30 March 2013

Blogiveaway - Popcorn of My Life

Yuhuuuu,.. si Popcorn mau ikutan giveaway lagi deh sekarang. Mumpung ada eventnya dan tidak terlalu menyulitkan plus hadiahnya menggiurkan. Heheu,. Bener-bener deh maunya kalo beginian. :p Sebenarnya tau informasi tentang giveaway ini sudah agak lama. Pagenya juga sudah saya bookmarked begitu mengetahui tentang informasinya. Tapi, yahh, masih mikir-mikir dulu sambil pilah-pilih mana postingan yang ingin diikutkan, akhirnya baru bisa bikin sekarang deh.

Nah, penasaran gak ini gieveaway siapa yang ngadain, dan bagaimana detail giveawaynya? Kalo gitu, silakan langsung menikmati banner "Blogiveaway bersama TomKuu" dibawah ini yaa, ato sekalian di klik juga boleh kalo ingin tau lebih detail supaya bisa ikutan juga ;)

 
Iyaudah, kalo gitu langsung aja, beberapa postingan di popcorn yang diikutkan dalam giveaway ini, diantaranya:

Review Buku:

Review Kuliner:

Review Hotel:

Review Lokasi Wisata:

Yahh, setelah bongkar-bongkar harddisk popcorn, sepertinya cukup tulisan-tulisan ini saja yang diikutkan di Blogiveaway-nya TK. Buat yang lain yang mau baca-baca juga, boleh banget donk dan bisa langsung di klik di link diatas yahh... ;)

Oke, mungkin itu saja untuk postingan singkat blogiveaway kali ini. Selamat libur panjang, temans...!!! :D

27 March 2013

Time Flies

27 Maret 2012 - 27 Maret 2013
Sudah setahun yah...

Bohong kalo saya bilang 'gak kerasa'... :D
Satu tahun memang cukup panjang, dan pastinya tidak semua hal berjalan dengan lancar.

Ada,...
Ada masa dimana saya merasa sangat lelah...
Ada masa dimana saya ingin menyerah...
Ada masa dimana saya berkesempatan untuk pulang sejenak, dan ternyata kaki ini enggan kembali tuk pergi melangkah...

Tapi pada kenyataannya saya masih disini,
Di ruang persegi empat yang tak terlalu luas ini,
Dengan koneksi internet yang cukup memberikan kepuasan pada diri,
Serta beberapa ekor nyamuk yang beterbangan kesana kemari,
Padahal AC juga sejak pagi tak pernah mati,
Mungkin memang ini serombongan nyamuk tak tau diri, atau, pasukan berani mati?
Entahlah...



Masih di garis pantai yang sama,
Jingga yang menyapa dalam kesendirian penuh makna,
Tak sesemarak biasanya,
Tapi ini langit yang sama,
Pasir yang sama,
Keheningaan yang sama,...

27 Maret 2012 - 27 Maret 2013
Sudah setahun yah...

25 March 2013

Posting Blog via Windows Live Writer

Setelah pertemuan dramatis pertama saya dengan greys, sedikit banyak si leptongkusayang agak terabaikan. Awalnya masih oke ya, karena di kantor kalo pake greys cuma bisa buat kerja aja, buka socmed cuma bisa di jam-jam tertentu macam istirahat atau sebelum dan sesudah jam kerja. Tapi, ternyata hal tersebut cuma berlangsung beberapa bulan, karena setelahnya, semua socmed bisa diakses kapan saja. Seneng donk pastinya. Dan bisa dipastikan pula, si leptongkusayang makin terlupakan :|

Selang beberapa waktu, ternyata ada beberapa kebutuhan yang sedikit banyak mempengaruhi kinerja saya, yang berkaitan dengan performa greys. Akhirnya, melalui salah satu staff di kantor, saya meminta tolong untuk menginstallkan aplikasi untuk akses printer di kantor dan juga modem. Ternyata prosesnya panjang temans. Musti minta ijin dulu ke IT di area, kalo oke, nanti baru boleh jalan. Kalo belum ok, musti ada penjelasan lebih lanjut mengenai mengapa hal itu harus dilakukan, dan lain sebagainya.

Saya kira hanya sebatas itu ya, namun ternyata ada kendala lain yang tidak terduga. Ada yang aneh dengan settingnya greys. Teman-teman IT di area bahkan tidak tau password dari laptop ini, atau, lebih tepatnya lupa ya. Sampai akhirnya teman-teman di area menyerah, kemudian melaporkan permasalahan ini ke teman-teman IT di kantor pusat. Tapi masalah tidak terselesaikan. Mereka pun menyerah. Akhirnya, saya juga menyerah dan memasrahkan menggunakan greys seperti apa adanya. Tanpa ada tambahan program lain yang memang saya butuhkan di waktu-waktu tertentu.

Sudah hampir satu tahun berlalu dan kemakluman itu sudah menjadi hal yang biasa. Sampai pada akhirnya datanglah kesempatan teman-teman IT area datang berkunjung ke Dompu, kunjungan rutin sih, untuk mengecek apakah kondisi media komunikasi di kantor Dompu masih baik kondisinya atau sebaliknya. Mendengar kabar tersebut, rekan satu tim pun mengingatkan kembali tentang greys yang kondisinya ‘tidak sehat’.

Saat yang menurut saya tepat akhirnya datang juga. Saya sampaikan kepada tim IT tersebut yang baru saya kenal tak lebih dari dua hari. Setelah sesaat berpikir, akhirnya beliau ingat juga tentang greys. Laptop yang ‘dulu’ bermasalah, dan tak bisa beliau pecahkan. Akhirnya, dengan sedikit kenekatan, beliau menyampaikan kalau mungkin akan menginstall ulang si greys. Whaowww… Saya cuma punya waktu sedikit untuk kaget dan merapikan file-file yang tersimpan di sistem. Dan operasi greys pun di mulai.

Satu menit…

Dua menit…

Tiga menit…

Ternyata tidak butuh waktu sampai berjam-jam yah, sampai akhirnya saya diberi tahu kalau operasi greys sudah selesai dan semua berjalan lancar. Ternyata bapak IT yang baik hati itu tidak sampai menginstall ulang si greys, beliau hanya, mmmh,. apa ya namanya? Saya bingung menjelaskan. Intinya beliau berhasil membobol itu password IT, hingga tinggal di renew saja. Walopun tetep masuk ke sistemnya juga sih, *itu yang saya perhatikan sekilas. Dan, akhirnya setelah itu langsung deh install printer. Hihiu…

Kabar baiknya, saya sudah dapat bocoran password standar punya tim IT dari Abah, dan sekarang si greys passwordnya sudah standar juga. Jadi yaa, bisa dikatakan lebih bebas ya untuk install aplikasi apapun, pastinya hanya yang saya butuhkan saja. Dan salah satunya adalah Windows Live!!! Sengaja saya pilih hari minggu untuk menginstall Windows Live yang memang butuh koneksi internet. Kuatir ada yang memantau dari pusat. Dan akhirnya berhasil. Hahha… Alhamdulillah…

Awalnya, saya membutuhkan Windows Live ini lebih untuk movie maker nya saja. Tapi karena aplikasi yang disediakan banyak, kenapa tidak dicoba saja? Akhirnya karena iseng, saya mencoba untuk menggunakan 3 dari 6 aplikasi yang tersedia: Windows Live Movie Maker, Windows Live Photo Gallery, Windows Live Writer. Dan sekarang saya sedang mencoba salah satunya, Windows Live Writer. Heheu,..

tampilan windows live writer

Sepertinya asik ya kalo bikin postingan disini, karena saya tidak perlu membuka browser, jadi gak terlalu keliatan kalo lagi online, karena kan lebih kayak ngetik biasa gitu ya. Heheu :D. Pas masukin gambar juga ada beberapa pilihan effect yang sepertinya bisa digunakan. Semoga saja hal ini tetap berlaku kalo postingan ini sudah dipublish ya. Tapi saya belum menemukan bagaimana cara memberi caption untuk gambar. Huahahaa.. Sepertinya memang masih banyak yang harus saya utak atik yaa.

edit picture windows live writer

Dari segi tampilannya, sepertinya hampir sama dengan di dashboard blogger.com. Eh bukan, tampilan blognya maksudnya (Popcorn). Font yang ada disini, ukuran, warna, sepertinya juga sama dengan tampilan yang ada di blog. Unik sih ya, jadi berasa langsung nulis di blognya, bukan di dashboardnya. Hihiu. Nanti deh, coba di obrak-abrik lagi. Saya juga belum tau apakah aplikasi ini masih bisa diakses jika kita sedang tidak didalam jaringan (daring a.k.a online).

Oke, mungkin itu saja curhat gaje untuk hari senin ini. Tetap semangat di akhir bulan Maret ini, dan selamat ber hari senin, kawans :)

*note:

Greys itu, nama laptop yang saya gunakan yang disedikan oleh kantor. Hp Probook 4430s

Sedangkan Leptongkusayang, itu nama laptop pribadi saya yang sudah sejak tahun 2008 hingga saat ini masih setia menemani saya, Toshiba L3315.

13 March 2013

A Perfect World

picture source
Beberapa hari yang lalu, saya menonton film ini di HBO. Film lama sih, karena terlihat dari settingnya dan dandanan para aktor dan aktrisnya. Benar saja, setelah coba browsing, film yang dibintangi oleh Kevin Costner ini diproduksi pada tahun 1993, bergende drama, dan berlatar Texas di tahun 1960-an (sumber: wikipedia).

Hmmm, sepertinya perlu saya sampaikan juga, bahwa, walaupun film ini saya masukkan kedalam kategori 'filmovie', bukan berarti ini merupakan reviewnya ya. Saya hanya ingin membahasnya sedikit disini. Bagian-bagian yang menurut saya menarik untuk dibahas, dan diingat. Mengingat, walaupun film ini bergenre drama, alur ceritanya cukup unik dan tidak mudah tertebak.


Secara singkat, film ini berkisah tentang Butch Haynes, seorang narapidana yang meloloskan diri dari penjara bersama seorang temannya, Terry Pugh. Setelah berhasil sampai di kota, Butch beserta temannya masuk kedalam sebuah rumah, yang didalamnya ada seorang ibu dengan tiga orang anak, dua orang perempuan dan satu orang laki-laki, dan ketiganya masih sangat kecil. Untuk dapat melarikan diri dengan 'aman', dua orang buronan itu akhirnya mengambil salah seorang anak kecil yang laki-laki, sebagai sandra. Phillip.

Sikap Pugh, sangat berbeda dengan Butch. Walaupun mereka meloloskan diri bersama-sama, kenyataanya mereka bukanlah rekan yang akur. Pugh cenderung jahat dan kasar terhadap Phillip, sedangkan Butch, justru sebaliknya. Sampai disini, pertanyaan mulai muncul di kepala saya. Apakah Butch benar-benar seorang penjahat? Hingga pada suatu titik, Butch menilai bahwa sikap Pugh sudah keterlaluan terhadap Phillip, dan akhirnya Butch pun membunuhnya.

Yah, petualangan dua orang asing yang berselisih usia cukup jauh inipun dimulai. Banyak hal menarik dalam perjalanan mereka menuju Alaska. Walaupun pada akhirnya mereka tak pernah sampai di Alaska. Pelajaran-pelajaran sederhana tentang, hukum dari mencuri, melindungi orang yang di sayangi, bersikap baik dan hormat pada orang lain, membuat Butch dan Phillip saling belajar satu sama lain. Emosi saya benar-benar dipermainkan pada saat ini.

*

Satu hal luar biasa yang saya dapat setelah menonton film ini, terkadang, seseorang yang terlihat jahat di mata satu orang, belum tentu dimata orang lainnya dia juga jahat. Begitu juga sebaliknya. Bagi Red, (Clint Eastwood, sutradara dalam film ini yang juga berperan sebagai Sheriff di Texas, polisi yang mengejar-ngejar Butch dan Pugh), Butch tak lebih dari seorang buronan yang layak untuk dibunuh. Tapi bagi seorang Phillip, Butch merupakan salah seorang teman terbaik yang pernah ia miliki. Yahh,.. pada akhirnya memang tak ada orang yang benar-benar jahat di dunia ini, selama dia masih punya hati nurani.

Untuk review tentang film A Perfect World selengkapnya, saya punya dua referensi yang menurut saya cukup menarik, boleh baca disini atau disini.

Selamat hari rabu, saya masih di kantor
Walaupun sudah mau maghrib. Hmmm....

08 March 2013

Satu Bulan Bukanlah Waktu yang Lama

Dering handphone yang sudah ku kenal memenuhi ruang dengar. Dengan malas kuambil handphoneku yang tergeletak dimeja di samping tempat tidur.

“Halo, assalamualaikum…”
“Aku senaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangg…”
“Ha….???”
“Hehehe… Besok pulang sekolah ikut aku ya. Harus. Gak boleh gak!!!”

Peep.
Dan telepon pun terputus.
Apa coba maksudnya ini orang? Malam-malam begini telpon cuma untuk mengucapkan beberapa kalimat kemudian menutupnya dengan semena-mena. Tak ingin mengambil pusing, aku memilih melanjutkan tidurku yang baru seperempat jalan.

*

Tahun ajaran baru dimulai. Akhirnya aku resmi menyandang status murid kelas XI. Waktu berlalu begitu cepat, padahal bayang-bayang MOS setahun yang lalu seolah masih terpampang nyata di ingatan. Sepagian ini di sekolah hanya diisi dengan pengumuman pembagian kelas, jadwal pelajaran, serta basecamp untuk masing-masing kelas, dan aku, menempati kelas XI IA 7, yang ber-basecamp di ruang Fisika 2. Posisi yang sangat strategis, kelas yang berhadapan langsung dengan lapangan sekolah, dan terletak di lantai satu. Beruntungnya aku…

Beberapa kawan yang dulunya satu kelas pada kelas X, juga masih bersama denganku. Walaupun tak banyak. Agak sedih juga saat tau bahwa dia, yah, dia, siapa lagi kalau bukan laki-laki berpostur tinggi besar dengan rambut cepak ala tentara itu, ternyata tidak lagi satu kelas denganku. Tapi ya sudahlah, mungkin kalau aku satu kelas lagi dengannya, diri ini akan menjadi cepat bosan? Hahha.. Salah satu usaha menghibur diri sendiri yang sepertinya tidak berhasil sama sekali.

Hari sudah beranjak siang. Akhirnya terdengar juga pengumuman bahwa kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai besok dan seluruh murid diperbolehkan pulang saat ini. Segera diriku bergegas merapikan bangku tempat aku duduk sedari tadi, sambil mengamati lapangan sekolah yang tak henti-hentinya dilalui orang. Begitu keluar kelas, sedikit ku panjangkan leherku dan menjinjitkan kakiku, mencari-cari sesosok makhluk tinggi besar ditengah ramai para siswa dengan seragam putih abu-abunya yang berjalan kesana kemari. Hasilnya nihil. Handphone yang sedari tadi ku genggam juga tak berkutik sama sekali. Dengan malas, akhirnya aku melangkahkan kaki menuju parkiran sepeda motor.

Sudah separuh jalan menuju tempat parkir, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku dari sebelah kanan.

“Eh, jadi kan? Ikut aku ya…”, katanya singkat, sambil melangkah mendahuluiku. Lagi-lagi aku cuma diam, dengan sedikit anggukan yang entah kusadari atau tidak.

Begitu ku kendarai sepeda motorku melalui pintu gerbang sekolah, sudah ada dia di tepi jalan menanti kedatanganku. Benar saja, begitu aku mendekat, ia mulai melajukan sepeda motornya. Pelan. Sedang diriku mengikutinya di belakang.

Sekali berbelok, kemudian kami berhenti di persimpangan. Lampu masih menyala merah, dan aku masih belum tau kami akan pergi kemana. Begitu hijau menyala, sepeda motor kami kembali berjalan, beriringan. Kali ini ia mengurangi kecepatan, kemudian menepi, berbelok ke kiri, dan parkir dengan mulus di depan salah satu restoran cepat saji yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Ohhh… kesini toh tujuannya, pikirku.

Masih dalam kebisuan, kaki ini mulai melangkah kedalam. Menuju kasir sekaligus tempat memesan makanan, seperti yang biasa dilakukan para pengunjung yang lain. Setelah beberapa detik, barulah sosok disampingku bersuara.

“Mau makan apa?”
“Apa aja boleh…”
“Nasi..?”
“Gak mau…”
“Lho, kenapa?”
“Gak ada piringnya. Gak mau makan nasi…”
Dia hanya tersenyum geli mendengar apa yang ku katakan. Seolah sudah bisa membaca pikiranku, akhirnya ia menyuruhku mencari tempat duduk.
“Oke…”, kataku sambil nyengir. Semoga saja cengiran yang manis.

Belum lewat level tiga games onet di handphone aku mainkan, ia sudah datang. Lengkap dengan senampan penuh makanan beranekaragam. Bak seorang waitress handal, ia menyuguhkan satu porsi kentang goreng super size plus sundae coklat di depanku. Well,.. not bad.

Hanya dua kata yang terucap setelah itu,

“Selamat makannn..”

Kemudian kami disibukkan oleh hidangan masing-masing. Dia dengan big burger dan coke floatnya, sedangkan aku dengan french fries sauced ice cream yang cukup lezat. Hmmmm….

Belum habis apa yang ada di hadapan kami, aku melihat ia menghentikan aktifitasnya. Meraih ransel yang sedari tadi duduk manis disampingnya, kemudian mengeluarkan secarik kertas dari kantong bagian depan ransel tersebut.

“Baca ini…”, katanya sambil menyerahkan kertas itu padaku.
Aku yang masih bingung, mencoba mencerna kata-kata yang ada di hadapanku. Hingga pada bagian akhirnya, aku bisa menyimpulkan apa sebaiknya yang terjadi selanjutnya.

“Whaowwww… Selamat yahh… Keren bangettt!!!”, kataku sambil mengembalikan kertas yang sudah kubaca. Ia menerimanya dengan senyum yang merekah, dan kembali membacanya. Mungkin, dia sendiri sudah hafal setiap kata yang ada di surat itu.

“Jadi, kapan perginya?”
“Dua minggu lagi…”
“Berapa lama?”
“Kurang lebih sebulan…”
“Whaoww.. Sekolahnya gimana?”
“Dispensasi laah, kan itu panggilan juga..”
“Ohh…”

Kembali ku suapkan potongan kecil kentang goreng ke mulutku.

“Jadi, ini ngajak makannya gara-gara itu?”
“Hehe… Iya. Kenapa emang?”
“Gak, gak papa. Tanya aja..”
“Nanti malam Ibu mau bikinkan brownies. Asik dehhh..”
“Hwaaaaaaa… Enak donk”
“…dan akhirnya aku bisa pakai sepatu baru”
“Ha..?”
“Iya. Kapan hari Ibu belikan sepatu fantovel. Gak tau buat apa. Mungkin memang beliau sudah ada feeling aku bakalan lolos. Makanya dibeliin aja. Dan akhirnya benar kan, sepatu itu kepakek juga”.

Tampak sekali raut keceriaan di wajahnya, di nada suaranya. Ahh kamu,...
Aku hanya tersenyum-senyum melihatnya.

Kentang terakhir sudah masuk ke mulutku. Sundae coklatnya juga hanya tersisa sedikit, itupun sudah cair. Matahari sudah condong ke arah barat, dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah, sekali lagi kuucapkan selamat sambil menjabat tangannya. “Ikut senang dengernya. Sekali lagi selamat ya…”

*

Dua minggu berlalu begitu saja, bagiku, namun sepertinya tidak baginya. Banyak hal yang harus dipersiapkan, hingga pada akhirnya bahkan sebelum pergi untuk satu bulan lamanya pun ia sudah seringkali meninggalkan jam pelajaran di sekolah. Ini kudengar dari beberapa orang teman, karena kabar tentang kepergiannya sudah menyeruak ke seantero sekolah. Siapa yang tidak bangga coba, jika ada salah seorang perwakilan dari sekolah terpilih sebagai salah satu anggota paskibraka tingkat propinsi.

Hingga akhirnya ia pergi, tanpa berpamitan sedikitpun.

Tiba-tiba terpikir, mengapa harus sedih? Bukannya seharusnya aku ikut berbahagia mengantar kepergiannya? Lagipula, mengapa seolah aku merasa spesial? Aku kan bukan siapa-siapa. Hanya teman sekelasnya di kelas X yang kebetulan saja sering pulang sekolah bersama-sama atau jajan dikantin bersama-sama. Ah, sudahlah. Satu bulan bukan waktu yang lama. Lagipula ada atau tidaknya dia, sepertinya memang tidak terlalu berpengaruh. Toh kami sekarang berbeda kelas.

Tapi, lantas apa artinya dia mengajakku makan, dua minggu yang lalu? Hmmmm...

*

Pagi ini cuaca di kotaku cukup ramah. Senin lagi, yang tidak jauh berbeda dengan senin-senin yang lalu. Segera bersiap memacu sepeda motor ke sekolah, dengan perasaan yang biasa saja. Tak ada beda dengan hari-hari sebelumnya, terutama hari seninnya. Begitu masuk kelas, ternyata sudah cukup banyak yang datang. Sebagian besar murid perempuan sedang berkelompok di pojok belakang, sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Sambil diliputi rasa penasaran, akupun mendekat. Tak perlu berbicara, cukup jadi pendengar saja, dan tak butuh waktu lama, aku pun sudah bisa menangkap apa yang sedang dibahas.

Seiring dengan itu, handphone di tanganku bergetar. Aku melihat, ada pesan singkat dari serangkaian nama yang sudah satu bulan belakangan ini tak pernah muncul di layar.

“Halooo… Gak kangen aku kah…?”

Ahh.. sial. Tiba-tiba wajahku memerah dibuatnya. Sengaja tak kujawab. Aku lebih suka sapaan langsung darinya. Mari kita lihat, apakah ia berani menanyakan hal tersebut langsung di hadapanku. Namun senyum simpul tak bisa tertahan dari seraut wajahku. Aku hanya berharap bahwa teman-teman yang sedang bergosip itu sedang tidak memperhatikanku.

Bel masuk belum berbunyi, sepertinya masih sempat kalau aku ke kamar mandi dulu. Belum genap lima meter kaki ini melangkah dari pintu kelas, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku di sebelah kanan. Aku menoleh, sedikit saja, namun sudah bisa ku tangkap senyum manis yang sudah lama tak tersapa oleh mataku.

Aku tau banyak sekali yang ingin kau ceritakan, tapi untuk saat ini, bisa menikmati senyummu saja itu sudah cukup. Ternyata, satu bulan bukanlah waktu yang terlalu lama ya... []

*note
Ini merupakan seri kelima kisah Sang Pecinta Hujan, dan semoga akan terus berlanjut. Untuk seri-seri sebelumnya, dapat dilihat di tautan link berikut: Seri Pertama [klik], Seri Kedua [klik], Seri Ketiga [klik], Seri Keempat [klik]

07 March 2013

Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda

Yakk, destinasi kedua untuk hari ini adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda yang letaknya masih di kawasan Maribaya. Dari de Ranch sebelumnya, tinggal jalan sedikit ke bundaran, kemudian naik angkot satu kali, cukup dengan empat ribu rupiah per kepala.
Selamat datang di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda :)
Di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda ini, sebenarnya banyak sekali spot wisata yang bisa di kunjungi. Ada goa Belanda, goa Jepang, curug Omas, curug Lalay, curug Dago, dan lain sebagainya. Maunya sih bisa mendatangi semua spot wisata tersebut ya, tapi kami perlu memperhatikan situasi dan kondisi juga. Jangan sampai lupa dengan tujuan awal ke Bandung yakni Kopdar Nasional BLOOF 2013. Hahha…

Biaya masuk perkepala cukup sebesar tujuhribulimaratusrupiah. Kemudian mulailah perjalanan kami. Belum jauh dari loket masuk, tiba-tiba ada sepeda motor yang melintas. Berarti bisa ya naik motor? Aneh. Tapi yasudahlah, kami lebih memilih untuk berjalan kaki. Lebih bisa menikmati begitu… *alesan. Awalnya jalanan datar-datar saja, namun kemudian jalan mulai berbelok dan menurun curam. Setelah menuruni beberapa anak tangga, akhirnya kami tiba di persimpangan. Yang agak mengagetkan, ternyata dari persimpangan itu, untuk menuju Goa Belanda masih harus melalui jalan sepanjang 5 km. Meeen,.. bisa satu jam baru sampai goa nya nih. Belum ke air terjunnya juga. Haihhh...

masih 5 kilometer lagi :|
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Kami bertemu dengan dua orang tukang ojek yang sedang beristirahat tak jauh dari persimpangan itu. Setelah bernegosiasi dan bertanya-tanya, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa motor mereka. Tigapuluhriburupiah perkepala tarifnya. Agak mahal sih, tapi ya sudahlah. Sudah sampai disini. Gak lucu juga kalo balik. Kapan lagi coba? Jadi ya, hajar saa.. Hehe..

Saya dan Ajiw naik motor Honda Astrea Star, ntah keluaran tahun berapa, mungkin motornya lebih tua dari saya. Saya cuma berharap motor tersebut bersahabat, tidak mogok di jalan, bisa dikendalikan, dan bensinnya cukup. Sedangkan Yuni dan kak Pipi naik motor matic Mio. Lalu, berangkatlah kami.

Berdasarkan instruksi dari pak tukang ojek, jalan di depan sudah bagus, karena sudah di “paving block”. Bayangan kami yaa seperti paving biasa gitu ya. Namun ternyata salah besar saudara-saudara. Iya betul emang paving block, tapi pavingnya sudah banyak yang rusak, dan ada beberapa titik dimana jalannya becek. Ouch… Sama sekali gak kebayang kalo saya akan melakukan perjalanan semacam itu. Ditengah hutan yang cukup lebat, dengan jalan paving ‘belok’ (belok kalo kata Ajiw itu bahasa Sunda, artinya becek. Mungkin memang ini maksud dari bapak tukang ojek tadi yahh) yang berkelok-kelok dan naik turun, kondisi motor yang masih asing serta rem tangan yang agak keras, jujur sempat membuat saya sedikit ketakutan. Cuaca juga lagi dingin, tangan rasanya kaku begitu. Serasa baru belajar naik motor saja. Namun akhirnya lima kilometer yang luar biasa itu terlalui. Sampailah kami di goa Belanda.
pas naik motor,. hihi
Ada warung yang jual makanan kecil dan jagung bakar. Asikkk…

Sebelum mengisi perut, kami memutuskan untuk masuk ke goa Belanda terlebih dahulu. Goa ini dulunya dibangun saat masa penjajahan Belanda, membelah tebing tinggi di kawasan hutan raya tersebut, yang mungkin selain bertujuan untuk tempat berlindung, juga digunakan sebagai jalan pintas. Dari luar, goa ini terlihat tidak terlalu jauh, terdiri dari garis lurus saja, dan dari mulut goa yang satu, kita bisa melihat pintu keluar yang terletak di ujung sana. Saat masuk, suasana seram mulai terasa –mungkin karena saya penakut ya. Hehe… Kondisi didalam sangat gelap. Dari kami berempat, hanya ada satu senter yang menerangi. Dan ternyata saya salah, karena goa ini dibagian dalam cukup luas. Ada beberapa jalan ke kanan dan kekiri yang cukup luas, entah untuk apa. Mungkin digunakan sebagai gudang? :-/

Dijalan yang kami lalui, juga terdapat semacam rel kereta. Masa’ iya kereta lewat sini? Rasanya lebih mungkinkan kalo rel tersebut digunakan untuk membawa barang-barang berat. Iyadeh, begitu saja. *lho

Begitu sampai di ujung, kami bertemu dengan sisi lain dari goa Belanda. Ternyata disana cukup banyak orang, dan dari orang-orang itu kami mendapat informasi bahwa kami bisa pulang lewat jalur yang lain, nanti akan tembus di Dago. Dan jalannya jauh lebih dekat!!! Kami tidak punya pilihan lain. Tetap harus kembali ke jalan sebelumnya. Rencana ke goa Jepang juga kami batalkan karena hari sudah beranjak petang, dan hujan mulai datang.


poto-poto duluuu... :D
Setelah mengisi perut dengan segelas mie instan serta jagung bakar, kami memutuskan untuk kembali. Ditengah hujan yang tidak terlalu lebat, bayangan jalan yang rusak serta naik turun membuat saya agak khawatir. Tapi yasudahlah, mau tidak mau memang harus dilalui. Cuma satu pesan saya untuk Ajiw, hati-hati, jangan sampai jatuh, dan mohon maaf kalo nyetirnya agak kasar karena jalannya rusak dan banyak yang menanjak. Kalo gak dibuat kenceng, saya kuatir motor honda star membahana badai khatulistiwa ini gak mau jalan.

Seluruh tubuh hampir basah kuyup saat kami sampai di tempat bapak tukang ojek yang tadi. Satu lagi kesalahan hari ini, gak tanya ke pemilik motor tentang keberadaan jas hujan yang ternyata sejak tadi sudah nangkring di bawah jok motor. Subhanallah…

Kami memutuskan untuk mengunjungi curug Omas yang katanya jaraknya tidak terlalu jauh. Ditambah, berdasarkan informasi dari bapak tukang ojek, dari curug omas tersebut ada jalan yang langsung menuju jalan utama, jadi tidak perlu kembali lagi. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter dengan medan yang landai. Menikmati kesejukan Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda di tengah rintik hujan yang masih setia menemani. Tak lagi peduli pada jaket, celana, rok, sandal, kaus kaki, tas, jilbab yang mulai layu karena basah. Kesempatan ini tak akan datang dua kali, terutama untuk saya, Yuni, dan kak Pipi yang datang jauh-jauh dari pulau seberang.

Curug (air terjun) Omas memiliki keunikan tersendiri dari segi lokasinya. Di sini, pengunjung tidak bisa langsung turun ke air terjunnya, melainkan hanya bisa melihat dari jauh, dari jembatan yang dibangun melintasi sungai besar. Dari jembatan itu, pengunjung bisa melihat dengan jelas Curug Omas yang menurut saya cukup besar dan tinggi, dengan air yang juga deras. Entah seberapa dalam sungai yang berada di bawah jembatan itu. Siang menjelang sore itu juga airnya agak kecoklatan, mungkin karena pengaruh hujan yaa..
nyoba pake foreground... :D
Yang bikin agak ngeri, jembatannya. Hehe… Kalo ada yang jalannya sambil hentak-hentak kaki, kerasa banget getarannya. Apalagi waktu itu sempat bercanda sama yang lain, jadinya ketawa bareng deh. Dan itu berhasil bikin kami berempat agak takut karena jembatannya juga ikutan ketawa *ehh.

Tidak lama waktu yang kami habiskan disana, kami memutuskan untuk kembali. Berdasarkan instruksi bapak tukang ojek, kami cukup melewati jalan setapak di sebelah kiri. Yuni di depan, diikuti kak Pipi, Ajiw, kemudian saya. Awalnya jalannya masih bagus dan jelas. Terus terus dan terus, tiba-tiba jalan setapak itu hilang. Yang ada di depan kami hanya hutan, dengan pohon-pohon kecil yang tidak terlalu padat. O’ow.. nyasar kah? Tapi berdasarkan instruksi dari bapak tukang ojek, harusnya benar. Dan menurut logika kami juga benar, jalan utama adanya di sebelah kiri. Kalau kami berbelok ke kanan dan menyeberangi sungai, itu baru salah.
Saya dan Yuni akhirnya memutuskan untuk tetap jalan dan melihat keadaan di depan. Kak Pipi dan Ajiw tunggu di belakang, dan nanti kalo kami sudah nemu jalan, baru deh di jemput. Tapi ternyata batal, karena akhirnya semua ikutan jalan. :D Sempat agak bingung juga, soalnya makin lama pohonnya makin rapat, dan jalan makin gak terlihat. Tapi, akhirnya dapat petunjuk juga, karena jalan utama yang kami lalui saat berangkat tadi mulai terlihat –pagarnya. 

jalan setapak yang menyesatkan :|
"Yun, mo nembak langsung kah?”, nekat nanya beginian, padahal medannya lumayan curam, tebing gitu deh. Maksud saya supaya gak perlu jalan lagi, tapi langsung nerabas ke jalan utama. Tapi, lagi-lagi batal. Coba cari jalan lagi, akhirnya nemu juga jalan yang sepertinya pernah dilalui orang, yang akhirnya mengantarkan kami ke jalan utama, walaupun masih dipisahkan oleh pagar setinggi dada orang dewasa. Akhirnya dengan kesepakatan bersama, kami memutuskan untuk manjat pagar!!! #:-S

Bisa kembali ke jalan utama yang lurus dan benar itu rasanya sesuatu banget yahh. Gak kebayang kalo tadi nyoba jalan terus, ntah bakalan tembus dimana kami. Tapi yasudah, perjalanan yang luar biasa ini memang harus segera di akhiri. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore, sedang hujan masih setia merintik.

Sampai di depan Taman Hutan Raya, bingung mau naik apa. Akhirnya kami memilih duduk di depan toko yang ada di tepi jalan. Angkutan tidak ada yang lewat satupun. Kendaraan lain juga hanya beberapa saja. Lalu, dari kejauhan terlihat pik-up, dan nekat saja kami mencoba melambaikan jempol ala ‘laik dis’ gitu. Pik-up tersebut sempat mengurangi kecepatan, namun entah karena melihat kami sendiri tidak yakin, akhirnya bapak supirnya hanya lewat begitu saja. Akhirnya kami mencoba memantabkan hati. Okelah, naik pik-up pun tak apa.

Pik-up kedua akhirnya datang juga. Kali ini tanpa ragu kami melambaikan jempol, dan akhirnya mobil tersebut berhenti juga. Yuni, yang bertugas bernegosiasi. Entah bagiamana prosesnya, pada akhirnya bapak supir dan penumpang yang didepan bersedia mengangkut kami.
sempat foto-foto pas di pik-up :D
Well, ini pengalaman pertama saya ke Bandung, pengalaman pertama saya ke Taman Hutan Raya. pengalaman pertama saya naik motor dengan medan yang whaoww, pengalaman pertama saya ke goa Belanda yang agak seram, pengalaman pertama saya ke curug Omas, dan ini pengalaman pertama saya naik angkot di tengah kota!!!

Tepat di gang kecil di kawasan UPI, Geger Kalong tengah, kami berempat turun dari pik-up. Cukup berjalan kaki sedikit, akhirnya kami kembali juga di kos kosan Aisa dengan selamat tak kurang suatu apapun kecuali basah kuyup. Alhamdulillah… :)