02 December 2013

Pekan Kondom Nasional (?)

Boleh dibilang ini tulisan agak terlambat, karena nyatanya saat ini (2 Desember) sudah masuk pada Pekan Kondom Nasional, yang jatuh pada tanggal 1-7 Desember (sumber: detik.com). Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu saya baca sekilas di timeline twitter, facebook, dan lain sebagainya yang membahas tentang ini. Tapi berhubung hari ini baru balik ke kantor setelah numpang nginap di Lombok selama seminggu, jadilah, tulisan ini baru bisa saya buat --yang sebenarnya juga tidak terencana.

Kemudian pikiran saya kembali terusik saat beberapa waktu yang lalu TL twitter saya sedikit diramaikan dengan obrolah dua orang sohiblogger berseberangan pulau diujung sana, ini bahasannya:


Hemmm,.. Saya bisa jamin, bahwa sebagian besar teman-teman yang mengetahui tentang #PekanKondomNasional tersebut menjawab tidak setuju. Bahkan mungkin ada juga yang mengecam, sampai demo ini itu dan lain sebagainya. Nggak percaya? Coba aja teman-teman search di google dengan kata kunci "Pekan Kondom Nasional", dan lihatlah di beberapa baris teratas, tulisan-tulisan dengan nada menentang menjadi yang paling populer.

Sekarang mari kita balik lagi ke pertanyaan yang mungkin ada di seluruh kepala manusia yang mendengarkan tentang Pekan Kondom Nasional ini. Mungkin pertanyaannya tidak akan jauh dari, 
"Buat apa?"
"Perlukah?"
"Gak ada cara lain apa yaaaa...?"
atau kalo ngikut kata Uchank di gambar diatas, "Seriously? Di kampus? Gilaaak!"
...dan lain sebagainya.

Saya tidak bermaksud meremehkan pengetahuan dan rasa perhatian teman-teman semua terhadap masalah yang ada disekitar kita saat ini, termasuk mengenai pergaulan bebas yang konon katanya merupakan salah satu penyebab utama tersebarnya virus HIV secara luas. Tapi, pernahkan teman-teman benar-benar mencari tahu tentang kondisi tersebut?

Kalau tidak pernah, berarti kita sama. Saya juga tidak pernah secara sengaja mencari tahu tentang hal itu, apalagi dalam lingkup yang cukup luas. Tapi, karena project yang sedang saya jalani disalah satu pulau kecil di Nusa Tenggara Barat inilah, akhirnya saya dipaksa untuk berhubungan dengan hal tersebut. Panjang ceritanya, tapi satu yang pasti, salah satu goal dari project kami adalah untuk mempromosikan tentang dampak negatif dari pernikahan anak (pernikahan yang dilakukan di usia anak, yakni <18 tahun). 

Kaitannya dengan pergaulan bebas apa? Yakni karena sebagian besar dari mereka yang 'terpaksa' melakukan pernikahan anak, adalah karena pergaulan bebas, hamil duluan, marriage by accident, atau apalah itu istilah yang populer. Saya tidak bisa pastikan berapa prosentase besarannya, karena sebagian besar informasi itu saya dapat secara kualitatif, hasil ngobrol dengan teman-teman di desa, termasuk juga dengan 'korban'. Begitu mendengar hal itu, jujur saya merasa sangat miris. Bahkan saat pertama kali mendengarnya, saya hampir tidak percaya. Sampai akhirnya pada suatu forum, saya melihat dan mendengar secara langsung, mereka menyampaikan dengan tanpa sungkan sedikitpun, bahwa mereka memutuskan untuk menikah di usia anak (dan tentunya berhenti dari sekolah) karena hamil duluan. Ohh God,.. Kiamat segera datang!!! Pekik saya dalam hati. (Salah satu kisahnya bisa teman-teman baca ditulisan ini >>> Berawal Dari Kesalahan)

Lebih dari separuh desa dampingan yang saya masuki diawal, hampir selalu ada pembahasan mengenai pergaulan bebas, pernikahan pada usia anak, juga kehamilan di usia anak, yang tentunya berkontribusi pada angka kurang gizi dan gizi buruk di wilayah ini. Kami juga tak lupa untuk membahas solusi dari permasalahan tersebut. Dan, bisa teman-teman tebak solusi apa yang keluar? Nyatanya tidak akan jauh dari penyuluhan, penyampaian informasi tentang dampak negatif pernikahan anak, penguatan dari sisi agama, pengajian, dan lain sebagainya. 
Apakah hal itu sudah pernah dilakukan sebelumnya? Jawabannya SUDAH.
Dan apakah hal tersebut berhasil menyelesaikan permasalahan yang ada? Dengan lantang mereka menjawab, TIDAK.

Di suatu forum tak resmi lain, saat saya berkesempatan mengobrol dengan salah seorang bidan desa, beliau menyampaikan bahwa hampir 30% ibu hamil yang ada di desa tersebut berusia dibawah 18 tahun. Angka yang sungguh fantastis. Beliau sampai kehabisan akal bagaimana mengatasi permasalahan itu. Saya ingat, saat itu saya juga bersama dengan ibu manajer. Dan, ibu manajer saya sendiri rasanya sudah kehabisan akal. Hingga akhirnya muncul satu pernyataan darinya yang tidak bisa sepenuhnya saya tentang,

"Saya kira, kalau dari sisi preventif kita sudah maksimal namun nyatanya tidak menghasilkan sesuatu, mungkin bisa kita berikan sedikit saran, paling tidak, berhubunganlah dengan bertanggung jawab. Berhubunganlah dengan aman, tanpa risiko tertular virus HIV atau menjadi hamil. Mungkin kita sudah sampai pada titik itu untuk saat ini..."

Perdebatan setelah keluarnya pernyataan itu cukup panjang. Hingga akhirnya berhasil membelokkan sedikit idealisme saya, bahwa ide tersebut bukanlah ide yang sangat buruk. Saya jadi ingat tentang peristiwa penyediaan jarum suntik gratis untuk pengguna narkoba guna menekan penyebaran virus HIV (tulisan selengkapnya teman-teman bisa baca di sini >>> Junkies yang Terfasilitasi dengan Sejahtera). Teman, hal ini sudah terjadi sejak lama, saya menuliskan itu awal tahun 2011. Bukannya, program itu tidak jauh beda dengan membagi-bagikan kondom? Suatu tindakan terakhir yang boleh diperbuat, atau lebih tepatnya bisa diperbuat.

Mungkin pemerintah kita sudah sampai pada tahap putus asa untuk mencegah dan menanggulangi permasalahan tersebut. Karena saya yakin, mereka yang melakukan pergaulan bebas sebenarnya sudah tahu apa risikonya, apa dampaknya, sebenarnya boleh tidak dari segi norma dan agama. Saya yakin kita semua sudah cukup pintar untuk hal itu, namun nyatanya hal tersebut tidak cukup kuat untuk membentengi diri.

Apakah ini solusi terakhir?

Saya rasa tidak. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan, namun PR besarnya adalah hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan singkat. Harus ditanamkan semenjak kecil, semenjak seseorang baru masuk kedalam usia remaja, usia produktif, atau bahkan jauh sebelum itu.

Kalau boleh memakai bahasa yang lebih sederhana, yang sudah terlanjur terjadi ya biarlah, menyesali dengan sangat juga tidak bisa mengubah keadaan. Tapi untuk generasi selanjutnya, tentunya masih banyak yang bisa kita perbuat.

Sudah bukan saatnya lagi merasa tabu untuk memperkenalkan tentang sex education kepada anak kecil. Pilihannya hanya dua, kita sebagai orang terdekat yang menyampaikan secara terperinci dan jelas, dengan segala tanggungjawab dan risiko yang harus diemban, atau mereka, anak-anak kecil itu, mencari tahu sendiri kebenarannya termasuk 'mempraktikkan secara langsung'? Silakan teman-teman pilih.

Mengenai media, sebenarnya sudah banyak. Buku ini adalah salah satu contohnya. Walaupun saya belum membaca secara keseluruhan, tapi saya yakin ini adalah salah satu pilihan yang bisa saya perbuat kelak, kalau sudah berkeluarga. Selain tentunya pendidikan Agama yang seharusnya sudah ditanamkan kepada anak sejak kecil, sebelum ilmu-ilmu pengetahuan yang lain masuk.

Jadi, bagaimana pendapat teman-teman mengenai Pekan Kondom Nasional ini? Speak up yahh :D

27 comments:

  1. atau ada yang lebih frontal lagi kak, pernah baca di forum mana gitu. ada negara, yang dalam kampanye kesehatannya memperlihatkan secara langsung gambar dari dampak suatu hidup tidak sehat misalnya merokok atau HIV/AIDS..
    pada bungkusan rokoknya, itu diperlihatkan foto paru-paru perokok yang super annoying.
    setelah disurvey ternyata efek dari kemasaran rokok ini mengurangi populasi perokok di negara itu. dan itu juga pemerintah yang menghimbau. Duh lupa negaranya!

    Kira-kira klo ttg free sex ini bagaimana?
    Apakah perlu memperlihatkan gambar-gambar annoying dampak dari free-sex itu agar bisa membuat orang yang berniat melakukannya jera? I can't imagine this! hha
    Saya pun setuju, bagi-bagi kondom gratis ini terkesan pemerintah sudah putus asa.
    Dan benteng terakhir yang dimiliki tiap orang cuma satu, akhlak.

    Klo tiap lelaki berpikir sederhana semisal
    "Bagaimana kelak klo saya punya anak cewek, diajak begituan sama cowoknya, apakah saya akan marah? kalau toh ternyata itu adalah boomerang dari perbuatan saya di masa lalu?"
    Ah, ngomong apa saya ini. Sottau lagi. hha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masuk akal sih... Mungkin ada baiknya juga di bungkus kondom, dicantumin gambar2 yang annoying berhubungan soal seks. Pasti orang juga nggak akan pernah melakukan seks bebas

      Delete
    2. Setau saya, udah banyak negara yang bungkus rokoknya ada foto yg "ganggu" banget itu, dan denger-denger, tahun 2014 di Indonesia bakal diterapin kayak gitu..

      Delete
    3. di Asean ada 4 negara (Thailand, Singapura, Brunei dan Malaysia) yg kemasan rokoknya bergambar mengerikan, sangat annoying memang, tapi konon katanya kemasan tersebut mengurangi jumlah perokok aktif di negara tersebut.

      namun jika cara ini dipakai dikemasan kondom sebagai bentuk edukasi rasanya agak gimana gitu, soal kondom dan rokok adalah hal yg berbeda. :)


      Delete
    4. owwyeah,. kalo masalah kemasan roko itu saya juga pernah dengar. Dan, saya menyambut baik kalau pemerintah Indonesia ingin mengadopsi sistem itu. Tapi, sama seperti yang disampaikan kak Budi, sayangnya rokok dan kondom itu dua hal yang berbeda. Mengenai dampak yang 'annoying' dari seks bebas, apa ya? Rasanya hanya dua, mungkin hamil, atau terkena HIV virus. Tapi... aneh aja jadinya. Hehe..

      Dan, saya sebenarnya lebih suka kalau seseorang menghindari sesuatu bukan karena ditakut-takuti, melainkan karena memang mereka sadar sendiri dan memang tidak ingin melakukannya. Bukan karena paksaan atau tekanan, karena saya jamin, hasilnya akan sangat jauh berbeda.

      Sepertinya komen saya tidak menjawab apa apa yaaa.. jadi bingung dehh :))

      Delete
  2. ga setuju aja sih. secara logika ga menyelesaikan masalah sampai ke akarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi itu merupakan salah satu pilihan, yang bisa diperbuat saat ini :)

      Delete
  3. sebenarnya masuk akal aja sih bagi-bagi kondom itu, asal jangan lantas dijadiin satu-satunya upaya. penyuluhan dan pengajaran agamanya jangan sampe berhenti juga cuma karena hasilnya gak keliatan signifikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahh,. setuju kalo yang ini :-bd

      Delete
  4. duh, aku juga sempat bahas soal ini di twitter. emang agak errr gitu pas denger beritanya soal bagi-bagi kondom ini. nggak salah, tapi seakan-akan mengisyaratkan kalau dengan kondom segalanya akan baik-baik aja -____-"

    btw, sukaaaaaa banget sama headernya >3<

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi nyatanya seks dengan menggunakan kondom memang akan mencegah penularan virus HIV :D

      Headernya bukannya hampir mirip yah sama punya kamu? Hihi

      Delete
  5. Memang bagi2 kondom bukan satu2nya strategi untuk pendidikan kesehatan reproduksi, hanya salah satu diantaranya. Dan di negara2 lain, dibuktikan bahwa strategi inilah yang paling berhasil. Dulu saat saya tinggal di Australi, malah dibagikan dengan bebas di tengah kota saat akhir pekan. Saya masih umur 14. Justru saya isi air...dan bersama teman2 malah water baloon fight. Itu karena memang di otak kami gak ada pikiran macam2. Maksud saya, people having been having sex for millions of years, itu sudah bagian alamiah dari evolusi manusia. Perilaku seksual orang beda2, dan karena tabu2 seputar seks di negeri ini, orang2 jadi takut untuk mencari info, atau mencari kontrasepsi supaya bisa berhubungan seks dengan aman. Jika kita ingin menurunkan tingkat kehamilan perempuan berusia muda, tingkat IMS, dan HIV, kita harus mulai berpikir dari segi public health. Urusan moral dan agama, itu urusan tiap manusia dengan Tuhannya. Saya gak berhak menilai perilaku orang lain, selama dia tidak melanggar hak2 asasi kemanusian saya...ya sudah. Saya rasa pendidikan moral dan nilai itu bukan sesuatu yang perlu diajarkan secara eksplisit, bukannya kita otomatis akan mencontoh dari lingkungan sekitar? Jika kita sebagai rakyat Indonesia jujur,terbuka,disiplin,saling membantu dan bersedekah (dan tidak berkorupsi dll) saya rasa itu jauh lebih berdampak positif terhadap kaum muda daripada hanya banyak bicara tentang moralitas, tapi perilaku tidak manusiawi dan korup. :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang sekali namanya anonim. Tapi, saya sangat menghargai dan mengapresiasi pendapat Anda. Salam kenal yahh, terimakasih untuk pemikirannya yang luas dan bijak, saya jadi mendapat informasi dan pandangan baru lagi mengenai hal ini :)

      Delete
  6. seharusnya diganti jadi pekan nikah nasional... pilih zina gratis atau nikah gratis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kalo ini saya makin tidak setuju. Kesannya, menikah hanya supaya hubungan seks jadi halal. Apakah tujuan menikah hanya sesederhana itu? Lagi pula, dengan menikah dan berhubungan seks hanya dengan satu orang, bukan berarti HIV virus tidak akan tersebar kan? ;)

      Delete
  7. Hastag #PekanKondomNasional yg berseliweran di timeline twitter pada dasarnya saya orang yg tidak pada posisi mendukung tapi tidak pula kontra. Sedikitnya saya tau persoalan tersebut, cukup pelik memang. Semoga Bu menkes dan jajarannya termasuk pemerintah terkait tidak menyikapi bahwa bagi-bagi kondom gratis ini bukan solusi terakhir.

    Saya berharap adanya sosialisasi/edukasi besar-besaran yg lebih intens kapada generasi muda bagaimana cara hidup sehat, bagaimana meningkatkan kesehatan mental, bagaimana memperbaiki moral bangsa dan edukasi tersebut di prioritaskan kepada usia dini.



    ReplyDelete
    Replies
    1. Stujuuuuuu... Dukung kak Budiii..!!! Hehehehe...
      Betul banget Kak. Semoga ini bukan solusi akhir, tapi mungkin memang ini yang bisa dilakukan para pemerintah untuk saat ini. Mari kita dukung saja, dan kita coba samasama belajar untuk melihat dari segi positifnya :)

      Delete
  8. knapa harus ada pekan kondom segala ya, duh lihatnya miris banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Supaya lebih heboh gitu, dan mudah diingat mungkin :D

      Delete
  9. aduuhh yang aneh2 ya pemerintahan skrng ini, salam kenal bu

    ReplyDelete
    Replies
    1. yukk kita lihat sisi positifnya :)
      salam kenal juga :)

      Delete
  10. bused dah nggak mikir kali tuh kalau hal ini dapat merusak generasi bangsa dengan menyebarkan kondom kepada anak-anak
    sekarang kayak zaman seks bebas aja bisa bisanya menyebarkan kemaksiatan dan kemungkaran

    ReplyDelete
  11. saya jadi mendapat informasi dan pandangan baru lagi mengenai hal ini

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D