08 March 2013

Satu Bulan Bukanlah Waktu yang Lama

Dering handphone yang sudah ku kenal memenuhi ruang dengar. Dengan malas kuambil handphoneku yang tergeletak dimeja di samping tempat tidur.

“Halo, assalamualaikum…”
“Aku senaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangg…”
“Ha….???”
“Hehehe… Besok pulang sekolah ikut aku ya. Harus. Gak boleh gak!!!”

Peep.
Dan telepon pun terputus.
Apa coba maksudnya ini orang? Malam-malam begini telpon cuma untuk mengucapkan beberapa kalimat kemudian menutupnya dengan semena-mena. Tak ingin mengambil pusing, aku memilih melanjutkan tidurku yang baru seperempat jalan.

*

Tahun ajaran baru dimulai. Akhirnya aku resmi menyandang status murid kelas XI. Waktu berlalu begitu cepat, padahal bayang-bayang MOS setahun yang lalu seolah masih terpampang nyata di ingatan. Sepagian ini di sekolah hanya diisi dengan pengumuman pembagian kelas, jadwal pelajaran, serta basecamp untuk masing-masing kelas, dan aku, menempati kelas XI IA 7, yang ber-basecamp di ruang Fisika 2. Posisi yang sangat strategis, kelas yang berhadapan langsung dengan lapangan sekolah, dan terletak di lantai satu. Beruntungnya aku…

Beberapa kawan yang dulunya satu kelas pada kelas X, juga masih bersama denganku. Walaupun tak banyak. Agak sedih juga saat tau bahwa dia, yah, dia, siapa lagi kalau bukan laki-laki berpostur tinggi besar dengan rambut cepak ala tentara itu, ternyata tidak lagi satu kelas denganku. Tapi ya sudahlah, mungkin kalau aku satu kelas lagi dengannya, diri ini akan menjadi cepat bosan? Hahha.. Salah satu usaha menghibur diri sendiri yang sepertinya tidak berhasil sama sekali.

Hari sudah beranjak siang. Akhirnya terdengar juga pengumuman bahwa kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai besok dan seluruh murid diperbolehkan pulang saat ini. Segera diriku bergegas merapikan bangku tempat aku duduk sedari tadi, sambil mengamati lapangan sekolah yang tak henti-hentinya dilalui orang. Begitu keluar kelas, sedikit ku panjangkan leherku dan menjinjitkan kakiku, mencari-cari sesosok makhluk tinggi besar ditengah ramai para siswa dengan seragam putih abu-abunya yang berjalan kesana kemari. Hasilnya nihil. Handphone yang sedari tadi ku genggam juga tak berkutik sama sekali. Dengan malas, akhirnya aku melangkahkan kaki menuju parkiran sepeda motor.

Sudah separuh jalan menuju tempat parkir, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku dari sebelah kanan.

“Eh, jadi kan? Ikut aku ya…”, katanya singkat, sambil melangkah mendahuluiku. Lagi-lagi aku cuma diam, dengan sedikit anggukan yang entah kusadari atau tidak.

Begitu ku kendarai sepeda motorku melalui pintu gerbang sekolah, sudah ada dia di tepi jalan menanti kedatanganku. Benar saja, begitu aku mendekat, ia mulai melajukan sepeda motornya. Pelan. Sedang diriku mengikutinya di belakang.

Sekali berbelok, kemudian kami berhenti di persimpangan. Lampu masih menyala merah, dan aku masih belum tau kami akan pergi kemana. Begitu hijau menyala, sepeda motor kami kembali berjalan, beriringan. Kali ini ia mengurangi kecepatan, kemudian menepi, berbelok ke kiri, dan parkir dengan mulus di depan salah satu restoran cepat saji yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Ohhh… kesini toh tujuannya, pikirku.

Masih dalam kebisuan, kaki ini mulai melangkah kedalam. Menuju kasir sekaligus tempat memesan makanan, seperti yang biasa dilakukan para pengunjung yang lain. Setelah beberapa detik, barulah sosok disampingku bersuara.

“Mau makan apa?”
“Apa aja boleh…”
“Nasi..?”
“Gak mau…”
“Lho, kenapa?”
“Gak ada piringnya. Gak mau makan nasi…”
Dia hanya tersenyum geli mendengar apa yang ku katakan. Seolah sudah bisa membaca pikiranku, akhirnya ia menyuruhku mencari tempat duduk.
“Oke…”, kataku sambil nyengir. Semoga saja cengiran yang manis.

Belum lewat level tiga games onet di handphone aku mainkan, ia sudah datang. Lengkap dengan senampan penuh makanan beranekaragam. Bak seorang waitress handal, ia menyuguhkan satu porsi kentang goreng super size plus sundae coklat di depanku. Well,.. not bad.

Hanya dua kata yang terucap setelah itu,

“Selamat makannn..”

Kemudian kami disibukkan oleh hidangan masing-masing. Dia dengan big burger dan coke floatnya, sedangkan aku dengan french fries sauced ice cream yang cukup lezat. Hmmmm….

Belum habis apa yang ada di hadapan kami, aku melihat ia menghentikan aktifitasnya. Meraih ransel yang sedari tadi duduk manis disampingnya, kemudian mengeluarkan secarik kertas dari kantong bagian depan ransel tersebut.

“Baca ini…”, katanya sambil menyerahkan kertas itu padaku.
Aku yang masih bingung, mencoba mencerna kata-kata yang ada di hadapanku. Hingga pada bagian akhirnya, aku bisa menyimpulkan apa sebaiknya yang terjadi selanjutnya.

“Whaowwww… Selamat yahh… Keren bangettt!!!”, kataku sambil mengembalikan kertas yang sudah kubaca. Ia menerimanya dengan senyum yang merekah, dan kembali membacanya. Mungkin, dia sendiri sudah hafal setiap kata yang ada di surat itu.

“Jadi, kapan perginya?”
“Dua minggu lagi…”
“Berapa lama?”
“Kurang lebih sebulan…”
“Whaoww.. Sekolahnya gimana?”
“Dispensasi laah, kan itu panggilan juga..”
“Ohh…”

Kembali ku suapkan potongan kecil kentang goreng ke mulutku.

“Jadi, ini ngajak makannya gara-gara itu?”
“Hehe… Iya. Kenapa emang?”
“Gak, gak papa. Tanya aja..”
“Nanti malam Ibu mau bikinkan brownies. Asik dehhh..”
“Hwaaaaaaa… Enak donk”
“…dan akhirnya aku bisa pakai sepatu baru”
“Ha..?”
“Iya. Kapan hari Ibu belikan sepatu fantovel. Gak tau buat apa. Mungkin memang beliau sudah ada feeling aku bakalan lolos. Makanya dibeliin aja. Dan akhirnya benar kan, sepatu itu kepakek juga”.

Tampak sekali raut keceriaan di wajahnya, di nada suaranya. Ahh kamu,...
Aku hanya tersenyum-senyum melihatnya.

Kentang terakhir sudah masuk ke mulutku. Sundae coklatnya juga hanya tersisa sedikit, itupun sudah cair. Matahari sudah condong ke arah barat, dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah, sekali lagi kuucapkan selamat sambil menjabat tangannya. “Ikut senang dengernya. Sekali lagi selamat ya…”

*

Dua minggu berlalu begitu saja, bagiku, namun sepertinya tidak baginya. Banyak hal yang harus dipersiapkan, hingga pada akhirnya bahkan sebelum pergi untuk satu bulan lamanya pun ia sudah seringkali meninggalkan jam pelajaran di sekolah. Ini kudengar dari beberapa orang teman, karena kabar tentang kepergiannya sudah menyeruak ke seantero sekolah. Siapa yang tidak bangga coba, jika ada salah seorang perwakilan dari sekolah terpilih sebagai salah satu anggota paskibraka tingkat propinsi.

Hingga akhirnya ia pergi, tanpa berpamitan sedikitpun.

Tiba-tiba terpikir, mengapa harus sedih? Bukannya seharusnya aku ikut berbahagia mengantar kepergiannya? Lagipula, mengapa seolah aku merasa spesial? Aku kan bukan siapa-siapa. Hanya teman sekelasnya di kelas X yang kebetulan saja sering pulang sekolah bersama-sama atau jajan dikantin bersama-sama. Ah, sudahlah. Satu bulan bukan waktu yang lama. Lagipula ada atau tidaknya dia, sepertinya memang tidak terlalu berpengaruh. Toh kami sekarang berbeda kelas.

Tapi, lantas apa artinya dia mengajakku makan, dua minggu yang lalu? Hmmmm...

*

Pagi ini cuaca di kotaku cukup ramah. Senin lagi, yang tidak jauh berbeda dengan senin-senin yang lalu. Segera bersiap memacu sepeda motor ke sekolah, dengan perasaan yang biasa saja. Tak ada beda dengan hari-hari sebelumnya, terutama hari seninnya. Begitu masuk kelas, ternyata sudah cukup banyak yang datang. Sebagian besar murid perempuan sedang berkelompok di pojok belakang, sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Sambil diliputi rasa penasaran, akupun mendekat. Tak perlu berbicara, cukup jadi pendengar saja, dan tak butuh waktu lama, aku pun sudah bisa menangkap apa yang sedang dibahas.

Seiring dengan itu, handphone di tanganku bergetar. Aku melihat, ada pesan singkat dari serangkaian nama yang sudah satu bulan belakangan ini tak pernah muncul di layar.

“Halooo… Gak kangen aku kah…?”

Ahh.. sial. Tiba-tiba wajahku memerah dibuatnya. Sengaja tak kujawab. Aku lebih suka sapaan langsung darinya. Mari kita lihat, apakah ia berani menanyakan hal tersebut langsung di hadapanku. Namun senyum simpul tak bisa tertahan dari seraut wajahku. Aku hanya berharap bahwa teman-teman yang sedang bergosip itu sedang tidak memperhatikanku.

Bel masuk belum berbunyi, sepertinya masih sempat kalau aku ke kamar mandi dulu. Belum genap lima meter kaki ini melangkah dari pintu kelas, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku di sebelah kanan. Aku menoleh, sedikit saja, namun sudah bisa ku tangkap senyum manis yang sudah lama tak tersapa oleh mataku.

Aku tau banyak sekali yang ingin kau ceritakan, tapi untuk saat ini, bisa menikmati senyummu saja itu sudah cukup. Ternyata, satu bulan bukanlah waktu yang terlalu lama ya... []

*note
Ini merupakan seri kelima kisah Sang Pecinta Hujan, dan semoga akan terus berlanjut. Untuk seri-seri sebelumnya, dapat dilihat di tautan link berikut: Seri Pertama [klik], Seri Kedua [klik], Seri Ketiga [klik], Seri Keempat [klik]

13 comments:

  1. Tajaaaam.. terpercaya! Seperti lagi nonton Sinetron FTV, hihiiii.... StoryLine-nya keren, tapi.... :D

    ReplyDelete
  2. Loh,kok jadi baca sambil senyum2 yaaa :D

    #buka link2 sebelumnya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciyeee... senyum senyum sendiri nihhh :p

      Delete
  3. Loh,kok jadi baca sambil senyum2 yaaa :D

    #buka link2 sebelumnya :p

    ReplyDelete
  4. Hmm.... wondering, ini kisah nyata atau bukan? atau kisah nyata dengan sentuhan fiksi pd beberapa bagian? hmm...

    ReplyDelete
  5. kaya ceritanya nyata ya tulisannya :)

    ReplyDelete
  6. loh.. ini seri ya? :D
    nanti kalo ada sedikit waktu, mau baca dari awal aaah~

    ReplyDelete
  7. Wah kudu mulai baca dari awal nih biar ndak bingung bacanya..ntar bisa dijadiin novel nih mae :D

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D