03 May 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)

Cerita sebelumnya:
Pendakian Tambora 2014 (part 1)


Peristirahatan di Pos 2
Sebagian barang bawaan kami bongkar. Siang itu kami memasak sup sayuran dengan tambahan sosis serta ayam bakar. Menu ini memang sudah kami siapkan juga, dan sengaja kami pilih yang penyajiannya cepat karena Pos 2 ini hanya persinggahan sebelum melanjutkan ke pos berikutnya. Lagi-lagi untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya memasak nasi menggunakan nesting. Awalnya sudah khawatir kalau-kalau nasinya mentah. Dulunya sering sih masak nasi, tapi ya begitu, kadang masak kadang tidak. Hahaha… *gak bakat*. Namun akhirnya kawan-kawan bisa memaklumi, dan dua buah nesting penuh dengan nasi yang bagian atasnya masih agak mentah tersaji juga. Selamat makaaannn :D

Jam 2 siang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini rutenya dibuka dengan menyeberangi sungai kecil, kemudian langsung menanjak melewati bukit di seberang sungai. Jalannya sangat sempit, licin, juga terjal. Butuh waktu lama untuk melewati ‘sesi pembuka’ menuju Pos 3 itu.

Nyeri di kaki saya makin tidak tertahankan. Akhirnya lambat laun saya menjauh dari rombongan yang lain. Hanya ditemani seorang kawan lama yang sudah biasa juga meladeni gaya jalan saya yang seperti siput. Tapi sungguh, hari itu memang bukan karena lelah, karena jika lelah masih bisa dipaksa. Beneran sakit itu kaki sebelah kiri. Dan itu sangat menyebalkan kawan! Akhirnya saya beranikan diri saja untuk menyampaikan keadaan saya yang sebenarnya. Untungnya kawan seperjalanan saya mengerti, dan tidak memaksakan berjalan terlalu cepat.
“Yang penting naik gunung, yang penting jalan, yang penting sampai…”

Beberapa kali tanjakan dan beberapa kali dataran kami lalui, namun tak ada tanda-tanda kerapatan hutan akan berkurang. Di sisi lain, rekan yang lain sudah khawatir hari akan segera gelap. Akhirnya, saat itu salah seorang kawan memutuskan untuk menyuruh dua orang ranger dan satu orang anggota kami untuk berjalan terlebih dahulu menuju Pos 3. Setelah itu, begitu sampai, dua dari mereka diharapkan bisa kembali lagi kemudian membantu membawakan backpack/carrier kami. Oke baiklah, strategi yang cukup jitu.

Tinggal saya dan 3 orang lainnya yang masih serombongan, berjalan pelan-pelan, dengan napas yang sudah setengah-setengah. Sudah lama 3 orang yang lain menghilang, dan entah apakah mereka sudah sampai di Pos 3 atau belum.

Ditengah tingginya ilalang, akhirnya muncul juga sosok yang sejak tadi kami nantikan. Dua orang ranger, Angga dan Andika telah datang dan langsung menawarkan untuk membawakan tas kami. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan membawa ransel kecil yang sangat ringan, satu orang tetap membawa ranselnya seperti sebelumnya, satu orang lagi juga bertukar dengan ransel yang lebih kecil dan ringan, sedang satu yang lain berjalan tanpa membawa apa-apa. Otomatis hal itu mempercepat langkah kami. Hingga akhirnya, pada jam 4.30 sore, kami sampai di Pos 3 (1576 mdpl). Alhamdulillah…

Pos 3 adalah pos yang paling banyak diminati untuk menginap oleh para pendaki. Di pos ini, selain lokasinya yang cukup lapang, ada berugaq (bale-bale.red) juga yang bisa dijadikan tempat peristirahatan, juga ada sumber mata air yang letaknya sekitar 200 meter ke arah selatan pos.

Kami kemudian membongkar semua barang bawaan. Mulai mencari lokasi untuk mendirikan tenda dan membuat api unggun. Di Pos 3 ini, kami bertemu dengan dua rombongan lain yang sudah sampai terlebih dahulu. Satu diantaranya berencana akan melanjutkan perjalanan malam itu juga untuk langsung menuju puncak. Sedangkan satu rombongan yang lain yang hanya terdiri dari 3 orang, memutuskan untuk tetap tinggal dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. 3 orang ini adalah anak-anak yang baru saja melaksanakan Ujian Nasional. Jadi ceritanya, mereka melakukan pendakian untuk merayakan selesainya ujian tersebut—walaupun entah bagaimana nanti hasilnya. Kita doakan saja yah semoga mereka mendapat hasil ujian yang baik.

Dengan berbagai pertimbangan (salah satunya adalah ketersediaan tenda kami), akhirnya mereka ber 3 memutuskan untuk bergabung dengan kami. Yeayyy,. Semenjak di Pos 3, anggota rombongan kami bertambah menjadi total 10 orang. Makin ramai makin asik donk yah :D

Hasil bongkar-bongkar backpack dan carrier
Selepas makan malam dimana lagi-lagi saya bertugas memasak nasi—dan syukurnya hasilnya sudah jauh lebih baik, saya memutuskan untuk beristirahat di dalam tenda. Kaki saya masih nyeri. Seorang kawan saya minta untuk memijat kaki saya, berharap keesokan harinya kondisinya akan lebih baik.

Kebiasaan buruk saya saat menginap di gunung juga ternyata masih belum terlalu berubah. Selalu mengalami kesulitan tidur. Ditambah, malam itu ada terror kaki yang nyerinya minta ampun. Satu-satunya kondisi dimana kaki saya merasa nyaman adalah saat tidak digerakkan sama sekali. Jika digerakkan, ujung jarinya saja, nyerinya sudah luar biasa. Pikiran saya sudah kemana-mana semalaman itu. Saya sudah berpikir bahwa mungkin keesokan harinya saya sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi. Hanya ada dua opsi, apakah saya akan turun sendiri, kemudian menelepon pak Rian untuk menjemput di Pintu Rimba, atau saya tetap stay saja di Pos 3, sampai menunggu kawan-kawan saya naik ke puncak dan kembali pada keesokan harinya. Jika saya memakasakan tetap naik, saya takut nanti saat turun kaki saya sudah tidak mampu lagi digunakan, sehingga harus di gotong pakai tandu.

Saya juga mengkhawatirkan keadaan kaki saya yang sungguh tidak seperti biasanya. Saya takut kalau ternyata ini membuat saya tidak bisa mendaki gunung lagi. Saya masih punya mimpi ke Rinjani, ke puncak Cartenz. Saya juga masih ingin mengantar Mas ke Semeru, minimal ke Ranu Kumbolo. Saya masih belum ke Gede-Pangrango, juga Kerinci. Duuh,. Saya masih ingin naik gunung… :( *beneran lebay yah ini. Hahaha*

Sabtu, 19 April 2014
Saya usahakan bangun lebih pagi. Berharap saya punya waktu lebih untuk membiasakan kaki berjalan. Namun nyerinya masih juga tidak hilang. Saya paksakan untuk tetap beraktifitas seperti biasa, masak, mulai berbenah, membersihkan diri, dan lain sebagainya. Sepagian itu, baru satu orang teman yang mengetahui kondisi saya yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya saat saya berjalan, seorang kawan yang lain menanyakan keanehan cara saya berjalan.

Yes, akhirnya tidak bisa ditutupi lagi, dan saya menyampaikan semuanya, mengenai kondisi saya. Bersama yang lain, kami bersepakat untuk melihat kondisi saya nanti. Jika sampai Pos 4 ternyata makin parah, maka rombongan saat itu bersepakat untuk turun. Namun jika tidak, berarti rencana akan kembali seperti semula. Saya juga akhirnya merequest di buatkan tongkat dari kayu, untuk menopang saya berjalan. FYI saja, hal ini belum pernah saya lakukan sebelumnya. Se-lelah-lelahnya saya, saya tidak pernah menggunakan tongkat! Tapi demi hari itu, apapun akan saya lakukan. Oke, mendadak usia saya menua sekian tahun. Udah berasa nenek-nenek gitu dehhh… :))

Pose dulu di Pos 3 sebelum lanjut nanjak :D
Jam 9.30 pagi kami berangkat, melanjutkan perjalanan menuju pos 4, dan 5, untuk selanjutnya menginap disana (lagi). Keberadaan tongkat sakti cukup membuat saya percaya diri, seketika saya yakin bahwa saya akan baik-baik saja.

Cerita selanjutnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5)  

21 comments:

  1. wow mantabh....
    pendaki gunung...
    saya saja gak suka mendaki gunung...

    ReplyDelete
  2. “Yang penting naik gunung, yang penting jalan, yang penting sampai…” , Yang penting rame-rame :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha... betul betul betul :-bd

      Delete
  3. kayak apa rasanya masak di sana, Mae? :D belum pernah naik gunung. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak! Seruuu! Saya selalu semangat masak kalo di gunung :D

      Delete
  4. Waktu kuliah sempet ikutan klub pecinta alam gitu. Tapi begitu diajak naik gunung, eh malah nggak minat. Aku aneh deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi... minat orang beda-beda memang ya...

      Delete
  5. Kayaknya asik ya di sana, kemahan lagi.. Hati2 jangan2 abis darisana ada yg ngikut tuh, hihihi...

    ReplyDelete
  6. keren banget......

    juga maudeh ndaki gunung.....ajak donk kak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum tau kapan mau naiik lagi :D

      Delete
  7. pingin sesekali ikut naik gunung :) kuat gak yaaa aku

    ReplyDelete
  8. kalau rame2 kayak gitu kayaknya enak. Gak berasa :)

    ReplyDelete
  9. Pake tongkat/trekking pole gak kayak nenek nenek kok mbak, justru tindakan cerdas biar dengkul tetap sehat :D

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D