31 May 2013

Jingga Selat Lombok

Sebaik apapun hasil dari suatu spontanitas, saya tetap selalu percaya bahwa jika semua hal direncakanan dengan baik, pasti hasilnya akan jauh lebih baik. Yapp, saya suka perencanaan yang matang, dan saya, hingga saat ini tidak terbiasa jika harus melangkahkan kaki dari rumah hanya dengan berbekal, "kita lihat saja nanti...". Begitu juga dengan hari itu, disiang menjelang sore itu, saat perencanaan yang menurut saya cukup matang, dihadapkan dengan keinginan diri yang cukup kuat namun tidak terlalu memaksakan. Hasilnya? Kami dipertemukan dengan banyak sekali orang baik. Alhamdulillah... :)

Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara. Jingga keemasan disana seolah menjadi 'gerbang selamat datang' menuju Gili Trawangan. Tempat yang asing namun juga bersahabat. Beberapa orang disamping saya duduk, tengah memperhatikan saya yang sibuk bermain-main dengan G12. Dermaga yang cantik, dengan latar oranye yang belum terlalu tajam, serta beberapa kaki yang melangkah diatasnya. Another sunset party, if I could say...


Ini sudah orang baik yang kesekian, yang sangat membantu dalam kelancaran perjalanan sederhana ini. Tanpa diminta dan tanpa persetujuan, beliau mengantarkan salah satu dari kami menuju loket pembelian karcis untuk penyeberangan ke Gili Trawangan. Mungkin, perjalanan itu memang mendapat berkah dariNya, karena sungguh, tak ada satu hal pun dari tiap kejadian seharian itu yang memberatkan langkah kami.


Sang raja hari mulai turun. Beberapa perahu kecil, yang salah satunya akan mengantarkan kami membelah selat lombok sudah terparkir rapi di bibir pantai. Seorang Ayah dengan dua anak laki-laki kembarnya juga ikut meramaikan pantai sore itu. Pun juga beberapa orang yang sebenarnya belum kami kenal, namun ikut menyapa dan meramaikan sore kami karena rombongan tersebut jugalah yang kami temui pada perjalanan sebelumnya.

Hingga tiba saatnya untuk menyeberang. Jingga yang tentunya istimewa, yang saya nikmati dari atas perahu kayu.



Gili Terawangan itu, mungkin sebuah tempat, atau nama, yang sudah cukup akrab ditelinga, namun asing dimata. Sekian kali mendapat kesempatan untuk singgah di Lombok, baru kali itu diri ini akhirnya memutuskan untuk kesana. Segala informasi tentang ke-tidak-eksotis-an Gili Trawangan kami abaikan, karena menurut informasi, Gili, tepatnya tiga Gili yang ada disana --Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, memang lokasi yang tepat untuk diving dan snorkeling, namun bukan untuk para penikmat pantai macam saya. Ahh, sudahlah. Mungkin memang bukan pantai yang saya cari saat ini. Tapi orang-orang baik yang tersebar diseluruh penjuru bumi. Sudah, itu saja.

Gili Trawangan. Yapp,.. Kesanalah kami menuju, sore itu :)

28 May 2013

Bermalam di Mataram? Sempatkan ke Taman Udayana!!!

Menikmati kota Mataram di malam hari sebelumnya sudah pernah saya lakukan. Senggigi di malam hari, dengan ‘bintang-bintang daratan’ yang cukup menghibur. Jauh dari gemerlap bar dan café tepi jalan raya yang cukup memekakkan mata dan telinga. Yah, pantai senggigi yang berbeda. Hanya untuk kami para pemburu sepi.

Kali ini, dimalam yang juga berbeda. Masih di kota yang sama, namun disalah satu sudut lainnya.

Jalan Raya Udayana, kota Mataram, Lombok, NTB merupakan salah satu spot yang menurut orang-orang di Mataram, cukup direkomendasikan untuk menghabiskan malam. Awalnya, saya sama sekali tidak memiliki bayangan seperti apa lokasinya. Namun sesaat setelah kuda besi berwarna abu-abu metalik yang saya tumpangi bersandar pada salah satu sisi jalannya, seketika itu pula, tempat tersebut mengingatkan saya pada alun-alun selatan kota Jogja, beberapa tahun silam.

Taman Udayana, begitu orang menyebutnya. Di malam-malam tertentu, tempat tersebut akan penuh sesak oleh manusia, lengkap dengan gerobak-gerobak penjual berbagai jenis makanan dan minuman menghiasi satu sisinya. Sedang yang lain, penuh dengan hamparan terpal serta meja kotak-kotak berukuran kecil. Sangat nyaman jika ada dua hingga empat orang duduk mengelilinginya. Di tepi jalan raya Udayana sendiri, sesekali terlihat sepeda hias berjalan pelan dengan lampu warna-warni yang cantik. Sungguh, semakin mirip Jogja!!!

Saya, bersama seorang sahabat, memilih duduk disalah satu terpal berwarna biru, tepat dibawah pohon kecil yang seolah menyengaja memayungi kami. Satu pesanan pertama yang cukup membuat saya penasaran: Sate Bulayak!!! Beruntungnya sang penjual cukup berbaik hati hingga tak membiarkan rasa penasaran saya berlarut-larut. Hmmmm… Selamat makan :)
Belayak atau Bulayak, sama saja :|
Kata seseorang didepan saya, yang sudah tinggal di Lombok sejak sekitar lima tahun yang lalu, Sate Bulayak ini merupakan salah satu makanan khas Lombok, disamping Ayam Taliwang. Satu hal istimewa dari Sate Bulayak sebenarnya bukanlah satenya, karena sate tersebut tidak jauh berbeda dengan sate ayam, sate sapi, sate hati, serta sate-sate lain yang sudah umum ditemui. Namun, keistimewaannya terletak pada bumbu sate yang rasanya khas serta makanan yang mendampinginya, yakni lontong. Isinya memang sama dengan lontong biasa, namun cara mengemasnya yang berbeda. Lontong tersebut dibungkus dengan daun kelapa, sama seperti daun yang digunakan untuk membuat ketupat, namun dengan cara pembungkusan yang juga berbeda. Saya bingung bagaimana menjelaskannya. Tapi, semoga saja foto ini bisa cukup membantu memberikan petunjuk :D
Satu paket Sate Bulayak khas Lombok
Sembari menikmati kekhasan sate bulayak yang sesekali masih terasa asing dilidah, segerombolan pemuda berbekal sebuah gitar dan tepukan tangan mencoba menyamankan diri, agak jauh di sebelah kiri saya. Tak lama setelah itu, bergaunglah sebuah lagu berbahasa inggris, yang saya kurang tau siapa yang punya serta apa judulnya, namun saya yakin bahwa lagu tersebut sedang populer saat ini. Mereka menyanyikan lagu tersebut dengan sangat fasih, serta genjrengan gitar yang cukup bersahabat, dari awal hingga akhir lagu. Begitu selesai, kami, para pendengar, tak segan memberikan tepukan tangan sederhana, serta beberapa lembar ribuan, yang mungkin tak cukup banyak jika harus mereka bagi untuk beberapa orang. Tapi, sungguh, malam itu kian sempurna. Alhamdulillah…


Setelah itu, berbondong-bondong muncul pesanan kedua, ketiga, dan seterusnya. Meja kami penuh oleh kerupuk, kacang tanah rebus, kacang kedelai, air mineral, juga kuaci, yang setiap kali memakannya selalu membuat saya ingin tertawa. Saya merasa ada hal yang lucu saat saya memakan makanan tersebut. Tapi tolong jangan tanya saya apa itu, karena saya sendiri tidak tau. Hahha…

Kulit kacang maupun kacang yang masih utuh makin meramaikan meja kecil tersebut. Saya juga sudah merasa sangat kenyang, walaupun tak banyak yang saya makan malam itu. Yapp, orang didepan saya memiliki hak sepenuhnya untuk dituduh sebagai tersangka dalam pembantaian makanan malam itu. Sesekali, diantara bercandaan kami yang tak ada habisnya, juga mulut yang tak henti-hentinya mengunyah, satu demi satu para seniman jalanan meramaikan telinga. Hampir semua dari mereka menyuguhkan pertunjukan yang cukup menarik. Malam yang luar biasa.
Bersama Bara, salah seorang sahabat, sekaligus teman satu SD dan SMP, kemudian dia hilang entah kemana, dan baru saya dapati kabarnya sekitar satu tahun yang lalu, tepat setelah saya hijrah ke Dompu.
 
Hingga, setelah sekitar dua jam lebih kami habiskan disana, serta destinasi yang lain sudah menunggu untuk segera dikunjungi, akhirnya kami memutuskan untuk beranjak. Terimakasih banyak, taman Udayana, yang sudah memberikan saya malam yang menyenangkan.

Note: Yapp,. 24-26 Mei 2013 kemarin saya habiskan di Lombok. Sebenarnya masih ada banyak cerita selama tiga hari disana, namun saya tidak bisa berjanji akan membagikan seluruh kisah tersebut. Hahha
B-)

21 May 2013

Berbagi,...Kisah?

Mungkin memang benar adanya, bahwa sifat 'pamer' itu tak akan jauh-jauh dari sosok yang namanya manusia. Termasuk saya. Ya, saya akui benar kalau saya manusia tulen, dan sangat manusiawi jika terkadang, saya memiliki rasa itu. Rasa ingin pamer, atau, kalau boleh menggunakan kata yang lebih sopan, rasa ingin 'berbagi kebahagiaan' --walaupun tak selamanya hal itu diamini oleh mereka yang berbeda kepala.

Amat sangat menyenangkan, bahkan jauh melebihi rasa senang itu sendiri, saat saya bisa dengan gamblang menyampaikan pada seorang sahabat,  

"Ahhh,.. Saya tidak percaya bahwa akhirnya bisa membagi kisah ini denganmu..."

tentunya dengan diiringi senyum kecil yang hanya sedikit saja namun tak ada habisnya dari masa jingga berkuasa hingga fajar menyapa.

Ada semacam rasa takut, jika ternyata hal itu hanya mimpi. Namun, ada juga rasa tidak sabar, bahwa kebahagiaan itu ingin segera saya bagikan.

Lalu, siapakah yang menang?

Adalah mereka-mereka, yang berhasil menghancurkan tembok pertahanan diri ini. Entah dengan bujukan yang masih tergolong manusiawi, atau mungkin memanfaatkan situasi penilaian dan anggapan saya tentang mereka yang tentunya amat sangat mempengaruhi saya dalam mengambil keputusan.

Maafkan jika ternyata, pada akhirnya saya tidak bercerita tentang apapun. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa, setelah sekian lama saya bertanya-tanya, terheran-heran dengan sendirinya tanpa tau kemana harus bertanya, akhirnya saat ini saya sendiri bisa mendapat jawaban dari pertanyaan itu. Jawaban yang memang hanya untuk diri sendiri. Tidak untuk dibagikan. Karena saya percaya, setiap manusia pasti memiliki definisi masing-masing yang sangat luar biasa menurut diri mereka sendiri, yang mungkin sulit diterjemahkan dalam serangkaian kata sederhana.

percayalah, bahwa sosok dibalik kamera yang sedang mengambil gambar ini,
sedang sangat berbahagia, yang semoga tidak hanya untuk saat ini :)

Satu hal yang saya yakini, bahwa tak ada kata terlambat untuk menyampaikan suatu kabar yang menyenangkan.