06 December 2013

Saya Kembali Membaca!

Sudah hampir dua minggu berjalan, hobi lama saya kembali saya tekuni: Membaca! Terutama membaca novel yang selalu berhasil membawa pikiran saya melanglang buana, menembus batas tepian pulau dan menyeberangi laut, berkelana melintasi benua, yang bahkan belum pernah saya saksikan secara langsung dengan mata. Tapi yah, itulah kehebatan imajinasi manusia.

Dalam dua minggu ini, sudah dua buku setebal sekian ratus halaman yang sudah selesai saya baca. Masih ada empat buku lagi yang menanti, tiga diantaranya masih tersegel dengan rapi.

Yapp, dalam perjalanan ke Lombok minggu lalu, saya menyengaja singgah di Gramedia Mataram untuk belanja buku. Satu aktifitas yang sudah saya idam-idamkan sejak masih duduk di bangku kuliah, saat keputusan membeli satu buah buku berarti harus menghemat makan selama beberapa hari.


Dulu, rasanya selalu iri saat berbaris di kasir toko buku dan melihat seseorang dengan belanjaan buku yang jumlahnya banyak, bahkan melebihi sepuluh buah! Saya tidak peduli apa jenis buku yang mereka beli, entah itu komik, buku pelajaran, novel populer, atau sekadar buku teka-teki silang. Intinya saya takjub dan saya ingin sekali merasakan hal yang sama: saat saya bisa membeli buku-buku yang saya inginkan tanpa sibuk menghitung-hitung harganya, dan mengkhawatirkan apakah lembaran rupiah didompet dapat menutupinya atau tidak.

Hingga akhirnya saat itu saya membuat kesepakatan pada diri sendiri, bahwa kelak jika sudah berpenghasilan, saya harus menyisihkan sebagian penghasilan saya tiap bulan untuk membeli buku, minimal satu buah. Tidak sulit kan?

Namun ternyata hal tersebut belum bisa terlaksana, bahkan hingga saat ini. Saat ternyata saya sudah berpenghasilan sendiri, hidup sendiri, ternyata disekitar saya sangat sulit saya temui toko buku. Hanya ada satu toko buku kecil, di kota kecil, di salah satu pulau kecil, dan sungguh kondisinya sangat mengenaskan. Koleksi bukunya sangat sedikit, sebagian besar buku pelajaran sekolah, yang kondisinya sudah usang. Hemmm...

Kalau mengingat kondisi sekarang ini, sebenarnya saya punya pilihan lain, yakni membeli buku secara online. Tapi kawan, nyatanya mengunjungi toko buku dan berbelanja buku secara online adalah dua hal yang berbeda. Kita tidak bisa melihat-lihat buku jika berbelanja online, kita harus memasukkan judul buku yang kita inginkan, tidak bisa memilih sendiri sambil berputar-putar dari rak satu ke yang lain, dari roman ke sastra, dari buku kesehatan hingga resep masakan, atau buku lama hingga buku terjemahan. Tidak bisa! Dan saya termasuk salah satu penikmat aktivitas di toko buku yang semacam itu.

Kemarin saja saat di Gramedia, total saya menghabiskan waktu dua jam lebih. Jika tidak karena sudah terlampau larut, mungkin akan lebih dari itu. Lantas apa saja yang saya lakukan? Saya membaca! Dua buah buku berhasil saya habiskan dalam waktu tersebut, sambil menahan pegal di kaki karena memang tidak disediakan kursi. Jadilah, berbagai macam pose saya peragakan, demi supaya betah berdiri selama dua jam sambil membawa buku yang tidak bisa dibilang tipis. Nah, jika belanja online, bisakah saya menikmati momen-momen semacam itu?

Baiklah, mungkin sekian saja cerita saya tentang buku dan belanja buku hingga mencapai harga yang cukup fantastis untuk saya. Tapi okelah, tak ada ceritanya perhitungan untung rugi. Sekalipun mungkin buku yang sudah saya beli hanya saya baca satu kali, sebagai penikmat buku, menjadi suatu kebanggan tersendiri buat saya jika buku yang saya baca, memang milik saya sepenuhnya.

"Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan buku,
dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku"

Anda, setuju? ;)

*
Saya jadi ingat, beberapa bulan yang lalu ada seorang sohiblogger yang bertanya pada saya, 
"Jika 4 dari 5 panca inderamu ditarik Tuhan, pilihlah satu yang ingin kau pertahankan..."
dan tidak butuh waktu lama, saya pun menjawab,
"Mata..."
"Alasannya?"
"...karena melalui mata, Tuhan seringkali mengingatkanku untuk bersyukur"
Mungkin juga, termasuk rasa syukur saat saya bisa membaca... :)

02 December 2013

Pekan Kondom Nasional (?)

Boleh dibilang ini tulisan agak terlambat, karena nyatanya saat ini (2 Desember) sudah masuk pada Pekan Kondom Nasional, yang jatuh pada tanggal 1-7 Desember (sumber: detik.com). Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu saya baca sekilas di timeline twitter, facebook, dan lain sebagainya yang membahas tentang ini. Tapi berhubung hari ini baru balik ke kantor setelah numpang nginap di Lombok selama seminggu, jadilah, tulisan ini baru bisa saya buat --yang sebenarnya juga tidak terencana.

Kemudian pikiran saya kembali terusik saat beberapa waktu yang lalu TL twitter saya sedikit diramaikan dengan obrolah dua orang sohiblogger berseberangan pulau diujung sana, ini bahasannya:


Hemmm,.. Saya bisa jamin, bahwa sebagian besar teman-teman yang mengetahui tentang #PekanKondomNasional tersebut menjawab tidak setuju. Bahkan mungkin ada juga yang mengecam, sampai demo ini itu dan lain sebagainya. Nggak percaya? Coba aja teman-teman search di google dengan kata kunci "Pekan Kondom Nasional", dan lihatlah di beberapa baris teratas, tulisan-tulisan dengan nada menentang menjadi yang paling populer.

Sekarang mari kita balik lagi ke pertanyaan yang mungkin ada di seluruh kepala manusia yang mendengarkan tentang Pekan Kondom Nasional ini. Mungkin pertanyaannya tidak akan jauh dari, 
"Buat apa?"
"Perlukah?"
"Gak ada cara lain apa yaaaa...?"
atau kalo ngikut kata Uchank di gambar diatas, "Seriously? Di kampus? Gilaaak!"
...dan lain sebagainya.

Saya tidak bermaksud meremehkan pengetahuan dan rasa perhatian teman-teman semua terhadap masalah yang ada disekitar kita saat ini, termasuk mengenai pergaulan bebas yang konon katanya merupakan salah satu penyebab utama tersebarnya virus HIV secara luas. Tapi, pernahkan teman-teman benar-benar mencari tahu tentang kondisi tersebut?

Kalau tidak pernah, berarti kita sama. Saya juga tidak pernah secara sengaja mencari tahu tentang hal itu, apalagi dalam lingkup yang cukup luas. Tapi, karena project yang sedang saya jalani disalah satu pulau kecil di Nusa Tenggara Barat inilah, akhirnya saya dipaksa untuk berhubungan dengan hal tersebut. Panjang ceritanya, tapi satu yang pasti, salah satu goal dari project kami adalah untuk mempromosikan tentang dampak negatif dari pernikahan anak (pernikahan yang dilakukan di usia anak, yakni <18 tahun). 

Kaitannya dengan pergaulan bebas apa? Yakni karena sebagian besar dari mereka yang 'terpaksa' melakukan pernikahan anak, adalah karena pergaulan bebas, hamil duluan, marriage by accident, atau apalah itu istilah yang populer. Saya tidak bisa pastikan berapa prosentase besarannya, karena sebagian besar informasi itu saya dapat secara kualitatif, hasil ngobrol dengan teman-teman di desa, termasuk juga dengan 'korban'. Begitu mendengar hal itu, jujur saya merasa sangat miris. Bahkan saat pertama kali mendengarnya, saya hampir tidak percaya. Sampai akhirnya pada suatu forum, saya melihat dan mendengar secara langsung, mereka menyampaikan dengan tanpa sungkan sedikitpun, bahwa mereka memutuskan untuk menikah di usia anak (dan tentunya berhenti dari sekolah) karena hamil duluan. Ohh God,.. Kiamat segera datang!!! Pekik saya dalam hati. (Salah satu kisahnya bisa teman-teman baca ditulisan ini >>> Berawal Dari Kesalahan)

Lebih dari separuh desa dampingan yang saya masuki diawal, hampir selalu ada pembahasan mengenai pergaulan bebas, pernikahan pada usia anak, juga kehamilan di usia anak, yang tentunya berkontribusi pada angka kurang gizi dan gizi buruk di wilayah ini. Kami juga tak lupa untuk membahas solusi dari permasalahan tersebut. Dan, bisa teman-teman tebak solusi apa yang keluar? Nyatanya tidak akan jauh dari penyuluhan, penyampaian informasi tentang dampak negatif pernikahan anak, penguatan dari sisi agama, pengajian, dan lain sebagainya. 
Apakah hal itu sudah pernah dilakukan sebelumnya? Jawabannya SUDAH.
Dan apakah hal tersebut berhasil menyelesaikan permasalahan yang ada? Dengan lantang mereka menjawab, TIDAK.

Di suatu forum tak resmi lain, saat saya berkesempatan mengobrol dengan salah seorang bidan desa, beliau menyampaikan bahwa hampir 30% ibu hamil yang ada di desa tersebut berusia dibawah 18 tahun. Angka yang sungguh fantastis. Beliau sampai kehabisan akal bagaimana mengatasi permasalahan itu. Saya ingat, saat itu saya juga bersama dengan ibu manajer. Dan, ibu manajer saya sendiri rasanya sudah kehabisan akal. Hingga akhirnya muncul satu pernyataan darinya yang tidak bisa sepenuhnya saya tentang,

"Saya kira, kalau dari sisi preventif kita sudah maksimal namun nyatanya tidak menghasilkan sesuatu, mungkin bisa kita berikan sedikit saran, paling tidak, berhubunganlah dengan bertanggung jawab. Berhubunganlah dengan aman, tanpa risiko tertular virus HIV atau menjadi hamil. Mungkin kita sudah sampai pada titik itu untuk saat ini..."

Perdebatan setelah keluarnya pernyataan itu cukup panjang. Hingga akhirnya berhasil membelokkan sedikit idealisme saya, bahwa ide tersebut bukanlah ide yang sangat buruk. Saya jadi ingat tentang peristiwa penyediaan jarum suntik gratis untuk pengguna narkoba guna menekan penyebaran virus HIV (tulisan selengkapnya teman-teman bisa baca di sini >>> Junkies yang Terfasilitasi dengan Sejahtera). Teman, hal ini sudah terjadi sejak lama, saya menuliskan itu awal tahun 2011. Bukannya, program itu tidak jauh beda dengan membagi-bagikan kondom? Suatu tindakan terakhir yang boleh diperbuat, atau lebih tepatnya bisa diperbuat.

Mungkin pemerintah kita sudah sampai pada tahap putus asa untuk mencegah dan menanggulangi permasalahan tersebut. Karena saya yakin, mereka yang melakukan pergaulan bebas sebenarnya sudah tahu apa risikonya, apa dampaknya, sebenarnya boleh tidak dari segi norma dan agama. Saya yakin kita semua sudah cukup pintar untuk hal itu, namun nyatanya hal tersebut tidak cukup kuat untuk membentengi diri.

Apakah ini solusi terakhir?

Saya rasa tidak. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan, namun PR besarnya adalah hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan singkat. Harus ditanamkan semenjak kecil, semenjak seseorang baru masuk kedalam usia remaja, usia produktif, atau bahkan jauh sebelum itu.

Kalau boleh memakai bahasa yang lebih sederhana, yang sudah terlanjur terjadi ya biarlah, menyesali dengan sangat juga tidak bisa mengubah keadaan. Tapi untuk generasi selanjutnya, tentunya masih banyak yang bisa kita perbuat.

Sudah bukan saatnya lagi merasa tabu untuk memperkenalkan tentang sex education kepada anak kecil. Pilihannya hanya dua, kita sebagai orang terdekat yang menyampaikan secara terperinci dan jelas, dengan segala tanggungjawab dan risiko yang harus diemban, atau mereka, anak-anak kecil itu, mencari tahu sendiri kebenarannya termasuk 'mempraktikkan secara langsung'? Silakan teman-teman pilih.

Mengenai media, sebenarnya sudah banyak. Buku ini adalah salah satu contohnya. Walaupun saya belum membaca secara keseluruhan, tapi saya yakin ini adalah salah satu pilihan yang bisa saya perbuat kelak, kalau sudah berkeluarga. Selain tentunya pendidikan Agama yang seharusnya sudah ditanamkan kepada anak sejak kecil, sebelum ilmu-ilmu pengetahuan yang lain masuk.

Jadi, bagaimana pendapat teman-teman mengenai Pekan Kondom Nasional ini? Speak up yahh :D