29 July 2013

Perjalanan Terakhir

Beberapa hari yang lalu, sambil menanti datangnya waktu berbuka puasa, seorang sahabat bertanya kepada saya melalui telepon, 

"Kamu, apa gak berkeinginan untuk jalan-jalan ke negeri tetangga? Singapura, Malaysia, atau Thailand mungkin?" 

...dan, lagi-lagi jawaban yang saya lontarkan selalu sama seperti sebelum-sebelumnya, 

"Saya masih ingin disini, mengeksplor kekayaan Indonesia yang saya yakin masih banyak yang belum terjamah. Menginjakkan kaki di Sumatera, wisata alam bawah laut di Bunaken, menikmati hangat pantai Bobo di Halmahera, atau sekadar berkunjung ke Merauke. Juga banyak lagi mimpi yang mungkin belum bisa terealisasi dalam waktu dekat, dalam kesempatan yang singkat. Lagi pula, Singapura mah tanggung. Kalo ada kesempatan ke luar negeri, saya maunya langsung ke Eropa, ke Swiss. Hehe..." 

Kemudian di waktu yang berbeda, seorang sahabat lainnya kembali bertanya pada saya, 

"Jika ini Ramadan terakhir untukmu, maka apa satu mimpi yang paling ingin kamu wujudkan?" 

Hmmm...

Beruntungnya pertanyaan itu tidak disuarakan melalui telepon juga, jadi saya masih punya banyak waktu untuk berpikir, untuk memutuskan, untuk mempertimbangkan. Sekalipun tetap saja ada batasan akhirnya. Hingga saat ini, si nona cantik yang mengajukan pertanyaan itu tak henti-hentinya memberondong saya dengan tagihan jawaban atas pertanyaannya.

Namun semakin banyak waktu yang saya habiskan untuk menilai dan memilih, ternyata saya semakin tidak mengetahui apa jawaban dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang terkesan sederhana tapi tidak untuk penentuan jawabannya. Ya, saya bingung.

Mimpi saya banyak, tak hanya satu dua. Tiga atau empat pun sebenarnya tak seberapa, karena jika mau, mungkin tak lebih dari seminggu waktu yang saya butuhkan untuk semua itu. Tapi nyatanya mimpi saya tak hanya sesederhana satu, dua, tiga, atau empat. Lebih. Semakin kesini pun, semakin lebih ingin yang dimiliki. Lagi-lagi saya semakin bingung.

Sempat terpikir juga, apa, saya sebutkan saja ya semua mimpi saya dalam satu kesatuan judul besar? ‘Menikmati sensasi berbuka puasa dan sahur di 27 titik berbeda di muka bumi’. Dalam beberapa detik pertama saya merasa bahwa itu sebuah mimpi yang hebat. Hingga akhirnya satu menit berlalu dan pertanyaan lain kembali muncul, 

“Setelah itu, lantas apa lagi?” 

Perjalanan... Perjalanan... Hanya itu yang terlintas di kepala saya. Satu mimpi terakhir yang sangat ingin saya wujudkan seharusnya erat kaitannya dengan suatu perjalanan. Karena hidup adalah perjalanan, karena saya sangat menyukai perjalanan, dan karena blog ini hadir juga karena perjalanan. Tapi perjalanan kemana? Bersama siapa?

Hmmmm... 

Saya kira setiap dari kita akan mengakhiri suatu perjalanan, kata yang terpikir selain ‘lelah’ atau ‘puas’ adalah ‘pulang’. Pulang ke daerah yang mungkin boleh kita sebut dengan ‘rumah’. Pulang ke lingkungan yang sekalipun sudah berkali-kali kita tinggalkan namun tetap saja ada suasana bersahabat disana. Pulang ke tempat dimana kita tak pernah merasa kesepian sekalipun tak ada seorang pun di sekitar kita. Ya, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa saya ingin pulang.

Mungkin belum terlalu banyak perjalanan yang saya lakukan. Mungkin belum terlalu banyak tempat eksotis yang saya kunjungi. Mungkin belum banyak pula jejak yang saya torehkan di muka bumi. Mungkin juga baru singkat saja saya tuliskan berbagai kisah itu dalam rangkaian kata. Namun inilah keputusan saya.

Jika memang ini Ramadan terakhir untuk saya, maka saya ingin pulang. Berkumpul bersama Mama, Papa, Tante, Kakak, Adik-adik, Mas, Bapak, Ibu, dan anggota keluarga lainnya. Saya ingin menghabiskan waktu bersama mereka, waktu yang selama ini sudah terlalu banyak tersita untuk menyenangkan diri sendiri. Bahkan saya sudah lupa, kapan terakhir kalinya saya menghabiskan sebulan penuh Ramadan bersama mereka?

Ya, saya harus pulang. Saya akan pulang. Saya ingin pulang. Alhamdulillah, senang sekali rasanya akhirnya saya bisa menyimpulkan jawaban yang menurut saya paling tepat untuk saya serahkan pada sahabat saya si penanya itu. Hasil kerja keras otak dan hati saya selama beberapa hari belakangan ini terjawab sudah. Saya lega. Semoga malam ini saya bisa tidur dengan nyenyak, sambil menunggu waktu sahur tiba.

*
 
di suatu titik, menjelang pagi, dalam perjalanan 'pulang'

Kemudian suara dari dalam hati saya kembali mengumandangkan suatu tanya, 

“Apakah, saya harus menunggu hingga Ramadan terakhir sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang?” 

Fiuhhh… Ternyata masih ada satu pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan!

* 

09 July 2013

Ramadan Lagi, dan Masih di Perantauan

InsyaAllah, tahun ini akan jadi ramadan kedua di tanah Sumbawa, kabupaten Dompu, yang hanya tampak sebagai sebuah titik kecil di Google Maps. Sekian ratus kilometer jaraknya dari bangunan yang boleh saya sebut 'rumah', sekian kali perjalanan udara, sekian kali menyeberangi selat dan laut yang pembelah pulau, sekian jam perjalanan berjarak.

Ada sedikit rasa lupa, bagaimana saya melaluinya tahun lalu? Hmmmm.. Bantu saya mengingat. Sekalipun mungkin tak akan jauh berbeda daripada sebelum-sebelumnya. Di kepala sudah ada banyak rencana, tapi tanggal 3 Agustus 2013 seolah sudah menghantui sejak lama, tanggal dimana saya memutuskan untuk memesan tiket pesawat penerbangan dari Lombok menuju Surabaya. Akankah seperti yang terencana? Kita lihat saja nanti...

Sudah ada perbincangan dengan seorang kawan, makan apa kita malam nanti? Apa menu sahur kita untuk sahur pertama nanti? Sudah beli sandal jepit untuk persiapan tarawih di masjid? Hal-hal kecil yang meramaikan ramadan di tanah rantau. Tanpa mereka, mungkin semua hanya berlalu begitu saja. Terkesan terlalu memikirkan hal yang tak penting memang, tapi justru merekalah yang memberikan warna tersendiri untuk kami para penyendiri.

Ahh ya, mulai menghitung hari juga. Tanggal 10 Ramadan, jatuhnya hari apa ya? Jadi teringat juga obrolan di tengah malam, beberapa waktu yang lalu.

Seseorang nun jauh disana menanyakan pada saya, "Mau hadiah apa untuk ramadan kali ini?"
Singkat saja jawaban saya atas pertanyaan itu, "Saya hanya ingin dibantu doa, semoga ramadan kali ini adalah ramadan terakhir yang saya lalui tanpamu..."
...
"Aamiin... Yaa rabbal 'aalamiin..."
:)
...dan, terbenamnya matahari sore ini menjadi penanda datangnya ramadan :)
Selamat datang ramadan. Selamat berlomba-lomba berbuat kebaikan, kawan. Saya tunggu ceritanya tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi di bulan penuh berkah ini yah. Semoga segala amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Aamiin... :)

01 July 2013

Welcome to Kupang ^^

Kupang!!! Yeahh,.. Akhirnya berkesempatan juga untuk berkunjung ke timur. Walaupun  sempat sedikit dikecewakan karena rencana awal adalah ke Jogja. Yah, okelah, yang penting jalan, yang penting travel, yang penting main, yang penting berkunjung ke tempat baru. Gak pake lama, akhirnya pada awal bulan juni berangkatlah kami berempat, grant team from Plan Indonesia PU Dompu. Rutenya sedikit memutar, dengan total menghabiskan sekitar sepuluh jam perjalanan: Dompu - Bima - Denpasar - Maumere (Sikka) - last, Kupang, Ibu kota propinsi Nusa Tenggara Timur kita tercinta.
Sempat foto di Bandara sebelum masuk ke pesawat, lengkap dengan alat musik Sasando khas Pulau Rote, NTT. Cerah ya? Iyadonk, karena foto ini diambil oleh Ulil pas pulang, bukan pas datang. Hehehe..
Takjub deh pas pertama kali pesawat mendarat. Dapat kabar dari seorang teman yang udah nyampek duluan karena jalur yang berbeda, ternyata bandara di wilayah yang mayoritas penduduknya adalah non muslim terdapat musholla yang nyaman banget buat lesehan plus ngadem, walopun gak pake AC. Sempat singgah disana sebentar, dan memang mushollanya enak banget buat istirahat. Sore itu Kupang agak mendung, sunset tak terlihat, tapi atmosfer yang berbeda cukup membuat diri ini excited. Selalu seperti itu, tiap kali masuk ke tempat baru. Indonesia itu luas, kawan...!

Selanjutnya, langsung pesan taksi bandara dengan tarif 60.000 rupiah kemana saja tujuannya --asal masih masuk teritori ibu kota yah. Penumpangnya pun dibatas, maksimal hanya untuk 4 orang. Lebih satu orang? Tidak ada toleransi, silakan pesan taksi yang lain sodara-sodara. FYI juga, jadi, yang disebut dengan taksi disana itu bukanlah taksi seperti yang ada di Jawa maupun Lombok, ato daerah lainnya. Semua taksi disana menggunakan mobil keluarga jenis Avanza, Xenia, atau Innova. Waktu saya tanya ke om sopir, ini mobil punya siapa? Ternyata yang punya ya memang bandara, atau, perusahaan apa ya namanya? Saya lupa :|

Saya menyengaja memilih duduk disamping om supir, supaya bisa melihat lebih luas mengenai Kupang. Jalannya berkelok-kelok, naik turun pula. Padahal itu ditengah kota ya, dan kalau tidak salah Kupang kan berada di pesisir utara pulau Timor, tapi kontur tanah yang unik akhirnya berhasil membentuk kota yang seperti itu. Kata beberapa teman, mirip dengan di Semarang. Namun saya tidak bisa memastikan juga, karena seingat saya, belum pernah rasanya kaki ini memijak ke Semarang. Hehe... :D

Taksi bandara, ya, plat nomornya kuning :)
Ternyata ada hypermart! Hahaha.. Heboh gitu deh, maklum udik, gak pernah lihat mall di Dompu *hiks*. Ada juga Solaria, trus ada juga restoran fastfood lainnya. Whowww, lumayan lah. Walaupun kalo dibandingkan dengan ibu kota NTB, kota Mataram, rasanya tidak jauh berbeda. Jangan, jangan bandingkan dengan Jawa. Baru berniat saja sudah tidak adil rasanya. Hemmm...

Cukup lama juga menikmati perjalanan di sore menjelang malam itu, sambil menikmati gradasi warna langit yang berangsur menghitam. Hawa yang sejuk akhirnya berhasil memaksaku membuka jendela taksi lebar-lebar. Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, sampailah kami di Swiss-BelInn Kristal Hotel, Kupang. Akan menjadi tempat tinggal baru saya dalam tiga malam kedepan. Bersahabatlah,..! :)

Baru beberapa menit di Kupang, saya sudah mempelajari beberapa hal, terutama mengenai sapaan khas Kupang, salah satu modal SKSD sama penduduk lokal nih. Ini sedikit saya beri bocoran:
  • Om >>> panggilan untuk laki-laki yang (sepertinya) sudah menikah
  • Mama >>> panggilan untuk perempuan yang (sepertinya) sudah menikah
  • Kakak Nyong >>> panggilan untuk laki-laki yang (sepertinya) belum menikah dan (sepertinya) lebih tua dari kita
  • Kakak Nona >>> panggilan untuk perempuan yang (sepertinya) belum menikah dan (sepertinya) lebih tua dari kita
  • Nyong >>> panggilan untuk laki-laki yang (sepertinya) belum menikah dan (sepertinya) seumuran atau lebih muda dari kita
  • Nona >>> panggilan untuk perempuan yang (sepertinya) belum menikah dan (sepertinya) seumuran atau lebih muda dari kita
Kenapa ada saya tulis kata "Sepertinya"? Karena itu tak lebih hanya perkiraan saja. Gak mungkin juga rasanya sebelum kita ngobrol uda tanya-tanya duluan masalah sudah menikah atau belum plus umurnya berapa. Ada juga ntar gak jadi SKSD malah diomelin sama orang. Hehe...

Catat tuh temans, siapa tau suatu saat ada kesempatan untuk berkunjung ke Kupang, atau sekitarnya, karena sepertinya panggilan itu berlaku untuk semua wilayah NTT, baik di Flores, Sumba, Timor, Alor, maupun pulau-pulau  kecil di sekitar wilayah NTT.

Yak, sekian saja pembukaannya. Setelah beberapa postingan terdahulu saya ajak teman-teman untuk menikmati keindahan Lombok dan Gili Trawangan (bisa dibaca di sini, di sini, di sini, dan di sini), semoga dalam beberapa postingan kedepan saya bisa sedikit bercerita tentang Kupang dengan segala keunikannya. Sila menunggu :)