11 May 2014

Satu Suara Untuk Anies Baswedan

Beberapa hari ini saya gelisah. Tapi akhirnya kegelisahan itu menggiring saya untuk membuat tulisan ini...


image source
Saya pikir, saya sudah cukup lama mengetahui tentang keberadaan seorang Anies Baswedan, walaupun tak banyak. Saat lulus kuliah pertengahan 2011 yang lalu, saya juga sempat terpikir untuk bergabung mengikuti program yang beliau gagas, yakni Indonesia Mengajar. Tapi kemudian saya batalkan karena ternyata saya tidak serajin itu mengisi berlembar-lembar aplikasi yang menurut saya sangat rumit dan kompleks. Yapp,. saya salut pada mereka yang akhirnya lolos dan bisa mengikuti program tersebut, karena seleksi awalnya saja sudah cukup berat, apalagi selanjutnya?

30 September 2013, hari dimana saya memutuskan untuk ikut menjadi relawan #TurunTangan, sebagai bentuk dukungan saya terhadap pencalonan beliau menjadi Presiden Republik Indonesia melalu Konvensi Partai Demokrat. Segalanya kemudian menjadi menarik, yang dulunya saya mulai apatis, kini menjadi seolah terpanggil untuk sekadar mencari tahu mengenai perkembangan dunia politik saat itu --hingga kini. Namun, harus saya akui bahwa saya belum berbuat apa-apa. Hanya sesekali saja saya mengangkat nama beliau untuk menjadi bahan obrolan tengah malam dengan seorang kawan. Saya hanya memantau, membaca beritanya, menonton videonya, serta membaca tulisan-tulisan orang tentangnya yang masuk secara teratur ke email pribadi saya. Saya menyatakan turun tangan, tapi saya belum bergerak.

Mengapa demikian?

Saya sibuk, sibuk dengan kegelisahan diri sendiri. Saya tidak yakin jika melalui konvensi maka pak Anies akan bisa maju menjadi calon presiden. Saya tidak yakin partai biru berlambang mercy tersebut akan punya cukup kekuatan dan cukup suara untuk maju mencalonkan seorang Presiden. Saya juga tidak yakin bahwa akan banyak yang mengenal pak Anies, karena selama ini nama beliau 'hanya' menggaung sebatas dunia akademis saja. Para cendikiawan, mahasiswa, dosen, profesor, rektor, ilmuwan, mungkin mengenal namanya. Tapi Mama Papa saya? Saya pun meragukan itu. Kalau yang mendukung, saya yakin banyak. Karena sekali mendengar beliau berbicara, orang yang baru pertama kali mendengarnya pasti akan kagum, hal ini saya yakini sepenuhnya. Tapi, bagaimana bisa mendukung jika mengenal saja tidak?

Mungkin saya memang meremehkan beliau...

Tapi kemarin sore akhirnya saya benar-benar tergerak, untuk minimal membuat tulisan ini. Entah bagian mana yang saya lewatkan, tapi video dukungan Pandji Pragiwaksono terhadap pak Anies yang satu ini, seolah menampar saya keras keras. Saya juga heran sendiri sebenarnya, mengapa baru kemarin saya menonton video tersebut? Sedangkan video-video yang lain tidak pernah terlewat, termasuk juga tentang dagelan Boko W Empuk yang seringkali berhasil membuat saya menyeringai lebar.


Kemampuan saya menulis, hobi saya menulis, maka dari itu saya membuat tulisan ini...

Nyatanya kegelisahan saya makin menjadi mana kala hasil quick count menunjukkan Demokrat tak mencapai 10% suara. Artinya harus koalisi. Tapi dengan siapa? Seiring pengumuman real count dari KPU saja sudah banyak partai yang dengan pasti menentukan arah koalisi. Sedangkan Demokrat masih adem ayem, atau mungkin yang ingin lebih saya percayai adalah mereka telah melakukan gerilya, gerakan yang tak terbaca oleh media.


Salah satu doa yang saya haturkan via twitter. 
Terimakasih pak Anies karena masih menebarkan rasa optimis pada kami, 
yang insyaAllah akan senantiasa mendukung Bapak :)

Pada akhirnya saya membuat tulisan ini, yang dengan ini artinya saya mendeklarasikan secara jelas dukungan saya terhadap beliau. Saya masih menantikan pengumuman hasil konvensi, pengumuman arah koalisi, pengumuman calon presiden dan wakil presiden yang sudah pasti, bukan hanya sekadar opini atau kabar dari sana sini.

Dalam tulisan ini juga saya ingin menyampaikan kedongkolan saya sejak semalam, akibat acara talk show 'Satu Jam Lebih Dekat' di TVOne yang seharusnya menampilkan pak Anies sebagai bintang tamu, secara tidak terduga siarannya ditunda hingga minggu depan. Aneh, tapi masuk akal. Sangat masuk akal, dan sangat mungkin terjadi. Saya juga menjadi salah satu dari seabrek kawan relawan yang kecewa, yang sudah pasang posisi paling nyaman di depan TV, kemudian seketika di tumpas habis semangatnya.

Namun sesaat kemudian saya berpikir, kira-kira, bagaimana tanggapan Pak Anies Baswedan mengenai kejadian semalam ya?

--


Ini cara saya turun tangan. Jika sohiblogger ingin bergabung juga dan ingin mengetahui tentang Anies Baswedan lebih jauh, silakan klik disini.

Mari turun tangan, bukan hanya sekadar urun angan :)

10 comments:

  1. aku juga salut sama bapak satu ini

    ReplyDelete
  2. Aku juga suka pak Anis.Tapi kok ya aku masih punya rasa pesimis ya? bukan pesimis dengan kemampuan pak Anis. Tapi pesimis dengan orang lain. Karena selama ini kita tau, mereka yang berhati tulus, kerja ikhlas, justru disikut jatuh oleh pihak-pihak lain yang sebenernya menurut aku nggak tulus dan ikhlas

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin itu juga termasuk dalam salah satu list kegelisahan saya. Bukan pada pak Aniesnya, tapi pada orang-orang disekitarnya... hmmm...

      Delete
  3. aku sempet gak kenal loh :) akhirnya googling waktu itu jadi tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua info memang sekarang jadi gampang dapatnya ya mbak kalo pakai google :D

      Delete
  4. dan akhirnya demokrat cenderung memilih orang yang bisa disetir ...duh apa artinya konvensi ya? aneh bin ajaib.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Minimal sudah memperkenalkan wajah-wajah baru calon pemimpin Indonesia. Siapa tau memang mereka dipersiapkan untuk pilpres 2019 yang notabene sudah dengan aturan baru, bahwa calon presiden tidak harus diusung dari partai. Keep optimis aja mbak :)

      Delete
  5. saya baca buku Indonesia Mengajar. kerenbanget tuh.

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D