14 February 2013

de Ranch

Nulis postingan ini sambil dengerin lagunya C21, Stuck in My Heart. Mendadak jadi semangat ngelanjutin cerita #KopDarNasBLOOF. Yuk dehh,.. Yang belum baca cerita sebelumnya bisa klik sini yaaa… ;)


Aada yang sudah pernah mendengar tentang “Ranch”? Saya sih pernah, dulu, di film “Not My Life”. Thriller gitu deh, tapi gak seberapa nyeremin makanya saya berani nonton. Dan ternyata benar, tak beda jauh dengan di film itu, de Ranch merupakan penamaan dari suatu lokasi wisata keluarga, yang letaknya di Lembang, Bandung, yang berkonsep peternakan di Amerika, atau yang lebih dikenal dengan istilah koboy. Baru turun dari kretek aja sudah kerasa suasananya. Berasa di Amerika dehhh… *kayak udah pernah ke Amerika aja. Hahaha…
De Ranch tepatnya terletak di Jl. Maribaya no. 17 Lembang-Bandung. Jika ingin tau bagaimana akses kesana, bisa baca di postingan sebelumnya, "Dua Kesalahan Pertama" yahh... ;)

Biaya masuk ke de Ranch, cukup dengan lima ribu rupiah saja. Itupun karcisnya bisa ditukar dengan minuman misalnya susu sapi atau teh hangat. Jadi sebenarnya masuk kesini tidak perlu bayar, namun para pengunjung semacam ‘diwajibkan’ untuk membeli minuman gitu dehh –murni kesimpulan pribadi.

Awalnya pas masuk, saya masih bingung juga, trus mau ngapain kita disini? Setelah adegan kopdar sama Ajiw si bangau kertas–yang ternyata masih amat sangat imut itu (baca: kecil), seketika suasana kopdar menghilang, digantikan dengan eskaesde plus sesi foto rame-rame. Yahh,.. Walopun kepribadian yang narsis sudah dibuang jauh-jauh, kalo ada temennya buat poto-poto ya gak jadi dibuang alias muncul lagi. Dan asli deh, sebagian besar agenda di de Ranch adalah poto-poto. Heu... :|



Setelah menghabiskan susu pasteurisasi rasa mocca, mulai deh kami menjelajah. Ternyata, memang sebenarnya de Ranch tidak jauh berbeda dengan tempat wisata lainnya misalnya Jatim Park atau BNS atau WBL, hanya saja, dikemas dalam konsep yang berbeda dan menurut saya sangat menarik. Di dalam de Ranch ini, kita bisa menemukan berbagai macam wahana yang cocok untuk anak kecil maupun orang dewasa. Misalnya naik kuda, flying fox, wall climbing, arena panah-panahan, sepeda roda tiga, sepeda air, dan lain sebagainya. Namun, karena biaya masuknya hanya lima ribu rupiah, jadi bisa dipastikan untuk menikmati wahana-wahana tersebut pengunjung diharuskan untuk membayar lagi, dengan harga yang beranekaragam.

Berbagai pilihan wahana di de Ranch
Pengen sihh naik kuda. Dari dulu udah pengen banget. Tapi ya, dari dulu juga ujung-ujungnya cuma pengen aja, sama seperti kemarin waktu ke de Ranch, akhirnya, jadilah, gak naik apa-apa. Cukup menikmati pemandangan yang sangat tidak biasa dimata saya, dan itu sudah sangat menghibur. :)

Tempat duduknya lucu yaaaa... :D

Uniknya, di de Ranch ini banyak sekali lokasi yang asik buat foto-foto. Hmmm,. Boleh juga nih kalo ada yang ingin mengabadikan foto keluarga bertema koboy, atau prewedding mungkin? Karena saat menikmati wahana kuda, pengunjung juga dipinjami kostum seperti baju dan ikat kepala yang sungguh unik, dan benar-benar mirip koboy di film-film gitu. Hehe…

 
 

Yakk,. Niatnya mau menghemat batrei si G12 karena gak bawa charger batreinya, batal juga. Karena memang disana seru banget kalo buat foto-foto. Apalagi kalo rame-rame yaa,.. Dan mumpung kami berempat juga pendatang, jadi kemungkinan besar gak akan ada yang kenal disana, jadi yaa bodo amat deh mau narsis sampe gila-gilaan. Bahkan kami gak sungkan untuk foto lompat-lompat di padang rumput yang ada disana. :D



Waktu sudah menunjukkan jam setengah satu siang, sepertinya sudah saatnya untuk beranjak dari de Ranch. Mau kemana lagi kami berempat? Hmmm,.. Mari kita lihat nanti ya… ;)


***

Mengingat beberapa momen luar biasa yang sudah saya lalui bersama orang-orang yang baru saya kenal, seketika mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang sudah saya terima. Tak layak lagi rasanya untuk menggugat keadaan yang terkadang diluar kendali, diluar keinginan diri. Cukup dengan mengingat kisah-kisah manis ini, maka senyum akan selalu terpatri, jika tidak di ujung bibir, minimal didalam hati yang mungkin hanya diri ini dan Yang Maha Mengetahui yang melihatnya. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan??!!

note:
Model: Yuni, Ajiw, kak Pipi, dan saya sendiri.
Foto tanpa signature "mae_photograph" merupakan koleksi foto kak Pipi :D

08 February 2013

Dua Kesalahan Pertama

Cerita sebelumnya disini yaaa >>> klik!!!

Ahh ya,.. Saya tidak salah orang. Syukurlah… Basa-basi sedikit dengan pak Ketua Pelaksana, kemudian beliau menyerahkan helm pada saya, siap untuk di kenakan. Melajulah motor, kalo tidak salah Honda Revo ya, di jalanan depan stasiun Bandung yang cukup padat itu. Tidak jauh setelahnya, motor berbelok kekanan dan jalan mulai menanjak. Siapa yang bilang kalau Bandung tak lagi dingin? Salah besar. Saat di motor, saat jalanan masih sangat padat, bahkan cenderung padat merayap, yang harusnya panas karena asap kendaraan, ternyata tidak terlalu mendominasi. Yang terasa adalah udara yang sejuk, cenderung dingin. Hmmm,.. Jadi ingat Malang.

Akhirnya motor berbelok, ke jalanan kecil. Alhamdulillah, artinya sudah mau sampai. Dengan sedikit adegan nyasar (baca: kelewatan), sampai juga di kosan Aisa, salah satu bloofers Bandung juga. Jadi, ceritanya rumahnya jadi basecamp gitu deii,..

Tidak lama menunggu, akhirnya muncul juga orang kedua yang saya temui di #KopDarNasBLOOF: Kak Pipi. Lho, kok bukan Aisa? Iya, jadi Aisanya lagi kuliah gitu (kalo gak salah), dan yang ada di kosan Aisa saat itu cuma kak Pipi. Ternyata eh ternyata, kak Pipi di dunia nyata ini memang se kalem suaranya kalo di telpon ya. Kaleeeeem banget deh. Jadi agak sungkan mau dekat-dekat. Takut njomplang, karena bisa dipastikan kalo saya tidak kalem sama sekali. Hahaha…:))

Selesai numpang mandi (yang airnya ternyata dinginnya minta ampun), datanglah satu orang lagi, seorang putri dari langit ketujuh, siapa lagi kalo bukan Yuni Cahya Sidratulmuntaha Daties. Tadaaaaaaaaaaaaaa… Begitu dia datang, kami yang sedari tadi duduk manis di kamar Aisa langsung diajak untuk bersiap. Keluar. Main. Ke de Ranch. Apa itu de Ranch? Jelas sekali saya tidak paham. Bayangan saya sii, de Ranch itu semacam tempat makan. Awalnya pengen nolak, karena saya sudah sarapan. Tapi terus mikir juga. Kalo gak ikut terus mau bengong sendirian gitu? Akhirnya setelah mikir lagi, jadi juga berangkat. Berbekal info dari si Nau (orang ke 4 yang akan saya temui di #KopDarNasBLOOF ini), di de Ranch lagi dingin, jadi jangan lupa bawa jaket. Iyaudah, akhirnya bawa deh, jaket abu-abu kesayangan, plus satu tas kecil yang isinya gak perlu saya sebutkan satu persatu.

Dari kosan Aisa, yang letaknya di kawasan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), kami bertiga jalan kaki menuju jalan utama terdekat, yakni jalan Setia Budi. Menurut Yuni, yang saat itu menjadi guide kami, kami harus berjalan terlebih dahulu menuju terminal Ledeng, kemudian nanti naik angkot jurusan Lembang. Harusnya sih jalannya dekat. Harusnya. Tapi sepertinya Yuni salah dapat informasi. Kami harus berjalan agak jauhh, di jalanan yang ramai, nanjak, sampai-sampai hampir keserempet bis mini parkir pula. Pake acara nyebrang juga, yang, mungkin karena belakangan sudah terbiasa nyebrang di Dompu yang jarang banget ada kendaraan, jadinya takut sendiri. Gak pernah lupa pegangan kak Pipi kalo lagi nyebrang. Hihi… :D

Di sepanjang perjalanan (jalan kaki) di depan UPI, kita bisa melihat berderet-deret kios kecil yang menjual buah nanas. Baguuuus banget dilihatnya. Jadi ingat dulu si Arie pernah cerita tentang penjual buah nanas yang berjejer di Subang. Ternyata gak cuma di Subang ya, di Bandung juga banyak, dan saat itu saya bisa melihatnya secara langsung. Asikkk…

Kak Pipi (kanan) dan Yuni (kiri) tampak belakang. Nanasnya banyaaak yaaaa... :D

Akhirnya terminal Ledeng muncul juga di depan mata. Begitu masuk, dan bertanya pada seseorang disana, ternyata eh ternyata, angkot jurusan Lembang gak masuk ke terminal sodara-sodara. Tapi hanya lewat saja, dan kami bisa menemukan angkot tersebut di seberang terminal. Nyeberang lagi deh :| Setelah akhirnya menemukan angkot yang dimaksud, angkot yang ukurannya lebih besar dari umumnya dan berwarna putih, seketika terpikir. Perasaan ya, ini angkot dari tadi juga sudah lewat di depan jalan raya pas keluar jalan kecil dari kosan Aisa. Ya Allah… #:-S

Setelah kurang lebih 30 menit berlalu diatas angkot, sampai juga kami di Lembang. Kami kemudian diturunkan di sebuah perempatan, yang saya kurang tau perempatan apa namanya, cukup dengan 4ribu rupiah saja per kepala.

Gambarnya sih gede ya,. “de Ranch” gitu. Tapi ternyata letaknya masih agak masuk, bukan tepat di perempatan itu. Modal nekat, tanya deh sama bapak kusir delman disana (yang katanya namanya “Kretek”). Bapak tersebut lalu menawarkan, 10ribu rupiah, bertiga, dan kami akan diantar menuju de Ranch. Mendengar angka yang cukup murah, hati kami luluh juga, dan tanpa pikir panjang kami bertiga langsung naik ke kretek tersebut.

Percakapan di atas kretek…
“Jauh gak pak de Ranch nya?”
“Yah,. Lumayan jauh neng…”
“Oooo….”

Dalam hati berpikir, berarti murah juga ya sepuluh ribu.

Ehh ternyata, belum selesai mikirnya, udah sampe juga di de Ranch. Haihhhhh… kesalahan kedua untuk hari ini :| Teryata de Ranch itu dekat banget pemirsah,. Mungkin lebih jauh jalan kaki dari kosan Aisa ke terminal Ledeng tadiii. Kami bertiga akhirnya cuma nyengir-nyegir aja, sambil sedikit menyadari kesalahan kami. Tapi yaasudahlah, yang penting sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Gambar dari foursquare :)

So,.. Welcome to de Ranch…:D

05 February 2013

Ini Juga (Masih) Permulaan

Jam 5 pagi,. 25 Januari 2013, masih diatas kereta, dan baru saja melewati stasiun Tasikmalaya… Kisah episode pertamanya ada disini ya >>> klik!!! :D

Keresahan sedikit berkurang manakala saya menyalakan hengpong, dan ternyata ada telpon dari kak Pipi, menanyakan saya sudah dimana. Saya jawab saja di kereta, karena bisa dipastikan saya tidak tau posisi saat itu dimana. Tak lama kemudian, Yuni juga sms, begitu juga dengan kang Aan. Satu persatu stasiun kecil terlewati, dan kereta yang saya tumpangi berhenti di tiap stasiun tersebut selama 5 hingga 10 menit saja.

Mbak-mbak yang duduk di depan saya sudah mulai dandan. Cuci muka, pake bedak, lipstik, betulin jilbab, dan lain sebagainya. Dalam hati berpikir, ohh,. Mungkin sudah mau sampai ya, karena menurut jadwal, kereta yang saya tumpangi akan tiba di Bandung sekitar jam 6 pagi.

Tanpa di duga, gak lama setelah itu si mbak mbak tersebut tanya ke saya,

“Mbak, stasiun Bandung sudah dekat ya…? Saya baru pertama ini ke Bandung soalnya…”

Nah lo,. Kirain si mbak sudah berpengalaman. Ternyata… (-_-“). Dalam hati saya ngomong, masalahnya ini saya baru pertama kali juga ke Bandung. Jadi yaa sebenernya sama-sama gak tau juga. Tapi, akhirnya saya bilang kalau,’mungkin sudah dekat…’, pake nyengir, serta kemasan kalimat yang di buat semeyakinkan mungkin. Tidak bermaksud berbohong sii, hanya saja saya mengambil kesimpulan itu dari dua hal. Pertama, jadwal kereta, apalagi kereta bisnis atau eksekutif ya, yang setau saya jarang sekali telat. Kedua, saat chat via whatsapp dengan kang Aan, sang ketua pelaksana, saya sempat menyebutkan satu nama stasiun yang saya lupa namanya apa. Begitu memeberi tau stasiun tersebut, jawaban kang Aan singkat saja, “Siap-siap”. Nah, tidak terlalu salah juga kan jika saya menyampaikan kalau sudah dekat?? Hehehe… *ini murni pembelaan diri. :D

Jam terus berputar, matahari mulai nampak, sayangnya bukan dari sisi dimana saya duduk. Berbukit-bukit hijau juga makin terlihat. Saking noraknya dan begoknya, sampai tiap kali saya melihat bukit yang cukup tinggi seperti gunung, saya langsung berangggapan kalau itu mungkin gunung Gede-Pangrango. Iyakah??? Kenyataannya hingga akhir perjalanan di kereta, banyak sekali bukit-bukit berjajar. Makin mengira gunung Gede-Pangrango, makin tidak yakin juga kelamaan. Ahh,. Lupakan saja.

Ternyata tidak hanya satu, melainkan dua, hingga ada juga orang ketiga yang bertanya pada saya,

“Apakah stasiun Bandung sudah dekat”?

Errrrr… Heran juga sih ini ya. Tunggu aja kenapa coba? Masalahnya saya sendiri juga gak tauuuu… Hhahaha… :))
 
Ditengah resah gelisah, akhirnya stasiun yang ditunggu itu muncul juga di depan mata, saat waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Yakk, ngaret dua jam. Luar biasa untuk ukuran kereta, menurut saya.
 
picture source
Begitu turun, sok-sok kalem gitu deh. Padahal aslinya bingung. Sudah chat ke kang Aan, yang katanya mo jemput, tapi belum ada kabar. Akhirnya saya memilih untuk duduk sejenak, menenangkan diri, atau lebih tepatnya berusaha untuk tidak bingung. Karena yang saya tau, kalo orang bingung di tempat umum, bisa jadi sasaran empuk orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Sambil duduk, sambil mantengin si hengpong, sambil melihat sekitar. Ternyata stasiun Bandung tidak semegah yang saya bayangkan. Lalu ada dua pintu disana, pintu utara dan pintu selatan. Tak lama setelah itu, dapat juga kabar dari orang yang mau menjemput saya, bahwa saya di persilahkan keluar lewat pintu utara. Pesan tambahannya, mungkin 30 menit kemudian baru bisa sampai, dan saya disarankan untuk mencari sarapan terlebih dahulu. Okelah, daripada ngerepotin tuan rumah lagi yaa entar…

Salah satu restoran jepang cepat saji menjadi tujuan saya, selain tempat makan yang lain belum buka, hanya tempat makan itulah yang sudah cukup akrab dengan lidah saya. Gak pengen ambil risiko gitu deh coba-coba makanan baru. Dan baru setengah porsi saya makan, jemputan sudah datang. Errrrrr…

“Saya di gerbang. Pakai helm biru, dan jaket garis-garis..”
 
Haha.. Belum apa-apa aroma kopdar sudah terasa. Yaaaiyalaahh… (-_-“). Dan ternyata (entah sudah ada berapa ternyata di postingan kali ini), dari tempat saya makan menuju gerbang depan itu lumayan jauh sodara-sodara. Harus melewati pelataran parkir yang cukup luas. Untung saja ada jalur khusus pejalan kaki yang cukup rapi dan teduh. Begitu sampai di gerbang depan, seketika terpikir,
 
“Ooooo,.. init oh Bandung. Salah satu kota di Pulau Jawa yang sejak dulu ingin saya datangi. Seperti ini rupanya….”

Sambil agak terpana, sambil mencoba mencari kesana kemari, sempat sedikit bingung juga, namun akhirnya sosok yang sepertinya sesuai dengan petunjuk, muncul juga di depan mata. Walopun teteup, agak jauh juga dari gerbang tempat saya keluar, karena ternyata gerbangnya ada dua, dan saya ditungguinnya di gerbang kendaraan, bukan gerbang pejalan kaki… (-_-“)

Mmmmmh,.. Bersambung lagi seru nih kayaknya. Hwhahahaha… :D

01 February 2013

Ini Baru Permulaan,..

Ragu, bingung, takut, bercampur aduk menjadi satu,
Di pertengahan malam itu, di suatu tempat yang tidak kuketahui,
Di tengah para manusia yang tak kukenali,

Sebenarnya bisa terlalui hanya dengan tidur saja,
Dan melewatkan malam itu begitu saja,
Tapi hati dan pikiran tak mengijinkan,
Gelisah, seolah menjadi teman,
Khawatir, akan sesuatu yang belum tentu terjadi...

“Jika nanti dalam perjalanannya tidak semenyenangkan yang ku kira, mungkin aku akan beranjak lebih cepat dari sana, menuju tempat lain yang juga menjadi tujuanku selanjutnya…”


#SometimesYouHaveTo stop worrying and doubting. Have faith that things will work out, maybe not how you planned, but just how it is meant to be. (@ihatequotes)

--25 Januari 2013, dini hari, di atas kereta Mutiara Selatan, Surabaya-Bandung, dalam perjalanan menuju ke #KopDarNasBLOOF di Bandung,.. Ini baru permulaan... Hmmmm…--