14 July 2014

Pedoman Mendaki Gunung

Di ketinggian sekian ribu meter diatas permukaan laut (Gunung Arjuno, 2009)

Pilihlah gunung yang hendak didaki
Jangan terpengaruh omongan orang-orang. “Gunung yang itu lebih indah”, atau “Gunung yang itu lebih mudah.” Banyak daya upaya dan semangat mesti dikerahkan untuk mencapai tujuan Anda, dan Anda satu-satunya yang bertanggung jawab atas pilihan Anda, jadi hendaknya Anda betul-betul yakin dengan apa yang akan Anda lakukan.

Pelajari cara mencapai gunung tersebut
Sering kali Anda bisa melihat gunung itu dari kejauhan—indah, menarik, penuh tantangan. Tetapi ketika Anda berusaha mencapainya, apa yang terjadi? Ternyata gunung itu dikelilingi banyak jalan; ada bentangan-bentangan hutan di antara Anda dan sasaran Anda tersebut; jalur yang kelihatan gampang dipeta, pada kenyataannya jauh lebih rumit. Maka Anda harus mencoba semua jalan setapak dan rute-rutenya, hingga akhirnya suatu hari Anda berdiri di hadapan puncak yang ingin Anda daki.

Belajarlah dari orang yang sudah pernah sampai ke sana
Mungkin Anda mengira hanya Anda seorang yang ingin sampai ke sana, tetapi selalu ada orang lain yang pernah memiliki impian yang sama, dan orang lain ini telah meninggalkan petunjuk-petunjuk yang bisa memudahkan pendakian Anda: di mana tempat terbaik untuk mengikatkan tali, jalan-jalan setapak yang bisa dilalui, ranting-ranting yang telah dipatahkan supaya jalurnya lebih gampang diterabas. Ini memang pendakian Anda, tanggung jawab Anda juga, tetapi jangan lupa bahwa belajar dari pengalaman-pengalaman orang-orang lain selalu bermanfaat.

Bahaya-bahaya, setelah dilihat dari dekat, bisa dikendalikan
Saat Anda mulai mendaki gunung impian Anda, perhatikan lingkungan sekitarnya. Sudah pasti ada tebing-tebing curam. Rekahan-rekahan yang nyaris terlewat dari pandangan. Batu-batu yang telah tergerus angin dan hujan sehingga menjadi selicin es. Tetapi jika Anda tahu tempat yang Anda pijak, akan Anda lihat jebakan-jebakan itu dan bisa menghindarinya.

Lanskapnya berubah-ubah, jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya
Anda harus fokus pada tujuan Anda—yakni mencapai puncak, itu sudah pasti. Tetapi, sambil mendaki, pemandangannya tentu berubah-ubah, dan tidak ada salahnya Anda berhenti sesekali untuk menikmatinya. Semakin tinggi Anda mendaki, semakin jauh Anda bisa melayangkan pandangan, maka sisihkan waktu untuk menemukan berbagai hal yang belum pernah Anda lihat.

Hormati tubuh Anda
Pendakian ini hanya bisa berhasil jikalau Anda memperhatikan kesejahteraan tubuh Anda. Hidup ini telah menganugerahi Anda dengan sekian banyak waktu, maka jangan menuntut terlalu banyak pada tubuh Anda. Kalau melangkah terlalu cepat, Anda menjadi lelah dan baru setengah jalan sudah menyerah. Kalau melangkah terlalu lambat, malam akan turun dan Anda bakal tersesat. Nikmati pemandangan, minumlah dari mata air yang sejuk, makanlah buah-buahan yang ditawarkan Alam dengan murah hati kepada Anda, tetapi jangan berhenti berjalan.

Hormati jiwa Anda
Jangan terus-terusan berkata, “Akan kulakukan.” Jika Anda sudah tahu itu. Yang perlu dilakukan jiwa Anda adalah memanfaatkan perjalanan panjang ini untuk bertumbuh, untuk menggapai hingga ke cakrawala, menyentuh langit. Sekadar obsesi tidak akan membawa Anda ke mana-mana, dan pada akhirnya malah akan merusak kegembiraan dalam mendaki. Di lain pihak, jangan terus-menerus berkata, “Ternyata lebih sulit daripada yang kukira,” sebab ini akan melemahkan semangat Anda.

Bersiaplah untuk berjalan lebih jauh
Jarak menuju puncak gunung selalu lebih jauh daripada yang Anda perkirakan. Ada saatnya jarak yang kelihatannya sudah dekat itu ternyata masih sangat jauh. Tetapi tentunya ini bukan rintangan, berhubung Anda sudah siap untuk berjalan lebih jauh.

Bersukacitalah sesampainya di puncak
Menangislah, tepuk tangan, berteriaklah keras-keras bahwa Anda sudah berhasil. Biarkan angin (sebab di atas sana anginnya selalu kencang) memurnikan pikiran Anda, menyejukkan kaki-kaki Anda yang kepanasan dan letih, mencelikkan mata Anda, dan meniup debu-debu yang melekat di hati Anda. Apa yang dulu sekadar impian, visi yang dipandang-pandang dari kejauhan, kini  telah menjadi bagian dari hidup Anda. Anda berhasil meraihnya, bagus sekali.

Ikrarkan
Sekarang Anda tahu bahwa di dalam diri Anda ternyata tersimpan kekuatan itu, maka katakan pada diri sendiri bahwa kekuatan ini akan Anda gunakan selama sisa hidup Anda; ikrarkan juga pada diri sendiri untuk menemukan gunung lain, lalu bangkitlah untuk menjalani petualangan itu.

Ceritakan kisah Anda
Ya, ceritakanlah. Jadilah contoh bagi orang-orang lain. Ceritakan pada setiap orang bahwa itu bisa dilakukan, supaya orang-orang lain juga menemukan keberanian untuk mendaki gunung-gunung mereka sendiri.


Dikutip tanpa perubahan sedikitpun.
Pedoman Mendaki Gunung, dalam buku “Seperti Sungai yang Mengalir” karya Paulo Coelho
(Cetakan ke 3, Januari 2013)

Sedikit catatan dari saya,
Mungkin inilah salah satu pedoman mendaki gunung yang menurut saya paling bijak. Sangat jauh dari kesan angkuh maupun ambisius, namun lebih kepada memandang kegiatan ‘mendaki gunung’ sebagai satu fase hidup yang seharusnya tiap orang lalui. Membacanya, dari ketinggian sekian puluh ribu meter diatas permukaan laut dalam perjalanan dari Bima ke Denpasar, telah berhasil memaksa saya memutar otak, membuka kembali ingatan-ingatan terdahulu, merenungi setiap nasihat-nasihat sederhananya. Ada beberapa bagian yang sudah seringkali saya terapkan, ada juga yang kadang terlupakan, namun beberapa bagian yang lain kerap pula terabaikan. Well, semoga kesalahan-kesalahan itu tak akan lagi terulang dalam perjalanan-perjalanan hati selanjutnya.

Harapan terakhir saya terkait tulisan ini, semoga kita punya pemikiran yang sama dalam mendefiniskan kegiatan 'mendaki gunung'... ;)

7 comments:

  1. di atas ketemu sama edward cullen gak eh hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Engngnggg... gak ngarep deh mbak Lid, ngeri jadinya. Hehe

      Delete
  2. Kabutnya tebal banget, Mae.. Agak-agak serem jugak nih jadinya.. Wkwkwk.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Beb,. kalo pas kabut naik, jarak pandang jadi terbatas banget. Makanya itu duduk aja sambil foto2, sambil nunggu kabut ilang :D

      Delete
    2. Hahah.. Iya jugak yah.. Ngga bisa dipaksain buat lanjut kan ^^

      Delete
    3. Betul banget. Prinsipnya tetep safety first :D

      Delete
  3. Terima kasih pedomannya Mba Armae,,,

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D