17 June 2013

Gili Trawangan Juga Bisa Tidur

Jingga sudah berlalu saat kaki ini menapak untuk pertama kalinya dipasir putih Gili Trawangan. Gelap dan asing. Biasanya jika berada di tempat baru, otak secara tidak sadar akan memutar kembali memorinya, mencoba mencari kemiripan-kemiripan mengenai tempat baru tersebut dengan kejadian-kejadian yang sudah terekam sebelumnya. Mungkin, itu salah satu bentuk adaptasi seorang makhluk Tuhan di tempat asing. Bisa jadi berhasil, bisa jadi tidak. Namun sepertinya malam itu otak saya gagal, menyerah, dalam usaha yang sebenarnya masih belum terbilang maksimal.

Tak jauh setelah meninggalkan tempat perahu kayu merapat, saya seolah masuk ke dunia yang baru. Jalan kecil selebar mobil yang cukup ramai dengan pejalan kaki menjadi pemandangan pertama yang saya nikmati. Sesekali, ada juga Cidomo (andong dalam bahasa Sasak, Lombok) atau sepeda gowes yang berlalu lalang. Orang-orang yang saya temui juga beranekaragam, mulai dari turis luar negeri berkulit putih dan hitam, ada juga yang berwajah oriental, serta tak ketinggalan pula senyum ramah para penduduk lokal yang menawarkan penginapan. Rekan seperjalanan saya menanyakan kemana kami akan melangkah, dan tanpa pikir panjang, saya memutuskan kearah kanan. Yah, kanan sepertinya memang lebih baik.

Sebenarnya tak direncanakan, namun memang pilihan ke kanan bukanlah suatu kesalahan. Masjid, menjadi tempat persinggahan pertama kami, sembari memikirkan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Saya akui, bahwa perencanaan yang matang itu sebenarnya hanya berakhir pada,
"Sorenya kita menyeberang ke Gili, jika ada perahu. Jika tidak, kembali ke Mataram pun tak masalah..."

Saya sama sekali tidak memiliki referensi tentang Gili Trawangan. Seorang sahabat di Lombok juga hanya menyampaikan, di Gili Trawangan banyak penginapan. Itu saja, tanpa menyebutkan satu atau dua penginapan yang bisa menjadi destinasi kami. Jika sudah seperti ini, maka tinggal keberuntungan yang kami tunggu, sambil berusaha mencari informasi dari penduduk lokal yang bisa dipercaya. Bukan, bukan bermaksud berprasangka buruk, namun lebih untuk kewaspadaan saja. Selain itu, rekomendasi seseorang sangat penting dalam hal ini, sekalipun seringkali hal itu bukanlah yang terbaik yang bisa kita dapatkan.

Akhirnya tanya kami terjawab. Di tengah temaram bulan purnama yang terlihat sangat nyata malam itu, kami mulai melangkahkan kaki menuju sebuah penginapan yang disebut-sebut cukup recommended, oleh seorang Adi, salah satu jamaah sholat isya' yang kami temui di masjid. Adi bukanlah penduduk asli Gili Trawangan, ia berasal dari Ampenan, salah satu daerah di kabupaten Lombok Barat. Sepanjang perjalanan yang tak lebih dari lima menit menjauh dari jalan utama itu, ia banyak bercerita tentang Gili Trawangan dan pengalamannya selama beberapa bulan disana, sekedar untuk mengais rejeki. Sesekali pula kami dibuat tertawa oleh kisahnya yang lucu. Hmmm,... Satu lagi orang baik didunia untuk hari ini. Alhamdulillah... :)

Begitu sampai di penginapan yang dimaksud, kami segera melihat-lihat kamar, dan tanpa pikir panjang kami menyetujuinya. Entah, karena sudah terlalu lelah atau memang kamar tersebut yang cukup nyaman menurut kami. Yang pasti, hingga saat ini sama sekali tak ada penyesalah dalam pengambilan keputusan itu. Bapak Heru, pemilik penginapan sekaligus jasa travel tempat kami menumpang, juga orang yang sangat ramah. Beliau menyambut kami dengan sangat baik, lengkap dengan dua cangkir kopi dan teh yang cukup menghangatkan. Yahhh,.. Sepertinya saya memang masih harus banyak bersyukur untuk hari itu, malam itu, detik itu juga.

Tepat jam duabelas malam, saya bersama rekan seperjalanan saya memutuskan untuk keluar. Hal ini bukan yang pertama, saya bersamanya, menghabiskan semalaman 'diluar'. Mungkin bisa dikatakan kebiasaan, walaupun sebenarnya baru beberapa kali kami melakukan hal semacam itu. Jika tempo hari kesempatan itu ada di Malang dan Jogja, maka saat ini Gili Trawangan menjadi sasarannya. Ternyata setelah bertahun-tahun, kebiasaan itu belum berubah yah? Saat malam menjadi waktu istirahat bagi orang lain, maka saat itu pula pikiran-pikiran liar kami mulai hidup. Ada sesuatu yang berbeda, yang unik, yang tidak biasa, melihat bagaimana kehidupan dimalam hari, dimalam yang sebenarnya.

Beberapa penginapan dan tempat makan sudah mulai tutup, namun kami tetap memilih untuk terus melangkah. Menjauh dari penginapan, sembari mencoba mengingat-ingat jalan untuk pulang. Kami mendengar ada suara-suara yang menyampaikan kalau malam itu ada "Full Moon Party". Kami tidak tau seperti apa bentuknya, namun sepertinya pesta tersebut diselenggarakan di sisi lain Gili Trawangan. Sempat bertanya pada kusir cidomo yang menawarkan jasa mereka kepada kami, ternyata untuk mencapai lokasi pesta bulan purnama tersebut kami harus membayar limapuluhriburupiah. Begitu mendengar hal itu, seketika kami memutuskan bahwa dengan berjalan kaki sepertinya akan jauh lebih menarik. Hahha... 

Diujung jalan, walaupun sebenarnya bukan benar-benar ujung karena jalan utama di Gili Trawangan merupakan jalan lingkar mengelilingi pulau, kami menemukan sebuah lokasi yang masih ramai dengan berbagai etnis manusia, juga gerobak-gerobak penjual beranekaragam makanan. Akhirnya sampai juga kami di lokasi yang kami ingini sejak tadi. Tidak jelas juga apakah lokasi tersebut yang dimaksud dalam event Fullmoon Party, tapi sepertinya hal itu sudah terabaikan begitu kami melihat berbagai macam makanan tersaji dimasing-masing stand.

Sebagian besar penjual makanan disana merupakan penduduk lokal, bahkan ada juga beberapa yang orang jawa, yang tentunya kesemuanya sudah fasih berbahasa asing. Saking seringnya mereka berinteraksi dengan orang asing sepertinya ya, dan memang sebagian besar wisatawan di Gili Trawangan bukanlah wisatawan lokal. Uniknya, saat saya dan rekan seperjalanan saya sedang memilih-milih ikan yang akan kami santap, seorang bule menunjuk salah satu ikan yang berbentuk panjang seperti pipa yang moncongnya meruncing seperti pedang dan dengan fasih menyampaikan pada kami, "Ini enak." Whaowww... Agak kaget juga saya dibuatnya. Setelah saya memastikan kembali apa yang dikatakan si bule itu, akhirnya kami memutuskan untuk memilih ikan tersebut. Ikan Barakuda. 

Usut punya usut, ternyata wisatawan asing yang merekomendasikan ikan Barakuda itu, sudah tinggal di Gili sejak tiga bulan yang lalu. Begitu kata penjual ikan yang kami tanyai. Pantas saja bahasa Indonesianya cukup fasih. Bule yang unik...

Satu jam lebih kami habiskan untuk menikmati santap tengah malam dengan menu yang tidak biasa. Kami kemudian memutuskan untuk segera kembali ke penginapan, karena tubuh sudah berontak ingin diistirahatkan. Tapi kesunyian pantai Gili Trawangan malam itu cukup menggoda saya. Saya putuskan untuk duduk-duduk barang sejenak dipotongan kayu besar yang terhampar disepanjang pantai. Senyap. Lengang. Tenang. Damai. Hanya kecipak ombak kecil yang memenuhi ruang dengar. Hampir semua penginapan dan rumah makan ditepi jalan sudah tutup. Hanya beberapa lampu yang masih tetap menyala, sekedar menandakan bahwa didalam bangunan-bangunan tersebut ada penghuninya yang tengah terlelap. Segala keriuh ramahan Gili Trawangan yang saya temukan beberapa jam yang lalu kini menguap, ditelah temaram malam yang samar menampilkan cahaya bulan penuh. Ternyata Gili Trawangan juga bisa tidur, kawan.

Pantai Gili Trawangan, 26 Mei 2013, 1.30 am

Malam yang indah, dan sangat sempurna. Terimakasih banyak, untuk hari sungguh menyenangkan :)

14 comments:

  1. Waaaaaaaaaaahhhh... Ingin ke Gili Trawangan... :(

    ReplyDelete
  2. gili trawangan kalau yang dibuat artis2 hanimun yaa mbak mae, eeh yang ada nikita willy sama pacar bule nya itu lho :D

    keren yaa walaupun harus perjuangan ke gili trawangan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak si ketemu artis, cuma ketemu bule aja banyak. Hehe

      Delete
  3. Waaah asyiknya.. tp kyaknya klo aku mlm2;mau tidur aja, agak takut jg mlm2 nongkrong diluar sndirian hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali sekali harus coba sepertinya :)

      Delete
  4. Aku mupeng makan ikan baracudanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi... harus coba mas kapan-kapan.

      Delete
  5. aaaaakkk, jadi pengen ke lombookk, Mae.
    kapan ya? sama suami kali ya :D #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin,... ikut mendoakan Ila :)

      Delete
  6. Fullmoon partynya kedapatang Edward Culen gak? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak. Kalo Newmoon mungkin iya. Hehe

      Delete
  7. kalo kata mamaku kalau ke Gili Trawangan itu kita y jadi bulenya (?)
    btw T____T aku belom pernah k sana lho mbak....
    ya ampun ini benar2 miris bngt lah tinggal d lombok tp blm pernah k sana

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D