06 December 2013

Saya Kembali Membaca!

Sudah hampir dua minggu berjalan, hobi lama saya kembali saya tekuni: Membaca! Terutama membaca novel yang selalu berhasil membawa pikiran saya melanglang buana, menembus batas tepian pulau dan menyeberangi laut, berkelana melintasi benua, yang bahkan belum pernah saya saksikan secara langsung dengan mata. Tapi yah, itulah kehebatan imajinasi manusia.

Dalam dua minggu ini, sudah dua buku setebal sekian ratus halaman yang sudah selesai saya baca. Masih ada empat buku lagi yang menanti, tiga diantaranya masih tersegel dengan rapi.

Yapp, dalam perjalanan ke Lombok minggu lalu, saya menyengaja singgah di Gramedia Mataram untuk belanja buku. Satu aktifitas yang sudah saya idam-idamkan sejak masih duduk di bangku kuliah, saat keputusan membeli satu buah buku berarti harus menghemat makan selama beberapa hari.


Dulu, rasanya selalu iri saat berbaris di kasir toko buku dan melihat seseorang dengan belanjaan buku yang jumlahnya banyak, bahkan melebihi sepuluh buah! Saya tidak peduli apa jenis buku yang mereka beli, entah itu komik, buku pelajaran, novel populer, atau sekadar buku teka-teki silang. Intinya saya takjub dan saya ingin sekali merasakan hal yang sama: saat saya bisa membeli buku-buku yang saya inginkan tanpa sibuk menghitung-hitung harganya, dan mengkhawatirkan apakah lembaran rupiah didompet dapat menutupinya atau tidak.

Hingga akhirnya saat itu saya membuat kesepakatan pada diri sendiri, bahwa kelak jika sudah berpenghasilan, saya harus menyisihkan sebagian penghasilan saya tiap bulan untuk membeli buku, minimal satu buah. Tidak sulit kan?

Namun ternyata hal tersebut belum bisa terlaksana, bahkan hingga saat ini. Saat ternyata saya sudah berpenghasilan sendiri, hidup sendiri, ternyata disekitar saya sangat sulit saya temui toko buku. Hanya ada satu toko buku kecil, di kota kecil, di salah satu pulau kecil, dan sungguh kondisinya sangat mengenaskan. Koleksi bukunya sangat sedikit, sebagian besar buku pelajaran sekolah, yang kondisinya sudah usang. Hemmm...

Kalau mengingat kondisi sekarang ini, sebenarnya saya punya pilihan lain, yakni membeli buku secara online. Tapi kawan, nyatanya mengunjungi toko buku dan berbelanja buku secara online adalah dua hal yang berbeda. Kita tidak bisa melihat-lihat buku jika berbelanja online, kita harus memasukkan judul buku yang kita inginkan, tidak bisa memilih sendiri sambil berputar-putar dari rak satu ke yang lain, dari roman ke sastra, dari buku kesehatan hingga resep masakan, atau buku lama hingga buku terjemahan. Tidak bisa! Dan saya termasuk salah satu penikmat aktivitas di toko buku yang semacam itu.

Kemarin saja saat di Gramedia, total saya menghabiskan waktu dua jam lebih. Jika tidak karena sudah terlampau larut, mungkin akan lebih dari itu. Lantas apa saja yang saya lakukan? Saya membaca! Dua buah buku berhasil saya habiskan dalam waktu tersebut, sambil menahan pegal di kaki karena memang tidak disediakan kursi. Jadilah, berbagai macam pose saya peragakan, demi supaya betah berdiri selama dua jam sambil membawa buku yang tidak bisa dibilang tipis. Nah, jika belanja online, bisakah saya menikmati momen-momen semacam itu?

Baiklah, mungkin sekian saja cerita saya tentang buku dan belanja buku hingga mencapai harga yang cukup fantastis untuk saya. Tapi okelah, tak ada ceritanya perhitungan untung rugi. Sekalipun mungkin buku yang sudah saya beli hanya saya baca satu kali, sebagai penikmat buku, menjadi suatu kebanggan tersendiri buat saya jika buku yang saya baca, memang milik saya sepenuhnya.

"Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan buku,
dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku"

Anda, setuju? ;)

*
Saya jadi ingat, beberapa bulan yang lalu ada seorang sohiblogger yang bertanya pada saya, 
"Jika 4 dari 5 panca inderamu ditarik Tuhan, pilihlah satu yang ingin kau pertahankan..."
dan tidak butuh waktu lama, saya pun menjawab,
"Mata..."
"Alasannya?"
"...karena melalui mata, Tuhan seringkali mengingatkanku untuk bersyukur"
Mungkin juga, termasuk rasa syukur saat saya bisa membaca... :)

02 December 2013

Pekan Kondom Nasional (?)

Boleh dibilang ini tulisan agak terlambat, karena nyatanya saat ini (2 Desember) sudah masuk pada Pekan Kondom Nasional, yang jatuh pada tanggal 1-7 Desember (sumber: detik.com). Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu saya baca sekilas di timeline twitter, facebook, dan lain sebagainya yang membahas tentang ini. Tapi berhubung hari ini baru balik ke kantor setelah numpang nginap di Lombok selama seminggu, jadilah, tulisan ini baru bisa saya buat --yang sebenarnya juga tidak terencana.

Kemudian pikiran saya kembali terusik saat beberapa waktu yang lalu TL twitter saya sedikit diramaikan dengan obrolah dua orang sohiblogger berseberangan pulau diujung sana, ini bahasannya:


Hemmm,.. Saya bisa jamin, bahwa sebagian besar teman-teman yang mengetahui tentang #PekanKondomNasional tersebut menjawab tidak setuju. Bahkan mungkin ada juga yang mengecam, sampai demo ini itu dan lain sebagainya. Nggak percaya? Coba aja teman-teman search di google dengan kata kunci "Pekan Kondom Nasional", dan lihatlah di beberapa baris teratas, tulisan-tulisan dengan nada menentang menjadi yang paling populer.

Sekarang mari kita balik lagi ke pertanyaan yang mungkin ada di seluruh kepala manusia yang mendengarkan tentang Pekan Kondom Nasional ini. Mungkin pertanyaannya tidak akan jauh dari, 
"Buat apa?"
"Perlukah?"
"Gak ada cara lain apa yaaaa...?"
atau kalo ngikut kata Uchank di gambar diatas, "Seriously? Di kampus? Gilaaak!"
...dan lain sebagainya.

Saya tidak bermaksud meremehkan pengetahuan dan rasa perhatian teman-teman semua terhadap masalah yang ada disekitar kita saat ini, termasuk mengenai pergaulan bebas yang konon katanya merupakan salah satu penyebab utama tersebarnya virus HIV secara luas. Tapi, pernahkan teman-teman benar-benar mencari tahu tentang kondisi tersebut?

Kalau tidak pernah, berarti kita sama. Saya juga tidak pernah secara sengaja mencari tahu tentang hal itu, apalagi dalam lingkup yang cukup luas. Tapi, karena project yang sedang saya jalani disalah satu pulau kecil di Nusa Tenggara Barat inilah, akhirnya saya dipaksa untuk berhubungan dengan hal tersebut. Panjang ceritanya, tapi satu yang pasti, salah satu goal dari project kami adalah untuk mempromosikan tentang dampak negatif dari pernikahan anak (pernikahan yang dilakukan di usia anak, yakni <18 tahun). 

Kaitannya dengan pergaulan bebas apa? Yakni karena sebagian besar dari mereka yang 'terpaksa' melakukan pernikahan anak, adalah karena pergaulan bebas, hamil duluan, marriage by accident, atau apalah itu istilah yang populer. Saya tidak bisa pastikan berapa prosentase besarannya, karena sebagian besar informasi itu saya dapat secara kualitatif, hasil ngobrol dengan teman-teman di desa, termasuk juga dengan 'korban'. Begitu mendengar hal itu, jujur saya merasa sangat miris. Bahkan saat pertama kali mendengarnya, saya hampir tidak percaya. Sampai akhirnya pada suatu forum, saya melihat dan mendengar secara langsung, mereka menyampaikan dengan tanpa sungkan sedikitpun, bahwa mereka memutuskan untuk menikah di usia anak (dan tentunya berhenti dari sekolah) karena hamil duluan. Ohh God,.. Kiamat segera datang!!! Pekik saya dalam hati. (Salah satu kisahnya bisa teman-teman baca ditulisan ini >>> Berawal Dari Kesalahan)

Lebih dari separuh desa dampingan yang saya masuki diawal, hampir selalu ada pembahasan mengenai pergaulan bebas, pernikahan pada usia anak, juga kehamilan di usia anak, yang tentunya berkontribusi pada angka kurang gizi dan gizi buruk di wilayah ini. Kami juga tak lupa untuk membahas solusi dari permasalahan tersebut. Dan, bisa teman-teman tebak solusi apa yang keluar? Nyatanya tidak akan jauh dari penyuluhan, penyampaian informasi tentang dampak negatif pernikahan anak, penguatan dari sisi agama, pengajian, dan lain sebagainya. 
Apakah hal itu sudah pernah dilakukan sebelumnya? Jawabannya SUDAH.
Dan apakah hal tersebut berhasil menyelesaikan permasalahan yang ada? Dengan lantang mereka menjawab, TIDAK.

Di suatu forum tak resmi lain, saat saya berkesempatan mengobrol dengan salah seorang bidan desa, beliau menyampaikan bahwa hampir 30% ibu hamil yang ada di desa tersebut berusia dibawah 18 tahun. Angka yang sungguh fantastis. Beliau sampai kehabisan akal bagaimana mengatasi permasalahan itu. Saya ingat, saat itu saya juga bersama dengan ibu manajer. Dan, ibu manajer saya sendiri rasanya sudah kehabisan akal. Hingga akhirnya muncul satu pernyataan darinya yang tidak bisa sepenuhnya saya tentang,

"Saya kira, kalau dari sisi preventif kita sudah maksimal namun nyatanya tidak menghasilkan sesuatu, mungkin bisa kita berikan sedikit saran, paling tidak, berhubunganlah dengan bertanggung jawab. Berhubunganlah dengan aman, tanpa risiko tertular virus HIV atau menjadi hamil. Mungkin kita sudah sampai pada titik itu untuk saat ini..."

Perdebatan setelah keluarnya pernyataan itu cukup panjang. Hingga akhirnya berhasil membelokkan sedikit idealisme saya, bahwa ide tersebut bukanlah ide yang sangat buruk. Saya jadi ingat tentang peristiwa penyediaan jarum suntik gratis untuk pengguna narkoba guna menekan penyebaran virus HIV (tulisan selengkapnya teman-teman bisa baca di sini >>> Junkies yang Terfasilitasi dengan Sejahtera). Teman, hal ini sudah terjadi sejak lama, saya menuliskan itu awal tahun 2011. Bukannya, program itu tidak jauh beda dengan membagi-bagikan kondom? Suatu tindakan terakhir yang boleh diperbuat, atau lebih tepatnya bisa diperbuat.

Mungkin pemerintah kita sudah sampai pada tahap putus asa untuk mencegah dan menanggulangi permasalahan tersebut. Karena saya yakin, mereka yang melakukan pergaulan bebas sebenarnya sudah tahu apa risikonya, apa dampaknya, sebenarnya boleh tidak dari segi norma dan agama. Saya yakin kita semua sudah cukup pintar untuk hal itu, namun nyatanya hal tersebut tidak cukup kuat untuk membentengi diri.

Apakah ini solusi terakhir?

Saya rasa tidak. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan, namun PR besarnya adalah hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan singkat. Harus ditanamkan semenjak kecil, semenjak seseorang baru masuk kedalam usia remaja, usia produktif, atau bahkan jauh sebelum itu.

Kalau boleh memakai bahasa yang lebih sederhana, yang sudah terlanjur terjadi ya biarlah, menyesali dengan sangat juga tidak bisa mengubah keadaan. Tapi untuk generasi selanjutnya, tentunya masih banyak yang bisa kita perbuat.

Sudah bukan saatnya lagi merasa tabu untuk memperkenalkan tentang sex education kepada anak kecil. Pilihannya hanya dua, kita sebagai orang terdekat yang menyampaikan secara terperinci dan jelas, dengan segala tanggungjawab dan risiko yang harus diemban, atau mereka, anak-anak kecil itu, mencari tahu sendiri kebenarannya termasuk 'mempraktikkan secara langsung'? Silakan teman-teman pilih.

Mengenai media, sebenarnya sudah banyak. Buku ini adalah salah satu contohnya. Walaupun saya belum membaca secara keseluruhan, tapi saya yakin ini adalah salah satu pilihan yang bisa saya perbuat kelak, kalau sudah berkeluarga. Selain tentunya pendidikan Agama yang seharusnya sudah ditanamkan kepada anak sejak kecil, sebelum ilmu-ilmu pengetahuan yang lain masuk.

Jadi, bagaimana pendapat teman-teman mengenai Pekan Kondom Nasional ini? Speak up yahh :D

11 November 2013

Maria Tsabat

Ada saat dimana saya kesulitan mengerti tentang apa yang sedang saya baca. Jika sudah seperti itu, saya akan kembali mengingat perkataan seorang sahabat, yang disampaikan pada saya beberapa tahun silam --saya tidak yakin dia masih ingat pernah menyampaikan hal tersebut.

"Biarkan buku itu yang bercerita. Lupakan segala ekspektasi orang tentangnya. Nikmati saja, baca saja sampai selesai. Hingga nanti pada akhirnya kamu akan mengerti bagaimana kisahnya, bahkan sebelum kamu menyadarinya..."

Kejadian seperti itu tidak hanya sekali saya alami, tapi tidak juga selalu mengalaminya. Hanya beberapa kali, pada beberapa buku yang berbeda, dan buku yang sedang saya bahas ini adalah salah satunya.

Mungkin, saya memang bukan pembaca yang baik. Dengan penuh keegoisan saya mengabaikan alur cerita. Saya hanya membaca, membaca, dan membaca. Membalik halaman demi halaman, menikmati setiap monolog yang disajikan. Ada kalanya saya paham dengan satu paragraf utuh yang bisa jadi menghabiskan berpuluh-puluh baris, kemudian terkaget dengan belokan alur yang terlampau ekstrem, hingga pada detik berikutnya saya kembali mengerutkan dahi.

Ada banyak 'aku' dalam buku ini, begitu juga dengan 'saya', 'kamu', apalagi 'dia'. Perselisihan enam--atau tujuh--tokoh didalamnya mewarnai setiap lembar kisah yang terpotong menjadi beberapa kepingan puzzle. Dan yah, kesimpulannya singkat saja, saya sangat menikmatinya--dalam bentuk potongan-potongan kisah, bukan dalam satu paket buku sebanyak tiga ratus delapan puluh enam halaman.
 
Sudah sampai di akhir, saatnya kembali ke awal lagi. Mengijinkan beberapa endorsements untuk masuk ke ruang pikir, yang pastinya tak akan terlalu banyak menyita keputusan saya untuk menyukai buku ini. :)
 

Jadi, kalau saya memutuskan untuk jadi penggemar seorang Herlinatiens hanya karena satu buku ini, tidak masalah bukan? Sungguh sama sekali tidak membuat saya kapok mengerutkan dahi karenanya. Bahkan sudah terbersit keinginan, bahwa ingin juga saya menikmati kisah-kisah suram darinya yang lain. Yang ternyata sudah ada sejak beberapa tahun silam, namun saya tak pernah menghiraukannya. Tapi, boleh jadi memang saya tidak bohong, saat saya katakan bahwa 'Herlinatiens' bukanlah nama yang asing buat saya. Well, satu lagi karya sastra Indonesia yang bisa saya nikmati. Terimakasih ya :)

Sebenarnya, saya ingin menyampaikan satu atau dua kalimat yang paling saya suka dari buku ini, seperti yang terdahulu. Namun ternyata, semakin saya pilah-pilah, semakin saya bingung. Saya menyukai setiap kalimatnya, setiap rangkaian katanya, setiap titik-komanya. Di masing-masing halaman yang terbaca, disana pula dengan mudah saya temukan keindahan-keindahan itu. Bukan dalam satu tumpukan cerita, melainkan bait-bait kata setiap jiwa. Perindu, yang mencinta. Yang bukan hanya sekadar kisah antara dua manusia.
 
...jadilah penikmat buku, yang lebih dari sekadar mengkhatamkannya.
Happy reading, kawans...
:)

29 October 2013

Main Bareng Komunitas Lubang Jarum Indonesia

Jadi, beberapa hari yang lalu saat saya ke Jakarta,--lho lho, kok tiba-tiba nyebut Jakarta? Padahal rencana kemarin kan mainnya cuma ke Malang aja? Hehe, panjang ceritanya kawan. Yah intinya selama 10 hari saya meninggalkan kantor, 2 hari saya habiskan di Malang, 3 hari saya habiskan di Gresik, dan sisanya langsung cabut ke Jakarta. Ada kerjaan. Oke sekian itu saja penjelasannya. Dadakan? Iya, baru direncanakan hari Senin (14.10.2013) dan hari Rabu-nya (16.10.2013) saya sudah harus berangkat. Sudah jelas ya? Okesip.

Oke, lanjut ceritanya. Jadi, di Jakarta itu ada Millenium Challenge Forum & Expo (MCFE), dan tempat saya bekerja, Plan Indonesia, ikut ambil bagian dalam acara itu. Acaranya di JCC, tanggal 18-20 Oktober 2013. Dan ternyata, pas tanggal 19-20nya, Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) juga ikutan acaranya #HaiDay di Parkir Timur Senayan. Satu kompleks kan tuh ya? Jadilah, tak ingin membuang kesempatan, begitu acara di JCC selesai, saya langsung ke boothnya KLJI. Sebelumnya sudah janjian sama dedengkotnya KLJI *baca: Arie Haryana, jadi ya enggak bingung. Walaupun kudu tanya ke bapak security di JCC mengenai lokasi parkir timur Senayan. Yapp, saya benar-benar buta Jakarta, kawan!


Begitu ketemu sama boothnya, langsung deh nyariin si Arie. Gak butuh waktu lama, akhirnya ketemu juga. Yeah...! Heboh? Enggak, biasa aja. Kayak udah pernah ketemu, kayak udah kenal lama, padahal selama ini komunikasi cuma via fb, twitter, blog, whatsapp. Begitulah, aneh memang. :|

Pas hari pertama kesana, sudah agak sore. Jadinya belum bisa ikutan workshopnya. Sore itu, Arie cuma ngenalin sedikit tentang kamera lubang jarum, dan sempat ngambil satu gambar: si Nikon D3100. Dia ngasih tau prinsipnya aja seperti apa, tentang kamera lubang jarum yang tanpa lensa, dan merupakan penggambaran paling sederhana dari cara kerja kamera. Untuk bahannya sendiri, bisa menggunakan apapun asal prinsipnya kedap cahaya dan warnanya gelap tidak mengilap. Di booth KLJI tersebut saja, saya sudah bisa melihat beranekaragam jenis kamera lubang jarum, mulai dari yang terbuat dari kaleng rokok, kaleng snack, batok kelapa, kardus bekas, dan lain sebagainya. Sambil ambil gambar, sambil ngobrol-ngobrol, karena udah sore juga, jadi exposurenya harus lebih lama. Begitu selesai, pengalaman pertama masuk kamar gelap jadi sesuatu yang whaowww. Hasilnya gak bagus-bagus amat, tapi saya tetep takjub dibuatnya. Keren euiyyy *kasih jempol :-bd


Keesokan harinya, kan hari terakhir MCFE tuh, Ibu Manajer yang terhormat sepakat kalo kami bakal beres-beresin booth selepas jam 12 siang. Padahal acara penutupan masih jam 3 sore. Begitu mendengar hal tersebut, langsung girang deh saya. Artinya, bisa main di boothnya KLJI lebih lama. Persis seperti yang saya rencanakan hari sebelumnya.

Sebelum ke acara #HaiDay *lagi*, saya singgah dulu makan di warung sebelahnya JCC. Pas disitu, saya ketemu sama Josh. Joshua Meares lengkapnya. Josh ini aslinya dari Texas, USA, yang sekarang sedang bekerja di World Relief, salah satu iNGO juga yang bekerja di Indonesia. Dia adalah salah satu pengunjung boothnya Plan Indonesia, dan kami sempat berkenalan dan ngobrol banyak disitu. Pas saya tanya, setelah ini mau kemana, dia bilang mau mengikuti acara penutupan MCFE, tapi masih dua jam lagi. Akhirnya, saya cerita deh kalo mau ikutan workshopnya KLJI. Gak nyangka dianya tertarik, jadilah, jalan kaki ke parkir timur Senayan gak sendirian. Kami ngobrol panjang lebar, terutama mengenai Indonesia. Oia, Josh ini baru satu tahun di Indonesia, tapi bahasa Indonesianya sudah bagus banget menurut saya. Sekalipun kadang dia agak bingung menerjemahkan satu kata. Kalau sudah seperti itu, pasti Englishnya keluar deh. Hehe...

Begitu sampai di booth KLJI, kami berdua langsung ikutan workshop. Bikin kamera lubang jarum sendiri, dipandu langsung sama Arie. Satu-persatu stepnya kami ikuti, mulai dari menipiskan lempengan aluminium *sempat gagal dan bikin lagi dibagian ini*, terus ngelubangin yang ternyata ada teknik khususnya, masang lempengan aluminium ke kaleng *yang ini juga harus nyoba beberapa kali sampe berhasil*, terus pasang lakban di sekeliling penutupnya. Kalo yang ini, si Josh yang heboh, sampai-sampai dua kakinya juga ikut bekerja. Hahaha,..

konsentrasi penuh merakit kamera dari kaleng :D

Begitu kamera sudah jadi, kami langsung mencari spot untuk pengambilan gambar. Josh memilih mengambil gambar Kopaja yang ada di lokasi pameran itu, sedang saya memilih untuk mengabadikan logo Plan yang ada di goodybag yang saya bawa. Cinta almamater banget kalo ini mah. :p Begitu selesai, Arie juga gantian ngasi tau kami caranya nyuci hasil jepretan di kamar gelap. Dan, ini dia hasil jepretan pertama sayaaa... *sambil jingkrak-jingkrak kegirangan* :D


Siang itu, kami juga sempat bertemu dan berkenalan dengan om Ray Bachtiar Dradjat, pendiri KLJI. Kata mbak Nur, salah satu penggiat kamera lubang jarum juga, jarang-jarang om Ray bisa datang ke acara yang diadakan oleh KLJI. Maklum, orang sibuk begitu. Jadi, boleh dibilang saya dan Josh sedang beruntung siang itu, termasuk juga teman-teman lain yang sedang berada disana.


Setelah selesai dan Josh harus balik ke acara MCFE, saya masih lanjut hunting foto bareng Arie pake kaleng. Total saya menghabiskan 6 lembar kertas foto di siang menjelang sore itu. Seru juga ternyata. Walaupun lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil. Yapp, karena ngambil gambar pakai kamera lubang jarum sebenarnya lebih memakai feeling, pakai ilmu kira-kira, baik jarak kamera ke objek, waktu yang dibutuhkan, mau pakai landscape atau portrait, semuanya pakai feeling. Gak jarang juga, pas ambil gambar bareng-bareng ada perdebatan dulu di awal,
"Berapa lama ini?"
"Mmmh,.. coba pakai tiga menit deh,"
"Yakin...?"
"Iya, coba dulu"
"Kayaknya kurang deh..."
"Trus mau berapa?"
"Lima menit, gimana?"
"Iyaudah, coba aja..."
Nahh loo... Pusing kan kalo udah kayak gini. Gak ngerti apa orang lagi belajar, jadi harusnya bisa nemu pakem yang pas dulu... I-)


beberapa 'adegan' pengambilan gambar

Disamping itu, ternyata memang aktifitas tersebut bikin capek saudara-saudara. Selain harus menunggu saat pengambilan gambar, yang bisa sampai lebih 10 menitan, kami juga harus bolak-balik kamar gelap yang selain gelap juga panas bangett karena warnanya yang hitam jadi nyerap cahaya. Tapi yah, memang benar, bahwa semua itu proses yang harus dilalui. Kalau sudah seperti itu, biasanya hasil justru nomor dua, karena dari prosesnyas aja sudah sangat bisa dinikmati. 

 kamar gelap, tampak luar dan tampak dalam
Hoia, selain belajar tentang kamera lubang jarum yang akhirnya jadi kenyataan, sebenarnya dari dulu saya juga sudah punya keinginan, kalau suatu saat ketemu Arie, pengen bisa foto bareng dia pake kaleng. Dan akhirnya keinginan itu juga terwujud kemarin. Walaupun lagi-lagi hasilnya gak terlalu bagus karena kurang lama. Tapi seenggaknya proses itu sudah terlaksana. Yah, besok lagi kalau ada kesempatan lagi, boleh juga kalau mau diperbaiki :D

gelap banget yaa.. kudu ngulang lagi, someday ;)
sama mbak Nur, foto ini dikasih nilai 85. Yeahhh.. seneng bangett!!! :D
Well, saya sangat bahagia karena saat itu bisa dapat ilmu baru, pengalaman baru, teman-teman baru, dan hobi baru. Jadi makin sukak sama dunia fotografi. Makasih Arie, makasih mbak Nur, makasih Josh, makasih om Ray, dan kawan-kawan KLJI semua. Anyway, kemarin saya baru saja menyelesaikan membuat kamera lubang jarum dari karton, dan pakai media roll film. Baru empat kali jepret sih, masih ada 32 jepretan lagi. Mohon doanya yaa, semoga hasilnya baik, dan bisa ditularkan ke teman-teman yang ada di sini.

Nah, buat teman-teman yang pengen tau gimana detail pembuatan kamera lubang jarum ini, bisa lihat di salah satu postingan di blognya Arie, disini

--Salam Lima Jari :D

Sebelum nulis postingan ini, saya baru saja menyelesaikan membaca salah satu postingan seorang blogger yang bercerita tentang perjalananya muncak ke Gunung Gede. Setiap rangkaian kata yang ia tulis saya nikmati dengan sangat. Disamping, ngebayangin juga bagaimana kondisi hutan yang rindang, jembatan kayu yang biasanya memang ada di gunung, rintik hujan, petrichor, semburat jingga, dan sebagainya. Saya merindukan semua itu, dan beneran, pengen banget rasanya naik gunung. Udah lama banget gak nggunung, gak nanjak. Tapi seketika saya juga berpikir, saya kira nikmat yang saya terima saat ini juga cukup banyak. Mencoba banyak hal baru, bertemu dengan orang-orang baru, masuk ke komunitas yang berbeda, termasuk juga dengan keasyikan bermain-main dengan kamera lubang jarum ini. Harusnya, saya juga bisa bersyukur melalui semua ini, kan?

26 October 2013

CFD Malang - Pasar Minggu - Museum Brawijaya

Pagi di hari minggu yang cukup cerah. Kota Malang yang masih saja dingin akhirnya berahasil memaksa saya malam sebelumnya melungker diatas kasur sambil nutupin badan pake sarung seadanya. Jendela kamar yang awalnya sengaja saya biarkan terbuka supaya lebih sejuk, pun juga seolah bersorak-sorai ditengah lelap malam supaya saya beranjak sejenak untuk menutupnya. Sedang saat subuh, perjuangan diri untuk menahan dingin masih terus berlanjut. Hmmmm,.. Ternyata saya memang benar-benar berada di Malang!

Rencana mau ke pasar minggu pagi-pagi, tetap jadi donk. Walaupun 'pagi-pagi'nya agak dicoret karena kami baru beranjak dari rumah tempat saya menginap sekitar jam setengah delapan. Tak langsung menuju lokasi, saya mengajak teman saya untuk menikmati seporsi nasi pecel favorit yang ternyata masih belum banyak berubah, kecuali warungnya yang semakin besar dan bagus. Alhamdulillah,.. :)

Car Free Day jalan Ijen Malang
Sebenarnya, saat saya masih berstatus mahasiswa di salah satu PTN di Malang, acara ke pasar minggu bukanlah kegiatan rutin yang saya lakukan. Bahkan terhitung sangat jarang saya kesana. Tapi berhubung pengen cari keramaian, yasudah, berangkatlah. Lagipula, belum terpikir ide lain di minggu pagi yang cukup cerah itu.


Pasar Minggu di sekitar Ijen Boulevard di Malang itu sekaligus menjadi lokasi yang sama dengan Car Free Day (CFD). Nah, kalau yang CFD ini, memang baru pertama kali, karena dulu rasanya belum ada. Setelah memarkir sepeda motor di depan Gereja Katolik Ijen, kami mulai berjalan kaki menuju perpustakaan kota, yang disanalah mulai banyak kios-kios berdiri dan menjajakan beranekaragam barang.

Begitu masuk ke kawasan pasar minggu, ternyata banyak sekali orang yang berjualan jagung manis, jagung yang sudah dipipil, kemudian dikukus, lalu cara menghidangkannya dengan diberi parutan keju serta susu kental manis. Seingat saya, dulunya jajanan semacam ini hanya ada satu di Malang, yakni di ujung Jl. Sukarno-Hatta. Tapi ternyata sekarang sudah menjadi jajanan yang cukup merakyat dan murah meriah. Tak ingin ketinggalan, saya pun mencoba jajanan tersebut.

Buat teman-teman yang suka berbelanja, pasar minggu, atau nama resminya adalah "Wisata Belanja Tugu", sepertinya memang lokasi yang sangat tepat untuk memanjakan mata --dan dompet. Enggak sih, barang-barang yang dijual disini memang enggak mahal-mahal amat, asal berani nawar. Selain itu, karena yang dijual cukup beranekaragam, mulai dari baju, celana, jilbab, sampai makanan dan minuman, pernak-pernik beranekaragam, atribut supporter sepakbola (saya pernah beli syal-nya Arema disini :D), juga ada peralatan rumah tangga seperti panci, sendok garpu, piring, hingga gorden rumah. Lengkap banget kan? Puyeng puyeng deh milihnya. Makanya, dulu waktu saya masih di Malang, saya cuma kesini pas ada Mama atau Papa datang. Dan taukah kalian? Mereka kalap belanjaaa. Hahaha.. Agak kaget juga sih, terutama pas sama Papa aja. Baru nyadar kalo Papaku yang satu itu juga doyan belanja. Padahal biasanya enggak sama sekali I-)


Berkeliling pasar minggu ternyata cukup melelahkan, ditambah dengan kami yang tidak membeli apa-apa, hanya melihat-lihat saja. Memang tidak ada keinginan untuk berbelanja sih. Awalnya juga berniat mau beli jajanan pasar khas Jawa Timur yang susah didapat, tapi begitu ketemu sama yang jual, gak jadi beli karena masih kenyang. Tapi melihat kios kecil yang jual jus jambu biji, akhirnya pengen juga deh. Hehe..

Begitu kembali ke Jalan Ijen, ternyata ada pameran foto dari kamera lubang jarum. Saya langsung bersemangat dan menghampirinya. Disana di jajar beberapa foto karya anak SMA di Malang, dengan warna hitam putih namun tetap bercerita. Seketika, langsung ngasi tau si Arie yang ada di Jakarta sono. Lumayan girang juga dia tau ada pameran begitu. :D

Gak sampai di situ aja. Dengan penuh keisengan, saya dan seorang kawan memutuskan masuk ke Museum Brawijaya, yang lokasinya tepat berada di depan perpustakaan kota. Malu donk yah, udah lama tinggal di Malang tapi gak pernah masuk museum ini. Apalagi, sekarang museumnya dibuka untuk umum --yang awalnya kami artikan sebagai 'gratis', namun ternyata tetep harus bayar pas masuk.:))

Di dalam museum kebanyakan yang dipajang adalah bukti-bukti perjuangan para pahlawan. Senjata-senjata laras panjang yang di susun berjajar dengan rapi, ada mesin telegram yang awalnya saya gak tau itu apaan, 'mobil kodok' klasik yang pengen dimasuki tapi ternyata gak boleh, serta lukisan-lukisan yang menggambarkan suasana perjuangan rakyat Indonesia pada jaman penjajahan.


Di bagian dalam, ada juga Gerbong Maut yang menjadi saksi bisu banyaknya pejuang yang gugur pada masa itu. Di sisi kanan gerbong tersebut tertulis:

"Salah satu diantara 3 grebong maut yang pernah digunakan oleh militer Belanda untuk mengangkut 100 tawanan pejoang2 Indonesia, dari penjara Bondowoso pindah ke tempat tahanan Bubutan Surabaya, tanggal 23-11-1947. Karena diperjalanan pintu-pintu ditutup/kunci mengakibatkan: 46 orang meninggal, 11 orang sakit payah, 31 sakit, dan hanya 12 orang yang sehat"
Gak kebayang aja gerbong sekecil itu yang terbuat dari baja, tanpa ventilasi, perjalanan jauh, dan diisi oleh 100 orang.
Acara berkeliling museum akhirnya kami sudahi. Begitu keluar, ternyata baru sadar kalo matahari sudah tinggi, dan CFD sudah bubar. Tapi kami masih berada di tengah-tengah jalan Ijen, yang artinya kami masih harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai tempat parkir sepeda motor. Fiuhhh. Gak jadi asik, jadinya capek doank. Tapi untunglah, semua itu terbayar dengan secangkir kopi susu tanpa gula. Teteup deh yah, nongkrongnya gak boleh ketinggalan. *cheers* :D

17 October 2013

Malam Minggu di Alun-alun Kota Batu

Ternyata lebih lama bingungnya daripada acaranya. Hehehe... :p

Yap, acara liburan di Malang akhirnya selesai juga. Terselesaikan dengan sangat baik, walaupun nyatanya banyak rencana yang belum bisa terlaksana. Di samping keterbatasan waktu, sebenarnya yang paling utama adalah masalah tenaga. Gak nyangka juga kalo ternyata saya merasakan kelelahan yang sangat. Efeknya, selama di Malang tanggal 12-13 Oktober 2013 kemarin, saya hanya mengunjungi beberapa tempat. Salah satunya yang akan saya ceritakan ini :).


Begitu sampai di Malang, sebenarnya Alun-alun Kota Batu bukan lokasi pertama yang saya kunjungi. Tapi ini adalah salah satu destinasi yang paling saya suka, jadinya saya tulis duluan deh. Gak papa kan? Hehe...

Jadi, tanggal 12 Oktober 2013, malam minggu, Malang mulai ramai. Selepas maghrib, saya dan seorang teman mulai bersiap bertolak ke Batu. Awalnya saya kira akan biasa saja, namun ternyata malam itu lumayan dingin. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat lengkap dengan jaket tebal dan sepatu kets. Berasa di gunung gitu yah.

Kota Batu malam itu sudah banyak perubahan. Jalan rayanya sekarang banyak yang dibuat searah. Saya hampir saja bingung, dan beberapa kali bertanya pada kawan seperjalanan saat mencoba mengingat-ingat kembali jalan disana.

"Itu kalo belok sana kemana?"
"Kalo ke kiri situ ke arah BNS ya?"
"Yang ke Panderman itu, lewat mana ya? Aku lupa..."
dan bla bla bla...

Akhirnya, dari jauh langsung heboh begitu melihat sedikit penampakan bianglala yang dipenuhi lampu berwarna-warni. Cantik bangetttt!!!


Tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Begitu sampai di kawasan Alun-alun Batu, saya dan teman langsung mengantre untuk membeli karcis naik bianglala. Murah meriah, satu orang hanya dikenakan tarif 3.000 rupiah saja. Tapi eh tapi, ternyata setelah diamat-amati, tigariburupiah tersebut hanya untuk sekali putar. Itupun bianglala-nya tidak akan berputar dengan cepat karena setiap 'keranjang'nya di lewati, penumpangnya harus turun dan digantikan oleh penumpang yang lain. Sebenarnya pengen sih beli langsung 4 atau 6 karcis, supaya bisa naik sampai banyak kali putaran, tapi terus gak jadi. Hehehe...

Begitu keranjang yang saya naiki mulai bergerak, keindahan alun-alun Batu makin terasa. Lampu berwarna warni, masjid raya, air mancur, buah raksasa, mulai terlihat. Jadilah, selama satu putaran penuh itu hanya dipenuhi dengan jepret-jepret sana sini. Belakangan saya mulai menyadari, mungkin bianglala tersebut sengaja di setting pelan jalannya supaya pengunjung bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitar. Luar biasa kerenn.. :-bd

Masjid Raya yang tepat berada di sebelah utara alun-alun
Penjual makanan di sekitar alun-alun Batu

Selain bianglala yang cukup menyita perhatian, hal unik lain dari Alun-alun Kota Batu ini adalah adanya buah-buah raksasa. Bagunan besar menyerupai buah strawberry menjadi 'markas' petugas yang menjaga alun-alun ini. Selain itu, di salah satu air mancurnya juga terdapat buah apel raksasa yang memang menjadi ikon kota Batu. "Batu kota Apel", begitu kurang lebih yang sering saya dengar.


Penjual makanan dan minuman juga banyak sekali berderet di sekeliling alun-alun. Ya, peraturan yang cukup ketat dan pengawasan yang baik membuat penataan allun-alun ini menjadi lebih rapi. Seingat saya, jarang-jarang ada ruang publik yang cukup bersih lengkap dengan ruang terbuka hijau yang sangat asri dan terjaga kebersihannya. Tempat sampah sangat mudah didapat. Selain itu, waaupun alun-alun tersebut berada di ruang terbuka. pengunjungpun tidak bisa dengan bebas merokok. Disediakan tempat khusus merokok yang berada di sebelah barat alun-alun. Mungkin itu juga yang menjadikan alun-alun kota Batu sangat bersih, karena, dengan dilarangnya merokok sembaranga, sampah puntung rokok jadi tidak tersebar kemana-mana. Salut dengan pengelolaan Alun-alun Kota Batu yang sangat rapi.

Butuh duabelas kali jepret sampai akhirnya bisa dapat foto ini. :D
Rumah Strawberry
Saat di alun-alun Batu, saya tidak makan apapun, karena tepat sebelum berangkat kesana, kami singgah dulu untuk makan malam. Namun sesaat sebelum pulang, ternyata di sebelah selatan alun-alun tempat kami memarkir kendaraan, ada sebuah cafe yang memasang layar besar dan mengadakan acara nonton bareng. Yapp, malam itu bertepatan dengan pertandingan antara TimNas Indonesia U19 dengan Korea Selatan. Jadilah, kami tidak pulang dulu namun memutuskan untuk ikut menonton pertandingan sepak bola. Pertandingan yang sangat seru, ditambah dengan acara nonton bareng yang makin membuat suasana malam sungguh menyenangkan.

Suasana nonton bareng di Alun-alun kota Batu
Rasanya malam itu sungguh sempurna. Naik bianglala, lampu-lampu yang cantik, D3100 yang mulai bersahabat, serta TimNas Indonesia lengkap dengan permainan yang sangat cantik dan kemenangan 3-2nya. Sekalipun, pada akhirnya saya membatalkan kunjungan saya ke payung karena mata saya sudah sangat tidak bersahabat.

10 October 2013

Jadi Ikut Bingung

picture source
Ada yang mengganggu pikiran saya belakangan ini. Hmmmm,...

Gak biasanya saya cerita tentang rencana liburan. Memang lebih suka begitu. Tau-tau sudah kemana dan dimana sama siapa. Alhamdulillah. Tapi kali ini saya ingin sedikit menceritakan tentang kegalauan saya semenjak beberapa hari yang lalu.

Jadi, ceritanya tiket bis ke Lombok sudah ditangan. Tiket pesawat dari Lombok ke Surabaya juga sudah di laptop--belum diprint. Terus, setelah itu berencana langsung ke Malang, ada acara di kampus, setelah terakhir saya kesana sekitar tahun 2011. Excited? Pastilah. Sudah kangen banget sama Malang. Kangen kotanya, bundaran-bundarannya, kampusnya, kulinernya, warung kopinya, orang-orangnya, daaaan semua-semuanya. Termasuk juga sama gunung-gunungnya!!!

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, akhirnya beberapa waktu yang lalu setelah memastikan keberangkatan saya, langsung deh saya hubungi teman yang di Malang. Bilang kalo mau ke Malang, tanggal 12 Oktober ini, nanti minta tolong jemput di terminal, numpang mandi, sama minta tolong antar ke kampus juga. Setelah itu minta tolong lagi, tolong ditemenin jalan-jalan, yang tujuannya sampai saat ini belum jelas!

Pengen nggunung, pengen nanjak, pengen ngalas. Tapi kemana yah?

Si temen ngajakin ke Ranu Kumbolo. Tapi saya menolak. Kenapa? Ada beberapa alasan. Tanggal 12 itu sabtu, malam minggu, weekend, jelas rame. Mungkin karena udah kebiasa di sini (Dompu.red) sepi ya, jadi sekarang agak menghindari gitu yang namanya rame-rame. Ditambah lagi, kata si temen itu, RK sekarang udah makin rame semenjak ada film 5 cm. Jadi banyak yang kesana, nanjak kesana, habisin weekend disana. Ngebayangin aja, pasti akan amat sangat jauh berbeda dari lima tahun lalu. Jadi, sepertinya tidak untuk saat ini. Tetap masih ada keinginan untuk kesana lagi, tapi tidak sekarang, dan juga, ada misi tertentu yang mengharuskan saya untuk menunggu untuk kembali menyapa Mahameru dari dekat lagi.

Oke, opsi RK dihapus. Terus, muncul opsi kedua: Panderman. Tapi si temen yang kali ini gak mau. Alasannya: panas!!!

Hmmm,. iyaudah, yang lain. Penanggungan deh. Nah, ini sebenarnya udah pengeeeeenn banget. Secara, gunung kesayangan *ihhhikkk... Kalo untuk yang satu ini, bisa saya pastikan si temen gak mau, karena terakhir ngajak dia kesana, dia udah kapok-kapok gitu, gak mau lagi. Untuk itulah akhirnya saya memutuskan mengajak temen yang lain, yang juga sama-sama penyayang gunung yang satu itu. Tapi eh tapi, ternyata temen yang satunya ada rencana lain tanggal 12. Jalan-jalan juga, tapi dengan destinasi yang berbeda. Iyaudah, gak bisa dipaksain, mungkin temu kangen dengan si gunung kesayangan juga harus ditunda.

Sudah kebayang bagaimana galaunya saya? Tenang kawan, ini belum selesai.

Muncul opsi yang lain lagi: Air Terjun Madakaripura. Ini dapat inspirasinya setelah kemarin di rekomendasikan sama temen yang saya ajakin ke penanggungan. Dia pernah kesana, dan katanya sih lumayan. Iyaudah, akhirnya dijelasin deh tuh jalurnya lewat mana, kemana, naik apa, budgetnya berapa, bla bla bla. Terus cerita lagi ke temen yang lain yang sudah berjanji mau nemenin kemana aja--asal bukan ke Penanggungan. Tapi kok belum manteb ya? Hmmm... perlu mikir lagi untuk opsi yang satu ini.

Ada ide lain juga, Arjuno, atau Welirang. Atau Arjuno-Welirang sekaligus. Boleh juga nih. Tapi jadinya gak cukup sehari. Terus gimana donk? Iyaudah, dibuat dua hari. Ada masalah? Hmmmm... <<< lagi-lagi bimbang. 

Ujung-ujungnya obrolan kemarin sore berakhir pada,

"Iyaudah, yang penting nyampek Malang dulu aja. Ke payung, nongkrong plus ngopi semalaman sambil makan pisang bakar coklat keju, naik bianglala di alun-alun Batu. Keliling bunderan-bunderan di Malang. Nikmati kulinernya macam jagung manis, surabi imut, bakso bakar, nasi uduk, angkringan, bla bla bla...."

Kira-kira mana yang akan terwujud? Entah... :|

03 October 2013

Nangatumpu

Jadi, ceritanya hari ini ada farewell party. Sebenarnya tidak berencana untuk ikut, karena kemarin sudah ikut acara serupa di wilayah dampingan lain. Tapi berhubung diajak, dan waktu saya sampai di kantor pagi ini bertepatan dengan teman-teman yang sudah mau berangkat, akhirnya ikutlah saya. Disamping itu, hari ini memang tidak ada rencana khusus yang berkaitan dengan project. Ada sih kerjaan yang belum selesai, tapi tidak keburu juga. Sedangkan acara ini hanya akan sekali diadakan di satu desa. Jadi ya, mengapa tidak? Alasan yang lain lagi, karena desanya adalah Desa Nangatumpu. Desa yang bukan merupakan desa dampingan saya, jadi bisa dipastikan saya jarang sekali kesana. Desa yang berbatasan langsung dengan laut utara pulau Sumbawa, dimana saya selalu terkagum-kagum setiap kali melihatnya.

Bukan, bukan acara farewell partynya yang ingin saya bahas disini. Melainkan acara main-main sekaligus momen mengakrabkan diri dengan si Nikon D3100 (saya belum menemukan nama yang tepat untuk yang satu ini. Boleh kalo teman-teman mau mengusulkan sebuah nama :D). Dan yah, inilah beberapa jepretan di pinggir jalan yang saya dapatkan, walopun yah, gak bagus bagus amat :|

Pantai Nangatumpu, sekitar jam 9 pagi ini
Sebenarnya ini lokasi yang asik juga untuk menikmati sunset. Tapi ternyata pagi juga cukup keren. Disamping itu, siapa juga yang mau nungguin sampe sore di tempat itu? Mending pulang, tidur *lha.

Begitu selesai kegiatan, ternyata gak pengen langsung balik ke kantor. Akhirnya, saya, om Winq, mas Roni, dan Ulil memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Lagi-lagi, karena kami memang jarang banget main ke desa yang satu ini. Desa paling jauh, yang hampir mendekati perbatasan ke kabupaten Sumbawa. Dan, kesanalah kami menuju: perbatasan!!!


Di perjalanan sebelum ke perbatasan, nemu pantai ini. Akhirnya minggir sebentar deh. Jepret-jepret sekali dua kali, trus jalan lagi. Hehe...

Kwangko. Nama desa terakhir sebelum perbatasan. Jadi, desa Kwangko adalah desa paling barat dari kabupaten Dompu. Desa yang agak sepi, tapi cukup terkenal karena letaknya di perbatasan. Oia, sebaiknya teman-teman tidak berharap ada tulisan "Selamat Datang di Kabupaten Dompu" atau "Selamat Datang di Kabupaten Sumbawa" karena memang tulisan itu tidak ada. Perbatasan dua kabupaten itu hanya ditandai dengan adanya jalan kembar dan sebuah warung kecil lengkap dengan beberapa berugaq. Umumnya, siapapun yang melintas disana terutama yang sedang perjalanan jauh, pasti singgah. Sekadar minum kopi atau meluruskan punggung yang mungkin sudah berjam-jam dipaksa duduk. Ada musholla juga yang cukup rapi. Jadi, lumayan nyaman lah. Kalu lapar? Warung kecil tersebut juga menyediakan menu mie instan atau kue kue yang lainnya. Eh, kok jadi promosi gini yak? Hahaha.. gak jelas kan? Iyowes kalo gitu. Ini hasil jepretan yang lainnya saat di Kwangko.


Ini dijepretin sama om Winq. Keren kan??? :D

Om Winq dan mas Roni, muka muka capek :D

Kalo ini Ulil, yang jepret om Winq juga :D
Istirahat disana lumayan lama. Ada kali sejam lebih. Ada yang ngopi, ada yang nge es teh manis, dan saya juga ditemani dengan sebuah buku yang sudah lama saya beli namun baru tiga hari yang lalu saya sentuh dan saya buka bungkusnya. Heuheuheu... Selamat membaca!!! *sambil tidur-tiduran :D

Pas jam setengah dua siang, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Om Winq sudah tidak tenang. Beberapa kali mobil berwarna putih lewat. Takut Pak Bos yang sedang dalam perjalanan ke Mataram pakai mobil tiba-tiba balik terus memergoki kami yang kelayapan sampai jauh. Padahal kayaknya kemungkinannya kecil banget deh. Eh iya, semoga gak baca tulisan ini juga deh. Ntar jadinya tau. Juga, Ibu Bos project yang sekarang lagi travel ke Jakarta. Semoga gak baca juga. *ups


Kalo ini Nangatumpu pas pulang. Mmmmh, posisi ngambil gambar ini emang beda sih dari yang pertama. Yah walopun masih di sekitar lokasi  yang sama, tapi kalo bergeser sedikit, gambar yang didapat juga bakalan beda. Gimana, bagus yang pagi atau yang siang? Kalo saya sih tetep, masih lebih bagus yang sore #plakkk. Hhahaha :))

Saya kira sudah akan pulang. Tapi ternyata singgah lagi di tempat yang namanya "Tekasire". Makan jagung rebus sambil ngadem. Nyam nyam nyam. Selesai kenyang, akhirnya kita pulang. Yayyy!!!

Oke, sekian acara jalan-jalan hari ini. Mumpung besok Pak Bos dan Ibu Bos porject masih belum pulang, enaknya kemana lagi yah kita? Hihiu :-?