30 November 2014

Naik Kelas

Sepuluh hari belakangan ini berasa sangat panjang, berjalan sangat lamban, dan banyak sekali yang harus saya selesaikan. Seketika menjadi sangat produktif memaksimalkan sisa waktu yang ada.
Ya, ini hari terakhir saya di Dompu. Besok sudah ada tiket pesawat satu arah yang menunggu saya, untuk perjalanan pulang ke Surabaya. Pulang saja, tanpa ada rencana untuk kembali lagi.

Dua tahun delapan bulan, saya melalui salah satu fase hidup yang sangat luar biasa di tanah Sumbawa. Sungguh, saat Maret 2012 lalu saya memutuskan untuk berangkat, saya sama sekali tidak menyangka jika akan bertahan cukup lama disini, belajar tentang banyak hal, mengenal banyak orang-orang baru dengan berbagai karakter, menemukan keluarga baru yang entah apakah bisa saya temukan lagi di daerah lainnya.

Secara sederhana, saya ingin menyampaikan bahwa Dompu, sudah menjadi salah satu bagian hidup saya. Dan entah kenapa, setiap kali berpamitan dengan teman-teman yang ada di Dompu, ada keyakinan dalam diri bahwa suatu saat saya akan kembali lagi.

Satu hal yang saya syukuri dengan sangat, bahwa selama saya di Dompu, banyak sekali perjalanan yang sudah saya lakukan. Beberapa destinasi lokasi yang dulu pernah saya impikan, beberapa sudah terwujud selama saya berada di Dompu.

Pulang ke rumah, tanpa niatan untuk kembali. Suatu hal yang aneh rasanya, karena lagi-lagi saya akan memasuki masa transisi sekira beberapa bulan, untuk kemudian masuk kembali ke fase hidup berikutnya, yang tentunya akan jauh lebih rumit. Anggap saja saya sedang naik kelas. :)

21 November 2014

10 Hari

picture source
Saat kamu tau akan berpisah dengan orang lain,
Saat kamu tau akan pergi dari suatu tempat, mungkin untuk selamanya,
Saat kamu tau akan kehilangan banyak hal berharga,
hari-hari terasa jauh lebih berarti dibanding sebelum-sebelumnya.
Seolah tak ingin melewatkan apapun yang ada, dalam sisa waktu yang dipunya, segala yang kasat mata ingin direkam sejelas-jelasnya...

Tinggal 10 hari, atau, masih 10 hari? :)

17 November 2014

The Solargraphy Project: Dompu Ikutan!

picture source
"Matahari adalah sebuah jam yang mengajak kita untuk merenungkan hubungan antara cahaya, ruang, dan waktu"

Solargraphy adalah teknik perekaman dengan Kamera Lubang Jarum yang dimana kertas foto (emulsi) diexpose dengan waktu yang lama, satu bulan bahkan bisa sampai satu tahun dan biasanya teknik ini digunakan untuk merekam lintasan matahari.

Pencetus ide solargraphy sendiri adalah 3 orang fotografer, antara lain Slawomir Decyk, Pawel Kula, dan Diego Lopex Calvin dengan membuat sebuah project Solaris pada tahun 2000 lalu.

Semua berlalu saja dengan cepat dan kita selalu melewati detil-detil kehidupan alam sekitar dengan begitu saja. Dengan teknik ini, kita menemukan cara untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh visi alam kita.

Sumber: solargraphyproject.com

*

Sebenarnya sudah agak lama mendengar tentang adanya project ini, project yang rencananya dilangsungkan sejak Agustus 2014 hingga Agustus 2015. Namun karena satu dan lain hal (terutama mengenai kertas foto emulsi yang di Dompu enggak ada :( ), jadilah, saya baru bisa mulai ikutan bulan November ini, berbekal oleh-oleh dari Jakarta kemarin. :D


Yapp,. pas di Jakarta kemarin, saya sempat bertemu dengan para 'artis'nya KLJI (Komunitas Lubang Jarum Indonesia), si Arie dan mbak Nur (yang kemungkinan besar masih punya hubungan saudara dengan saya! :)) ) Awalnya cuma pesan, pengen dibawakan beberapa lembar kertas emulsi, karena saya masih punya stok kaleng kosong yang saya buat pas event wokshop KLJI di HayDay sekitar satu tahun yan lalu. Tapi nyatanya, dibawain satu tas, yang isinya 5 buah kamera kaleng siap pakai yang sudah terisi dengan kertas foto, juga beberapa lembar kertas foto lengkap dengan kardusnya. Whaaaaaaaaaooowww.. banyak juga yakk :D

Hingga saat ini, total saya sudah menempatkan dua kamera lubang jarum di dua lokasi yang berbeda di Dompu. Yang pertama, ini:



Yang kedua, saya nitipin itu kamera kaleng ke salah satu kawan akrab di Dompu, namanya mbak Yani, bidan desa Marada, yang sudah dua tahun lebih menjadi sahabat sekaligus partner kerja. Lokasi desa Marada letaknya di sebelah selatan kabupaten Dompu, jaraknya sekitar 30 kilometer, dan merupakan salah satu poskesdes (pos kesehatan desa) yang paling sering saya kunjungi, minimal untuk numpang makan dan tidur siang sebentar *ups :))


Selfie bareng mbak Yani, pake kamera gede. Kebayang betapa gemeterannya tangan saya? :D
Sudah beberapa hari berlalu semenjak pemasangan kamera lubang jarum tersebut. Kemudian tanggal 15 November 2014 kemarin, hari Sabtu, saat hujan deras mengguyur Dompu dari siang sampai menjelang maghrib, terjadilah suatu percakapan jarak jauh via whatsapp antara saya dengan si Arie,


Kebayang kan gimana galaunya saya setelah itu? Hahahaha... Bisa-bisa kacau semuanya tentang project Solargraphy di Dompu ini. Saya betul-betul tidak ingat sama sekali tentang pemasangan selotip bening di lubang jarumnya. Sebenarnya beberapa kali teman-teman disini menanyakan,

"Gak papa kalo kena hujan?"
"Gak bakal kemasukan air?"

Dan selalu, dengan penuh percaya diri saya jawab enggak. Kan lubangnya kecil banget. Lagipula, teori fisika tentang perpindahan massa suatu zat juga jadi patokan saya. Sok jago fisika gitu, padahal ilmu itu sudah gak pernah lagi dipelajari semenjak di bangku kuliah. :|

Iyasudah, akhirnya siang tadi ini, saya manjat lagi ke tower tangki air di kos-kosan. Saya coba ketuk-ketuk kalengnya, sepertinya memang kosong, tidak ada air yang masuk walaupun beberapa hari ini di Dompu sudah mulai akrab dengan hujan (hampir setiap hari dan selalu deras!). Tapi untuk berjaga-jaga, akhirnya saya pasang juga selotip bening untuk menutupi lubangnya. Semoga hasilnya bisa tetap baik ya,...

Baiklah. Jaga diri baik-baik ya para kaleng. Semoga kalian senantiasa tegar menghadapi badai angin dan hujan serta panas yang menyengat. Sampai jumpa beberapa bulan kemudian :-*

*

Note: pasca saya publikasi di FB tentang keterlibatan saya (dan Dompu) dalam project ini, jadi ada beberapa teman di Dompu, penggiat fotografi, yang juga pengen ikutan. Tapi sampai sekarang masih belum nemu waktu yang pas untuk ketemuan sekaligus sharing tentang Kamera Lubang Jarum serta Solargraphy Project ini. Yah, semoga bisa segera. Aamiin.. :D

07 November 2014

Naik Transjakarta, Kenapa Enggak?

picture source
Pas ke Jakarta kemarin, selain urusan kerjaan, ada juga misi dadakan khusus yang harus saya kerjakan, yang akhirnya memaksa saya untuk melakukan perjalanan dari kawasan Menteng (tempat saya menginap), ke kawasan Permata Hijau yang letaknya di perbatasan antara Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Awalnya nanya-nanya donk ke beberapa teman yang tinggal di Jakarta, gimana caranya supaya bisa sampai ke Permata Hijau? Naik apa baiknya? Taksi, atau bajaj, atau ojek, atau apa? Tapi, berhubung saya adanya waktu adalah sore sampai malam, beberapa teman tidak menyarankan menggunakan taksi. Alasannya jalurnya bakalan macet banget. Selain bakal menghabiskan biaya banyak, biasanya supir taksi juga enggan kalau harus mengantarkan ke tujuan yang jalurnya rawan macet, di jam-jam macet pula.

Saat itu rencananya saya akan pergi sendirian. Jadi pilihan transjakarta atau KRL juga dicoret. Teman-teman yang lain juga tidak menyarankan, secara ya, saya buta total tentang Jakarta. Hehehe...

Terus, h-1 sebelum berangkat, iseng deh saya ngajakin teman kerja juga. Dia sih aslinya Dompu, cuma pernah kerja di Jakarta beberapa bulan, dan katanya sudah pernah keliling naikin semua jalur transjakarta pas libur lebaran! Ntah ini karena iseng kurang kerjaan atau saking frustasinya gak bisa mudik pas lebaran :)) Dan ternyata si temen ini nyanggupi. Yayyy, seneng donk saya. Gak perlu keluarin duit banyak, gak perlu pusing takut nyasar dan lain sebagainya karena sudah ada temennya.:D

Jadi, rencana pun di susun. Saya akan naik transjakarta dari halte Sarinah ke arah Kota Tua, transit di halte Harmoni CB, trus ganti naik transjakarta jurusan Lebak Bulus, turun di halte RS Medika. Nah, di halte sana nanti rencananya akan ketemu dengan teman yang punya misi khusus bareng saya.

Mulailah petualangan saya, jam 5 sore berangkat dari hotel. Awalnya berencana nunggu maghrib dulu, tapi di sisi lain khawatir juga kalau pulangnya kemalaman. Berhubung meeting hari itu juga agak cepat selesainya, jadi saya dan seorang teman memutuskan untuk berangkat jam 5. Lumayan lah, bisa hemat satu jam, daripada bengong di hotel.

Dari hotel, naik bajaj ke Sarinah, cukup 5ribu rupiah saja. Dari depan Sarinah, langsung naik jembatan penyeberangan menuju ke halte transjakarta. Satu kesan pertama: kalau sukak naik transjakarta harus kuat jalan. Jembatannya panjang bangeeeeeeett. Hahahha... Awalnya sempat berpikir, kenapa dibuat panjang banget gini ya? Kemudian gak lama, nemu sendiri jawabannya. Yaa biar gak terlalu capek, jadi dibuat landai gitu. Efeknya jadi lebih panjang sih jalurnya, tapi kalau santai kan lumayan, gak terlalu ngos-ngosan. :D


Begitu sampai di atas, hoaaaaaaaaaaa,,, pemandangannya kereeeen *noraknya kambuh :)) Mobil-mobil rapi banget di jalan raya. Gedung bertingkat juga seolah tengah berlomba adu tinggi. Di sisi lain, saya juga melihat beberapa bangunan yang sedang di renovasi. Agak bikin pemandangan kacau sih, tapi yasudahlah, ntar juga kalo udah jadi bakalan lebih bagus dari sebelumnya.

Sebelum masuk ke halte, saya sempatkan mengambil beberapa gambar dulu. Gak pake kamera, pake hp aja, karena lagi-lagi saya gak terlalu pede untuk sibuk dengan kamera di tengah keramaian. Disamping, waspada juga sih. Saya gak tau gimana tingkat kriminal di wilayah itu. Gak mau juga donk lagi asik-asik tenteng kamera trus ada yang jambret. Na'udzubillah...

Begitu sampai di loket, teman seperjalanan saya langsung pesan tiket untuk dua orang. Tapi ternyata, saat ini sudah tidak diperbolehkan lagi beli teket lepas. Maksudnya sebiji-sebiji gitu untuk sekali jalan. Bolehnya langsung beli kartu, harganya 40ribu rupiah, dengan isi vouchernya 20ribu rupiah, sedangkan tarif satu orang 35ratus rupiah. Kartunya bisa diisi ulang sih, dan bisa digunakan terus selama tidak rusak. Hmmm,.. Jadi, Jakarta saat ini tidak lagi ramah dengan pengunjung dari luar daerah, begitu? :D

Di mata saya, ondel-ondel itu gak ada lucu-lucunya sama sekali :|

Sempat mikir agak lama, si teman ngajakin naik taksi aja. Tapi kemudian mikir lagi deh saya. Naik taksi juga belum tentu biayanya kurang dari 40ribu, bisa-bisa lebih deh. Akhirnya saya memutuskan untuk beli kartu aja. Kalo pun dipakai cuma sekali, bisa untuk kenang-kenangan (dan bahan nulis di popcorn :D). Lagi pula, kartu satu aja udah bisa untuk beberapa orang, asal vouchernya masih cukup. Yasudah, akhirnya saya memutuskan membeli sebuah kartu member transjakarta. Warnanya oranye. Gambarnya Ondel-ondel. Kenapa harus ondel-ondel sih??? *abaikan pertanyaan ini.

Pas di bagian 'harmonika'. Ada yang on cam :D

Gak butuh waktu lama, bus transjakarta yang akan saya tumpangi akhirnya datang juga, bus gandeng warna merah. Pas lihat di tv penasaran banget gimana bagian dalam dari bus yang gandengan tersebut, yang bentuknya dari luar seperti harmonika. :D Apakah bisa bergerak-gerak juga seperti penampakan dari luar? Trus gimana kalo ada penumpang yang berdiri di antara sambungan tersebut? Boleh gak ya? Hahaha.. Banyak banget yang ada di pikiran saya. Nyatanya gak seheboh yang saya kira, ternyata biasa aja rasanya :|

Saya juga agak kaget pas teman saya langsung jalan ke bagian belakang. Awalnya ngikut juga donk, trus saya dikasih tau kalau gak usah ngikut. Ternyata, baru tau juga kalo bus yang depan itu khusus penumpang perempuan, sedangkan yang belakang tempatnya laki-laki, tapi perempuan juga boleh masuk gerbong yang belakang. Kasian ya yang laki-laki? Jadi terdiskriminasi gitu. *ehh.

Sepanjang perjalanan, lagi-lagi saya memperhatikan sekitar. Penumpangnya lebih banyak yang berdiri daripada yang duduk, dan gak sedikit yang satu tangan berpegangan pada pegangan gantung, sedangkan tangan yang lain sibuk utak-atik gadget. Mbak mbak mbak, gak takut jatuh apa ya? Saya aja yang pegangan dua tangan masih berasa mau oleng aja tiap kali busnya ngerem atau belok. Eh tapi, kemudian mikir lagi. Apa karena saya yang gak biasa ya? Atau memang ada masalah dengan keseimbangan tubuh saya? Karena semakin saya perhatikan, ternyata banyak juga yang hanya berpegangan satu tangan tapi santaaai gitu, gak oleng, gak goyang-goyang, gak terpontang-panting, dan lain sebagainya.*halah.. mulai lebay. :D

Akhirnya tibalah saya di halte Harmoni Central Busway. Saatnya turun. Jadi ingat pesan dari teman, kalo di halte Harmoni kudu sabar, antriannya panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang. Dan ternyata itu benar adanya, kawan!

Kami kemudian mencari pintu untuk transjakarta jurusan Lebak Bulus. Eh iya, saya baru tau kalau dalam satu halte bisa ada banyak pintu, dan masing-masing pintu punya jurusan masing-masing. Okee, selain harus kuat jalan ternyata pengguna transjakarta gak boleh malas baca. Harus baca, atau minimal nanya, biar gak nyasar atau salah pintu :D

Gak pengen salah, akhirnya nanya ke petugas donk. Kemudian petugasnya bilang, jurusan Lebak Bulus ngantrinya disitu *sambil nunjuk banyak orang yang lagi baris sepanjang sekian meter. Alamaaak, antrian macam apa ini? #:-S



Saya cuma bisa pasrah, sambil bilang "Lembo ade yaa.." ke teman saya yang kayaknya agak ngantuk dan capek. Hihihi... Saya meminta dia untuk antre lebih dulu, di depan saya. Iyaps, saya masih belum pengen ilang di Jakarta. :))

Beruntungnya, antrean sepanjang itu ternyata cukup menunggu 2 bus saja. Saat bus ke 3 datang, saya sudah bisa masuk ke dalam bus, walaupun kondisinya juga cukup penuh. Bahkan beberapa penumpang ada yang memilih untuk menunggu bus selanjutnya daripada harus berdesak-desakan. Saya, daripada nunggu lagi, mending masuk aja dah. Toh bus yang selanjutnya juga gak tau kapan bakal datang lagi. Atau lebih tepatnya sayanya yang udah gak sabar. Hehehe...

Sampai di dalam bus, alhamdulillah bisa bernapas dengan lega. Trus ngabari teman deh yang bakal ketemuan di halte RS Medika. Sambil nanya-nanya juga, kenapa antrean untuk jurusan Lebak Bulus ini panjang bin lama? Kata teman, karena jurusan itu jalurnya paling panjang, dan gak semua jalan ada jalur khusus (busway)nya, jadinya kadang ya kena macet gitu deh. Walaupun sudah ditambah beberapa armada, tetap aja masih belum bisa mengatasi antrean yang panjang.

Dan benar saja temans, untuk bus yang kedua ini, satu jam lebih saya berdiri di dalam bis. Penumpangnya juga gak ada yang turuuuunn.. :))

Pada akhirnya saya sukses sampai di halte RS Medika dengan selamat. Walaupun sempat harus naik turun jembatan dua kali, karena sebelumnya saya mengira ketemu sama teman tepat di depan RS Medika, namun ternyata yang dimaksud adalah di sebrangnya. Yah, lagi-lagi pengguna transjakarta harus kuat jalan. :D

*

Keasikan naik transjakarta *disamping sayang aja udah beli kartunya :D, hari berikutnya pas janjian sama teman yang lain untuk ketemu di Kota Tua, saya memutuskan untuk kesana naik transjakarta lagi. Bareng seorang teman lagi, yang lain.

Kali ini saya beruntung karena gak perlu pakai transit di halte Harmoni, cukup sekali jalan saja dari halte Sarinah saya sudah bisa sampai di tempat tujuan.

Lihat di nametag nya, namanya Bapak Fahri Ali :)

Saat itu hari Jumat. Bus yang saya tumpangi tidak terlalu ramai. Yang unik, kondektur transjakarta saat itu menggunakan kostum berbeda dari hari sebelumnya. Pakai peci, baju koko, serta sarung yang disampirkan di pundak. Eh, si bapak baru pulang shalat Jumat? Tapi kok sore banget yak? *ups

Belakangan saya baru tau, setelah nanya teman tentunya, kalau hari Jumat memang ada kostum khusus. Ooooo.. Jadi asik gitu yak.

Selain itu, kondektur yang saat itu ada di bus yang saya tumpangi dari Sarinah ke Kota Tua, berasanya profesional banget, dan niat banget menjalani profesinya sebagai kondektur bus transjakarta. Walaupun di dalam bus sudah ada pengumuman otomatis kalau akan memasuki halte tertentu, tapi si bapak tetap juga memberikan pengumuman ulang. Termasuk juga mengingatkan penumpang mengenai barang bawaan, serta hati-hati saat melangkah keluar bus. Iya, saya sendiri kadang agak ngeri saat akan keluar bus, karena ada jarak sekitar sekian cm yang sangat mungkin kaki kita terperosok kedalamnya. Semoga gak pernah terjadi deh... Aamiin...

Perjalanan pulang sudah sepi, langsung dapat tempat duduk :)

Pada akhirnya perjalanan saya naik transjakarta ditutup dengan jalan kaki jauh lagi, karena halte di Kota Tua jalurnya memutar, ditambah naik turun masuk jalur bawah tanah. Dudududu.. Semoga kaki saya baik-baik saja. Olahraga beneran deh kalo begini ceritanya. :D

*

Secara pribadi saya sangat suka naik transjakarta. Asal tujuannya jelas dan gak pake acara nyasar ya.. :D Sempat kebayang aja, bagaimana jika moda transportasi massal ini diterapkan di kota-kota lainnya juga. Dompu misalnya? Hahahha... Bisa-bisa rugi deh, karena penggunanya masih sedikit.

Iya, di satu sisi saya pengen semua daerah punya transportasi massal yang terintegrasi dengan baik, tapi tetap harus mempertimbangkan penggunanya juga ya. Kan sayang kalau sudah disediakan oleh pemerintah, tapi tidak tepat sasaran. Jujur, saat di Gresik atau Surabaya, saya jarang sekali naik angkutan umum karena harus pindah sini pindah situ. Belum lagi asap rokok dan lain sebagainya, serta biaya yang tidak sedikit dikeluarkan. Tapi kalau modelnya seperti transjakarta begini, maulaaah saya kemana-mana ngebus. Hehehe..

Yak, transjakarta udah. Kapan-kapan mau coba KRL deh, karena kata beberapa teman, KRL juga bisa jadi pilihan yang asik untuk mobilisasi di Jakarta. Tapi sayangnya, semua-muanya ya harus nunggu saya balik main ke Jakarta lagi, karena KRL juga adanya cuma di Jakarta. Yahh... pukpuk daerah lainnya deh... :D

04 November 2014

Solaria Resto & Lounge

Solaria BIL - picture source
Dalam perjalanan ke Jakarta kemarin, saya sempat transit di Bandar Udara Internasional Lombok (BIL), lumayan lama yah, sekitar 3 jam. Sambil menghabiskan waktu, selepas check in saya dan teman-teman memutuskan untuk mampir ke Solaria Resto & Lounge. Sekalian makan gitu ya, karena siangnya hanya terisi dengan satu porsi bakso tanpa lontong dan tambahan lainnya. Padahal harusnya kan itu sudah cukup... Mmmh, oke baiklah. Kalau begitu anggap sebagai pengganti makan sore-hampir-malam. :D

Pertama kali makan di Solaria, sebenarnya udah sejak lama, sejak jaman kuliah rasanya. Dulu pernah beberapa kali mencoba restoran Solaria di beberapa mal di Surabaya, dan saya berkesimpulan bahwa standar resep yang ada di restoran tersebut masih belum sama. Terbukti, jika memakan menu yang sama di restoran yang berbeda, bisa jadi rasanya juga berbeda.

Dulu juga sempat berhenti makan di Solaria, saat ada gosip tentang ketidakhalalan makanan disana, lantaran belum mendapat sertifikat halal dari MUI. Hmmm,. sempat sedih juga sih, soalnya kalau ke Surabaya lebih suka makan di Solaria daripada restoran yang lain. Tapi, sesekali juga saya melanggar dengan tetap makan disana, kalo pas pengen banget. Tentunya dengan berpikiran bahwa, seperti yang selama ini ditekankan oleh MUI juga, tidak semua makanan yang belum bersertifikat halal artinya tidak halal. Bisa jadi karena memang mereka belum mendaftarkan. :D

Tapi ternyata, pas kemarin masuk ke Solarian BIL, sudah ada logo halal dari MUI besar-besari di pintu kacanya. Wahh, asik nih. Makin semangat masuk ke restoran tersebut. Hehehe..

Di BIL, restoran Solaria dibagi menjadi dua tempat, satu pakai AC dan satu tidak pakai plus diperbolehkan merokok. Kami serombongan maunya yang bebas asap rokok donk, walaupun ACnya agak kelewatan dinginnya. Hehehe...

Saya memesan menu yang sama tiap kali makan di restoran Solaria: chicken mozarella with french fries dan lemon ice. Sedangkan Yuli pesan kwetiau seafood dan es teh, pak Haris pesan mie kuah karena dia lagi kedinginan plus jus apukat, dan mbak Nur hanya memesan jus apukat. Tidak butuh waktu lama, pesanan kami pun sampai. Sempat bertanya-tanya sih, kok cepet banget datangnya? Kemudian teman yang lain mengingatkan, ya karena yang pesan cuma kami aja. Restorannya lagi sepiii... :))

Kwetiau Seafood
Chicken Mozarella with French Fries
Yang ini mie kuah, keburu dimakan belum difoto :|

Sambil makan, sambil menikmati suasana sekitar. Restoran Solaria yang identik dengan warna ungu, kali ini memberikan sentuhan ungu yang lebih dominan. Ditambah dengan lampu-lampu bulat yang juga cukup meramaikan ruangan didalam restoran, jadi makin betah rasanya. Sofanya juga empukk. Hehehe..

Mungkin karena sudah malam juga, jadi efek cahayanya lebih terasa. Beda dengan saat siang dimana cahaya dari luar/matahari lebih mendominasi. Warna ungunya cenderung gelap, tapi cukup untuk menerangi saat makan. Intinya gak bakal tersedak lah sekalipun makan ikan yang berduri :D

Dan momen itu pun tak ingin dilewatkan begitu saja.


Oia, sekilas tentang chicken mozarella. Mungkin beberapa sudah ada yang pernah coba ya. Jadi, chicken mozarella ini sekilas bentuknya seperti steak, dengan daging ayam yang ukurannya agak tebal. Dibalut oleh tepung kering yang renyah, yang didalamnya terdapat keju mozarella yang super lezat. Enak banget deh, apalagi kalau masih panas gitu, dan kejunya baru saja meleleh. Hmmmm....

Sausnya juga enak, perpaduan yang sangat pas dengan daging ayam yang cenderung hambar. Ditambah salad sayur yang segar serta selada keritin yang gak pernah saya temui di Dompuuu, makin heboh. Hehehe.. Yang bikin mantab juga, ukuran kentang goreng di Solaria yang gak tanggung. Potongannya cukup besar, dan porsinya juga mengenyangkan. Alhamdulillah,.. Akhirnya bisa melakoni flight malam dengan perut kenyang.

Yang ini gak ikut punya makanan tapi ikutan heboh :))
Nampang juga deh sesekali :))
Yuli juga gamau kalah ikutan nampang :D
Sebenarnya pengen bisa nyobain menu lain di Solaria, tapi tiap kali kesana mata saya selalu tertuju pada chicken mozarella. Jadi yaa sudahlah, dinikmati saja :D

02 November 2014

Berburu Langit

Postingan ini terinspirasi, atau lebih tepatnya nyontek punya Sam di Heningkara, tentang sisa-sisa perjalanan ke Kerinci yang dilakoninya Agustus 2014 kemarin. Selesai baca postingan itu, jadi ingat juga kalo beberapa waktu yang lalu saya pernah mendokumentasikan beberapa pemandangan langit dalam perjalanan dari Lombok ke Surabaya, tanggal 10 Oktober 2014.

Ini pertama kalinya saya melakukan online check in. Sengaja, karena jika meniatkan untuk berburu pemandangan langit maka saya juga harus memastikan kursi tempat saya duduk letaknya dekat dengan jendela. Nah, ternyata saat melakukan online check in itu, tempat duduk yang bisa di booking terlebih dahulu hanya tempat duduk dari tengah ke belakang. Padahal maunya kan bisa agak depan gitu yah... Hemmm. Jadilah, sekalian cari yang dekat dengan sayap, supaya ada sponsornya gitu ntar pas foto-foto. Oke, seat 27A.

Kebiasaan saya, kalau naik pesawat boeing atau airbus di bandara yang ada garbarata (aerobridge) nya, sekalipun duduk di kursi paling buncit saya akan sedikit memaksakan untuk bisa masuk pesawat melalui garbarata. Ogaah kalo harus naik turun tangga lagi, ngantrinya juga gak kalah panjang dengan kalau lewat garbarata.

Jadilah, supaya tidak mengacaukan antrian di dalam pesawat, saya biasanya memilih untuk masuk pesawat belakangan, hanya agar bisa lewat garbarata :D

Namun ternyata, hal itu juga bisa jadi memiliki efek samping tersendiri: kursi saya sudah ditempati penumpang lain terlebih dahulu. Harusnya kan enggak yaa, tapi percayalah kawan, masih ada penumpang pesawat yang tidak mempedulikan huruf A B C dan seterusnya dalam boarding pass-nya, yang penting angkanya sama. Atau yang lebih sederhana, siapa yang sampai duluan, dialah yang duduk dekat jendela. Menyebalkan ya?

Dan itulah yang sempat terjadi kemarin.

Saat saya ditanya oleh pramugarinya, saya menyampaikan kalau duduk di seat 27 A. Nah, karena kursi tersebut sudah ditempati oleh orang lain, saya ditawari untuk duduk di deretan 27 tapi dekat lorong. Enggak mau donk yaa, secara sudah bela-belain booking online supaya dekat jendela. Dengan kekeuhnya, saya tetap bilang kalau ingin duduk dekat jendela. Akhirnya, setelah dibujuk oleh pramugari, penumpang tersebut mau juga beranjak. Walaupun saat melewati saya, sempat terdengar gerutuan kecil dari penumpang tersebut,

"Kan sama aja mbak duduk dekat jendela atau enggak"
Dalam hati cuma bisa jawab,
"Yeee,.. Apanya yang sama? Beda banget lah. Lagian saya milih dan kekeuh duduk dekat jendela juga ada alasannya kali..."

Beruntungnya setelah sedikit 'keributan kecil' itu, saya bisa duduk di kursi yang sesuai dengan keinginan saya. Sipp,.. Saatnya menjepret! :D

Baru jepretan pertama tapi sponsornya udah ada :D
See you next 4 days, Lombok :)
Kalo tinggal di kawasan Nusa Tenggara, harusnya sudah akrab dengan pesawat ATR macam ini :D
Pas mau masuk landasan pesawat sempat berhenti sebentar. Pilotnya juga ngasi tau, kalau kita harus menunggu giliran untuk tinggal landas sekitar 3 menit. Biasanya ga ada lo pemberitahuan macam ini :D

Oia, semenjak penerbangan waktu itu, saya juga baru tau kalau sekarang di Lion Air ada pemberitahuan khusus. Semacam ucapan terimakasih untuk penumpang karena atas kerja samanya, pesawat bisa berangkat on time. Sukak deh dengernya :)


Ada beberapa pertimbangan juga mengapa saya lebih memilih untuk duduk di dekat jendela sebelah kiri. Dulu, pernah juga melakoni perjalanan serupa, dan ternyata pemandangan yang disajikan cukup beranekaragam. Mulai dari saat tinggal landas, jika masih cukup pagi serta cuaca cerah maka saya akan berkesempatan untuk menyapa puncak Rinjani dari jauh. Kemudian, sesaat setelah tinggal landas, maka pesawat akan berputar 180 derajat ke arah barat, dan tersaji juga pantai Kuta di sebelah selatan Lombok. Persis seperti foto diatas :)


Umumnya, begitu masuk ke pulau Jawa, maka pesawat akan berada di sisi utaranya. Sehingga yang terlihat adalah laut Jawa, serta pulau Madura dan pulau kecil lainnya yang terletak di utara Pulau Jawa. Salah satunya pulau Ini. Saya tidak tau persis nama pulaunya apa. Tapi kalau dilihat dari lokasinya, sepertinya pulau Sepanjang. Entahlah, ini hanya perkiraan saya saja.


Kalau naik pesawat dan melintasi pulau Jawa, salah satu hal yang juga cukup menarik perhatian adalah akan ditemukan baaanyak sekali perbukitan dan pegunungan. Namun sayangnya, pengetahuan geografi saya tidak sebagus itu untuk mengenali semua gunung dan bukit. Seperti gambar diatas ini. Saya ragu ini perbikitan apa. Kalau menebak-nebak, berdasarkan luas pegunungannya, sepertinya si Argopuro ya, yang terletak di 3 kabupaten, yakni Jember, Situbondo, dan Banyuwangi. Semoga gak salaaahhh.. Hahahha.


Nah, kalau yang dua ini insyaAllah gak salah. Sebelah kanan yang kecil itu gunung Penanggungan, gunung Favorit. Sedangkan yang kiri adalah gunung Arjuno-Welirang. Untuk teman-teman yang gemar mendaki gunung dan tinggalnya di sekitar Surabaya dan Malang, tentunya tidak akan asing ya dengan ketiga gunung ini.

Sebenarnya gunug Semeru serta TNBTS juga sempat terlihat, namun tidak terlalu jelas dan posisinya yang jauh, jadi tidak bisa tertangkap oleh kamera.


Petak-petaknya sudah mulai jelas. Sudah memasuki kawasan Surabaya nih, dan sudah bersiap untuk mendarat.

Alhamdulillah, penerbangan pagi menjelang siang saat itu lancar, tanpa kendala yang berarti. Persiapan duduk dekat jendela serta bawa kamera juga boleh dibilang tidak sia-sia. Semoga akan jadi kenangan tersendiri, suatu saat nanti, jika rute Lombok-Surabaya tidak lagi menjadi rute favorit untuk pulang ke rumah :)

*note: semua foto disini saya edit menggunakan picasa, pake auto contras aja. Foto yang asli tidak secerah dan setajam ini ya. Dan, belakangan memang saya lebih suka menangkap momen saja, dengan menggunakan mode auto tanpa flash di kamera. Kalo pake manual, keburu lewat donk momennya. Manual hanya untuk foto landscape-secara-sengaja yang memang sudah disiapkan dengan baik, serta alokasi waktu yang cukup banyak. Sip deh.

Oia, satu lagi. Kayaknya judul 'berburu langit' kurang tepat ya. Karena nyatanya lebih banyak foto sayap pesawat dengan sponsor logonya itu. Hahahha... Tapi yasudahlah. Biar saja. Yang penting biru-nya langit kan masih mendominasi sebagian besar hasil jepretan. Hihi :D

Tetap jalan-jalan yah, temans :)

24 October 2014

Harris Hotel & Residences Riverview Kuta

Oranye! Itulah hal yang pertama kali muncul dalam benak saya jika mengingat tentang Harris hotel yang sudah menyebar di kota-kota besar di Indonesia. Beruntungnya saya sempat menikmati enam malam di Harris Hotel & Residences Riverview Kuta, Bali. Salah satu hote full service dengan fasilitas cukup lengkap, walopun gak ada yang sempat saya cobain karena penuhnya jadwal training saat itu. Sayang banget yak *hiks.

Coba tebak yang disusun berbentuk hati itu apa? :D
Harris Hotel & Residences Riverview Kuta (atau oleh para supir taksi lebih dikenal dengan "Harris Riverview") ini terletak di Jl. Raya Kuta No. 62 A, Badung, Bali. Akses untuk kesana cukup mudah. Naik taksi dari Bandara Internasional Ngurah Rai cukup dengan tujuh puluh ribu rupiah saja. Selain itu, jika dari arah Denpasar akan ke pantai Kuta atau Seminyak, hampir bisa dipastikan akan melalui hotel Harris Riverview ini. Jadi gampang deh, gak bakalan nyasar. Asal ngomongnya jelas ya, karena sebenarnya di Bali ada beberapa hotel Harris yang menyebar di lokasi-lokasi berbeda.

Nah, dalam Harris Riverview ini ada beberapa pilihan kamar/residen yang tersedia, diantaranya standard room, family room, residence one bedroom, dan residence two bedroom.

Enam malam disana, sebenarnya saya sempat 'mencicipi' dua jenis kamar berbeda. Satu malam pertama saya menginap di kamar tipe residence two bedroom berbarengan dengan tiga orang kawan lainnya. Namun berhubung ada seorang peserta training yang sendirian, jadilah hari berikutnya saya pindah ke kamar lain untuk menemani kawan tersebut, yang ternyata dia kebagian kamar tipe residence one bedroom. Saya merasa cukup beruntung, karena kamar kedua yang saya tempati ini, selain lebih bagus dan bangunannya terlihat baru, lokasinya juga cukup strategis dan memiliki pemandangan yang bagus.

Jadi, saya akan bercerita tentang kamar yang kedua saja ya, karena yang pertama belum terlalu berkesan. Baru menginap semalam saja. Hehe.. :D

Saya lebih suka menyebut kamar yang saya tempati sebagai mini apartemen. Fasilitas didalamnya lengkap. TV ada dua biji, di luar dan di dalam kamar, satu set sofa, satu set meja-kursi yang sepertinya untuk makan, rak pakaian, dapur kecil, tempat cuci piring, kamar mandi, serta kamar tidur yang berisi twin single bed, plus balkon yang menghadap kolam renang utama. Serius deh, setelah nginap di kamar itu jadi pengen punya dan tinggal di apartemen. Hahahaha...

Daripada cuma ngebayangin aja, nih saya kasih beberapa gambarnya ya. Selamat menikmati dan selamat pengen punya mini apartemen macam ini. Hihihi :D




Gimana-gimana? Pengen tak punya mini apartemen macam ini? Kalo iya, toss dulu dah kita. :))

Tapi yah, karena kesibukan training dan lain sebagainya yang setiap malam hampir bisa dipastikan tidak akan tidur sebelum jam 10 dan sudah harus bangun jam 5 pagi serta sebagian besar waktu dihabiskan di luar kamar, saya jadi tidak bisa benar-benar menikmati fasilitas yang ada di kamar tersebut. Jangankan masak-masak. Menyalakan kran cuci piringnya saja tak pernah.
  wc dan kamar mandi yang terpisah ruang

Satu hal yang saya kurang suka dari kamar tersebut adalah penempatan wc yang letaknya terpisah dengan kamar mandi, berbeda ruang dan juga dipisahkan oleh pintu. Mungkin memang maksudnya lebih higienis, dan sisi positifnya adalah, kalau kita sedang menggunakan wc, teman sekamar yang lain (jika dalam kondisi terdesak) masih bisa menggunakan kamar mandi atau wastafel. Tapi tetap saja menurut saya agak ribet kalau harus pindah-pindah kamar terlalu jauh macam itu. Hehe...

Kamar yang memiliki balkon dengan ruang pandang strategis juga sangat menguntungkan. Saya jadi berkesempatan untuk menikmati banyak pemandangan. Kalau malam sering juga melihat ada beberapa tamu hotel yang sedang berenang. Disamping itu, di seberang kolam renang terdapat Harris Cafe. Jadinya bisa kelihatan deh kalau teman-teman yang lain sudah mulai sarapan, kami juga bergegas. Gak enak aja kalo sudah ke restoran ternyata masih sepi. :D

pemandangan dari balkon kamar, foto ini diambil sekitar jam 7 pagi

Nah, berbicara tentang restoran, penilaian saya mengenai menu dan masakan di Harris Cafe ini standar. Tidak terlalu spesial, tapi tidak juga mengecewakan. Hanya saja, mungkin karena faktor selama 6 malam menginap disana kemudian pagi-siang-malam kami makan di tempat yang sama, pas akhir-akhir sudah mulai bosan begitu. Ditambah lagi, menu olahan berbahan dasar unggas (ayam) juga terlalu sering disajikan. Yah, ini antara kami yang kelamaan menginap disana atau koki restorannya yang sudah kehabisan ide masakan. :))

Sungguh training yang melelahkan tapi sangat berkesan. Hari terakhir saya sempatkan foto bersama beberapa orang kawan sesama peserta training. Mukaknya sudah mulai kusut dan random gitu. Kelihatan banget kalo sudah kecapean. Biar bagaimanapun nikmatnya tinggal di hotel (dan gratis), kalau terlalu lama bisa bosan juga akhirnya. :D


Oke baiklah, sekian itu saja cerita tentang Harris Hotel & Residences Riverview Kuta. Jika ingin melihat-lihat berbagai promo serta rate kamar yang ditawarkan, silakan langsung klik saja disini.

22 October 2014

ATR 72-600 Wings Air vs Garuda Indonesia Explore

Pertama kali (menyadari) melakukan penerbangan menggunakan pesawat ATR adalah saat keberangkatan saya ke Dompu. Dari Surabaya ke Denpasarnya kan masih pakai pesawat boeing biasa tuh, nahh tapi setelah transit, ternyata dari Denpasar ke Bima saya harus menumpangi pesawat tipe ATR, atau kalau yang dulu awal-awal saya nyebutnya pesawat baling-baling. Mengapa begitu? Karena pesawat ini baling-balingnya besar dan terlihat. Yah,. bukan berarti pesawat boeing atau airbus tidak ada baling-balingnya ya. Tetap ada, tapi tersembunyi. Sedangkan kalau tipe ATR ini, baling-balingnya gede banget dan kelihatan mencolok.

Silakan baca kepanikan saya pas naik pesawat ATR di postingan ini. Nyatanya, sepertinya saya sudah pernah menaiki pesawat macam ini sebelumnya dalam perjalanan ke Banjarmasin dari Surabaya, beberapa tahun silam. Namun karena waktu itu flightnya malam, jadi gak terlalu merhatiin deh. Ingetnya cuma, waktu itu duduk sama Om sederet cuma dua kursi (kanan-kiri total 4 kursi). Nah, pesawat apalagi donk yang dipunyai Lion Air kalo bukan ATR ini? Jet juga kayaknya ga ada... :D

Setelah saya baca-baca lagi, ternyata jenis pesawat ATR ini dari dulu sudah banyak. Termasuk salah satu pesawat yang di rancang oleh pak Habibie juga sebenarnya tipenya ATR. Eh, iya gak sih? Aku cuma ngeliat sekilas aja di filmnya, dan kurang lebih bentuknya sama laah dengan ATR yang ada sekarang. Hahahha.. Mulai ngaco nih tulisan. :))

Karena saking banyaknya jenisnya, kali ini saya hanya akan bahas tentang pesawat ATR 72-600, yang sekarang lagi dipakai Wings Air (anak perusahaan Lion Air) dan Garuda Indonesia (Explore).

ATR 72 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop yang dibangun perusahaan pesawat Perancis-Italia ATR. Pesawat ini memiliki kapasitas hingga 78 penumpang dalam konfigurasi kelas tunggal dan dioperasikan oleh dua kru penerbang. (sumber)
Buat teman-teman yang sering melakukan perjalanan rute pendek macam Surabaya-Denpasar atau Surabaya-Yogyakarta, atau bepergian ke wilayah timur (dan menggunakan maskapai Wings Air), pastinya sudah tidak asing lagi dengan pesawat tipe ini. Walopun yah, saya sempat beberapa kali membaca tulisan tentang pengalaman naik pesawat ATR dan hampir semuanya panik! Hahahha.. persis seperti yang pernah saya alami.

Dulunya, awal-awal saya di Dompu, Wings Air masih menggunakan ATR 72-500. Kelihatan banget kalau bukan pesawat baru. Ada beberapa pelapis kursinya yang sudah kusam dan mulai terbuka, interiornya yang gak lagi 'kinclong', pernah juga nemu yang rak penyimpanan bagasi di atas nya sudah agak longgar, jadi pas boarding atau landing bisa bergetar hebat gitu. Sepanjang perjalanan saya cuma bisa berdoa supaya raknya gak roboh trus menimpa kepala para penumpang.#:-S

ATR 72-600 Wings Air (picture source)

Menanggapi kegelisahan saya, akhirnya pihak Wings Air mendatangkan sekian banyak armada baru, ATR 72-600. Eh, emang iya gitu, gegara kegelisahan saya? :))

Secara bentuk dari luar, rasanya tidak jauh berbeda, kecuali tulisannya jadi angka 600, bukan 500 :-p. Tapi kalau bagian interiornya, baru kelihatan banget. Kursinya lebih tipis, kantong dibalik kursi bagian bawah juga sudah nggak ada, digantikan dengan box kecil dibagian atas yang agak kaku, jadi gak bisa untuk nyimpan botol air minum karena bentuknya yang gak fleksibel. Trus apa lagi yo? Lupa. Intinya emang kerasa lebih bagus lah daripada seri 500. Yaaa iyalaah pesawat baru. :|

ATR 72-600 Garuda Indonesia Explore (picture source)
Sekitar akhir tahun 2013 kemarin, tepatnya bulan November, ada kabar gembira untuk kita semua. Garuda Indonesia secara resmi meluncurkan Garuda Indonesia Explore, seri ATR 72-600 yang akan melayani rute-rute pendek, terutama di wilayah timur Indonesia. Tentunya NTB kebagian juga donk. Begitu tau penerbangan GA rute Bima-Denpasar dibuka, saya jadi gak sabar pengen nyobain juga gimana rasanya.

Pas awal lihat di websitenya, penerbangan GA Bima-Denpasar ternyata memakan waktu 2 jam lebih. Kok lama banget? Padahal kalo Wings Air paling lama hanya 1 jam 10 menit. Tapi di sisi lain, sebenarnya senang juga donk. Karena kalo GA, penerbangan lebih dari 2 jam artinya dapat makan besar. Huehehe.. Ngarepp. :-p

Akhirnya datang juga kesempatan saya naik Garuda Indonesia Explore ATR 72-600, bulan Maret 2014 kemarin, pas ada training di Denpasar. Sepertinya saya check in di akhir waktu, sampai-sampai dapat seat 39A. Paling belakang, sebelah kiri, samping jendela. Hmmm.. Not bad.

Yang saya kagum, walaupun saya duduknya di kursi paling buncit, nyatanya pesawat ATR milik Garuda ini punya jarak antar kursi yang sangat lapang. Bahkan kayaknya lebih lapang daripada pesawat boeing punya Lion Air. Jadi walaupun duduk di kursi paling buncit, gak masalah banget lah.

hampir bisa selonjoran di kuris paling buncit :-p
Nah, ternyata pertanyaan saya mengenai waktu penerbangan yang terlalu lama terjawab. Pesawat yang saya tumpangi ini transit dulu di Lombok, tapi untuk penumpang tujuan Denpasar tidak perlu pindah pesawat. Jadilah, bukannya dapat makan besar, saya malah dapat dua kotak kue dalam sekali perjalanan itu. Lumayan kenyang juga sih. Hehehe..

Pesawat ATR Garuda Indonesia ini, selain ada nilai plusnya, saya juga masih merasa ada beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan ATR milik Wings Air. Suaranya mesin di GA jauh lebih bising. Bahkan dari dalam terminal saja sudah cukup memekakkan telinga. Kebayang donk gimana pas mau masuk pesawat?

Disamping itu, entah karena ini faktor pilot yang masih baru-baru mengemudikan pesawat jenis ATR ataukah ada faktor yang lain macam cuaca dan sebagainya, tapi saya merasa jauh lebih nyaman saat naik Wings Air. Pas naik GA ke Denpasar itu, beberapa kali saya dikejutkan dengan manuver (saya gak nemu kata yang tepat selain ini :|) pesawat yang agak ekstrem. Apakah ini karena saya duduk di kuris paling buncit? Nyatanya ada juga beberapa penumpang di bagian depan yang berteriak lirih pas ada goncangan yang agak berlebihan itu. Fiuhhhh... Ngeri dah.

Padahal seingat saya cuaca saat itu cukup cerah. Yah walopun cerah memang tak selalu artinya tanpa goncangan ya. Seperti belakangan ini juga, cuacanya cerah banget, terlampau cerah, tapi nyatanya berhasil membuat pesawat bergetar cukup hebat.

Berbeda dengan pesawat Wings Air yang sudah sering kali saya tumpangi. Saya pernah melakukan perjalanan dari Denpasar ke Kupang, transit Maumere. Saat di Maumere, penumpang yang akan ke Kupang kan tidak perlu turun pesawat, jadilah kami menunggu saja di dalam pesawat sambil menahan kantuk dan lelah. Saat itu, pilot pesawat tersebut yang terlihat sudah senior, keluar dari kokpit dan melewati kami, kemudian mengobrol dengan kru bandara. Saya ingat ada obrolan lucu antara pilot pesawat dengan kru bandara tersebut,

Kru bandara: "Hati-hati Capt, angin sedang kencang di luar"
Pilot: "Ohh iya, tenang. Saya sudah bawa banyak tolak angin kok..." :D

Saya nyengir aja mendengar percakapan itu. Dan memang benar, sekalipun kondisi hujan deras dan angin, momen boarding dan landing ternyata dapat dilalui dengan sangat nyaman dan halus. Salam hormat pada bapak pilot yang hebat. :-bd

*

Semakin sering naik pesaawat, bukannya makin terbiasa, saya malah makin merasa takut. Entah kenapa selalu ada perasaan was-was, baik saat boarding, landing, maupun saat lampu tanda kenakan sabuk pengaman tetap menyala, yang artinya bakal atau sedang ada goncangan. Berasa ngeri aja, dan saya merasa belakangan rasa takut itu makin besar.

Bisa jadi suatu saat, akan tiba masanya saya enggan naik pesawat lagi. Bisa jadi...

20 October 2014

Cincin

Saya bukan penyuka cincin. Sejak dulu tidak pernah rasanya bisa bertahan lama menggunakan cincin. Hanya hitungan jam, atau hari, kemudian cincin tersebut saya lepas dan saya simpan. Ada rasa tidak nyaman saat memakainya. Berbeda dengan saat memakai gelang atau jam tangan, atau kalung, atau bahkan anting-anting yang tidak pernah lepas dari telinga. Ada ketakutan sendiri kalau lubangnya jadi tertutup jika tidak menggunakan anting. Dan melubanginya lagi? Sepertinya itu bukan pilihan yang menarik. :D

Namun entah kenapa, untuk momen spesial dalam hidup --yang berhasil membuat saya susah tidur sebulanan lebih, saya begitu berharap bisa memakai cincin. Sampai-sampai niat banget cari cincin imitasi seharga sepuluh ribu hanya untuk memastikan ukuran jari manis saya. Maklum, jarak yang jauh tidak memungkinkan untuk saya datang ke toko pembuat cincin itu langsung. Jadilah...

Di cincin imitasi yang saya beli saat itu, tertera angka 17. Saya kemudian menanyakan pada penjaga tokonya, tentang arti dari angka tersebut. Mbak-mbaknya bilang, itu nomor ukuran cincin. Ingin memastikan lagi, saya nanya lagi donk apakah ukuran itu merupakan ukuran standar? Ternyata kata mbaknya iya, itu ukuran standar. Jadilah, saya langsung bilang ke si Mas, kalau ukuran cincin untuk saya 17.

Ring sizer, cara paling akurat untuk menentukan ukuran cincin (picture source)

Tapi kemudian ada yang aneh. Sewaktu Mas datang langsung ke toko kemudian mengukur jari dengan ring sizer, dia mendapati ukuran yang pas untuknya adalah 16. Kemudian mikir donk, masa' iya jariku lebih gede dari Mas? :-/

Butuh semalaman untuk mikir ukuran cincin itu, sampai akhirnya tengah malam saya ambil penggaris dan mengukur diameter cincin imitasi yang saya beli. Hasilnya? Diameternya 17 mm. Trus, malam itu juga saya hubungi Mas via whatsapp, dan bilang kalo gak yakin dengan ukuran cincinnya. Pengennya Mas bisa balik lagi ke tokonya kemudian bilang kalo untuk saya, cincinnya dibuat dengan diameter 17 mm. Terserah mau ukuran berapa itu, yang penting diameternya 17 mm. Titik.

Fiuhhh,.. Masalah cincin aja sampai bikin gak bisa tidur #:-S

Besoknya, saya dapat kabar lagi deh. Alhamdulillah, masih bisa mengubah ukuran. Dan ternyata, untuk cincin ber-diameter 17 mm itu ukurannya adalah 14. Nah, ini baru masuk akal. Seenggaknya masih lebih kecil daripada punya Mas. Sipp. Kemudian tinggal menunggu pengerjaan cincinnya, sekitar 3 minggu.


Tanggal 1 Oktober 2014 kemarin, akhirnya cincin yang kami pesan jadi. Langsung di fotoin ama si Mas cincinnya. Hwaaaaaaaaaaa... excited banget donk sayaaa. Hehehe... Walopun ternyata masih ada yang perlu diperbaiki lagi. Inisial nama yang ditulis di bagian dalam cincinnya hurufnya kebalik. Tadinya maunya "AR", tapi jadinya malah "RA". Walaupun sebenarnya gak pengaruh juga sih, karena biar dibolak-balik artinya sama. Cuma ya udah terlanjur maunya AR, trus gimana donk? Untungnya yang punya toko baik banget, bersedia mengubah ukiran huruf di cincin itu. Yayyyyy :D

Saking hebohnya saya mau pakai cincin, momen tersebut sampai terbawa mimpi. Hwaahhh.. Entah ini apa maksudnya. Sudah gak sabar mungkin saya :">

Akhirnya, datang juga tanggal yang sudah ditentukan, 13 Oktober 2014. Tanggal dimana akhirnya saya resmi dikhitbah, dan tentunya tanggal dimana saya dipasangkan cincin oleh Ibunya Mas. Sambil malu-malu gimanaaaa gitu, akhirnya cincin itu terpasang juga di jari manis tangan kiri saya. Ukurannya?? Kegedeaaaaaaaaaaaannn... :))

Gak nyangka, ternyata masih belum pas juga. Tapi mending lah, gak terlalu longgar banget. Masih bisa dipakai, dan sebenarnya lebih pas kalau dipakai di jari tengah. Setelah laporan ke Mas kalo cincinnya kegedean, dia cuma bilang,

"Iyaudah, sementara dipakaikan apa dulu gitu supaya gak longgar. Ntar kalo ada kesempatan ke tokonya baru dikecilkan ya,..." 

Duuuh, sabar banget deh si Mas ngadepin bawelnya saya. Hihi. Alhamdulillah. :">


Iyasudah, akhirnya semenjak tanggal itu hingga saat ini saya sudah resmi mengenakan cincin di jari manis tangan kiri. Sudah sekitar satu minggu saya memakainya. Masih belum terbiasa, dan kadang masih berasa risih juga. Tapi saya sudah bertekad untuk memakainya terus, InsyaAllah. Saya memang kurang suka menggunakan cincin, tapi saya berharap jika suatu saat harus menggunakannya, saya ingin menggunakan cincin yang memang punya arti spesial buat saya. :)

Jadi ingat, sebelum cincin itu jadi, Mas pernah nanya ke saya tentang kenapa saya begitu ingin dibuatkan cincin, dan setengah maksa si Mas buat pakai cincin juga. :D

Sebenarnya jawabannya simpel aja. Karena saya wanita, saya penyuka simbol, dan saya juga butuh pengakuan. Saya pikir hampir semua wanita seperti itu. Itulah mengapa lebih banyak kaum wanita yang memajang foto bersama pasangannya, banyak kaum wanita yang suka barang-barang bermerk sebagai simbolisasi status sosialnya, dan banyak kaum wanita yang heboh maksa pasangannya untuk mengubah status relationshipnya di facebook saat mereka resmi berpasangan. Tapi saya gak seheboh itulaaah, cukup cincin aja. Untuk simbol yang lain macam kalung dan sebagainya ntar aja kalo udah sah yaaa... Huahahahahaha *plakkk :))