27 June 2013

Di Balik Gemerlap Gili Trawangan

Niat hati ingin menikmati matahari terbit, namun kenyataannya saya baru meninggalkan penginapan sekitar jam 7 pagi. Kami menyewa sepeda, kemudian berkeliling Gili Trawangan, yang kata seorang teman hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Jalanan masih sepi pagi itu, mungkin karena fullmoon party semalam yang memaksa sebagian besar penghuninya baru terlelap kala pagi tiba.

Ke arah timur, kami memutuskan untuk mengawali jalan-jalan pagi itu. Sedikit menyapa pantai dengan pasir putih yang juga ramai oleh para sampah plastik, akhirnya tampaklah disana matahari yang sudah agak tinggi. Di sisi lain sebenarnya agak bersyukur juga sih, karena terlihat di ujung timur langit penuh tertutup awan. Hmmm, sunrise yang terlambat, seterlambat diriku yang enggan beranjak dari peraduan #nyaritemen.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan. Tiba di pantai sebelah utara, ternyata ombaknya agak besar. Kami bertemu dengan dua orang yang sedang memulai kegiatan memancingnya. Di ujung jalan tersebut, ternyata ada jalur yang terputus. Saya kira rencana kami untuk mengelilingi Gili Trawangan akan batal, namun ternyata saya salah, karena berdasarkan informasi dari penduduk setempat, ada jalan lain yang bisa kami lalui, sekalipun memang tidak menyusuri pantai. Ya, kami melewati jalan tengah, meninggalkan garis pantai, dan masuk ke perkampungan penduduk asli Gili Trawangan.

Begitu masuk ke kawasan penduduk asli, jujur saya merasakan sensasi yang sangat berbeda. Rumah-rumah penduduk dengan bentuk atap khas Lombok terbuat dari jerami menghiasi kanan-kiri jalan. Beberapa penduduk terlihat sedang beraktifitas, ada yang memasak menggunakan tungku dan kayu bakar, ada yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi gagang panjang, ada pula seorang bapak yang sedang duduk-duduk di berugaq sambil bermain-main dengan bayi kecilnya. Lahan-lahan kosong yang masih hijau juga terpampang luas, ternak sapi dilepas begitu saja hingga mereka bisa mencari rumput sendiri.
Sangat kontras, kalau saya bandingkan dengan kehidupan di ‘sisi luar’ Gili Trawangan yang didominasi oleh turis asing, hotel berbintang, restoran-restoran mahal, café yang buka dua puluh empat jam, serta segala modernisasi yang seolah gagal menyentuh sisi lain pulau tersebut.

Cukup lama kami ‘terjebak’ dalam labirin jalan-jalan kecil di tengah Gili Trawangan. Ternyata banyak sekali cabangan di dalam, dan seringkali pula kami kebingungan untuk memilih kearah mana seharusnya kami mengayuh sepeda. Beberapa kali kami berpapasan dengan pengendara sepeda lain, dan tetap tak lupa ada saling sapa, atau hanya sekadar senyuman diikuti sedikit anggukan. Ah ya, ini masih di Indonesia. Tenanglah… ;)



Sempat terpikir juga, tidak lucu rasanya jika kita terjebak di tengah pulau. Saat di sekeliling kami hanya ada pohon-pohon kelapa tinggi menjulang serta taman-tanaman liar tak terurus. Perkampungan penduduk juga sudah berlalu. Mungkin saat itu kami memang berada tepat ditengah pulau. Seolah pulau tak berpenghuni. Hanya feeling yang menuntun kami menentukan arah, hingga akhirnya kami berpapasan dengan penduduk lokal, dan mendapat pencerahan kemana kami harus mengarah. Setelah sekian lama melewati jalan lurus bergelombang yang sesekali becek karena sisa hujan, akhirnya kami berjumpa kembali dengan jalan lingkar Gili Trawangan, serta debur ombak di sebelah barat pulau. Gili Trawangan yang kembali berbeda, perjalanan yang menurut saya sungguh luar biasa.

Belum … belum … perjalanan belum selesai kawan. Kami masih melanjutkannya, mengayuh sepeda, namun sesekali harus turun dan menuntunnya karena jalanan yang penuh pasir pantai. Beberapa hotel berbintang tampak mengakuisisi sisi lain dari pantai barat Gili Trawangan tersebut. Kukira karena disana lokasi yang paling sempurna untuk menikmati perpindahan hari, penyambutan malam.


Sekalipun pantai itu masih di garis yang sama, tetap saja tiap lokasi memiliki keunikan tersendiri. Hal itulah yang menjadi hiburan untuk kami para pengelana. Disamping itu, bukan hanya sekadar hotel berbintang yang ditawarkan, karena masing-masing menyajikan konsep yang berbeda. Ada yang klasik, ada yang minimalis, ada pula yang mengusung konsep lokal, lengkap dengan atap khas Lombok, berugaq, atau yang dominan menggunakan bambu sebagai furniturenya. Tidak, saya tidak memasuki setiap hotel. Kesemuanya itu memang tampak dari luar, karena seperti hotel yang sebelum-sebelumnya, mereka seolah pemilik potongan-potongan pantai, hingga jalan lingkar Gili Trawangan semacam membelah bangunan tersebut. Bangunan utama sebagai penginapan, serta bangunan lain tepat di garis pantai yang umumnya digunakan untuk restoran, café, maupun tempat berjemur. Unik.


Sekitar jam setengah sembilan pagi, kami telah tiba di titik semula. Perjalanan pagi itu kami tutup dengan menikmati seporsi Fruit Salad (baca: fresh fruit saja tanpa mayonaise) dan segelas Orange Juice. Sempurna. Sesempurna hiburan pagi yang sungguh berkesan. Kira-kira, apa kata yang pantas untuk menyebut Gili Trawangan ya? Kalau ‘Cantik’, cukupkah?

23 June 2013

Frustrum Amor Gamazoe

Umumnya, sebuah blog lebih dikenal karena judulnya. Judul blog yang iconic, unik, mudah diingat, dan yang tak bisa disamakan dengan nama yang lain. Tapi berbeda dengan blog yang sedang saya bicarakan ini, karena blog tersebut lebih dikenal karena URL blognya. Berbeda dengan blog lainnya yang kebanyakan menggunakan nama pemilik sebagai URL, blog satu ini justru ingin menciptakan kekhasan dari URL yang dimiliki. Kalau saya menyebut-nyebut tentang ‘Perjalanan Panjang’, rasanya dua kata tersebut sudah terlalu umum ya. Lalu, bagaimana dengan ‘Gamazoe’? Hmmm… Saya yakin, para sohiblogger yang sudah melanglang buana di blogsphere tidak akan terlalu asing dengan nama tersebut. Namun jika ternyata masih ada yang merasa demikian, mungkin sekaranglah saat yang tepat untuk mengenal lebih jauh mengenai Gamazoe. ;)
Tampilan Gamazoe
Perjalanan Panjang: Tentang Hidup, Asa, dan Cinta. Saya tidak pernah menyengaja untuk menghapal tagline dari Gamazoe itu, namun saya merasa rangkaian kata tersebut cukup pantas untuk bersanding antara satu dengan lainnya, hingga membentuk satu kalimat yang indah serta mudah untuk diingat. Sedang judulnya sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan maksud dari penggunaan kata Gamazoe, yang artinya ‘Perjalanan Kehidupan’. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai definisi tersebut, sohiblogger bisa membaca sendiri di salah satu postingan di Gamazoe, yang berjudul “Barataku di Gamazoe”.

Mengenai konten blog yang beralamat di http://www.gamazoe.wordpress.com ini, sebenarnya sudah tergambar dengan jelas dari definisi URL, Judul Blog, juga tagline yang tercantum cukup besar dibagian header. Tulisan-tulisan sederhana yang sangat jujur dari seorang Dhenok Habibie yang lebih akrab disapa dengan ‘Dhe’, mengenai kehidupan sehari-hari, yang sebenarnya pada beberapa tulisan terkesan biasa saja, namun disajikan dengan sangat luar biasa. Yahh, diam-diam saya adalah salah satu pengagumnya, terutama kagum pada kemampuannya dalam memilih dan merangkai kata demi kata hingga menjadi susunan kalimat yang sangat nyaman untuk dibaca, mudah untuk dipahami, serta sayang untuk dilewatkan.

Gamazoe pertama kali terbentuk pada 20 Juli 2011. Blog berplatform wordpress tersebut secara keseluruhan sudah memiliki ±122 postingan, dengan 47,5% dari postingan tersebut—yakni berjumlah 58 buah, masuk dalam kategori ‘kontes’. Saya yakin bahwa rekan sohiblogger semua sudah banyak yang mengetahui bahwa Dhe, sang pemilik Gamazoe, merupakan penggemar berat kontes blog. Lagi-lagi hal ini yang juga menjadi kekaguman saya, karena menurut saya, menulis dengan tema yang ditetapakan serta aturan-aturan lain yang membatasi bukanlah perkara yang mudah. Namun Dhe bisa melakukan itu, dengan sangat baik. Konteslah yang membuat Gamazoe menjadi lebih hidup, begitu ungkapnya.

Disamping posting bertema kontes, ada juga posting lain yang turut serta menyemarakkan Gamazoe yang dimasukkan beberapa kategori, diantaranya fiksi, curhat, celoteh, barata, sahabat gamazoe, catatan, award, dan wisata. Rekan sohiblogger semua bisa lihat, bahwa kategori yang ada di Gamazoe juga merupakan kata-kata sederhana, yang dengan melihat judulnya saja, saya yakin kita semua sudah bisa mendefinisikan makna dari kategori tersebut. Jadi tidak perlu saya bahas satu-persatu yah? Hehe… :D

Gamazoe menggunakan template download-an bertema “Something Fishy” dengan dominan warna hijau tosca. Ada ikan-ikan kecil sebagai backgroudnya yang dapat bergerak-gerak jika kita menggerakkan scroll keatas maupun kebawah. Kadang saya iseng juga menggerakkan scroll tersebut dengan cepat, sehingga ikan-ikan itu juga bergerak lebih cepat lagi. Lucu juga, dan yang penting hal itu sama sekali tidak mengganggu kenyamanan saat membaca tulisan di Gamazoe.

Secara umum, template ini sangat sederhana tanpa berbagai widget berlebihan yang menghiasi setiap sudutnya. Header blog hanya diisi dengan Judul Blog di sebelah kiri, kemudian di bawahnya terdapat tagline blog yang posisinya sejajar dengan menu tab di sisi kanan yang hanya terdiri dari empat pilihan; Candace Gamazoe, Aren Dakara, *91’91*, serta tak ketinggalan pula tab Home yang sebenarnya memiliki fungsi yang sama jika kita mengarahkan kursos pada judul blog kemudian meng-kliknya. Mungkin yang belum terlalu akrab dengan Dhe, akan sedikit bingung dengan kata-kata aneh yang dijadikan judul ya, baik itu judul tab, maupun judul dari beberapa postingan di Gamazoe. Tapi itulah ciri khas Dhe. Dia memiliki hobi yang terbilang unik, yakni gemar mencari-cari istilah khusus untuk menyebutkan sesuatu. Karena hal itu pulalah, akhirnya dalam postingan yang saya buat spesial untuk Gamazoe ini, saya juga berusaha mencari kata yang unik. Walaupun tidak terlalu unik, karena saya hanya meminta bantuan pada google translate. Hehe.. :p

Penggunaan sidebar juga hanya pada satu sisi, yakni di sebelah kanan, dan saya yakin bahwa pemilihan ini bukan tanpa alasan. Pada sidebar tersebut, lagi-lagi informasi yang ditampilkan juga sangat sederhana. ‘Ubek-ubek’ yang tak lain adalah kotak pencarian yang diarahkan hanya pada postingan blog, kemudian ‘Postingan Anyar’ yang diisi dengan daftar sepuluh postingan terbaru pada Gamazoe, serta 'Kalender' kecil yang awalnya saya kira hanya kalender biasa. Belakangan, saya baru tau bahwa kalender tersebut juga memuat informasi mengenai tanggal kapan saja blog tersebut diisi oleh postingan. Bagian ini agak menyebalkan, karena saya baru menyadari hal itu sesaat setelah saya menghitung jumlah postingan di Gamazoe secara manual. Poor me… :|

Berlanjut ke bawah lagi, terdapat widget 'Arsip' yang ditampilkan dengan sangat simpel. Tidak terlalu mengambil banyak space, namun agak sedikit menyulitkan jika harus membuka satu-persatu arsip di setiap bulannya, karena tidak adanya informasi mengenai jumlah postingan pada tiap bulan tersebut. Kemudian setelah itu ada pula 'facebook badge' sebagai pelengkap informasi tentang pemilik blog, yang sebelumnya sudah tertuang pada tab *91’91*. Dua widget terakhir, yakni ‘Gubug Sahabat’ yang berisi tautan blog para sahabat Gamazoe yang diurutkan berdasarkan nama pemilik blog, dan juga sedikit informasi tentang 'statistik blog' menjadi pelengkap sidebar Gamazoe.

Jika dilihat dari keberadaan dan isi dari sidebar Gamazoe ini, sebenarnya memang sudah cukup memuat informasi mengenai blog tersebut, walaupun dalam penggunaannya, masih ada beberapa widget yang agak sulit untuk dimaksimalkan dalam menggali informasi mengenai Gamazoe. Terutama untuk widget arsip yaa…

Kurang lebih satu bulan dari sekarang, Gamazoe akan genap berusia dua tahun. Umur yang masih terbilang muda, namun sudah cukup dewasa untuk ukuran sebuah blog. Dalam kurun waktu sebanyak itu, Gamazoe telah berhasil memperoleh pagerank 3. Angka yang cukup bagus berdasarkan penilaian saya, sedangkan jumlah kunjungan sudah ada sebanyak 14.893 kali. Ini merupakan angka ‘visit’, yang tentunya berbeda dengan angka ‘page’ yang jumlahnya mencapai 79.948 kali. Whaowww… hampir lima kali lipatnya. Dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa sekali seseorang berkunjung ke Gamazoe, orang tersebut akan membuka paling tidak 5 halaman lain dalam blog tersebut. Saya rasa hal ini sangat mungkin terjadi karena dalam beberapa postingan di Gamazoe yang saya amati, Dhe tidak pernah lupa untuk memasang link hidup pada satu atau dua kata dalam postingan tersebut yang mengarah pada postingan yang sudah terpublish sebelumnya. Ini bisa jadi salah satu trik yang patut dicontoh untuk menaikkan satatistik blog loh… ;)

Kalau boleh saya menyematkan gelar, saya ingin memberikan penghargaan pada Gamazoe sebagai “The True Personal Blog”, karena memang Gamazoe adalah satu dari hanya sedikit blog yang pernah saya temui, yang benar-benar bersih dari iklan, widget yang tidak perlu, serta memang menyajikan tulisan untuk dinikmati. Template, header, sidebar, bentuk tulisan, panjang postingan, kesemua elemen dalam suatu blog sudah ditampilkan dengan cara yang sangat sederhana, dan sangat mendukung pengunjung untuk fokus ke ‘hidangan’ yang tersaji dalam blog tersebut. Keramahan pemilik juga terlihat dari banyaknya komentar yang datang dari berbagai penjuru, yang tidak hanya sekedar berkomentar terhadap postingan, melainkan juga ada interaksi didalamnya. Hal ini membuktikan bahwa Dhe, sudah berhasil menjadi seorang personal blogger yang terbilang sukses. Keep blogging Dhe, keep down to earth Gamazoe, and don’t let your real life limited your access to the internet. Hahaha… <<< ini pesan sesat, yang sangat boleh untuk diikuti :D

Oke, mungkin itu yang dapat saya tuliskan. Semoga reveiw yang juga tak kalah sederhana ini bisa jadi satu persembahan cinta untuk Gamazoe... :-*

17 June 2013

Gili Trawangan Juga Bisa Tidur

Jingga sudah berlalu saat kaki ini menapak untuk pertama kalinya dipasir putih Gili Trawangan. Gelap dan asing. Biasanya jika berada di tempat baru, otak secara tidak sadar akan memutar kembali memorinya, mencoba mencari kemiripan-kemiripan mengenai tempat baru tersebut dengan kejadian-kejadian yang sudah terekam sebelumnya. Mungkin, itu salah satu bentuk adaptasi seorang makhluk Tuhan di tempat asing. Bisa jadi berhasil, bisa jadi tidak. Namun sepertinya malam itu otak saya gagal, menyerah, dalam usaha yang sebenarnya masih belum terbilang maksimal.

Tak jauh setelah meninggalkan tempat perahu kayu merapat, saya seolah masuk ke dunia yang baru. Jalan kecil selebar mobil yang cukup ramai dengan pejalan kaki menjadi pemandangan pertama yang saya nikmati. Sesekali, ada juga Cidomo (andong dalam bahasa Sasak, Lombok) atau sepeda gowes yang berlalu lalang. Orang-orang yang saya temui juga beranekaragam, mulai dari turis luar negeri berkulit putih dan hitam, ada juga yang berwajah oriental, serta tak ketinggalan pula senyum ramah para penduduk lokal yang menawarkan penginapan. Rekan seperjalanan saya menanyakan kemana kami akan melangkah, dan tanpa pikir panjang, saya memutuskan kearah kanan. Yah, kanan sepertinya memang lebih baik.

Sebenarnya tak direncanakan, namun memang pilihan ke kanan bukanlah suatu kesalahan. Masjid, menjadi tempat persinggahan pertama kami, sembari memikirkan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Saya akui, bahwa perencanaan yang matang itu sebenarnya hanya berakhir pada,
"Sorenya kita menyeberang ke Gili, jika ada perahu. Jika tidak, kembali ke Mataram pun tak masalah..."

Saya sama sekali tidak memiliki referensi tentang Gili Trawangan. Seorang sahabat di Lombok juga hanya menyampaikan, di Gili Trawangan banyak penginapan. Itu saja, tanpa menyebutkan satu atau dua penginapan yang bisa menjadi destinasi kami. Jika sudah seperti ini, maka tinggal keberuntungan yang kami tunggu, sambil berusaha mencari informasi dari penduduk lokal yang bisa dipercaya. Bukan, bukan bermaksud berprasangka buruk, namun lebih untuk kewaspadaan saja. Selain itu, rekomendasi seseorang sangat penting dalam hal ini, sekalipun seringkali hal itu bukanlah yang terbaik yang bisa kita dapatkan.

Akhirnya tanya kami terjawab. Di tengah temaram bulan purnama yang terlihat sangat nyata malam itu, kami mulai melangkahkan kaki menuju sebuah penginapan yang disebut-sebut cukup recommended, oleh seorang Adi, salah satu jamaah sholat isya' yang kami temui di masjid. Adi bukanlah penduduk asli Gili Trawangan, ia berasal dari Ampenan, salah satu daerah di kabupaten Lombok Barat. Sepanjang perjalanan yang tak lebih dari lima menit menjauh dari jalan utama itu, ia banyak bercerita tentang Gili Trawangan dan pengalamannya selama beberapa bulan disana, sekedar untuk mengais rejeki. Sesekali pula kami dibuat tertawa oleh kisahnya yang lucu. Hmmm,... Satu lagi orang baik didunia untuk hari ini. Alhamdulillah... :)

Begitu sampai di penginapan yang dimaksud, kami segera melihat-lihat kamar, dan tanpa pikir panjang kami menyetujuinya. Entah, karena sudah terlalu lelah atau memang kamar tersebut yang cukup nyaman menurut kami. Yang pasti, hingga saat ini sama sekali tak ada penyesalah dalam pengambilan keputusan itu. Bapak Heru, pemilik penginapan sekaligus jasa travel tempat kami menumpang, juga orang yang sangat ramah. Beliau menyambut kami dengan sangat baik, lengkap dengan dua cangkir kopi dan teh yang cukup menghangatkan. Yahhh,.. Sepertinya saya memang masih harus banyak bersyukur untuk hari itu, malam itu, detik itu juga.

Tepat jam duabelas malam, saya bersama rekan seperjalanan saya memutuskan untuk keluar. Hal ini bukan yang pertama, saya bersamanya, menghabiskan semalaman 'diluar'. Mungkin bisa dikatakan kebiasaan, walaupun sebenarnya baru beberapa kali kami melakukan hal semacam itu. Jika tempo hari kesempatan itu ada di Malang dan Jogja, maka saat ini Gili Trawangan menjadi sasarannya. Ternyata setelah bertahun-tahun, kebiasaan itu belum berubah yah? Saat malam menjadi waktu istirahat bagi orang lain, maka saat itu pula pikiran-pikiran liar kami mulai hidup. Ada sesuatu yang berbeda, yang unik, yang tidak biasa, melihat bagaimana kehidupan dimalam hari, dimalam yang sebenarnya.

Beberapa penginapan dan tempat makan sudah mulai tutup, namun kami tetap memilih untuk terus melangkah. Menjauh dari penginapan, sembari mencoba mengingat-ingat jalan untuk pulang. Kami mendengar ada suara-suara yang menyampaikan kalau malam itu ada "Full Moon Party". Kami tidak tau seperti apa bentuknya, namun sepertinya pesta tersebut diselenggarakan di sisi lain Gili Trawangan. Sempat bertanya pada kusir cidomo yang menawarkan jasa mereka kepada kami, ternyata untuk mencapai lokasi pesta bulan purnama tersebut kami harus membayar limapuluhriburupiah. Begitu mendengar hal itu, seketika kami memutuskan bahwa dengan berjalan kaki sepertinya akan jauh lebih menarik. Hahha... 

Diujung jalan, walaupun sebenarnya bukan benar-benar ujung karena jalan utama di Gili Trawangan merupakan jalan lingkar mengelilingi pulau, kami menemukan sebuah lokasi yang masih ramai dengan berbagai etnis manusia, juga gerobak-gerobak penjual beranekaragam makanan. Akhirnya sampai juga kami di lokasi yang kami ingini sejak tadi. Tidak jelas juga apakah lokasi tersebut yang dimaksud dalam event Fullmoon Party, tapi sepertinya hal itu sudah terabaikan begitu kami melihat berbagai macam makanan tersaji dimasing-masing stand.

Sebagian besar penjual makanan disana merupakan penduduk lokal, bahkan ada juga beberapa yang orang jawa, yang tentunya kesemuanya sudah fasih berbahasa asing. Saking seringnya mereka berinteraksi dengan orang asing sepertinya ya, dan memang sebagian besar wisatawan di Gili Trawangan bukanlah wisatawan lokal. Uniknya, saat saya dan rekan seperjalanan saya sedang memilih-milih ikan yang akan kami santap, seorang bule menunjuk salah satu ikan yang berbentuk panjang seperti pipa yang moncongnya meruncing seperti pedang dan dengan fasih menyampaikan pada kami, "Ini enak." Whaowww... Agak kaget juga saya dibuatnya. Setelah saya memastikan kembali apa yang dikatakan si bule itu, akhirnya kami memutuskan untuk memilih ikan tersebut. Ikan Barakuda. 

Usut punya usut, ternyata wisatawan asing yang merekomendasikan ikan Barakuda itu, sudah tinggal di Gili sejak tiga bulan yang lalu. Begitu kata penjual ikan yang kami tanyai. Pantas saja bahasa Indonesianya cukup fasih. Bule yang unik...

Satu jam lebih kami habiskan untuk menikmati santap tengah malam dengan menu yang tidak biasa. Kami kemudian memutuskan untuk segera kembali ke penginapan, karena tubuh sudah berontak ingin diistirahatkan. Tapi kesunyian pantai Gili Trawangan malam itu cukup menggoda saya. Saya putuskan untuk duduk-duduk barang sejenak dipotongan kayu besar yang terhampar disepanjang pantai. Senyap. Lengang. Tenang. Damai. Hanya kecipak ombak kecil yang memenuhi ruang dengar. Hampir semua penginapan dan rumah makan ditepi jalan sudah tutup. Hanya beberapa lampu yang masih tetap menyala, sekedar menandakan bahwa didalam bangunan-bangunan tersebut ada penghuninya yang tengah terlelap. Segala keriuh ramahan Gili Trawangan yang saya temukan beberapa jam yang lalu kini menguap, ditelah temaram malam yang samar menampilkan cahaya bulan penuh. Ternyata Gili Trawangan juga bisa tidur, kawan.

Pantai Gili Trawangan, 26 Mei 2013, 1.30 am

Malam yang indah, dan sangat sempurna. Terimakasih banyak, untuk hari sungguh menyenangkan :)