11 November 2013

Maria Tsabat

Ada saat dimana saya kesulitan mengerti tentang apa yang sedang saya baca. Jika sudah seperti itu, saya akan kembali mengingat perkataan seorang sahabat, yang disampaikan pada saya beberapa tahun silam --saya tidak yakin dia masih ingat pernah menyampaikan hal tersebut.

"Biarkan buku itu yang bercerita. Lupakan segala ekspektasi orang tentangnya. Nikmati saja, baca saja sampai selesai. Hingga nanti pada akhirnya kamu akan mengerti bagaimana kisahnya, bahkan sebelum kamu menyadarinya..."

Kejadian seperti itu tidak hanya sekali saya alami, tapi tidak juga selalu mengalaminya. Hanya beberapa kali, pada beberapa buku yang berbeda, dan buku yang sedang saya bahas ini adalah salah satunya.

Mungkin, saya memang bukan pembaca yang baik. Dengan penuh keegoisan saya mengabaikan alur cerita. Saya hanya membaca, membaca, dan membaca. Membalik halaman demi halaman, menikmati setiap monolog yang disajikan. Ada kalanya saya paham dengan satu paragraf utuh yang bisa jadi menghabiskan berpuluh-puluh baris, kemudian terkaget dengan belokan alur yang terlampau ekstrem, hingga pada detik berikutnya saya kembali mengerutkan dahi.

Ada banyak 'aku' dalam buku ini, begitu juga dengan 'saya', 'kamu', apalagi 'dia'. Perselisihan enam--atau tujuh--tokoh didalamnya mewarnai setiap lembar kisah yang terpotong menjadi beberapa kepingan puzzle. Dan yah, kesimpulannya singkat saja, saya sangat menikmatinya--dalam bentuk potongan-potongan kisah, bukan dalam satu paket buku sebanyak tiga ratus delapan puluh enam halaman.
 
Sudah sampai di akhir, saatnya kembali ke awal lagi. Mengijinkan beberapa endorsements untuk masuk ke ruang pikir, yang pastinya tak akan terlalu banyak menyita keputusan saya untuk menyukai buku ini. :)
 

Jadi, kalau saya memutuskan untuk jadi penggemar seorang Herlinatiens hanya karena satu buku ini, tidak masalah bukan? Sungguh sama sekali tidak membuat saya kapok mengerutkan dahi karenanya. Bahkan sudah terbersit keinginan, bahwa ingin juga saya menikmati kisah-kisah suram darinya yang lain. Yang ternyata sudah ada sejak beberapa tahun silam, namun saya tak pernah menghiraukannya. Tapi, boleh jadi memang saya tidak bohong, saat saya katakan bahwa 'Herlinatiens' bukanlah nama yang asing buat saya. Well, satu lagi karya sastra Indonesia yang bisa saya nikmati. Terimakasih ya :)

Sebenarnya, saya ingin menyampaikan satu atau dua kalimat yang paling saya suka dari buku ini, seperti yang terdahulu. Namun ternyata, semakin saya pilah-pilah, semakin saya bingung. Saya menyukai setiap kalimatnya, setiap rangkaian katanya, setiap titik-komanya. Di masing-masing halaman yang terbaca, disana pula dengan mudah saya temukan keindahan-keindahan itu. Bukan dalam satu tumpukan cerita, melainkan bait-bait kata setiap jiwa. Perindu, yang mencinta. Yang bukan hanya sekadar kisah antara dua manusia.
 
...jadilah penikmat buku, yang lebih dari sekadar mengkhatamkannya.
Happy reading, kawans...
:)