07 May 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)

Cerita sebelumnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 1)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)

Benar yang dikatakan oleh kawan saya yang sudah pernah ke Tambora. Jalur dari Pintu Rimba sampai Pos 3 boleh dikatakan ‘belum apa-apa’. Karena selepas pos 3, track yang kami lalui hampir semuanya menanjak dengan kemiringan beranekaragam. Untungnya tongkat sakti sudah ditangan, jadi sangat membantu saat pendakian. Sebenarnya jarak dari Pos 3 dan Pos 4 tidak terlalu jauh, kisarannya sekitar 1 km saja. Namun karena tracknya yang menanjak terus, sehingga alokasi waktu yang dibutuhkan juga lebih banyak. Jika manusia biasa berjalan di jalan yang rata dan normal butuh waktu sekitar 15 menit untuk menempuh jarak 1 km, maka saat itu kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam.
Sebentar lagi sampai pos 4! :D
Ditambah lagi dari Pos 3 sampai Pos 5 banyak ditumbuhi dengan tanaman Jelatan (orang Jawa Timur/Surabaya biasa menyebutnya “Godhong Jancukan”) yang jika tersentuh sekali saja bisa menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat. Campuran antara rasa gatal dan tertusuk duri tajam. Baru sekali itu saya menemui tanaman serupa, yang ternyata tersebar cukup banyak di sepanjang kanan-kiri jalan setapak jalur pendakian. #:-S

Pos 4 (1811 mdpl), yang terletak diantara rerimbunan pohon cemara, merupakan lokasi yang sangat pas untuk beristirahat. Pos ini agak berbeda dibandingkan pos yang lain, karena selain tidak terdapatnya berugaq, Pos 4 adalah satu-satunya pos di sepanjang jalur pendakian via jalur Pancasila yang tidak memiliki sumber air. Akibatnya, sekalipun lokasinya luas dan nyaman untuk beristirahat, jarang ada yang berlama-lama di pos ini, apalagi sampai menginap. Para pendaki lebih memilih untuk menginap di Pos 5 atau di Pos 3.


Saat di Pos 4, cuaca mendadak berubah. Seketika mendung datang, dan mengakibatkan kami harus mengenakan rain coat. Kaki saya masih nyeri, namun untungnya tidak menjadi semakin parah. Setelah semuanya bersiap dan mengamankan segala barang bawaan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 5.

Balok kayu besar sejajar jalur pendakian menjadi ‘salam pembuka’ untuk perjalanan kami menuju Pos 5. Di kanan dan kiri jalur tersebut penuh dengan tanaman Jelatan yang siap menerkam mangsanya. Jadi ingat, sebelum sampai di Pos 4 tadi, kami sempat bertemu dengan rombongan lain yang turun. Mereka menyampaikan bahwa salah satu anggotanya sempat terpeleset saat melewati balok kayu raksasa itu, kemudian menjerit kesakitan karena tubuhnya menimpa tanaman Jelatan. Wuihhh.. Gak kebayang deh bagaimana sakitnya. Akhirnya, untuk melewati jalur yang sulit tersebut, saya terpaksa meminta bantuan rekan lain untuk berpegangan tangan. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, bukan?
"selamat datang..." begitu kira-kira :D
Jarak dari Pos 4 ke Pos 5 juga sama dengan Pos 3 sebenarnya, tidak terlalu jauh, namun dipenuhi dengan track-track curam yang makin licin akibat hujan. Butuh ekstra hati-hati untuk bisa melalui jalur pendakian tersebut. Pada jalur dari Pos 4 ke Pos 5 ini juga perubahan vegetasi mulai terasa. Tanaman-tanaman dataran tinggi mulai terlihat, sementara pohon cemara mulai agak renggang.

“Setelah menyusuri punggung bukit ini, akan ada sedikit turunan, kemudian kita akan sampai di Pos 5…”

Woahh,. Mendengar informasi dari teman tersebut, kami semakin bersemangat. Dan ternyata benar juga, tak jauh setelah ada turunan, kemudian kami berbelok ke arah selatan, sampai juga di tanah lapang yang tidak terlalu luas, dengan beberapa pohon disana bersematkan papan bertuliskan “Pos 5” (2066 mdpl).

Hari masih siang. Setelah mendiskusikan beberapa hal, kami akhirnya memutuskan untuk tidak menginap di Pos 5, melainkan di Pos Kuppluk, lebih di atas lagi. Apa pasal? Waktu masih banyak, tenaga masih ada, paling tidak ini adalah satu usaha untuk sedikit mendekat ke puncak, sehingga esoknya tidak akan terlalu banyak waktu yang terbuang untuk kesana. Apakah kami sepakat? Hmmm.. Tentu saja. Tak ada pilihan lain yang lebih bagus rasanya.

Para ranger mendapat tugas tambahan yakni berjalan dari Pos 5 ke Pos Kuppluk sambil membawa tiga buah jirigen berisi air untuk persediaan air kami semalaman. Mulai dari Pos 5 tersebut, kami harus menghemat air karena persedaiaannya yang terbatas. Begitu hujan mulai reda, kami langsung melanjutkan perjalanan yang katanya masih sekitar 1 jam lagi.

Selepas Pos 5, kami mulai keluar dari hutan, kemudian menelusuri lereng gunung yang cukup curam dengan vegetasi yang makin renggang, hanya didominasi oleh ilalang dan beberapa pohon cemara. Begitu jarak pandang benar-benar tak terbatas, pemandangan luar biasa langsung terpampang didepan mata. Puncak gunung Tambora sudah terlihat, lereng-lereng serta tebing lainnya disisi kanan dan kiri juga menjulang dengan megah. Saat kami berbalik badan, ternyata hujan siang itu telah mengusir segala kabut yang sebelumnya pekat, dan tampaklah laut sebelah utara pulau Sumbawa, lengkap dengan pulau Satonda dan pulau Moyo yang menjadi penghiasnya. MasyaAllah…
Yang beginian adanya ya di Indonesia!
Kehujanan membuat kami lelah dan lemas sehingga langkah kami kian lama kian gontai. Sedang beberapa bukit di depan mata masih bersiap untuk didaki. Para ranger juga mulai kelelahan dibawah, ditambah beban membawa jirigen penuh berisi air yang tentunya menghambat laju mereka. 3 orang anggota rombongan baru untungnya masih bersemangat, hingga mereka yang kala itu menggantikan tugas yang lain, membantu membawakan ransel kami yang beratnya mulai berlipat karena basah.
Shelter di Pos Kuppluk yang sudah tidak ada atapnya :-|
Akhirnya sampai juga di pos Kuppluk pada jam setengah 3 sore, yang berada di ketinggian 2384 mdpl. Pos yang terletak di tanah lapang di puncak bukit tepat sebelum lereng terjal menuju puncak gunung Tambora. Begitu sampai, hujan kembali turun. Dengan segera kami membereskan barang-barang dan mendirikan tenda sekenanya, sekadar untuk melindungi barang bawaan supaya tidak terlanjur basah semua. Tiga buah tenda berderet dengan tegak, tepat setelah hujan juga ikut berhenti. Fiuhhh… #:-S

Cuaca di pos Kuppluk sangat cepat berubah, seketika berkabut, seketika cerah, seketika hujan kecil, seketika deras. Beruntungnya, puncak tersebut menghadap ke arah barat, dan tidak terhalang sedikitpun oleh pohon serta benda-benda lain. Salah satu mimpi di masa lalu akhirnya terwujud juga: menikmati sunset di gunung. Yapp, terlalu mainstream yah rasanya kalau menikmati sunset di tepi pantai. Kali ini ceritanya berbeda, dan lagi-lagi sangat luar biasa. Alhamdulillah :)
Camp di lereng gunung :D

Sunset dan samudera langit. MasyaAllah :)

Tidak banyak rekam foto yang saya ambil. Selain karena memang ‘ada hal-hal tertentu yang lebih patut dinikmati oleh mata—saja’, saya juga terlalu sibuk dengan mainan baru yakni GPS dan Handycam. Jadilah, yang saya rekam kebanyakan momen bergerak, itupun bukan untuk pamer keindahannya, lokasinya, atau sekadar “SAYA SUDAH PERNAH KESINI LHO…,” melainkan lebih untuk memberi ruang pada otak, supaya tidak terlalu bekerja keras karena harus mengingat segala potongan kisah perjalanan itu.

Sehingga akhirnya, sepaketan mainan baru tersebut kami juluki “Paket Umrah”, lantaran satu tas kecil yang berisi handycam, GPS, kamera DSLR, serta beberapa handphone dan terkadang dititipi juga kamera pocket yang lain, jika ditotal nilainya bisa untuk melakukan ibadah Umrah. Tas kecil yang sangat berharga tentunya, yang juga berat—tidak hanya dari nilainya, melainkan juga dari beratnya yang sebenarnya :D

Malam di pos Kuppluk, dunia makin berbaik hati pada kami. Bintang gemerlap mendominasi hiasan langit malam itu. Kami berkumpul dalam satu titik, mendekat ke sumber panas, sebagai satu usaha menghangatkan diri. Sambil bercerita tentang banyak hal, dengan tiga orang anggota baru rombongan menjadi pembicara utamanya. Selepas makan malam, kami kemudian memutuskan untuk tidur, karena nantinya, sekitar jam 2 pagi, kami harus melanjutkan perjalanan menuju ke puncak.

Cerita selanjutnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5)

6 comments:

  1. Wowo ... Foto langitnya itu mengingatkan senja di Kinabalu :)

    Kapan aku bisa mendaki ke sana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kinabalu? belum pernah dengar..
      smoga suatu saat bisa ya mbak :)

      Delete
  2. Keren bangeeeetttttt kak... masya Allah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa.. Awa... pake bangettt :D

      Delete

Speak Up...!!! :D