29 April 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 1)


Mari bercerita, merajut kenang yang baru beberapa putaran waktu tersapa, hanya untuk diri sendiri, hanya untuk menyenangkan hati, hanya untuk ruang dimana suara lantang tak lagi mampu beraksi ~Mae

Hobi lama yang hampir terlupa akhirnya dilakuin juga: Naik Gunung! Dan ternyata masih tetap sama saudara-saudara, walaupun baru saja berulang tahun yang artinya saya sudah makin gede, tapi gaya jalan di gunung masih aja lelet. Hahahaha… Jadi ingat si Ungu sama si Kuning, yang selalu bisa menyelaraskan langkah. Tidak peduli ada yang koar-koar disuruh ngebut ato mengejar waktu karena terbentur target. Seperti yang seringkali saya utarakan juga dulu, “I’m a slow walker, not a sprinter…” *ngeles* B-)

Kali ini destinasinya adalah Gunung Tambora, yang terletak di Kabupaten Dompu (dan Kabupaten Bima), pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia of course! Gunung yang sebenarnya sudah ada di pelupuk mata selama dua tahun ini, namun baru kemarin ada keberanian untuk merencanakan pendakian kesana—dan tentu saja mengeksekusinya. Sebagian besar bersama orang baru yang masih belum tahu karakternya seperti apa, namun untungnya ada juga seorang saudara lama yang cukup punya nyali untuk menyeberang tiga pulau sampai akhirnya tiba disini dengan selamat. Makasiiii makasii makasii :-*

Memang beda yah rasanya mendaki gunung saat masih berlabel ‘Mahasiswa’ apalagi ‘Siswa SMA’ dibandingkan dengan ‘Pekerja’. Ekspektasi orang terlalu tinggi, sehingga kadang lembaran demi lembaran rupiah keluar begitu saja tak terbendung, hanya untuk satu usaha sederhana agar bisa lebih menyamankan diri sendiri. Tapi yaasudahlah, semuanya harus disyukuri.

Kamis, 17 April 2014
Jam 5.30 sore, saya bersama empat orang kawan yang lain plus satu orang supir mobil sewaan, berangkat dari Dompu menuju kecamatan Pekat, tepatnya Desa Pancasila, dimana lokasi pintu gerbang pendakian ke gunung Tambora berada. Lama waktu yang dibutuhkan untuk kesana sekitar 4 jam perjalanan menggunakan mobil. Sebenarnya ada juga angkutan umum macam bis kecil begitu, namun yah, lagi-lagi ini adalah satu bentuk usaha untuk menyamankan diri. Heu… :D

Sebelum sampai di Pancasila, kami sempat singgah dulu di Calabai untuk menjemput dua orang ranger (baca: porter) yang akan membantu kami dalam melakukan pendakian ke puncak Tambora. Angga dan Andika (enggak pakai Kangen Band). Akhirnya, genaplah ber tujuh dan satu orang supir lengkap dengan segala backpack hingga carrier dan berbagai bungkus tas plastik yang kami jejalkan secara semena-mena di setiap sudut avanza silver tersebut. Harus muat!

Sekitar jam 9 malam kami tiba di Pancasila (434 mdpl), desa terakhir sebagai pintu gerbang pendakian ke Gunung Tambora. Desanya sudah sepi, sebagian warganya sudah terlelap. Untungnya, salah seorang anggota rombongan memiliki kenalan disana, sehingga kami mendapat tumpangan untuk menginap semalam. Yapp, kami baru berencana akan mulai mendaki keesokan paginya.

Pak Rian dan Nyonya :)
Adalah di rumah pak Rian, salah seorang senior guide dalam pendakian ke Gunung Tambora. Beliau juga sedikit banyak tahu mengenai seluk beluk gunung tersebut, termasuk juga beberapa mitos dan kepercayaan serta kisah masa lalu yang diyakini oleh warga sekitar. Dari beliau, saya juga mendapat informasi bahwa dari Pancasila, kami bisa menggunakan ojek menuju ke Pintu Rimba, yang jaraknya sekitar 5 km. Dari Pintu Rimba, baru kita mulai berjalan kaki. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan saja tawaran tersebut. Akhirnya, keesokan harinya saya meminta tolong pada Pak Rian untuk mencarikan tujuh buah ojek untuk mengantar kami.

Jumat, 18 April 2014
Jam 7 pagi kami berangkat ke Pos Perijinan diantar oleh 7 buah ojek. Sebagai informasi saja, untuk perijinan ini, yang perlu membayar adalah khusus pendaki dari wilayah luar saja. Pendaki yang asli dari Dompu atau Bima tidak perlu membayar, hanya perlu mencatat nama. Jadi, saat itu yang membayar hanya saya, Yulia, dan satu orang tamu agung dari seberang pulau. Sisanya merupakan warga lokal jadi tidak dikenakan tarif. Alhamdulillah, dapat bonus. Hehe…

5 kilometer yang cukup menegangkan menggunakan ojek ternyata, karena jalannya berupa tanah coklat yang agak licin akibat hujan dan embun. Saya hanya bisa berpegangan erat di besi bagian belakang sepeda motor, sambil berusaha menyelaraskan pergerakan tubuh dengan pergeseran ban sepeda motor yang sudah mulai gundul. Setelah sekitar 15 menit berlalu, akhirnya kami sampai di Pintu Rimba (722 mdpl).
Masih bugar, masih cantik cantik dan ganteng ganteng :))
Setelah menyelesaikan urusan administrasi dengan bapak-bapak tukang ojek, kami memulai pendakian. Target hari ini adalah Pos 3, dan kami berencana bermalam disana.

Awalnya, saya pikir akan sama dengan gunung-gunung yang lain dimana kami akan disambut dengan jalan yang agak lapang, atau minimal macadam begitu. Namun ternyata saya salah. Begitu masuk Pintu Rimba, yang ada memang benar-benar rimba. Saya langsung dihadapkan pada kondisi hutan basah yang sangat lebat dan jalan setapak yang benar-benar muat hanya untuk satu orang. Alang-alang dan tanaman liar seolah menghimpit kami, ada yang sepinggang, setinggi orang dewasa, bahkan ada yang berhasil menenggelamkan seluruh tubuh kami dalam hijau. Whaowww sajalahhh.

Dari pintu rimba ke Pos 1, ada beberapa cabangan jalur, jadi kita harus berhati-hati, jangan sampai salah berbelok. Untungnya saat itu Andika masih didepan saya, dan menjadi guide kami. Petunjuk termudah yang lain adalah ikuti pipa air. Karena jalur yang dilalui pipa air itulah jalur yang benar. Yang lain juga jalur untuk manusia sih, tapi bukan untuk pendakian melainkan untuk warga yang berburu hewan hutan dan lain sebagainya.

Setelah menghabiskan waktu 2 jam dengan berjalan santai walaupun sempat ngos-ngosan, akhirnya kami sampai juga di Pos 1 yang memiliki ketinggian 1048 mdpl. Eh, adakah yang bertanya-tanya, bagaimana saya bisa tahu ketinggian detail lokasinya? Hehe… Itu semua karena saat itu membawa alat sakti berupa GPSmap Garmin *mainan baru* :p. Alat itu saya gunakan untuk plotting jalur peristirahatan pendakian. Maunya sekalian mengaktifkan mode tracking, namun karena khawatir nanti kehabisan batrei, jadi hal itu batal saya lakukan. Yah, minimal sudah ada plottingnya begitu ya, dan semoga bisa bermanfaat suatu saat nanti. Oia, menambahkan sedikit, informasi ketinggian di postingan ini bisa jadi berubah sewaktu-waktu, menyesuaikan dengan aktifitas pasang surut air laut. Jadi, sekali lagi ini hanya perkiraan saja, dengan margin sekitar ±50 meter.

Nggaya dulu di Pos 1 :D
Di Pos 1 ini, ada sumber mata air berupa pipa besar yang ditumpahkan ke drum kemudian dialirkan kembali menuju pipa kecil bercabang-cabang. Ini juga yang menjadi alasan mengapa kami tidak perlu membawa air terlalu banyak, cukup persediaan air saat jalan dari satu pos ke pos lainnya saja. Karena, di setiap pos jalur pendakian Pancasila ini terdapat sumber mata air, kecuali di pos 4 dan pos Kuppluk. Alhamdulillah :)

Target selanjutnya adalah Pos 2. Kami harus sampai di Pos 2 pada jam makan siang karena kami berencana akan makan siang disana. Jalur dari Pos 1 ke Pos 2 tak kalah serunya. Lagi-lagi hutan yang masih sangat rapat mendominasi perjalanan kami. Saya tidak berani terlalu jauh dari teman-teman karena khawatir tersasar. Sebenarnya dari Pos 1 ke Pos 2 sebagian besar jalurnya adalah menyusuri bukit, sehingga tidak terlalu terjal. Namun sepertinya cukup jauh juga, sehingga kami menghabiskan waktu lebih banyak dari target yang seharusnya.

Dalam perjalanan tersebut, pangkal paha saya mulai terasa sakit saat melangkah. Apalagi saat kami harus melalui pohon-pohon besar yang melintangi jalur, dengan ketinggian beranekaragam. Bahkan ada juga pohon dengan diameter kurang lebih 1 meter sehingga kami harus memanjat untuk melalui batang pohon raksasa tersebut. Dan saat itulah nyeri di kaki makin terasa. Saya hanya berusaha mengabaikan sakit itu, mungkin itu salah satu bentuk protes tubuh karena sudah lama tidak diajak naik gunung. Mungkin itu sedang adaptasi.
Sungai!!!
Sekitar jam 1 siang, akhirnya kami sampai di Pos 2 (1268 mdpl). Pos yang disana terdapat sungai kecil dengan air yang cukup segar. Saatnya masak-masak… :D

Cerita selanjutnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5) 

10 comments:

  1. Wah si Mae masih suka ngedaki yah? Hebat!!! Salut aku!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. lagi mulai untuk sukak 'lagi' nih. hehehe..

      Delete
  2. asyik juga ya mendaki, kalau anak-anak diajak mendaki mulai umur berapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mbak. Kalau anak-anak sih macam-macam yaa, saya pernah baca yang masih umur 2 ato 3 tahun juga pernah. Tapi dengan catatan orang tuanya sudah berpengalaman :)

      Delete
  3. wooo Tamboraaa.. cita-cita mahasiswa galau. medannya bener2 masih alami yo Mbak.. :)

    BTW 2 orang kartini nya kao tidur gimana Mbak? ada tenda sendiri opo piye?

    http://masdaniblog.wordpress.com/2014/04/30/rear-wiper-mobil-mahal-bro/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangeeeettt.. beda ama gunung-gunung di Jawa yang jalurnya aja ada yang pake paving :D
      Tidur gabung sama yang lain aja, karena keterbatasan tenda. Tapi tetap udah bawa bekal sleeping bag sendiri-sendiri :)

      Delete
  4. Mantap informasinya lengkap tentang mendaki ke Gunung Tambora di Sumbawa, kalau ke gunung rinjani mampir donk !

    ReplyDelete
  5. Luar biasa !!!
    Jangan lupa Mampir ke Lombok buat menaklukkan Rinjani juga :)

    ReplyDelete
  6. Luar Biasa !!!
    Jangan lupa mampir ke Lombok untuk menaklukkan Rinjani :)

    ReplyDelete
  7. Nice info..
    kalau berkunjung ke Rinjani Lombok jangan lupa kontak kami :)
    Terimakasih

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D