24 September 2013

Berawal Dari Kesalahan

Senin kemarin, hari pertama kerja lagi setelah libur selama satu hari saja. Libur yang justru saya habiskan seharian di kantor, karena selama satu minggu sebelumnya ada pelatihan di luar kantor yang memaksa saya dan teman-teman satu tim project mondar-mandir dari lokasi training ke kos, tanpa menyambangi kantor yang sudah seperti rumah kedua bagi saya, seorang perantau.

Karena ada mandat dari Ibu ex manager yang saat ini menjabat sebagai Health Specialist untuk mencari foto yang berkaitan dengan aktifitas ibu dan anak, akhirnya hari senin kemarin saat kesempatan turun ke desa, saya memutuskan membawa si x-rav, tidak ikut rombongan yang lain naik mobil. Berbekal Nikon D3100 yang mulai sedikit bersahabat walaupun kenyamanannya masih belum bisa mengalahkan si G12, akhirnya berangkatlah saya. Begitu acara di desa selesai, saya dan seorang rekan kerja memutuskan untuk tetap tinggal di desa sejenak dan 'hunting foto'. Satu per satu rumah warga yang sekiranya kami kenal dan memiliki anak balita, kami datangi. Hingga kami tiba di salah satu rumah yang harusnya saya kenali, namun ternyata ingatan saya tidak cukup baik untuk itu.

Adalah seorang kakek, yang masih muda untuk ukuran kakek di mata saya, sedang bermain bersama seorang cucu laki-lakinya yang baru genap berusia satu tahun. Mereka bermain bersama tetangga-tetangga yang lainnya, mengggoda anak kecil tersebut hingga tertawa terpingkal-pingkal. Saya kemudian menghampiri mereka dan meminta ijin untuk memotret. Beruntungnya keluarga tersebut tidak keberatan. Dengan style yang se-natural mungkin, saya mengabadikan beberapa momen tersebut.

Tidak lama kemudian, keluarlah seorang wanita, masih sangat muda, perkiraan saya usianya mungkin lebih muda 5 atau 6 tahun dari saya. Karena ingin memastikan, saya pun bertanya kepada wanita tersebut. Dan ternyata benar perkiraan saya. Wanita itu, yang masih berusia remaja, adalah Ibu dari anak laki-laki yang sedang bermain dengan kakeknya tadi. Ingatan saya kemudian terbang ke satu tahun lalu, saat saya belum genap satu bulan tinggal di Dompu.

Saat itu sedang ada baseline survey. Kami tim project memutuskan untuk tinggal di desa untuk belajar mengenai kebiasaan-kebiasaan yang ada di desa demi pengumpulan data dan informasi. Saat itu, saya bersama seorang teman kebagian tugas untuk mewawancarai 'Ibu Muda'. Ibu yang usianya masih kurang dari 19 tahun dan sudah menikah. Yap, di Dompu (NTB), Sikka (NTT), serta beberapa daerah lainnya memang masih sering terjadi pernikahan anak, dengan berbagai sebab musabab, ada yang direncanakan, ada juga yang tidak sama sekali. Sedang wanita yang saya wawancarai tersebut, adalah satu dari sekian banyak wanita yang terpaksa menikah karena pergaulan bebas. Dia memutuskan untuk menikah, karena tidak ada lagi yang bisa diperbuat. Putus sekolah, cita-cita seolah terbang, hingga menjadi Ibu saat teman sebayanya sedang asik menikmati masa remaja. Saya kira hal itu bukanlah yang dia impi-impikan sejak kecil.

Ternyata, Ibu dari anak laki-laki yang sangat lucu itu adalah wanita yang sama yang saya wawancarai satu tahun lalu. Saya baru ingat juga, bahwa pada saat itu wanita tersebut sedang hamil. Dan satu hal yang tidak saya sangka, bahwa anaknya bisa tumbuh dengan sangat baik, sehat, juga lincah.

Melihat keakraban kakek dengan cucunya tersebut, juga anaknya yang sangat lucu, sungguh membuat saya terharu. Saya tidak menyangka jika 'kisah' wanita tersebut saat ini bisa menjadi satu kisah yang luar biasa. Saya juga membayangkan, kebesaran hati dari kakek dan nenek dari anak kecil tersebut yang masih bersedia untuk merawat cucunya dengan sangat baik, hingga bisa tumbuh dengan baik seperti saat ini. Meskipun semua itu berawal dari suatu kesalahan.

See their smile? :)
Tidak, saya sama sekali tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh wanita tersebut di masa lalu. Namun dalam hati saya merasa, bahwa suatu kesalahan tidak perlu berlarut-larut di sesali. Menghadapi yang sudah pasti terjadi adalah suatu keharusan. Menerima akibat dan risiko dari hal yang sudah diperbuat, mengambil hikmah dari semua kejadian, saya rasa adalah satu hal terbaik yang bisa dilakukan. Dan saya kira, wanita tersebut beserta keluarganya sudah berhasil melakukan itu. Hingga, saat ini mereka hanya berfokus pada anak laki-laki kecil yang selalu memberi keceriaan tersendiri di rumah yang sangat sederhana itu. []

20 comments:

  1. cerita yang mengharukan....tapi saya salut dengan sang kakek dan nenek yang dengan segala kebesaran hatinya mau menerima cucunya bahkan merawatnya dengan baik, meski anak itu bukan hasil dari pernikahan yang sah. sungguh sangat inspiratif, sebuah pelajaran yang dapat kita petik disini adalah...boleh jadi kejadian buruk pernah menimpa kita dimasa lalu, namun bukan berarti kita akan membuat hidup selamanya menjadi buruk. berusaha menjadi yang terbaik dan menjalani hari-hari ke depan dengan lebih baik lagi adalah sebuah usaha untuk menghapus kenangan pahit masa silam, terlebih anak ibarat sebuah kertas putih yang tak berdosa, jadi buat apa dipersalahkan. ia tak pernah minta dilahirkan. mungkin orang tuanya yang salah, tapi jangan sampai anak jadi korban. mudah-mudahan si anak akan membuat kehidupan keluarga itu lebih bersinar......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jadi makin terharu setelah baca komennya mbak. Iya mbak, betul sekali. Setuju sekali. Mereka orang tua yang sangat berbesar hati atas kejadian yang menimpa anaknya. Bagaimanapun 'jalur'nya, anak tetaplah anugerah, rejeki, amanah, yang tetap harus diperjuangkan kebahagiaannya :)
      Terimakasih untuk komentarnya yang sangat luar biasa.

      Delete
  2. masih muda sekali ya usi si ibu. tapi bagiamanapun anak harus tetap dijaga ya diberi kasih sayang ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mbak Lid. Tua atau Muda, mereka pasti punya kasih sayang berlimpah untuk anaknya :)

      Delete
  3. thanks for this inspiring story, Mae :')

    ReplyDelete
  4. salah satu pengidap MBA ya?
    klo udah kejadian mo di apain lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan,. bukan pengidap, melainkan korban

      Delete
  5. waduuh, gitu ya... suaminya kemana tuh kak mae?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suaminya saat itu tidak terlihat. Entah kemana :)

      Delete
  6. Iya ibu anak kecil ini masih sangat muda, ya Mbak. Sepertinya dia sedang mengasuh adik dan bukan anaknya sendiri. Yah semoga program2 yang dirimu dan perusahaan lakukan sanggup mendongkrak cara berpikir generasi muda ya, sehingga tak terlalu banyak lagi wanita hamil di usia yang masih sangat muda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin,.. terimakasih atas doa dan dukungannya mbak :)

      Delete
  7. semoga si anak kelak menjadi lelaki kebanggan bangsa. Semoga pula saat itu sampean bisa ketemu lagi dengan anak itu pas dewasa, biar bisa jadi posting lagi jilid ke dua. asyik kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whaowww.... belum terpikir. Tapi sepertinya asik juga Uncle :D

      Delete
  8. Keren2 mbak hasil jepretannya
    Itu wanita tangguh kok menurut saya

    ReplyDelete
  9. Amat menyayangkan dia jadi ibu di usia dini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah terlanjur, yang penting apa yang dia lakukan untuk saat ini dan masa depan

      Delete
  10. Itu pilihan, bukan kesalahan...

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D