalu kalau saya mendapatkan award darinya. Yah, memang ini award ke duabelas yang diterima popcorn, namun sepertinya ini postingan pertama tentang award yang boleh dibilang tepat waktu, gak ngaret banget (jadi intinya masih tetap ngaret, kawan--walaupun tidak terlalu lama) untuk diteruskan. Oke, sekian pembukaan postingan kali ini, langsung saja ke topik utamanya.

04 September 2012

Untuk Bangunan yang Saya Sebut 'Rumah'

Saya tak yakin boleh menyebutnya sebagai ‘rumah saya’, karena pada kenyataannya tak pernah saya habiskan waktu terlalu lama berada disana. Hanya di beberapa akhir pekan saya beberapa tahun silam, hanya sebagian kecil dari waktu libur saya, saya menjadi bagian darinya. Mungkin jauh lebih tepat jika saya menyebutnya sebagai ‘Rumah Papa’. Ya, rumah Papa, karena saya ingat betul bagaimana perjuangan Papa dalam mendirikan rumah tersebut—didampingi oleh seluruh anggota keluarga lainnya pastinya.

Disalah satu sudut kota Gresik yang masih amat jarang penduduknya, disitulah bangunan tersebut berada. Kala itu saya masih berseragam putih-merah. Disana belum ada bangunan sama sekali, bahkan belum ada satu buah bata pun yang tersusun, hanya pondasi dari batu putih besar yang menjadi alasnya, sedang tanah-tanah liat masih menggunung, masih belum jelas bagaimana nasibnya. Saya dapat melihat langsung bagaimana waterpass bekerja, yang ternyata begitu sesederhana penggunaannya. Saya juga masih ingat saat saya menemani Papa yang mulai menyusun satu persatu batu bata merah yang ada, saya terkadang pergi menjauh dan masuk ke semak-semak atau padang ilalang yang ada di sekitar. Sering sekali Papa marah saat saya berbuat seperti itu. Beliau khawatir kalau saya atau adik saya terkena ular, atau binatang-binatang berbahaya lainnya. Maklum, pada saat itu, disekitar rumah yang sedang dibangun oleh Papa, merupakan tanah kosong yang penduduknya masih jarang. Sangat jarang. Cuma ada beberapa rumah disana, itupun jaraknya saling berjauhan.

Jauh sebelum itu, saat masih belum ada rumah itu, saat Papa sekeluarga masih tinggal di rumah nenek, saya ingat sekali bagaimana perdebatan mengenai denah rumah itu menjadi bagian dari agenda kami hampir setiap malam—tentunya saya hanya bisa menghadirinya saat weekend. Bagaimana ruangan yang satu diatur bersebelahan dengan yang lain, lalu digeser, posisi pintunya dirubah, dipindah lagi, diputar lagi menghadap kesana kemudian kemari. Begitu juga saat saya, kakak, serta adik saya berebut ingin dibuatkan kamar satu persatu, juga desain plafon yang berbeda (mohon dikoreksi jika tulisan saya salah). Ahh, manis sekali saat-saat itu. Hingga akhirnya desain itu jadi juga. Rumah dengan empat kamar, dua kamar berukuran sedang untuk saya dan kakak, satu kamar berukuran agak kecil untuk adik, satu kamar berukuran besar untuk Mama dan Papa serta adik saya yang paling kecil (pada saat itu adik saya yang paling kecil masih bayi) lengkap dengan kamar mandi dalam. Sebuah kamar mandi di luar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur beserta ruang makannya, garasi (yang pada saat itu masih belum yakin akan terisi oleh apa), serta teras samping yang rencananya akan dibuat rumah panggung. Ya, Papa tak ingin menghilangkan nuansa ‘rumah bugis’ disana. Untuk itulah disisakan sebagian kecil bagian dari rumah itu menjadi rumah panggung, lengkap dengan kolam ikan yang ada dibawahnya. Manis sekali kan…?

...hingga akhirnya rumah itu tegak berdiri, dengan tembok bercat putih bersih, pagar besi berwarna hijau, serta kusen dan pintu berwarna coklat khas kayu Ulin...

Di suatu pagi menjelang siang yang cerah, saat saya sedang bersekolah, Papa datang ke sekolah saya dan meminta ijin pada Kepala Sekolah untuk membawa saya pulang lebih cepat. Ya, saat itu adalah hari peresmian Papa sekeluarga pindah ke rumah baru. Rumah impian, kalau boleh dibilang. Karena sejak menikah dengan Mama, Papa baru bisa memiliki rumah sendiri saat itu, setelah sekian tahun pernikahan mereka. Bayangkan bagaimana bahagianya, akhirnya punya rumah sendiri yang dibangun dari nol, bahkan desainnya pun kami semua yang merancang. Bisa kalian bayangkan? Bahkan saat inipun saya tak bisa melukiskan kebahagiaan itu. Kebahagiaan Papa, Mama, Kakak, serta Adik-adik saya, juga saya pastinya.

Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk pembangunan suatu rumah. Namun begitulah Papa, dengan segala ke-perfeksionis-annya. Beliau lebih suka mengandalkan dirinya sendiri dan Om (adik Papa) untuk proses finishing rumah tersebut. Para tukang hanya membantu saat mendirikan tembok serta pemasangan atap rumah (kalau tidak salah ingat). Hingga hal itu berakibat pada penyelesaian rumah itu yang memakan waktu cukup lama. Namun semua itu jadi tak masalah, saat akhirnya kami semua bisa menikmati hasilnya. Rumah yang kokoh, sempurna di setiap detailnya, serta hidup. Hidup dalam arti yang sebenarnya. Karena rumah itu sudah ada didalam benak kami, masing-masing para penghuninya, bahkan jauh sebelum peletakan batu pertama. Alhamdulillah…

Namun ternyata rumah itu tak berumur lama ditinggali Papa sekeluarga, karena menginjak tahun kelima tinggal disana, Papa memutuskan untuk pindah ke Kalimantan. “Doing something crazy, something different”, kalau rumusnya Om Edy Mulyono, salah satu penulis favorit saya. Meninggalkan segala kenyamanan yang ada di Gresik, meninggalkan rumah impian yang sudah dibangun dengan susah payah, untuk memulai kehidupan yang baru di Kalimantan, di tanah kelahiran beliau, tepat saat saya masuk ke dunia putih abu-abu. Hingga akhirnya, bangunan yang saya sebut ‘Rumah’ itu berubah label, menjadi ‘rumah kontrakan’.

…dan delapan tahun itu berlalu. Hingga beberapa hari yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki disana. Dengan labelnya yang kembali seperti semula, ‘Rumah’…

Ada kesan asing saat menginjakkan kaki kembali disana. Tapi sungguh, tak bisa saya pungkiri bahwa masing-masing sudutnya menyimpan kenangan-kenangan masa kecil yang entah masih bisa saya jabarkan satu persatu atau tidak saat ini. Pastinya, ada rindu yang mendalam yang ingin segera tercurahkan saat itu juga, malam itu juga, ditengah wajah-wajah yang sudah sangat saya kenali, namun lama tak saya jumpai.

Ada seraut kebahagiaan terpendam saat melihat wajah Papa, kala beliau duduk di teras rumah itu, malam itu. Entah apakah Papa juga bisa melihatnya di wajah saya. Mungkin iya, karena Papa merupakan salah satu diantara sedikit manusia yang saya tak bisa menutupi suatu halpun didepannya. Sudah banyak sekali yang berubah jika dibandingkan delapan tahun silam, tapi nyawa dari rumah itu masih belum mati. Nyawa sebagai ‘Rumah Impian’ itu masih terasa, hingga malam itu saat saya berada disana.

22 Agustus 2012, 19.30pm
Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, tetaplah berdiri kokoh disana. Sekalipun di beberapa sudutmu telah mengalami pembaharuan, tapi saya berharap nyawamu tak akan mati. Hingga kelak generasi-generasi penerus Papa juga bisa menyaksikanmu, menikmati keteduhanmu, merasakan kehangatanmu, menghidupkan semangatmu, juga menjadikan kau sebagai saksi keberhasilan anak cucu Papa kelak.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, terimakasih telah menjadi ruang yang nyata bagi mimpi-mimpi kami, terutama menjadi salah satu mimpi terbesar Papa yang akhirnya menjadi kenyataan. Tetaplah menjadi ruang bagi kami, tempat bagi kami untuk ‘pulang’, karena tak ada satupun tempat yang layak bagi kami untuk pulang selain ‘rumah’ itu sendiri. Terimakasih pula telah menjadi ruang bagi kami semua untuk berkumpul, satu keluarga besar, keluarga dari Mama, tahun ini, Idul Fitri 1433 Hijriyah. Terimakasih banyak.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, mengutip salah satu quote di 5 cm-nya Donny Dhirgantoro,  
“Salah satu keindahan di dunia yang akan selalu dikenang adalah ketika kita bisa melihat atau merasakan sebuah impian menjadi kenyataan”,
dan melihatmu, menurut saya adalah salah satu dari keindahan itu.

Untuk bangunan yang saya sebut ‘Rumah’, ahh, saya tak tau harus menuliskan apa lagi…

02 September 2012

Buka Bareng, Reunian, atau Sesi Foto...?

"Ma, aku kaya'e gak ikut. Masi di RS, ada pasien baru"
"Lhaaaaa... Trus gak jadi balik Gresik juga?"
"Aku kesana gak nututi, ini ada pasien. Jadi..."
"Jam berapa kira-kira...?"
"Jam lima lebih baru cabut dari RS, paling sampe Gresik jam 6-an... Gak nututi ndukk..."
"Yaaahh... Pengen ikut nih, tapi gak ada temen bareng. Gak ada yang kenal deket lagi.."
"Ini aku otw pulang. Gak jadi ngeliatin pasien. Kalo misalnya buka di rumah piye? Kesanae nyusul"
"Gak masalah"
"..."
Kurang lebih begitulah percakapan saya dengan Tya via whatsapp, beberapa jam sebelum kami menghadiri acara Buka Bersama dan Reuni Alumni SMP Negeri 2 Gresik angkatan tahun 2004. Ehh, betul gak sih 2004? Saya jadi bingung. Kalau di SMP atau SMA, tahun yang digunakan sebagai penentu angka 'angkatan' itu tahun lulus kan ya? Berbeda dengan di perkuliahan yang mengambil tahun masuk. Begitu? Yah, anggap saja begitu. Intinya, saya lulus dari bangku SMP tahun 2004.Sepertinya... #ehh

Kalau tidak salah ingat, ini merupakan acara kumpul-kumpul pertama yang saya ikuti semenjak saya lulus dari bangku SMP. Whaowww.. Berarti sudah cukup lama ya? Sekitar delapan tahun yang lalu. Walaupun ada beberapa dari teman SMP yang alhamdulillah sampai saat ini masih terus berhubungan baik, diantaranya teman-teman yang melanjutkan ke SMA yang sama--meskipun jumlahnya tak banyak. Dan karena hal itulah, saya sedikit memaksa Tya untuk tetap ikut, karena yang penting bukan acara buka puasanya, melainkan kumpul-kumpulnya, bertemu dengan kawan-kawan lama, momennya, yang entah kapan akan ada kesempatan lagi.

Akhirnya setelah berbuka puasa dan sholat, saya langsung memacu si honda-beat-putih-yang-imut-itu menuju rumah Tya. Begitu sampai, berbasa basi sedikit dengan si Tante dan Om--orang tuanya Tya. Lumayan kenal juga si, tapi sudah lama gak main kesana. Gimana gak kenal? Orang temenan ama Tya sejak SD, dan sejak dulu juga sudah sering main kesana. Ya, Tya ini merupakan salah seorang sahabat cewek terbaik, dan terlama yang pernah ku kenal. :D

Begitu sampai di lokasi yakni di RM Warung Apung Rahmawati, Gresik, kami berdua tidak langsung masuk, melainkan mengkonfirmasi terlebih dahulu pada seorang teman, karena ingin memastikan kalau acara belum berakhir. Gak lucu juga kalo saat kami datang terus teman-teman yang lain mendadak pulang. Ya tho? Akhirnya setelah chat konfirmasi diterima, masuklah kami ke rumah makan tersebut yang ternyata kondisinya sudah amat sangat jauh berbeda dibandingkan saat terakhir saya kesana. Maklum, orang dari desa. Sudah lima bulan lebih gak lihat tampang kota *dipersilakan dengan sangat kalau mau ngakak :))

Dari jauh, sudah nampak keriuhan teman-teman SMP yang, hmmmm.. bingung harus berkomentar seperti apa. Pastinya sebagian besar tidak saya kenal. Ada yang saya kenal pun juga sudah amat sangat jauh berubah, kecuali beberapa sosok yang memang masih sering hadir dalam hari-hari beberapa waktu lalu. Selebihnya? Errrrrr.. Cuma bisa pasang senyum paling manis sambil bersalaman satu persatu. Tak lama setelah itu, disodorilah es teh dalam cup berukuran cukup besar kepada saya dan Tya.

"Makan gak...?" tanya si Yossi, ibu ketua pelaksana event ini.
"Kalo makan, dipesanin, tapi bayar yaa.. Kalo gak, yaaa gak jadi pesan. Dapat minum doank, gimana?"

Nah lo, naluri anak kos mulai bekerja. Berhubung sebelumnya sudah berbuka puasa di rumah masing-masing, saya dan Tya memutuskan untuk tidak makan lagi--lebih tepatnya gak pengen bayar lagi. Lumayan meen, tigapuluhlimaribu. Hahaha... #skippp

Ternyata eh ternyata, acara reunian plus buka puasa bareng itu belum selesai, tapi SUDAH AKAN SELESAI. Namun untungnya sesi yang paling penting diantara yang penting tidak saya lewatkan. Apalagi kalau bukan sesi dokumentasi? Dan seperti biassa, saatnya si G12 beraksii. Asseeeekkk... :D




 


Tak cukup didalam rumah makan, para rombongan 'model dadakan' ini berpindah lokasi ke parkiran mobil. Sempat nego dengan bapak tukang parkir sejenak, karena kami ingin mengambil sedikit lahan parkir sebagai lokasi pengambilan gambar. Gambar yang diambil juga sebenarnya hanya satu-dua jepretan saja. Tapi berhubung modelnya tidak hanya satu dua orang, jadilah, bisa kawan-kawan perkirakan sendiri bagaimana akhirnya.




Namun ternyata itu saja belum cukup, kawan. Hingga akhirnya tercetuslah ide dari, mmmhhh,. siapa yaa? Ntah siapapun itu. Intinya, acara malam itu belum boleh berakhir begitu saja. Harus ada lanjutannya. Dan lokasi selanjutnya yang dipilih--ntah untuk sesi pengambilan gambar lagi atau ada plus plus nya--adalah Wisma Ahmad Yani, jalan veteran Gresik. Berangkatlah para rombongan bersepeda motor itu dari rumah makan menuju wisma. Jalanan Gresik malam itu cukup ramai. Ah ya,. saya melupakan sesuatu. Sejak dulu, jika saya perhatikan, jalanan di Gresik selalu ramai saat malam bulan puasa. Kenapa ya...?

Wisma Ahmad Yani, lagi-lagi membuat saya memutar memori di otak, tentang kejadian beberapa waktu silam. Terakhir saya kesana, saat melihat pertandingan basket antar SMP beberapa bulan yang lalu, sebelum keberangkatan saya ke Dompu. Berarti sudah berbulan-bulan yaa? Tak terlalu banyak yang berubah, walaupun tetap saja merasa asing dengan tempat itu. Lahh, kok jadi nostalgia sendiri begini? Ahh, skiplah. Balik ke acara rame-rame tadi. ;)

Ternyata apa yang saya perkirakan benar adanya. Sesi utama pastinya pengambilan gambar--lagi. Jeprat jepret sana sini, pake si G12 atau kamera gede punya teman--Niko!!! Niko namanya, yang bawa kamera gede itu. Sebelumnya saya tidak tau sama sekali. Saat ada kesempatan ngobrol baru saya tanyakan namanya. Oke, Niko. Catat!!! Semoga gak lupa. Yah, setidaknya saya bisa menghafal satu nama dari sekian banyak nama yang ada setelah acara itu. Harap maklum, dari dulu saya memang agak lemah dalam mengingat nama. Beda dengan angka. Seandainyaa nama manusia itu berupa angka... #plakkk

Di akhir acara, akhirnya kami semua punya kesempatan untuk duduk bareng, ngobrol bareng, dan berdiskusi untuk acara-acara kedepannya. Beberapa harapan akhirnya terlontar, beberapa keinginan akhirnya tersampaikan, beberapa keluh kesah pun tertuangkan. Semoga apa yang kita rencanakan untuk kedepannya bisa terlaksana yah, dan kita diberi kesempatan untuk bertemu lagi, di lain waktu yang pastinya amat sangat jauh lebih baik.
Ibu ketua pelaksana dan Ibu bendahara event ini ^^
tango... yeah.. hahha
Mohon maaf kawan, harus pamit terlebih dulu malam itu dan tidak bisa mengikuti acara hingga akhir, karena satu dan lain hal yang harus saya selesaikan. Ternyata memang bukan acara buka puasanya, bukan juga tentang foto-fotonya. Jadi terus apa? Ahh,.. Biar hanya hati saya saja yang tau. Pastinya saya sangat bahagia, punya kesempatan untuk bertemu dengan kalian semua, menjabat tangan kalian satu persatu, bercanda tawa, seperti saat kita masih SMP dulu. Walaupun masih ada beberapa dari mereka yang tak hadir yang sungguh ingin saya temui. Yahh, mungkin memang bukan malam itu, tapi suatu saat nanti. InsyaAllah...

*Pas momen ini saya belajar banyak tentang cara pake G12 dengan blitz, tapi tetap dengan mode manual. Mohon maaf kalo hasilnya kurang maksimal. Tapi dibalik itu, asik juga ternyata. Boleh deh kapan-kapan lagi, dan masih harus belajar banyak pastinya. Hihi...

***

Ternyata ada cerita unik dibalik acara malam itu...

Beberapa jam, atau hari, atau malam setelahnya, entah saya lupa pastinya, ada seorang blogger yang bertanya pada saya via twitter.

"Dhek, alumni SMP 2 Gresik ya...?"

FYI, yang bertanya itu adalah blogger Gresik, Mas Roni, pemilik 'Nukilan Kecil', yang sudah saya kenal beberapa waktu yang lalu di blogsphere. Saya memang belum pernah bertemu dengannya, tapi saya tau kalau beliau ini merupakan orang Gresik--lihat dari profil bloggernya.

Pada saat itu saya sedang hiatus dari dunia maya, jadi saya tidak bisa membalas mensyennya saat itu juga. Hingga akhirnya, datanglah sms dari seseorang tak dikenal, yang belakangan mengaku kalau dia adalah blogger Gresik yang saya ceritakan di atas.

Dalam obrolan singkat via sms itu, satu kekonyolan luar biasa akhirnya saya sadari. Bahwa ternyata, mas Roni yang sudah saya kenal berbulan-bulan yang lalu ini ternyata adalah teman seangkatan saya di SMP 2!!! Ohh meeenn,.. Its really whaowww. Bener-bener gak percaya waktu saya diberi tau tentang hal itu. Si Mas Roni nya juga awalnya gak yakin. Tapi begitu di akhir sesi ketemuan, saat semua teman diminta menuliskan biodata masing-masing termasuk beberapa akun jejaring sosial, barulah mas Roni yakin kalau cewek berbaju pink ini adalah saya. Hahaha... :">

Sebagai penutup, saya cuma menyampaikan satu permohonan padanya, masih lewat sms,

"Mas mas, boleh yaa tetep panggil 'mas Roni' aja. Sudah terlanjur terbiasa soalnya. Hehe..."
"Ok 'dhek'. Hahaha... Iyah, udah kebiasaan sih. Anggep ajalah itu yang bedain aku dengan teman-teman yang lain. Hehe..."

...anyway, inilah kopdar pertama saya dengan seorang blogger. 'kopdar tidak terduga', lebih tepatnya. :D

***


"Tak semua hal bisa terekam dengan jelas hanya dari sebuah gambar. 
Namun semoga gambar-gambar serta tulisan sederhana ini bisa membantu menerbitkan sedikit senyuman di wajah kawan-kawan semua,
kelak saat benda berukuran sekepalan tangan orang dewasa dalam tempurung kepala ini tak mampu lagi bekerja dengan maksimal"

Mmmh,. satu lagi,

"Kalau gak sekarang, kapan lagi...?"
-mungkin ini salah satu momen dimana label tersebut boleh saya sematkan-