23 August 2013

Aku Mau Jadi Anakmu

Ini kisah, tentang seseorang yang pernah kujumpai dulu, dulu sekali, dalam kesempatan tak terduga dan tak terencana. Bisa jadi karena ketidaksengajaan itu, lantas mata hanya merekam sosoknya sesaat, otak tak menyimpannya rapat-rapat, karena tak menyangka juga bahwa memori itu akan berguna suatu saat nanti, atau lebih tepatnya hari ini.

Hingga tiba kesempatan kedua menatap raut mukanya, dalam sebuah benda mati dua dimensi yang cukup jujur dalam mendeskripsikan kerut-kerut wajahnya yang penuh makna. Seketika dalam diri berucap,

"Aku sama sekali tak mampu mengingat bagaimana kau dalam pertemuan tempo hari itu. Tapi memandangmu saat ini, sama sekali tak memberi kesan asing dalam diri. Pandangan matamu dalam kanvas itu sangat bersahabat, hingga aku tak segan untuk berusaha mengingat dan menatapnya lekat-lekat. Aku seolah mengenalmu, tapi tidak seperti mengenal orang lain pada umumnya..."

Di sudut ruang yang lain, di lorong-lorong sepi lemari kayu usang, kembali kutemukan mata yang teduh itu menatapku ramah. Dengan mudah kudapati sosoknya diantara beberapa kepala. Ternyata tak butuh waktu lama untuk mengukir kenang tentangnya. Kali ini aku bisa ingat, dan semoga akan selalu ingat dengan garis-garis wajahnya yang sangat bersahabat.

Dalam pertemuan nyata di beberapa menit selanjutnya, tak banyak kata yang terucap. Aku menjawab dengan tergagap beberapa tanya yang mengudara, lengkap dengan gesture yang entah seperti apa kacaunya. Dadaku berdegub, telapak tanganku sudah basah oleh gugup. Ada syahdu saat dahi ini sempat menempel di punggung tangannya yang renta. Kukira, beliau memang sosok yang sama yang sempat pula kujabat tangannya lima tahun silam.

Semoga akan ada pertemuan selanjutnya setelah ini, yang tak perlu menunggu hingga bertahun-tahun lagi. Ingin rasanya diri ini bisa menyapamu setiap pagi, dan menambahkan namamu dibelakang deretan panjang mereka-mereka yang senantiasa kusebut namanya di setiap akhir fadhuku, di sela-sela rinduku.

"Bapak, aku mau jadi anakmu, insyaAllah..."

21 August 2013

Wisata Silsilah

Setelah, kurang lebih sembilan belas tahun lamanya, akhirnya pada lebaran tahun ini saya kembali mendapat kesempatan untuk berlebaran di tanah kelahiran Mama, tanah kelahiran Nenek, Kakek, Nenek Buyut, serta keluarga besar dari Mama lainnya. Ya, beberapa waktu yang lalu saya baru saja menginjakkan kaki di pulau Sulawesi, provinsi Sulawesi Selatan tepatnya, kabupaten Bone, kecamatan Kajuara. Kalau orang sana (termasuk saya) biasa menyebutnya dengan "Tana Ugi", yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya "Tanah Bugis".

Jadi, masih ada yang belum percaya kalau sebenarnya saya ber-darah Bugis? Kalau sudah percaya, terimakasih banyak, kalau belum iyasudah gak papa, walopun kadang sebel juga jadinya. Hehe :p

Sebenarnya keinginan untuk kesana sudah ada sejak, mungkin sekitar dua atau tiga tahun belakangan ini. Berkali-kali si Mama juga menyampaikan kalau ingin sekali bisa berlebaran di Bone, tapi selalu urung terlaksana. Hingga pada saat bulan puasa kemarin, wacana untuk berlebaran di sana kembali mengudara. Tidak butuh waktu lama untuk saya dan keluarga akhirnya memutuskan, menyesuaikan jadwal, sekalipun dalam prosesnya harus melalui diskusi yang cuku alot dan sempat menggalau selama dua hari. Bingung, karena banyak sekali rencana, banyak sekali yang ingin didatangi, banyak sekali yang ingin ditemui, sedang waktu terbatas. Yah, proses itu memang harus ada.

Hingga akhirnya, tanggal 7 Agustus 2013, sekitar jam 2 siang, saya sampai di rumah salah seorang Tante, di desa Ancu, kecamatan Kajuara, Bone, setelah melalui perjalanan darat sekitar 4,5 jam dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Tante yang sudah saya kenal karena keseringannya datang ke Jawa. Sedang saya kesana? Ini baru kedua kalinya! Rencananya rumah ini yang akan jadi tempat tinggal kami selama di Bone. Welcome home, Mae!

Hari itu adalah puasa terakhir sebelum besoknya berlebaran, dan tetangga depan rumah yang juga masih sodara, Tante juga kalo menurut silsilah, mengadakan acara buka puasa bersama. Kakak dan Mama yang sudah sampai terlebih dahulu sudah berada disana. Saya juga mau kesana, ceritanya temu kangen gitu ya, walopun gak yakin ada yang kenal. Akhirnya, saya minta adik saya yang paling kecil untuk mengantar.

Begitu masuk ke rumah tersebut, ternyata saya langsung disambut dengan cukup heboh...
"Waah,. Arma, sudah datang. Bagaimana kabarnya?"
"Arma jam berapa tadi sampainya? Gimana perjalanannya dari Makassar?"
ada juga yang ngomong, "Arma sudah besar yaa sekarang..."
dan saya hanya menanggapi mereka dengan senyum-senyum sambil menyalami mereka satu persatu, menjawab sebisanya dengan agak malu-malu plus kebingungan juga. Dalam hati berpikir, 'ini orang kok pada kenal semua yakkk?' 
Tidak lama, seolah mendengar suara hati saya, adik saya yang masih berdiri di samping saya berbisik, 
"Yakin deh, dari semua orang disini gak ada yang kamu kenal satupun!!!"
Saya langsung nyengir dibuatnya. Malu!!! Hahha... :))

Belakangan saya baru tau, ternyata sebagian besar dari mereka masih ingat dengan 'kunjungan' saya tempo hari, saat saya masih belum genap berusia 5 tahun. Luar biasa!

Akhirnya, untuk menanggulangi permasalahan tersebut, keesokannya saat bersilaturahim ke rumah saudara-saudara selepas shalat Ied, Mama selalu saya minta untuk menjelaskan mengenai siapa saudara yang sedang kami kunjungi serta bagaimana hubungan darahnya dengan kami. Semacam wisata silsilah begitu. Mereka pun --keluarga yang kami kunjungi, tak segan-segan pula untuk menjelaskan pada saya mengenai hubungan kekeluargaan tersebut. Walaupun akhirnya juga gak terlalu hafal, tapi sedikit banyak saya sudah mendapat gambaran mengenai silsilah kekeluargaan itu. Agak ribet memang, karena hampir setiap rumah di desa Ancu merupakan keluarga. Tapi saya cukup tertarik untuk mengetahui mengenai sejarahnya.

"Hal-hal lain mungkin dapat mengubah kita, tapi kita bermula dan berakhir bersama keluarga"
[Anthony Brandt]

Sempat foto-foto pas lagi di jalan mau silaturrahim ke rumah keluarga. Hehe...
anyway,
Selamat berlebaran, temans,
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum,
Minal aidin wal faidzin 
:)

20 August 2013

Melarut Ingatan, Mengukir Kenangan

picture source
Buah salak yang sudah busuk separuhnya tergeletak begitu saja diatas meja makan. Baru terlihat oleh mata sesaat setelah piring-piring dan gelas kotor saling beradu karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tak lama, Ia pun membuka suara, masih dalam kondisi punggung yang menyandar, menikmati berkas sinar matahari yang beranjak meninggi. Angin siang itu tak terlalu kencang, cukup untuk membuat dua kepala dibawah atap sederhana itu merasakan kenyamanan...

"Dek, ada sapu lidi gak? Coba ambilkan dua buah..."

Segera aku bergerak ke kamar terdekat, mengambil dua buah lidi yang menurutku cukup kuat dan panjang, satu berwarna merah, sedang yang lain berwarna hijau.

Sementara buah salak busuk sudah terkupas kulitnya, terbuang dagingnya, tercuci bersih bijinya, dan sekarang hanya tinggal tiga buah biji salak berukuran sedang berbaris telanjang di atas meja kaca, salah satunya agak menjauh.

"Butuh tali rafia?"
"Nggak usah, karet ini saja sudah cukup rasanya..."

Lalu aku menyamankan diri, sedikit serong didepannya, di kursi terdekat, hingga kepalaku menyandar pada jeruji besi jendela. Lama aku memperhatikan, dia memotong lidi, merangkainya menjadi satu bentuk yang sudah ada dipikiranku namun belum pernah aku saksikan wujudnya dalam nyata. Tangannya bergerak-gerak, memutar karet gelang dengan sangat lincah. Menggabungkan ujung yang satu dengan satunya, mengikat ujung yang lainnya, menggeser sedikit, mengeratkan ikatan, dan terakhir menancapkan dua buah biji salak di kedua ujung kaki rangkaian lidi tersebut. Persis seperti yang kubanyangkan, membentuk sebuah huruf A sempurna, dengan tambahan garis vertikal ditengahnya. 

Namun hal yang tak pernah mampu kubayangkan sebelumnya, baru akan terjadi sejurus kemudian. Aku berdiri menghadapnya, dia pun berdiri menghadapku. Angin masih bertiup, sejuk...

Dia gunakan dua buah tangannya untuk memegang kedua sisi huruf A yang berukuran cukup besar itu, sangat berhati-hati, seolah itu adalah mahakarya luar biasa dari seorang pengrajin ternama. Kutengadahkan tangan kananku, telapaknya mengarah ke langit-langit ruang dimana aku berpijak. Perlahan, dia letakkan ujung bagian bawah garis vertikal yang membelah huruf A itu menjadi dua bagian sama rata diatas ujung jari tengahku.

Sedetik kemudian ia melepaskan tangannya dari benda unik tersebut, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi menjauh. Sekilas, aku melihat senyuman tergambar di wajahnya.

"Begitukah, yang terjadi tempo hari...?"

Tak ada jawaban, tapi aku tau, dia sedang larut dalam ingatan. Nikmatilah, sayang... :)